As Siyasah Asy Syar’iyah- Politik Syar’i (Bag.4)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Sikap yang Salah Terhadap Pemerintah

2.Kewajiban Rakyat

3.Cara Menasehati Pemerintah

4.Bersabar Terhadap Pemerintah

5. Menggugat Hukum Mayoritas

6.Pemberontakan Tidak Akan MembawaDampak Positif

7.Menyikapi Penguasa Yang Kejam

8.Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

9.Kapan Dibolehkan Memberontak?

10. Kewajiban Rakyat

11.Fatwa Ringkas Demonstrasi

12.Antara Syura dan Demokrasi

13.Siapakah Ahli Syura?

Safari Dakwah Ustadz Rizal Yuliar Putrananda Lc

Menempuh Jalan Yang Selamat

Jalan Itu Hanya Satu –

Jalan Golongan Yang Selamat

Hikmah Dalam Berdakwah –

Safari Dakwah Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Mewaspadai Tujuh Dosa Yang Membinasakan – 

Kunci Sukses Berhijrah dan penghalangnya –

Kajian Istiqomah di Atas Hidayah.Oleh Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc

Kajian Api Cinta Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin Lc

Kajian Berani Menjadi Milyader Oleh UstadzDr.Erwandi Tirmidzi MA

Kajian Rendahkan Diri Ini di Hadapanmu Yaa Rabb Oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sanusi

Sesi1 :Sesi2 :Sesi3:

Safari Dakwah Ustadz dr.Raehanul Bahraen

Psikologi Islam Yang Sempurna –

Fiqih Kontemporer Kesehatan Wanita –

Berbahagialah Orang Yang Sakit –

Reuni dengan Keluarga dan Sahabat di Surga –

Kajian10 Kunci Pintu Hidayah Oleh Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Hijrah Sejarah dan Ibroh Oleh Ustadz FirandaAndirja MA

Jangan Pilih – Pilih Oleh Ustadz Ade Agustian Lc

Kajian Indah nyaMenjadi Orang Sholeh Oleh Ustadz Dr.Khalid BasalamahMA


Kumpulan Ebook

Ibadah Bersama Pemerintah

Mengapa Rakyat Harus Taat

Seputar Pemahaman Khawarij, ISIS dan Al Qaeda

Menyikapi Kejahatan Penguasa

Demokrasi

Sinkretisme Agama

Tasyabbuh, Menyerupai Kebiasaan Orang Kafir

Hukum-Hukum Jihad

Al-Jarh Wa At-Ta’dil Upaya Menjaga KemurnianSyariat

Jalan Kebenaran Hanya Satu

Khilafah Di Atas Manhaj Nubuwwah

Dakwah Salafiyyah versus Dakwah Hizbiyyah

Ikhwanul Muslimin

Wahabi dan DakwahTauhid 

Kupas Tuntas Tauhid

Apa itu Iman?

Hak Asasi Manusia (HAM) Penjajahan Gaya Baru

Demokrasidan Syura

Ghuluw

Reformasi

==

  • ➡ ASSIYASAH ASY SYAR’IYAH (BAGIAN KE EMPAT)

Oleh : Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafidhahullah was saddada khutahu
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Politik Islam, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin . 

  • PRINSIP KEEMPAT

Perpolitikan Islam sangat menjunjung tinggi kemaslahatan ummat manusia dan kemanfaatan , terutama bagi kaum Muslimin. Dan menolak serta mencegah mafsadah (kerusakan) dan kemudharatan. Allah Ta’ala menegaskan dalam AlQur’an berikut ini :

يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا – يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم – ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما – الأحزاب ٧٠ – ٧١

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan berkatalah kalian dengan perkataan yang benar, yang demikian itu akan menjadi sebab kemaslahatan pada amalan kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, maka sungguh dia akan berhasil dengan keberhasilan yang besar”. S. Al Ahzab 70 – 71.

Maka perpolitikan Islam itu dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala serta ketaatan kepadaNya dan ketaatan kepada RasulNya, kemudian kejujuran dalam perkataan dan perbuatan.

