• [Kesyirikan]

Ketika sebagian orang pergerakan zaman now mengatakan “ulil amri kok membiarkan kesyirikan”, maka perkataan mereka itu merupakan suatu hal yang patut diapresiasi.

Ada kemajuan dibandingkan era-era kepresidenan sebelumnya. Dimana pada kondisi yang sama, mereka tidak terdengar keprihatinannya akan kesyirikan yang terjadi di tengah masyarakat.

.Artinya mereka peduli dengan tauhid, dan insyaallah akan fokus pada tauhid dan mendakwahkan bahaya syirik, yang untuk saat ini dakwah semacam itu masih melekat pada teman2 salafi. Jika yang menang pemilu 2019 adalah presiden yang mereka dukung, semoga ritual2 kesyirikan atas nama adat istiadat akan dihapuskan. Jangan sampai mereka mengulang kalimat “ulil amri membiarkan kesyirikan” pada tahun2 mendatang kepada presiden yang mereka dukung sendiri.

Bagi saya pribadi, kesyirikan adalah masalah bersama dan harus diselesaikan bersama. Kita dengan dakwah kita, penguasa dengan kekuasaannya. Jangan seperti sebagian orang yang kesulitan memahami kalimat semudah ini sehingga menyimpulkan bahwa penguasa tidak punya peran menegakkan tauhid dan pemberantasan syirik 

Orang yang bermaksiat adalah orang bodoh. Entah itu:

  • bodoh akan hukumnya, atau
  • – tahu hukumnya, tapi bodoh akan Keagungan Dzat yang dia maksiati.

Oleh sebab itu Nabi Nuh ketika para pengikutnya durhaka kepada Allah, beliau mengatakan:

ﻣﺎ ﻟﻜﻢ ﻻ ﺗﺮﺟﻮﻥ ﻟﻠﻪ ﻭﻗﺎﺭﺍ

Apakah kalian tidak tahu keagungan Allah?”

Orang yang masih suka dengan da’i yang aqidahnya menyimpang, maka tidak lepas dari dua keadaan:

  • dia memang tidak tahu aqidah ahlus sunnah dan tidak pernah mempelajarinya.
  • – dia tahu aqidah ahlus sunnah, tapi tidak menganggap penting persoalan aqidah.

@Ristiyan Ragil Putradianto

=

  • [Bid’ah Hasanah]

Memang hidayah itu di tangan Allah…

=======

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid’ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yg dijuluki sebagai ‘Imamnya Kota Nabi’ sudah sangat tegas dan lugas mengatakan: “Barangsiapa melakukan bid’ah APAPUN dalam Islam dan dia melihat bid’ah itu baik, maka dia telah menganggap bahwa (Nabi) Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- telah MENGKHIANATI risalah (yg diembannya), karena Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian”, sehingga apapun yg bukan agama pada hari itu, maka dia juga bukan agama pada hari ini”. [Kitab: Ali’tishom 1/64].

Bahkan Ibnu Umar -rodhiallohu anhuma- yang merupakan sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam– juga telah menegaskan: “SEMUA bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang melihatnya BAIK”. [Sanadnya shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Battoh: 205].

Bahkan Nabi tercinta -shollallohu alaihi wasallam– juga telah menyabdakan: “SEMUA bid’ah itu sesat”. [Shohih Muslim: 867].

———-

Kalaupun ada perkataan ulama yang menyelisihi sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ini, bukankah seharusnya perkataan mereka yang ditakwil atau diselaraskan maknanya dg sabda Nabi di atas?!

Bukan malah sebaliknya, sabda Nabi yang dita’wil dan dipelintir maknanya sehingga seakan selaras dg perkataan ulama tersebut.

