Rebo Bontong (Rabu Akhir Bulan Shafar) Dalam Timbangan 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••••

1.Syarah Nama Allah, Asy-Syakûr

SIKAP ANAK MENGHADAPI ORANG TUA YANGMELALAIKAN SHALAT

3.DOSAKAH JIKA MENGINGKARI DALAM HATI

4.Q&A : PENJELASAN TAFSIR SURAT AN-NUR

5.Q&A : BOLEHKAH MEMBACA SURAT SECARA MUNDUR SAAT MURAJA’AH ?

6.Q&A : APA YANG DIMAKSUD HADHARAH DAN MADANIYAH ?

7.Q&A : MENYIKAPI PERBEDAAN PEMAHAMAN AGAMA DENGAN SUAMI

==

Istighosah Dalam Islam-Ust Mizan Qudsiyah 8mb 49mnit

https://mir.cr/0ENM643V

SEBESAR APAPUN DOSA ANDA..!! Allah Akan Ampuni Jika Melakukan Ini-Ust Dr.Firanda Andirja MA 10Mb 1jm

https://mir.cr/09741QNF

Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih-Ustadz Yazid Jawas 16Mb 1jm 29mnit

https://mir.cr/3XAUA1GJ

Agar_Musibah_Tidak_Datang_Lagi-Ust_Syafiq_Basalamah-4Mb 2Mnit

https://mir.cr/0KTIVNVC

Menggugah Nurani Pemirsa TV(Dampak Negatif Televisi)-Ust Zainal Abidin Syamsudin

https://mir.cr/ZNGSJNRH

Dauroh 2Hari Ust Abdullah Taslim

Mengapa Memilih Manhaj Salaf

Sesi sesi2

Menolong Agama Allah

https://drive.google.com/uc?export=download&id=1MiExp6tqjQBYRcQ5ymaGk7dt3ZhMncIv

Kesyirikan sebab datangnya Musibah

Sesi1Sesi2

Aqidah Salaf wa Ashabul Hadits

Bersabar Membina Rumah Tangga

Jalan Menuju Surga

Tanya – Jawab Solusi Problematiak Masa Muda .=

Safari Dakwah Sehari Ustadz Ahmad Zainuddin

Sajen Dalam Pandangan Islam

Sesi1 Sesi2

Kupas Tuntas Kewajiban dan Hak Istri

Fikih Bersedekah –

Cahaya di Balik Gelapnya Subuh

Misteri di Balik Kesyirikan –

Hanya Kepadamu (Iyyaka Na’budu wa Iyaaka Nasta’in) Oleh Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc,M.H.I


Ebook

Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur Dan Menguasai Alam Semesta

Syarah Makna Salah Satu Asmaul Husna (Asy-Syafi) Zat Yang Maha Memberikan Kesembuhan

Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman-Sulaiman bin Nashir bin Abdullah al-Ulwan

Bukan Sekedar Ritual

Antara Zaman Dan Kesialan-Ustadz Abu Zahroh al-Anwar

Fiqih Mengingkari Kemungkaran

.

Rebo Bontong (Rabu Akhir Bulan Shafar) Dalam Timbangan

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentangBulan Shafar, semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

  • ➡ *Rebo Bontong Dalam Timbangan*

———–

Salah satu Nama Allah yang Husna adalah “asy-Syakuur”. Makna asy-Syakuur adalah:

الذي يعطي الثواب الجزيل على العمل القليل

_”Dzat yang memberikan ganjaran dan pahala melimpah untuk amalan yang sedikit.”_

Demikianlah Allah, Rabb kita, Pencipta kita, Pemelihara jagad raya dan Pemberi Rizki segenap makhluk di alam semesta ini. Dia satu-satunya pemberi nikmat kepada hamba-Nya tanpa pernah sekejap pun mengantuk apalagi terlelap.

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

_”Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (mengurus segenap makhluk-Nya)”_ [QS. ar-Rahmaan: 29]

Kemudian sanggupkah kita membayangkan; ada seorang hamba–yang setiap saat bergelimang nikmat Allah–justru bersyukur dan berterimakasih kepada selain-Nya…?? Inilah yang terjadi pada kaum musyrikin terdahulu. Mereka mengakui Allah Pemberi Rizki namun mereka justru bersyukur dengan ritual sesaji dan kurban kepada selain-Nya.

Simak apa kata al-Quran tentang nasib orang-orang yang berterimakasih kepada selain Allah atau berpaling dari bersyukur kepada-Nya

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ * فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ * ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

_”Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. ** Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. ** Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”_ [QS. Sana’a: 15-17]

***

Sayangnya, ritual bersyukur kepada selain Allah ini seolah menemukan pewarisnya dari generasi ke generasi. Tidak terkecuali di tengah kaum muslimin. Sekalipun telah dikemas “se-Islami” mungkin, persinggungan itu masih saja ada, bahkan tumbuh berkembang (atau sengaja dikembangkan).

