Pemimpin adalah Cerminan dari (Mayoritas) Rakyatnya 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••

1. Persatuan

2. Jelas dan Samar

3.Berjihad Melawan Penguasa dengan Tangan

4.Persatuan Lagi

5. Atsar ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tentang Taat terhadap Pemimpin

6.Beberapa Kaidah yang Berkaitan denganKepemimpinan

Ahmad Zainuddin · Pahala Bertaburan saat Musibah

Ahmad Zainuddin · Pelajaran di Balik Musibah Gempa

Perbedaan Antara Tahrib(penyelewengan) dan Takwil-Ustadz Muhammad Nur Ihsan

Begitu Hinanya Oleh Ustadz Dr.Syafiq Riza Basalamah MA

Beratnya Yaumul Hisab OlehUstadz Dr.Syafiq Riza Basalamah MA

Menjaga Amanah Rakyat-Ahmad Zainuddin

Antara Rakyat dan Penguasa-Abdullah Zaen

Membina Hubungan yang Baik AntaranRakyat dan Penguasa-Syaikh Abdul Malik RamadhaniAl-Jazairy /

Jawaban Islam Terhadap.Pergaulan Bebas – Ustadz Mahfudz Umry,Lc

Tanyakan, Mana Dalilnya_ – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc


Kumpulan Ebook

Nasehat Berharga Kepada Umat Islam

Berpegang Teguh Quran Sunnah, di Masa Kerusakan Ummat

Menjaga Amal

Pentingnya Tabayyun

Cinta Dunia

Kepemimpinan

Khouf dan Raja(Takut dan Berharap)

Khilafah Islamiyah Dalam Pandangan Manhaj Salaf

Nafak Tilas Kemenangan Umat Islam

Kemenangan

Kecintaan

Pokok Manhaj Salaf

Memahami Nilai dan Dasar Keberpihakan

Agama Ini Telah Sempurna

==================

Pemimpin adalah Cerminan dari (Mayoritas) Rakyatnya

Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan” [QS. Al-An’aam: 129].

Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan tentang sebab dan akibat. Yaitu bahwa diberikannya pemimpin yang dhalim kepada satu kaum adalah disebabkan karena kedhaliman yang mereka lakukan.

✅ Qataadah rahimahullah (w. 117 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas:

وَإِنَّمَا يُوَلِّي اللَّهُ بَيْنَ النَّاسِ بِأَعْمَالِهِمْ، فَالْمُؤْمِنُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِ، أَيْنَ كَانَ، وَحَيْثُ كَانَ، وَالْكَافِرُ وَلِيُّ الْكَافِرِ، أَيْنَمَا كَانَ، وَحَيْثُمَا كَانَ، لَيْسَ الإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلا بِالتَّحَلِّي

Allah hanyalah menjadikan wali diantara manusia berdasarkan amal perbuatan mereka. Maka, orang mukmin adalah wali (pemimpin) bagi orang mukmin dimanapun juga. Begitu juga orang kafir adalah wali bagi orang kafir dimanapun juga. Keimanan bukanlah dengan angan-angan dan berhias (akan tetapi dengan keyakinan, ucapan, dan perbuatan anggota badan)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 12/119 dan Ibnu Abi Haatim dalam Tafsiir-nya hal. 1388-1389 no. 7899-7900; shahih].

Penafsiran Qataadah ini dikuatkan oleh Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahumallah (w. 310 H) [Jaami’ul-Bayaan, 9/559].

Maalik bin Diinaar rahimahullah (w. 130 H) berkata:

قَرَأْتُ فِي الزَّبُورِ: إِنِّي أَنْتَقِمُ مِنَ الْمُنَافِقِ بِالْمُنَافِقِ، ثُمَّ أَنْتَقِمُ مِنَ الْمُنَافِقِينَ جَمِيعًا، وَذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَوْلُ اللَّهِ: وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

Aku membaca di Zabuur : Sesungguhnya Aku (Allah) memberikan hukuman orang munafik dengan orang munafik. Kemudian setelah itu Aku berikan hukuman kepada orang-orang munafik semuanya. Dan hal tersebut terdapat dalam Kitabullah, yaitu firman Allah : ‘Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan’ (QS. Al-An’aam: 129)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsiir-nya hal. 1389 no. 7901; shahih].

Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah (w. 130 H) berkata:

كَانَ يُقَالُ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ شَرًّا أَمَّرَ عَلَيْهِمْ شِرَارَهُمْ، وَجَعَلَ أَرْزَاقَهُمْ بِأَيْدِي بخلائهم

Dulu dikatakan : Apabila Allah menghendaki kejelekan pada satu kaum, akan dijadikan pemimpin atas mereka orang yang paling jelek diantara mereka, dan Allah jadikan rizki-rizki mereka di tangan orang-orang kikir di kalangan mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Kharaaithiy dalam Masaawiul-Akhlaaq hal. 165 no. 351; sanadnya hasan].