Jika memang Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan sabdanya lebih agung kedudukannya di hati seseorang, harusnya langkah pertama yang dia ambil, yaitu mentakwil atau menyelaraskan perkataan ulama tersebut agar tidak bertentangan hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Atau jika terpaksa harus memilih salah satu, maka harusnya dia memilih perkataan orang yang WAJIB dicintainya melebihi orang tuanya, anaknya, bahkan manusia semuanya, dialah Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

Semoga Allah memberikan kaum muslimin hidayah untuk menghidupkan sunnahnya dan mematikan bid’ah yang disusupkan dalam agamanya, amin.

=

  • Dakwah Salaf berdiri di atas 3 pilar utama:

=====

(1) Memurnikan Ibadah untuk Allah ta’ala dan memerangi kesyirikan.

(2) Taat dan tunduk kepada pemimpin muslim dalam perintah yg bukan maksiat.

(3) Menghidupkan Sunnah, dan memerangi bid’ah.

——–

Tiga hal ini bisa disimpulkan dari Hadits Irbadh -rodhiallohu anhu-, yang disebut sebagai NASEHAT PERPISAHAN NABI -shollallohu alaihi wasallam-, beliau bersabda di dalamnya: “Aku BERWASIAT kepada kalian:

(1) agar BERTAQWA kepada Allah,

(2) dan MENDENGAR juga TAAT (kepada penguasa), walaupun dia seorang budak (hitam) dari Habasyah, karena orang yang hidup (lama) dari kalian akan melihat banyak perselisihan.

(3) Dan Waspadalah kalian terhadap semua ‘PERKARA-PERKARA BARU (dlm agama)’, karena itu adalah kesesatan”.[HR. Attirmidzi: 2676, dishohihkan oleh Syeikh Albani]

=

  • Disebut “orang pintar”.. Tapi tidak pintar..

======

“Yang mengherankan dari orang yg memiliki akal yg sehat, (mengapa) dia meminta wahyu (arahan) kepada *orang mati*?! (Bahkan) dia meminta diselamatkan dari musibah yg menimpa kepada orang mati itu. Tapi, dia tidak meminta diselamatkan dari musibah yg menimpa kepada (Allah) yg *maha hidup dan tidak akan mati*”. [Oleh: Syeikhul Islam -rohimahulloh-, dalam kitab beliau Al-Fatawa 1/126]

=

  • Faidah dalam “keinginan buruk”

=====

Rasul -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Jika seseorang ingin melakukan keburukan, tapi dia tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna”. [HR. Bukhori Muslim].

Keinginan untuk melakukan keburukan ada beberapa keadaan:

Pertama: jika seseorang ingin melakukan keburukan, dan ia bertekad bulat dalam hatinya untuk melakukan keburukan itu, bukan terbetik dalam hati saja. Tapi kemudian dia mengoreksi dirinya, dan akhirnya dia meninggalkan keburukan itu karena Allah azza wajalla. Maka orang seperti ini diberi pahala, dan dicatat baginya satunkebaikan yang sempurna, karena dia meninggalkan keburukan itu karena Allah.

Kedua: jika seseorang ingin melakukan keburukan dan dia bertekad melakukannya, namun akhirnya dia tidak mampu melakukannya, tanpa ada usaha untuk melakukan langkah² menuju ke sana.

Seperti orang yang dikabarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa dia mengatakan: “seandainya aku punya harta seperti harta si fulan, maka aku akan melakukan apa yang dia lakukan”, padahal si fulan tersebut adalah orang yang biasa menghambur-hamburkan hartanya.

Maka orang ini, dicatat baginya satu keburukan, tapi dia tidak seperti pelaku keburukan, karena yang ditulis dosa niatnya (saja).

Ketiga: jika seseorang ingin melakukan keburukan, dan dia telah berusaha untuk mewujudkannya, tapi tidak mampu = maka dicatat baginya dosa keburukan secara sempurna.

Dalilnya adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-: “Jika dua muslim berhadapan dengan dua pedangnya, maka pembunuh dan korbannya di neraka (semua)”. Para sahabat bertanya: ya Rasulullah, pembunuhnya ini (sudah jelas di neraka), lalu mengapa korbannya (juga di neraka)? Beliau menjawab: “Karena korbannya itu juga telah berusaha membunuh temannya”. Maka dicatat baginya hukuman sebagai pembunuh.

