Faedah Pilihan Dari Kitab “Ash-Shawaa-Iq Al Mursalah ( Kitab ‘Aqidah Asma’ Wa Shifat) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

Hukum “Memplesetkan” Kata “Tabkir” Menjadi “Tuak bir” atau “Take beer”

2.Denda Pembayaran Rekening Listrik & Telpon

3.Faedah Surat Yasin: Tangan dan Kaki Jadi Saksi, Harusnya Kita Takut Bermaksiat

4.Syarhus Sunnah: Allah itu Mahatinggi

5.Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan Hati

6.Cara Meraih Cinta Allâh : Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi Dan Mendaki Menuju Kecintaan

7.Syarhus Sunnah: Allah itu Al-‘Alim, Al-Khabiir (Yang Maha Mengetahui)

8.Kesalahan Baca Amin yang Membatalkan Shalat

9.Belajar Dengan Banyak Guru

==

Kaidah Kaidah Memahami Kesyirikan-Ust Mizan Qudsiyah 11mb 1jm4mnit

https://mir.cr/JECTX8LN

Tragedi Pesawat-Ust Syafiq Basalamah

https://app.box.com/s/2737pya3rl4gcdwwqa8i27vzqd918e9c

Jangan Identitas Jangan Sampai Lepas-Ust Zainal Abidin Syamsudin 17Mb 1jm45mnit

https://mir.cr/1ZLGDAPY

Al I’thisam Bil Kitab Wa Sunnah 06-Ust Abdul Hakim Amir Abdat 22mb 2jm05mnit

https://mir.cr/LERDK8IU

Viral Pesawat Jatuh,Baca Do’a Ini Sebelum Naik Pesawat-Ust Mizan Qudsiyah

https://app.box.com/s/n77cvh4vlgzfh6qy5hd56ie87dzjc8qf

==

Safari Dakwah 2 Hari UstadzDzulqarnain M.Sanusi

Jalan – Jalan Keselamatan

Tafsir Surat Al Zalzalah

Panji-panji tauhid di Hamparan Cobaan

Kisah Ujian & cobaan para Nabi

Merenungi Kebesaran Allah

Pelipur Duka,Pelebur Lara
Kitab Nawaqidhul Islam (10 Pembatal Keislaman) di Polewali Mandar Oleh Ustadz Salman Mahmud

Sesi1Sesi2Sesi3Sesi4

==

Amalan yang Mengurangi Pahala Sholat Jumat-Ust Mizan Qudsiyah

Abdullah Taslim · Sumber Malapetaka Terbesaar

Mantra mantra dan Jimat yang Dilarang-Ust Lalu Ahmad Yani

Macam-macam Ruqyah dan Hukumnya-Ust Lalu Ahmad Yani

Larangan Menggunakan Jimath-Ust Lalu Ahmad Yani

Ahmad Firdaus · Beriman Kepada Takdir Allah

Sufyan Bafin Zen · Wasiat Berpegang Teguh Ke Al Quran

====

Faedah Pilihan Dari Kitab “Ash-Shawaa-Iq Al Mursalah ( Kitab ‘Aqidah Asma’ Wa Shifat)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Kitab, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

FAEDAH PILIHAN DARI KITAB “ASH-SHAWAA-‘IQ AL-MURSALAH” (Bagian Pertama)

Berikut ini adalah faedah-faedah dari kitab “Ash-Shawaa’iq Al-Mursalah ‘Alaa Al-Jahmiyyah Al-Mu’aththilah” (Kitab ‘Aqidah Asma’ Wa Shifat), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- (cetakan Daar ‘Aalam al-Fawaa-id).

* Keterangan: Jika perkataan diletakkan di dalam tanda petik “…”; maka terjemahan secara lafazah, dan jika tidak dengan tanda petik serta diakhiri dengan: [Lihat hlm. …]; maka terjemahan hanya secara makna..

