Mengunggah…
​Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag.2) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1. Takfir Bukan Masalah Ringan

2.Kufur Difinisi Dan Jenisnya

3. Beda Qadha dan Qadar

4.Al Qur`an Menurut Pandangan Lima Firqah –

5. Apa Itu Jihad

6.Ensiklopedia Islam – Jihad

7.Aqidah Islam Tentang Jama’ah dan Imamah

8. WASATHIYAH (Sikap Tengah-Tengah)AHLUS SUNNAH

9. Tawakkal dan Sebab

10. Salah Paham Memahami Tawakkal

=

Istighosah Dalam Islam-Ust Mizan Qudsiyah 8mb 49mnit

https://mir.cr/0ENM643V

SEBESAR APAPUN DOSA ANDA..!! Allah Akan Ampuni Jika Melakukan Ini-Ust Dr.Firanda Andirja MA 10Mb 1jm

https://mir.cr/09741QNF

Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih-Ustadz Yazid Jawas 16Mb 1jm 29mnit

https://mir.cr/3XAUA1GJ

Agar_Musibah_Tidak_Datang_Lagi-Ust_Syafiq_Basalamah-4Mb 2Mnit

https://mir.cr/0KTIVNVC

lMenggugah Nurani Pemirsa TV(Dampak Negatif Televisi)-Ust Zainal Abidin Syamsudin

https://mir.cr/ZNGSJNRH

Dauroh 2Hari Ust Abdullah Taslim

Mengapa Memilih Manhaj SalafSesi 1 sesi2

Menolong Agama Allah

Kesyirikan sebab datangnya MusibahSes1 sesi2

Aqidah Salaf wa Ashabul Hadits

Bersabar Membina Rumah Tangga

Jalan Menuju Surga

Tanya – Jawab Solusi Problematik Masa Muda Safari 

Dakwah Sehari Ustadz Ahmad Zainuddin

Sajen Dalam Pandangan IslamSesi1 sesi2

Kupas Tuntas Kewajiban dan Hak Istri

Fikih Bersedekah –

Cahaya di Balik Gelapnya Subuh

Misteri di Balik Kesyirikan –

Hanya Kepadamu (Iyyaka Na’budu wa Iyaaka Nasta’in) Oleh Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc,M.H.I

=

Kumpulan Ebook

Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah ) Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf l Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi 1mb 44hlm

(Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah) Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf II- Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi 3mb 99hlm

50 Soal Jawab Seputar Aqidah – Muhammad bin SulaimanAt-Tamimi 5mb 30hlm

Aqidah Islamiyah dan Keistimewaanya-Syaikh Muhammad Ibrahim Al Hamd

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah(Konsep,Ciri Khas dan Kekhususan Penganutnya)-Muhammad bin Ibrahim al Hamd 1mb 266Hlm

Aqidah Seorang Muslim-DarulFatwa 22hlm

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Sahabat-Syaikh Abdul Muhsin Bin Hammad Al Abbad 27hlm

Loyalitas dan Kebencian Yang DisyariatkanIslam-Dr Sholih Fauzan Al FauzanBag1:Bag2

Merenungi Firman Allah Dalam Surat Yasin

Menyikapi Akidah Wahhabiyah-Dr Sholih Fauzan Al Fauzan

Dialog Santai Tentang Aqidah-Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magety

=

  • Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (Bag.2)

بسم الله الرحمن الرحيم

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (4)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:

Berikut ini lanjutan risalah Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma Amin.

  • Tentang Kufur

Menurut Ahlus Sunnah lafaz kufur dalam lafaz syara’ terbagi dua: Kufur Akbar, yaitu kufur yang mengeluarkan dari Islam, dan Kufur Ashghar (kecil), yaitu kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam. Kufur Ashghar disebut juga kufur ‘amali.

