Beberapa Renungan Dan Nasehat Salaf (9) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1. Semua Karena Allah

2. Bumi dan Langit akan Diganti

3. Doa Meminta Perlindungan Dari Kelaparan Dan Khianat

4.Kapankah Disyari’atkan Berwasiat?

5. Bagaimana Menjenguk Orang Sakit?

6.Meminta Izin Kepada Anak Ketika Mengambil Hak-haknya

Tiada benteng Perlindungan Sekokoh Iman Oleh Ustadz Abdullah Taslim MA
Sesi 1
 Sesi 2

Aqidah Cerminkan Akhlak-Hasan Al Jaizy 

Bidadari Di Surga-Hasan Al Jaizy 

Islam Adalah Aqidah dan Amalan-Hasan Al Jaizy 

Islam Adalah Sunnah Sunnah Adalah Islam Hasan Al Jaizy

 Katanya Umat Ini Sudah Cerdas-Hasan Al Jaizy 

Kenapa Mesti Salafi-Hasan Al Jaizy 

Manhaj Ahlussunnah Dalam Tazkiyatun Nafs-Hasan Al Jaizy 

Status Tidak Jelas-Hasan Al Jaizy  

Ust. Abdurrahman –Islam sebagai Jalan Hidup

Penenang Hati – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

Rambu Rambu Ibadah Yang Benar – Ahmad Zainuddin

SemuaKeburukan Akibat Dosa – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc


Ebook

Manhaj Talaqi Wal Istidlal Baina Ahli Sunah Bal Mubtadi’ah,( Tata Cara/Metode Dalam Pengambilan Ilmu&Menyimpulkan Dalil)-Syaikh Ahmad bin Abdurrahman As-Suyan

SAQIFAH PENYELAMAT PERSATUAN UMAT Penulis : Saleh A. Nahdi( Bantahan untuk Buku Saqifah Awal Perselisihan Umat Yang Mencemar-kan Nama Baik Para Khalifah& Sahabat Rasul yang Dihormati )

Misteri Panjang Umur Mendapatkan Pahala Besar dengan Amalan Ringan dan Singkat

Pemuda dan Canda-Aadil bin muhammad

Pewaris Nabi atau Pelacur Agama-Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin Abdullah Al-Ajiri

Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristenke Dominasi Sekular-Liberal.oleh Adian Husaini

Fatimah Az-Zahra : Wanita Teladan Sepanjang Masa

==

➡ Beberapa Renungan Dan Nasehat Salaf (9)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini Beberapa Nasehat yang kami kumpulkan dari beberapa Ustadz. 

  • ➡ [Balas dendam karena dicaci]

✅ Aisyah radhiyallahu anha berkata:

ﻭﻣﺎ ﻧِﻴﻞ ﻣﻨﻪ ﺷﻲﺀ ﻗﻂُّ، ﻓﻴﻨﺘﻘﻢ ﻣِﻦ ﺻﺎﺣﺒﻪ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳُﻨْﺘَﻬﻚ ﺷﻲﺀ ﻣِﻦ ﻣﺤﺎﺭﻡ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﻴﻨﺘﻘﻢ ﻟﻠﻪ ﻋﺰَّ ﻭﺟﻞَّ

“Beliau jika dicaci dirinya tak pernah membalas (dengan mencaci) pelakunya kecuali jika dilanggar keharaman keharaman Allah,maka beliau membalas karena Allah Azza wajalla.. (HR Muslim)

Sungguh akhlak amat terpuji namun berat. Karena diri jika dicaci biasanya akan marah dan ingin membalas dendam. Tapi marah saat itu bukanlah marah yang terpuji. Cukuplah kita mengingat bahwa ketika dicaci maka dosanya untuk yang mencaci dan kita mendapat pahala darinya dan pahala kesabaran.

@Badrusalam

=

  • ➡ [Sikap Tidak Adil]

Anda mungkin pernah merasa sakit hati dg ulah sebagian ikhwah salafy, tapi jgn itu dijadikan sebagai senjata untuk anda membenci para du’at salafy apalagi semakin baper dan membabi buta dlm mencela para asatidz kita, kau boleh sakit hati, tapi jgnlah sakit hatimu mengantarkanmu untuk bersikap tidak adil.

{ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻗَﻮَّﺍﻣِﻴﻦَ ﻟِﻠَّﻪِ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺠْﺮِﻣَﻨَّﻜُﻢْ ﺷَﻨَﺂﻥُ ﻗَﻮْﻡٍﻋَﻠَﻰ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﺍﻋْﺪِﻟُﻮﺍ ﻫُﻮَ ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ{‏[ ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ: 8 ]

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku.adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Maaidah: 8)

Saya khawatir tulisanmu dan bantahanmu hanya dilandasi baper dan sakit hati!!!

  • ➡ [Ulah Provokator Mengadu Ustadz]

Diantara ulah para provokator untuk membuat gaduh adalah mengambil ucapan sebagian ustadz salafy untuk diadu dg ucapan ustadz salafy yg lain. Padahal sebenarnya tidak ada masalah apa2 diantara mereka. Namun dibuat gaduh oleh para provokator berkedok thalibul ilmi agar terasa puas nafsunya bisa membantahpihak salafi yg ia jengkeli dg ucapan ust salafy lain. Padahal sejatinya orang seperti ini sama sekali simpatik pun tidak terhadap ust-ust salafy, dia mencatut ucapan sebagian dai salafihanya untuk sekedar memuaskan rasa kesal dan dongkol saja dlm hatinya!!!

Namun ketika dai salafy yg ia ambil ucapannya tersebut berdebat dg dai haroky misalnya, tetap saja yg ia bela adalah dai haroky. Entah dia haroky atau bukan itu tak penting. Awas manhaj baperiyah macam ini hanya akan mengantarkanpada sikap plin-plan dan jatuh pada adu domba/namimah.

@Abu Ya’la Hizbul Majid

=

  • ➡ [Mad’u Belajar Agar Faham, Bukan Agar Bingung]

Belakangan, ada beberapa (sekali lagi: beberapa) individu menyatakan kebingungannya akan tulisan-tulisan dai tertentu. Bukan karena mereka fanatik atau bagaimana sehingga bingung, tetapi mereka memiliki ekspektasi (harapan) agar faham namun yang didapat justru distorsi dan materi yang mengambang.

Kami merasa sedih dengan keadaan rekan-rekan ini. Tidak mungkin kami katakan, “Makanya, jangan belajar di sosmed”, sementara sebagian dai pun memanfaatkan sosmed untuk dakwah dan tulisan atau video para duat bertebaran setiap hari. Tidak mungkin kami katakan, “Itu antumnya saja yang tidak punya ilmu. Makanya, ngaji yang benar.” Atau andalan lain: “Makanya, ngaji kitab, jangan tematikan terus.” Ini malah membuat rekan-rekan kabur karena sakit hati.

Iya. Kami sedih. Karena itu, kadang kami mencoba menjelaskan di beberapa tempat bi’idznillah. Bukan untuk menjatuhkan kehormatan dai yang dimaksud, melainkan hanya agar rekan-rekan ini faham, sehingga hati mereka tidak dipenuhi syubhat dan merasa berat beragama.

Suatu saat kala, setelah menyampaikan salah satu materi dari kalimat di kitab Syarh as-Sunnah karya al-Barbahary di Masjid Hijau Cilangkap, seorang ikhwan yang tergolong sangat kami kenal, menghampiri di parkiran. Beliau mencurahkan perasaan.

Afwan. Sejujurnya, ana di beberapa penjelasan antum, tidak faham. Mungkin apa karena ana yang terlalu awam atau gimana.”

Di situ, sejujurnya juga, kami berkalutan sedih. Merasa ta’lim telah gagal. Walau banyak dari hadirin terkesan faham, dan insya Allah faham. Pembahasan salah satu masalah dalam aqidah dan beberapa firqah menyimpang. Tapi, kami merasa gagal. Tidak mungkin kami katakan, “Itu antumnya saja yang tidak punya ilmu.” Tidak. Seandainya pun kami katakan itu tanpa maksud sombong, tapi pasti bagi beliau itu kesombongan.

