Rukun, Wajib, Dan Sunnah Dalam Shalat 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Syarat-Syarat Shalat

2. Rukun Rukun Shalat

3.Rukun Shalat

4. Sunnah Sunnah Shalat

5. Rukun Sunnah Wajib Shalat

Kewajiban Shalat-Al Ustadz Abu Abdillah Sahl 
Rukun Shalat-Ust Ahmad Zainuddin

Rukun Shalat-Ust Ammi Nur baits

Rukun Shalat-Ust M. Abduh Tuasikal

Syarat, Rukun dan Sunnah Shalat-Ust M. Abduh Tuasikal

Sunnah Shalat-Ust Arifin Badri

sesi1:

Sesi2:

Syarat-Syarat Shalat-Ust Dzulqarnain

Syarat-Syarat Shalat-Ust M. Abduh Tuasikal


Kumpulam Ebook

Syarat, Rukun Dan Kewajiban Sholat

Rukun, Kewajiban serta Sunnah Shalat

Hukum Shalat

Tuntunan Sholat Menurut Al-Quran dan As- Sunah-Al-Alamah Abullah Jibrin

lTiga Masalah Penting tentang Shalat-Al-Imam Abdul Aziz bin Bazz

Adab Adab Shalat

Sifat Shalat Nabi Edisi Lengkap 3 Jilid Syaikh Al-Albani

Jilid1Jilid2Jilid3 : Jilid Lengkap:

==

  • RUKUN, WAJIB, DAN SUNNAH DALAM SHOLAT  

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Rukun,Wajib,Sunnah Shalat, semoga Allah
menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin . 

  • Apakah yang Dimaksud dengan Rukun, Kewajiban, dan Sunnah dalam Sholat?

✅ Jawab:

Rukun adalah ucapan atau perbuatan dalam sholat yang harus dilakukan dan menentukan sah tidaknya shalat. Jika terlupa, maka sholatnya menjadi batal atau rokaatnya menjadi batal.

Kewajiban dalam sholat adalah ucapan dan perbuatan yang harus dilakukan. Jika ditinggalkan secara sengaja maka sholatnya batal, namun jika terlupa diganti dengan sujud sahwi.

Sunnah dalam sholat adalah ucapan dan perbuatan dalam sholat yang menyempurnakan sholat. Jika ditinggalkan tidak mengapa (tidak batal), namun melewatkan keutamaan. 

Pembagian gerakan dan ucapan dalam sholat menjadi rukun, wajib, dan sunnah tersebut berdasarkan para Ulama Hanabilah dan Hanafiyyah. Sedangkan Ulama Syafiiyyah membaginya menjadi fardlu (kewajiban) dan sunnah sholat saja. 

  • Apakah Dalil yang Menjadi Landasan Bahwa Suatu Perbuatan adalah Rukun, Kewajiban, atau Sunnah?

✅ Jawab:

Dasar utama untuk menentukan rukun dan kewajiban dalam sholat adalah hadits tentang orang yang buruk sholatnya. Hal-hal yang disebutkan Nabi dalam hadits tersebut ada yang rukun dan ada yang merupakan kewajiban. 

Jika ada hadits lain yang menunjukkan bahwa suatu sholat tidak sah tanpa perbuatan atau ucapan tertentu, maka hal itu tergolong rukun. Jika dalam hadits lain terdapat pula perintah Nabi terkait ucapan atau perbuatan untuk dilakukan dalam sholat, maka itu adalah kewajiban dalam sholat.

Selain dari itu, jika tidak masuk dalam rukun atau kewajiban, namun pernah dicontohkan oleh Nabi dalam sholat, maka itu adalah sunnah dalam sholat.

Hadits tentang orang yang buruk sholatnya adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam masuk ke masjid, kemudian seorang laki-laki masuk melakukan sholat. (Selesai sholat) laki-laki itu mengucapkan salam kepada Nabi, kemudian Nabi menjawab salamnya dan bersabda: Kembalilah (sholat) karena engkau belum sholat. Kemudian ia kembali sebagaimana sholat sebelumnya. Kemudian ia kembali (menghadap Nabi) dan mengucapkan salam kepada Nabi. Nabi bersabda: kembalilah sholat, karena engkau belum sholat. Demikian berlangsung 3 kali. Kemudian orang itu berkata: Demi (Allah) Yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa sholat lebih baik dari itu. Ajarilah aku. Kemudian Nabi bersabda: Jika engkau berdiri untuk sholat, bertakbirlah. Kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Quran. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam ruku’. Kemudian bangkitlah dari ruku’ hingga engkau berdiri dengan sempurna. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah (dari sujud) hingga engkau thuma’ninah dalam duduk. Lakukanlah hal itu dalam seluruh sholatmu (H.R al-Bukhari dan Muslim). 

