Ajaran Shufi Dalam Tinjauan Syariat 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Sekilas Tentang Ajaran Sufi yang Diadopsi dari Luar Islam

2. Eksistensi Hakikoat dan Syariat.dalam Istilah Sufi (Seri 01)

3.Eksistensi Hakikat dan Syariat dalam Istilah Sufi (Seri 03)

4. Tafsir Imam Syafi’i bukan Tafsir Sufi

5. Amalan dan Pemahaman Sufi yg Menyelisihi Pendapat Al-Imam AsySyafii dan Ulama Madzhab Syafii

6.Sufi Menyelisihi Akidah Al-Imam Assafi’i

7.Sufi adalah Pengikut Firqah Asy’ariyah

8.Perkataan Ulama Tentang Sufi

9.Siapakah Sufi? Paham Sufi dalam Timbangan Al-Qur’an dan Assunnah

10.Mahdzab Syafi’i Bukan Sufi

Kajian “Sufi dan Tarekat dalam Timbangan Al Qur’an dan As Sunnah” Oleh Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami M.Ag

Sesi1 :Sesi2

Ada Apa Dengan Sufi-Ust Afifuddin

Sesi1 :Sesi2:Sesi3

Kesesatan Sufi-Ust M. Nur Ihsan

Safari Dakwah Ustadz Rizal Yuliar
Putrananda Lc

Menempuh Jalan Yang Selamat –

Jalan Itu Hanya Satu –

Jalan Golongan Yang Selamat –

Hikmah Dalam Berdakwah –

Safari Dakwah Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Mewaspadai Tujuh Dosa Yang Membinasakan –

 Kunci Sukses Berhijrah dan penghalangnya –

Kajian Istiqomah di Atas Hidayah.Oleh Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc

Kajian Api Cinta Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin Lc

10 Kunci Pintu Hidayah Oleh Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Kajian Indah nyaMenjadi Orang Sholeh Oleh Ustadz Dr.Khalid BasalamahMA

Wahai Kaum Muslimin,Bersemangatlah Belajar Aqidah Oleh Ustadz Andy Oktavian Latief M.Sc

Sesi1 :Sesi2

Abdurrahman Thoyyib, Lc.-AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I

AQIDAH IMAM AL-HUMAIDI-Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.-


Kumpulan Ebook

Syafii vs Sufi

Memilih Teman

Ghuluw

Asy Ariyah vs Ahlu Sunnah

Wali Allah Versus Wali Setan

Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah

Awas Buku-BUku Sesat

Wahabi dan DakwahTauhid

Islam Sama dengan Syiah, Benarkah?

Mengikuti Ulama’

Menuntut Ilmu Syar’i

Prinsip-Prinsip Mengkaji Ilmu Syar’i

Menghidupkan Sunnah Nabi

Taklid Buta

Agama Ini Telah Sempurna

Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Dakwah Salafiyyah versus Dakwah Hizbiyyah

Sahabat Nabi Dicela

=

Ajaran Shufi Dalam Tinjauan Syariat (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Ajaran Shufi Dalam Tinjauan Syariat (Bag. 1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini pembahasan tentang ajaran tashawwuf dalam timbangan syariat, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.

  • ➡ 1.Awal mula munculnya Shufi

Belum diketahui kapan pertama kali munculnya shufi dan orang yang pertama kali melakukannya, hanyasaja Imam Syafi’i ketika memasuki Mesir (th. 199 H) berkata, “Kami meninggalkan Baghdad, namun orang-orang zindik telah mengadakan sesuatu yang yang mereka sebut dengan simaa’.”

Sima’ adalah nyanyian yang mereka lantunkan. Sedangkan orang-orang zindik yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang shufi.

