An-Nawawi & Ibnu Hajar Asy’ariyyah?

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1. Definisi Iman

2. Kewajiban Yang Paling Wajib

3. 3 Pokok Ajaran Islam

4. Perbedaan Antara Sifat Dzat dan Sifat Fi’lun (Sifat Perbuatan Allah)

5. Mengimani Perbuatan Allah

6. Memahami Takdir Dengan Benar

7. Ilmu Filsafat (Kalam) Perusak Akidah Islam

8. Haramnya Ilmu Kalam(Filsafat)

 

Biografi Imam An Nawawi-Ust Mubarak Bamualim

Biografi Ringkas Imam Nawawi-Ust Firanda Andirja

Biografi Imam Nawawi-Zaid Susanto Sesi1

Biografi Imam Nawawi-Zaid Susanto Sesi2

Gigitlah Sunnah-Ust Zainal Abidin Syamsudin

Sekecil Apapun Peranmu.Dalam Dakwah, Besar Dampaknya.Bagi Ummah-Ustadz Zainal Abidin

Bersikap Bijak Pada Ajaran Wali Songo-Ustadz Zainal Abidin , Lc Sesi1

Bersikap Bijak Pada Ajaran Wali Songo-Ustadz Zainal Abidin , Lc Sesi2


Kumpulan Ebook

Syarah Shahih Muslim

Ahlus Sunnah wal Jamaah

Asy’ariyah vs Ahlus Sunnah

Apakah Asy’ariyah itu Ahlus Sunnah.

Kumpulan Biografi Ulama Ahlusunnah

Biografi Ringkas Imam Nawawi

Imam Nawawi

Riwayat Imam Pengumpul Hadist

Berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan Tidak Taqlid Pada Seseorang

51-kaidah-penerapan-sunnah-pastikan-kesahihannya

===___

  • ➡ AN-NAWAWI & IBNU HAJAR ASY’ARIYYAH?

[Menjawab Syubhat “Asy’Ariyyah Itu Tidak Sesat, Buktinya Ibnu Hajar dan An-Nawawi Asy’Ariyyah” bagian 3]

بسم الله الرحمن الرحيم.

Saudaraku -semoga Allah memberikan kita istiqomah di atas aqidah salaf- telah kita ketahui dari pembahasan sebelumnya bahwa sebab utama kenapa sebagian para ulama terjatuh kepada sebagian Aqidah Asy’Ariyyah, bahkan sebagian mereka yang dikenal beraqidah Salaf pun tidak luput dari terjatuh pada sebagian Aqidah Asy’Ariyyah, yaitu: mendominasinya aqidah Asy’Ariyyah di tengah kaum muslimin ketika itu, bahkan dijadikan sebagai aqidah resmi beberapa kerajaan besar Islam..

Hal ini sangat mempengaruh kehidupan para ulama yang hidup di zaman itu. Sehingga kemungkinan terjatuh dan terpengaruh dengan aqidah yang berkembang di zaman itu sangatlah besar, apalagi jika syubuhat ahli bid’ah semakin banyak.

Berkata Syaikhul-Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah:

Tidak sedikit dari segolongan ulama muta’akhhirin (belakangan) kecuali pada ucapannya/pendapatnya terdapat suatu kesalahan KARENA BANYAKNYA SYUBHAT AHLI BID’AH. Oleh karena itu, didapati pada banyak kitab-kitab ushul-fiqh, ushuluddin (aqidah), fiqih, zuhud, tafsir dan hadits orang yang menyebutkan pada masalah yang sangat pokok beberapa pendapat, dia pun meyebutkan pendapat-pendapat yang berbeda tersebut dan dia tidak sebutkan pendapat yang mana dibawa oleh RasulNya shallallahu alaihi wasallam disebabkan karena dia tidak memiliki ilmu tentangnya, BUKAN KARENA KEBENCIANNYA TERHADAP APA YANG DIBAWA OLEH RASUL shallallahu alaihi wasallam.(Majmu Al-Fatawa:5/484)

