Risalah Taubat

(Bag.1) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Syarat Taubat Nasuha

2. Anjuran Bertaubat dan Menjauhi Dosa

3. Bertaubat Kepada Allah Ta’ala

5.Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat

6.Kepalsuan Riwayat Bertaubatnya Nabi Adam‘alaihis-salaam

7.Taubat, Syarat & Adabnya

8. Taubat dan Keutamaannya

9. Shalat Taubat dan Syaratnya

Lombok Bertauhid Bag.1-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp3

Lombok Bertauhid Bag.2-Ust Abdul Hakim Amir Abdat.mp3

Ketika Musibah Datang Lakukan Ini-Ust Yazid Jawas

Fiqh Bermedia Sosial-Firanda Andirja

Wajibnya Bertaubat-Abdurrazaq Abdul Muhsin al-’Ibbad Al-Badr

Taubat.(DR. Firanda Andirja, MA)

Kewajiban Bertaubat (Bag-2)(DR. Firanda Andirja, MA)

Kewajiban Bertaubat (Bag-1)(DR. Firanda Andirja, MA)

Tanda Taubat Nasuha” Oleh Ustadz Ahmad Zainuddin Lc

Riyadhus Shalihin – Bab Taubat (Sesi-4 Final)(DR. Khalid Basalamah, MA)

Riyadhus Shalihin – Bab Taubat (Sesi-3)(DR. Khalid Basalamah, MA)

Riyadhus Shalihin – Bab Taubat (Sesi-2)(DR. Khalid Basalamah, MA)

Riyadhus Shalihin – Bab Taubat (Sesi-1)(DR. Khalid Basalamah, MA)

Kumpulan Kajian Taubat Radiorodja

Kumpulam Ebook

Taubat Jalan Menuju Surga

Membersihkan Hati Dengan Taubat

Mukhtasar Shahih Muslim-Kitab Tentang Taubat

Istigfar dan Taubat

Risalah Taubat

Bahagianya Allah dengan Taubatnya Seorang Hamba

Nikmatnya Taubat

Mengganti Ibadah Setelah Taubat

Hukum Mengganti Shalat Dan Puasa Yang Sengaja ditinggal Sebelum Bertaubat

_==

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Risalah Taubat (1)

(Diringkas dari kitab “Uriidu An Atuuba wa laakin” karya Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid oleh Marwan bin Musa)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kaum mukminin semuanya untuk bertaubat, Dia berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Allah membagi hamba-hamba-Nya kepada dua golongan yaitu hamba yang bertobat dan hamba yang zalim, tidak ada yang ketiganya, Dia berfirman,

وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujuraat: 11)

Zaman sekarang adalah zaman banyaknya manusia yang jauh dari agama Allah, maksiat merata, dan kerusakan melanda sehingga hampir tidak ada satu pun orang kecuali telah dilumuri oleh dosa-dosa, selain orang yang Allah jaga.

Akan tetapi, Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci, sehingga banyak manusia yang sadar dari kelalaiannya dan bangun dari tidurnya. Mereka menyadari sikapnya selama ini yang jauh dari jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalan orang yang sesat (Nasrani). Mereka pun pergi menuju menara tobat, sedangkan yang lain sudah mulai bosan dengan hidupnya, sehingga berangkatlah mereka bersama-sama untuk keluar dari kegelapan kepada cahaya.

Namun di tengah perjalanan menuju tobat ada hambatan-hambatan yang mereka kira menghalanginya dari tobat; ada hambatan yang muncul dari dalam dirinya dan ada juga hambatan yang muncul di lingkungannya.

Oleh karena itu, semoga tulisan ini dapat menyingkirkan hambatan-hambatan yang datang sehingga bisa melanjutkan perjalanannya menuju menara tobat.

  • Bahaya meremehkan dosa

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan tiga kesempatan kepada kita untuk bertobat:

Pertama, Sebelum dicatat dosa itu oleh malaikat, berdasarkan hadits berikut:
اِنَّ صَاحِبِ الشَّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْهَا اَلْقَاهَا وَاِلاَّ كُتِبَتْ وَاحِدَةً
Sesungguhnya malaikat yang berada di sebelah kiri mengangkat pena (tidak mencatat) selama enam jam[i] ketika seorang hamba yang muslim melakukan dosa, jika ia menyesali perbuatannya dan meminta ampunan Allah terhadapnya, maka dilepaslah pena itu, namun jika tidak demikian, maka akan dicatat satu dosa.”[ii]

Kedua, Setelah dicatat dan,

➡ Ketiga, Sebelum ajal tiba.

Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengenal siapa Allah dan tidak mengetahui keagungan-Nya sehingga membuat mereka berani mendurhakai-Nya dengan melakukan dosa-dosa di malam dsan siang hari. Ada di antara mereka yang menganggap remeh suatu dosa, misalnya mengatakan, “Memangnya, apa bahaya memandang wanita?” atau “Memangnya, apa bahaya dari berjabat tangan dengan lawan jenis?” akhirnya mereka berani memandang wanita yang terbuka aurat baik di koran, majalah, televisi, dan lain-lain. Sampai-sampai di antara mereka ketika mengetahui haramnya suatu perbuatan, bertanya, “Apakah dosa ini besar atau kecil?”
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan yang kalian kira lebih ringan dari sehelai rambut, padahal kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya termasuk perbuatan yang dapat membinasakan.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
«إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ» –أَيْ بِيَدِهِ- فَذَبَّهُ عَنْهُ
Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah sebuah bukit, ia takut kalau bukit itu runtuh menimpanya. Sedangkan orang fajir (fasik) memandang dosa-dosanya seakan-akan ada lalat yang menempel di hidungnya, lalu ia berbuat seperti ini –yakni dengan tangannya- ia menyingkirkan lalat itu.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari)



Ahli ilmu menjelaskan bahwa dosa yang kecil itu jika dilakukan tanpa ada rasa malu, tidak peduli sama sekali, dan hilangnya rasa takut kepada Allah disertai sikap meremehkan bisa menjadikannya dosa besar.

Oleh karena itu,
لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِمْرَارَ وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ

Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, 
dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar.



Menganggap remeh suatu dosa adalah penyakit berbahaya, kepada orang yang terserang penyakit ini, kami katakan, “Kamu jangan lihat kecilnya dosa yang kamu kerjakan, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”

  • Syarat Tobat

Tobat adalah kata-kata mulia yang isinya dalam, tidak seperti yang disangka oleh banyak orang yaitu hanya ucapan di lisan namun perbuatannya masih tetap di atas dosa, perhatikanlah ayat berikut ini:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (QS. Huud: 3)
Dari ayat ini kamu dapat mengetahui bahwa tobat adalah sesuatu yang lebih setelah istighfar.

Karena masalah taubat adalah masalah yang sangat penting, para ulama menyebutkan syarat-syarat tobat yang mereka ambil dari Al Qur’an dan As Sunnah, inilah syarat-syaratnya:

  • 1.       Segera meninggalkan perbuatan dosa itu.
  • 2.       Menyesalinya.
  • 3.       Berniat keras untuk tidak mengulangi.

Dan jika ada hak orang lain yang kita ambil/zalimi maka ditambah dengan yang keempatnya yaitu mengembalikan hak mereka atau meminta dihalalkan[iii]. Berdasarkan hadits berikut:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ » .
Barang siapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun yang lainnya, maka mintalah untuk dihalalkan hari ini sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka kejahatan orang itu akan dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Sebagian ahli ilmu menyebutkan syarat lain taubat nashuha (tobat yang sesungguhanya), yaitu:

  • Pertama, meninggalkan dosa tersebut karena Allah.

Yakni ia meninggalkan dosa tersebut bukan karena tidak mampu mengerjakannya, bukan juga karena takut dibicarakan oleh manusia. Sehingga tidaklah dinamakan tobat kalau seseorang meninggalkan dosa karena khawatir namanya menjadi buruk di masyarakat. Dan tidaklah dinamakan tobat kalau ia meninggalkan dosa karena khawatir sakit seperti orang yang meninggalkan zina karena khawatir terserang penyakit Aids.

  • Kedua, merasakan buruknya perbuatan dosa.

Yakni tobat yang sesungguhnya tidak mungkin membuat seseorang senang ketika mengingat dosa-dosanya yang telah lalu atau merasakan nikmat perbuatan dosa, atau bahkan ada keinginan untuk mengulanginya.

  • Ketiga, bersegera dalam bertobat.

Oleh karena itu, jika seseorang menunda-nunda tobat, berarti tobatnya masih kurang sunguh-sungguh.

  • Keempat, merasa khawatir tobatnya belum diterima.

Yakni seseorang yang bertobat tidak boleh memastikan bahwa tobatnya sudah diterima sehingga dirinya santai merasa aman dari makar Allah.

  • Kelima, adanya upaya untuk menutupi kekurangan dalam memenuhi hak Allah ketika mampu, misalnya mengeluarkan zakat yang ditahannya di tahun yang lalu, di samping adanya hak orang fakir di hartanya itu.
  • Keenam, meninggalkan tempat maksiat dan kawan-kawannya yang mendorongnya berbuat maksiat.

Hendaknya seseorang yang bertobat mengingat firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala ini,
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az Zukhruf: 67)


Dan kawan-kawannya yang buruk kelak akan saling melaknat satu sama lain. Oleh karena itu, hendaknya ia meninggalkan kawannya itu jika ia merasakan kesulitan mendakwahinya, dan jangan sampai memberikan kesempatan kepada setan menyeret dirinya dengan ikut duduk bersama mereka, karena ada saja orang yang yang kembali lagi berbuat maksiat ketika tetap bergaul dengan kawan-kawannya yang buruk.

✅ Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ . فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ . فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ . وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ . فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِى صُورَةِ آدَمِىٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ » .
Dahulu, di zaman sebelum kamu ada seseorang yang telah membunuh sembilan-puluh sembilan orang, dia pun bertanya kepada orang-orang siapa yang paling mengerti agama, lalu diberitahukanlah kepadanya seorang ahli ibadah, maka didatanginya ahli ibadah itu dan diberitahukannya bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih bisa diterima tobatnya? Maka ahli ibadah itu menjawab, “Tidak bisa.” Lalu dibunuhlah ahli ibadah itu sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya, namun dia (masih ingin bertobat) dan bertanya “Siapakah orang yang mengerti agama?” Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim (mengerti agama), ia pun memberitahukan kepada orang alim itu bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, “Apakah masih diterima tobatnya?” Orang alim itu menjawab, “Ya, siapakah yang dapat menghalangi seseorang untuk bertobat. Pergilah kamu ke kampung ini atau itu, karena di sana banyak orang-orang yang beribadah kepada Allah, beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan jangan kembali lagi ke kampungmu, karena kampungmu adalah kampung yang buruk.” Laki-laki ini pun pergi ke sana, di tengah perjalanan tiba-tiba maut datang, sehingga berselisih malaikat rahmat dan malaikat ‘adzab (siapa di antara keduanya yang mencabut nyawanya), malaikat rahmat mengatakan, “Bukankah ia datang untuk bertobat seraya menghadapkan hatinya kepada Allah?” Sedangkan malaikat azab mengatakan, “Tetapi dia belum sempat beramal saleh.” Maka datanglah kepada mereka seorang malaikat dalam bentuk manusia, dan dijadikanlah ia sebagai hakimnya, maka hakimnya mengatakan, “Ukur saja jarak antara kedua kampung itu, jika ternyata lebih dekat ke kampung yang satunya, maka yang mencabut adalah malaikat ini.” Kedua malaikat itu pun mengukur, ternyata lebih dekat ke kampung yang hendak ditujunya, maka dicabutlah nyawanya oleh malaikat rahmat.” (HR. Muslim)



Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa perbedaan jarak antara kampung asalnya dengan kampung tujuannya hanya sejengkal. Dan dalam riwayat yang lain juga disebutkan:
فَأَوْحَى اللهُ تَعَالىَ اِلىَ هَذِهِ اَنْ تُبَاعِدَنِي وَاِلَى هَذِهِ اَنْ تُقَرِّبَنِيْ وَقَالَ قِيْسُوْا مَا بَيْنَهُمَا فَوَجَدُوْهُ اِلىَ هَذِهِ اَقْرَبُ بِشِبْرٍ فَغَفَرَ لَهُ
Maka Allah Ta’ala mewahyukan ke kampung yang ini, “Menjauhlah” dan ke kampung yang itu “Mendekatlah,” lalu dikatakan, “Ukurlah jarak antara keduanya,” maka mereka pun mendapatkan ternyata jaraknya lebih dekat sejengkal ke kampung yang itu.”

[i] Jam di sini maksudnya bisa waktu yang singkat di malam atau siang hari.

[ii] HR. Thabrani dalam Al Kabir dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahiihah (1209).

[iii] Jika mereka tidak mau menghalalkan, maka kita wajib mengembalikan.

=

➡ Risalah Taubat (2)

  • Syarat Tambahan Tobat Nashuha

Ketujuh, menghilangkan benda-benda haram agar tidak kembali lagi berbuat maksiat.

Benda-benda haram itu misalnya minuman keras, alat musik, gambar porno, buku-buku yang mengisahkan kisah-kisah porno, patung dsb.

  • Kedelapan, mencari kawan yang membantunya menjalankan ketaatan atau membantunya tetap istiqamah.

Termasuk dalam hal ini adalah menghadiri majlis-majlis ta’lim dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengingatkannya kepada masa-masa yang telah berlalu.

  • Kesembilan, memperhatikan badannya.

Yakni yang sebelumnya badannya tumbuh dari yang haram dan untuk perbuatan yang haram, maka ia bersihkan dengan makanan yang halal dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

  • Kesepuluh, tobat tersebut dilakukan sebelum kiamat kecil yaitu ketika nyawa di tenggorokan dan sebelum tibanya tanda kiamat besar yaitu matahari terbit dari barat.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَابَ اِلىَ اللهِ قَبْلَ اَنْ يُغَرْغِرَ قَبِلَ اللهُ مِنْهُ
Barang siapa yang bertobat kepada Allah sebelum nayawanya di kerongkongan, maka Allah akan menerima tobatnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahiihul Jaami’ 6132).

dan sabdanya,
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ 
Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan menerima tobatnya.” (HR. Muslim)

  • Tobat menghapus semua kesalahan yang telah lalu

Mungkin terlintas di benak seseorang “Aku memang ingin bertobat, namun apa mungkin Allah akan mengampuni dosaku yang begitu banyaknya, diriku masih ragu. Kalau sekiranya aku mengetahui bahwa Allah mengampuniku, tentu aku akan bertobat.”
Kami katakan kepada anda, “Sesungguhnya perasaan yang menimpa anda, telah menimpa pula kepada orang-orang sebelum anda dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perhatikanlah kedua hadits di bawah ini agar hilang perasaan tersebut,



Pertama, Imam Muslim meriwayatkan tentang masuk Islamnya ‘Amr bin ‘Aash radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku katakan, “Bentangkanlah tanganmu, agar aku membaiatmu,” maka Beliau membentangkan tangannya, namun aku malah menggenggam tanganku, Beliau pun bertanya, “Ada apa dengamu wahai ‘Amr?” ‘Amr menjawab, “Aku ingin membuat syarat.” Beliau bertanya, “Syarat apa?” ‘Amr menjawab, “Yaitu agar Dia mengampuniku.” Beliau menjawab:
« أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ » .

Apa kamu tidak mengetahui, bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa yang lalu, hijrah juga menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, dan hajji juga menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu?”



Kedua, Imam Muslim juga meriwayatkan  dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ada orang-orang musyrik yang sering melakukan pembunuhan dan sering melakukan perbuatan zina, lalu mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya kata-kata dan seruanmu sangat bagus, kalau sekiranya engkau mau memberitahukan kepada kami sesuatu yang dapat menghapuskan amal perbuatan kami (tentu kami akan mengikuti),” maka turunlah ayat,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, juga tidak berzina. Barang siapa yang melakukan perbuatan (buruk) itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (QS. Al Furqan: 68)

Dan turun juga ayat,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Adapun perasaan bahwa dosa-dosa lebih banyak dari ampunan yang Allah siapkan, ini tidak lain timbul dari beberapa hal berikut ini:

  • 1.    Kurangnya rasa yakin seorang hamba terhadap luasnya rahmat Allah dan ampunan-Nya.
  • 2.    Kurangnya iman bahwa Allah berkuasa mengampuni semua dosa.
  • 3.    Hilangnya amalan hati yang sangat penting, yaitu rajaa’ (rasa harap).
  • 4.    Tidak mengetahui tobat itu sendiri, dan bahwa ia dapat menghapus dosa-dosa.

Untuk mengobati keempat perasaan ini, perhatikanlah ayat dan hadits di bawah ini:

✅ Obat untuk perasaan pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156)



Obat untuk perasaan kedua, Dalam hadits Qudsiy disebutkan,
قَالَ تَعَالىَ مَنْ عَلِمَ اَنِّي ذُوْ قُدْرَةٍ عَلىَ مَغْفِرَةِ الذُّنُوْبِ غَفَرْتُ لَهُ وَلاَ اُبَالِي مَالَمْ يُشْرِكْ بِيْ شَيْئًا

Allah Ta’ala berfirman, “Siapa saja yang mengetahui bahwa Aku dapat menghapuskan dosa-dosa, niscaya Aku akan mengampuninya, Aku tidak peduli (banyaknya dosa yang dikerjakan) selama dia tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu.”
(HR. Thabrani dalam Al Kabirr dan Hakim, Shahiihul Jaami’ 4330)



Obat untuk perasaan ketiga, dalam hadits Qudsiy juga disebutkan,
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam! Selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu. Aku tidak peduli (betapa pun banyak dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, kemudian kamu meminta ampunan kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai anak Adam! Jika kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menemui-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu, maka Aku akan menndatangkan kepadamu ampunan sepenuh itu pula.“ (HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hasan shahih”)



Obat untuk perasaan keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah, Shahihul Jaami’ 3008)
✅ Renungan surat Al Furqan ayat 68-70
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً- يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً – إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, juga tidak berzina. Barang siapa yang melakukan perbuatan (buruk) itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)—(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina—Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan: 68-70)
Firman Allah “Maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan” para ulama menjelaskan, bahwa diganti Allah dengan kebajikan ini ada dua macam:

  • 1.       Diganti sifatnya yang buruk dengan sifatnya yang baik, misalnya syirk diganti dengan iman, zina dengan rasa ‘iffah (menjaga kehormatan), dusta dengan sifat jujur, khianat diganti dengan amanah, dst.
  • 2.       Diganti keburukan-keburukan yang dikerjakannya dengan kebaikan-kebaikan pada hari kiamat.

Dan kebaikan yang digantikan untuknya bisa banyak, bisa juga setara dengan keburukan yang dikerjakan dan bisa juga sedikit tergantung kejujuran orang yang bertobat dan sempurnanya toubat yang dilakukan.

Allahu akbar, kemurahan apa lagi yang melebihi ini?
Disebutkan dalam hadits[i] bahwa ada seorang yang tua renta, alisnya berguguran di kedua matanya, sambil bersandar dengan sebuah tongkat, lalu berdiri di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seeorang yang telah mengerjakan semua dosa, tidak menyisakan sedikit pun, dikerjakannya dosa yang kecil dan besar tanpa terkecuali, apakah masih bisa diterima tobatnya?” Beliau bertanya, “Apakah anda memeluk Islam?” Ia menjawab, “Saya telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan engkau adalah utusan Allah.

✅ Beliau pun bersabda,
تَفْعَلُ الْخَيْرَاتِ وَتَتْرُكُ السَّيِّئَاتِ فَيَجْعَلُهُنَّ اللهُ لَكَ خَيْرَاتِ كُلِّهِنَّ
Kamu kerjakan kebaikan dan kamu tinggalkan keburukan, niscaya Allah akan menggantinya dengan kebaikan semua.”
Orang itu bertanya, “Apakah (dihapuskan juga) pelanggaran yang aku lakukan dan perbuatan jahatku?” Beliau menjawab, “Ya.”

Orang itu lantas mengucapkan “Allahu Akbar”, dan tetap terus bertakbir sampai pergi dan tidak terlihat lagi.

(Lanjut Ke Halaman 2)