Akhirnya kami berazam untuk meringankan materi dan ujaran penyampaian.

Kami selalu mengingat point manhaj dalam berdakwah. Bahwasanya dakwah itu tujuannya untuk MENJELASKAN supaya (dan semoga) audiens dan pembaca menjadi paham. Sehingga setelah mereka paham, mereka akan punya modal beramal. Mereka akan merasa kajian yang dihadiri ada faedah yang bisa dibawa.

✅ Manhaj dakwah tersebut sudah ditegaskan oleh Allah Ta’ala, melalui ayat-Nya:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” [Q.S. Ibrahim: 4]

✅ Al-Baghawy dalam tafsirnya mengatakan bahwa tafsiran kalimat [ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ] adalah:

لِيَفْهَمُوا عَنْهُ

Agar mereka memahaminya.” [Ma’alim at-Tanzil, 4/335]

Ketika kita memberikan penjelasan, namun malah menjadi syubhat bagi banyak orang yang jujur mau kepada kebenaran, maka jangan dengan sombongnya kita merendahkan mereka. Kita introspeksi diri bahwa sangat mungkin kalimat kita terlalu berat, atau memang materi ini butuh penjelasan lebih, atau mungkin:

Niat kita belum ikhlas kala menjelaskan?”

Jika kita hendak mencontoh Rasulullah sebagai sebaik-baik contoh, beliau memiliki jawami’ al-kalim. Memang perlu dijelaskan di beberapa kalimat, namun ulama pun menjelaskannya. Dan jika beliau melihat ada yang salah memahami kalimat beliau, maka beliau jelaskan agar tak menjadi syubhat yang bisa berefek pada ibadah, kejiwaan dan masa depannya.

Suatu ketika, ada seorang ibu tua datang kepada Rasulullah, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tolong doakan saya agar saya bisa masuk Surga.”

✅ Maka Rasulullah berkata:

يَا أُمَّ فُلَانٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لَا تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ

Wahai Ibu fulan, sesungguhnya Surga itu tidak dimasuki oleh orang ajuz (orang yang tua).”

Maka, ibu tua tersebut berpaling dan menangis. Di sini, pemahaman ibu tua yang mulia tersebut salah. Yang difahami, beliau karena sudah tua, maka tidak akan masuk Surga. Mengetahui itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apakah dengan titel atau gelarnya sebagai Rasulnya Allah, mengatakan, “Memang Anda saja yang tidak bisa diajak bercanda?” Atau mengatakan, “Memang Anda saja yang tergesa memahami sehingga salah!”

Atau mengatakan, “Memang Anda saja apa-apa dibawa perasaan (baper).” ??? Itu bukan akhlak Rasulullah dalam berdakwah.

Melainkan beliau mengutus sebagian sahabat untuk menyampaikan klarifikasi agar clear:

أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لَا تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّا أَنْشَأنَاهُنَّ إِنْشَاءً , فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا , عُرُبًا أَتْرَابًا}

Tolong kalian sampaikan kepada beliau bahwa beliau tidak akan masuk Surga dalam kondisi tua. Karena Allah Ta’ala berkata: {Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung,dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,penuh cinta lagi sebaya umurnya,}.”Hadits riwayat at-Tirmidzy dalam asy-Syama’il al-Muhammadiyyah, dishahihkan oleh al-Albany.

Maka, jika kita berdakwah masih berkenan memakai metodologi dakwah Rasulullah, tentu juluran kalimatnya ditujukan agar difahami, bukan agar membingungkan sebagian dan menyenangkan sebagian. Membingungkan orang yang mau mencari kebenaran, dan menyenangkan orang yang mau melawan kebenaran. Apakah Rasulullah dalam berdakwah, membuat bingung para sahabat yang shalihin dan menyenangkan orang-orang munafiq? Tidak.

Kecuali jika pandangan kita terbalik. Bagi kita, orang-orang yang berusaha saleh, istiqamah dan mengikuti Salaf adalah golongan kaku, keras dan menyimpang, sementara orang-orang yang bertentangan dengannya adalah mereka yang hendak menebar kebenaran di muka bumi. Jika begitu pandangannya, maka cobalah kita periksa hati.

