100 Hadits Dha’if dan Maudhu’ 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Hadits Shahih Sumber Hukum Syari’at, Bukan Hadits Dha’if

2.Mengecek Status Hadits Melalui SitusDorar.Net

3. Awas Hadits Palsu

4. Mengenal Kitab Sunan

5. Darurat Hadits Palsu

6. Hadis Palsu yang Merendahkan Wanita

Ancaman Berdusta Atas Nama Nabi-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Bahaya Menyebarkan Hadist Palsu-Mizan Qudsiyah

Hadits Hadits Palsu-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Tukang Hadits Palsu-Mizan Qudsiyah

Bahaya Hadits Lemah dan Palsu-Ust Abu Ubaidah

(Harga Nyawa Seorang Muslim, Ustadz Iskandar Dinata,Lc),

Berdusta Atas Nama Nabi-Ust Abu Ihsan Al Atsary

Berdusta Atas Nama Nabi Macam Hadits Dhaif-Ust M Abduh Tuasikal


Kumpulan Ebook

Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu I

Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu II

Al Albani – Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhujilid Ⅲ.pdf

Al Albani – Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhujilid Ⅳ.pdf

Dhaif Adabul Mufrad — al albani.pdf

Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu’ I-IV.chm

Hadits Maudhu’

Muhammad Nashiruddin Al Albani -Menyingkap Tabir Kebohongan.pdf

Muhammad Nashiruddin Al Albani – RisalahIlmiah Albani.pdf

Hadits Palsu Dlm 4 Kitab Sunan Muhammad Nashiruddin Al Albani

==

  • 100 Hadits Dha’if dan Maudhu’

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini 100 hadits dha’if (lemah) dan maudhu (palsu) yang dikumpulkan oleh Ihsan bin Muhammad bin ‘Aayisy Al ‘Utaibiy yang telah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْداً وَفِي لَفْظٍ: مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ، فَلَا صَلاَةَ لَهُ

1.    “Barang siapa yang shalatnya tidak membuatnya berhenti dari perbuatan keji dan munkar, maka Allah tidak menambah kepadanya selain kejauhan.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Barang siapa yang shalatnya tidak membuatnya berhenti dari perbuatan keji dan mungkar, maka tidak ada shalat baginya.”

      Adz Dzahabi berkata, “Ibnul Junaid berkata, “Dusta dan bohong“, Al Haafizh Al ‘Iraaqiy berkata, “Hadits yang isnadnya lembek.” Al Albani berkata, “Batil, tidak sah baik dari sisi isnadnya maupun dari sisi matannya.” [Mizanul I’tidal (3/293), Takhrij Al Ihyaa’ (1/143) dan Silsilah Adh Dha’ifah (2, 985)].

اَلْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ. وَفِي لَفْظٍ : ((الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ)).

2.    “Berbicara di masjid dapat memakan kebaikan sebagaimana hewan memakan rerumputan.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Berbicara di masjid dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

     Al Haafizh Al ‘Iraqiy berkata, “Saya tidak menemukan asalnya.” Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As Subkiy berkata, “Saya belum menemukan isnadnya.” Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya.” [Takhrij Al Ihyaa’ (1/136), Thabaqat Asy Syaafi’iyyah oleh As Subkiy (4/145) dan Adh Dha’iifah (4)].

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً ، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

3.    “Beramallah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.”

     Al Albani berkata, “Tidak sah marfu’nya”; yakni tidak sah berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Adh Dha’iifah: 8].

أَنَا جَدُّ كُلِّ تَقِيٍّ

4.    “Saya adalah kakek bagi setiap orang yang bertakwa.”

      As Suyuuthiy berkata, “Saya tidak mengetahuinya.” Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya.” [Al Haawiy oleh As Suyuuthiy (2/89) dan Adh Dha’iifah (9)].

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّماً

5.    “Sesungguhnya saya diutus sebagai pengajar.”