Pernyataan Imam Syafi’i di atas menunjukkan, bahwa kegiatan sima’ tersebut adalah kegiatan yang baru pada masa itu, namun tentang orang-orang zindik itu sudah diketahui sebelumnya oleh Beliau sebagaimana Beliau pernah berkata tentang mereka,

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ أَوَّلَ النَّهَارِ لاَ يَأْتِي الظُّهْرَ حَتَّى يَكُوْنَ أَحْمَقَ

Kalau seseorang menjadi shufi di pagi hari, maka tidaklah ia tiba di waktu Zhuhur melainkan akan menjadi orang yang dungu.”

Ini semua menunjukkan, bahwa sebelum berakhir abad kedua hijriah ternyata sudah muncul sekelompok kaum yang para ulama kaum muslimin menyebutnya zindik atau muttashawwif (orang shufi).

Bahkan Imam Ahmad -yang sezaman dengan Imam Syafi’i sekaligus sebagai muridnya- memiliki beberapa perkataan yang mengkritik mereka yang menasabkan diri kepada tashawwuf. Beliau pernah berkata kepada seorang yang bertanya tentang ucapan Al Harits Al Muhasibiy, “Menurutku, hendaknya engkau tidak duduk bersama mereka.”

Imam Ahmad berpendapat demikian, setelah mengetahui keadaan majlis-majlis mereka.

Menurut Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, bahwa tampaknya Imam Ahmad mengatakan demikian di awal-awal abad ketiga, dan belum berakhir abad ketiga ternyata aliran shufi sudah semakin tampak dan tersebar di tengah-tengah umat.

Menurut Beliau juga, orang yang memperhatikan perkembangan tashawwuf dari awal munculnya hingga menyebarnya, akan menemukan, bahwa para pembawa pemikiran shufi ini baik pada abad ke-3 maupun abad ke-4 hijriah berasal dari Persia.

Dan aliran ini semakin berkembang pesat di akhir abad ke-3 H, dimana Al Husain bin Manshur Al Hallaj berusaha menampakkan akidahnya ke tengah-tengah umat, dimana di antara aqidahnya adalah hulul, yang menyatakan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya –Mahasuci Allah dari keyakinannya itu-.

Oleh karena itu, para ulama di masanya memfatwakan kafirnya Al Hallaj dan memerintahkan untuk dihukum mati, dan pada tahun 309 H, ia pun dihukum mati.

Meskipun demikian, ajaran tashawwuf ini terus berkembang di Persia secara khusus, kemudian di Irak, lalu perkembangannnya di Persia diperkuat lagi oleh seseorang yang bernama Abu Sa’id Al Maihaniy, dimana dia membentuk perkumpulan khusus yang selanjutkan menjadi markaz Shufi dan ia diangkat sebagai pemimpinnya.

Dari sini kemudian muncul pada pertengahan abad ke-4 H berbagai tarekat sufi yang tersebar secara pesat di Irak, Mesir, dan Maghribi.

Pada abad ke-6 H muncul beberapa kelompok shufi, dimana masing-masing mereka mengaku sebagai keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka juga berusaha membuat tarekat (cara ibadah) khusus dan menarik para pengikut. Maka muncullah Ar Rifa’i di Irak, Al Badawi di Mesir dimana ia tidak diketahui ibu dan bapak serta keluarganya, muncul juga Asy Syadziliy di Mesir, lalu bermunculan cabang-cabang tarekat shufi dari beberapa tarekat sebelumnya.

Pada abad ke-6, ke-7, dan ke-8 H, aliran shufi ini semakin banyak, dan mereka membuat kelompok-kelompok khusus, demikian pula membangun kubah-kubah di atas kubur. Hal ini diperkuat dengan adanya Daulah Bani Fathimiyyah (kaum Bathiniyyah-Syiah) di Mesir yang kekuasaannya meluas ke negeri-negeri Islam. Daulah ini yang membangun tempat-tempat ziarah kubur dan kubur-kubur buatan, seperti kuburan Al Husain bin Ali di Mesir dan kuburan Zainab. Mereka juga mengadakan beberapa maulid, mengadakan kebid’ahan dan khurafat yang banyak dan sampai menuhankan Al ‘Ubaidiy. Ajakan kaum Bani Fathimiyyah bermula di Maghribi untuk menjadi pengganti Daulah Abbasiyyah yang sunni.