Boleh jadi kita lancar bicara ayat dan hadits, hafal urusan tazkiyatun nufus, namun kesulitan mengamalkannya.

Jika tidak sedih dengan kebingungan orang-orang yang hendak beramal saleh, maka silakan berbuat apa yang diinginkan. Semoga kalimat kecil yang ada manfaatnya.

@ Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

=

  • ➡ [Tahdzir Bagian Amar Ma’ruf Nahi Mungkar]

Kami gak pernah ganggu dakwah kalian, kenapa kalian tahdzir dakwah kami”

Karena tahdzir itu memang amalan yang diniatkan untuk Allah, bukan untuk balas dendam. So, tak peduli diganggu atau tidak, kalau masyarakat diajari aqidah yang ngga benar, tahdzir tetap jalan. Tahdzir itu bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Dan namanya nahi munkar itu tidak dengan mencari-cari kesalahan, tapi kalau kesalahan itu lewat di depan kita tanpa dicari, maka ketika itulah nahi munkar dilakukan.

Sesederhana itu.

✅ Kata pepatah :

ﻓﺎﻗﺪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻻ ﻳﻌﻄﻴﻪ

Orang yang tidak punya, tidak akan bisa memberi”

Tidak punya ilmu, maka tak perlu berharap postingannya berisi ilmu..Yang ada cuma retorika saja. Berharap orang awam tersihirmdengan kata-katanya yang seolah bijak, padahal kosong. Orang yang tak paham terpukau, sedangkan yang pandai hanya bisa menahan mual. Ya, mual. Bukan hanya karena tak berbobot, tapi juga karena ia.tak sedia cermin ketika menulisnya.

@Ristiyan Ragil Putradianto

=

  • ➡ #Riba & #Inflasi (merosotnya daya beli mata uang)

Kenapa mata uang makin hari makin ga ada nilainya dan makin merosot daya belinya..?? Pakar-pakar ekonomi dunia, dari yang Muslim ampe yang Jewish (Yahudi), semuanya ijma’ seiya sekata; menunjuk sistem ekonomi ribawi biang keroknya. Logikanya sederhana; Bank Ribawi ngasi pinjaman ke produsen buat modal usaha. Bank ga mau tau; duit 1 M pinjaman harus balik utuh plus 25% bunganya (1.25 M). Kira-kira bunga yg 250 jt itu gimana cara ngadapetinnya secara “pasti” ya…?? (Padahal ga ada yg pasti lho dalam urusan laba dunia usaha). Produsen akan menambahkan 250 juta itu ke biaya produksi. Lanjut, produsen akan menambahkan 250 ampe 500 juta lagi ke biaya produksi tersebut untuk memperkecil resiko. Buat jaga-jaga kata mereka. Bayangkan jika kasus tersebut terjadi pada ribuan produsenbarang-barang kebutuhan pokok yang vital bagi masyarakat, dari sembako hingga obat-obatan dan alat-alat bantu kesehatan. Hasil akhirnya bisa kita tebak bersama, harga barang–di berbagai sektor–yang bertambah mahal dan mencekik. Tsunami Inflasi pun tak terelakkan.

Kata sebagian orang yang menukar posisi otak mereka dengan dengkul; “kalo suku bunga kecil, bunga halal”. Suku bunga yang rendah tetap aja riba. Justru ketika diturunin, suku bunga ibarat perempuan jalang nan seksi. Mudah didapat, menggiurkan dan membangkitkan gairah syaithaniyyah pemuja duit. Mereka berbondong-bondong akan mengajukan pinjaman ke Bank Ribawi. Ibarat artis dangdut naik daun, Bank kebanjiran orderan. Akhirnya bank tergiur pula untuk memberikan kredit dengan nilai yang lebih besar dari jumlah uang yang mereka miliki secara fisik. Ini mendorong penerbitan mata uang tambahan yang tidak diimbangi peredaran barang hasil produksi. Lagi-lagi hasil akhirnya bisa kita tebak bersama. Sebanyak apapun uang yang beredar, tetap ga ada nilainya, wong barang yang mau dibeli ga nambah-nambah di pasaran. Inflasi juga ujung-ujungnya.