➡ Faedah:

Zaman muta’akhkhirin menurut Adz-Dzahabi adalah dari tahun 300 H, sedangkan menurut Ibnu Hajar adalah dari tahun 500 H

(Mu’qizhah:74, Ta’liq Syaikhina Abil-Hasan Ali Ar-Razihi)

Oleh karena itu, para ulama yang terjatuh pada sebagian aqidah Asy’Ariyyah kebanyakan adalah yang hidup pada tahun 300-an H dan masih sangat sedikit, lalu 400-an, dan lebih banyak setelah tahun 500-an yang mana Aqidah Asy’Ariyyah telah menjadi Madzhab beberapa kerajaan Besar.

Diantara para Imam yang terjatuh pada sebagian aqidah Asy’Ariyyah adalah dua Imam Besar Al-Hafidz An-Nawawi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar. Sering kali fanatikus Asy’Ariyyah akan berkata kepada Ahlussunnah: kalian menyesatkan Asy’Ariyyah, tapi kenapa kalian mengambil ilmu dan menukil dari An-Nawawi dan Ibnu Hajr, padahal mereka berdua Asy’Ariyyah?

Untuk menjawab syubhat tersebut maka kita harus menentukan Aqidah kedua Imam tersebut agar kita bisa menilai apakah benar mereka berdua beraqidah Asy’Ariyyah ataukah tidak.?

Al-Imam Abu Zakariya Yahya ibn Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat: 676 H)

➡Secara umum manhaj beliau rahimahullah adalah sebagaimana yang dituturkan oleh murid terdekat beliau Al-Hafidz Ibnul-Atthãr yang bergelar mukhtashar An-Nawawi rahimahullah (wafat:724 H):

Beliau adalah seorang muhaqqiq (peneliti hebat) pada ilmu dan cabang-cabangnya, sangat teliti pada ilmunya dan semua masalah-masalahnya, penghafal hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengetahui semua jenis-jenisnya, baik yang shahih dan dhaif, lafaz-lafaznya gharib dan yang benar maknanya, dan istinbath hukum darinya. Beliau adalah penghafal madzhab Syafi’i, kaedah-kaedah, ushul-ushul dan cabang-cabangnya. (Beliau juga menghafal) madzhab para Sahabat dan Tabi’in, ikhtilaf ulama, kesepakatan dan ijma mereka, mana pendapat yang masyhur dan yang ditinggalkan (syadz). SEMUA ITU BELIAU MENITI JALANNYA PARA SALAF.(Tuhfatut-Thãlibîn:64-65)

Dari penuturan ini menunjukkan bahwa Al-Imam An-Nawawi adalah seorang Alim yang dikenal mengikuti Alquran dan Sunnah dan jalannya para Salaf, bukan pengikut hawa nafsu dan akal.

➡ faedah:

An-Nawawi adalah guru Ibnul-Atthar, dan Ibnul-Atthar adalah guru Adz-Dzahabi rahimahumullah jami’an. Dan Ibnul-Atthar ini adalah termasuk Imam Ahlussunnah yang beraqidah Salaf. Beliau memiliki kitab yang berjudul: Al-I’tiqãd Al-Khãlish Minas-Syakki wal-Intiqãd..

Adapun aqidah beliau dalam masalah Sifat-sifat Allah, maka sebagaimana dijelaskan Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah:

إن مذهبه في الصفات السمعية السكوت وإمرارها كما جاءت ،وربما تأول قليلاً في شرح مسلم

Madzhab beliau dalam masalah Shifat Sam’iyyah adalah Sukut (diam akan maknanya) dan membiayarkannya sebagaimana datangnya (ini adalah madzhab Mufawwidhah, pen), dan kadang beliau menta’wil dalam kitabnya Syarh Muslim.(Tarikh Al-Islam:15/324)

✅ As-Sakhawi megomentari ucapan Adz-Dzahabi:

كذا قال، والتأويل كثير في كلامه

Beginilah ucapannya (yaitu Adz-Dzahabi, (padahal) Ta’wil banyak pada ucapan-ucapannya.(Al-Manhal Al-Adzbu Ar-Rawiy:28)

➡Dan diklaim oleh Al-Yafi’i dan As-Subki bahwa An-Nawawi adalah Asy’ari.