Tradisi-tradisi semisal Palu Nomoni, Sedekah Laut, Rebo Bontong (Wekasan), sejatinya masih menyisakan persinggungan dengan ritual-ritual warisan masa animisme, sekalipun dimodif dengan dzikir dan doa.

Berbicara khusus ritual Rebo Bontong, persinggungan tersebut berupa; ungkapan rasa syukur demi tertolaknya bala’ karena adanya anggapan sial di bulan Shafar (Rabu terakhir), padahal tidak ada dalil tentang hal ini kecuali tradisi nenek moyang yang turun temurun. Meskipun diniatkan sebagai rasa syukur kepada Allah, tetap saja melanggar syariat. Sebab, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan ritual bersyukur sebagaimana yang dilakukan dalam ritual Rebo Bontong. Syariat juga telah memutus semua tali–sehalus apapun itu–yang bersinggungan dengan ritual-ritual lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Nabi pernah melarang Sahabat untuk menunaikan nadzar kurbannya, jika ditunaikan di lokasi yang dulu pernah menjadi lokasi perayaan animisme (ritual jahiliyah) – [Abu Dawud: 3313]. Ini semata-mata demi memutus semua mata rantai dan mengikis habis sisa-sisa akar kejahiliyahan nenek moyang yang bertentangan dengan Tauhid.

Dengan modifikasi apapun, agaknya ritual Rebo Bontong sulit bisa lepas dari persinggungan dengan keyakinan warisan lama. Ada apa ritual tersebut dilakukan selalu di hari Rabu terakhir bulan Shafar dalam rangka menolak bala’…?? Kenapa dilakukan di pinggir laut sebagaimana upacara yang dilakukan oleh penganut agama lain…?? Tidak ada keterangan baik dari al-Quran maupun dari Rasulullah ﷺ perihal disyariatkannya ritual syukuran *khusus* di tersebut dan dilakukan di pinggir laut. Juga tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa bala’ banyak turun di bulan Shafar.

***

Di sisi lain, persinggungan dengan tradisi lama yang menyimpang, bisa terlihat dari masih berkembangnya keyakinan batil adanya anggapan sial, yang dalam bahasa Nabi disebut “thiyaroh“. Dalam hal ini, menganggap sial hari Rabu terakhir di bulan Shafar, yang dianggap sebagai hari turunnya beragam penyakit dan bala’.

Rasulullah ﷺ tatkala mendengar kabar masih adanya anggapan sial pada bulan Shafar atau pada burung tertentu, beliau dengan tegas bersabda:

لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَلا هَامَةَ وَلا صَفَرَ

_”Tidak ada yang namanya penyakit menular (dengan sendirinya di luar kehendak Allah), tidak ada anggapan sial, tidak gara-gara burung hantu, dan tidak pula di bulan Shafar.“_ [Shahiih al-Bukhaari: 5316]

Ini demi menjaga aqidah umat. Demi menutup semua celah yang bisa mengembalikan umat beliau kepada kejahiliyahan.

***

Alhasil, jika ritual Rebo Bontong ini diniatkan murni sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka ritual ini bukanlah ritual kesyirikan, namun tetap tergolong bid’ah yang terlarang dalam Islam. Sebab Nabi tidak pernah mencontohkannya. Dalam perspektif syariat, ritual ini tidak boleh dihidupkan. Karena masih bersinggungan dengan ritual terdahulu yang tidak sesuai ajaran Islam. Ritual nenek moyang, jika bertentangan dengan Islam, tidak boleh diamalkan. Lagi pula, tradisi nenek moyang bukanlah dalil kebenaran. Dulu orang-orang musyrikin lah yang justru menjadikan tradisi nenek moyang sebagai dalih untuk menolak ajaran para Rasul. Simak ungkapan mereka yang diabadikan dalam al-Quran:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

_”Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”_ [QS. Al-Baqarah: 170]

***

Kembali kepada pembahasan di awal tentang bersyukur, ritual bersyukur dengan cara yang tidak disyari’atkan, tergolong bid’ah. Bid’ah adalah bentuk kemaksiatan. Sebab Rasulullah ﷺ telah bersabda:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

_”Siapa yang mengamalkan amalan (ritual) yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”_ [Shahiih Muslim]

✅ Beliau ﷺ juga bersabda:

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

_”Awas..!! Jauhilah perkara-perkara baru (dalam urusan agama), karena semua kebid’ahan adalah kesesatan.“_ [at-Tirmidzi: 2676, Hadits Hasan]