      Al ‘Iraqiy berkata, “Sanadnya dha’if“, Al Albani berkata, “Dha’if“. [Takhrij Al Ihyaa’ (1/11), Adh Dha’iifah (11)].

أَوْحَى اللهُ إِلَى الدُّنْيَا أَنِ اخْدِمِيْ مَنْ خَدَمَنِيْ وَأَتْعِبِيْ مَنْ خَدَمَكِ

6.    Allah mewahyukan kepada dunia, “Layanilah orang yang berkhidmat kepada-Ku dan jadikanlah lelah orang yang berkhidmat kepadamu.”

      Al Albani berkata, “Maudhu (palsu)’“, [Tanzihusy Syari’ah (2/303), Al Fawaa’id Al Majmuu’ah oleh Asy Syaukaani (712) dan Adh Dha’iifah (12)].

إِيَّاكُمْ وَخَضْرَاءُ الدِّمَنِ فَقِيْلَ: مَا خَضْرَاءُ الدِّمَنِ؟ قَالَ الْمَرْأةُ الْحَسْنَاءُ فِي الْمَنْبَتِ السُّوْءِ

7.    “Jauhilah oleh kalian tanaman hijau yang tumbuh di tempat sampah,” lalu ada yang bertanya, “Apa tanaman hijau yang tumbuh di tempat sampah?” Beliau menjawab, “Wanita cantik yang tumbuh di lingkungan yang buruk.”

      Al ‘Iraaqiy berkata, “Dha’if, didha’ifkan oleh Ibnul Mulaqqin”, Al Albani berkata, “Sangat dha’if”, [Takhrij Al Ihyaa’ (2/42), Adh Dha’iifah (14)].

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْفُقَهَاءُ)). وَفِي لَفْظٍ ((صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ))

8.    “Dua golongan ummatku yang jika keduanya baik, maka masyarakat akan menjadi baik; yaitu para penguasa dan para fuqaha’ (ahli fiqh).” Dalam sebuah lafaz disebutkan: “Dua golongan ummatku yang jika keduanya baik, maka masyarakat akan menjadi baik; para penguasa dan para ulama.”

     Imam Ahmad berkata, “Pada salah satu perawinya ada seorang pendusta yang memalsukan hadits,” Ibnu Ma’in dan Daruquthni juga berkata seperti itu. Al Albani berkata, “Maudhu’ (palsu).” [Takhrij Al Ihyaa’ (1/61), Adh Dha’iifah (16)].

تَوَسَّلُوْا بِجَاهِيْ ، فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

9.    “Bertawassullah dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah sangat agung.”

      Ibnu Taimiyah dan Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya” [Iqtidhaa Ash Shiraathil Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah (2/415), Adh Dha’iifah (22)].

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَالَ : اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ عَلَيْكَ، وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا ……… أَقْبَلَ اللهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ أَلْفُ مَلَكٍ

10. “Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak para peminta kepada-Mu, aku juga meminta kepada-Mu dengan hak jalanku ini…, maka Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepadanya dan ia akan dimintakan ampun oleh 1.000 malaikat.”

      Didha’ifkan oleh Al Mundziriy, Al Buwshairiy berkata, “Sanadnya berantai dengan orang-orang yang dha’if”, Al Albani berkata, “Dha’if“, [At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziriy (3/272), Sunan Ibnu Majah (1/256)].

اَلْخَيْرُ فِيَّ وَفِي أُمَّتِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

11. “Kebaikan itu ada padaku dan pada ummatku sampai hari kiamat.”

      Ibnu Hajar berkata, “Saya tidak mengetahuinya” [Al Maqaashid Al Hasanah oleh As Sakhaawiy (hal. 208), dalam Tadzkiratul Maudhuu’aat oleh Al Fataniy (68), Al Asraarul Marfuu’ah fil Akhbaaril Maudhuu’ah oleh Al Qaariy (hal. 195)].

مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ ، فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ، فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

12.”Barang siapa yang tidur setelah shalat ‘Ashar, lalu akalnya tercabut, maka janganlah sekali-kali ia mencela selain dirinya.”

      Disebutkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhuu’at (3/69), As Suyuthiy dalam Al La’aaliul Mashnuu’ah (2/279) dan Adz Dzahabiy dalam Tartibul Maudhuu’at (839).

مَنْ أَحْدَثَ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ فَقَدْ جَفَانِيْ ……

13. “Barang siapa yang berhadats namun tidak berwudhu, maka ia telah bersikap kasar kepadaku.”

      Ash Shaghaaniy berkata, “Maudhu‘” [Al Maudhuu’at (53)], Al Albani berkata, “Maudhu‘,” [Adh Dha’iifah (44)].

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِيْ  فَقَدْ جَفَانِيْ

14. “Barang siapa yang berhajji ke Baitullah, namun tidak berziarah kepadaku, maka ia telah berbuat kasar kepadaku.”

     [Maudhu’ (palsu), sebagaimana dikatakan Adz Dzahabiy dalam Tartiibul Maudhuu’at (600), Ash Shaghaaniy dalam Al Maudhuu’at (52) dan Asy Syaukaani dalam Al Fawaa’idul Majmu’ah (362)].

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ، كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ

15. “Barang siapa yang berhajji, lalu ia menziarahi kuburanku setelah aku wafat, maka sama seperti berkunjung kepadaku di masa hidupku.”

     Ibnu Taimiyah berkata, “Dha’if” [Qaa’idah Jalillah (57)], Al Abani berkata, “Maudhu‘” [Adh Dha’iifah (47)]. Dan lihat Dzakhiiratul Huffaz oleh Ibnul Qaisaraaniy (4/5250).

اِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

16.”Perselisihan ummatku adalah rahmat.”

      Maudhu’ (palsu), [Al Asraarul Marfuu’ah (506), Tanziihusy syarii’ah (2/402), Al Albani berkata, “Tidak ada asalnya,” Adh Dha’iifah (11)].

أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ. وَفِي لَفْظٍ: ((إِنَّمَا أَصْحَابِيْ مِثْلُ النُّجُوْمِ فَأَيَّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ

اهْتَدَيْتُمْ)).

17. “Para sahabatku seperti bintang, siapa saja di antara mereka yang kalian ikuti, niscaya kalian akan memperoleh petunjuk.” Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Sesungguhnya para sahabatku seperti bintang-bintang, siapa saja di antara mereka yang kalian ambil pendapatnya, niscaya kalian akan memperoleh petunjuk.”

      Ibnu Hazm berkata, “Berita dusta, palsu, batil, sama sekali tidak sah.” [Al Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam (5/64) dan (6/82)]., Al Albaani berkata, “Maudhu‘” [Adh Dha’iifah (66), lihat Jaami’ bayaanil ‘ilmi wa Fadhlih oleh Ibnu Abdil Barr (2/91)].

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

18.  “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

       Maudhu’ (palsu), [Al Asraarul Marfuu’ah (506), Tanziihusy syarii’ah 2/402, Tadzkiratul Maudhuu’aat (11)].

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

19.  “Tuhanku telah mendidikku dengan pendidikan yang sebaik-baiknya.”

       Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak diketahui memiliki isnad yang tsabit/sah” [Ahaaditsul Qashshaas (78), disebutkan oleh Asy Syaukaani dalam Al Fawaa’idul Majmuu’ah (1020), dan Al Fataniy dalam Tadzkiratul Maudhuu’aat (87)].

اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى. إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرْقَى إِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ. وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ

20.  “Manusia semuanya mati, selain orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya binasa, selain orang-orang yang beramal. Orang-orang yang beramal semuanya tenggelam, selain orang-orang yang ikhlas, sedangkan orang-orang yang ikhlas berada dalam bahaya besar.”

