Pintu-pintu Pahala dan Penghapus Dosa (Bag.1) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. 92 Pintu-pintu Pahala dan Penghapus Dosa

2.19 Perkara yang Merusak Amal

3.Benih Benih Kebaikan

4.Iblis Menyesatkan Manusia dengan Wanita

5.Apa Itu Rukhshah?

6.Hukum Jualan Di Trotoar

7.Pintu-pintu Pahala dan Penghapus Dosa

8.Apa Saja Larangan Pacaran Dalam Islam?

9.Hukum Vaksin MR (Measles and Rubela)

Amalan Mudah Pahala Besar-Ust Mizan Qudsiyah

Melipatgandakan Pahala Amal-Ust Mubarak Bamualim

 “Amalan-amalan Pintu Pahala dan Penghapus Dosa” Oleh Ustadz Zakaria Ahmad

Bag1:Bag:2:Bag3Bag4

Amalan-amalan Pintu Pahala danPenghapus Dosa” Oleh Ustadz Zakaria Ahmad

Saat Pahala Meleleh(Ahmad Zainuddin, Lc)

Pintu Pintu Pahala dan Kebaikan-Yazid Jawas

Amal – Amal Penghapus Dosa” & “Menambah Pahala Sesuai Sunnah” Oleh Ustadz Nafi’ Zainuddin Lc
Amal –
 

Amal Penghapus Dosa”  

Menambah Pahala Sesuai Sunnah”  

Kumpulan Ebook

Pintu Pintu Pahala dan Penghapus Dosa-Abdurrahman Al Jami

Pintu Pintu Pahala

Jangan Pandang Masa Lalunya (Langkah Untuk Hijrah)-M. Abduh Tuasikal 76hlm

Buku Panduan Fadhilah Amal Menurut Dalil yang Shahih-UbaidAl Sindy

Misteri Panjang Umur Mendapatkan Pahala Besar denganAmalan Ringan dan Singkat

36 Faidah Seputar Pernikahan dan Etikanya-Muhammad Shalih Al Munajjid 5 (63hlm)
Jangan Pandang Masa Lalunya (Langkah Untuk Hijrah)-M. Abduh Tuasikal 76hlm

Hal yang Menghapuskan Dosa

Mengingat Mati dan Menyiapkan diri untuknya

Mengutamakan Akhirat

Faktor-faktor Pengingat Mati dan Zuhud terhadap Dunia

==

Pintu-Pintu Pahala (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Pintu-Pintu Pahala (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini kumpulan hadits yang kami ambil dari kitab kecil Abwabul Ujur (pintu-pintu pahala) yang disusun oleh Kantor Penyuluhan Al Jaliyat di Zulfi-Saudi Arabia yang telah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Keutamaan Al Qur’anul Karim

  • ➡ 1.     Menghapal Al Qur’an

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَانِ » . 

✅ Dari Aisyah, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an, sedangkan ia hapal, maka ia akan bersama para malaikat utusan yang mulia. Sedangkan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an, ia berusaha menjaganya, namun berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih: 4937, 1862)

  • ➡ 2.       Membaca Al Qur’an

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ …

Dari Abu Umamah Al Bahiliy ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at bagi pembacanya….dst.” (HR. Muslim: 1874)

  • ➡ 3.       Mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ » . 

Dari ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari: 5027)

  • ➡ 4.       Surat Al Ikhlas

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ » . قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ « ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ »

Dari Abu Darda’, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Tidak mampukah salah seorang di antara kamu membaca sepertiga Al Qur’an dalam semalam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa seseorang membaca sepertiga Al Qur’an (dalam semalam)?” Beliau bersabda, “Qulhuwallahu ahad (yakni surat Al Ikhlas) itu setara dengan sepertiga Al Qur’an.” (HR. Muslim: 1886)

  • ➡ 5.       Al Mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) » . 

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah kamu memperhatikan ayat yang baru turun semalam yang belum pernah terlihat sama sepertinya, yaitu, “Qul A’uudzu birabbil falaq,” dan “Qul A’uudzu birabbin naas.” (HR. Muslim: 1891)

  • ➡ 6.       Surat Al Baqarah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ » . 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu menjadikan rumah kamu seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di sana surat Al Baqarah.” (HR. Muslim: 1824)

  • ➡ 7.       Surat Al Baqarah dan Ali Imran

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ » . قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِى أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ . 

Dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at bagi pembacanya. Bacalah Az Zahraawain (dua yang cemerlang); yaitu Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan atau dua kumpulan burung yang berbaris yang hendak membela pembacanya. Bacalah surat Al Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan dan surat tersebut tidak sanggup dibaca oleh bathalah.” (HR. Muslim: 1874)

Bathalah adalah para pesihir.

