Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (Bag.1) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mereka Menyelisihi Ahlussunnah Wal Jama’ah

2. Antara Ahlus – Sunnah Wal – Jama’ ah Dengan Manhaj Salaf

3.Definisi Salaf , Definisi Ahlus Sunnah wal Jama ‘ ah

4.Ahlus Sunnah Wal Jama’ ah, Bukan Sekedar Pengakuan

5.Karakteristik Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah

6.Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ ah –

7. Jaminan Masuk Surga yang Mengikuti Paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah

8. Salaf = Ahlussunnah wa Al-Jama’ah

9.Mengenal Ahlussunnah wa Al-Jamaah

Jamaah Sunnah atau Bid’ah Oleh Ustadz Ali
Basuki Lc

(Istiqomah Di…Atas Sunnah, Ustadz Mohammad Alif, Lc),

(Beragama Jangan Ikut-Ikutan, Ustadz Mohammad Alif, Lc),

Pastikan Manhajmu Oleh Ustadz Zainal Abidin Lc

Abdul Hakim Amir Abdat · Tafsir Berdasarkan Manhaj Salaf

Abdul Hakim Amir Abdat · Manhaj Salaf

Hidup Mulia dengan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah” Oleh Syaikh Prof Dr.Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaily [Penerjemah Ustadz Nafi’ Zainuddin Lc]

Sesi1:

Sesi2:

Mengapa Harus Memilih Manhaj Salaf ?” Oleh Ustadz.Suryana Lc

Dakwah Imam Bonjol Dakwah Salaf-Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin

Syarah Kasyfu Syubhat-Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin

Pertemuan1 :Bag 2: Bag3bag4

Hidup Indah di Bawah Naungan SunnahUstadz Zaenal Abidin Syamsudin

Mutiara Hikmah dari Penciptaan Lalat-Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin

Sejarah Pembangkangan Yahudi-Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin

Sesi 1

Sesi2

Nasehat Berharga Imam Syafi’i Terkait Aqidah Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Sesi1Sesi2

Awas Bahaya Syirik – Sofyan Chalid Ruray

Inilah Jalanku – Sofyan Chalid Ruray

Bahaya Daging Tak Bertulang – Sofyan Chalid Ruray

Tauhid Kunci Keberkahan Negeri OlehUstadz Sofyan Chalid Ruray

Mengenal Imam Syafi’i Oleh Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA

Kumpulan Ebook

Ahlussunnah wal Jama’ah

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Mengapa Harus Memilih Manhaj Salaf ?

Menghidupkan Sunnah

Pokok pokok Manhaj Salaf – Syeikh Khalidbin ‘Abdurrahman al-‘Ikk.

STUDI RINGKAS Tentang Manhaj Salaf-Syaikh Abdul Qadir Ar Arnauth

Berkenalan Dengan Salaf-Syaikh Rabi’ binHadi al Makdhali

Kemilau Wasiat Emas Bagi Pengikut Manhaj Salaf-Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi.pdf

Jangan Pandang Masa Lalunya (Langkah Untuk Hijrah)-M. Abduh Tuasikal 76hlm

36 Faidah Seputar Pernikahan dan Etikanya-Muhammad Shalih Al Munajid

==

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

  • Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (1)

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اما بعد

Sesungguhnya segala puji milik Allah kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam terlimpah kepadanya. Amma ba’du:

Karena karunia Allah semata, kami dapat menyusun risalah ini “Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Penyusun berharap kepada Allah agar Dia menjadikan risalah ini bermanfaat bagi penyusun dan kaum muslimin, hanya Dia-lah yang berkuasa atas hal itu dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Penyusun juga berharap kepada Allah agar Dia menjauhkan dari diri penyusun segala macam pembatal-pembatal amalan, hanya Dia-alah satu-satunya yang bisa diharapkan. (Bekasi, 21 Ramadhan 1427 H, Ditulis oleh: Marwan bin Musa)

  • Pengantar

Sebelum berbicara tentang ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, alangkah baiknya jika kita mengetahui apa yang dimaksud dengan ‘Aqidah?

‘Aqidah secara istilah adalah keimanan yang kokoh tanpa disertai dengan keraguan bagi pemiliknya.

