Mengunggah…
​Ringkasan Tentang Bulan Shafar 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Bulan Shafar

2. Rebo Wekasan Ritual Bid’ah Bulan Shafar

3.Bulan Pantangan Untuk Menikah Bulan Shafar

4.Bulan Safar Bulan Sial?

5.Beranggapan Sial Berbau Syirik

6. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Akan Datang Memutuskan Keadilan

7.Sebab Penamaan Bulan-bulan Hijriyah DenganNama-nama Yang Sudah Ada

8.Kemukjizatan Al Qur’an Dari Sisi Jumlah Bilangan dan Penggunaan Kalender Maseh

9.Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat Kusir

 

Mitos Sial Dibalik Bulan Shafar (Ahmad Zainuddin, Lc)

Adalah Bulan Shafar yang Sial (Ahmad Zainuddin, Lc

Bulan Shafar Bukan Bulan Sial (Ahmad Zainuddin, Lc

Cerita Tentang Bulan Shafar (Ahmad Zainuddin, Lc

Keyakinan Bulan Shafar Bulan Sial (Ahmad Zainuddin, Lc 

Shafar Bukan Bulan Sial (Ahmad Zainuddin, Lc)

Batilnya.Keyakinan Bulan Safar Bulan Sial –Ustadz Badrusalam,Lc

Kumpulan Ebook

Bantahan Ilmiah Terhadab Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”

15 Faidah Bulan Safar-Muhammad Shalih al-Munajjid

Pelajaran Di Bulan Syafar

Kalender 1440H 
393. Memahami Agama Garda Pelindung Dari FitnahPenulis: Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan

Bunuh Diri, Mencelakan Diri SendiriPenulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Hukuman Bagi PEMBERONTAK-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry

Hukuman Bagi PERAMPOK-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry

ALLAH Yang Maha DisembahPenulis: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq binAbdil Muhsin Al-Abbad ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Hukuman Bagi PENCURI-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry

Hukuman Bagi PEMINUM KHOMAR DAN NARKOBA-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry

=

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga

hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Bulan Shafar, semoga Allah

menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

  • Ringkasan Tentang Bulan Shafar

Bulan shafar adalah salah satu dari dua belas bulan hijriyah. Yaitu bulan setelah Muharam. Sebagian mengatakan, “Dinamakan hal itu kerena kekosongan Mekkah dari penduduknya (Maksudnya kosong dari penduduknya) ketika mereka bepergian. Dikatakan, dinamakan bulan shafar karena mereka para kabilah pergi berperang dan meninggalkan siapa yang ditemuinya barang bawaannya tanpa sisa (maksudnya merampas barang bawaannya sehingga tidak punya barang sama sekali). Silahkan melihat Lisanul Arab, karangan Ibnu Munzir juz/4 hal/462-463.

✅ Pembahasan tentang bulan ini mencakup beberapa point berikut:

  • 1.       Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah
  • 2.       Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan penduduk jahiliyah
  • 3.       Apa yang ada dalam bulan ini berupa bid’ah, keyakinan sesat dari orang yang menyandarkan ke agama Islam
  • 4.       Kejadian pada bulan ini dari peperangan dan kejadian penting pada kehidupan Nabi sallallahu alaihi wa sallam
  • 5.       Hadits dusta yang ada di bulan Shafar

Pertama:

  • Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah

Dahulu orang Arab pada bulan shafar dua kemungkaran besar, pertama mempermainkan di dalamnya mengedepankan dan mengakhirkan. Kedua, pesimis darinya

✅ 1. Telah diketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan setahun dan dua belas bulan. Allah telam menjadikan diantaranya empat bulan haram. Diharamkan di dalamnya peperangan untuk mengagungkannya. Bulan-bulan ini adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Yang membenarkan hal itu dalam kitab Allah dalam firmanNya:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم  (سورة التوبة: 36)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Orang-orang musyrik telah mengetahui akan hal itu. Akan tetapi mereka mengakhirkan dan memajukan sesuai hawa nafsunya. Di antaranya adalah mereka menjadikan bulan ‘Shafar’ pengganti dari bulan ‘Muharam’.

