Mengunggah…
​Hadits-Hadits Tentang Tazkiyatun Nufus
 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Tazkitayun Nufus

2. Mensucikan Jiwa

3. Tazkiyatun Nufus Hanyalah denganTauhid dan amal Shalih

4. Prinsip Prinsip

5. Bersihkan Hati Secara Islami

6. Menuju Kesucian Jiwa

Aqidah Cerminkan Akhlak-Hasan Al Jaizy

Bidadari Di Surga-Hasan Al Jaizy

Islam Adalah Aqidah dan Amalan-Hasan Al Jaizy

Islam Adalah Sunnah Sunnah Adalah Islam-Hasan Al Jaizy

Katanya Umat Ini Sudah Cerdas-Hasan Al Jaizy

Kenapa Mesti Salafi-Hasan Al Jaizy

Manhaj Ahlussunnah Dalam Tazkiyatun Nafs-Hasan Al Jaizy

Status Tidak Jelas-Hasan Al Jaizy

Ustadz Amir As Soronji, Lc, MA. Tazkiyyatun Nafs

Ustadz Hasan Al Jaizy, Lc.Harga Harga Naik

Ustadz Hasan Al-Jaizy, Lc. -Karakteristik Ahlu Sunnah


Ebook

Tekanan Jiwa(Stress)

Kebersihan Hati

Mensucikan Jiwa

Untaian Mutiara Hadist

Adab Berbicara

Muttafaqun Alaih Shahih Bukhari Muslim :.Himpunan Hadits Shahih Yang DisepakatiImam Bukhari Dan Imam Muslim

Buku Kitab Muttafaqun ‘Alaih ini dilengkapi syarh lafzhiyyah—semacam tafsir singkat—untuk kata-kata atau kalimat-kalimat yang dipandang penting.

Sejumlah fitur unggulan yang memberi nilai tambah dalam Buku Kitab Muttafaqun ‘Alaih ini, seperti:

  • Biografi Imam Bukhari Muslim serta parasahabat periwayat hadits terbanyak.
  • • Rekomendasi dan keterangan para ulama terkait hadits-hadits yang disepakati Bukhari dan Muslim.
  • • Pengantar ringkas seputar ilmu mushthalah hadits.
  • • Indeks hadits serta penomoran sesuai dengan kitab Ash- Shahih yang menjadi rujukan primernya.

Sejarah Madinah

Sejarah Madinah Bergambar

sejarah Mekah Bergambar

Sejarah Mekkah

Tazkiyatun Nufus — Abdul Aziz IbnuMuhammad.pdf

Muhasabah

===

Hadits-Hadits Tentang Tazkiyatun Nufus

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Hadits-Hadits Tentang Tazkiyatun Nufus (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini hadits-hadits tentang tazkiyatun nufus, yang kami kumpulkan dari beberapa kitab hadits. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan pengumpulan hadits-hadits ini ikhlas karena-Nya dan menjadikan hati kita bersih, sehingga kita datang menghadap Allah Azza wa Jalla dengan hati yang selamat, Allahumma aamin.

  • Mengikhlaskan Amal Karena Allah

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang  (akan dibalas) berdasarkan niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai kepada apa yang diniatkannya. [HR. Bukhari dan Muslim].

  • Mendahulukan Keridhaan Allah Azza wa Jalla

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ ».

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan ridha kepadanya dan Dia akan membuat manusia ridha kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya” [HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya].

  • Dzikrullah (Mengingat Allah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia mengingat-Ku.  Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim. Lafazh hadits ini riwayat Bukhari).

  • Meraih Kecintaan Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ – قَالَ – فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِى السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ – قَالَ – ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى الأَرْضِ . وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّى أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ – قَالَ – فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ – قَالَ – فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِى الأَرْضِ » .

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Lalu Jibril mencintainya, kemudian menyeru di langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia oleh kalian.” Maka penduduk langit mencintainya, lalu dijadikannya diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata, “Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia.” Maka Jibril membencinya, lalu ia menyeru penghuni langit, “Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia.” Lalu mereka membencinya dan selanjutnya ditaruh kebencian untuknya di bumi. ” [HR. Bukhari dan Muslim].

