Kiat Istiqamah di Jalan Allah 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Sebab Sebab Keluar Istiqamah

2. Seperti Mengenggam Bara Api

3.Bagaimana Hukum Memiliki Senjata

4.Tafsir Ayat Sabar Dalam Surat Al-Ma’arij

5. Apa Hukum walimah Haji

6. Amalan Ayat Seribu Dinar PembukaPintu Rezeki

7. Kiat Mengapai Istiqamah

8.Lima Kiat untuk Istiqamah dalam.Beramal (Bag. 1)

9.Lima Kiat untuk Istiqamah dalam.Beramal (Bag. 2)

Aqidah Tradisional Dalam Sorotan-Ustadz Zaenal Abidin Lc

Wali Allah VS Wali Setan-Ustadz Zaenal Abidin Lc

Jagalah dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka-Ustadz Zaenal Abidin Lc

GemerlapRumah Tangga Oleh Ustadz Subhan Bawazier

Jangan Biarkan Air Mata Ibu Berlinang Oleh Ustadz Zainal Abidin Lc

Bahaya Fitnah Syahwat dan Fitnah Syubhat Oleh Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Dampak Media sosial Terhadap Kehidupan Seorang Muslim” Oleh Ustadz Zainal Abidin Lc

Istiqomah,Konsekuen dan Konsisten MenetapiJalan Ketaatan” Oleh Ustadz.Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Jalan Menuju Istiqomah-Ust Yazid Jawas

Diantara Sebab Istiqomah Di Atas Agama Allah-al-Ustadz Arif Madiun

Istiqomah di Atas Hidayah Oleh Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc

Istiqomah Di Zaman Fitnah-Syafiq Basalamah

Istiqomah dan Cara Mencapainya-Ust Abdullah Taslim

Istiqomahlah-Ust Abu Haidar

Kiat Istiqomah Diatas Aqidah yang Benar-Ust Ahmad Zainuddin

Kiat Kiat Istiqomah-Ust Abdullah Taslim

Syarah Hadits Istiqomah-Syaikh Prof DR AbdurRozzaq Al Badr

Istiqomah dalam Ketaatan” Oleh Ustadz Dr.Ali Musri.Semjan Putra M.A


Ebook

Sepuluh Kaidah Penting Tentang istiqomah

10 Prinsip Menggapai Istiqomah-Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

==

Kiat Istiqamah di Jalan Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

  • Pengantar

Istiqamah di atas agama Allah (Islam) merupakan kebutuhan setiap muslim sejati yang ingin menempuh jalan yang lurus, terlebih di zaman sekarang ini; zaman dimana fitnah (godaan) dan cobaan mengelilingi kita sehingga membuat agama ini menjadi asing, dan orang yang berpegang dengannya seperti orang yang memegang bara api. Bahkan tidak diragukan lagi, bahwa kebutuhan seorang muslim terhadap sarana yang membantunya istiqamah jauh lebih besar lagi daripada kebutuhan saudaranya di masa lalu, dan usaha untuk memperolehnya pun jauh lebih berat karena sudah rusaknya zaman, sedikitnya ikhwah, dan kurangnya bantuan.

Munculnya fenomena kemurtadan dan berbaliknya kondisi seseorang ke belakang setelah sebelumnya baik termasuk hal yang seharusnya membuat seseorang khawatir terhadap keadaan itu dan berusaha mencari sarana yang membantunya untuk istiqamah di atas agama.

✅ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

Segeralah beramal saleh sebelum tiba fitnah seperti potongan malam yang gelap, dimana ada seorang yang pagi harinya sebagai mukmin, namun sorenya menjadi kafir, atau sorenya sebagai mukmin, namun paginya menjadi kafir; ia jual agamanya karena ingin meraih harta-benda dunia.” (Hr. Muslim)

Di samping itu, keadaan hati kita yang mudah berbalik sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا

Sungguh, hati anak cucu Adam (manusia) lebih mudah berbalik daripada periuk yang berisi air mendidih.” (Hr. Ahmad, Hakim, dan dihasankan oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah, serta dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1772)

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ ، إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيْشَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيْحُ ظَهْراً لِبَطْنٍ

Sesungguhnya disebut hati karena keadaannya yang mudah berbalik. Perumpamaan hati adalah seperti bulu (ayam) yang menempel di pohon; yang diombang-ambing oleh angin dari atas ke bawah.” (Hr. Ahmad, Thabrani, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 2365)