       Ash Shaghaaniy berkata, “Hadits ini dibuat-buat lagi salah (dalam tata bahasa), yang benar dalam I’raab adalah Al ‘aalimiin wal ‘aalimiin.” [Al Maudhuu’at (200), disebutkan oleh Asy Syaukani dalam Al Fawaa’idul Majmuu’ah (771) dan Al Fataniy dalam Tadzkiratul Maudhuu’at (200)].

سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ

21.  “Sisa air dari mulut seorang mukmin dapat menyembuhkan.”

       Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (217), Kasyful Khafaa’ (1/1500) dan Adh Dha’iifah (78)].

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدِ خَرَجَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ، فَأْتُوْهَا وَلَوْ حَبْواً فَإِنَّ فِيْهَا خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ

22.  “Apabila kalian melihat ada bendera-bendera hitam yang muncul dari arah Khurasan, maka datangilah ia meskipun dengan merangkak, karena di sana terdapat khalifah Allah, yaitu Al Mahdi.”

       Dha’iif (lemah), [Al Manaarul Muniif oleh Ibnul Qayyim (340), Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (2/39) dan Tadzkiratul Maudhuu’at (233)].

اَلتَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ

23.  “Orang yang bertobat adalah kekasih Allah.”

       Tidak ada asalnya, [“Hadits tersebut termasuk hadits yang tidak ada asalnya dalam Al Ihyaa’,” As Subkiy (356) dan Adh Dha’iifah (95)].

=

أَمَا إِنِّي لاَ أَنْسَى ، وَلَكِنْ أُنَسَّ لِأُشَرِّعَ

24.  “Adapun saya tidaklah lupa, akan tetapi dibuat lupa sehingga saya mengadakan syari’at (yang baru).”

Tidak ada asalnya, termasuk hadits-hadits yang tidak ada asalnya dalam Al Ihyaa’ (357), Adh Dha’iifah (101).

اَلنَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوْا انْتَبَهُوْا

25.  “Manusia itu tidur, ketika mereka mati barulah sadar.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (555), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (766) dan Tadzkiratul Maudhu’at (200)].

مَنْ حَدَّثَ حَدِيْثاً، فَعَطَسَ عِنْدَهُ ، فَهُوَ حَقٌّ

26.  “Barang siapa yang membawakan sebuah hadits, lalu ia bersin di saat itu, maka hadits itu benar.”

Maudhu’, [Tanziihusy Syarii’ah (483), Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/286) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (669)].

تَزَوَّجُوْا وَلاَ تُطَلِّقُوْا، فَإِنَّ الطَّلاَقَ يَهْتَزُّ لَهُ الْعَرْشُ

27.  “Menikahlah dan jangan menthalaq, karena ‘Arsy berguncang karenanya.”

Maudhu’, [Tartiibul Maudhuu’at (694), Al Maudhuu’at oleh Ash Shaghaaniy (97) dan Tanziihusy Syarii’ah (2/202)].

تُعَادُ الصَّلاَةُ مِنْ قَدْرِ الدِّرْهَمِ مِنَ الدَّمِ

28.  “Shalat harus diulang karena darah meskipun hanya sebesar dirham.”

Maudhu’, [Dhi’aaf Ad Daaruquthniy oleh Al Ghassaaniy (353), Al Asraarul Marfuu’ah (138) dan Al Maudhuu’at oleh Ibnul Jauziy (2/76)].

اَلسَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ. قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ وَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيْلٍ

29.  “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil namun dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang bakhil.”

Dha’if jiddan (sangat dha’if), [Al Manaarul Muniif (284), Tartiibul Maudhuu’aat (564) dan Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/91)].

أَنَا عَرَبِيٌّ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ وَلِسَانُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ

30.  “Saya orang Arab, Al Qur’an berbahasa Arab dan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.”