✅ Berkata As-Sakhawi rahimahullah:

وصرح اليافعي والتاج السُّبكي _رحمهما الله_ أنه أشعري

Al-Yafi’i dan At-Tãj As-Subki -rahimahumallah- menegaskan bahwa beliau (An-Nawawi) adalah Asy’ari.(Al-Manhal Al-Adzbu Ar-Rawiy:28)

✅ Penulis katakan:

Klaim ini perlu ditinjau, karena terjatuhnya beliau kepada Aqidah Tafwidh dan Ta’wil tidak melazimkan dia seorang Asy’ari. Dan juga As-Subki adalah Asy’ari tulen, sehingga klaimnya tidaklah diterima begitu saja. dan akan dibuktikan apakah benar beliau beraqidah Asy’ariyyah?

Pertama:

Beberapa Aqidah dan Masalah Yang Mana Beliau Menyelisihi Asy’ariyyah dalam pokok-pokok aqidah mereka.

Diantaranya:

  • Masalah Iman,

Beliau rahimahullah dalam masalah Al-Iman menukil beberapa ucapan ulama, diantaranya ucapan Al-Imam Ibnu Batthal rahimahullah:

ﻣﺬﻫﺐ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻫﻞ اﻟﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻠﻒ اﻻﻣﺔ ﻭﺧﻠﻔﻬﺎ ﺃﻥ الإﻳﻤﺎﻥ ﻗﻮﻝ ﻭﻋﻤﻞ ﻳﺰيد وينقص.

Madzhab Ahlussunnah dari kalangan Salaf umat ini dan khalafnya bahwasanya iman itu adalah ucapan dan amalan, (bisa) bertambah dan berkurang…

Dan di akhir nukilan beliau memberikan komentar:

Jika telah tetap apa yang kami sebutkan dari madzhab Salaf dan para imam khalaf maka ketetapan tersebut adalah menunjukkan lagi sejalan (dengan keyakinan) bahwa iman itu (bisa) bertambah dan berkurang. Ini adalah madzhab Salaf, Ahli hadits, dan sejumlah kalangan dari ahli kalam.(Lihat Syarh Shahih Muslim:1/144-148)

Kemudian setelah itu beliau sebutkan madzhab mutakallimin (Asy’ariyyah) yang madzhab mereka adalah Tashdiq (pembenaran hati) dan perbedaan pendapat di kalangan mereka.

Dan saat membawakan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Amal apa yang paling utama? Beliau menjawab: “Iman kepada Allah.” Dia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” Dia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.”

Beliau mengomentari:

ﻓﻔﻴﻪ ﺗﺼﺮﻳﺢ ﺑﺄﻥ اﻟﻌﻤﻞ ﻳﻄﻠﻖ ﻋﻠﻰاﻻﻳﻤﺎﻥ ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻪ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ اﻻﻳﻤﺎﻥ اﻟﺬﻱ ﻳﺪﺧﻞ ﺑﻪ ﻓﻰ ﻣﻠﺔ اﻻﺳﻼﻡ ﻭﻫﻮ اﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﻭاﻟﻨﻄﻖ ﺑﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺗﻴﻦ ﻓﺎﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻋﻤﻞ اﻟﻘﻠﺐ ﻭاﻟﻨﻄﻖ ﻋﻤﻞ اﻟﻠﺴﺎﻥ

Dalam hadits ini terdapat penegasan bahwa amalan itu diitlakkan (disebut juga) Iman. Dan yang dimaksud iman (dalam hadits ini) yaitu iman yang karenanya seorang masuk kedalam Islam yaitu pembenaran dalam hati dan pengucapan dua kalimat syahadat. Tasdiq (pembenaran) adalah amalan hati, dan ucapan adalah amalan lisan.

ﻭﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻰ اﻻﻳﻤﺎﻥ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ اﻻﻋﻤﺎﻝ ﺑﺴﺎﺋﺮ اﻟﺠﻮاﺭﺡ ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺤﺞ ﻭاﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺟﻌﻞ ﻗﺴﻤﺎ ﻟﻠﺠﻬﺎﺩ ﻭاﻟﺤﺞ ﻭﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ

Dan tidak masuk dalam makna iman dalam hadits ini amalan-amalan yang dilakukan dengan semua anggota badan seperti puasa, shalat, haji, jihad, dan selainnya, karena beliau shallallahu alaihi wasallam telah memisahkan tersendiri untuk jihad dan haji.(Syarh Shahih Muslim:2/79)

Maksud beliau karena penyebutan Iman bersamaan dengan jihad dan haji yang merupakan amalan anggota badan maka yang dimaksud iman dalam hadits tersebut adalah pembenaran hati dan ucapan lisan.

Sekalipun demikian, beliau berkata:

..ﻭﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺗﺴﻤﻴﺔ الأﻋﻤﺎﻝ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ إﻳﻤﺎﻧﺎ

Dan tidak mengapa menamakan amalan-amalan tersebut (yaitu haji, jihad dan lainnya) sebagai iman.(Syarh Shahih Muslim:2/79)

Ini menyelisihi aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan bahwa Iman itu adalah tashdiq (pembenaran hati).

  • Masalah: Pokok Kewajiban Pertama Dalam Islam

✅ Beliau rahimahullah berkata:

ﻭﺃﻣﺎ ﺃﺻﻞ ﻭاﺟﺐ اﻹﺳﻼﻡ ﻭﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﻓﻴﻜﻔﻲ ﻓﻴﻪ اﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﺟﺎء ﺑﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭاﻋﺘﻘﺎﺩﻩ اﻋﺘﻘﺎﺩا ﺟﺎﺯﻣﺎ ﺳﻠﻴﻤﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻚ ﻭﻻ ﻳﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﻫﺬا ﺗﻌﻠﻢ ﺃﺩﻟﺔ اﻟﻤﺘﻜﻠﻤﻴﻦ ﻫﺬا ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ اﻟﺬﻱ ﺃﻃﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻠﻒ ﻭاﻟﻔﻘﻬﺎء ﻭاﻟﻤﺤﻘﻘﻮﻥ ﻣﻦ اﻟﻤﺘﻜﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ

Adapun pokok kewajiban (dalam) Islam dan yang berkaitan dengan aqidah maka cukup padanya Tasdhiq (pembenaran) terhadap semua yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan meyakininya dengan keyakinan yang pasti dan selamat dari keraguan. Dan tidak diharuskan atas orang yang telah ada pada dirinya hal ini untuk belajar dalil-dalil Mutakallimin (ahli kalam). Inilah yang benar yang telah sepakat para Salaf di atasnya, dan para Fuqaha, serta para muhaqqiq dari mutakallimin dari kalangan sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah) dan selain mereka.(Al-Majmu:1/24, Lihat juga Syarh Muslim:5/25)

Ini menyelisihi aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan bahwa kewajiban pertama adalah An-Nazhar (mempelajari dalil) atau iradah An-Nazhar (keinginan untuk mempelajari dalil).

