Hasrat Jiwa Yang Tercela 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••

1.Lalat

2.Apakah Haji Menghapus Dosa Besar?

3.Mushlih

4.Inikah Isi Suhuf Ibrahim dan Musa?

5.Allohumma Bika Ash-Bahnaa Wa Bika Amsaynaa …

6.Tawassul dengan Sifat Allah

7.Namimah Merusak Hubungan Sesama Mukmin

8.Manhajus Salikin: Mendapati Waktu Shalat dengan Mendapati Satu Rakaat

9.Kitab al-Funun Ibnu Aqil – Kitab Paling Tebal dalam Sejarah Islam

10 Kaidah Pensucian Jiwa-Zainal Abidin Syamsudin

Mengikat Hati Jiwa-Zainal Abidin Syamsudin

Metode Penyucian Jiwa 1-Yazid Jawas

Metode Penyucian Jiwa 2-Yazid Jawas

Pemabuk Jiwa-Ahmad Zainuddin

Nutrisi Penguat Jiwa-Muhammad Nur Ihsan

Muhasabah Jiwa-Firanda Andirja

Ilmu.dan Pengaruhnya Bagi Jiwa Oleh Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani


Ebook

Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Sehat Jiwa Cara Islam

Melepas Kesempitan Hati

Dakwah Kepada Islam atau Kelompok Islam

Untaian Mutiara Hadits

Melembutkan Hati

Tawadhu

Ujub

Memuji yang Terpuji

Menuju Hati Yang Bersih

Kebersihan Hati

Ridha Peredam Kemarahan

Tafsir Ibnul Qayyim

Ibnu Qayyim al Jauziyah – Kunci.Kebahagiaan

==

  • HASRAT JIWA  YANG TERCELA 

Ustadz Abu Unaisah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Jiwa, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin 

  • MUQODDIMAH

 

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِـيِّ الْـمُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّ بَعْدُ:

Terkadang seoran muslim teperdaya oleh ajakan jiwanya yang tercela, sehingga dengan sadar atau tidak sadar dia telah keluar dari rel syar’i. Bagaimanakah hakikat hasrat yang tercela tersebut? Sudahkah kita menyadari dan mawas diri terhadapnya? Temuilah jawabannya dalam pembahasan berikut ini.

  • URGENSI BERSIH JIWA1

Sesungguhnya mendidik jiwa dan membersihkannya adalah perkara penting yang banyak dilalaikan oleh manusia. Hingga orang-orang baik yang telah menempuh jalan hidayah, jalan dakwah, dan kebaikan pun banyak melalaikannya karena emosi dan hasrat jiwa terkadang mengalahkan ilmu yang telah dimiliki. Kalau sudah begitu maka perasaan, hasrat, dan keinginan yang jelek terkadang dituruti tanpa terasa. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi bagi yang telah menimba ilmu dan juga bagi orang awam semuanya. Agar perasaan riya’, ingin tenar, dan seabrek hasrat tercela lainnya tidak menjadi bumerang dan petaka bagi pelakunya.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan, “Amalan-amalan hati adalah pokok dari semua perkara, sedangkan amalan anggota badan adalah sebagai pengikut, pelengkap, dan penyempurnanya. Niat dalam hati ibarat roh dalam jasad, sedangkan amal perbuatan ibarat jasadnya. Apabila roh berpisah dari jasad maka akan membawa kepada kematian. Demikian pula amal perbuatan jika tidak diiringi dengan niat maka amalannya sia-sia belaka. Oleh karena itu, mengetahui hukum-hukum hati lebih utama daripada mengetahui hukum-hukum anggota badan, karena hati adalah asasnya, sedangkan anggota badan adalah cabang darinya.”