Daulah ini juga berusaha mengangkat tentara dari kaum Shufi dan berusaha memerangi dunia Islam dengan tentara Salib ke negeri Islam.

Perkembangan shufi terus berlanjut hingga pada abad ke-10, ke-11, dan ke-12 H muncul 10 tarekat shufi, hingga akhirnya akidah serta syariat shufi pun menyebar ke tengah-tengah umat, dan hal itu terus berangsung hingga muncul kebangkitan Islam yang baru.

Kebangkitan Islam ini sebelumnya telah diawali pada akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8 melalui tangan Al Mujaddid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyerang dengan tulisannya berbagai kelompok yang menyimpang serta menerangkan secara garis besar akidah kaum Shufi, lalu diikuti oleh muridnya Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, Ibnu Abdil Hadiy, dll.

Kekuatan shufi tetap kuat dan menyebar ke tengah umat, akan tetapi Allah Ta’ala telah menyiapkan untuk umat ini pada abad ke-12 H Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang belajar dari kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lalu ia melawan berbagai penyimpangan tersebut, dan melalui tangannya muncullah kebangkitan Islam yang baru. Dan orang-orang yang ikhlas di berbagai penjuru dunia Islam menyambut dakwahnya. Meskipun demikian, ajaran Shufi masih mengakar di dunia Islam, dan simbol-simbolnya masih ada, yaitu kuburan, tempat-tempat ziarah, syaikh-syaikhnya, dan keyakinan-keyakinannya yang rusak.

(Lihat lebih jelasnya kitab Al Fikrush Shufi fii Dhau’il Kitab was Sunnah karya Abdurrahman Abdul Khaliq hal. 33 dan Ash Shufiyyah fii Mizanil Kitab was Sunnah karya M. bin Jamil Zainu hal. 4-7)

  • ➡ 2.Istilah shufi

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa nisbat Shufiyyah adalah kepada shuuf (wol) karena ia adalah pakaian orang-orang zuhud pada umumnya. Ada pula yang mengatakan, bahwa shufiyyah adalah nisbat kepada Shufah bin Mur bin Ad bin Thabikhah sebuah kabilah Arab yang tinggal di sekitar Baitullah. Adapun orang yang mengatakan nisbat kepada Shuffah, maka ada yang menyatakan, bahwa haknya adalah disebut, “Shuffiyyah,” demikian pula orang yang mengatakan nisbat kepada Shafa, haknya adalah disebut “Shafaa’iyyah,” kalau dipendekkan disebut “Shafawiyyah.” Jika dinisbatkan kepada shafwah, maka dikatakan “Shafwiyyah.” Jika ada yang mengatakan nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah, maka haknya adalah disebut Shaffiyyah. (Lihat Majmu’ Fatawa 10/369)

Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, istilah shufi tidaklah dikenal di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, lalu datang segolongan orang yang memakai baju shuf (wol), kemudian mereka disebut Shufiyyah (Shufi). Ada yang mengatakan, bahwa istilah shufi diambil dari kata Shofiya yang artinya bijaksana, hal ini ketika buku-buku filsafat Yunani diterjemahkan, dan bukan dari kata shafaa’ seperti yang dikatakan sebagian orang, karena nisbat kepada shafa’ menjadi Shafa’i. (Lihat kitab Ash Shufiyyah karya M. bin Jamil Zainu hal. 8)

Menurut penulis, istilah shufi tidaklah tepat digunakan untuk pembahasan penyucian jiwa, karena dua hal:

Pertama, dari sisi arti shufi itu sendiri, yang artinya bukan penyucian jiwa, bahkan telah terjadi perbedaan pendapat tentang arti shufi sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Kedua, telah ada kata yang lebih tepat untuk penyucian jiwa, yaitu tazkiyatunnufus. Dan kata-kata ini disebutkan dalam Al Qur’an, seperti dalam firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah: 2)

Wallahu a’lam.