Alhasil, suku bunga (baca: riba), baik besar ataupun kecil, tetapnaja mendorong laju inflasi.

Ditambah lagi, semua orang pingin maen aman, bergerak di sektor permodalan, tapi maunya nol resiko. Kasi pinjaman, dapet untung lewat bunga, tanpa harus bekerja, untung ngalir terus nihil resiko. Menggiurkan bukan..?? Ya, sekaligus lahan subur tumbuhnya mental-mental pemalas. Akhirnya sektor riil jadi mati. Barang ga ada yang produksi, tapi duit beredar banyak. Apa nilai uang jika sudah seperti itu…?? Benar isyarat Allah dalam Al-Quran; harta riba akan lenyap perlahan-lahan (yamhaqu – mahaqo) dengan kehilangan daya belinya.

ﻳَﻤْﺤَﻖُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﻳُﺮْﺑِﻲ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻛُﻞَّ ﻛَﻔَّﺎﺭٍ ﺃَﺛِﻴﻢٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” [Al-Baqarah: 276]

Rakyat tambah sengsara. Bank berpikir hanya memberi pinjaman berbunga pada orang-orang kaya. Padahal, orang-orang kaya (produsen) justru membebankan bunga tersebut pada rakyat jelata, dengan menaikkan harga barang produksi. Inilah kezaliman sistematis yang menghancurkan ekonomi global. Fallaahul musta’aan wa-‘alaihi at-tuklaan

@Johan Saputra Halim

=

  • ➡ [Tahun Baru Hijriah Meniru Agama Hindu]

Dalam bukunya yg sudah diterjemahkan dgn judul “Agama Jawa”,nantropolog berkebangsaan Amerika, Clifford Geertz menulis di hal 103: “Satu Sura. Ini lebih merupakan hari raya Buddha daripada hari raya Islam. Karenanya, ia hanya dirayakan oleh mereka yg secara sadar anti-Islam” … Lebih lanjut Geertz menyebutkan: “Dengan tumbuhnya beberapa sekte anti islam yg bersemangat sejak masa perang serta munculnya guru2 keagamaan yg mengkhotbahkan perlunya kembali pada adat jawa yg “asli”, frekuensi slametan 1 Sura mungkin telah sedikit meningkat” Jadi, perayaan tahun baru hijriah atau 1 Sura dlm penanggalan jawa, adalah perayaan yg meniru agama lain, diada2kan dan bisa jadi sangat dekat dgn bid’ah, yg dipelopori oleh mereka yg anti Islam. Tak heran seorang Orientalis Perancis abad 19, Baron Bernard Carra de Vaux menyimpulkan bahwa dominasi eropa thd islam hanya bisa diperoleh dgn mengkotak2kan kaum muslimin dlm sekte2 dan ritual2 yg bahkan tak mengakar dlm tradisi islam itu sendiri. De Vaux berkata: “Mari kita bagi-bagi Islam dan lebih intensif kita gunakan “the muslim heresies” (bid’ah) dan tarekat2 sufi … untuk melemahkan Islam dan untuk membuatnya tidak mampu bangkit untuk selamanya”

@Katon Kurniawan

=

  • TIDAK LAYAK DIJADIKAN GURU ORANG YANG MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY

✅ Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah nama-nama yang Maha baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’rof: 180]

Di dalam ayat yang mulia ini Allah ‘azza wa jalla memerintahkan untuk meninggalkan orang-orang yang menyimpang di dalam nama-nama-Nya, dan diantara bentuk penyimpangan adalah tidak mengimani sifat yang terkandung di dalam nama Allah tersebut.

Sebagai contoh, Allah bernama Al-‘Aliy, Yang Maha Tinggi, diantara maknanya adalah Allah maha tinggi di atas segala sesuatu, di atas langit yang ketujuh, di atas ‘arsy.

Dan aqidah ini juga berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan inilah aqidah Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallaahu’anhum. Maka siapa yang menyelisihi aqidah ini, ia termasuk golongan yang menyimpang, tidak layak dijadikan guru.

(Lanjut Ke Halaman 2)

Iklan