✅ Allah Ta’ala juga menegaskan :

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر – البقرة ١٨٥

Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian “. S. Al Baqarah 185.

✅ Juga firmannya :

والله لا يحب الفساد – البقرة ٢٠٥

Dan Allah itu tidak suka kerusakan”. Al Baqarah 205.

✅ Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

لا ضرر ولا ضرار – رواه أحمد فى مسنده (٢٨٦٧) عن ابن عباس ورواه ابن ماجه (٢٣٤٠) عن عبادة بن الصامت – وحسنه السيوطي فى الجامع الصغير.

Tidak boleh seorang Muslim menjadi sebab kemudharatan dan tidak boleh menjatuhkan dirinya dalam kemudharatan”. Hr. Ahmad dalam Musnadnya (hadits ke 2867) dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (hadits ke 2340) dari Ubadah bin As Shamit radhiyallahu anhu dan hadits ini dihasankan oleh As Suyuthi dalam Al Jami’us Shaghir.

Maka perpolitikan Islam itu dibangun di atas prinsip untuk memudahkan masyarakat membangun hidupnya agar lebih baik lagi dan menghindarkan sebisa-bisanya dari kesulitan atau kemudharatan ataupun mafsadah(kerusakan).

Karena itu politik Islam selalu menempuh kebijakan yang didominasi oleh kemaslahatan dan menghindari kemudharatan dalam menghadapi gejolak pembangkangan terhadap Syari’ah Islamiyah. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :

الدين النصيحة. قلنا لمن؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم – رواه مسلم (الحديث رقم ٥٥) عن تميم الداري

Agama itu adalah nasehat”. Kamipun bertanya : Untuk siapa? Beliau menjawab : “Untuk Allah, dan untuk KitabNya, dan untuk RasulNya, dan untuk para pimpinan kaum Muslimin, dan agama itu juga sebagai nasehat untuk segenap kaum Muslimin”. Hr. Muslim (hadits ke 55) dari Tamim Ad Dari radhiyallahu anhu.

Al Imam Al Hafidl Al Qadli Iyadl rahimahullah menerangkan dalam Ikmalul Mu’allim Bifawa’idi Muslim jilid 1 hal. 306 : “Berkata Al Khatthabi : An Nashihah itu adalah kata yang mencakup semua makna yang diungkapkan dengannya tentang keinginan akan adanya kebaikan pada pihak yang dinasehati dan tidak memungkinkan untuk diungkapkan makna ini dalam satu kata saja yang mewakili makna tersebut. Adapun secara bahasa maknanya ialah Al Ikhlash (Kemurnian) dari omongan orang Arab : نصحت العسل إذا صفيته (madu itu murni bila ia benar-benar bersih dari unsur yang lainnya). Berkata Abu Bakar As Shufi : النصح (An Nus-hu) itu maknanya ialah sesuatu perbuatan yang dengannya menjadi baik dan lebih baik lagi akibatnya. Diambil dari kata النصاح وهو الخيط (An Nushah yang maknanya ialah jahitan). Dan berkata seperti ini pula Az Zajjaj.

Maka makna nasehat untuk Allah Ta’ala (dalam hadis ini) ini ialah benarnya keyakinan kepada keesaan Allah, serta meyakini sifat-sifatNya sebagai sesembahan dan meyakini kesucianNya dari segala sifat yang menunjukkan kekuranganNya dan bersemangat dalam mencintaiNya serta menjauhkan diri dari kebencian kepada Allah dan ikhlas dalam mempersembahkan ibadah kepadaNya.