➡ [1]- FAEDAH BESAR DARI MENGENAL ASMA’ WA SHIFAT (NAMA-NAMA & SIFAT-SIFAT ALLAH)

Mengenal Allah -Ta’aalaa- dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya merupakan landasan yang dibangun di atasnya: seluruh tuntutan dari risalah para rasul. Karena sungguh, Al-Khauf (takut), Ar-Rajaa’ (harap), Al-Mahabbah(cinta), Ath-Thaa’ah (ketaatan) dan Al-‘Ubuudiyyah (peribadahan): akan mengikuti pengenalan terhadap Allah yang ditakuti, diharap, dicintai, ditaati, dan diibadahi. [Lihat: hlm. 150].

➡ [2]- ASAS DAKWAH PARA RASUL

Asas dakwah para rasul adalah: mengenal Allah dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, kemudian diikuti dengan 2 (dua) prinsip yang agung:

Pertama: Mengenal jalan yang menyampaikan kepada-Nya, yaitu: syari’at-Nya yang mengandung perintah dan larangan-Nya.

Kedua: Mengenalkan kepada orang-orang yang berjalan (menuju Allah): apa yang akan mereka dapatkan ketika sampai kepada-Nya; berupa: kenikmatan yang tidak akan sirna dan penyejuk mata (kesenangan) yang tidak akan terputus.” [hlm. 151]

➡ [3]- IMAM ASY-SYAFI’I MENETAPKAN SIFAT-SIFAT ALLAH BERDASARKAN DALIL

✅ “Imam Ahlus Sunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata dalam muqaddimah kitabnya (Ar-Risaalah):

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ، وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

Segala puji bagi Allah, Dia sebagaimana yang Dia sifatkan atas diri-Nya, dan di atas apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.”

Maka dalam kalimat ini beliau menetapkan bahwa sifat-sifat Allah diambil dari dalil, bukan dengan pendapat-pendapat makhluk, dan bahwa sifat-sifat-Nya di atas apa yang disifatkan oleh makhluk. Sehingga kalimat ini mengandung penetapan sifat-sifat kesempurnaan yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai aib, kekurangan dan penyamaan (dengan makhluk-Nya). Dan (sifat-sifat) yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya; maka seharusnya dengan itulah Dia disifati, bukan dengan yang disifati oleh makhluk.” [hlm. 153-154]

➡ [4]- KAPAN SEORANG YANG MENYELISIHI DALIL DIBERI UDZUR & KAPAN TIDAK DIBERI UDZUR

Terkadang makna suatu nash (dalil) sangatlah jelas dan terang dimana umat Islam tidak berselisih tentang penafsirannya, akan tetapi terjadi perbedaan (keadaan) tentang hukum (orang yang menyelisihi)nya:

✅ (1)- Dikarenakan ketidaktahuan (seseorang) atas (dalil itu) karena tidak sampai kepadanya, atau (dalil sampai kepadanya tapi) menurutnya ada dalil (lain) yang menentangnya, atau (sampai dalil kepadanya tapi) dia lupa. Maka keadaan seperti ini menjadikan orang yang menyelisihi (dalil) diberikan udzur; jika niatnya adalah mengikuti kebenaran, dan Allah akan memberikan pahala atas niat baiknya.

✅ (2)- Adapun orang yang telah sampai dalil kepadanya, dan dia ingat (tidak lupa), serta tidak ada (dalil lain) yang menurutnya menentang (dalil) tersebut: maka dia tidak diberikan keluasan dalam menyelisihinya, dan dia tidak diberi udzur di sisi Allah untuk meninggalkan (dalil) dikarenakan mengikuti perkataan seorang pun siapa pun orangnya.” [hlm. 207]

➡ [5]- ANTARA AYAT-AYAT TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH & AYAT-AYAT TENTANG HUKUM (FIQIH)

Ayat-ayat tentang hukum (fiqih) hampir-hampir tidak bisa difahami maknanya kecuali oleh orang-orang khusus (ahli ilmu), adapun ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat (Allah); maka bisa difahami baik oleh orang-orang khusus maupun oleh orang-orang awam, yakni: pemahaman terhadap asal maknanya; bukan pemahaman tentang hakikat dan kaifiyatnya…

Ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah dan hadits-haditsnya; maka tidak ada yang mujmal sama sekali -yang masih perlu penjelasan dari luar-. Walaupun di dalam As-Sunnah terdapat tambahan penjelasan dan rincian (tentang sifat-sifat Allah); akan tetapi ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah tidak ada yang mujmal yang tidak difahami kecuali dengan As-Sunnah, dan hal ini berbeda dengan ayat-ayat tentang hukum (fiqih).” [hlm. 210-212]

➡ [6]- AYAT SIFAT TIDAK MUTASYABIHAT

Tidak dikenal dari seorang Shahabat pun bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat yang mutasyabihaat (belum jelas maknanya): adalah ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.” [hlm. 213]

➡ [7]- AHLUS SUNNAH & JAHMIYYAH, KEMUDIAN ASY’ARIYYAH

Manusia dahulunya hanya dua kelompok (dalam masalah sifat-sifat Allah): Salafiyyah (yang menetapkan sifat-sifat Allah) dan Jahmiyyah (yang menolaknya). Kemudian muncul kelompok yang hanya menetapkan tujuh sifat (Asy’ariyyah), dan kelompok ini mengambil suatu perndapat dari dua pendapat terdahulu, sehingga mereka tidaklah mengikuti Salaf, dan tidak juga menetap bersama Jahmiyyah.” [hlm. 226]

➡ [8]- KAIDAH TAKWIIL (MEMALINGKAN DALIL DARI LAHIRIYYAHNYA) MENURUT FIRQOH SESAT.

Pada hakikatnya: masing-masing kelompok mentakwil (dalil) yang menyelisihi golongan dan madzhabnya, sehingga patokan dalam membedakan mana dalil yang harus ditakwil dan mana yang tidak adalah: madzhab yang mereka ikuti dan kaidah yang mereka buat. Dimana apa yang sesuai dengannya maka mereka akui dan tidak mentakwilnya, akan tetapi yang menyelisihinya; maka mereka menolaknya jika hal itu memungkinkan, dan jika tidak memungkinkan; maka mereka mentakwilnya.

Maka tatkala Raifdhah membuat pondasi berupa memusuhi para Shahabat; mereka pun menolak semua dalil tentang keutamaan para Shahabat dan pujian atas mereka, atau (kalau tidak bisa menolak); mereka mentakwilnya. Dan ketika Jahmiyyah membuat pondasi bahwa Allah tidak berbicara, tidak mengajak bicara seorang pun, tidak dilihat dengan mata (di akhirat), tidak berada di atas ‘Arsy-Nya, tidak berpisah dengan makhluk-Nya, dan tidak memiliki sifat: maka mereka mentakwil semua (dalil) yang menyelisihinya.

(Demikian juga) Qadariyyah…Murji-ah,…Kullabiyyah,…Jabariyyah…

Sampai orang-orang yang taklid dalam masalah furuu’ (fiqih) para pengikut imam (madzhab): yaitu orang-orang yang meyakini madzhab terlebih dahulu, baru kemudian mereka mencari dalil atasnya: pondasi yang mereka jadikan untuk (membedakan manda dalil) yang ditakwil dan mana yang tidak ditakwil: adalah yang menyelisihi madzhab atau yang sesuai dengannya.” [hlm. 230-232]

➡ [9]- MUSYABBIHAH LEBIH BAIK DARI MU’ATHTHILAH

Kalau kita andaikan dalam umat ini ada yang mengatakan: pendengaran (Allah) seperti pendengaran makhluk, dan penglihatan (Allah) seperti penglihatan makhluk: maka ini lebih mendekati kebenaran dibandingkan orang yang mengatakan bahwa Allah tidak memiliki pendengaran dan penglihatan sama sekali…

Demikian juga kalau kita andaikan di umat ini ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki dua tangan seperti tangan kita; maka ini lebih baik daripada orang yang mengatakan bahwa Allah tidak memiliki tangan sama sekali.