  • ➡ 3.Beberapa contoh ajaran Shufi[i] Dalam Akidah

✅ 1.     Sebagian kaum shufi berdoa kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala, baik kepada para nabi, para wali, orang hidup, maupun orang mati. Mereka pernah berkata,

يَارَسُوْلَ اللهِ غَوْثًا وَمَدَد – وَ يَارَسُوْلَ اللهِ عَلَيْكَ الْمُعْتَمَدُ

Wahai Rasulullah, berilah bantuan dan pertolongan.

Wahai Rasulullah, kepadamulah tempat bersandar.

Padahal kita mengetahui, bahwa berdoa kepada selain Alah Subhaanahu wa Ta’ala hukumnya haram, syirk, dan sebagai dosa paling besar.

✅ 2.     Sebagian kaum shufi berkeyakinan, bahwa di samping Allah Ta’ala ada pula yang ikut serta mengatur urusan di alam semesta, yaitu beberapa wali yang mereka sebut sebagai wali-wali quthub, wali-wali badal, dsb.

Jelas sekali, bahwa ini adalah syirk dalam rububiyyah Allah dan sebagai dosa paling besar.

✅ 3.     Sebagian kaum shufi berkeyakinan hulul, yakni manusia dapat menyatu (menitis) dengan tuhan, seperti yang diyakini Al Hallaj dan Abu Yazid Al Busthami.

Kita kaum muslim sepakat, bahwa tidak mungkin makhluk menyatu dengan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Allah Azza wa Jalla adalah Pencipta, sedangkan kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Imam Abdullah bin Al Mubarak berkata,

نَعْرِفُ رَبَّنَا سُبْحَانَهُ بِأَنَّهُ فَوْقَ سَمَاوَاتِهِ عَلَى عَرْشِهِ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ

“Kita mengenal Tuhan kita Subhaanahu wa Ta’ala, bahwa Dia di atas langit (bersemayam) di atas Arsyi-Nya dan terpisah dari makhluk-Nya.”

✅ 4.     Sebagian kaum shufi berkeyakinan wihdatul wujud, yakni semua yang terwujud adalah Allah –Mahasuci Allah dari keyakinan ini-, sebagaimana yang diyakini Ibnu Arabiy. Ibnu Arabi pernah berkata,

Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba.

Wahai kiranya aku tahu, siapa orang yang mendapat beban?

Jika engkau katakan, “Hamba,” maka itu adalah hak

Atau engkau katakan, “Tuhan,” lalu bagaimana ia mendapatkan beban? 

(Dari kitab Al Futuhat Al Makkiyyah karya Ibnu Arabi)

Ibnu Arabiy juga pernah berkata,

Dia memujiku, aku memuji-Nya

Dia menyembahku, aku menyembah-Nya

Mahasuci Allah dari apa yang dia (Ibnu Arabi) sifatkan!

[i] Contoh-contoh ini banyak kami ambil dari kitab Ash Shufiyyah fii Mizaanil Kitab was Sunnah karya Syaikh M. bin Jamil Zainu seorang ulama yang sebelumnya pernah tinggal di lingkungan kaum shufi selama beberapa tahun dan pernah menghadiri beberapa majlis tarekat. 

➡ Ajaran Shufi Dalam Tinjauan Syariat (2)

  • Beberapa contoh ajaran Shufi Dalam Akidah

✅ 5.     Sebagian kaum shufi ada yang memukul dirinya dengan senjata tajam sambil berkata, “Yaa jaddah,” lalu datang setan kepadanya membantunya melakukan tindakan yang ia inginkan.

Hal Ini termasuk istighatsah (permohonan) kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan merupakan syirk. Namun anehnya, sebagian mereka menganggapnya sebagai karamah, padahal pelakunya terkadang seorang yang meninggalkan kewajiban agama,  seperti shalat, dsb.