Dengan demikian, bersyukur dengan tata cara atau ritual yang bid’ah, tidak bisa disebut bersyukur, justru bisa disebut maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan kemaksiatan–meskipun dibalut dengan dzikir dan doa–tidak lain adalah bentuk kekufuran pada nikmat Allah yang bisa berujung pada azab Allah dan bala’.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

_”Allah membuat perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (pen-duduk)nya kufur terhadap nikmat-nikmat Allah (dengan bermaksiat), karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.“_ [QS. An-Nahl: 112]

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk bersyukur kepada Allah dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak meniru tradisi ritual nenek moyang yang tidak berdasar atau tradisi agama lain.

Wallahu a’lam

***

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Telegram: t.me/kristaliman

Web: alhujjah.com

=

  • AGAR TIDAK TERSAMBAR SYUBHAT

Ustadz Dr. Arifin Badri, MA_

Agar tidak tersambar syubhat, kenalilah mengapa syubhat bisa terjadi.

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah berkata:

Penyebab terjadinya syubhat / kesamaran hukum itu ada empat hal:

  • ➡1. _*Minimnya ilmu.*_

Kerena minimnya ilmu, maka seseorang terperangkap dalam kesamaran (syubhat), karena orang yang ilmunya luas mampu mengetahui banyak hal yang tidak dapat diketahui oleh –orang-orang lain yang minim ilmu.

  • ➡2. _*Minimnya daya paham.*_

Maksudnya, pemahamannya lemah, sehingga bisa jadi ada orang yang ilmunya luas lagi banyak, namun pemahamannya lemah, sehingga banyak hal yang samar baginya.

➡3. _*Kurang bersungguh-sungguh dalam menganalisa atau merenungkan,*_ sehingga ia tidak mau bersusah payah mencermati, mencari tahu, dan meneliti kandungan dalil, karena ia merasa tidak ada perlunya terlalu dalam mencermati dalil.

➡4. Ini adalah penyebab terbesar, _*yaitu adanya niat buruk,*_ sehingga tiada niat pada dirinya selain mempertahankan pendapatnya, tanpa peduli apakah pendapatnya itu benar atau salah. Siapapun yang niatnya seperti ini, niscaya ia tidak bisa menemukan kebenaran –kita memohon kepada Allah, semoga diselamatkan dari niat yang seperti ini- karena orang yang seperti ini tidak memiliki tujuan dari ilmu yang ia pelajari selain menuruti hawa nafsunya.

_Perlu diketahui bahwa samarnya kebenaran semacam ini tidaklah terjadi pada semua orang, dengan dua bukti berikut:_

Pertama: Bukti dari dalil, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:*

‎وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس

_Antara yang halal dan yang haram terdapat hal-hal samar, yang tidak diketahui oleh banyak orang._(Muttafaqun ‘alaih)

Berarti logikanya banyak orang berhasil mengetahui hukum hal-hal yang samar tersebut.

Kedua : Bukti dari logika, andai semua dalil bersifat samar bagi semua orang, niscaya Al Qur’an tidak layak sebagai penjelasan (bayan), dan niscaya didapatkan banyak urusan dari Syari’at yang belum diketahui manusia*, dan tentu ini tidak mungkin alias mustahil terjadi.

(Syarah Al Arba’in An Nawawiyah hal 109-110)

*_Jadi syubhat itu intinya kesamaran antara yang benar dari yang salah, dan ini terjadi karena kebodohan dan buruknya niat._*

_Dengan demikian, bila anda merasa suatu masalah bagi anda berstatus syubhat atau samar, maka itu hanya ada dua jawaban:_

➡1. *anda menyadari minimnya ilmu* dan pemahaman, sehingga tidak mampu membedakan antara yang benar dari yang salah, atau

➡2. *mengakui anda memiliki niat buruk.*

*_Mari kita bercermin, kalau anda merasa ada masalah yang syubhat bagi anda, maka solusinya anda diam_* tidak perlu bersikap, membenarkan atau menyalahkan, namun belajar lagi atau ikuti ahli ilmu yang menurut anda paling berilmu, alias segera kibarkan bendera taqlid, dan itu wajib bagi anda.

Kalau anda merasa suatu masalah syubhat bagi anda lalu anda berkomentar menyalahkan atau membenarkan, apalagi sampai menganggap sesat orang lain, *maka itulah sebenarnya alasan yang keempat terjadinya syubhat, yaitu anda memiliki niat buruk,* berupa fanatisme, memaksakan atau sedang dalam upaya pembenaran pendapat sendiri, alias anda sedang dalam kesesatan namun anda tidak menyadarinya.