Sehingga maksud ‘Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang kokoh kepada Allah –baik iman kepada uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya untuk diibadati, tidak selain-Nya), rububiyyah-Nya (hanya Dia saja yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta), maupun asma’ wa shifat-Nya (nama-nama dan sifat yang dimiliki-Nya), juga beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruknya. Juga mengimani segala yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah baik berupa dasar-dasar agama, masalah ghaib yang disebutkannya, berita-beritanya, dan lain-lain.

Mencakup ke dalam pembahasan ‘Aqidah adalah masalah tauhid, hakikat Islam, iman, masalah-masalah yang ghaib, masalah nubuwwah (kenabian), qadar, serta hal-hal yang disepakati oleh As Salafush Shaalih (generasi terdepan ummat Islam yang terdiri dari sahabat, tabi’in, dan para imam kaum muslimin di tiga generasi pertama) tentang masalah ‘Aqidah seperti walaa’ dan baraa’, sikap yang benar terhadap sahabat dan ummahatul mukminin, bantahan terhadap orang-orang kafir, ahlul bid’ah dan firqah-firqah sesat, demikian juga mencakup masalah hukum (fiqh) dasar yang sudah qath’iy (pasti) dan disepakati.

Masalah fiqh dasar yang sudah qath’i misalnya mengusap kedua khuffain (dua sepatu) dalam berwudhu’, Imam Nawawi berkata,

Telah ijma’ (sepakat) orang-orang yang dipakai ijma’nya bahwa boleh hukumnya menyapu khuffain (2 khuf) dalam safar maupun tidak safar, baik karena adanya keperluan maupun tidak, bahkan boleh bagi wanita yang senantiasa dalam rumah dan orang yang sakit menahun yang tidak mampu berjalan, yang mengingkarinya hanyalah orang-orang Syi’ah dan Khawarij yang tidak dipandang sikap mereka.”

Nama-nama lain ‘Aqidah menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:

  • 1.       ‘Aqidah, I’tiqad dan ‘Aqa’id.
  • 2.       At Tauhid
  • 3.       As Sunnah
  • 4.       Asy Syari’ah
  • 5.       Al Iman
  • 6.       Ushulud diin atau Ushulud diyaanah

Adapun penamaan ilmu ‘Aqidah dengan ilmu kalam adalah tidak benar, karena ilmu kalam menetapkan ‘Aqidah berdasarkan ra’yu atau pendapat bukan wahyu.

  • Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’aah?

Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’aah adalah orang-orang yang berada di atas jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka terdiri dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in, para imam kaum muslimin yang mengikuti jejak mereka, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka di setiap zaman, di mana ciri mereka adalah istiqamah di atas Sunnah dan menjauhi bid’ah (mengada-ada dalam urusan agama), mereka akan tetap ada sampai tibanya hari kiamat.

Dinamakan Ahlus Sunnah karena mereka berpegang dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya. Dan disebut Al Jama’ah karena mereka berkumpul di atas yang benar dan tidak berpecah-belah (meskipun mereka sendiri dan berjauhan tempat dan zaman).

  • Nama-nama lain Ahlus Sunnah wal Jama’aah

Mereka disebut juga Ahlul hadits, Ahlul atsar, Ahlul ittiba’ (karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Ath Thaaifah Al Manshuurah (golongan yang ditolong Allah Ta’ala), Al Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), Al Ghuraba’ (orang-orang yang dianggap asing) dan As Salafush Shaalih.

Ahlus Sunnah wal Jam’aah memiliki ciri khusus yang membedakan dengan yang lain, sebagai berikut:

  • Dalam bertalaqqi (mengambil rujukan)

Dalam bertalaqqi, sumber rujukan mereka Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ As Salafush Shalih.

Mereka menerima setiap Sunnah yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun riwayatnya ahad (tidak mutawatir) selama shahih.

Dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah langkah mereka adalah mencari dalil yang tegas  (sharih) yang menjelaskan ayat atau hadits itu, lalu mengikuti faham As Salafus Shalih (orang-orang terdahulu yang terdiri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan Tabi’in karena mereka adalah sebaik-baik generasi, disamping itu karena mereka adalah orang-orang yang paling tahu tentang agama ini), kemudian mengikuti penjelasan para ulama yang meniti jejak mereka.