Mereka meyakini bahwa umrah pada bulan haji termasuk perilaku yang sangat jelek. 

✅ Ini di antara pendapat ahli ilmu akan hal itu:  

✅ A. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, 

كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض ، ويجعلون المحرَّم صفراً ، ويقولون : إذا برأ الدَّبر ، وعفا الأثر ، وانسلخ صفر : حلَّت العمرة لمن اعتمر (رواه البخاري، رقم 1489 ومسلم، رقم 1240)

 “Mereka dahulu berpendapat bahwa umrah di bulan Haji kedurhakaan paling besar  di muka bumi. Mereka menjadikan Muharam sebagai bulan Shafar. Mereka mengatakan: Jika onta jamaah haji telah kembali, bekas-bekas tapak kakinya telah hilang, bulan shafar telah habis, maka dihalalkan umrah bagi yang ingin menunaikan umrah.” (HR. Bukhari, no. 1489 dan Muslim, no. 1240).

✅ B. Ibnul Arabi mengatakan, “Permasalahan kedua, tentang mengakhirkan,  itu ada tiga pendapat: 

Pertama, dari Ibnu Abbas bahwa Junadah bin Auf bin Umayyah Al-Kinany biasanya menunaikan musim tiap tahun. Sambil memanggil, “Ketahuilah bahwa Abu Tsumamah tidak dicela dan tidak dijawab. Ketahuilah bahwa bulan shafar pada tahun pertama halal. Lalu kami haramkan pada tahun ini dan kita halalkan tahun berikutnya. Mereka bersama kabilah Hawazin, Gotofan dan Bani Salim.

Dalam redaksi lain, “Bahwa dia mengatakan,”Kita dahulukan Muharam dan akhirkan Safar. Kemudian ketika datang tahun kedua, dia mengatakan, “Kita jadikan bulan haram adalah bulan Shafar dan akhirkan Muharam. Maka inilah yang dimaksud mengakhirkan. 

Kedua: menambah. Qatadah mengatakan, “Kaum ahli Dholal sengaja menambah Shafar dalam bulan Haram, maka pemimpin mereka berdiri waktu musim (haji) dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian pada tahun ini telah mengharamkan bulan Muharam, sehingga mereka mengharamkannya pada tahun itu. Kemudian pada tahun depan dia berdiri dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian mengharamkan bulan Shafar, maka mereka mengharamkannya pada tahun itu dan mereka menyebutnya dengan istilah ‘dua Shafar’. Diriwayatkan Ibnu Wahb, Ibnu Qasim dari Malik dan semisalnya mengatakan, “Dahulu penduduk jahiliyah menjadikan dua Shafar. Oleh karena itu Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada Shafar.” Begitu juga yang diriwayatkan dari Asyhab darinya. 

Ketiga:  Mengganti haji, Mujahid mengatakan dengan sanad yang lain firman Allah:

إنما النسيء زيادة في الكفر

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” (QS. At-Taubah: 37).

Beliau mengatakan, “Mereka menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah selama dua tahun. Kemudian menunaikan haji pada bulan Muharam selama dua tahun. Kemudian mereka menunaikan haji pada bulan Shafar selama dua tahun. Sehingga mereka menunaikan haji pada setiap tahun pada setiap bulan selama dua tahun. Sampai Abu Bakar menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah.

Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikan pada bulan Dzulhijjah. Itulah ucapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shoheh dalaml khutbahnya, “Sesungguhnya waktu berputar seperti kondisi Allah hari Allah menciptakan langit dan bumi.’