  • Beliau Menetapkan Bahwa Af’ãlullah (Perbuatan Allah) Memiliki Hikmah

✅ Beliau menukil ucapan Al-Qadhi Iyãdh dan mentaqrirnya:

…ﻭاﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﺸﺎء ﻭﻳﺤﻜﻢ ﻣﺎ ﻳﺮﻳﺪ ﺣﻜﻤﺔ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Dan Allah Ta’ala melakukan apa saja yang Dia kehendaki dan membuat hukum sesuai apa yang Dia kehendaki sesuai dengan hikmah dari Allah Ta’ala.(Syarh Shahih Muslim:2/221)

Ini bertentangan dengan aqidah Asy’ariyyah yang menetapkan bahwa perbuatan Allah berupa mencipta dan selainnya dari perbuatan Allah hanyalah sekedar karena Kehendak Allah saja tanpa ada alasan dan hikmah.

  • Celaan Beliau Terhadap Ilmu Kalam,

Dalam masalah ilmu Kalam beliau sesuai dengan pendapat Imamnya Imamus-Sunnah Al-Imam Asy-Syafi’i.

✅ Beliau menukil ucapan Asy-Syafi’i tentang ilmu Kalam:

ﻭﻗﺪ ﺑﺎﻟﻎ ﺇﻣﺎﻣﻨﺎ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﻌﻠﻢ اﻟﻜﻼﻡ ﺃﺷﺪ ﻣﺒﺎﻟﻐﺔ ﻭﺃﻃﻨﺐ ﻓﻲ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻭﺗﻐﻠﻴﻆ اﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﻟﻤﺘﻌﺎﻃﻴﻪ ﻭﺗﻘﺒﻴﺢ ﻓﻌﻠﻪ ﻭﺗﻌﻈﻴﻢ اﻹﺛﻢ ﻓﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ: ﻷﻥ ﻳﻠﻘﻰ اﻟﻠﻪ اﻟﻌﺒﺪ ﺑﻜﻞ ﺫﻧﺐ ﻣﺎ ﺧﻼ اﻟﺸﺮﻙ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﻘﺎﻩ ﺑﺸﺊ ﻣﻦ اﻟﻜﻼﻡ: ﻭﺃﻟﻔﺎﻇﻪ ﺑﻬﺬا اﻟﻤﻌﻨﻰ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻣﺸﻬﻮﺭﺓ

Sungguh Imam kami Asy-Syafi’i rahimahullah sangat keras dalam mengharamkan menyibukkan (diri) dengan ilmu kalam, beliau berbicara panjang lebar tentang haramnya dan bersikap keras mengenai hukuman bagi pelakunya, menganggap jelek perbuatannya dan menganggap besar dosanya.

Beliau berkata: “sungguh seorang hamba bertemu Allah dengan semua dosa selain syirik adalah lebih baik dari pada ia bertemu Allah dengan sedikit dari ilmu kalam.”

Ucapan-ucapan beliau yang semakna dengan ini banyak lagi masyhur.(Al-Majmu’:1/2)

Ini menyelisihi madzhab Asy’ariyyah yang membangun Aqidah mereka di atas Ilmu Kalam.! Dan lebih mendahulukan dalil akal dari pada dalil naqli (Alquran dan Sunnah) jika ada pertentangan.

➡ Kedua:

Risalah Juz Fihi Dzikru I’tiqãd As-Salaf fil-Hurúf wal-Ashwãt, oleh Al-Imam An-Nawawi.

Sebuah risalah kecil yang dinisbahkan kepada Al-Imam An-Nawawi rahimahullah , ditahqiq oleh Muhaqqiq Abul-Fadhl Ahmad ibn Ali Ad-Dimyati dan dicetak oleh Maktabah Al-Ansar Mesir. Isi Risalah ini adalah penetapan aqidah Salaf tentang Tauhid Asma wa Shifat secara umum, dan secara khusus adalah tentang huruf dan shauth dalam masalah Kalamullah. Penisbatan Risalah ini kepada Al-Imam An-Nawawi juga ditaqrir oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam kitabnya Ad-Dala’il Al-Wafiyyah.