  • Apa Saja Rukun-rukun Sholat?

Jawab:

Rukun-rukun sholat ada 11, yaitu: (i) berdiri bagi yang mampu, (ii) takbiratul ihram, (iii) membaca alFatihah, (iv) gerakan ruku, (v) bangkit dari ruku hingga I’tidal, (vi) gerakan sujud, (vii) bangkit dari sujud hingga duduk di antara dua sujud, (viii) thuma’ninah (tenang, tidak tergesa-gesa) dalam mengerjakan gerakan-gerakan sholat, (ix) gerakan duduk dan ucapan tasyahhud akhir, (x) tertib, (xi) gerakan dan ucapan salam. 

Berikut ini adalah penjelasannya:

  • ➡ 1.Berdiri dalam sholat wajib bagi yang mampu.

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Dan berdirilah karena Allah (dalam sholat) dalam keadaan khusyu(Q.S al-Baqoroh:238)

Dalam hadits dinyatakan:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring (H.R al-Bukhari dari Imran bin Hushain)

Untuk sholat sunnah, seseorang boleh mengerjakannya dengan duduk meski mampu berdiri, namun pahalanya adalah setengah dari yang dilakukan dengan berdiri.

صَلَاةُ الرَّجُلِ قَاعِدًا نِصْفُ الصَّلَاةِ

Sholat seseorang dengan duduk (pahalanya) setengah sholat (dengan berdiri) (H.R Muslim dari Abdullah bin Amr)

  • ➡ 2.Takbiratul Ihram.

Takbiratul Ihram adalah ucapan takbir Allahu Akbar di awal sholat. Jika seseorang lupa mengucapkan takbiratul ihram di awal sholat, maka sholatnya tidak sah. Sedangkan gerakan tangannya adalah sunnah, bukan rukun.

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ

Jika engkau berdiri untuk sholat, bertakbirlah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

  • ➡ 3. Membaca AlFatihah.

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ         

Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca surat alFatihah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shomit) 

Keharusan membaca surat alFatihah berlaku bagi Imam, orang yang sholat sendirian, maupun makmum pada saat Imam tidak mengeraskan bacaan. Adapun pada saat Imam mengeraskan bacaan, pada saat itu makmum menyimak bacaan tersebut.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan jika dibacakan al-Quran maka simaklah dan diamlah agar kalian mendapatkan rahmat (Q.S al-A’raaf:204)

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا

Dan jika Imam membaca, maka simaklah (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Muslim)

 

Ucapan-ucapan para Sahabat Nabi dalam riwayat yang shahih menunjukkan tidak wajibnya makmum membaca alFatihah pada saat Imam memperdengarkan bacaan alQuran dengan suara keras

✅ Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma menyatakan:

مَنْ صَلَّى رَكْعَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَلَمْ يُصَلِّ إِلاَّ وَرَاءَ الإِمَامِ

Barangsiapa sholat satu rokaat tidak membaca padanya alFatihah, maka ia tidak dianggap sholat kecuali jika ia di belakang Imam (riwayat al-Baihaqy dalam asSunan al-Kubro dan dishahihkan olehnya) 

✅ Abud Darda’ radhiyallahu anhu menyatakan:

مَا أَرَى الإِمَامَ إِذَا أَمَّ الْقَوْمَ إِلاَّ قَدْ كَفَاهُمْ

Tidaklah aku melihat seseorang jika menjadi Imam bagi suatu kaum kecuali telah mencukupi mereka (bacaan alFatihahnya)(riwayat Ahmad, anNasaai, adDaraquthny, dan al-Baihaqy,dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Albany) 

✅ Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menyatakan:

مَنْ صَلَّى وَرَاءَ اْلإِمَامِ كَفَاهُ قِرَاءَةُ الْإِمَامِ

Barangsiapa yang sholat di belakang Imam, maka cukup baginya bacaan Imam (riwayat al-Baihaqy, dishahihkan olehnya) 

Demikian juga riwayat dari Ibnu Mas’ud, beliau berpendapat bahwa bacaan Imam telah mencukupi bagi makmum.