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan lainnya dan dengan redaksina mengatakan, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, dengarkan perkataanku, sesungguhnya saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan kalian semua lagi setelah hari ini, di tempat wukuf ini. Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian terlindungi sampai hari engkau semua bertemu dengan tuhanmu (hari kiamat), sebagaimana kehormatan hari ini, di bulan ini, di negaramu ini. Sesungguhnya kamu kalian akan bertemu dengan tuhan kalian dan Dia akan menanyakan amal kamu semua. Sungguh saya telah menyampaikan. Siapa yang mempunyai amanah, hendaklah dia tunaikan kepada orang yang diamanahinya. Sesungguhnya setiap riba telah dihapus. Bagi kamu semua modal utamanya. Jangan mendholimi dan jangan didholimi. Allah telah memutuskan tidak ada riba. Sesungguhnya riba Abbas bin Abdul Mutolib telah dihapus semuanya. Semua bentuk darah waktu jahiliyah dihapus. Dan darah yang pertama kali saya hapus adalah darah Ibnu Robi’ah bin Harist bin Abdul Mutolib. Dahulu yang meminta dihapus ada di Bani Laits dan dibunuh oleh huzail. Dan ini yang pertama kali saya memulai dari darah Jahiliyah.

Amma baa’du, Wahai manusia sesungguhnya setan telah berputus asa disembah di tanah air kamu semua. Akan tetapi kalau dia mentaatinya dalam perkara selain dari itu berupa amal yang kamu anggap remehkan, maka dia akan rela. Maka jagalah wahai manusia agama kalian. “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” Yang dapat menyesatkan orang-orang kafir dari perkataannya apa yang diharamkan oleh Allah. Sesungguhnya waktu berputar sejak saat Allah menciptakan langit dan bumi. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alah itu dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan haram. Tiga bulan berturut-turut dan Rajab Mudhor antara Jumadil Tsani dan Sya’ban. Kemudian disebutkan hadits secara keseluruhan.” Ahkamul Quran, (2/502-503).

✅ 2.  Adapun sifat pesimis pada bulan Shafar, hal itu telah dikenal pada penduduk Jahiliyah dan hal itu masih tersisa kepada sebagian orang yang menyandarkan kepada Islam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallalm bersabda,

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد (رواه البخاري، رقم  5387 ومسلم، رقم 2220 ) .

Tidak ada penyakit menular, thiyarah dan burung hantu dan shafar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari, no. 5387 dan Muslim, no 2220).

✅ Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shafar ditafsiri dengan banyak penafsiran:

Pertama, bahwa ia adalah bulan shafar yang dikenal dan orang arab pesimis dengannya

Kedua, ia adalah penyakit perut yang menyerang unta. Dan ia berpindah dari satu unta ke unta lainnya. Maka kata sambungnya mengikuti ‘Adwa (penyakit menular). Termasuk dalam bab menyebutkan perkara khusus kepada yang umum.

Ketiga, shafar, bulan shafar maksudnya adalah mengulur-ulur dimana orang kafir tersesat denganya. Mereka mengakhirkan pengharaman bulan muharam ke bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan setahun dan mengharamkan setahun.

Yang paling kuat adalah bahwa maksdunya disini adalah bulan Shafar, dimana orang Jahiliyah pesimis dengannya. Adapun waktu tidak ada pengaruhnya dalam takdir Allah Azza Wajalla. Ia dengan waktu lainnya sama saja, ditakdirkan di dalamnya kebaikan dan keburukan.

Sebagian manusia kalau selesai dari suatu amalan tertentu pada hari keduapuluh lima –contohnya- dari bulan Shafar, menulis tanggal pada hari itu dengan mengatakan, “Telah selesai tanggal duapuluh lima di bulan Shafar yang bagus. Ini termasuk mengobati bid’ah dengan bid’ah. Ia bukan bulan baik tidak juga bulan jelek. Oleh karena itu, sebagian ulama’ salaf mengingkari orang yang ketika mendengar suara burung hantu dia mengatakan, “Baik insyaalah. Jangan katakan baik dan buruk. Burung itu  hanya berkicau seperti kicauan burung lainya.”

