Pendidikan Islam Untuk Anak dan Pendidikan di Atas Cinta 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mendidik Anak Secara Islam

2. Pendidikan Anak Tanggung Jawab Siapa?

3. Kenapa Harus Menyekolahkan Anak

4.Mendidik Anak Dengan Sunnah

5.Bagaimana Mendidik Anak Dalam Islam

6.Pendidik adalah Pengganti Orang Tua

7.Meretas Pendidikan Islami

8.Antara Anak Harapan dan Ujian

9.Mendidik Dengan Keteladanan

10. Kiat Memahami Buah Hati

101 Cara Mendidik Anakdan Keluarga-Ust Zainal Abidin Syamsudin

101 Cara Mendidik Keluarga – Tanya Jawab –

Pilar-pilar Pendidikan Islam -Ust Zainal Abidin Syamsudin

Kajian Pendidikan Anak Dalam Islam-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Pendidikan anak Dalam Islam Oleh Ustadz Abu Ammar Abdul Adhim Al Ghoyami

Peran Keluarga dan Sekolah dalam pendidikanAnak” Oleh Ustadz Dr.Syafiq Riza Basalamah MA

Dunia Pendidikan Anak -Perbedaan Ibu dan Ayah dalam Mendidik Anak” Oleh Ustadz Muhammad Elvi Syam MA

Pendidikan Anak Fase Mencontoh” Oleh Ustadz Muhammad Elvi Syam MA

Mendidik anak Sesuai Tuntunan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam Oleh Ustadz Abu Ammar AbdulAdhim Al Ghoyami

Fiqh Manajemen Pendidikan Islam” Oleh Ustadz Dr Erwandi Tirmidzi MA dan Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc

Sesi1 :Sesi2

Kesalahan-kesalahan dalam.Mendidik Anak” Oleh Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali

Kekeliruan dalam mendidik anak” Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin Lc

Kumpulan Ebook

Pendidikan Anak dalam Pandangan Islam

Cara Mendidik Anak

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama

Bertambahnya Nilai Kebaikan dengan Mendidik Anak

Mendidik Dengan Kisah

Meretas Pendidikan Islami

==

Pendidikan Islam Untuk Anak

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Pendidikan Islam untuk Anak

✅ Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (terj. At Tahrim: 6)

Syaikh As Sa’diy berkata, “Memelihara diri adalah dengan cara menekannya untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, bertobat dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah dan mendatangkan azab-Nya. Sedangkan memelihara istri dan anak adalah dengan mengajari mereka adab dan ilmu (agama) serta menekan mereka untuk menjalankan perintah Allah.”

Berikut ini contoh-contoh mendidik anak dalam Islam:

  • ➡ 1.Mengajarkan tauhid dan adab-adab Islami

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan  (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah  adalah benar-benar  kezaliman  yang besar” —Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang orang tuanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. — Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. —“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada  seberat  biji  sawi,  dan berada dalam batu atau di langit maupun di dalam bumi, niscaya Allah akan  mendatangkannya.  Sesungguhnya Allah Maha Halus  lagi Maha Mengetahui.—Wahai anakku, dirikanlah shalat   dan   suruhlah      mengerjakan yang   baik   dan cegahlah   dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya  yang  demikian itu  termasuk  hal-hal  yang diwajibkan .— Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah  kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.— Dan sederhanalah kamu dalam berjalan (yakni sedang saja)  dan  lunakkanlah (pelankanlah) suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [Luqman: 12-19].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Saat tiba waktu mereka bisa bicara, ajarilah Laailaahaillallah-Muhammad Rasulullah. Hendaknya yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah pengenalan tentang Allah Subhaanahu wa Ta’aala, keesaan-Nya dan bahwa Allah berada di atas arsyi-Nya melihat dan mendengarkan kata-kata mereka, Dia bersama mereka di mana saja mereka berada. Nama yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah Abdullah dan Abdurrahman, sehingga ketika anak telah dapat memahami dan mengerti, ia pun langsung mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa Allah adalah Tuhannya serta Pelindungnya.”

Oleh karena itu, ajarilah tauhid kepada anak, ajarkanlah mereka mengatakan “Tuhan yang berhak aku sembah adalah Allah tidak selain-Nya, Dialah yang menciptakanku dan menciptakan manusia semuanya, menciptakan malam dan siang, menciptakan matahari dan bulan. Dia juga yang menurunkan hujan.”

Beritahukanlah mereka bahwa Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya.

Demikian juga, kenalkanlah kepada anak bahwa “agama kita adalah agama Islam” serta “Nabi kita adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ajarkanlah anak rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam serta penjelasannya.