✅ Senada dengan Ibnul-Munkadir, Manshuur bin Abil-Aswad rahimahumullah berkata:

سَأَلْتُ الأَعْمَشَ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ مَا سَمِعْتَهُمْ يَقُولُونَ فِيهِ؟ قَالَ: ” سَمِعْتُهُمْ يَقُولُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ أُمِّرَ عَلَيْهِمْ شِرَارُهُمْ ”

Aku pernah bertanya kepada Al-A’masy (w. 147/148 H) tentang firman-Nya ﷻ : ‘Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan’ (QS. Al-An’aam: 129). Apa yang engkau dengar dari mereka tentang ayat ini ?. Ia menjawab : “Aku mendengar mereka berkata : ‘Apabila manusia telah rusak, akan dijadikan pemimpin atas mereka orang yang paling jelek diantara mereka” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa’, 5/50; sanadnya hasan].

Mereka’ yang dimaksudkan dalam perkataan Al-A’masy (Sulaimaan bin Mihraan) adalah sebagian taabi’iin dan shahabat Nabi ﷺ yang ditemui Al-A’masy rahimahumullah, karena dirinya seorang taabi’iy.

Ibnu Katsiir rahimahullah (w. 774 H) berkata:

ومعنى الآية الكريمة: كما ولينا هؤلاء الخاسرين من الإنس تلك الطائفة التي أغْوَتهم من الجن، كذلك نفعل بالظالمين، نسلط بعضهم على بعض، ونهلك بعضهم ببعض، وننتقم من بعضهم ببعض، جزاء على ظلمهم وبغيهم.

Makna ayat yang mulia ini adalah : Sebagaimana Kami jadikan bagi orang-orang yang merugi dari kalangan manusia, wali dari golongan jin yang menyesatkan mereka (manusia). Dan begitu juga yang Kami lakukan terhadap orang-orang yang dhalim, (yaitu) Kami kuasakan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, Kami binasakan sebagian mereka melalui sebagian yang lain, Kami timpakan hukuman sebagian mereka dengan sebagian yang lain; sebagai balasan atas kedhaliman dan kejahatan mereka” [Tafsiir Al-Qur’aanil-‘Adhiim, 6/175 – Muassasah Al-Qurthubah, Cet. 1/1421].

Al-Baghawiy rahimahullah berkata:

{ وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } [قيل: أي] كما خذلنا عصاة الجن والإنس حتى استمتع بعضهم ببعض نولي بعض الظالمين بعضا، أي: نسلط بعضهم على بعض، فنأخذ من الظالم بالظالم، كما جاء: “من أعان ظالما سلطه الله عليه” .

وقال قتادة: نجعل بعضهم أولياء بعض، فالمؤمن ولي المؤمن [أين كان] والكافر ولي الكافر حيث كان. وروي عن معمر عن قتادة: نتبع بعضهم بعضا في النار، من الموالاة، وقيل: معناه نولي ظلمة الإنس ظلمة الجن، ونولي ظلمة الجن ظلمة الإنس، أي: نكل بعضهم إلى بعض، كقوله تعالى:(نوله ما تولى)(النساء، 115)، وروى الكلبي عن أبي صالح عن ابن عباس رضي الله عنهما في تفسيرها هو: أن الله تعالى إذا أراد بقوم خيرا ولّى أمرهم خيارهم، وإذا أراد بقوم شرا ولى أمرهم شرارهم.

Firman Allah ﷻ : ‘Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai wali/pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan’ (QS. Al-An’aam: 129), dikatakan maknanya : Sebagaimana Kami biarkan golongan jin dan manusia yang durhaka hingga sebagian mereka merasa senang dengan sebagian yang lain. ‘Kami jadikan sebagian orang yang dhalim sebagai wali/pemimpin sebagian yang lain’, yaitu : Kami berikan kuasa sebagian mereka atas sebagian yang lain, lalu Kami ambil (sesuatu) dari orang yang dhalim tersebut melalui orang dhalim yang lain, sebagaimana riwayat : ‘Barangsiapa yang menolong orang dhalim, niscaya Allah akan kuasakan orang dhalim tersebut atas dirinya’.

Qataadah berkata : Kami jadikan sebagian mereka sebagai wali sebagian yang lain. Orang mukmin adalah wali/pemimpin bagi orang mukmin lainnya dimanapun berada, dan orang kafir adalah wali/pemimpin bagi orang kafir lainnya dimanapun berada. Diriwayatkan dari Ma’mar, dari Qataadah : Kami jadikan sebagian mereka mengikuti sebagian lainnya di neraka.

