• Islam Berbicara HAM

Ketahuilah, sebelum mereka berbicara tentang hak asasi manusia, sungguh Islam telah berbicara terlebih dahulu tentang hak asasi binatang.

Bukankah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telahmemberitahukan bahwa ada wanita yang masuk neraka karena mengurung seekor kucing tanpa diberi makan. Nabi Shallallahun’alaihi wasallam pernah juga menegur seorang sahabat Ansharyang membuat lelah untanya dan membuat lapar.

# Islam itu Rahmatan lil ‘alamin

  • Fatwa Fesbuker

Ternyata berfatwa di zaman para salaf tidaklah sesimpel berfatwa di masa-masa sekarang, apalagi klo baca fatwa para pesbukers Ruwaibidhoh sungguh muak dan menjijikan…

Imam Al Khatib Al Baghdadi di dalam kitabnya Al Jami’ mengatakan (2/174):

“Dikatakan kepada Yahya bin Ma’in, “Bolehkah seorang berfatwa dg menghafal 100 ribu hadits?” Maka beliau menjawab, “Tidak“. Bagaimana kalau 200 ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak“.

Bagaimana kalau 300 rb hadits? Beliau menjawab, “Tidak“.

Bagaimana kalau 500 rb hadits? Beliau menjawab, “Aku berharap mudah2an boleh baginya (berfatwa).”

••Note: Fatwa bukanlah ajang prestisius untuk menggaet pengikut dan memperbesar popularitasnya. Tetapi fatwa adalah tanggung jawab di hadapan Allah, serta pertanggung jawaban dihadapan org2 yg mengikuti fatwanya.

  • Keuntungan Dunia Dan Akhirat

Teruntuk bos pemilik toko atau outlet tertentu, ingatlah!!! manakala anda menekankan karyawan anda untuk beribadah kepada Allah terutama shalat lima waktu, maka anda akanmendapatkan pahala para karyawan anda yg mengamalkan kebaikan tersebut.

✅ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (Muslim)

Ingat keuntungan akhirat jauh lebih besar dari pada keuntungan yg bersifat duniawi. Dan ketika anda menutup toko/outlet anda guna menjalankan shalat atau jum’atan, itu sama sekali tdk mengurangi rizki anda sedikit pun. Karena rizki kita sdh ditentukan dan telah tertulis di lauh mahfudz. Maka, jadilah bos yg mendapatkan keuntungan akhirat dan dunia sekaligus, bukan hanya keuntungan duniawi saja!!!!

 

  • Tes CPNS Pakai Jimat

Sungguh rugi org yg menggunakan jimat, itupun klo dia lulus CPNS kelulusannya tidak akan diberkahi, apalagi klo gak lulus.sungguh seperti orang jatuh tertimpa tangga. Sudah mahal dia merogoh kocek tuk beli jimat, akan tetapi ia mengalami kegagalan total…

Allah Ta’ala tidak akan menyempurnakan perkara orang yg menggunakan jimat…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻖَ ﺗَﻤِﻴْﻤَﺔً ﻓَﻼ ﺃَﺗَﻢَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺪْ ﺃَﺭَﻙَ ﺗَﻌَﻠَّﻖَ ﻭَﺩَﻋَﺔً ﻓَﻼ ﻭَﺩَﻉَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ

Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyempurnakan baginya (urusan)nya dan barangsiapa menggantungkan wad’ah [jimat kerang putih] maka Allah tidak akan menentramkannya.” (HR. Ahmad)

Serahkan urusan anda kepada Allah Ta’ala!!! Ingatlah bahwa rizki anda sudah tertulis di lauh mahfudz.

✅ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻘَﺎﺩِﻳﺮَ ﺍﻟْﺨَﻠَﺎﺋِﻖِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﺑِﺨَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ

Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim, no : 4797)

Dan ingatlah!!! Rizki Allah itu luas bukan hanya sebagai PNS saja!!! Satu hal lagi yang hendaknya kita rubah yakni pola pandang kita dalam memandang rizki. Rizki bukan melulu terkait materi. Bisa tidur nyenyak di malam hari kemudian bangun dengan tubuh segar di pagi hari pun sebenarnya adalah rizki yang sangat besar. Jadi bersyukurlah Allah memberikan rezeki berupa kesehatan.

Abu Ya’la Hizbul Majid

  • RIZKIMU MEMBURUMU

termasuk bagian dari beriman kepada takdir adalah meyakini bahwa Rizki seseorang telah ditetapkan oleh Allah sebagaimana ajal. Kalau ia yakin Rizki sudah diatur, kenapa harus berlebihan dalam mencarinya sampai melupakan kewajiban sebagai seoranghamba.

Lembur sampai berjam-jam, sholat berjamaah sampai ditinggal karena dagangan, dan banyak contoh lainnya. Padahal rizkimu ia yang akan memburumu sebagaimana ajalmu.

