Peringatan Rabu Akhir Bulan Shafar (Rebo Wekasan) & Mandi Safar Bukan Bagian dari Syari’at Yang Dituntunkan 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Tradisi Mandi Safar di 3 Kabupaten di Indonesia untuk Tolak Bala dan BerbagaiMitosnya Awas Ini Adalah Syirik

2.Rebo Wekasan

3. Tahun Baru dan Rebo Wekasan

4. Ada Apa Dengan Acara Rebo Wekasan

5. Rebo Wekasan Bukan Dari Agama Islam

Rebo Wekasan Bukan Syariat Islam

7. Amalan Rebo Wekasan

8. Peringatan Rebo Wekasan Dalam Pandangan Islam

9. Menyoal Rebo Wekasan

=

Orang Orang Yang Dinilai Mati Syahid-Ust Firanda Andirja 15Mb 1jm45mnit

https://mir.cr/ZUD7XE0M

Orang Orang Yang Celaka Pada Hari Kiamat-Ust Zainal Abidin Syamsudin 12Mb 1jm10mnit

https://mir.cr/1REQJJCX

Rebo WekasanApakah Syirik-Ust Firanda Andirja

Beranggapan SialYang Berbau Syirik, Thatoyyur dan Thiyarah-Ust Firanda Andirja

Bulan Shafar Apakah Bulan Sial-Ust Mizan Qudsiyah

(Balada Kehidupan Akhir.Zaman, Ustadz Imam Abu Abdillah),

Laa Ilaaha Illallaah Oleh Ustadz Subhan Bawazier

Keutamaan KalimatTauhid Oleh Ustadz dr.Raehanul Bahraen Sp.PK

Konsekuensi Kalimat Tauhid Oleh Ustadz Lutfi Abdul Jabbar

=

Ebook

Pelajaran Penting Di Bulan Shafar

Keyakinan Seputar Bulan Shafar

Penyimpangan Aqidah Disekitar Kita

Alqur’an Tajwid

Perkara-Perkara FithrahPenulis: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah Penyusun: al-Ustadz Arif Fathul Ulum, Lc

==

➡ *Peringatan Rabu Akhir Bulan Shafar (Rebo Wekasan) & Mandi Safar Bukan Bagian dari Syari’at Yang Dituntunkan*

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Rebo Wekasan, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

Alhamdulillah…

_Wahai Kaum Muslimin yang Dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Peringatan Rabu atau Rebo Kasan dan Pesta Mandi Safar yg biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini dan negeri2 lainnya pada hari Rabu pekan terakhir dari bulan Shafar adalah peringatan (perayaan) yg tidak ada tuntunannya dalam ajaran agama Islam yg dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam._

Demikian pula do‘a-do’a yg dibaca pada waktu tsb dlm rangka menolak bala’ (bahaya) yg mereka yakini bhwa.pada hari Rabu pekan terakhir dri bulan Shafar Allah menurunkan 320 ribu bencana dan musibah, maka do’a2 tsb tidak benar datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • ➡ *Khurafat Safar Bulan Sial Peninggalan Jahiliyah*

*Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwabulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaanterhadap mitos atau tahayul tersebut langsungdibantah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam*

Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

*Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.*

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial.atau bulan bencana masih saja.dipercaya sebagian umat. *Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar.*

_*Bahkan jika ditelusuri sumbernya, maka do’a tsb atau yg semisalnya berasal dari tarekat2 sufi.Di samping itu, pada hari Rebo kasan (wekasan)terdapat sejumlah amalan2 khusus yg dianjurkan utk diamalkan spt sedekah, sholat sunnah, bacaan wirid dan dzikir2 tertentu yg diada2kan dlm agama Islam. *Padahal Allah dan Rasul-Nya tdk pernah mensyari’atkan itu semua secara khusus pada hari Rebo Wekasan tsb.* Oleh karena itu, *sdh seharusnya bagi kita semua utk menjauhinya dan memperingatkan keluarga dan saudara2 kita seislam agar tidak ikut2an memperingatinya.* Dan *sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam*. Yang penting bagi kita adalah *berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih,* bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam._

  • ➡ *Rebo Wekasan Bukan Bagian dari Syari’at Yang Dituntunkan*

Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1440 H) bertepatan dengan tanggal 8 November 2018). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan. *Daerah Lainnya melakukan tradisi yang dikenal dengan nama “Mandi Safar” yaitu tradisi mandi dengan bercebur ke Sungai.* Mandi dengan bercebur ke sungai ini mengandung filosofi membersihkan diri dari hal-hal negatif sehingga diharapkan bisa terhindar dari bala bencana dan kesialan seiring bersihnya badan usai mandi bercebur di Sungai

*Untuk “tolak bala” peserta mandi safar biasanya dibekali dengan Daun sawang* yang merupakan elemen sakral dalam tradisi ini.