Dikatakan, maknanya adalah : Kami jadikan manusia dhalim sebagai wali jin yang dhalim, dan jin yang dhalim sebagai wali manusia yang dhalim; yaitu : Kami kuasakan sebagian mereka kepada sebagian yang lain sebagaimana firman-Nya : ‘Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu’ (QS. An-Nisaa’ : 115). Al-Kalbiy meriwayatkan dari Abu Shaalih, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa terkait tafsir ayat tersebut : ‘Apabila Allah ﷻ menghendaki kebaikan pada satu kaum, maka Ia akan jadikan orang terbaik di kalangan mereka yang mengurus urusan mereka.

Sebaliknya, apabila Allah ﷻ menghendaki kejelekan pada satu kaum, maka Ia akan jadikan orang terjelek di kalangan mereka yang mengurus urusan mereka” [Ma’aalimut-Tanziil, 3/189 – Daar Thayyibah, Cet. 1/1409].

  • Pemimpin adalah cerminan dari (mayoritas) rakyatnya. 

Seekor monyet hanya menjadi pemimpin bagi kawanannya di pepohonan. Ia tidak akan pernah menjadi pemimpin bagi kawanan singa di rimba belantara. Masyhur dikatakan:

كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

Sebagaimana keadaan kalian, maka seperti itulah kalian akan mendapatkan pemimpin”.

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن استقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه ما لا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك ما لا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم

“Dan perhatikanlah hikmah Allah ﷻ menjadikan raja dan pemimpin hamba-hamba-Nya berdasarkan jenis amal perbuatan mereka. Bahkan seakan-akan amal perbuatan mereka nampak dalam bentuk pemimpin dan raja yang memerintah mereka. Apabila mereka (rakyat) istiqamah, maka istiqamah pula raja-raja mereka. Apabila mereka adil, maka akan adil pula raja yang memerintah mereka. Apabila mereka dhalim, maka akan dhalim pula raja dan pemimpin mereka. Apabila nampak/merebak perbuatan makar dan tipu daya pada mereka, maka pemimpin mereka pun akan berbuat demikian. Apabila mereka menahan hak-hak Allah di tangan mereka lagi kikir/bakhil, maka raja dan pemimpin mereka akan menahan apa yang menjadi hak mereka (rakyat). Apabila mereka (rakyat) mengambil sesuatu yang bukan haknya dari orang-orang yang lemah dalam muamalah, maka para raja akan mengambil sesuatu yang bukan haknya dan menetapkan pajak dan wadhifah atas mereka. Dan, setiap kali mereka (rakyat) memeras orang yang lemah, maka para raja akan mengambilnya lagi dari mereka secara paksa. Jadi, para penguasa mereka muncul sesuai amal perbuatan mereka (rakyat)” [Miftaah Daaris-Sa’aadah, hal. 253].

Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu terangkat menjadi khalifah bagi rakyatnya, yaitu para manusia teladan dari kalangan shahabat dan pembesar taabi’iin, yang mereka ini sebaik-baik umat[1]. Begitu juga para khalifah setelahnya seperti ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum. Tauhid dan sunnah mengalami puncak kejayaan di tengah kaum muslimin.

Berbeda halnya ketika zaman Al-Ma’muun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiiq; trio khalifah Dinasti ‘Abbaasiyyah. Di masa mereka, bid’ah Mu’tazilah-Jahmiyyah mengalami era keemasan. Begitu juga cabang-cabang bid’ah ushuliyyah lain seperti Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, Jabriyyah, dan Murji’ah. Hasilnya? Sunnah dimusuhi dan orang-orangnya (Ahlus-Sunnah) diperangi. Muhammad bin Nuuh Al-‘Ijliy, Nu’aim bin Hammaad Al-Khuzaa’iy, Abu Ya’quub Al-Buwaithiy, Ahmad bin Nashr Al-Khuzaa’iy rahimahumullah adalah sedikit contoh ulama yang meninggal akibat fitnah di zaman mereka.

Melompat beberapa abad berikutnya. Ketika kesyirikan dan bid’ah (semakin) menyebar, pemimpin-pemimpin lemah bermunculan. Mereka mengangkat para pejabat dari kalangan rusak. Hasilnya?. Baghdad jatuh tahun 656 H.

Korea Utara yang mayoritas rakyatnya tak beragama mendapatkan pimpinan gila Kim Jong-un. Jepang dan Korea Selatan yang mayoritas rakyatnya penghamba dunia, mendapatkan pemimpin yang sesuai selera rakyatnya. Masyarakat Mesir yang demen demonstrasi dan mengadopsi budaya asing mendapatkan pemimpin As-Siisiy. Dan seterusnya.

(Lanjut ke halaman 2)

Iklan