  • Bersabar Terhadap Ujian

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ .

Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Besarnya pahala bersama besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah, dan barang siapa marah, maka baginya kemurkaan-Nya.” [HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 2110].

  • Hakikat Musibah

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dan Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, gangguan dan hati yang tertekan sampai duri yang mengenainya, kecuali Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. ” [HR. Bukhari].

  • Bersyukur Ketika Mendapatkan Nikmat dan Bersabar Ketika Mendapatkan Cobaan

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ » .

Dari Shuhaib ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya dan hal itu tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada diri orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu baik baginya dan jika ia mendapatkan kesengsaraan ia bersabar, maka hal itu baik baginya. ” [HR. Muslim].

  • Mengutamakan Akhirat dan Tidak Menginginkan Popularitas

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ ، طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ ، إِنْ كَانَ فِى الْحِرَاسَةِ كَانَ فِى الْحِرَاسَةِ ، وَإِنْ كَانَ فِى السَّاقَةِ كَانَ فِى السَّاقَةِ ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ »

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba Khamishah[i]. Jika diberi dia senang, dan jika tidak, dia marah. Celaka dan tersungkurlah, apabila terkena duri semoga ia tidak dapat mencabutnya. Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ia ditugaskan sebagai penjaga, dia setia berada di pos penjagaan, dan jika ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia di garis belakang. Jika ia meminta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan, dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat (sebagai perantara) maka tidak diterima syafaatnya (perantaraannya).” [HR. Bukhari].

  • Dermawan

عَنْ أبي سَعيدٍ بْن مَالِك بْن سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ نَاساً مِنَ الأنصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فأَعْطاهُم ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ، حَتَّى نَفِد مَا عِنْدَهُ ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ أَنَفَقَ كُلَّ شَيْءٍ بِيَدِهِ : « مَا يَكُنْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يسْتعْفِفْ يُعِفَّهُ الله وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ . وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ »

Dari Abu Sa’id bin Malik bin Sinan Al Khudriy radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beberapa orang Anshar pernah meminta (sesuatu) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau memberinya. Lalu mereka meminta lagi, lalu Beliau memberinya sehingga habis apa yang ada pada Beliau. Maka Beliau bersabda kepada mereka saat mengeluarkan semua yang ada di tangannya, “Tidak ada satu pun kebaikan (harta) yang aku sembunyikan dari kamu. Barang siapa yang berusaha menjaga dirinya, maka Allah akan menjaganya, dan barang siapa yang meminta kecukupan kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya, dan barang siapa berusaha untuk sabar, maka Allah akan membantunya bersabar, dan tidak ada satu pun pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. ” [Bukhari dan Muslim]

  • Kasih Sayang Allah Azza wa Jalla Kepada Hamba-Hamba-Nya

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – : قَدِمَ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم سَبْىٌ ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِى ، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِى السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ ، فَقَالَ لَنَا النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : « أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِى النَّارِ » . قُلْنَا : لاَ وَهْىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ . فَقَالَ :« اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا » .

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Pernah ada para tawanan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tawanan itu ada seorang wanita yang memerah susunya untuk memberi minum, jika ia menemukan anaknya dalam tawanan, ia segera mengambilnya dan memeluknya dengan perutnya serta menyusukannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, ”Apakah menurutmu, wanita ini akan melemparkan anaknya ke api.” Kami (para sahabat) berkata, “Tidak. Padahal dia mampu untuk tidak melemparnya.” Maka Beliau bersabda, “Allah Subhaanahu wa Ta’aala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada sayangnya wanita ini kepada anaknya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

  • Mengingat Akhirat

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا . فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَمَا ذَاكَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً » . ثَلاَثَ مَرَّاتٍ .