  • ➡ *Pesta Mandi Safar*

_*Pesta Mandi Safar Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai- ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala.*_

Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

_*Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui.pesta mandi di sungai.* Umat Islam harus.menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya_

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar.karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah.keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan.

_*Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnyahari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuhkali, dan sebagaiya.* Jelas, itu amalah *khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran Islam dan.tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para.sahabat.*_

Khurafat bulan Safar selengkapnya antara lain:

*1. Larangan menikah dan pertunangan*

*2. Menghalangi bermusafir atau berpergian jauh*

*3. Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial*

*4. Upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar),*

*5. Membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar*

*6. Menjamu makan “makhluk halus” yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang*

*7. Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia.*

*Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajibmengingkari khurafat tersebut. Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar.* Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan:

_“Katakanlah: *“Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.* Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada.Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 )._

Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar.

Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan- amalan pada bulan-bulan lain.

*Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada.sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan.kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan.Islam.*

_Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: *“Tidak ada wabah & tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada.kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa”* (HR.Bukhari). Wallahu a’lam._

  • ➡ *Apakah Rebo Wekasan itu?*

_*Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.* Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. *Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:*_

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

_*“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”*_

_Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:_

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

_*Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.*_

_Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu._

_Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?_

_Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut._

_Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. *Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik*_

_*Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.*_

Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.

*Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni.* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

_*“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).*_

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.

Ditulis oleh Abu ‘Abdillah Kediri.

*[1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf.*

*Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut ngerti sakdurunge winarah.*

*Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.*

*Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam.*

Darussalaf.or.id

==

  • Keyakinan Batil Rebo Pungkasan dan KesialanBulan Shafar

Dikhawatirkan, dengan manganggap hari Rabu terakhir bulan Shafar (mereka sebut Rebo pungkasan, Rebo wekasan, Rebo kasan) sebagai hari turunnya bala’, itu merupakan suuddhon (buruk sangka) terhadap Allah Ta’ala. Gawat. Dari mana mereka bisa menentukan hari Rebo terakhir bula shafar itu sebagai hari turunnya bala’?

Kemudian dari mana pula mereka mengada-adakan ibadah/ ritual begini begitu untuk menghindari bala’ yang mereka tuduhkan itu?

Dikhawatirkan, itu merpakan warisan dari adat buruk jahiliyah yang menganggap bulan shafar bulan sial. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meniadakan keyakinan thiyarah dan semisalnya;

ﻋﻦ ﺃَﺑَﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻟَﺎ ﻋَﺪْﻭَﻯ ﻭَﻟَﺎ ﻃِﻴَﺮَﺓَ ﻭَﻟَﺎ ﻫَﺎﻣَﺔَ ﻭَﻟَﺎ ﺻَﻔَﺮَ ﻭَﻓِﺮَّ ﻣِﻦْﺍﻟْﻤَﺠْﺬُﻭﻡِ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻔِﺮُّ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﺳَﺪِ. ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭ ﻣﺴﻠﻢ

Artinya: ” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hammah, Shofar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

‘Adwaartinya: keyakinan penularan penyakit dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah Ta’ala. Thiyarah artinya: merasa bernasib sial karena melihat burung, binatang atau apapun Hammah artinya: keyakinan jika burung hantu hinggap di atas rumah maka akan ada yang mati Shofar artinya: keyakinan bahwa bulan Shofar adalah bulan sial dan tidak menguntungkan

Maksud dari hadits shahih di atas adalah peniadaan semua keyakinan yang menyatakan bahwa ada pengaruh buruk yang timbul tanpa kehendak dan izin dari Allah ta’ala.

(LanjutKe Halaman 2)

Iklan