Karena yang ini adalah Mu’aththil mendustakan Allah dan menolak (kabar dari) Allah dan Rasul-Nya. Adapun Musyabbih (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) adalah salah dalam pemahamannya. Maka Musyabbih menurut anggapan mereka yang dusta: tidaklah menyerupakan (Allah dengan makhluk-Nya) dikarenakan ingin menjelekkan Allah dan mengingkari kesempurnaan-Nya, bahkan dia menyangka bahwa menetapkan kesempurnaan tidaklah mungkin kecuali dengan (penyerupaan) tersebut.” [hlm. 264-265]

➡ [10]– PIJAKAN ISLAM

Dan tidak akan kokoh pijakan seorang hamba dalam Islam: sampai hati dan batinnya meyakini bahwa agama semuanya milik Allah, tidak ada Rabb selain-Nya, tidak ada yang diikuti selain (Rasul)-Nya, dan perkataan selain-Nya harus dibandingkan dengan firman-Nya: kalau sesuai; maka baru kita terima, bukan karena dia yang mengatakannya, akan tetapi karena ia mengabarkan (hukum) dari Allah dan Rasul-Nya.” [hlm. 308-309]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

==

FAEDAH PILIHAN DARI KITAB “ASH-SHAWAA-‘IQ AL-MURSALAH” (Bagian Kedua)

➡ [11]- KEMUDAHAN AL-QUR’AN

✅ Allah Ta’aalaa berfirman:

{وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ}

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

“Kemudahan tersebut mencakup beberapa hal:

Pertama: Kemudahan lafazh-lafazhnya untuk dihafalkan.

Kedua: Kemudahan makna-maknanya untuk difahami.

Ketiga: Kemudahan perintah dan larangannya untuk dipatuhi.” [hlm. 331]

➡ [12]- KESESATAN YANG TERLINTAS; PASTI ADA YANG MEYAKININYA

Perhatikanlah kitab-kitab tentang pendapat, pikiran, dan agama (sesat); akan engkau dapati semua (kesesatan) yang terlintas di benakmu: maka ada saja orang yang bermadzhab dan berpendapat demikian. Dan di balik itu masih banyak (kesesatan) yang tidak terlintas di benakmu.” [hlm. 351]

➡ [13]- DI ANTARA SEBAB BANYAKNYA PENGIKUT DA’I SESAT

Para pengikut da’i sesat sangatlah cepat dalam mengijabahi dakwahnya dan memuliakan da’inya, bahkan mempersembahkan harta dan keta’atan mereka untuk da’i tersebut, walaupun mereka tidak melihat bukti dan tanda atas kebenaran da’i tersebut. Hanya saja da’i itu mendakwahi mereka dengan takwil (terhadap dalil) yang terasa asing (terlihat hebat); sehingga dia memberikan anggapan bahwa hal semacam ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus, sedangkan orang-orang awam adalah buta dari hal semacam ini. [Lihat: 350-352]

➡ [14]- DALIL TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH LEBIH BANYAK BERKALI LIPAT DARI PADA DALIL TENTANG HARI AKHIR DAN SIFAT MALAIKAT

Kalau mereka mentakwil dalil-dalil tentang sifat-sifat Allah; maka lebih mudah lagi bagi mereka untuk mentakwil dalil-dalil tentang Hari Akhir dan tentang sifat malaikat, karena dalil-dalil tentang sifat berkali lipat lebih banyak dibandingkan dalil tentang Hari Akhir dan sifat malaikat. [Lihat: hlm. 367-368]

➡ [15]- MENDAHULUKAN AKAL ATAS DALIL ADALAH SYUBHAT IBLIS

Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam; maka Iblis memiliki dua muqaddimah dan sebuah natiijah (hasil).

Muqaddimah pertama: bahwa orang yang lebih utama tidak boleh tunduk kepada yang kurang utama.

Muqaddimah kedua: Iblis lebih utama dari Adam karena diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah.

Sehingga natiijah (hasil)nya adalah: Iblis tidak mau sujud kepada Adam.