✅ Berikut ini penulis bawakan diantara ucapan An-Nawawi rahimahullah, pada halaman 63 beliau berkata:

ﻓﻨﺤﻦ ﻧﺼﻒ ﻭﻻ ﻧﺸﺒﻪ. ﻭﻧﺜﺒﺖ ﻭﻻ ﻧﺠﺴﻢ، ﻭﻧﻌﺮﻑ ﻭﻻ ﻧﻜﻴﻒ. ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﺑﻴﻦ ﺑﺎﻃﻠﻴﻦ، ﻭﻫﺪﻱ ﺑﻴﻦ ﺿﻼﻟﺘﻴﻦ، ﻭﺳﻨﺔ ﺑﻴﻦ ﺑﺪﻋﺘﻴﻦ ﻭﻗﺪ ﺗﻔﺮﺩ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺤﻘﺎﺋﻖ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻭﻣﻌﺎﻧﻴﻬﺎ ﻋﻦ اﻟﻌﺎﻟﻢ ﻓﻨﺤﻦ ﺑﻬﺎ ﻣﺆﻣﻨﻮﻥ، ﻭﺑﺤﻘﺎﺋﻘﻬﺎ ﻣﻮﻗﻨﻮﻥ، ﻭﺑﻤﻌﺮﻓﺔ ﻛﻴﻔﻴﺘﻬﺎ ﺟﺎﻫﻠﻮﻥ.

Kami menyifatkan (Allah) namun tidak menyerupakanNya (dengan makhluk), dan kami menetapkan (sifatNya) namun tidak mentajsim, dan kami mengetahui (sifatNya) namun tidak mentakyif. Madzhab kami berada (di tengah) antara dua kebatilan, dan petunjuk diantara dua kesesatan, dan sunnah diantara dua bid’ah. Dan Allah subhanahu wa ta’ala berkesendirian pada hakikat Sifat-sifatNya dan makna-maknanya dari alam (makhluk), dan kami beriman kepada sifat-sifatNya tersebut, meyakini hakikatnya, dan kami tidak mengetahui kaifiyatnya.

Beliau juga berkata pada halaman 67:

ﻭﻧﺤﻦ ﻣﻦ ﺩﻳﻨﻨﺎ: اﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﻜﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻭﺳﻨﺔ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭاﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﺃﺋﻤﺔ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭﻳﻦ ﻭﻧﺆﻣﻦ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﺼﻔﺎﺕ، ﻻ ﻧﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺷﻴﺌﺎ، ﻭﻻﻧﻨﻘص منه شيئا.

dan termasuk bagian dari agama kami adalah: berpegang teguh kepada Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, dan apa yang diriwayatkan dari para Sahabat, Tabi’in, dan para imam Ahli Hadits yang terkenal, dan kami beriman kepada semua hadits-hadits Shifat, kami tidak menambah atau mengurangi sedikitpun darinya.

Dalam kitab ini beliau sebutkan dan tetapkan kebanyakan shifat-shifat yang ditakwil oleh Asy’Ariyyah. Dan beliau jugamembantah Asy’Ariyyah.

✅ Penulis katakan:

Jika kitab ini benar, maka ini menunjuklan rujuknya Al-Imam An-Nawawi dari madzhab Asy’Ariyyah (dalam masalah shifat) menuju madzhab Salaf. Karena kitab ini selesai ditulis pada hari kamis tanggal 3 Rabiul-Awwal 676 H (sebagaimana tertulis di akhir kitab), sedangkan beliau wafat 24 Rajab 676 H (Sebagaimana dalam Tuhfatut-Thalibin). Sehingga beliau menulis kitab ini kurang lebih 5 bulan sebelum beliau wafat dan merupakan kitab terakhir beliau rahimahullah.

وبالله التوفيق

[in syaa Allah bersambung bagian 4,]

25 Dzul-Qa’dah 1439

Muhammad Abu Muhammad Pattawe,

Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

========(lanjut ke Halaman 2)