Keempat: jika seseorang ingin melakukan keburukan, kemudian dia meninggalkannya, bukan karena Allah, bukan pula karena tidak mampu. Maka ini tidak ada pahala baginya dan juga tidak ada dosa atasnya. Dia tidak diberi pahala, karena dia meninggalkannya bukan karena Allah. Dia tidak diberi hukuman, karena dia belum melakukan perbuatan yg bisa mendatangkan hukuman.[Diringkas dari penjelasan Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- dalam kitabnya Syarah Arbain Nawawi, hal: 400-401]. Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

=

  • Jangan GANTUNGKAN kebenaran kepada orang.. Tapi gantungkanlah kebenaran kepada KITAB dan SUNNAH..

========

Suatu saat Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- dipuji oleh muridnya dengan syair yang isinya:

Wahai umatku, sungguh (kelamnya) malam ini akan disusul oleh fajar yang sinarnya menyebar di muka bumi. Kebaikan akan datang dan kemenangan tinggal menunggu. Kebenaran akan menang bagaimanapun keburukan itu diusahakan… selama di tengah-tengah kita ada Ibnu Sholih (Al- Utsaimin) yg menjadi syeikh kebangkitan kita…”. Mendengarnya Syeikh langsung menghentikannya dan mengatakan:

(( Aku tidak setuju dengan bait ini, aku tidak setuju MENGGANTUNGKAN kebenaran kepada orang perorang, karena setiap orang akan mati, maka jika kita gantungkan kebenaran kepada orang-perorang, artinya jika orang itu mati; manusia akan menjadi putus asa (dari kebenaran) karena kematiannya.

Oleh karena itu, jika kamu sekarang bisa mengubah bait itu, (gantilah dengan redaksi): “selama di tengah-tengah kita ada KITABULLAH dan SUNNAH Rasul-Nya…” Aku nasehatkan kepada kalian untuk saat ini dan seterusnya,janganlah kalian menggantungkan kebenaran kepada orang perorang, karena:

PERTAMA: Orang itu bisa tersesat, sampai-sampai Ibnu Mas’ud mengatakan: ‘Barangsiapa ingin mengikuti seseorang, maka ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup itu tidak aman dari fitnah (kesalahan)’. Jika kebenaran digantungkan kepada orang perorang, ada kemungkinan orang tersebut terlena dengan dirinya sendiri sehingga dia meniti jalan yang salah -na’udzu billah min dzalik-… Aku memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan kami dan kalian (di atas kebenaran)…

KEDUA: Orang itu akan mati, tidak ada seorang pun yang kekal, (sebagaimana firman Allah): “Kami tidak jadikan manusia sebelummu hidup kekal, apakah jika kamu mati mereka akan akan kekal?!”. [Al-Anbiya’: 34].

KETIGA: Sesungguhnya anak cucu Adam adalah manusia, mungkin saja dia akan terlena bila melihat orang-orang mengagungkannya,memuliakannya, dan mengerumuninya. Mungkin saja dia terlena lalu mengira dan mengaku dirinya maksum, bahwa semua yang dilakukannya itu yang benar, dan setiap jalan yang dipilihnya itulah yg disyariatkan, sehingga dengan begitu datang kebinasaan. Oleh karena itu, ketika ada seseorang memuji orang lain di depan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, beliau (ingkari dengan) mengatakan: ‘Celaka kamu, kamu telah memotong leher sahabatmu…’ [Muttafaq Alaih].”))

Kemudian Syeikh mengatakan kepada muridnya tersebut: (( Aku berbaik sangka kepadamu, tapi aku tidak suka (isi syair) ini. Aku akan memberimu beberapa hadiah insyaAllah, semoga Allah ta’ala membalasmu kebaikan )).

@Ad Dariny

•••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak.*_

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_