Cara Mengobati Sihir dan Guna-Guna 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••••

1. Menghilangkan Pengaruh Sihir

2.Perbedaan Mukjizat, Karamah, dan Sihir

3.Membentengi Diri dari Sihir

4.Sihir Melenyapkan Aqidah

5.Sihir di Sekitar Kita 

6. Ciri-Ciri Terkena Sihir dan Cara Menghilangkannya

7. Sihir

8. Cara Menghilangkan Sihir

9. Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan

10. Apakah Suami Saya Terkena Guna-guna Wanita Lain?

Sihir, Kesurupan dan Penyakit ’Ain-Ust Dadai Hidayat

Ust. Achmad Zainuddin – Mengenal Dunia Sihir dan Perdukunan

Bahaya SIhir dan Perdukunan (DilengkapiContoh Praktek Sihir & Perdukunan)” Oleh Ust Ali Nur Lc

Pembatal Keislaman (Sihir dan macam-macamnya)” Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron Lc

Sihir(Pembatal Keislaman)-Ust Mizan Qudsiyah

Mengobati Sihir-Ust Ahmad Zainuddin

Ilmu Sihir dan Pengobatannya Dalam Islam-Ust Mizan Qudsiyah

Bentuk Bentuk Sihir-Ust Mizan Qudsiyah

Penjelasan & Hukum Sihir1-Ust Mizan Qudsiyah

Penjelasan & Hukum Sihir2-Ust Mizan Qudsiyah

Tidak Akan Beruntung Para Tukang Sihir (Syeikh Abdurrazzaq,

Ebook

Pengobatan Sihir dan Kerasukan

Hukum Sihir dan Perdukunan

Cara Pengobatan Dengan Al Quran

Menjaga Diri Dari Perbuatan Sihir dan Sejenisnya

Hakikat sihir dan hukumnya

Hukum penyihir, peramal, dan semisal mereka serta Hukum Mempercayai Mereka

Haramnya Sihir Pengasih dan Pembenci

Sihir: Ciri-ciri dan Penanggulangannya

10 Jurus Penangkal Sihir, Dengki & Ain

Risalah Tentang Hukum Sihir dan Perdukunan

Fatwa-fatwa Bekenaan Dengan Sihir

Buku Panduan – Benteng Diri Dari Sihir danHisteria

===

Mengobati Sihir dan Guna-Guna

بسم الله الرحمن الرحيم

➡ Mengobati Sihir dan Guna-Guna

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang mengobati orang yang terkena sihir, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

  1. Ta’rif (definisi) Sihir

Sihir adalah sejumlah pekerjaan setan yang dilakukan oleh pesihir berupa mantera-mantera, bertawassul (mengadakan perantara) kepada setan-setan, dan berupa kalimat yang diucapkan pesihir dengan ditambah dupa/kemenyan dan buhul-buhul yang ditiup-tiup. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (Terj. QS. Al Falaq: 4)

Pelaku sihir apabila hendak melakukan prakteknya, biasanya membuat buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan meniup-niup buhul tersebut sambil meminta bantuan kepada para setan sehingga sihir itu menimpa orang yang disihirnya dengan izin Allah Ta’ala. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.” (Terj. QS. Al Baqarah: 102)

Maksud izin Allah di sini bukan berarti Allah meridhai perbuatan tersebut, karena izin itu ada dua; izin syar’i dan izin kauni. Izin syar’i adalah izin yang diridhai Allah, sedangkan izin kauniy (terkait dengan taqdir-Nya di alam semesta) tidak mesti diridhai Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

  • Hukum sihir

Pada umumnya sihir tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengerjakan perbuatan syirik, karena setan yang mengajarkan sihir kepada manusia biasanya meminta orang yang belajar sihir atau mempraktekkannya untuk melakukan perbuatan syirik, seperti berkurban untuk selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala atau beribadah kepada selain-Nya. Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) para ulama berpendapat bahwa sihir adalah sebuah kekafiran, demikian pula mempelajarinya. Alasannya adalah firman Allah Ta’ala di surah Al Baqarah ayat 102, dimana Allah menyatakan setan-setan itu kafir karena mengajarkan sihir kepada manusia.

