Meluruskan Aqidah dan Manhaj
(Bag.1)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Membendung Gelombang Kesyirikan Dan Penyimpangan Akidah

2.Bila Akidah dan Tauhid dianggap KulitAgama

3.Islam dan Jalan Akidahnya

4.Memgenal Dakwah Salafiyah

5.Apa Itu Salafiyah?

6.Rukun Dakwah Salafiyah?

7.Mengenal UlamaDakwah Salafiyah?

8.Yang Berguguran dari Dakwah Salafiyah

9.Salafi, Tujuan Atau Penyucian Diri

10.Lawan Hawa Nafsumu, Kenali Sumber Keyakinanmu!

10 Tanda Hati Manusia Mati-Ust Zainal Abidin Syamsudin

Aqidah Muslim-Ust Zainal Abidin Syamsudin

Gerakan Anti Sunnah Ust Zainal Abidin Syamsudin

(Renungan Di Balik Musibah, Ustadz DR. AliMusri Senjam Putra, Lc, MA

(Efek Bid’ah.Hasanah, Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc),

Tabligh Akbar Kajian Ust Abdullah Taslim

Belenggu Hati : 

Hidayah Allah, Sebab Datang dan Hilangnya :

Manhaj Dalam Menuntut Ilmu :

Tabligh Akbar 2 Hari Ustadz Ahmad Zainuddin Lc

Dua Kalimat Syahadat

Pejuang Subuh –

Sabar itu Indah –

Amalan Bakti Orang Tua –

Inilah Penyebab Kesyirikan Mereka OlehUstadz Mizan Qudsiyah Lc

Terlena Di Salah Syurga Oleh Ustadz DR KhalidBasalamah MA

Jeratan Kesyirikan Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Sesi1:

Sesi2:

Penjelasan Tauhid dan Pembagiannya-Ust M. Nur Ihsan

Ilmu Tauhid-Ust M. Nur Ihsan

Kumpulan ebook

Antara Ahlus Sunnah dan Salafiyah

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

KARAKTERISTIK MANHAJ YANG BATIL

Manhaj Aqidah Imam Syafi’i-Dr. Muhammad bin A.W.Al-Aqil

Bab1: Biografi Imam Asy-Syafi’i Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuwannya

Bab2: ‘Aqidah Imam Syafi’i dalam Masalah Keimanan&Manhajnya Dalam Menetapkan Keimanan

Meluruskan Penyimpangan Manhaj Dakwah.pdf

 Mutiara Salaf

PRINSIP PRINSIP AQIDAH AHLU AS-SUNNAHWAL JAMA’AH-DR. Shaleh Fauzan

Kaidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah-Ibnu Taimiyah

Tashfiyah dan Tarbiyah (Upaya Meraih Kejayaan Umat)-Ali Bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary

Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Mengkritik Tokoh,Kitab dan Aliran-Rabie’ bin Hadi Al-Madkhali

==

Meluruskan Aqidah dan Manhaj

بسم الله الرحمن الرحيم

Meluruskan Aqidah dan Manhaj (1)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Risalah ini kami tulis sebagai bentuk “Tas-hiihan lil mafaahiimil khaathi’ah” (meluruskan pemahaman-pemahaman yang keliru) sebagai bentuk nasihat kepada saudara kami kaum muslimin yang memang diperintahkan.

Risalah ini ditulis bukanlah untuk memojokkan apalagi mencela, akan tetapi ditulis karena cinta kepada saudara kami kaum muslimin yang menghendaki kami meluruskan ketergelinciran mereka, agar kami dan mereka sama-sama berada di atas kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai kebaikan didapatkan saudaranya, sebagaimana ia mencintai kebaikan didapatkan dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Risalah ini, kami sudah berusaha agar jauh dari ketergelinciran. Namun demikian, sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab rahimahullah,

وَيَأْبَى اللَّهُ الْعِصْمَةَ لِكِتَابٍ غَيْرِ كِتَابِهِ ، وَالْمُنْصِفُ مَنْ اغْتَفَرَ قَلِيلَ خَطَأِ الْمَرْءِ فِي كَثِيرِ صَوَابِهِ

Dan Allah tidak menghendaki kemaksuman (terjaga dari ketergelinciran) pada selain kitab-Nya, namun orang yang inshaf/adil adalah orang yang memaafkan kekeliruan sedikit pada seseorang di tengah-tengah banyak benarnya.