Dari Hanzhalah Al Usayyidiy ia berkata –ia termasuk juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-: Abu Bakar menemuiku dan berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku berkata, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar berkata, “Subhaanallah, apa yang kamu ucapkan?” Aku (Hanzhalah) berkata, “Ketika kita berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga sehingga seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala, tetapi apabila kita keluar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita sibuk dengan istri, anak dan pekerjaan kita sehingga kita melupakan banyak hal.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, kami juga merasakan seperti itu.” Hanzhalah berkata, “Aku dan Abu Bakar kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku berkata, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Memangnya ada apa?” Aku (Hanzhalah) berkata, “Ketika kami berada di dekat engkau, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Tetapi apabila kami keluar dari sisimu, kami sibuk dengan istri, anak dan pekerjaan kami sehingga melupakan banyak hal.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika kamu tetap seperti keadaan ketika berada di dekatku dan tetap dalam dzikr, tentu malaikat akan menjabat tanganmu di kasur dan di jalan-jalan kamu. Tetapi wahai Hanzhalah, sesaat-sesaat.” (Beliau mengucapkannya) tiga kali.” (HR. Muslim)

[i] Khamishah adalah pakaian dari wool atau lainnya yang berwarna hitam dan memiliki corak-corak.

Hadits-Hadits Tentang Tazkiyatun Nufus (2)

  • Tetap Menyambung Tali Silaturrahim Meskipun Diputuskan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِى وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَىَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَىَّ . فَقَالَ « لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ ».

Dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya punya kerabat yang saya sambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku, aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku memaafkan mereka, tetapi mereka berkata buruk kepadaku. Maka Beliau bersabda, “Sungguh, jika keadaanmu sebagaimana yang engkau katakan, maka engkau seakan-akan memberi makan mereka debu yang panas, dan senantiasa ada penolong bersamamu dari Allah terhadap mereka jika engkau tetap seperti itu.” [HR. Muslim].

  • Bertakwa Kepada Allah dan Berakhlak Mulia

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْأَجْوَفَانِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْأَجْوَفَانِ قَالَ الْفَرْجُ وَالْفَمُ قَالَ أَتَدْرُونَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka adalah dua dua rongga.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu dua rongga?” Beliau menjawab, “Yaitu mulut dan farji (kemaluan).” Beliau juga bersabda, “Tahukah kamu sesuatu yang paling banyak memasukkan (seseorang) ke surga? Yaitu takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”   [HR. Ahmad].

  • Banyak Bersyukur

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».  

Dari Aisyah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat (malam), maka Beliau berdiri sampai pecah-pecah kedua kakinya. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini, padahal dosa-dosamu yang dahulu maupun yang akan datang telah diampuni?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, tidak pantaskah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur.”   [HR. Muslim].

  • Menjaga Lisan

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, di manakah keselamatan?” Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu, sempatkanlah berada di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu.”   [HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan,” dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1392].

  • Menjauhi Riya’

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ . قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ . فَقَدْ قِيلَ . ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ . قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ . وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ . فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ . وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ . فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ » . 

Dari Abu Hurairah ia berkata:  Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid. Ia pun dihadirkan, lalu Allah memperkenalkan nikmat-nikmat-Nya, maka dia mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan dengannya?” Ia menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sehingga aku mati syahid.” Allah berfirman., “Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan sudah dikatakan demikian.” Lalu diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya kemudian dilemparkan ke neraka. Selanjutnya seorang yang belajar agama dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an, maka dia dihadirkan, lalu Allah memperkenalkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya, dia pun mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan dengannya?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya dan aku membaca Al Qur’an karena-Mu.”  Allah berfirman, “Engkau dusta. Akan tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan ‘alim (ahli ilmu) dan engkau membaca Al Qur’an agar dikatakan qaari’ (pembaca Al Qur’an), dan sudah dikatakan demikian.” Kemudian dia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya untuk dilemparkan ke neraka. Kemudian seorang yang Allah luaskan rezekinya dan Dia berikan kepadanya berbagai macam harta, lalu dia dihadirkan. Maka Allah memperkenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan dengannya?” Dia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan yang Engkau suka jika dikeluarkan harta di sana kecuali aku keluarkan karena-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, akan tetapi engkau lakukan hal itu agar dikatakan bahwa dirimu seorang dermawan, dan ternyata sudah dikatakan demikian.” Kemudian ia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.” [HR. Muslim].