Kufur Akbar (besar), yaitu kufur yang mengeluarkan dari Islam karena pelakunya menolak Islam, bentuk penolakannya bisa berupa:

a.     Takdzib (mendustakan) lihat dalilnya di QS. Al ‘Ankabut: 68,

b.     Istikbar (sombong) lihat dalilnya di QS. Al Baqarah: 34,

c.     Syak (ragu-ragu) lihat dalilnya di QS. Al Kahfi: 35-38,

d.     I’radh (berpaling) lihat dalilnya di QS. Al Ahqaaf: 3

e.     Nifaq (munafik) lihat dalilnya di QS. Al Munaafiqin: 3.

f.      Bisa juga berupa Istihlaal (menganggap halal sesuatu yang jelas-jelas haram).

Sedangkan Kufur Ashghar (kecil) yakni kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam, ialah perbuatan-perbuatan yang syara’ menamainya kufur. misalnya kufur terhadap nikmat Allah, memerangi seorang muslim, dsb.

  • Tentang Takfir

Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah takfir (pengkafiran seseorang) termasuk hukum syar’i yang kembalinya kepada Al Qur’an dan As Sunnah, tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena ucapan atau perbuatan yang dilakukannya selama dalil syar’i tidak menunjukkan demikian, dan tidak boleh mengatakan seseorang kafir kecuali jika sudah terpenuhi syarat-syaratnya yaitu jika ia lakukan dengan kerelaan/merasa tentram hati dengannya (yakni tidak dipaksa, lihat dalilnya di QS. An Nahl : 106), sadar, baligh, berakal dan bukan karena syubhat (salah ta’wil). Dan takfir adalah masalah yang butuh kehati-hatian.

Singkatnya, takfir secara mu’ayyan (seseorang) harus adanya iqamatul hujjah (tegak hujjah) dan izalatul mawani’ (hilangnya penghalang).

  • Tentang Al Qur’an

Ahlus Sunnah wal Jama’aah mengimani bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah) baik huruf maupun maknanya, diturunkan bukan makhluk, dari Allah-lah mulainya dan kepada-Nya-lah kembali. Turun dari Allah sebagai mu’jizat yang menunjukkan benarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Al Qur’an tetap terus terjaga hingga hari kiamat.

Ahlus Sunnah wal Jama’aah mengimani bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berbicara sesuai kehendak-Nya, kapan saja dikehendaki-Nya, dan bagaimanapun caranya sesuai kehendak-Nya. Firman-Nya adalah hakikat dengan huruf dan suara, namun kaifiyatnya tidak kita ketahui dan kita tidak mempermasalahkannya.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’aah siapa saja yang mengingkari satu saja ayat Al Qur’an, mengatakan ada yang kurang, atau ada yang ditambahkan, atau terjadi penyelewengan di dalamnya, maka orang itu kafir.

Al Qur’an, menurut Ahlus Sunnah harus ditafsirkan dengan tafsir yang sejalan dengan manhaj salaf, tidak boleh menafsirkan dengan pendapat semata, karena hal ini bisa masuk ke dalam berkata-kata tentang Allah tanpa ilmu. Dan menafsirkan Al Qur’an dengan tafsir kaum Bathiniyyah adalah sebuah kekufuran.

  • Tentang masalah qadar

Termasuk rukun iman adalah beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Termasuk beriman kepada qadar adalah:

✅ a.    Beriman bahwa Allah mengetahui (‘ilm) segala sesuatu, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, baik yang besar maupun yang kecil (lihat dalilnya di QS. Al Hajj : 70).

✅ b.    Dia mencatat (kitabah) taqdir semua makhluk dalam Al Lauhul Mahfuzh (lihat dalilnya di QS. Al Hadid : 22), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah mencatat taqdir semua makhluk lima puluh tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

✅ c.    Semua yang terjadi di alam semesta  adalah dengan iradah dan kehendak Allah antara rahmat (kasih-sayang-Nya) dan hikmah-Nya, Dia menunjuki siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya, Dia tidak dimintai pertanggung jawaban terhadap perbuatan-Nya karena sempurna hikmah dan kekuasaan-Nya, manusia-lah yang dimintai pertanggung jawaban dan bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, sebaliknya apa saja yang tidak dikehendaki-Nya, pasti tidak akan terjadi.