عَنْ أَبِى وَائِلٍ : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ ابْنَ مَسْعُودٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الإِمَامِ فَقَالَ : أَنْصِتْ لِلْقُرْآنِ ، فَإِنَّ فِى الصَّلاَةِ شُغْلاً ، وَسَيَكْفِيكَ ذَاكَ الإِمَامُ

Dari Abu Wa-il bahwasanya seseorang bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang membaca (alQuran) di belakang Imam. Ibnu Mas’ud berkata: Diamlah dari membaca alQuran karena dalam sholat itu terdapat kesibukan, dan Imam tersebut telah mencukupimu (riwayat al-Baihaqy dan atThohawy, dishahihkan sanadnya oleh al-Albany)

Atsar-atsar dari para Sahabat tersebut di atas dikumpulkan dalam as-Silsilah al-Ahaadits Adh-Dhaifah (2/420) karya Syaikh al-Albany. 

  • Bagaimana jika seseorang sholat sendirian dan ia tidak bisa membaca alFatihah?

Jika ia tidak bisa membaca alFatihah, hendaknya ia membaca surat dari alQuran yang bisa ia baca. Jika juga tidak mampu, hendaknya ia membaca tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allaahu Akbar), dan tahlil (Laa Ilaaha Illallaah)

…فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإِلَّا فَاحْمَدِ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ ثُمَّ ارْكَعْ…

Jika engkau mempunyai (hafalan) Quran, bacalah. Jika tidak, maka ucapkan pujian kepada Allah, bertakbirlah dan bertahlillah kemudian ruku’ (H.R atTirmidzi no 278 dari Rifa’ah bin Rafi’, dishahihkan al-Albany)

  • ➡ 4.Gerakan ruku’

Gerakan ruku’  minimal yang wajib adalah membungkukkan badan ke depan sehingga memungkinkan telapak tangan bisa memegang lutut bagi orang yang tubuhnya proporsional (normal), dan posisi tubuh ke ruku’ sempurna lebih dekat dibandingkan ke posisi berdiri.

Gerakan ruku’ yang sempurna adalah membungkukkan badan ke depan sehingga punggung lurus (rata), kedua telapak tangan memegang lutut dengan merenggangkan jari jemari. Posisi kepala tidak mendongak dan tidak pula terlalu menunduk, tapi sejajar dengan punggung.

(asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram libni Utsaimin (3/102)).

  • ➡ 5. Bangkit dari ruku’ hingga dalam posisi I’tidal (berdiri lurus). 

…ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا…

kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam ruku’, kemudian bangkitlah dari ruku’ hingga engkau dalam posisi sempurna berdiri (I’tidal)(H.R alBukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

  • ➡ 6.Gerakan sujud.

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujud (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Sujud harus pada 7 anggota sujud:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Aku diperintah untuk sujud pada 7 tulang: dahi (beliau mengisyaratkan pada hidung) dan kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung-ujung jari kaki (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Ditegaskan dalam riwayat lain bahwa hidung harus menyentuh bumi (tempat sujud)

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَمَسَّ أَنُفُهُ اْلأَرْضَ

Tidak ada sholat bagi orang yang hidungnya tidak menyentuh bumi (H.R al-Hakim, dinyatakan oleh al-Hakim bahwa hadits tersebut sesuai syarat al-Bukhari disepakati al-Albany)

  • ➡ 7. Bangkit dari sujud untuk duduk di antara dua sujud.

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا

Kemudian bangkitlah dari sujud hingga engkau thuma’ninah dalam duduk (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

  • ➡ 8. Thuma’ninah (tenang, tidak tergesa-gesa) dalam mengerjakan gerakan-gerakan sholat.

Seseorang yang sholat tidak thuma’ninah, tidak sah sholatnya. Orang yang sholatnya sangat cepat, terburu-buru dan tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya tidak sah sholatnya, dan terhitung sebagai pencuri sholat.

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari sholatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari sholatnya? (Rasul menjawab) : ‘ Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya “ (H.R Ahmad dan At-Thobrony, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shohih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)

  • ➡ 9.Gerakan duduk dan ucapan tasyahhud akhir.

فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

Jika seseorang duduk dalam sholat hendaknya ia mengucapkan: atTahiyyaatu lillaah washsholawaatu watthoyyibaat. Assalaamu alaika ayyuhan Nabiyyu warohmatullaahi wabarokaatuh. Assalaamu alaina wa alaa ibaadillaahis shoolihiin. Jika ia mengucapkan itu doanya akan meliputi seluruh hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi. (Kemudian mengucapkan) : Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rosuuluh. Kemudian ia pilih doa permintaan yang ia kehendaki (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, lafadz sesuai Muslim)

➡ 10.Tertib (urut dalam gerakan sholat)

➡ 11. Gerakan dan ucapan salam.

Gerakan dan ucapan salam adalah rukun sholat, sebagai penutup sholat.

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

تَحْرِيْمُ الصَّلاَةِ التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ

Hal yang mengharamkan sholat (dari perbuatan di luar sholat) adalah takbir dan yang menghalalkannya (mengakhirinya) adalah atTaslim (salam)(riwayat atThobarony, dinyatakan oleh al-Haitsamy bahwa para perawinya adalah perawi dalam as-Shahih). 

Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa salam yang pertama adalah keharusan (rukun) sedangkan salam yang kedua sunnah. Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah hanya mengucapkan salam sekali (ke arah kanan) di akhir sholat.

عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ الصَّلاَةَ تَسْلِيْمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ يَمِيْلُ إِلَى الشِّقِّ اْلأَيْمَنِ قَلِيْلاً شَيْئًا

Dari Aisyah bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam mengucapkan salam sekali dalam sholat sedikit menoleh ke arah kanan (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, disepakati adz-Dzahaby)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً وَاحِدَهً

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam mengucapkan sekali salam (H.R al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa para perawinya terpercaya) 

  • Apakah Basmalah adalah Bagian dari al-Fatihah dan Ketika Sholat Jahriyyah Apakah Imam Mengeraskan Bacaan Basmalah?

✅ Jawab:

Basmalah –menurut pendapat yang rajih- adalah bagian dari al-Fatihah, sebagaimana pendapat al-Imam asy-Syafi’i, Ibnul Mubarok, dan Ahmad dalam salah satu riwayat. Salah satu dalilnya adalah hadits:

إِذَا قَرَأْتُمُ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَءُوا (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى وَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِحْدَاهَا

Jika kalian membaca ‘Alhamdulillah’ (al-Fatihah) maka bacalah Bismillahirrohmaanirrohiim. Sesungguhnya ia (al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitaab, dan tujuh (ayat) yang berulang. Dan Bismillahirrohmaanirrohiim adalah salah satu (ayatnya)(H.R al-Baihaqy, adDaraquthniy, dishahihkan Ibnul Mulaqqin dan al-Albany dalam Silsilah as-Shahihah)

Para Ulama yang menshahihkan hadits ini berbeda pendapat tentang apakah hadits ini marfu’ (ucapan Nabi) atau  mauquf (ucapan Abu Hurairah). Al-Hafidz Ibn Hajar mengisyaratkan bahwa yang benar hadits itu mauquf dalam Bulughul Maram. Sedangkan Syaikh al-Albany menyatakan bahwa hadits itu shahih baik marfu’ maupun mauquf. Sebagian Ulama berpendapat bahwa basmalah bukanlah bagian dari al-Fatihah, berdalil dengan hadits Abu Hurairah riwayat Muslim yaitu hadits Qudsi yang Allah membagi al-Fatihah antara diriNya dengan hambaNya menjadi 2 bagian. Di dalam lafadz hadits itu tidak disebutkan Bismillahirrohmaanir rohiim.  

Jika memang riwayat al-Baihaqy dan adDaruquthniy adalah mauquf ucapan Abu Hurairah, maka tentunya beliau lebih paham tentang makna hadits yang diriwayatkannya bahwa memang Bismillahirrohmanirrohim adalah bagian dari al-Fatihah. Karena itu, dalam sholat, semestinya seorang yang membaca al-Fatihah juga membaca basmalah. 

Nabi shollalahu alaihi wasallam lebih sering tidak mengeraskan bacaan basmalah dalam sholat, namun kadangkala beliau keraskan bacaan basmalahnya (disarikan dari Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim (1/206-207)).