  • ➡ 8.       Ayat kursi

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ » . قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ » . قَالَ قُلْتُ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ . قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى وَقَالَ « وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ » . 

Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang paling agung dalam kitab Allah yang kamu hapal?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang paling agung dalam kitab Allah yang kamu hapal?” Aku menjawab, “Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum (yakni ayat kursi).” Lalu Beliau menepuk dadaku dan bersabda, “Demi Allah, mudah-mudahan ilmu mudah masuk ke dalam dirimu, wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim: 1885)

  • ➡ 9.       Akhir surat Al Baqarah

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم :« مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ . 

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca dua ayat akhir surat Al Baqarah di malam hari, niscaya keduanya akan mencukupinya.” (HR. Bukhari: 5009)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “(Maksudnya) mencukupkannya untuk qiyamullail, ada yang mengatakan, “Melindunginya dari setan,” ada pula yang mengatakan, “Melindunginya dari musibah”, dan bisa juga mencakup semuanya.”

  • ➡ 10.    Menghapal surat Al Kahfi

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » . 

Dari Abu Darda’ bahwa Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang hapal sepuluh ayat awal surat Al Kahfi, niscaya akan dilindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim: 1883)

Sedangkan dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ اَيَاتٍ مِنْ اَخِرِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ…..الحديثَ

Barang siapa yang menghapal sepuluh ayat terakhir surat Al Kahfi…dst.”

Keutamaan Dzikrullah[i]

  • ➡ 11.    Banyak menyebut nama Allah Ta’ala (berdzikr).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ  . قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ » .  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah mendahului Al Mufarriduun (yang sendiri dalam sesuatu).” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al Mufarriduun wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu laki-laki dan wanita yang banyak menyebut nama Allah.” (HR. Muslim: 6808)

عَنْ أَبِى مُوسَى – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : « مَثَلُ الَّذِى يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِى لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ » . 

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang menyebut nama Tuhannya dengan yang tidak menyebut nama Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati.” (Muttafaq ‘alaih: 6407, 1823)

Sedangkan dalam lafaz Muslim adalah sbb:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لَايُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

✅ “Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di sana dengan rumah yang tidak disebut nama Allah di sana seperti perumpamaan yang hidup dan yang mati.”

  • ➡ 12.    Tasbih (ucapan subhaanallah).

عَنْ سَعْدٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ » . فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ « يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ » .  

Dari Sa’ad ia berkata: kami pernah berada di dekat Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Beratkah bagi kamu jika setiap hari mengerjakan seribu kebaikan?” Lalu di antara orang-orang yang duduk dekat Beliau bertanya, “Bagaimana bisa salah seorang di antara kami mengerjakan seribu kebaikan?” Beliau bersabda, “Yaitu dengan bertasbih (mengucap “Subhaanalllah”) seratus kali, maka akan dicatat untuknya seribu kebaikan atau digugurkan seribu kesalahan.” (HR. Muslim: 6852)

Bersambung…

Wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

[i] Dzikr terbagi dua: Dzikr Mutlak dan Dzikr Muqayyad. Dzikr Mutlak adalah dzikr yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an dan As Sunnah) kapan dibacanya, maka boleh kapan saja dibaca selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikr muqayyad. Sedangkan Dzikr Muqayyad adalah dzikr yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikr setelah shalat, dzikr sebelum tidur, dzikr bangun tidur, dzikr ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikr memakai pakaian dan melepasnya, dzikr naik kendaraan, dsb. 

Contoh Dzikr Mutlak adalah seperti dalam hadits berikut:

Samurah bin Jundub berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat, tidak mengapa bagimu memulai dari di mana saja, yaitu: Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.” (HR. Muslim)

Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan orang adalah membaca dzikr mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikr muqayyad. Misalnya setelah shalat kita sering dengar mereka membaca “Laailaaha illallah” 100 x atau membaca surat Al Fatihah, padahal dzikr setelah shalat termasuk dzikr muqaayyad yang sudah diajarkan bacaan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bukan menyalahkan dzikrnya, bahkan Laailaahaillallah adalah dzikr mutlak yang paling utama,  tetapi yang kita salahkan adalah penempatan dan pembatasan jumlahnya. Bagaimana menurut anda, jika kita membaca al hamdulillah ketika ruku’ dalam shalat? Benarkah perbuatan itu?

=

Pintu-Pintu Pahala (2)

Keutamaan Dzikrullah

  • ➡ 12. Ucapan Tasbih

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ قَالَ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ » . 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan “Subhaanallah wa bihamdih” (artinya “Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya”) dalam sehari seratus kali, maka akan digugurkan kesalahan-kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.” (Muttafaq ‘alaih: 6405, 6842)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِى سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ . لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ » . 

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan di pagi hari dan sore hari, “Subhaanalllah wa bihamdih” seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang dapat menandingi yang dibawanya pada hari kiamat, kecuali orang yang mengucapkan seperti yang diucapkannya atau lebih.” (HR. Muslim: 6843)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ » .

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan dan dicintai Ar Rahman; Subhaanallah wa bihamdih, Subhaanallahil ‘azhiim (artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (Muttafaq ‘alaih: 6406, 6846, dan ini adalah lafaz Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » . 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengucapkan, “Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar” (artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah maha Besar)  lebih aku cintai daripada apa yang disinari matahari terbit.” (HR. Muslim: 6847)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ » . 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang bertasbih (mengucapkan subhaanallah) setiap selesai shalat 33 kali, bertahmid (mengucapkan Al Hamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) 33 kali, sehingga jumlahnya 99 kali. Lalu ia sempurnakan dengan mengucapkan “Laailaahaillallahu wahdahuu laa…dst. sampai wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadir. (artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan untuk-Nyalah segala pujian dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), maka akan diampuni kesalahan-kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim: 1352)

  • ➡ 13. Ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billah”.

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :« يَا أَبَا مُوسَى – أَوْ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزِ الْجَنَّةِ ؟ » . قُلْتُ : بَلَى . قَالَ :« لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ » . 

Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Abu Musa! –atau wahai Abdullah!- Maukah kamu aku tunjukkan sebuah kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?” Aku menjawab, “Ya, mau.” Beliau bersabda, “Yaitu Laa haula wa laa quwwata illaa billah (artinya: “Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah”).” (Muttafaq ‘alaih: 6409, 6868)

  • ➡ 14. Sayyidul istighfar (Istighfar utama).

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم : « سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، اغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ » . قَالَ : « وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ » .    

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam (Beliau bersabda), “Sayyidul istighfar (istighfar utama) adalah kamu mengucapkan: “Allahumma anta rabbi…..dst. hingga illaa anta.” (artinya: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau menciptakan aku, dan aku hamba-Mu. Aku berada di atas ikatan dan perjanjian dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosaku. Ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau) Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengucapkannya di bagian dari siang hari (pada pagi hari) dengan meyakininya, lalu ia meninggal pada siang harinya sebelum tiba sore hari, maka dia termasuk penghuni surga. Dan siapa yang mengucapkannya di bagian dari malam hari (pada sore hari) dengan meyakininya, lalu ia meninggal sebelum tiba pagi harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari: 6306)

  • ➡ 15. Doa ketika terbangun di malam hari.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ : فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى . أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ » . 

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit: Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang terbangun dari tidurnya, lalu mengucapkan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir, alhamdulillaah, wa subhaanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar dan tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kemudian berkata, “Ya Allah, ampunilah aku,” atau dia berdoa, maka doanya akan dikabulkan. Jika dia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari 1154)

  • ➡ 16.Tahlil (Mengucapkan Laailaahaillallah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهْوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ ، حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ » .  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهْوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir,

.

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa terhadap atas sesuatu.”

Dalam sehari seratus kali, maka hal itu seimbang dengan memerdekakan sepuluh budak, dicatat untuknya seratus kebaikan, dihapuskan seratus keburukan dan sebagai penjagaan untuknya dari setan pada hari itu sampai sore hari. Di samping itu, tidak ada orang yang dapat menandingi bawaannya selain orang yang mengerjakan lebih banyak lagi.” (Muttafaq ‘alaih: 6403, 6842)

عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:« مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ »

Dari Abu Ayyub Al Anshariy radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهْوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti memerdekakan empat orang keturunan Nabi Isma’il.” (HR. Muslim: 6845)

  • ➡ 17. Keutamaan majlis dzikr (seperti majlis ilmu).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ » . 

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudriy, dari Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan meliputi mereka, ketenangan akan turun, dan Allah akan menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim: 6855)

  • ➡ 18. Bershalawat kepada Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا » . 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim: 912)

  • ➡ 19. Memuji Allah setelah makan dan minum.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا » . 

Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang makan sebuah makanan, lalu ia memuji-Nya atau minum sebuah minuman lalu ia memuji-Nya.” (HR. Muslim: 6932)

=(lanjut Ke Halaman 2)

Iklan