✅ Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda:

ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻟﻴﻄﻠﺐ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻛﻤﺎ ﻳﻄﻠﺒﻪ ﺃﺟﻠﻪ

Sesungguhnya Rizki mencari hamba sebagaimana ajal.mencarinya”

Dan Ibnu Umar -Radiallahu anhu- berkata: “kami bersama Rasulullah, kemudian ia melihat buah kurma yang jatuh tidak diketahui pemiliknya, dan diberikan kepada orang yang meminta, dan ia bersabda:

ﻟﻮ ﻟﻢ ﺗﺄﺗﻬﺎ ﻷﺗﺘﻚ

Kalau engkau tidak mendatangi kurma ini niscaya ia yang mendatangi engkau”


Dua hadits tersebut ada dalam kitab As-sunnah, Ibnu Abi ‘ashim. Silahkan lihat takhrijnya di gambar diatas
Dika Wahyudi

==

  • Bulan Shafar Bukan Bulan Sial

Kalau satu bulan Safar penuh SAJA tidak ada yang namanya kesialan, apalagi dalam satu harinya ? Berpikir keraslah wahai orang-orang yang berpikir !

Apakah mereka telah menjadi ilah (Tuhan) baru atau Nabi dan Rasul baru yang dapat mengetahui SECARA PASTI diturunkannya 320.000 balak pada Hari Rabu Terakhir Bulan Safar ?

Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah : telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihab, dia berkata : telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dan yang lain, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan TIDAK ADA SHAFAR (MENJADIKAN BULAN SHAFAR SEBAGAI BULAN HARAM, SIAL ATAU KERAMAT) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).” – HR. Bukhari no. 5278 | Fathul Bari no. 5717, Muslim no. 4116 | Syarh Shahih Muslim no. 2220, Abu Dawud no. 3412, 3413 | no. 3911, 3912 dan Ahmad no. 7301. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Hakam : telah menceritakan kepada kami An Nadhr : telah mengabarkan kepada kami Isra`il : telah mengabarkan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,”Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang reinkarnasi) dan TIDAK PULA SHAFAR (MENGANGGAP BULAN SHAFAR SEBAGAI BULAN HARAM, SIAL ATAU KERAMAT).”- HR. Bukhari no. 5316 | Fathul Bari no. 5757

Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata,

“Maksud Shafar disini adalah bulan Shafar. Dalam hal ini terbagi dalam dua pendapat :

Pertama : Maksud dari Hadits ini adalah menghapus tradisi yang dilakukan masyarakat Jahiliyyah yang mengulur-ulur. Dimana mereka menghalalkan bulan Muharram, lalu menjadikan bulan Shafar sebagai gantinya. Inilah pendapat Malik.

Kedua : Maksud ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah keyakinan kaum Jahiliyah menganggap bulan Shafar adalah bulan kesialan sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mematahkan klaim tersebut. Pendapat ini dikutip Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid Al-Makhuli dari seseorang yang mendengarnya mengatakan pendapat ini. Inilah pendapat yang mendekati kebenaran.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim bin Al Barqi bahwa Sa’id bin Al Hakam : telah menceritakan kepada mereka, ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub : telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Ajlan telah menceritakan kepadaku Al Qa’qa’ bin Hakim dan ‘Ubaidullah bin Miqsam dan Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidak ada ghul (yang dapat menyesatkan seseorangpun).”

Abu Daud berkata : telah dibacakan di hadapan Al Harits bin Miskin -sementara aku menyaksikan- telah mengabarkan kepada kalian Asyhab, ia berkata : Malik pernah ditanya mengenai sabda beliau : “Tidak ada Shafar” maka ia menjawab : “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu menghalalkan bulan Shafar satu tahun dan mengharamkannya satu tahun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada Shafar”

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mushaffa : telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ia berkata : “Aku tanyakan kepada Muhammad bin Rasyid : “Bagaimana dengan kata ‘Hammah’ ? Ia menjawab : “Orang-orang Jahiliyah dulu mengatakan : “Tidaklah orang yang meninggal kemudian dikubur melainkan keluar serangga berbisa dari kuburnya.” Aku tanyakan lagi : “BAGAIMANA DENGAN KATA : “SHAFAR” ? IA MENJAWAB : “AKU PERNAH MENDENGAR BAHWA ORANG-ORANG JAHILIYAH MENISBATKAN KESIALAN KEPADA BULAN SHAFAR.” (HR. Abu Dawud no. 3414 | no. 3913, 3914, 3915)

Banyak sekali orang-orang bodoh yang masih menganggap bahwa bulan Shafar sebagai bulan sial. Bahka ada yang melarang melakukan berpergian di bulan tersebut. Menganggap sial bulan Shafar termasuk Thiyarah yang dilarang.”- Latha’iful Ma’arif, hlm. 35-36

Itu hanya tradisi orang-orang Jahiliyyah saja yang dilestarikan oleh “mereka-mereka” yang mengaku Islam

Seharusnya segala dan seluruh perkara Jahiliyyah itu telah mati dan hilang dibawah kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak harus dilestarikan oleh kalian yang mengaku-ngaku Islam

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Hatim, ia berkata, – Abu Bakr berkata- telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il Al Madani : dari Ja’far bin Muhammad : dari bapaknya, ia berkata : dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika Haji Wada (sebelum wafatnya beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-)“Ketahuilah, semua yang berbau (perkara) Jahiliyah telah dihapuskan di bawah undang-undangku (segala perkara jahiliyah telah terkubur/terhina di bawah kakiku).”- HR. Muslim no. 2137 | Syarah Shahih Muslim no. 1218 dan Ibnu Majah no. 3065 | no. 3074. Lafazh dan sanad di atas milik Muslim no. 2137 | Syarah Shahih Muslim no. 1218

Atha bin Yussuf

•••••••••••••••••••••••

_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_

_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_

Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.

_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak.*_

_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_