Contoh dalam hal ini adalah apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahulah dalam mukadimah kitab tafsirnya, ia berkata:

Apabila ada seseorang bertanya, “Apa cara terbaik dalam menafsirkan (Al Qur’an)?” Jawab, “Sesungguhnya cara terbaik dalam hal ini adalah menafsirkan Al Qur’an dengan (penjelasan) Al Quran, yang masih belum jelas di ayat ini mungkin dijelaskan di ayat lain, jika kamu tidak menemukan (penjelasan di ayat lain), maka dengan melihat As Sunnah, karena ia adalah pensyarah Al Qur’an dan penjelasnya…dst.”

Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan, “Jika kita tidak menemukan (penjelasannya) dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita melihat pendapat para sahabat, karena mereka lebih tahu tentang hal itu…dst”.

Ibnu Katsir berkata lagi, “Jika kamu tidak menemukan dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan dari para sahabat, maka dalam hal ini Para imam melihat pendapat para tabi’in…dst.”

Mereka (Ahlus sunnah wal jamaa’ah) tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya lahir-batin, oleh karenanya Al Qur’an atau As Sunnah yang shahih tidak mereka tolak karena qiyas, perasaan, pendapat seorang syaikh, imam dsb.

Di sisi mereka akal yang sehat itu selamanya sejalan dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak ada pertentangan selamanya, kalaupun secara sekilas seakan-akan seperti bertentangan karena keterbatasan pandangan kita, maka yang dikedepankan adalah dalil/wahyu.

Di sisi mereka juga bahwa setiap yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki perhatian yang tinggi terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, baik dengan cara menghapalnya, membacanya, mendalami tafsirnya, demikian juga dalam masalah hadits, mereka memperhatikannya baik dari sisi riwayah (isi hadits tersebut) maupun dirayah (sanadnya).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memiliki imam mu’azhzham (yang dijunjung tinggi) sehingga mengambil semua pendapatnya dan meninggalkan pendapat yang menyelisihinya, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sajalah imam mu’azhzham mereka, selain Beliau maka diperiksa pendapatnya apakah sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau tidak, jika ternyata sesuai maka mereka menerimanya, namun jika tidak, maka mereka tolak.

Mereka yakin bahwa semua orang bisa diambil pendapatnya atau ditolak selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak bisa ditolak.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memuliakan As Salafush Shalih dan mengikuti jejak mereka, mereka memandang bahwa jalan mereka adalah jalan yang selamat, lebih dalam pengetahuannya tentang agama dan lebih meyakinkan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meniti manhaj wahyu, oleh karena itu mereka tidak membantah sebuah bid’ah dengan bid’ah juga.

  • Dalam masalah Tauhid Uluhiyyah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam rubuubiyyah-Nya (menciptakan, mengatur, dan menguasai alam semesta), uluhiyyah (keberhakan-Nya untuk diibadati), maupun dalam hal nama dan sifat Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Dia adalah Tuhan semesta alam, Tuhan yang berhak untuk disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’aah, mengarahkan bentuk ibadah seperti do’a, meminta pertolongan atau perlindungan, bertawakkal, berharap, dan berkurban kepada selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa yang sangat besar. Tidak ada bedanya, baik selain Allah itu malaikat, nabi, wali maupun lainnya.

Dalam beribadah kepada Allah, Ahlus Sunnah wal Jama’aah menggabungkan tiga pilar; Al Hubb (rasa cinta kepada Allah), Al Khauf (rasa takut kepada Allah), dan Ar Raja’ (rasa berharap kepada Allah).

=

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (2)

  • Berhukum dengan menggunakan hukum Allah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tunduk, ridha dan taat secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memandang bahwa beriman bahwa Allah adalah Al Hakam (Yang berhak memutuskan hukum) termasuk beriman kepada rububiyyah dan uluhiyyah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam menetapkan hukum maupun dalam perintah-Nya.

Menurut mereka, membuat syari’at yang tidak diizinkan Allah, mengajak berhukum kepada thaghut, dan meninggalkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau merubahnya adalah bentuk kekufuran, dan siapa saja yang meyakini bolehnya seseorang keluar dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia kafir.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa meninggalkan hukum Allah itu termasuk sebab ummat tertimpa bala’ atau musibah, sebab timbulnya perpecahan, kehinaan, dan kerendahan.

✅ Hukum itu terbagi menjadi tiga bagian:

1.     Hukum Munazzal, yaitu syari’at Allah dalam kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya, hukum ini semuanya adalah hak (benar).