Maka Iblis menyangka bahwa akal-akalannya itu bisa dijadikan landasan untuk mentakwil perintah untuk bersujud kepada Adam. Sehingga dia menjadi imam bagi siapa saja yang mempertentangkan dalil dengan takwil yang bathil. [Lihat: hlm. 371]

➡ [16]- ADZAB & PAHALA

Sungguh, Allah Subhaanhutidaklah mengadzab seorang pun melainkan dengan sebab (dosa) yang dia lakukan, akan tetapi terkadang Allah memberikan pahala kepadanya walaupun tanpa ada usaha (kebaikan) darinya.” [hlm. 392-393]

➡ [17]- BALASAN BAGI YANG LEBIH MEMILIH KERENDAHAN

Telah berjalan kebiasaan Allah Subhaanhu untuk menghinakan orang yang lebih memilih kerendahan dibandingkan sesuatu yang tinggi (mulia), dan Allah jadikan orang itu sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

✅ – Maka yang pertama kali dari kelompok ini adalah Iblis, dia meninggalkan sujud kepada Adam dikarenakan kesombongan; maka Allah uji dia dengan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang fasik dari keturunan Adam.

✅ – Para penyembah patung tidak mau mengakui adanya seorang nabi dari kalangan manusia; akan tetapi mereka ridho terhadap tuhan yang terbuat dari batu.

✅ – Jahmiyyah (menganggap) telah mensucikan Allah dari (bersemayam di atas) ‘Arsy-Nya agar Dia tidak diliputi oleh tempat, akan tetapi mereka menjadikan-Nya ada di dalam sumur dan tempat-tempat najis (karena mereka meyakini Allah ada di mana-mana -pent).

✅ – Demikian juga kelompok-kelompok bathil yang tidak ridho terhadap dalil yang merupakan wahyu; maka mereka diuji dengan kotoran-kotorang pikiran yang membingungkan dan (ridho dengan) kaum Shobi-ah dan para pengikut ahli filsafat yang sesat.” [hlm. 433-434]

➡ [18]- PERSANGKAAN BAHWA DALIL BERTENTANGAN DENGAN AKAL

“Ada 4 (empat) perkara yang menjadikan mereka menyangka bahwa ada pertentangan antara dalil dengan akal:

✅ Pertama: (Mereka tidak tahu bahwa) perkara (yang sedang dibahas oleh dalil tersebut) bukanlah perkara (yang bisa dijangkau oleh) akal.

✅ Kedua: (Mereka tidak tahu bahwa) dalil (yang disangka bertentangan dengan akal) adalah bukan merupakan dalil yang shahih dan diterima.

✅ Ketiga: (Mereka) tidak faham terhadap maksud dari pembicara (yakni: maksud dari apa yang Allah firmankan atau Nabi sabdakan -pent).

✅ Keempat: (Mereka) tidak bisa membedakan antara hal yang dianggap mustahil oleh akal, dengan hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal.” [hlm. 459]

➡ [19]- ALLAH MENGETAHUI SEGALA SESUATU SECARA RINCI

✅ “Allah Subhaanahu berdalil untuk menetapkan ilmu-Nya terhadap seluruh perkara secara rinci dengan dalil yang paling baik, paling jelas, dan paling shahih, dimana Dia berfirman:

{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ}

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala apa yang ada di dalam dada (isi hati).” (QS. Al-Mulk: 13)

✅ Kemudian Allah tetapkan ilmu Allah terhadap (apa yang ada di dada) tersebut dengan firman-Nya

{أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Maka ini merupakan penetapan yang luar biasa, karena sunggah, Dzat Yang Mencipta; pasti berilmu tentang makhluk-Nya, dan (Allah) yang membuat; pasti mengetahui tentang buatan-Nya. Sehingga jika kalian mengakui bahwa Allah adalah pencipta kalian dan pencipta dada-dada kalian dan apa yang terkandung di dalamnya; maka bagaimana mungkin akan tersamar atas-Nya sedangan Dia-lah penciptanya.” [hlm. 491]

(Lanjut Ke Halaman 2)

Iklan