Mengobati Orang Yang Terkena Sihir

Pengobatan terhadap sihir terbagi dua:

Pertama, tindakan pencegahan sebelum sihir menimpa, yaitu:

  • 1. Memiliki akidah yang benar.
  • 2. Mengerjakan kewajiban, menjauhi larangan, dan bertaubat dari segala maksiat.
  • 3. Banyak membaca Al Quran, dan menjadikannya sebagai wirid harian.
  • 4. Membentengi diri dengan dzikir dan doa yang disyariatkan.

✅ Misalnya membaca,

بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma’as-mihi syai-un, fil ardhi wa laa fis-samaa’, wa huwas-samii’ul ‘aliim.

Artinya: “Dengan nama Allah yang jika disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (sebanyak tiga kali di pagi hari dan sore hari).[i]

Membaca ayat kursi (Qs. Al Baqarah: 255) setelah shalat, sebelum tidur, dan di waktu pagi dan petang[ii].

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas sebanyak tiga kali di waktu pagi, sore, setelah shalat, dan ketika hendak tidur.

Membaca,

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir.

 

Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”

Sebanyak 100 kali. (Hr. Bukhari dan Muslim)

✅ Membaca zikir pagi dan petang, zikir setelah shalat, zikir sebelum tidur, zikir bangun dari tidur, zikir masuk rumah dan keluar darinya, zikir masuk masjid dan keluar darinya, zikir masuk wc dan keluar darinya, membaca doa saat ada yang terkena musibah, saat naik kendaraan, dsb.

Itu semua dapat mencegah seseorang dari terkena sihir dan penyakit ‘ain (yang diakibatkan oleh mata orang yang hasad), serta dari gangguan setan dengan izin Allah Ta’ala. Itu juga termasuk pengobatan terbaik ketika terkena sihir dan semisalnya[iii].

  • 5. Memakan tujuh buah kurma ajwah di pagi hari sebelum makan yang lain jika memungkinkan.

✅ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سَمٌّ، وَلاَ سِحْرٌ

Barang siapa yang makan tujuh buah kurma ajwah di pagi hari, maka racun dan sihir tidak dapat membahayakannya pada hari itu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Yang lebih sempurna adalah jika kurma itu berasal dari Madinah yang berada di antara dua bebatuan hitam sebagaimana dalam riwayat Muslim. Menurut Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, bahwa semua kurma Madinah terdapat sifat ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لَابَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ، لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ حَتَّى يُمْسِيَ

Barang siapa yang makan tujuh buah kurma yang berada di antara dua bebatuan hitam (di Madinah) di waktu pagi, maka racun tidaklah membahayakan dirinya sampai sore hari.” (Hr. Muslim)

✅ Menurut Syaikh Ibnu Baz juga bahwa diharapkan juga demikian bagi yang makan tujuh buah dari kurma yang lain selain kurma Madinah.

Kedua, mengobati sihir setelah menimpa. Hal ini ada beberapa macam caranya, di antaranya:

  • 1. Mengeluarkan dan memusnahkan sesuatu yang digunakan untuk menyihir jika diketahui letaknya dengan cara-cara yang mubah secara syara. Ini termasuk cara yang sangat efektif untuk mengobati orang yang terkena sihir.
  • 2.  Melakukan ruqyah syar’iyyah, di antaranya dengan cara:

✅ a. Menumbuk tujuh helai daun bidara hijau di antara dua batu atau semisalnya, lalu menuangkan ke atasnya air yang cukup untuk mandi dan membacakan padanya ayat-ayat ini: Ayat kursi (Al Baqarah: 255), Al A’raaf: 117-122, Yunus: 79-82, Thaahaa: 65-70, membaca surah Al Kafirun, Al-IkhlasAl Falaq, dan An Naas.