Empat hal yang dinafikan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menunjukkan kewajiban bertawakkal kepada Allah dan kesungguhan dalam niat kuat dan jangan lemah niat di depan perkara-perkara ini.

Kalau seorang muslim menemui perkara ini, dalam benaknya tidak lepas dari dua hal:

Pertama, kemungkinan dia mengikuti perasaannya apakah melanjutkan atau membatalkan. Maka waktu itu prilakunya digantungkan dengan sesuatu yang tidak ada hakekat (kenyataannya) sama sekali.

Kedua, tidak mengikuti dengan terus melanjutkan dan tidak memperdulikan. Akan tetapi dalam dirinya masih tersisa sedih dan gundah gulana. Hal ini meskipun lebih ringan dari yang pertama, akan tetapi seharusnya secara tegas menghalau perasaan ini. Hendaknya dia hanya bersandar kepada Allah Azza wa jalla.

Meniadakan empat perkara ini, bukan meniadakan keberadaannya. Karena semua itu memang ada. Akan tetapi meniadakan pengaruhnya. Sebab yang memberikan pengaruh adalah Allah. Jika perkaranya memiliki sebab yang diketahui, maka itu adalah sebab yang dibenarkan. Sementara kalau itu sebab yang tidak jelas, maka itu termasuk sebab batil. Maka, masalah meniadakan pengaruh itu masalah tersendiri adapun masalah sebab itu lain lagi.”  (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, (2/113, 115).

Kedua:

  • Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan kaum jahiliyah.

Telah ada tadi hadits shahih dari Abu Hurairah dalam kedua kitab shahih (Bukhiri dan Muslim), di dalamnya ada penjelasan bahwa keyakinan kaum jahiliyah dalam bulan Shafar itu tercela. Ia adalah bulan di antara bulan Allah, dia tidak memiliki kehendak, sesungguhnya dia berlalu atas kehendak Allah.

Ketiga:

  • Bid’ah dan keyakinan rusak yang terjadi pada bulan ini bagi orang yang menyandarkan kepada Islam.

1. Lajnah Daimah ditanya, “Sebagian ulama’ di negara kami menyangka bahwa dalam agama Islam ada shalat Sunnah yang dilakukan pada hari Rabu akhir bulan Shafar pada waktu shalat Dhuha empat rakaat dengan satu kali salam. Dibaca pada setiap rakaat, fatihatul kitab (surat Al-Fatihah), surat Al-Kautsar tujuh belas kali, surat Al-Ikhlas lima puluh kali, muawidzatain sekali sekali, malakukan hal itu pada setiap rakaat dan salam. Ketika salah dianjurkan membaca ayat :

{ الله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون }

Allah yang akan mengalahkan urusannya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “ dibaca tigaratus enampuluh kali, membaca Jauharul kamal tiga kali, diakhiri dengan bacaan:

بسبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” As-Shofaat: 180-182.

Dan bersedekah dengan sedikit roti kepada orang-orang fakir, khusus ayat ini, untuk menolak bencana yang turun pada hari rabu akhir di bulan Shafar.

Ungkapan mereka bahwa akan turun setiap tahun tigaratus duapuluh ribu bencana. Semua itu terjadi pada hari rabu akhir di bulan Shafar, sehingga hari itu termasuk hari tersulit dalam setahun. Siapa yang menunaikan shalat ini dengan cara tadi, maka Allah akan menjaga dengan kemulyaan-Nya dari semua bencana yang turun pada hari itu. Dan tidak terkena sekitarnya karena terhapus diminum orang yang belum mampu menunaikan cara seperti ini seperti anak-anak. Apakah hal seperti ini adalah suatu solusi?

(Lanjut Ke Halaman 2)

Iklan