  • Kiat Istiqamah di atas Islam

Termasuk rahmat Allah kepada kita adalah Dia menjelaskan dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Nabi-Nya beberapa sarana dan kiat untuk tetap istiqamah di atas agama-Nya. Beberapa sarana dan kiat itu adalah:

  • ➡ 1. Mendatangi kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam

Al Qur’an merupakan sarana istiqamah yang pertama. Ia adalah tali Allah yang kokoh dan cahaya yang terang. Siapa saja yang berpegang dengannya, maka Allah akan menyelamatkannya. Siapa saja yang mengikutinya pasti akan bahagia, dan siapa saja yang menyeru kepadanya, pasti akan ditunjuki ke jalan yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. Ali Imran: 101)

Bahkan dengan Al Qur’an, Allah meneguhkan hati Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, Dia berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir, “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Qs. Al Furqan: 32)

Mengapa Al Qur’an sebagai sarana pertama untuk tetap istiqamah?

Hal itu, karena ia dapat menanamkan keimanan di hati serta menyucikan jiwa dengan hubungan yang diadakan kepada Allah Azza wa Jalla. Demikian pula dapat mengokohkan hati saat datang badai fitnah kepadanya, serta menenteramkan hati dengan mengingat Allah. Al Qur’an juga memberikan gambaran dan pandangan yang benar terhadap realita hidup di sekitar manusia, serta sebagai tolok ukur dan penimbang masalah agar urusan manusia tidak guncang. Demikian pula Al Qur’an sebagai penolak fitnah syubhat yang dilemparkan musuh-musuh Islam seperti kaum kafir dan munafik yang mereka terima dari wali mereka, yaitu setan-setan yang terkutuk.

Coba perhatikan firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.” (Qs. Adh Dhuha: 3)

Saat orang-orang musyrik berkata tentang Beliau, “Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat itu untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu.

✅ Demikian pula perhatikan firman Allah Ta’ala,

أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا

Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (Qs. At Taubah: 49)

Ketika ada beberapa orang munafik yang tidak mau pergi berperang ke Tabuk (daerah kekuasaan Rumawi) dengan berdalih khawatir akan tergoda oleh wanita-wanita Romawi, maka turunlah ayat ini untuk membuka rahasia mereka dan menjelaskan bahwa keengganan mereka pergi berperang itu adalah karena Kelemahan iman mereka dan sebenarnya itu juga merupakan fitnah.

✅ Dan perhatikan pula firman Allah Ta’ala,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ (81) فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (82)

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih panas lagi,” jika mereka mengetahui.–Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (Qs. At Taubah: 81-82)

Bagaimana pengaruh ayat-ayat tersebut dalam jiwa? Sungguh sangat dahsyat!

Lebih ajaib lagi, saat Allah menjanjikan kaum mukmin, bahwa mereka akan memperoleh ghanimah (harta rampasan perang) Khaibar yang banyak sepulang mereka dari Hudaibiyah, Dia juga menjanjikan akan memberikan harta itu segera kepada mereka, dan mereka akan pergi mendatanginya, dan bahwa kaum munafik nanti akan meminta diizinkan menemani mereka, dan bahwa kaum mukmin akan mengatakan, “Kalian tidak perlu ikut kami,”  lalu mereka mengatakan kepada kaum mukmin, “Bahkan kalian iri kepada kami,” lalu Allah jawab dengan firman-Nya, “Bahkan mereka tidak memahami pembicaraan kecuali sedikit.” (Lihat Qs. Al Fat-h: 15) Ternyata semua itu terjadi di hadapan kaum mukmin satu persatu sesuai yang Allah sebutkan.

Dari sini kita mengetahui perbedaan orang yang mengikat hidup mereka dengan Al Qur’an dengan membacanya, menghafalnya, mengkaji tafsirnya, dan mentadabburi isinya, dimana dari sinilah mereka berangkat dan kepadanya mereka kembali dengan orang-orang yang menjadikan ucapan manusia sebagai prinsip mereka dan pusat perhatiannya.