✅ Nasehat untuk KitabNya (dalam hadis ini) maknanya ialah beriman kepada kebenaran Kitab (yakni Al Qur’an) dan beramal dengan apa yang ada padanya dan berakhlaq dengan tuntunan akhlaq yang ada padanya dan berusaha membacanya dengan sebagus-bagusnya dan khusyu’ dalam membacanya dan memuliakannya serta mengagungkannya dan memahami maknanya serta mengambil pelajaran daripadanya, dan berusaha memahami ilmu-ilmu yang ada padanya dan berda’wah mengajak manusia untuk beriman serta mengajari mereka untuk memahaminya dan membelanya dari penafsiran orang-orang ekstrim (yakni khawarij) dan dari penyimpangan makna yang dilakukan oleh pengikut kebatilan (yaitu kaum pengagum filsafat) dan dari upaya pengikatan kepadanya yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dari agama ini.

✅ Nasehat untuk RasulNya (sebagaimana disebutkan dalam hadis ini) maknanya ialah meyakini kebenaran kenabiannya (yakni Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam) dan mentaatinya dalam apa yang diperintah dan meninggalkan apa saja yang dilarang olehnya dan membelanya baik ketika beliau masih hidup maupun sesudah beliau meninggal dan memusuhi siapa saja yang memusuhinya dan memerangi siapa saja yang memeranginya dan mengorbankan jiwa dan raga dalam membelanya ketika beliau masih hidup dan menghidupkan Sunnahnya (yakni ajarannya) sepeninggal beliau dengan mencari sumber-sumber pemberitaan tentangnya yang akurat dan berusaha memahaminya serta membelanya dan menyebarkannya dan berda’wah mengajak manusia untuk mengimaninya dn mentaatinya dan berakhlaq dengan meneladani akhlaqnya yang mulia dan menjalani hidup dengan mengikuti jejak kehihidupannya yang Indah dan memuliakannya dan mengagungkannya dan mencintainya dan mencintai Ahli Baitnya dan para Shahabatnya dan menjauhi orang-orang yang membikin bid’ah (yakni menyimpang) dari ajarannya.

✅ Nasehat untuk para pimpinan kaum Muslimin (sebagaimana tersebut dalam hadis ini) pengertiannya ialah mentaati para pimpinan itu dalam perkara yang benar dan membantunya dalam kebenaran itu dan menjalankan perintahnya yang benar dan menasehati para pimpinan itu dengan cara nasehat yang benar dan memberi tahu mereka dalam apa yang mereka lupakan dan apa yang tidak sampai kepada mereka dalam urusannya Muslimin dan tidak memberontak kepadanya serta menjinakkan hati rakyat untuk mentaati penguasa itu.

✅ Nasehat untuk segenap kaum Muslimin (sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ini) ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan mereka dan membantu mereka dalam perkara agama mereka dan dunia mereka dengan perkataan dan perbuatan dan memperingatkan orang-orang yang lalai dari mereka dan mengajari ilmu agama ini bagi mereka yang tidak mengerti tentangnya dan mendampingi (yakni membantu) orang yang dalam keperluan dari mereka dan menutupi keaiban mereka dan menolak segala kemudharatan yang mengancam mereka dan mengupayakan kemanfatan bagi agama dan dunia mereka“. Demikian keterangan Al Hafidl Al Qadli Iyadl rahimahullah menerangkan makna hadis ini.

Maka lengkaplah prinsip-prinsip kemaslahatan untuk kaum Muslimin dan manusia secara keseluruhan yang ditekankan dalam perpolitikan Islam dan lengkap pula penolakan politik Islam terhadap segala mafsadah (kerusakan) dan kemudharatan dalam kehidupan didunia ini bagi bangsa dan negara. Dalam hal ini ketika kenyataannya kaum Muslimin yang lemah dalam segala bidangnya, yaitu aqidahnya, ibadahnya, dan akhlaqnya, namun harus berhadapan dengan pemerintah yang kafir dan selalu menggiring Ummat Islam kepada kekafiran. Maka dalam tuntunan poltik Islam, kita kaum Muslimin dituntunkan untuk mengedepankan kemaslahatan dan menghindarkan mafsadah yang lebih besar.