Semoga Allah melindungi kita semua dari kebodohan, hawa nafsu dan kesesatan, amiin.

Editor : Admin Asy-Syamil.com

==

Ahmad Zainuddin Al Banjary

  • UJIAN KEIMANAN!!!

Memilih Antara Hadits Shahih atau Retorika Perkataan Orang Biasa Yang Dianggap Terkenal…?

Contoh orang tidak paham bid’ah itu apa, akhirnya mengatakan begini:

kipas angin bid’ah – Listrik bid’ah – Kaca mata bid’ah – Kaos baju bid’ah – Potong rambut ke salon bid’ah – Kupluk bid’ah – Baju cina bid’ah– Twitter bid’ah – Facebook bid’ah – Handphone bid’ah – Kamera bid’ah

Akhirnya menyuruh jamaahnya telanjang saja di rumah karena semuanya bid’ah..!!!

UJIANNYA BAGI UMAT ISLAM TERUTAMA DI INDONESIA adalah orang yang mengatakan perkataan di atas adalah orang yang dianggap terkenal di tengah manusia…

Akhirnya orang-orang ragu, mana yang benar antara hadits shahih yang mengatakan: “Setiap bid’ah sesat” atau perkataan menyimpang dari orang biasa yang dianggap terkenal itu!

DISITU UJIANNYA…!

==

  • Sering Masbuq dan Luput Shalat Berjamaah…?? Boleh Jadi, Ini Sebabnya.

————-

Coba cek lagi deh rutinitas shalat kita di masjid. Sering masbuq..?? Sering luput shalat 5 waktu di masjid..?? Boleh jadi itu karena kita sudah meremehkan shalat Sunnah Rawaatib. Tidak lagi berusaha merutinkannya. Awas...!! Lama kelamaan kita bisa terhalang melakukan yang fardhu. Sebab, jika amalan Sunnah saja bisa rutin dijaga, maka apalagi yang wajib..?? Menyepelekan yang Sunnah, bisa fatal akibatnya.

من تهاون بالسنن عوقب بحرمان الفرائض

Siapa yang meremehkan amalan sunnah, akan dihukum dengan tercegahnya ia melakukan yang wajib.(al-Minah al-‘Aliyyah fii Bayaani as-Sunan al-Yaumiyyah: 11, ‘Abdullaah bin Humuud al-Furaih)

***

Termaktublah sebuah kisah yang menakjubkan dalam Shahih Muslim (no. 1727). Sebuah kisah yang dituturkan oleh an-Nu’maan bin Saalim, dia mendengarkan kisah ini dari ‘Amr bin Aus, sementara ‘Amr mendengarnya dari ‘Anbasah bin Abi Sufyan, dan ‘Anbasah mendengarnya dari Ummu Habiibah (Ramlah binti Abi Sufyaan, istri Rasulullah ﷺ). Ummu Habiibah menuturkan; bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

من صلى اثنتي عشرة ركعة في يوم وليلة، بني له بهن بيت في الجنة

_”Siapa yang mengerjakan shalat (Sunnah Rawaatib) 12 raka’at dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan untuknya dengan shalat tersebut rumah di surga.”_

Janji berupa rumah di surga tentu amat menakjubkan. Namun yang tidak kalah menakjubkan adalah ungkapan Ummu Habiibah setelah mendengarkan hadits tersebut dari Rasulullah ﷺ:

فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

_”Aku (Ummu Habiibah) tidak pernah meninggalkannya (12 raka’at Sunnah Rawaatib) semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ”_

‘Anbasah bin Abi Sufyaan yang mendengar hadits ini dari Ummu Habiibah juga berkata

فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة

_”Aku (‘Anbasah) tidak pernah meninggalkannya (12 raka’at Sunnah Rawaatib) semenjak aku mendengarnya dari Ummu Habiibah”_

‘Amr bin Aus pun berkata:

فما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة

_”Aku (‘Amr) tidak pernah meninggalkannya (12 raka’at Sunnah Rawaatib) semenjak aku mendengarnya dari ‘Anbasah”_

an-Nu’maan bin Saalim juga mengatakan hal yang sama:

فما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو.

_”Aku tidak pernah meninggalkannya (12 raka’at Sunnah Rawaatib) semenjak aku mendengarnya dari ‘Amr”_

Demikianlah generasi Salaf, sangat menjaga amalan Sunnah. Amalan wajib jangan ditanya. Tidak heran Nabi menyebut mereka generasi terbaik umat ini.

***

Johan Saputra Halim

Telegram: t.me/kristaliman

Web: alhujjah.com

==(lanjut Ke Halaman 2)

Iklan