Oleh karena itu,

رَحِمَ اللهُ مَنْ اَهْدَى اِلَيَّ عُيُوْبِي

Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan kepadaku cacat pada diriku (agar aku dapat meperbaiki diri).”

Terakhir, kami meminta kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang Tinggi agar upaya kami ini diberikan keikhlasan di dalamnya dan bermanfaat bagi saudara kami kaum muslimin. Amin Yaa Rabbal ‘aalamiin.

  • Beberapa kekeliruan Dalam Memahami Islam

Karena tidak memiliki manhaj (metode) yang benar dalam memahami Islam, kurang mendalamnya mempelajari Islam, atau tidak bertanya kepada para ulama yang raasikh (dalam) ilmunya dalam masalah-masalah yang belum jelas (masih samar), tidak jarang kita menjumpai adanya orang yang memiliki pemahaman yang keliru dalam beragama. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang yang mengetahuinya meluruskan orang tersebut agar tidak tergelincir. Berikut ini beberapa contoh keliruan yang perlu diluruskan:

  • ➡ 1. Keliru dalam memahami makna “Laailaahaillallah”

Misalnya mengira bahwa maknanya adalah ‘tidak ada Pencipta selain Allah’, ‘tidak ada Pemberi rezeki selain Allah,” dsb.

Ya, memang benar tidak ada Pencipta selain Allah dan tidak ada Pemberi rezeki selain Allah, akan tetapi itu bukan makna Laailaahaillallah, makna yang benar adalah “Laa ma’buuda bihaqqin illallah” artinya tidak ada tuhan yang berhak disembah atau ditujukan berbagai macam ibadah kecuali Allah saja. Yakni segala macam ibadah baik berdoa, meminta perlindungan, ruku’, sujud, berkurban, bertawakkal dan ibadah lainnya tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah saja.

✅ Mungkin seorang bertanya, “Mengapa Tidak ada Pencipta selain Allah bukan makna Laailaahaillallah?”

Jawab: Karena orang-orang musyrik di zaman jahiliyyah meyakini demikian, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang musyrik), “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah,” maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?, (QS. Az Zukhruf: 67)

Jika sekiranya makna Laailaahaillallah adalah tidak ada Pencipta selain Allah tentu orang-orang musyrik di zaman jahiliyyah tidak dikatakan orang-orang kafir dan tidak diancam masuk neraka, karena mereka mengakui bahwa Pencipta mereka adalah Allah. lalu apa sebabnya mereka diancam masuk neraka dan dikatakan sebagai orang kafir? Jawab: Karena mereka menyembah atau mengarahkan berbagai macam ibadah kepada selain Allah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa maknanya adalah tidak ada tuhan yang berhak disembah atau ditujukan berbagai macam ibadah kecuali Allah saja. Hal ini menunjukkan tidak cukupnya tauhid rububiyyah (pengakuan bahwa Allah Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta) tanpa adanya tauhid uluhiyyah atau Laailaahaillallah (pengakuan bahwa Allah saja yang berhak disembah; tidak selain-Nya).

➡ 2. Tidak mengerti makna Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Makna Muhammad adalah hamba Allah adalah kita meyakini dan mengakui bahwa Muhammad adalah hamba Allah, dimana hal ini menunjukkan tidak bolehnya kita bersikap ifrath (berlebih-lebihan) terhadap Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena keadaan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang hamba. Oleh karena itu, kita tidak boleh menempatkan Beliau sebagai tuhan. Kita tidak boleh berdoa kepada Beliau, meminta kepada Beliau, ruku’ dan sujud kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengarahkan ibadah lainnya kepada Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ *(البخاري)

Jangan kalian memuji aku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan maksud Beliau adalah rasul (utusan) Allah adalah mengakui dan meyakini bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, dimana hal ini menghendaki kita tidak bersikap tafrith (meremehkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita terhadap utusan Allah adalah menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan perkataannya, mengedepankan perkataannya di atas semua perkataan manusia, dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

  • ➡ 3. Keliru dalam memahami makna “Ibadah”

Misalnya menganggap bahwa “ibadah hanya terbatas di masjid saja atau ibadah hanya terkait dengan hati saja.” Karena anggapan ini sehingga ada orang yang memisahkan antara urusan dunia dengan agama dan ibadah. Padahal yang benar bahwa ibadah itu mencakup segala yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik berupa perkataan, perbuatan, maupun amalan hati. Ia bisa mengena kepada aktifitas sehari-hari seseorang dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali, baik yang dilakukan di masjid maupun di luar masjid. Ibadah juga tidak hanya terkait dengan hati, bahkan lisan, dan anggota badan ada ibadahnya.