✅ d.    Mengimani bahwa semua yang ada di langit dan di bumi adalah makhluk (ciptaan) Allah Subhaanahu wa Ta’aala (lihat dalilnya di QS. Al Furqan : 2 dan Ash Shaffaat : 96)

  • Iraadah (kehendak) Allah terbagi dua; Kauniyyah dan Syar’iyyah.

✅ 1. Iraadah Kauniyyah, yaitu iraadah yang bermakna masyi’ah (kehendak), seperti dalam ayat berikut,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk  Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Al An’aam : 125)

✅ 2. Iraadah Syar’iyyah, yaitu iradah yang mengandung makna mahabbah (cinta), seperti dalam ayat berikut,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

Dan Allah hendak menerima taubatmu.” (QS. An Nisaa’ “ 27)

Perbedaan antara Iraadah Kauniyyah dengan Syar’iyyah adalah, bahwa iradah kauniyyah itu belum tentu dicintai Allah Ta’ala meskipun terwujud. Sedangkan iradah syar’iyyah itu sudah tentu dicintai Allah Ta’ala meskipun belum/tidak terwujud.

Lebih jelasnya tentang iradah kauniyyah adalah seperti pada ayat berikut,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang  setelah rasul-rasul itu; setelah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada di antara mereka ada yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Baqarah : 254)

Terjadinya bunuh-bunuhan pada ayat tersebut adalah dengan kehendak Allah Ta’ala, karena setiap yang terjadi di alam semesta ini adalah terjadi dengan kehendak Allah  sebagaimana telah dijelaskan, akan tetapi kehendak Allah tersebut, bukanlah berarti bahwa Allah senang/cinta dengan perbuatan tersebut meskipun terwujud.

Dalam beriman kepada qadar ada dua golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah:

➡ Golongan pertama yang menyimpang adalah Jabriyyah, mereka mengatakan bahwa “Manusia dipaksa dalam perbuatannya dan tidak  memiliki pilihan”.

Kita bantah mereka dengan beberapa alas an berikut:

✅ a.     Bukankah Allah Ta’ala menisbatkan amalan manusia kepadanya dan menjadikannya sebagai usahanya, dimana dari sanalah ia diberi pahala dan diberi siksa, kalau seandainya manusia dipaksa tentulah tidak dinisbatkan amalannya kepadanya dan sudah barang tentu siksaan yang ditimpakan kepadanya adalah sebuah kezaliman (penganiayaan).

✅ b.     Bukankah kita merasakan antara perbuatan yang dipaksakan dengan yang tidak dipaksakan? Dan bukankah kita tidak menerima kalau ada yang menyakiti kita lalu ia beralasan bahwa ia menyakiti kita karena dipaksa oleh qadar Allah? Apakah ia mengetahui sebelum menyakiti kita, bahwa qadar Allah memutuskan untuk menyakiti kita, padahal qadar Allah itu tersembunyi?

Golongan yang kedua adalah Qadariyyah, mereka mengatakan bahwa “Manusia bebas terhadap sikapnya, Allah sama sekali tidak berkuasa terhadapnya.”

Kita bantah mereka dengan mengatakan:

✅ a.     Sesungguhnya perkataan mereka itu menyalahi Al Qur’an, As Sunnah, dan kenyataan.

✅ b.     Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’ala Penguasa/Raja alam semesta termasuk manusia, lalu bagaimana kehendak-Nya dan kekuasaan-Nya sama sekali tidak ada dalam kerajaan-Nya ?

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa seorang hamba mendapatkan petunjuk atau menjadi sesat itu di Tangan Allah, siapa saja di antara mereka yang diberi petunjuk oleh Allah maka itu karena karunia-Nya. Dan di antara mereka ada orang yang memang sudah pantas tersesat, maka orang itu tersesat karena keadilan-Nya.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hamba dan amal yang dilakukannya termasuk makhluk ciptaan Allah yang tidak ada Pencipta selain Dia (lihat dalilnya di QS. Ash Shaffaat : 96).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan hikmah (kebijaksanaan) pada setiap perbuatan Allah Ta’ala, dan menetapkan bahwa sebab dapat berpengaruh dengan kehendak Allah.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan sudah dicatat sebelum manusia diciptakan.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seseorang tidak boleh beralasan dengan qadar Allah ketika melakukan maksiat, karena beberapa alasan berikut:

✅ 1. Allah Ta’ala menisbatkan amalan manusia itu kepada manusia dan menjadikan amalan itu sebagai usahanya, Allah ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ

     “Pada hari ini, masing-masing jiwa akan dibalas dengan apa yang diusahakannya.” (Terj. QS. Ghaafir : 17)

     kalau seandainya manusia tidak memiliki pilihan dan kemampuan tentu tidak dinisbatkan amalan itu kepadanya.

✅ 2..Allah Ta’ala telah memerintah dan melarang manusia, serta tidak membebaninya kecuali sesuai kesanggupannya, kalau seandainya manusia dipaksa dalam mengerjakan sesuatu, tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak bisa menolaknya, karena orang yang dipaksa tidak mampu melepaskan diri darinya dan ini jelas batil. Oleh karena itu dalam Islam apabila terjadi maksiat karena ketidaktahuan, lupa, atau dipaksa maka ia tidak berdosa.

✅ 3. Semua manusia dapat merasakan adanya perbedaan antara perbuatan yang ia dapat memilihnya, dengan yang dipaksakan.

✅ 4. Orang yang melakukan maksiat sebelum mengerjakannya tidak tahu apa yang ditaqdirkan untuknya, dia dengan kemampuannya bisa memilih antara mengerjakan atau meninggalkan, lalu mengapa ia malah memilih jalan yang salah dan beralasan dengan qadar yang tidak diketahuinya? Bukankah sepantasnya ia menempuh jalan yang baik lalu berkata “Inilah yang ditaqdirkan kepadaku. »

✅ 5. Bagaimana menurut anda, jika ada seseorang yang mengambil harta anda atau mengganggu kehormatan anda lalu ia berkata kepada anda, “Saya lakukan ini karena qadar Allah, maka jangan hukum saya.” Apakah anda akan menerima alasannya? Tentu anda tidak akan menerima alasannya.

==

Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (5)

  • Tentang sebab

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa tawakkal (menyerahkan urusan) kepada Allah adalah kewajiban agama dan masuk ke dalam ‘Aqidah Islam.

Mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidaklah memahami tawakkal seperti yang dipahami oleh orang-orang yang jahil terhadap Islam, yakni bahwa tawakkal itu hanyalah ucapan yang semata-mata dikeluarkan oleh lisan, namun tidak masuk ke hati, atau bahwa tawakkal itu meninggalkan sebab dan tidak perlu beramal, serta rela dangan kehinaaan dan kerendahan. Bahkan sebenarnya tawakkal itu adalah sebuah ketaatan kepada Allah dengan mengerjakan sebabnya, hanya saja mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) menyerahkan bagaimana hasilnya kepada Allah subhaanahu wa Ta’aala, karena hanya Dia-lah yang kuasa mendatangkannya.

Mereka tidaklah memandang bahwa sebab adalah penentu segalanya, yang menentukan adalah Allah. Betapa banyak orang yang yang menjalankan sebab untuk mencapai sesuatu yang diharapkan, namun ternyata ia tidak memperolehnya.

Oleh karena itulah, bersandar sepenuhnya dalam mencapai sesuatu kepada sebab adalah sebuah kesyirkkan. Berpaling dari sebab padahal ia mampu mengerjakannya adalah melanggar syariat. Dan menafikan bahwa sebab memiliki pengaruh menyelisihi syara’ dan akal, dan tawakkal itu sama sekali tidaklah menafikan sebab.

  • Tentang Jama’ah dan Imamah

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa yang dimaksud “Jamaa’ah” adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para taabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat, mereka Al Firqah An Naajiyah.

Siapa saja yang mengikuti jalan hidup mereka, maka ia termasuk “Jam’aah”, meskipun dalam masalah yang sifatnya Juz’iyyah (cabang agama) ia keliru.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah melarang berpecah-belah dalam beragama, dan melarang membebani kaum muslimin (fitnah), dan mewajibkan mengembalikan masalah yang diperselisihkan kaum muslimin kepada Al Qur ‘an, As Sunnah, dan yang dipegang oleh As Salafush Shalih.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, siapa saja yang keluar dari jama’ah kaum muslimin (seperti bughat/kaum pemberontak), maka ia wajib dinasihati, didakwahkan, dan didebat dengan cara yang baik serta menegakkan hujjah kepadanya, jika ia tidak mau bertaubat maka diberi hukuman yang pantas secara syara’.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat, bahwa kaum muslimin tidak boleh dibebani dengan masalah-masalah yang sangat rumit serta hal-hal yang terlalu dalam.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menghukumi bahwa asal kaum muslimin itu selamat niat dan keyakinan, sampai tampak jelas memang menyalahi, asasnya adalah mengira-ngirakan pendapat mereka dengan perkiraan yang baik, namun siapa saja yang memang tampak keras kepala dan buruk niatnya, maka tidak perlu membuat banyak ta’wil lagi buatnya.

Firqah-firqah yang ada pada kaum muslimin yang melenceng dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah terancam kebinasaan, mereka dihukumi seperti dihukuminya orang-orang yang terancam lainnya.

Shalat Jum’at dan shalat jama’ah termasuk syi’ar-syi’ar Islam yang agung.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, shalat di belakang seseorang yang belum jelas keadaan sebenarnya adalah sah, meninggalkannya hanya karena belum jelas keadaannya adalah bid’ah.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang tidak boleh shalat di belakang orang yang menampakkan kebid’ahan atau kefasikan, padahal ia mampu untuk shalat di belakang yang lainnya, meskipun jika dilakukan hal tersebut, maka shalatnya tetap sah, namun pelakunya berdosa, kecuali jika tujuannya untuk menghindari mafsadat yang lebih besar. Namun, jika ternyata yang ada imam shalatnya hanya begitu atau yang lebih buruk darinya, maka boleh shalat di belakangnya dan tidak boleh meninggalkannya.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah siapa saja orang yang dihukumi sebagai orang kafir, maka tidak sah shalat di belakangnya.

Imaamah kubraa (Kepemimpinan yang sifatnya menyeluruh) dianggap sah dengan kesepakatan ummat, atau adanya bai’at dari Ahlul Halli wal ‘Aqd, demikian juga siapa saja yang mengalahkan yang lain sehingga yang lain tunduk dan bersatu di bawahnya maka wajib ditaati dalam hal yang ma’rufnya, dan haram hukumnya memberontak kecuali jika pemimpin tersebut jelas-jelas melakukan kekufuran dan kita mempunyai dalil tentang kufurnya.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa shalat, hajji, dan jihad wajib bersama pemerintah kaum muslimin, meskipun mereka orang yang zalim.

Haram hukumnya mengadakan peperangan antar kaum muslimin hanya karena alasan duniawi atau kepentingan golongan, hal ini termasuk dosa yang sangat besar. Yang dibolehkan adalah memerangi ahlul bid’ah (dalam bidang Akidah), pemberontak dan sejenisnya, jika tidak ada jalan lain yang lebih ringan dari itu (melakukan peperangan), bahkan hal itu bisa menjadi wajib tergantung maslahat dan situasi.

  • Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang adil dan terpercaya, mereka adalah ummat yang paling utama, keimanan dan kelebihan mereka dalam hal agama adalah hal yang sudah maklum (kita ketahui bersama), mencintai mereka adalah sebuah keimanan, sedangkan membencinya adalah sebuah kemunafikan.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menahan diri dalam hal yang diperselisihkan oleh para sahabat dan tidak terlalu dalam ketika berbicara tentang hal itu; yakni dalam hal yang malah bisa mengurangi kemuliaan mereka.

Di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, lalu Ali. Mereka adalah para khalifah yang mendapat petunjuk. Kekhalifahan mereka berlangsung secara berurut.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah termasuk bagian agama adalah mencintai Ahlul bait (keluarga) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berwala’ kepada mereka, memuliakan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui keutamaan mereka, mencintai imam-imam kaum muslimin terdahulu, juga mencintai ulama sunnah, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta menjauhi ahlul bid’ah wal ahwaa’.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, jihad fii sabiilillah adalah puncak Islam, dan tetap berlaku sampai tibanya hari kiamat.

  • Tentang Amr ma’ruf dan Nahy mungkar

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa Amar ma’ruf-Nahy mungkar termasuk syi’ar Islam yang agung, dan menjadi sebab terjaganya jamaah kaum muslimin. Amar Ma’ruf dan Nahy Mungkar wajib sesuai kemampuan, dan dalam hal ini perlu diperhatikan maslahat.

Dalam melakukan nahy munkar kemungkinan ada 4 hal yang akan terjadi:

1.   Yang munkar itu hilang dan digantikan dengan yang ma’ruf.

2.   Yang munkar itu berkurang atau menjadi lebih kecil, namun tidak hilang secara keseluruhan.

3.   Yang munkar itu hilang, namun digantikan dengan kemunkaran yang sama besarnya.

4.   Yang munkar itu hilang, namun digantikan dengan kemunkaran yang lebih besar.

Maka dalam menghadapi dua kemungkinan pertama (no. 1 & 2), nahy mungkar disyari’atkan, sedangkan pada no. 3 merupakan tempat berijtihad, dan pada kemungkinan no. 4 kita tidak melakukan nahy munkar.

  • ➡ Tentang jihad

Jihad adalah salah satu syi’ar Islam yang sangat tinggi, ia adalah puncak Islam, dan tetap berlaku hingga tibanya hari kiamat. Ia disyari’atkan bukanlah untuk menumpahkan darah, ia adalah ibadah, jihad disyari’atkan untuk membela diri dari kezaliman dan untuk mendakwah Islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.

JIhad terbagi dua:

Pertama, Jihad Fath/thalab yaitu jihad yang dilakukan oleh pemerintahan Islam (tentunya mereka memiliki daulah/negara dan imam) dengan mengirim pasukan ke suatu negeri yang memulai memerangi Islam (misalnya orang yang mendakwahkan Islam dan yang menerima dakwah Islam disiksa dan dihalangi), tentunya dengan didahului mendakwahkan Islam kepada mereka. Jika penduduk negeri tersebut menerima Islam maka perang dihentikan, dan jika mereka menolak memeluk Islam, maka mereka diberi pilihan lain yaitu membayar jizyah (pajak)[i]. Namun jika mereka (orang-orang kafir tersebut) menolak membayar jizyah maka barulah diperangi.

Kedua, Jihadud difaa’ yaitu jihad yang dilakukan karena membela diri dari penindasan atau penganiayaan, misalnya negeri kaum muslimin diserang, maka hukumnya wajib bagi masing-masing penduduk negeri tersebut melakukan perlawanan. Jika mereka lemah, maka bagi kaum muslimin yang berada di negeri tetangganya harus membantu.

Tentunya jihad itu memerlukan persiapan baik persiapan tarbawi (yakni pembinaaan kepada masing-masing pasukan dengan ajaran Islam yang benar) serta persiapan maaddiy (yakni dengan memiliki perlengkapan perang yang bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh)[ii].

[i] Jizyah diambil dari orang kafir yang baligh dan merdeka bukan anak-anak dan wanita (baik orang kafir tersebut Yahudi, