Sirah Nabi 21: Wahyu Terhenti Sementara Waktu dan Tafsir Surat Al-Muddatstsir

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

 

1.Ibrah Dari Wahyu Pertama dan Kedua

2.Apakah Nabi Tidak Diperintahkan Menyampaikan Wahyu ?

3.Membangunkan Keluarga untuk Shalat Malam

 4.Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam

5.Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam Yang Ummi (Buta Huruf)

6.Kekhususan Nabi sallallahu alaihi wa sallamTerlambat Dalam Penguburannya

7.Orang Yang Beriman Kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- Pada Masa Hidup Beliau, Namun Tidak Melihat Beliau Dinamakan “al Mukhodrom”

Menggabungkan Antara Ayat: ( ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﻌﺼﻤﻚ ﻣﻦﺍﻟﻨﺎﺱ ) “ Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia”.

9.Dan Wafatnya Baginda Rasul Dengan Racun

10.Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamMendoakan Kaum Muslimin Yang Tidak Pernah Beliau Lihat?

11.Apakah Nabi sallallahu’alaihi wa sallam PernahMembunuh Salah Seorang Musyrik?

https://islamqa.info/id/20181

12. Bagaimana Allah Melapangkan Dada Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-

13.. Satu Malam Di Rumah Nabi

14. Perawatan dan perhatian Nabi shallallahu alaihi wa sallam Terhadap Puteri-Puterinya Saat Hidup dan Sesudah Kematian Mereka

Tafsir Surat Al-Muddatstsir Ayat 1-5 Faedah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. AliMusri Semjan Putra, M.A.)

Nabi Muhammad Diangkat Jadi Rasul-Ust Abdullah Zaen

Tafsir Surat Al-Muddatstsir Ayat 1-25– Kitab Tafsir Al-Muyassar (UstadzBadrusalam, Lc.)

Seputar Qiyamul Lail (Shalat Malam)(Ahmad Zainuddin, Lc)

Malam-Malam Terindah(DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Para Penggiat Ibadah Malam(Ahmad Zainuddin, Lc)

Kumpulan ebook

Shahih Sirah Nabawiyah-DR.Akram Dhiya’ Al- Umuri

Shafiyurrahman al-Mubarakfury – SirahNabawiyah

Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (lengkap) terjemahan bahasa indonesia

Pertama Kali Wahyu Turun

Kisah Kisah Para Sahabat Rasul

Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an& As-Sunnah-Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor

Anak Anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi waSallam-‘Abdul Aziz Asy-Syanawi (166Hlm)

Kisah Kisah Tentang Ka’bah-Abu Umar Urwah Al Bankawi

Mukhasar Shahih Muslim Bab Keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

Mukhasar Shahih Muslim Bab Keutamaan Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

Terputusnya Wahyu dari Langit-Majdi Muhammad Asy-Syahawi

Mengenal Sejarah Nabi – Khalid Syamhudi.

==

  • Terputusnya Wahyu

Para pembaca yang budiman, setelah turunnya wahyu pertama di Gua Hira, terjadilah keterputusan wahyu. Wahyu tak lagi turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beberapa waktu. Para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama waktu terputusnya wahyu itu. Sebagian mengatakan beberapa hari saja, sebagian lagi mengatakan bahwa hal tersebut terjadi sampai dua atau tiga tahun.

Namun sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang benar bahwa masa keterputusan wahyu itu berlangsung selama beberapa hari. Setelah diteliti melalui berbagai aspek, pendapat inilah yang lebih kuat. Wallahu a’lam .[1]

Di antara hikmah dari terputusnya wahyu ini adalah agar rasa takut beliau hilang. Selain itu wahyu terputus agar kerinduan beliau untuk bertemu dengan wahyu tersebut kembali lahir.

Setelah rasa takutnya hilang dan hatinya mulai tenteram hakikat kebenaran telah disadarinya dan kesiapan untuk menghadapi wahyu telah tegar, maka datanglah Jibril membawa wahyuberikutnya. [2]

Termasuk bagian dari hikmah keterputusan wahyu adalah bahwasanya wahyu itu adalah hak Allah yang Dia turunkan kapan saja yang Dia kehendaki. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memiliki hak sedikit pun memajukan ataupun memundurkan turunnya wahyu tersebut. [3]

Pada masa terputusnya wahyu tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dirundung kegelisahan yang demikian mendalam. Disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

ﻭَﻓَﺘَﺮَ ﺍﻟﻮَﺣْﻲُ ﻓَﺘْﺮَﺓً ﺣَﺘَّﻰ ﺣَﺰِﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻠَﻐَﻨَﺎ، ﺣُﺰْﻧًﺎﻏَﺪَﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﻣِﺮَﺍﺭًﺍ ﻛَﻲْ ﻳَﺘَﺮَﺩَّﻯ ﻣِﻦْ ﺭُﺀُﻭﺱِ ﺷَﻮَﺍﻫِﻖِ ﺍﻟﺠِﺒَﺎﻝِ، ﻓَﻜُﻠَّﻤَﺎ ﺃَﻭْﻓَﻰ ﺑِﺬِﺭْﻭَﺓِﺟَﺒَﻞٍ ﻟِﻜَﻲْ ﻳُﻠْﻘِﻲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﺗَﺒَﺪَّﻯ ﻟَﻪُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻳَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِﺣَﻘًّﺎ، ﻓَﻴَﺴْﻜُﻦُ ﻟِﺬَﻟِﻚَ ﺟَﺄْﺷُﻪُ، ﻭَﺗَﻘِﺮُّ ﻧَﻔْﺴُﻪُ، ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻃَﺎﻟَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺘْﺮَﺓُ ﺍﻟﻮَﺣْﻲِﻏَﺪَﺍ ﻟِﻤِﺜْﻞِ ﺫَﻟِﻚَ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﻭْﻓَﻰ ﺑِﺬِﺭْﻭَﺓِ ﺟَﺒَﻞٍ ﺗَﺒَﺪَّﻯ ﻟَﻪُ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ

Wahyupun mengalami keterputusan hingga membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedih –sebagaimana yang sampai kepada kami- dan berkali-kali kesedihan tersebut berulang sampai membuatnya beliau ingin terjun dari puncak tepian bukit. Setiap kali mencapai puncak bukit untuk terjun maka muncullah Jibril dan berkata, “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang benar,” sehingga badan dan jiwa beliau tenang kembali lalu pulang. Namun di saat wahyu itu tak kunjung tiba maka beliau pun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya. Ketika beliau mencapai puncak gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya sebagaimana yang sebelumnya terjadi.”[4]

  • JIBRIL ‘ALAIHISSALAM TURUN KEMBALI MEMBAWA WAHYU

Disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar bahwa masa terputusnya wahyu sungguh menghilangkan ketakutan yang telah dialami oleh diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membuat beliau bersemangat untuk kembali mengalaminya. Dan ketika.hal ini benar terjadi dan beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam untuk kedua kalinya.

Al-Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang turunnya kembali wahyu kepada beliau.

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻣْﺸِﻲ ﺇِﺫْ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺻَﻮْﺗًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ، ﻓَﺮَﻓَﻌْﺖُ ﺑَﺼَﺮِﻱ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻟﻤَﻠَﻚُ ﺍﻟَّﺬِﻱﺟَﺎﺀَﻧِﻲ ﺑِﺤِﺮَﺍﺀٍ ﺟَﺎﻟِﺲٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﺮْﺳِﻲٍّ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ، ﻓَﺮُﻋِﺒْﺖُ ﻣِﻨْﻪُ،ﻓَﺮَﺟَﻌْﺖُ ﻓَﻘُﻠْﺖُ: ﺯَﻣِّﻠُﻮﻧِﻲ ﺯَﻣِّﻠُﻮﻧِﻲ ” ﻓَﺄَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ: } ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻤُﺪَّﺛِّﺮُ . ﻗُﻢْﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ{ ‏[ﺍﻟﻤﺪﺛﺮ: 2‏] ﺇِﻟَﻰ ‏[ ﺹ8:‏] ﻗَﻮْﻟِﻪِ } ﻭَﺍﻟﺮُّﺟْﺰَ ﻓَﺎﻫْﺠُﺮْ { ‏[ ﺍﻟﻤﺪﺛﺮ: 5‏] . ﻓَﺤَﻤِﻲَﺍﻟﻮَﺣْﻲُ ﻭَﺗَﺘَﺎﺑَﻊَ

Ketika aku tengah berjalan-jalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, lalu aku mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata malaikat yang dahulu mendatangiku ketika di Gua Hira duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun merasakan ketakutan, maka aku pulang ke rumah dan aku katakan kepada istriku, “Selimuti aku..selimuti aku..” Maka Allah menurunkah firman-Nya,

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺪَّﺛِّﺮُ ‏(1‏) ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ ‏(2‏) ﻭَﺭَﺑَّﻚَ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ ‏(3 ‏) ﻭَﺛِﻴَﺎﺑَﻚَ ﻓَﻄَﻬِّﺮْ ‏(4 ‏) ﻭَﺍﻟﺮُّﺟْﺰَﻓَﺎﻫْﺠُﺮْ ‏(5 ‏) 5

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan (kepada manusia) dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, danperbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (Al Mudattsir: 1-5)

Setelah itu wahyu tetap terjaga dan datang secara teratur.”[5]

  • MAKNA DARI AYAT-AYAT AWAL SURAT AL MUDATTSIR

Para ulama telah menjelaskan makna dari wahyu kedua yang Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.

✅ Makna dari

ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ

Sampaikanlah peringatan”, ialah perintah kepada beliau untuk menyampaikan peringatan agar manusia menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

ﻭَﺭَﺑَّﻚَ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ

Dan Rabbmu agungkanlah”,

yaitu agungkanlah ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata.

ﻭَﺍﻟﺮُّﺟْﺰَ ﻓَﺎﻫْﺠُﺮْ

Danperbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”, artinya jauhkan serta bebaskan dirimu dari berhala-berhala dan orang-orang yang memujanya. Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau dimi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian,sesudah itu barulah, beliau diperintahkan utuk berhijrah ke Madinah. [6]

Ayat-ayat awal dari surat Al-Muddatstsir ini berbicara tentang seruan langit yang memerintahkan agar Rasulullah memulai dakwah yang mulia ini. Beliau juga diperintahkan untuk mempersiapkan diri beliau untuk menempuh jalan dakwah dan tidak bersantai-santai. Allah berfirman,

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺪَّﺛِّﺮُ ‏(1‏) ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ ‏(2

Hai orang yang berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2) .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian pun bangkit menjalankan perintah tersebut selama lebih dari dua puluh tahun. Beliau tidak pernah beristirahat dan tidak pula hanya hidup untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Yang ada di benak beliau adalah bagaimana mengajak manusia kepad tauhidullah sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada.ummatnya.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﻋَﻨِﺘُّﻢْ ﺣَﺮِﻳﺺٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَﺭَﺀُﻭﻑٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 108)

Semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada nabi dan junjungan kita Muhammad, keluarga, para sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman..Wallahu a’lam bisshawab.

(bersambung)

Catatan Kaki:

[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum,(Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 86.

[2]Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, Fiqhus Sirah, (Riyadh: DarutTadmuriyyah, 1424 H) hlm. 133.

[3] Ibid.

[4] Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah membuat sebuah catatan yang layak untuk didiskusikan tentang riwayat ini. Bagi para penuntut ilmu yang ingin mendapatkan faidah dari kalam beliau bisa merujuk Silsilah Al Ahaadits Adh Dhaifah, Jilid 10, mulai dari halaman 450.

[5] Ibrahim Al ‘Ali, Shahih As Sirah An Nabawiyyah, (Amman:Daarun Nafaais, 2010), hlm. 70.

[6] Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Muhammad Shalih AlUtsaimin, Syarah Tsalatsatil Ushul, (Riyadh: Daruts Tsuroyya,

2005), hlm. 124

Ust Wira Bachrun

=

  • Faedah Sirah Nabi: Wahyu Terhenti Sementara Waktu

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama, kemudian wahyu terhenti selama enam bulan atau lebih. Hal itu mengandung mukjizat ilahi yang mengagumkan.

Hal ini merupakan sanggahan yang paling tepat terhadap para orientalis yang menganggap wahyu sebagai produk perenungan panjang yang bersumber dari dalam diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sesuai kehendak ilahi, malaikat yang dilihatnya kali pertama di gua Hira itu tidak muncul sekian lama sehingga menimbulkan kecemasan di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Selanjutnya, kecemasan itu berubah menjadi rasa takut terhadap dirinya karena khawatir dimurkai oleh Allah—setelah dimuliakan-Nya dengan wahyu—lantaran suatu tindakan yang dilakukannya sehingga dunia yang luas ini terasa sempit bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan terbetik rasa ingin menjatuhkan diri dari atas gunung. Sampai akhirnya pada suatu hari, malaikat yang dilihatnya di gua Hira itu muncul kembali, erlihat di antara langit dan bumi seraya berkata, “Wahai.Muhammad, engkau adalah utusan Allah kepada manusia.” Dengan rasa takut dan cemas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali lagi ke rumah, di mana diturunkanlah firman Allah,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺪَّﺛِّﺮُ ‏(1 ‏) ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ ‏(2 ‏)

Hai orang yang berkemul (berselimut),bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Mudatstsir: 1-2) (Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah , hlm. 65-66)

✅ Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa surat pertama yang turun setelah masa kosongnya wahyu ( fatroh ) adalah surat Al- Mudatstsir.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika masa kosong turunnya wahyu, aku berjalan sambil mendengar suara dari langit. Aku angkat pandanganku ke langit. Kemudian malaikat yang mendatangiku saat wahyu pertama dahulu duduk pada kursi di antara langit dan bumi, lalu aku tunduk merunduk, jatuh ke tanah. Ketika itu aku mendatangi keluargaku, lalu menyuruh mereka menyelimutiku. Sambil kukatakan, ‘Selimuti aku, selimuti aku.’ Lantas turunlah firman Allah,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺪَّﺛِّﺮُ ‏(1 ‏) ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ ‏( 2‏) ﻭَﺭَﺑَّﻚَ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ ‏(3 ‏) ﻭَﺛِﻴَﺎﺑَﻚَ ﻓَﻄَﻬِّﺮْ ‏( 4‏)ﻭَﺍﻟﺮُّﺟْﺰَ ﻓَﺎﻫْﺠُﺮْ ‏( 5 ‏)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah .’ (QS. AlMudatstsir: 1-5). Kemudian setelah itu wahyu turun berturut-turut. (HR. Bukhari, no. 4 dan Muslim, no. 161)

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menganggap bahwa masa kosongnya wahyu cuma beberapa hari saja, bukan seperti pendapat yang lainnya hingga tiga atau dua setengah tahun. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengasingkan diri ke gua Hira pada bulan Ramadhan sebelum masa kenabian. Di gua Hira itu, beliau berada selama sebulan dan itu berlangsung selama tiga tahun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti keluar dari gua Hira pada bulan Syawal.

Padahal wahyu pertama turun sebagaimana telah dibahas sebelumnya pada malam Senin dari malam ke-21 Ramadhan. Berarti masa kosongnya wahyu hanya sekitar sepuluh hari saja.nWahyu berikutnya turun pada pagi hari Kamis pada awal Syawal, tahun pertama dari nubuwah (setelah diangkat jadi nabi). Inilah yang jadi rahasia mengenai dikhususkannya sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk menyendiri dengan i’tikaf dan awal Syawal dikhususkan untuk ‘ied umat Islam . Wallahu a’lam .(Ar-Rahiq Al-Makhtum , hlm. 88-89)

  • Catatan Mengenai I’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid untuk beribadah kepada Allah dilakukan oleh orang yang khusus dengan tata cara yang khusus. (Lihat Ahkam Al-I’tikaf , hlm. 27 dan Al- Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah , 5:206)

Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan maksud i’tikaf dalam kitab Zaad Al-Ma’ad (2:82-83), “Maksud i’tikaf adalah mengkonsentrasikan hati supaya beribadah penuh pada Allah. I’tikaf berarti seseorang menyendiri dengan Allah dan memutuskan dari berbagai macam kesibukan dengan makhluk.

Yang beri’tikaf hanya berkonsentrasi beribadah pada Allah saja. Dengan hati yang berkonsentrasi seperti ini, ketergantungan hatinya pada makhluk akan berganti pada Allah. Rasa cinta dan harapnya akan beralih pada Allah. Ini tentu saja maksud besar dari ibadah mulia ini. Jika maksud i’tikaf memang demikian, maka berarti i’tikaf semakin sempurna jika dilakukan dengan Ibadah puasa. Dan memang lebih afdhol dilakukan di hari-hari puasa.”

Mengenai masalah i’tikaf disebutkan dalam ayat,

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺒَﺎﺷِﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﻛِﻔُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Ayat di atas menerangkan bahwa saat i’tikaf tidak boleh seseorang keluar dari masjid lalu menemui istrinya untuk berhubungan intim kemudian kembali lagi ke masjid. Allah.melarang seperti itu. Ini semua ingin menunjukkan di antaranya hikmahnya i’tikaf adalah untuk bisa berkonsentrasi dalam ibadah.

➡ Di antara hikmah ibadah i’tikaf adalah:

  • 1- Hati lebih berkonsentrasi dan bersendirian dalam ibadah pada Allah.
  • 2- Memutuskan diri dari berinteraksi dengan lainnya dan hanya menyibukkan diri dengan Allah.
  • 3- Mudah untuk konsentrasi dalam dzikir.
  • 4- Tafakkur (merenungkan diri).
  • 5- Muhasabah (introspeksi diri).
  • 6- Mudah untuk memanjatkan doa.
  • 7- Lebih memperbanyak ibadah.

Sedangkan hikmah terbesar dari i’tikaf–sebagaimana kata Ibnul Qayyim– adalah untuk membuat seseorang makin cinta pada Allah sebagai ganti kecintaannya pada makhluk . Lihat Zaad Al-Ma’ad , 2:86-87.

Mengenai i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini, di mana beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari, no. 2026; Muslim, no. 1172).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun di tahun beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari, no. 2044).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Beliau ingin mengasingkan diri dari berbagai kesibukan dengan melakukan i’tikaf. Dengan menyendiri akan lebih berkonsentrasi dalam dzikir dan do’a. Dan beliau pun benar-benar menjauh dari manusia kala itu.” Lihat Lathaif Al-Ma’arif , hlm. 338.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

1. Ahkam Al-I’tikaf. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Prof. Dr. Khalid bin ‘Ali Al.Musyaiqih. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd;

2. Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah . Penerbit Wizaroh Al-Awqof wa Asy-Syu’un Al-Islamiyyah (Kementrian Agama Kuwait);

3. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah ma’a Mujaz li Tarikh Al-Khilafah Ar-Rasyidah . Cetakan kedua puluh empat, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. PenerbitDar As-Salam;

4. Lathaif Al-Ma’arif fii Maa Limawasim Al-‘Aam min Al-Wazhoif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami;

5. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir . Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit.Dar Ibnul Jauzi;

6. Zaad Al-Ma’ad fii Hadyi Khair Al-‘Ibad . Cetakan keempat,tahun 1425 H. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. PenerbitMuassasah Ar-Risalah.

Ust M Abduh Tuasikal

=(lanjut Ke Halamn 2)

Iklan