➡ Berikut ayat-ayatnya:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} [البقرة: 255]

 

A’uudzu billaahiminasy-syaithoonir-rojiim

Allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum,laa ta`khuzuhuu sinatuw wa laa na`uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, man zallazii yasyfa’u ‘indahuuu illaa bi`iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai`im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa`, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya`uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘azhiim(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)

===

{وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ – فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ – فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ – وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ – قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ – رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ} [الأعراف: 117 – 122]

wa auhainaaa ilaa muusaaa an alqi ‘ashook, fa izaa hiya talqofu maa ya`fikuun-fa waqo’al haqqu wa bathola maa kaanuu ya’maluun-fa ghulibuu hunaalika wangqolabuu shooghiriin-wa ulqiyas saharotu saajidin-qooluu aamannaa.birobbil.’aalamin-robbi muusaa wa haaruun

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 177-122)

Dan Kami wahyukan kepada Musa, Lemparkanlah tongkatmu! Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.”Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia.” “Maka, mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” “Dan para pesihir itu serta-merta menjatuhkan diri dengan bersujud,” “mereka berkata, Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam,” “(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 117-122)

===

{وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ – فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ – فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ – وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ} [يونس: 79 – 82]

wa qoola fir’aunu`tuunii bikulli saahirin ‘aliim-fa lammaa jaaa`as-saharotu qoola lahum.muusaaa alquu maaa antum mulquun-fa lammaaa alqou qoola muusaa maa ji`tum bihis-sihr, innalloha sayubthiluh, innalloha laa yushlihu ‘amalal-mufsidiin-wa yuhiqqullohul-haqqo bikalimaatihii walau karihal-mujrimuun

Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya), Datangkanlah kepadaku semua pesihir yang ulung! “Maka ketika para pesihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!” “Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.” “Dan Allah akan mengukuhkan yang benar dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.”

(QS. Yunus 10: Ayat 79-82)

===

{قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى} [طه: 65]

{قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى – فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى – قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَى – وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى – فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى} [طه: 66 – 70]

qooluu yaa muusaaa immaaa an tulqiya wa immaaa an nakuuna awwala man alqoo-qoola bal alquu, fa izaa hibaaluhum wa ‘ishiyyuhum yukhoyyalu ilaihi min sihrihim annahaa tas’aa-fa aujasa fii nafsihii khiifatam muusaa-qulnaa laa takhof innaka antal-a’laa-wa alqi maa fii yamiinika talqof maa shona’uu, innamaa shona’uu kaidu saahir, wa laa yuflihus-saahiru haisu ataa-fa ulqiyas-saharotu sujjadang qooluuu aamannaa birobbi haaruuna wa muusaa

Mereka berkata, Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?” Dia (Musa) berkata, Silakan kamu melemparkan! Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka.” “Maka Musa merasa takut dalam hatinya.” “Kami berfirman, Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang).” Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun dia datang.” “Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”

(QS. Ta-Ha 20: Ayat 65-70)

===

بسم الله الرحمن الرحيم

{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ – لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ – وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ – وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ – وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ – لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ} [الكافرون: 1 – 6]

bismillaahir-rohmaanir-rohiim

“qul yaaa ayyuhal-kaafiruun-laaa a’budu maa ta’buduun-wa laaa antum ‘aabiduuna maaa a’bud-wa laaa ana ‘aabidum maa ‘abattum-wa laaa antum ‘aabiduuna maaa a’bud-lakum diinukum wa liya diin

Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!” “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,” “dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,” “dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,” “dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.”Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 1-6)

===

حيم {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ – اللَّهُ الصَّمَدُ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ – وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ} [الإخلاص: 1 – 4]

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (1) Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. (2) Allah adalah Ilah yang bergantung kepada Nya segala urusan. (3) Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.(4) Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (Al-Ikhlas [112]: 1-4).

==

بسم الله الرحمن الرحيم {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ – مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ – وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ – وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ – وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ} [الفلق: 1 – 5]

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. (2) Dari kejahatan makhluk-Nya. (3) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (4) Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. (5) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (Al-Falaq [113]: 1-5).

===

بسم الله الرحمن الرحيم {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ – مَلِكِ النَّاسِ – إِلَهِ النَّاسِ – مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ} {الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ} [الناس: 1 – 6]

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. (2) Raja manusia. (3) Sembahan manusia. (4) Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. (5) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (6) Dari jin dan manusia. (An-Nas [114]: 1-6).

===(lanjut ke Halaman 2)

Iklan