  • ➡ 2.  Berpegang dengan syariat Allah dan senantiasa beramal saleh

✅ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (Qs. An Nisa’: 66)

Ayat ini menunjukkan, bahwa jika kita mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka yang demikian dapat menguatkan iman dan mengokohkan kita di atas agama. Ayat ini juga menunjukkan, bahwa istiqamah dapat diperoleh dengan mengamalkan nasihat yang disampaikan, tidak cukup hanya banyak mendengar nasihat, namun tidak diamalkan.

  • ➡ 3. Mempelajari kisah para nabi agar dapat meneladani dan mengikuti jejak mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud: 120)

Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (64) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (65) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ (66) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (67) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (68)

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”--Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”–Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar.–Di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain–Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.–Lalu Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.–Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda yang besar (mukjizat), akan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.–Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Qs. Asy Syu’ara: 61-68)

Demikian juga coba perhatikan firman Allah Ta’ala mengisahkan tentang para pesihir Fir’aun yang beriman,

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى (71) قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (72)

Fir’aun berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, dan aku akan menyalibmu pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.“–Mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada Kami dan dari Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (Qs. Thaahaa: 71-72)

Bukankah semua kisah itu meneguhkan hati dan pendirian seorang mukmin di hadapan badai fitnah dan cobaan?!

Belum lagi kisah orang yang beriman di surat Yasin, orang mukmin dari keluarga fir’aun di surat Al Mu’min, dan kisah kaum mukmin yang dimasukkan ke dalam parit yang berisi api yang menyala di surat Al Buruj.

  • ➡ 4. Berdoa meminta kepada Allah Azza wa Jalla keteguhan dari-Nya

Hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah, dimana Dia mudah membalikkannya jika Dia kehendaki. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»

Sesungguhnya hati anak Adam semuanya di antara dua jari dari jari-jari Allah Ar Rahman seperti satu hati, Dia mengarahkannya kepada yang Dia kehendaki.”

✅ Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa,

«اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ»

Allahumma Mushorrifal quluub Shorrif qulubana ‘alaa Tho’atika”

“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.” (Hr. Ahmad dan Muslim)

Ummu Salamah pernah berkata, “Doa yang paling sering dipanjatkan Beliau adalah, “Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinik” (artinya: Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu), maka aku berkata, “Wahai Rasullah, alangkah seringnya engkau berdoa “Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinik”? Beliau menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada satu pun manusia kecuali hatinya di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Barang siapa yang Dia kehendaki, maka Dia meluruskannya dan barang siapa yang Dia kehendaki, maka Dia menyimpangkannya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4801)

Orang-orang yang diteguhkan hatinya oleh Allah dan dijaga dari fitnah senantiasa bersandar dan memohon kepada Allah agar terjaga dari fitnah dan kesesatan, dan mereka tidak bersandar kepada diri mereka. Oleh karenanya, doa mereka sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 8 adalah,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).”

  • ➡ 5. Berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Qs. Al Anfaal: 45)

Dalam ayat di atas, Allah menjadikan dzikrullah termasuk faktor terbesar yang membantu seseorang tetap sabar di atas jihad.

Coba perhatikan kisah yusuf alaihis salam saat ia digoda oleh wanita yang berkedudukan dan cantik, lalu Yusuf berdzikr mengucapkan ‘Ma’adzallah’ (artinya: Aku berlindung kepada Allah) lihat Qs. Yusuf ayat 23, maka gelombang syhawat pun reda di hadapan benteng dzikir yang kokoh.

Demikianlah faidah dari berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.

  • 6. Berusaha menempuh jalan yang hak (benar)

Jalan yang hak adalah jalan Ahlussunnah wal Jamaah, jalan golongan yang selamat; yang akidah dan manhaj(cara beragama)nya lurus sesuai akidah dan manhaj Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisaa’: 115)

Jalan orang-orang mukmin terdepannya adalah para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempelajari akidah dan manhaj (cara beragama) Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Silahkan baca akidah dan manhaj mereka di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.co.id/p/aqidah_5.html

  • ➡ 7. Menghadiri majlis-majlis ilmu

Di majlis ilmu disampaikan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan sarana terbesar untuk istiqamah (lihat Qs. Ali Imran: 101), diingatkan, disadarkan, dan dapat berkumpul dengan orang-orang saleh yang membantu kita untuk istiqamah.