  • ➡ 2.Mengajarkan shalat

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (terj. Thaha: 132)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي اْلمَضَاجِعِ

Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya setelah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.“ (shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud)

  • ➡ 3.Mengajarkan puasa

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim seseorang pada pagi hari Asyura (10 Muharram) ke desa-desa Anshar (untuk menyerukan), “Siapa yang sudah berpuasa maka sempurnakanlah puasanya dan siapa saja yang pada pagi harinya berbuka maka hendaknya ia lanjutkan dengan puasa”, maka setelah itu kami berpuasa dan menyuruh anak-anak kami yang masih kecil berpuasa, kami pergi ke masjid setelah membuatkan mainan untuk mereka dari bulu domba, jika salah seorang di antara mereka menangis karena meminta makan, maka kami pun memberikannya sehingga sampai berbuka.” (HR. Bukhari-Muslim)

  • ➡ 4.Membiasakan anak menjaga perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

Nak, saya akan mengajarkan kamu beberapa perkara: Jagalah (perintah) Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu (yakni dengan membimbing dirimu). Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering (yakni ketetapan tersebut sudah tidak dapat dirubah lagi).” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih”)

Dalam sebuah riwayat selain Tirmidzi disebutkan: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan tidak menimpamu, maka tidak akan menimpamu dan apa yang  ditetapkan akan menimpamu, maka pasti akan menimpamu. Ketahuilah, bahwa pertolongan bersama kesabaran dan kelapangan bersama kesempitan dan di balik kesulitan ada kemudahan.”

  • ➡ 5.Mencegah anak melakukan kemunkaran

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma pernah mengambil sebuah kurma zakat, lalu dimasukkannya ke dalam mulutnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كِخْ كِخْ لِيَطْرَحَهَا ثُمَّ قَالَ أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

Kikh, kikh” dengan maksud agar Al Hasan membuangnya. Lalu Beliau bersabda, “Apa kamu tidak mengerti bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mendapatkan salah seorang di antara keluarganya ada yang berdusta, Beliau senantiasa berpaling sampai ia mau bertobat.

Membiasakan anak melakukan adab-adab Islami

  • ➡ 6. Biasakanlah anak melakukan adab-adab Islami, seperti dalam hadits berikut:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ *

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 6; jika bertemu ucaplah salam kepadanya, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, jika ada yang bersin dan memuji Allah maka do’akanlah. Jika ada yang sakit maka jenguklah dan jika ada yang meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

Lebih jelasnya perhatikanlah adab-adab berikut:

  • ➡ 1.   Memberi salam

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ ، فَسَلِّمْ يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِكَ

Wahai anakku, apabila kamu hendak masuk menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam, niscaya keberkahan akan turun kepadamu dan kepada keluargamu.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “Hasan shahih)

  • ➡ 2.   Meminta izin

Kandah bin Al Hanbal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku masuk tanpa memberi salam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ulangilah dan ucapkanlah “As Salaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?”  (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan ia berkata “Hasan”, diriwayatkan juga oleh Ahmad dan isnadnya shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْإِسْتِئْذاَنُ ثَلاَثًا فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَاِلاَّ فَارْجِعْ

Meminta izin itu sebanyak tiga kali. Jika diizinkan, maka silahkan, jika tidak maka pulanglah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan hendaknya anak diajarkan untuk meminta izin pada tiga waktu yang disebutkan dalam ayat berikut:

Wahai orang-orang yang beriman! hendaklah budak-budak  yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali  yaitu: sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’.  tiga ‘aurat bagi kamu.” (terj. An Nuur: 58)

Alqamah berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Abdullah bin Mas’ud sambil bertanya, “Apakah saya harus meminta izin sebelum masuk ke kamar ibuku?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Tidak setiap saat ibumu senang dilihat olehmu.” (HR. Bukhari)

  • ➡ 3.   Adab ketika makan

Dari Umar bin Abi Salamah ia berkata, “Aku adalah seorang anak yang berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku kesana-kemari (mengambil makanan) di piring, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah bagian yang dekat denganmu.” Setelah itu, aku biasa makan seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • ➡ 4.   Adab ketika duduk di suatu tempat

✅ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُقِيْمَنَّ اَحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ وَلَكِنْ تَوَسَّعُوْا وَتَفَسَّحُوْا

Janganlah salah seorang di antara kamu membangunkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia duduk, akan tetapi (katakanlah) “Lapangkanlah dan geserlah“. (HR. Bukhari-Muslim)

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ اَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ اِلاَّ بِإِذْنِهِمَا

Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang (yang sedang duduk bersama), kecuali dengan izin keduanya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata: “Hasan”)

  • ➡ 5.   Adab duduk di pinggir jalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ *

“Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di pinggir jalan”, Para sahabat  berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak dapat tidak harus duduk untuk berbincang-bincang”, Beliau kemudian bersabda, “Jika kalian tetap ingin duduk-duduk di sana maka berikanlah hak jalan,” para sahabat bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab, “Yaitu menundukkan pandangan, menghindarkan gangguan, menjawab salam, menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.” (HR. Bukhari-Muslim)

  • ➡ 6.   Adab berbicara

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah serta hari akhir, maka berkata-katalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencaci, melaknat, berkata-kata keji dan berkata-kata kotor.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah (320)

(Lanjut Ke Halaman 2)

    Iklan