  • Senantiasa Meminta Kepada Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepada-Nya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 2418

  • Terus Beristighfar dan Tidak Berputus Asa Karena Dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « إِنَّ عَبْداً أَصَابَ ذَنْباً – وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْباً – فَقَالَ : رَبِّ أَذْنَبْتُ – وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ – فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ : أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِى . ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ، ثُمَّ أَصَابَ ذَنْباً أَوْ أَذْنَبَ ذَنْباً ، فَقَالَ : رَبِّ أَذْنَبْتُ – أَوْ أَصَبْتُ – آخَرَ فَاغْفِرْهُ . فَقَالَ : أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِى ، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْباً – وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْباً – قَالَ قَالَ : رَبِّ أَصَبْتُ – أَوْ أَذْنَبْتُ – آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِى . فَقَالَ : أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِى – ثَلاَثاً – فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ » . 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, ada seorang hamba yang terjatuh ke dalam dosa -atau Beliau bersabda, “Telah melakukan suatu dosa,”- lalu ia berkata, “Ya Rabbi, saya telah melakukan suatu dosa,” atau ia berkata, “Aku telah terjatuh ke dalam dosa, maka ampunilah aku.” Maka Tuhannya berfirman, “Apakah hamba-Ku tahu, bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya? Aku ampuni hamba-Ku.” Selang beberapa lama yang Allah kehendaki, ia terjatuh melakukan suatu dosa atau mengerjakan suatu dosa, lalu berkata, “Ya Rabbi, saya telah berdosa atau terjatuh ke dalam dosa yang lain, maka ampunilah dosa itu.” Allah berfirman, “Apakah hamba-Ku tahu, bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya? Aku ampuni hamba-Ku.” Selang beberapa lama yang Allah kehendaki, ia melakukan suatu dosa atau mengerjakan suatu dosa, lalu ia berkata, “Ya Rabbi, saya telah berdosa atau terjatuh ke dalam dosa yang lain, maka ampunilah dosa itu.” Allah berfirman, “Apakah hamba-Ku tahu, bahwa dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya? Aku ampuni dosa hamba-Ku tiga kali, dan kerjakanlah apa yang dia kehendaki[i].”    [HR. Bukhari dan Muslim].

  • Zuhud Terhadap Dunia

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً فَقَالَ مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di atas tikar dan ketika bangun, tikar itu membekas pada rusuknya, maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami buatkan kasur untukmu?” Maka Beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia tidak lain seperti orang yang menaiki kendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon beristirahat dan kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 2377 dan Shahih Ibnu Majah 4109)

  • Ikhlas, Tulus, dan Tetap Bersama Kaum Muslim

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَالنُّصْحُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ

Dari Zaid bin Tsabit ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang hati seorang muslim tidak akan dengki kepadanya, yaitu mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati para pemimpin kaum muslimin dan tetap bersama jamaah mereka.”  [HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah 1/203].

  • Qiyamullail

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطاً طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ » . 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mengikat tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang di antara kamu ketika dia tidur. Setiap ikatan ia ikat dengan kuat sambil berkata, “Untukmu malam yang panjang, maka tidurlah.” Jika ia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah ikatan (pertama). Jika ia berwudhu, maka lepaslah ikatan (kedua), dan jika ia shalat, maka lepaslah ikatan (ketiga), sehingga pada pagi harinya ia menjadi seorang yang semangat dan jiwanya baik. Jika tidak demikian, maka pada pagi harinya jiwanya buruk dan malas.”  [HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah 1/203].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقِيلَ مَا زَالَ نَائِمًا حَتَّى أَصْبَحَ مَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ

Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Telah disebutkan seseorang di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan, bahwa ia selalu tidur sampai Subuh, tidak bangun untuk shalat malam.” Maka Beliau bersabda, “Setan telah kencing di telinganya.”  [HR. Bukhari dan Muslim].

[i] Yakni selama dia dalam kondisi seperti ini, yaitu setiap kali berdosa segera istighfar.

===(lanjut ke halaman 2)

Iklan