[Tadzkiratul Maudhuu’at (112), Al Maqaashidul Hasanah (31) dan Tanziihusy Syarii’ah (2/30)].

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ (يس) مَنْ قَرَأَهَا، فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

31.  “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jantung. Sesungguhnya jantung Al Qur’an adalah surat Yaasin, barang siapa yang membaca, maka seakan-akan ia membaca Al Qur’an sepuluh kali.”

Maudhu’ (palsu), [Al ‘Ilal oleh Ibnu Abi Hatim 2/55 dan Adh Dha’iifah (169)].

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةٍ

32.  “Berfikir sejenak lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Maudhu‘, [Tanziihusy syarii’ah (2/305), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (723) dan Tartiibul Maudhuu’at (964)].

لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ

33.  “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.”

Dha’if (lemah), [Dhi’aaf Ad Daaruquthni (362), Al La’aali’ul Mashnuu’ah (2/16) dan Al ‘Ilal Al Mutanaahiyah (1/693)].

اَلْحَجَرُ اْلأَسْوَدُ يَمِيْنُ اللهِ فِي اْلأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ

34.  “Hajar Aswad adalah Tangan kanan Allah di muka bumi, Allah menyalami hamba-hamba-Nya dengannya.”

Maudhu‘, [Tarikh Baghdad oleh Al Khathiib (6/328), Al ‘Ilalul Mutanaahiyah (2/944) dan Adh Dha’iifah (223)].

صُوْمُوْا تَصِحُّوا

35.  “Berpuasalah, kalian akan sehat.”

Dha’if, [Takhrij Al Ihyaa’ (3/87), Tadzkiratul Maudhuu’at (70) dan Al Maudhuu’at oleh Ash Shaghaaniy (72)].

أَوْصَانِي جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْجَارِ إِلَى أَرْبَعِيْنَ دَاراً. عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَ عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا

36.  “Jibril ‘alaihis salam berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai berjumlah empat puluh tetangga; sepuluh dari sini, sepuluh dari situ, sepuluh dari sana dan sepuluh dari sini.”

Dha’if, [Kasyful Khafaa’ (1/1054), Takhrij Al Ihyaa’ (2/232) dan Al Maqaashid Al Hasanah (170)].

لَوْلَاكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا

37.  “Kalau bukan karena dirimu, tentu Aku tidak akan menciptakan dunia.”

Maudhu’, [Al Lu’lu’ul Marshuu’ oleh Al Masyisyi (454), Tartiibul Maudhuu’at (196) dan Adh Dha’iifah (282)].

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

38.  “Barang siapa yang membaca surat Al Waaqi’ah di setiap malam, niscaya ia tidak akan tertimpa kemiskinan selama-lamanya.”

Dha’if, [Al ‘Ilalul Mutanaahiyah (1/151), Tanziihusy Syarii’ah (1/301) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (972)].

مَنْ أَصْبَحَ وَهَمُّهُ غَيْرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

39.  “Barang siapa yang di pagi harinya, harapannya adalah kepada selain Allah Azza wa Jalla, maka ia lepas dari Allah, dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk golongan mereka.”

Maudhu’, [Al Fawaa’idul Majmuu’ah (233), Tadzkiratul Maudhuu’at (69) dan Adh Dha’iifah (309-312)].

كَمَا تَكُوْنُوْا يُوَلِّيْ عَلَيْكُمْ

40.  “Sebagaimana keadaan kalian, maka Dia akan mengangkat kalian.”

Dha’if, [Kasyful Khafaa’ (2/1997), Al Fawaa’idul Majmuu’ah (624) dan Tadzkiratul Maudhuu’at (182)].

كَمَا تَكُوْنُوْا يُوَلِّيْ عَلَيْكُمْ

41.  “Sebagaimana keadaan kalian, maka Dia akan mengangkat kalian.”