✅ Contoh ibadah dengan hati adalah berkeyakinan dengan keyakinan yang diperintahkan oleh Islam (berakidah yang benar), memiliki rasa takut dan harap kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, cinta kepada Allah, menghayati dzikir lisan, dan mengerjakan perintah Allah lainnya yang terkait dengan hati, termasuk pula memiliki niat untuk mengerjakan kebaikan.

✅ Contoh ibadah dengan lisan adalah membaca Al Qur’an, beramar ma’ruf (menyuruh orang lain mengerjakan perintah Allah) dan bernahy mungkar (mencegah orang lain mengerjakan larangan Allah), mengajak manusia kepada Allah (dakwah), berdzikir, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengucapkan salam, dsb.

✅ Sedangkan contoh ibadah anggota badan adalah berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, menaati pemimpin dalam hal yang bukan maksiat, menolong orang yang kesusahan, berjihad melawan orang-orang kafir, dsb.

Ada juga suatu ibadah yang di dalamnya terdapat ibadah hati, lisan dan anggota badan, misalnya shalat.

Perbuatan biasa juga bisa menjadi ibadah apabila diniatkan untuk ibadah seperti tidur, makan dan minum untuk memenuhi hak badan dan agar bisa lebih kuat melakukan ibadah. Jual-beli dengan mengikuti aturan Islam juga ibadah. Menikah karena mengikuti perintah Allah juga ibadah, mencari rezeki untuk memberi nafkah kepada anak dan istri juga ibadah, karena Allah memerintahkan demikian.

  • ➡ 4. Keliru dalam memahami maksud “Wasath fid diin” (pertengahan dalam beragama)

Misalnya menganggap bahwa orang yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah disertai rasa cinta yang tinggi adalah mutasyaddid/ghuluw (berlebihan). Bahkan yang benar adalah bahwa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah disertai rasa cinta itulah Al Wasath, dan Al Wasath inilah jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka adalah kaum yang wasath (pertengahan) antara ifrath (berlebihan sehingga melewati aturan yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan berbuat bid’ah dan tafrith (meremehkan ajaran Islam), antara Qadariyyah dan Jabriyyah, antara kaum Naashibah (memusuhi ahlul bait) dan Raafidhah (berlebihan terhadap ahlul bait), antara kaum Khawarij dan Murji’ah dsb.

=

Meluruskan Aqidah dan Manhaj (2)

  • ➡ 5. Keliru dalam mengenal siapa “Ahlus Sunnah wal Jamaah”

Misalnya menganggap bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang tidak melupakan peninggalan tradisi nenek moyangnya atau orang-orang banyak yang biasa mengerjakan tradisi turun-temurun seperti tahlilan, ratiban, barzanjian, dsb. Bahkan sebenarnya Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah (generasi pertama Islam) dan pemahaman para ulama yang mengikuti jejak mereka, mereka tidak membuat hal-hal yang baru (bid’ah) dalam agama; yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun jumlah mereka sedikit. Ahlus Sunnah wal Jamaah berpegang dengan dalil (Al Qur’an dan As Sunnah) dan mengedepankannya, sedangkan selain mereka mendahulukan akal[i], berpegang dengan mimpi dan kasyf[ii] atau mengedepankan pendapat seseorang[iii].

  • ➡ 6. Keliru dalam melihat Al Haq (kebenaran)

Misalnya melihat kebenaran dengan banyaknya orang yang melakukan. Padahal, banyaknya orang yang melakukan bukanlah sebagai tolok ukur yang menentukan benar tidaknya sesuatu, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al An’aam: 116)

  • ➡ 7. Keliru dalam menafsirkan Al Qur’an

Dalam memahami ayat Al Qur’an dan hadits yang masih samar, langkah yang benar adalah mencari dalil yang tegas (sharih) yang menjelaskan ayat atau hadits itu, lalu mengikuti pemahaman As Salafus Shaalih (orang-orang terdahulu yang terdiri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan Tabiin), kemudian mengikuti penjelasan para ulama yang mengikuti jejak mereka.