  • BENTENG DIRI DARI HASRAT YANG TERCELA

Untuk menepis hasrat jiwa yang jelek dan tercela harus dengan upaya dan usaha yang ekstra kuat. Yaitu dengan cara menanamkan niat ikhlas yang kokoh dalam diri. Ikhlas perkaranya tidak samar bagi kita, namun praktiknya begitu sulit bahkan tanpa sadar kita sendiri malah terjatuh dalam perkara yang merusak keikhlasan seperti riya’. Padahal ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat diterimanya amal, dan dakwahnya para rasul. Allah عزّوجلّ menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. al-Bayyinah [98]: 5)

✅ Allah سبحانه و تعالى juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. al-Mulk [67]: 2)

Imam Fudhail bin Iyadh رحمه الله tatkala menafsirkan ayat Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya beliau mengatakan, “Maksudnya ialah yang paling ikhlas dan paling benar.” Kemudian ditanyakan kepadanya apa yang dimaksud paling ikhlas dan paling benar, beliau menjawab, “Sesungguhnya amalan apabila ikhlas tetapi tidak benar maka tidak diterima, demikian pula apabila benar tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima pula, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Orang yang ikhlas adalah yang beramal semata-mata karena Allah سبحانه و تعالى, sedangkan yang benar adalah orang yang mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam beramal. Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya): Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.”2

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sebab orang mengerjakan riya’ itu intinya kembali pada tiga perkara:

  1. Pertama: Senang kepada pujian dan sanjungan dari manusia.
  2. Kedua: Lari dari celaan dan cemoohan.
  3. Ketiga: Tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia berupa harta, kedudukan, dan lain-lain.3

Penyakit ini sangat berbahaya bagi seorang manusia, bahkan bisa menjadi sebab su’ul khatimah jika keadaannya terus demikian, karena lahirnya berbeda dengan apa yang ada di dalam batinnya; kita berlindung kepada Allah سبحانه و تعالى darinya.

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan, “Sesungguhnya perkara ikhlas merupakan amalan hati yang paling penting dan termasuk dalam keimanan. Ikhlas sangat tinggi kedudukannya, bahkan amalan hati secara umum lebih penting dan lebih besar perkaranya daripada amalan anggota badan. Hendaknya seorang muslim tidak tertipu bahwasanya amalan ketaatan tanpa diiringi rasa ikhlas dan niat yang jujur kepada Allah tidak ada nilai dan pahalanya. Bahkan pelakunya berhak mendapat ancaman yang keras, sekalipun amalan ketaatan yang ia kerjakan amalan yang tinggi seperti sedekah dan jihad di jalan Allah dan selainnya.”4

  • ➡ 1. Gila pujian dan sanjungan

Maka engkau akan melihat orang yang seperti ini merasa senang jika ada orang yang memujinya. Jiwanya akan melayang dan merasa tinggi dengan pujian. Relung hatinya selalu terpenuhi dengan keinginan untuk mendapat pujian manusia. Dirinya selalu berusaha mencari muka di hadapan manusia walaupun harus berkorban dengan harta.

Husain bin Ziyad رحمه الله berkata, “Setan tidak akan membiarkan manusia hingga dia mampu menipunya dari segala penjuru. Setan akan membujuknya agar mau membeberkan amalan yang ia kerjakan.”5

Orang semacam ini, jika tersanjung dengan pujian dan merasa nyaman, ibaratnya berada di sebuah tepi lautan yang akan membinasakannya. Maka tidak kita ragukan lagi bahwa perbuatan tersebut termasuk bentuk riya’ yang dilarang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Apabila seorang hamba ikhlas semata-mata karena Allah سبحانه و تعالى ,Allah سبحانه و تعالى akan memilih, menghidupkan hati, dan menyelamatkannya, hingga dia berpaling dari hal-hal yang dapat merusak keikhlasan, berupa kejelekan dan perbuatan yang keji. Berbeda dengan hati yang tidak ikhlas karena Allah سبحانه و تعالى sesungguhnya ia senantiasa berkeinginan, berkehendak dan kecintaan yang mutlak. Senang dengan sesuatu yang menyenangkan hati, menekuni apa yang dicintai, bagaikan ranting yang tertiup angin maka ia akan condong ke arahnya. Kadang kala menariknya gambar-gambar yang diharamkan dan yang tidak diharamkan, ia bagaikan seorang budak dan tawanan, andai ada orang yang mengambilnya untuk dijadikan budak dan pembantu maka sungguh ia budak yang cacat, hina dan kurang. Kadang pula menariknya kepemimpinan, dan kedudukan, sebuah kalimat membuatnya ridha dan benci. Orang yang memuji memperbudaknya sekalipun dengan kebatilan, ia memusuhi orang yang mencelanya sekalipun ia berada dalam kebenaran, kadang kala dinar dan dirham memperbudaknya pula atau perkara-perkara lain yang menjadikan hati bagaikan seorang budak, hati senang kepada-nya, maka ia pun menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah, mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah سبحانه و تعالى 6

Faedah: Bagaimana jika mendapat pujian manusia bukan karena keinginannya?