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Aku sholat bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar, dan Utsman, tidak pernah aku mendengar seorangpun (dari mereka) membaca (mengeraskan bacaan) Bismillahirrohmaanirrohiim (H.R Muslim no 605). 

Hadits Anas ini menunjukkan bahwa Nabi, Abu Bakr, Umar, dan Utsman sangat jarang memperdengarkan bacaan bismillahirrohmanirrohiim dalam sholat.

Namun, jika kadangkala dikeraskan dalam bacaan sholat maka tidak mengapa, sebagaimana difatwakan Syaikh Bin Baz. 

  • Bagaimana Jika Terlewatkan Suatu Rukun dalam Sholat?

✅ Jawab:

Jika lupa atau sengaja tidak mengerjakan salah satu rukun sholat, maka sholatnya menjadi batal, atau rokaatnya menjadi batal. Jika lupa Takbiratul Ihram, maka sholatnya tidak sah. Jika lupa rukun yang lain, dilihat keadaan:

a.Belum masuk ke rokaat berikutnya.

Kembali ke bagian rukun yang terlupa dan meneruskannya.

✅ b. Sudah masuk ke rokaat berikutnya.

Rokaat yang sedang dikerjakan adalah sebagai pengganti rokaat yang rukunnya terlupa.

c.Baru teringat setelah salam.

Jika yang terlupa adalah tasyahhud akhir atau salam, maka cukup melakukan sujud sahwi (tidak perlu menambah rokaat).

Namun, jika selain tasyahhud akhir atau salam yang terlupa, dan baru ingat setelah salam, maka ia mengerjakan satu rokaat lagi secara sempurna selama masa antara salam dengan ingat tersebut tidak terlalu lama. Jika waktunya sudah lama, atau batal wudhu’nya, maka ia berwudhu’ kembali dan melakukan sholat secara sempurna dari awal.

Semua poin a,b, dan c tersebut diakhiri dengan sujud sahwi.

(InsyaAllah akan dijelaskan di bab tersendiri tentang sujud sahwi).

Contoh: seseorang ketika ruku’ baru ingat bahwa pada rokaat ini tadi ia lupa membaca al-Fatihah. Maka ia kembali berdiri dan membaca al-Fatihah, membaca surat, bertakbir dan ruku’, demikian seterusnya menyempurnakan rokaat tersebut.

Contoh lain, pada saat membaca surat alFatihah di rokaat kedua ia baru ingat dengan yakin bahwa di rokaat pertama tadi ia hanya sujud sekali kemudian bangkit. Ia telah melewatkan rukun duduk di antara dua sujud dan rukun sujud kedua. Maka rokaat kedua yang sedang dikerjakan ini adalah pengganti bagi rokaat pertama tadi.

(disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih al-Fauzan dalam al-Mulakhkhoshul fiqhiy (1/131)). 

  • Apa Saja Kewajiban-kewajiban dalam Sholat?

✅ Jawab:

Kewajiban-kewajiban dalam sholat:

✅ 1.Ucapan takbir perpindahan antar gerakan (selain takbiratul ihram yang merupakan rukun).

إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى… ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ… ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ…ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ

Sesungguhnya tidaklah sempurna sholat salah seorang dari manusia hingga… kemudian ia mengucapkan Allaahu Akbar kemudian ruku’…kemudian mengucapkan Allahu Akbar kemudian sujud…kemudian mengucapkan Allahu Akbar dan mengangkat kepalanya hingga sempurna duduk…kemudian mengucapkan Allahu Akbar kemudian sujud (H.R Abu Dawud no 730 dari Abu Hurairah, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)

… وَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا…

Dan jika Imam bertakbir, maka bertakbirlah…(H.R Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

✅ 2.Ucapan Sami’allaahu liman hamidah pada saat bangkit dari ruku’.

إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى… ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا

Sesungguhnya tidak sempurna sholat salah seorang dari manusia hingga…kemudian mengucapkan sami’allaahu liman hamidah hingga sempurna berdiri (H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Hukum ucapan Sami’allaahu liman hamidah adalah wajib bagi Imam atau orang yang sholat sendirian.

✅ 3.Ucapan Robbanaa wa lakal hamdu.

وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

dan jika (Imam) mengucapkan Sami’alaahu liman hamidah, maka ucapkanlah Robbanaa wa lakal hamdu (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

✅ 4.Bacaan Subhaana Robbiyal ‘Adzhim sekali dalam ruku’

✅ 5.Bacaan Subhaana Robbiyal A’la sekali dalam sujud

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ } قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ فَلَمَّا نَزَلَتْ { سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى } قَالَ اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ

Dari Uqbah bin Amir radhiyallaahu anhu beliau berkata: ketika turun firman Allah: << Maka bertasbihlah dengan (menyebut) Nama TuhanMu yang agung (Q.S al-Waaqi’ah ayat 74 dan 96, al-Haaqqah ayat 52>>, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jadikanlah (bacaan itu) di ruku’ kalian. Ketika turun firman Allah:<< Maka bertasbihlah dengan (menyebut) TuhanMu yang Paling Tinggi >> (Q.S al-A’laa:1), Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jadikanlah (bacaan itu) di sujud kalian (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan disepakati adz-Dzahaby (no 3783)–Iyaas bin Amir dinyatakan shaduq oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Taqriibut Tahdziib no perawi 589)

✅ 6.Bacaan Amiin makmum setelah Imam menyelesaikan alFatihah.

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

Jika Imam mengucapkan Aamiin, maka ucapkanlah Amiin. Karena barangsiapa yang ucapannya aminnya bersesuaian dengan ucapan amin Malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

✅ 7.Duduk dan bacaan tasyahhud awal.

فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

Jika engkau duduk di pertengahan sholat, tenanglah (thuma’ninah) dan bentangkan pahamu yang kiri kemudian bertasyahhudlah (H.R Abu Dawud dari Rifaah bin Rafi’) 

  • Apa Saja Sunnah-Sunnah dalam Sholat?

Jawab:

Sunnah dalam sholat terbagi dalam ucapan dan perbuatan:

  • A.Sunnah Ucapan dalam Sholat
  • ✅ 1.Doa Istiftah.

Doa istiftah setelah takbiratul ihram tidak wajib hukumnya, namun sunnah. Abu Hurairah radhiyallahu anhu pernah memperhatikan Nabi diam sejenak sebelum membaca alFatihah. Maka beliau bertanya kepada Nabi apa yang dibaca saat diamnya beliau itu. Nabi kemudian menjelaskan bahwa yang beliau baca itu adalah doa istiftah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Bacaan-bacaan doa istiftah dan bacaan lain insyaAllah akan dijelaskan pada Bab Bacaan-Bacaan Sholat.

  • ✅ 2.Taawwudz.

Allah perintahkan seseorang yang membaca alQuran untuk membaca taawwudz sebelumnya (Q.S anNahl:98). Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah tersebut adalah perintah mandub (yang disukai, sunnah), bukan kewajiban. Al-Imam atThobary menghikayatkan ijma’ para Ulama’ akan hal itu (Tafsir al-Quranil Adzhim karya Ibnu Katsir (4/602)).

  • ✅ 3.Membaca surat alQuran yang lain setelah alFatihah.

Disunnahkan pada rokaat pertama dan kedua. Kadangkala juga boleh dibaca pada rokaat ketiga dan keempat (H.R Muslim dari Abu Qotadah dan riwayat lain dari Abu Said al-Khudry)

✅ 4.Bacaan dalam ruku’ selain Subhaana Robbiyal Adzhiim sekali.

✅ 5.Bacaan pada saat I’tidal setelah ucapan Robbanaa wa lakal hamdu.

Bisa dengan tambahan ucapan:

حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Hamdan Katsiran Thoyyiban Mubarakan Fihi

(H.R al-Bukhari dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zura-i)

Keutamaan bacaan tersebut adalah : tiga puluh sekian Malaikat berebut untuk menuliskannya pertama kali (H.R al-Bukhari no 757).

Bisa juga dengan bacaan lain seperti : Mil-us samaawaati…dst (InsyaAllah akan disebutkan dalam bab Bacaan-bacaan dalam sholat).

✅ 6. Bacaan dalam sujud selain Subhaana Robbiyal A’la sekali.

  • ✅ 7.Memperbanyak doa pada saat sujud.

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Paling dekatnya seorang hamba kepada Allah adalah pada waktu dia sujud, maka perbanyaklah doa (pada saat itu) “(H.R Muslim dari Abu Hurairah)

(Lanjut Ke Halaman 2)