  • 8. Yakin terhadap jalan yang kita tempuh (jalan yang lurus; yang terdiri dari ilmu dan amal)  

Semakin yakin terhadap jalan yang kita tempuh, maka keistiqamahan semakin kuat. Agar rasa yakin kita semakin kuat perhatikanlah hal-hal berikut:

Pertama, jalan yang kita lalui ini, bukanlah jalan yang baru, bahkan merupakan jalan yang sudah lama yang ditempuh oleh para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Kedua, orang yang menempuh jalan itu adalah orang-orang plihan. Sebagaimana Allah telah memilih para nabi, maka orang-orang saleh mendapat bagian daripadanya, karena mereka yang mewarisi ilmu dan amal para nabi. Allah Azza wa Jalla berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى

Segala puji bagi Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (Qs. An Naml: 59)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,” (Qs. Fathir: 32)

Ketiga, coba hadirkan perasaan, bagaimana jadinya jika engkau sebagai sebuah batu, hewan, orang kafir, penyeru kesesatan, dan sebagainya? Maka bersyukurlah atas nikmat yang besar ini, yakni Allah menjadikanmu sebagai da’i Ahlussunnah yang menyeru kepada kebaikan.

=

  • ➡ 9. Terjun di medan dakwah

Jiwa jika tidak bergerak akan melemah, maka agar jiwa semakin kuat dan mulia hendaknya ia terjun di medan dakwah yang merupakan tugas para rasul. Allah bersama para da’i, Dia meneguhkan dan mengarahkan langkah mereka. Seorang da’i seperti dokter yang memerangi penyakit dengan pengalaman dan ilmunya, sehingga dia lebih jauh daripada yang lain dari jatuh ke dalam penyakit itu.

  • ➡ 10. Memperhatikan sarana-sarana istiqamah lainnya

Sarana istiqamah itu adalah dekat dengan para ulama, orang-orang saleh, dan para da’i. 

✅ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ»

Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Sungguh bahagia orang yang Allah jadikan kunci kebaikan pada kedua tangannya, dan sungguh rugi orang yang Allah jadikan kunci keburukan pada kedua tangannya.” (Hr. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)

Dalam sejaram Islam telah terjadi berbagai fitnah, namun Allah teguhkan kaum muslimin melalui beberapa orang.

Ali bin Al Madini rahimahullah berkata, “Allah memuliakan agama ini melalui Abu Bakar Ash Shiddiq pada hari terjadinya kemurtadan, dan melalui Imam Ahmad pada hari mihnah (terjadinya cobaan).”

✅ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Saat kami berada dalam kekhawatiran, bersangka buruk terhadap diri kami, dan bumi yang kami datangi terasa sempit, maka kami menjumpai beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dan menyimak ucapannya, lalu semua kerisauan itu hilang, dan dada kami berubah menjadi lapang, kuat, yakin, dan tenang. Maka Mahasuci Allah yang telah menghadirkan surga-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya, membukakan untuk mereka pintu-pintunya di tempat beramal ini. Dia juga memberikan kepada mereka rasa nyaman surga itu, anginnya, dan kebaikannya, yang membuat mereka mencurahkan kemampuannya untuk mengejar surga dan berlomba-lomba kepadanya.” (Al Wabilush Shayyib hal. 97)

  • ➡ 11. Yakin terhadap pertolongan Allah dan bahwa kemenangan itu untuk Islam

Di saat-saat pertolongan terasa lama, kita butuh keteguhan yang kuat lagi agar kaki ini tidak tergelincir setelah kokohnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)

Berapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.–Tidak ada doa mereka selain ucapan, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”-– Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Ali Imran: 146-148)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak meneguhkan hati para sahabat yang ditindas menyampaikan kepada mereka bahwa masa depan milik Islam. Disebutkan dalam hadits Khabbab bin Art, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ

 “Demi Allah, Dia akan menyempurnakan agama ini sehingga orang yang berkendaraan melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak takut selain kepada Allah, atau khawatir srigala terhadap kambingnya.” (Hr. Bukhari) 

  • ➡ 12. Mengetahui hakikat kebatilan dan tidak tertipu olehnya

Di dalam firman Allah Azza wa Jalla,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.” (Qs. Ali Imran: 196)

Terdapat hiburan bagi kaum mukmin dan peneguhan untuk mereka. Dan dalam firman Allah Azza wa Jalla,

كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَال

Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. Ar Ra’d: 17)

Terdapat pelajaran agar tidak takut terhadap kebatilan serta menyerah kepadanya.