2.     Hukum Mu’awwal, yaitu hukum yang merupakan ijtihad ulama mujtahidin, dimana hukumnya bisa benar dan bisa salah. jika benar mendapatkan dua pahala, dan jika keliru mendapatkan satu pahala (karena usaha kerasnya mencari yang benar).

3.     Hukum Mubaddal, yaitu hukum yang tidak menggunakan hukum Allah (munazzal), pelakunya bisa berada dalam kekufuran atau kezaliman atau kefasikan (lihat QS. Al Maa’idah ayat 44, 45 dan 47)

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa menjadi kafir apabila ia menghina hukum Allah, menganggap bahwa hukum selain Allah lebih baik atau lebih cocok dipakai seperti orang yang membuatkan undang-undang yang menyalahi syari’at Islam, di mana mereka membuatkan undang-undang tersebut karena adanya anggapan bahwa hukum Allah tidak cocok lagi atau kurang baik dsb.

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa juga menjadi zalim (tidak kafir) apabila ia melakukan hal itu, namun ia tetap meyakini bahwa hukum Allah-lah yang benar, yang baik, yang cocok, dan hukum yang dipakainyalah yang salah, ia juga tidak meremehkannya.

Dan bisa menjadi fasik (tidak kafir), apabila ia melakukan hal itu (yakni tidak menggunakan hukum Allah) karena ada rasa kasihan kepada yang terkena hukuman itu, atau karena diberi sogokan (risywah) namun ia tetap yakin bahwa hukum Allah-lah yang benar dan hukumnya salah, seperti karena si pencuri itu adalah kerabatnya dsb.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menerima dibeda-bedakannya kewajiban agama antara masyarakat umum (awam) dengan orang khusus (khawash) seperti yang dianut oleh kaum Sufi yang tersesat, dimana menurut mereka syari’at untuk masyarakat umum; tidak untuk orang-orang khusus/istimewa.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menolak paham sekularisme yang memisahkan antara urusan agama dengan negara, bahkan menjauhkan agama dari negara adalah sebab kemunduran, kehancuran dan rusaknya bangsa tersebut.

  • Siapakah yang mengetahui yang ghaib?

Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui hal ghaib, dan terkadang Allah memberitahukan sebagian dari hal ghaib itu kepada rasul yang diridhai-Nya, siapa saja yang beranggapan bahwa ada seseorang yang mengetahui hal ghaib maka dia kafir

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa mempercayai para tukang nujum atau peramal adalah sebuah kekufuran, mendatanginya adalah dosa yang besar.

  • Tentang Tawassul

Wasilah yang diperintahkan dalam Al Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

« Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan wasilah kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu mendapat keberuntungan. » (QS. Al Ma’idah : 35)

Menurut Ahlus Sunnah adalah semua amal saleh yang mendekatkan diri kepada Allah.

Dan tawassul (memakai perantara) itu terbagi menjadi tiga bagian:

✅ 1.     Masyru’ (disyari’atkan), yaitu dengan menggunakan nama-nama Allah dan sifat-Nya (misalnya mengatakan, “Yaa Razzaaq, karuniakanlah rezeki kepadaku”), dengan amal saleh yang dikerjakannya (misalnya mengatakan, “Ya Allah, jika amal yang aku lakukan ini karena mengharapkan Wajah-Mu, maka kabulkanlah permohonanku”), dan dengan doa orang saleh yang masih hidup (misalnya mengatakan, “Ustadz, doakan saya kepada Allah agar Dia menyelamatkan saya di perjalanan”)

✅ 2.     Bid’ah, yaitu tawassul yang diada-adakan, misalnya tawassul dengan dzat/diri para nabi, orang-orang saleh, jah (kedudukan mereka), hak mereka, ataupun dengan kehormatan mereka dsb. Misalnya mengatakan, “Bi jaahin Nabi” (artinya: dengan kedudukan Nabi), “Yaa Rabbi bil mushthafaa” (artinya: Yaa Rabbi, dengan diri Nabi) atau seperti dalam shalawat badar “Bi ahlil badri yaa Allah” (artinya: dengan perantaraan ahli badar, ya Allah). Ini semua adalah bid’ah dan tidak benar.

✅ 3.     Syirk, yaitu bertawassul dengan menjadikan orang-orang yang sudah mati sebagai perantara dalam beribadah sehingga berdoa kepada mereka, meminta pertolongan dan perlindungan kepada mereka, dsb. Ini adalah syirk dan dosa yang besar.

(Lanjut Ke Halaman 2)

    Iklan