Dha’if, [Al Fawaa’idul Majmuu’ah (624), Tadzkiratul Maudhuu’at (182) dan Kasyful Khafaa’ (2/1997)].

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ. فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

42.  “Barang siapa yang kelahiran seorang anak, lalu ia azankan pada telinga kanan dan ia iqamatkan pada telinga kiri, maka ia tidak akan diganggu oleh Ummush Shibyaan (setan).”

Maudhu’, [Al Miizaan oleh Adz Dzahabiy (4/397), Majma’uz Zawaa’id oleh Al Haitsamiy dan Takhrij Al Ihyaa’ (2/61)].

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ ، فَلَهُ أَجْرُ مِئَةِ شَهِيْدٍ

43.  “Barang siapa yang berpegang dengan sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka ia akan memperoleh pahala seratus orang syahid.”

Dha’iif jiddan (sangat dha’if), [Dzakhiiratul Huffaazh (4/5174) dan Adh Dha’iifah (326)].

اَلْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ لَهُ أَجْرُ شَهِيْدٍ

44.  “Orang yang berpegang dengan sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka ia akan memperoleh pahala seorang syahid.”

Dha’if, [Adh Dha’iifah (372)].

أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ

45.  “Saya adalah putera dari dua orang yang hendak disembelih.”

Tidak ada asalnya, [Risalah Lathiifah oleh Ibnu Qudaamah (23), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (81) dan An Nukhbah Al Bahiyyah oleh As Sinbaawiy (43)].

اَلنَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ عِبَادَةٌ، وَنَظَرُ الْوَلَدِ إِلَى الْوَالِدَيْنِ عِبَادَةٌ، وَالنَّظَرُ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عِبَادَةٌ

46.  “Melihat Mus-haf Al Qur’an adalah ibadah, seorang anak melihat kedua orang tuanya adalah ibadah, dan melihat Ali bin Abi Thalib adalah ibadah.”

Maudhu’ [Adh Dha’iifah (356)].

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

47.  “Barang siapa yang shalat di masjidku sebanyak empat puluh kali, tidak sampai luput satu pun shalat, kecuali akan dicatat terlepas dari neraka, selamat dari azab dan terlepas dari kemunafikan.”

Dha’if, [Adh Dha’iifah (364)].

اَلْأَقْرَبُوْنَ أَوْلَى بِالْمَعْرُوْفِ

48.  “Para kerabat terdekat lebih layak diberikan perkara yang ma’ruf.”

Tidak ada asalnya, [Al Asraarul Marfuu’ah (51), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (55) dan Al Maqaashid Al Hasanah (!41)].

آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ مِنْ جُهَيْنَةَ ، يُقَالُ لَهُ: جُهَيْنَةُ ، فَيَسْأَلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ: هَلْ بَقِيَ أَحَدٌ يُعَذَّبُ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ فَيَقُوْلُوْنَ: عِنْدَ جُهَيْنَةَ الْخَبَرُ الْيَقِيْنُ

49.  “Orang yang terakhir masuk surga adalah seorang yang berasal dari suku Juhainah yang bernama Juhainah, lalu penduduk surga bertanya kepadanya, “Masih adakah orang yang disiksa?” ia menjawab, “Tidak,” kemudian mereka berkata, “Sesungguhnya pada si Juhainah ada berita yang meyakinkan.”

Maudhu’, [Al Kasyful Ilaahiy oleh Ath Tharaablisi (1/161), Tanziihusy Syarii’ah (2/361) dan Al Fawaa’idul Majmuu’ah (1429)].

خَيْرُ الْأَسْمَاءِ مَا عُبِّدَ وَمَا حُـمِّدَ

50.  “Sebaik-baik nama adalah yang diawali ‘abdun atau dengan nama Muhammad.”

Maudhu‘, [Al Asraarul Marfuu’ah (192), Al Lu’lu’ul Marshuu’ (189) dan An Nukhbah (117)].

=

Iklan