  • Nasehat Ulama

Keadaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang demikian ini, mengharuskan mereka kembali kepada para Ulama’ Mu’tabarin untuk mendapat bimbingan dari mereka. Berikut ini saya nukilkan nasehat Ulama’ untuk menjadi pencerahan bagi kita semua dalam menyikapi fenomena kekafiran yang nyata ini. Syeikhul Islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah (wafat th. 751 H) menerangkan dalam I’lamul Muwaqqi’in jilid 3 hal. 337 – 339 : “Ini adalah fasal yang Agung dan sangat bermanfaat. Orang karena tidak mengerti masalah ini , sering terjatuh dalam kesalah pahaman yang besar terhadap As Syari’ah, sehingga dia harus berhadapan dengan kondisi serba mengganjal dan berbagai kesulitan dan beban problem yang tidak sepantasnya orang mengalaminya seandainya dia mengerti bahwa As Syari’ah itu kejelasannya dan asasnya dibangun di atas hikmah dan berbagai kemaslahatan bagi hamba-hamba Allah dalam kehidupan di dunia maupun dalam kehidupan akherat. Maka Syari’ah ini berisi keadilan dalam segala sisinya, rahmat (yakni kasih-sayang) dalam segala ketentuannya, kemaslahatan bagi semua pihak, dan penuh hikmah dalam berbagai keadaan. Maka semua masaalah yang keluar dari keadilan dan masuk kepada kedzaliman, atau keluar dari rahmat dan masuk kepada kebengisan, atau keluar dari kemaslahatan dan masuk kepada mafsadah (kerusakan), atau keluar dari hikmah dan masuk kepada kesia-siaan, maka pastilah dalam masalah itu karena tidak dikerjakan padanya ketentuan Syari’ah Islamiyah, walaupun dianggap menjalankannya , namun dengan penafsiran yang keliru. Maka Syari’ah ini adalah keadilan Allah yang diberlakukan diantara hamba-hambaNya, dan ia adalah sebagai rahmatNya serta naunganNya bagi hamba-hambaNya di bumi Allah, dan sebagai hikmahNya yang tampak padanya dan juga ia menunjukkan sebagai bukti kebenaran RasulNya sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan sesempurna-sempurnanya penunjukan dan sesempurna-sempurnanya kebenaran, dan Syari’ah ini adalah cahaya Allah yang dengannya akan menjadi terang pandangan orang yang mempunyai kecerdasan untuk melihat suatu masalah, dan ia adalah petunjuk bagi orang yang menempuh jalan kebenaran, dan ia adalah obat penawar yang memberi kesembuhan sempurna bagi orang yang menderita segala penyakit, dan ia adalah jalan yang lurus bagi orang yang istiqamah meniti jalannya, maka ia pasti menempuh jalan yang benar. Ia adalah pelipur lara, dan yang menghidupkan hati, serta sebagai kelezatan rohani. Maka As Syari’ah itu adalah ruh kehidupan dan menjadi makanan dan obat serta cahaya dan kesembuhan dan perlindungan dari segala mara bahaya. Semua kebaikan di alam wujud ini , hanyalah yang diambil daripadanya dan dihasilkan daripadanya. Sebaliknya, semua kekurangan di alam wujud ini sebabnya ialah ketika mengabaikan Asy Syari’ah ini.

Seandainya simbul-simbul Syari’ah ini tidak tersisa dalam kehidupan, niscaya akan rusaklah dunia dan akan digulung habis alam raya ini. Maka ia adalah perlindungan keselamatan bagi kehidupan manusia dan tonggak untuk berlangsungnya kehidupan di alam raya ini. Dan dengan sebabnyalah Allah masih menahan langit yang tujuh dan bumi untuk tidak hancur. Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala suatu saat berkehendak membinasakan dunia dan menggulung alam raya ini, maka Dia akan mengangkat ke langit meninggalkan bumi semua sisa-sisa simbul Syari’ah ini. Dengan demikian, Syari’ah Islamiyah yang Allah utus dengannya RasulNya itu adalah tonggak keberadaan alam raya ini, dan poros edar segala keberhasilan dan kebahagian di dunia dan akherat”. Demikian Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menerangkan.

(Lanjut ke Halaman 2)