Apabila seorang hamba mengerjakan amalan shalih ikhlas karena Allah سبحانه و الى dan ketika selesai ibadah dia pun masih ikhlas, kemudian Allah Azza Wa Jalla menampakkan kebaikannya berupa pujian dari manusia, hingga dia senang atas keutamaan dan karunia Allah Azza Wa Jalla, maka hal ini bukan termasuk riya’.7  Allah سبحانه و الى berfirman:

ُلْ بَِضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَِهِ َبِذَلَِ َلْيَْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus [10]: 58)

✅ Rasulullah صلى الله ليه وسلم bersabda:

َنْ أَبِيْ ذَرٍّ َالَ: ِيْلَ لِرسول اللهِ صلى الله ليه وسلم أَرَيَْ الرَّجُلَ يَْمَلُ الَْمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ َلَيْهِ، َالَ: ِلَْ َاجِلُ بُسْرَى الْمُؤْمِنِ

✅ Abu Dzar رضي الله نه berkata, “Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ada seseorang yang berbuat kebaikan kemudian manusia memujinya.’ Rasulullah صلى الله ليه وسلم menjawab, ‘Itu adalah berita gembira yang disegerakan bagi seorang yang beriman.'”8

  • ➡ 2. Banyak menceritakan kebaikan amalannya

Orang semacam ini selalu berhasrat untuk menceritakan amalan yang telah ia kerjakan dari kepayahan, berat dan susahnya. Sekilas, orang seperti ini cinta agama dan amalan kebajikan, padahal yang mengurat dalam hati adalah keinginan menonjolkan amalannya di depan orang lain, berhasrat untuk mendapatkan hati manusia, kedudukan yang mulia, dan pujian yang banyak.

Imam al-Qurthubi رحمه الله mengatakan, “Hakikat riya’ adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan asal niatnya adalah mencari kedudukan di dalam hati manusia.”9

  • ➡ 3. Menyandarkan pekerjaan kelompok pada dirinya

Engkau akan melihat bahwa orang yang seperti ini hasrat dan keinginannya adalah menonjolkan diri di hadapan ketua, mudir, atau lainnya bahwa dirinya adalah orang yang telah melakukan pekerjaan semuanya, ingin dilihat bahwa dia adalah orang yang punya ide cemerlang hingga terwujud pekerjaan. Hasrat seperti ini kadang-kadang membawanya sampai pada perbuatan mengaku-aku telah mengerjakan sesuatu padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sangat tepat gambaran al-Qur’an akan orang semacam ini dalam firman-Nya:

لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali ‘Imran [3]: 188)

  • ➡ 4. Menampakkan sikap tawadhu’

Semisal dengan menampakkan badan yang kurus dan pucat, agar orang menyangkanya se-bagai ahli ijtihad dan ibadah, orang yang selalu sedih memikirkan agama dan takut akhirat. Seperti ini pula orang yang pura-pura berbicara dengan suara yang serak, mata sayup, badan seolah-olah lemas agar menunjukkan kepada manusia bahwa dia orang yang banyak puasa dan ibadah!!

Imam Ibnul Jauzi رحمه الله mengatakan, “Alangkah sedikitnya orang yang beramal ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla Karena kebanyakan manusia cinta untuk menampakkan ibadahnya. Ketahuilah, meninggalkan pandangan manusia dan menghilangkan hasrat mendapat hati dari manusia dengan amalan, dan membersihkan niat serta menutup keadaan dialah orang yang terangkat kedudukannya.“10

  • ➡ 5. ‘Ujub (bangga diri)

Ujub termasuk kotoran yang dapat merusak amalan seorang hamba, menafikan keikhlasan dan membatalkannya, mendatangkan kerendahan di sisi Allah menjauhkan seseorang dari introspeksi (mawas diri), membutakan mata hati hingga lupa terhadap aib dan kekurangan sendiri.
Berkata Abdullah Ibnul Mubarak رحمه الله, “‘Ujub adalah engkau merasa pada irimu ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”11

✅ Berkata Imam Qarrafi رحمه الله, “‘Ujub adalah engkau memperlihatkan ibadah dan membanggakannya di hadapan orang lain.”12

(LaNjut Ke Halaman 2)