✅ Contoh dalam hal ini adalah apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahulah dalam mukadimah kitab tafsirnya, ia berkata:

Apabila ada seorang yang bertanya, “Apa cara terbaik dalam menafsirkan (Al Qur’an)?” Jawab, “Sesungguhnya cara terbaik dalam hal ini adalah menafsirkan Al Qur’an dengan (penjelasan) Al Quran, yang masih belum jelas di ayat ini mungkin dijelaskan di ayat lain. Jika kamu tidak menemukan (penjelasan di ayat lain), maka dengan melihat As Sunnah, karena ia adalah pensyarah Al Qur’an dan penjelasnya…dst.” Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan, “Jika kita tidak menemukan (penjelasannya) dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita melihat pendapat para sahabat, karena mereka lebih tahu tentang hal itu…dst.” Ibnu Katsir berkata lagi, “Jika kamu tidak menemukan dalam Al Qur’an, As Sunnah juga dari para sahabat, maka dalam hal ini para imam melihat pendapat para tabi’in…dst.”

  • ➡ 8. Keliru dalam memahami “Syariat Islam”

Misalnya mengira bahwa syariat Islam hanya terbatas pada hudud (hukuman khusus terhadap tindak pidana) saja seperti potong tangan, rajam, dera, dsb. Yang benar adalah bahwa “Syariat Islam” tidak terbatas pada itu saja, bahkan berakidah Islam, beribadah sesuai Sunnah, bermuamalah dengan cara Islam, dan berakhlak Islam adalah termasuk menjalankan syariat Islam di samping memberlakukan hukum-hukum Islam tadi

Termasuk hal yang ingin kami jelaskan juga di sini adalah anggapan bahwa “Kewajiban menjalankan ajaran Islam hanya berlaku bagi hukama’ (pemerintah) saja »,

Bahkan sebenarnya kewajiban menjalankan hukum Islam itu berlaku baik bagi pemerintah (lih. An Nisaa’: 58) maupun rakyatnya (lih. An Nisaa’: 59). Oleh karena itu rakyat juga tidak boleh memutuskan masalah yang mereka hadapi dengan tradisi yang berlaku atau hukum tidak tertulis meninggalkan kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk ke dalamnya adalah memutuskan berdasarkan suara terbanyak (tanpa melihat apakah keputusan itu sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau tidak?), mengikuti tradisi-tradisi yang menyalahi kitab Allah dan Sunnah rasul-Nya seperti dalam acara pernikahan ada acara tukar cincin, mandi kembang, menginjak telur, dsb.

Maksud kami di sini bukanlah berarti bahwa rakyat berhak melaksanakan hukuman had (seperti had bagi pelaku zina, pencurian, qadzaf, peminum minuman keras, dsb), karena iqaamatul hudud (penegakan hudud) adalah tugas imam (pemerintah) kaum muslimin atau orang yang ditunjuk oleh imam untuk mewakilinya[iv].

Yang kami maksudkan di atas adalah agar rakyat dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi menggunakan ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah.

  • ➡ 9. Keliru dalam cara menegakkan Islam

Ketahuilah, bahwa tujuan utama dalam Islam adalah agar orang-orang beribadah hanya kepada Allah saja (tauhid), melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

Dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (Terj. QS. Al Baqarah: 193)

Khilafah adalah sarana untuk menjaga agama agar tetap terpelihara dan terlaksana ajaran-ajarannya dengan sempurna dan untuk mengatur dunia.

Oleh karena itu, menegakkan khilafah Islam hukumnya fardhu kifayah karena sebab ini. Dalam kaedah fiqh disebutkan,

مَالاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sarana penyempurna itu menjadi wajib.”

Banyak orang yang keliru dalam menegakkan Islam, mereka mengira bahwa cara menegakkan Islam adalah dengan memegang kekuasaan. Karena pemahaman ini, banyak orang-orang yang berusaha menggulingkan penguasa baik dengan berbagai cara. Padahal yang diinginkan oleh Islam adalah agar pemerintah menjalankan ajaran Islam sebagaimana rakyat pun diperintahkan menjalankan ajaran Islam, bukan menggulingkan kekuasaan mereka. Bahkan keinginan untuk mengganti kekuasaan mereka adalah salah satu penghalang mereka (pemerintah) menerima dakwah.

(Lanjut Ke Halaman 2)

Iklan