✅ 6.     Sebagian kaum shufi mengaku dapat mengetahui yang ghaib melalui kasyaf (penyingkapan tabir). Padahal Al Qur’an dengan tegas menyatakan,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An Naml: 65)

✅ 7.     Sebagian kaum shufi berkeyakinan, bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nur-Nya, dan dari nur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah menciptakan segala sesuatu.

Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِن طِينٍ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Shaad: 71)

Dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama adalah manusia, lihat QS. Al Kahfi: 110.

Adapun hadits yang berbunyi, “Wahai Jabir! Yang pertama kali Allah ciptakan adalah nur Nabimu,” adalah hadits maudhu (palsu).

✅ 8.     Sebagian kaum shufi berkeyakinan, bahwa Allah menciptakan dunia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Nya (lihat QS. Adz Dzaariyat: 56).

✅ 9.     Sebagian kaum shufi memiliki keyakinan, bahwa Allah dapat dilihat di dunia (lihat kitab Ihyaa’ Ulumiddin 4/365 pada bab Hikayatul Muhibbin wa Mukaasyaafatihim).

Padahal dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

لاَّ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’aam: 103)

Ayat ini menunjukkan, bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia, adapun di akhirat, maka Allah dapat dilihat (lihat QS. Al Qiyamah: 23).

✅ 10. Sebagian kaum shufi mengaku, bahwa mereka pernah melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan jaga (tidak tidur).

Padahal dalam Al Qur’an disebutkan,

وَمِنْ وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu’minun: 100)

Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang yang masih hidup di dunia dalam keadaan jaga.

✅ 11. Sebagian kaum shufi memiliki keyakinan, bahwa para wali lebih tinggi tingkatannya daripada para nabi. Al Busthami berkata, “Kami telah menyelami lautan, sedangkan para nabi berhenti di tepinya.”

Hal ini jelas bertentangan dengan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Imam Ath Thahawi berkata,

وَلَا نُفَضِّلُ أَحَدًا مِنَ الْأَوْلِيَاءِ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيْعِ الْأَوْلِيَاءِ

Kita tidak mengutamakan seorang pun dari para wali di atas seorang pun dari kalangan para nabi ‘alaihimus shalatu wassalam, bahkan kita mengatakan, “Seorang nabi lebih utama dari seluruh para wali.”

✅ 12. Sebagian kaum shufi mengaku mendapatkan ilmu ladunni, yakni mereka terima langsung ilmu dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala tanpa perantara. Mereka mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku hatiku dari Tuhanku.” Hal ini sebagaimana yang dikatakan Abu Yazid Al Busthami dalam Al Futuhat Al Makkiyyah juz 1 hal. 365.

Oleh karena itu, di antara rujukan mereka dalam beragama adalah kasyf, mimpi, dan bisikan hati.Padahal rujukan hukum Islam adalah Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’, dan Qiyas shahih.

✅ 13. Sebagian kaum shufi memiliki keyakinan, bahwa mereka dapat melakukan mi’raj (naik) ke langit. Hal ini seperti yang diyakini Abu Yazid Al Busthami, Abdul Karim Al Jiiliy, dll.

Padahal manusia yang Allah isra-mi’rajkan ke langit adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat QS. Al Israa’: 1), adapun manusia setelah Beliau, maka  tidak ada yang dimi’rajkan ke langit.

✅ 14. Sebagian kaum shufi memiliki keyakinan, bahwa semua agama adalah sama. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibnu Arabi,

Dahulu aku mengingkari kawanku karena agamanya tidak di atas agamaku

Lalu hatiku berubah untuk menerima semua keadaan

Padang rumput untuk kijang, biara untuk rahib

Rumah untuk berhala, ka’bah untuk orang yang thawaf

Ada lauh kitab Taurat dan ada mushaf Al Qur’an

Padahal Al Qur’an dengan tegas menyebutkan,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

✅ 15. Sebagian kaum shufi berkeyakinan, bahwa Khidhir yang pernah didatangi Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُون

َ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka Jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyaa’: 34)

(Lanjut ke Halaman 2)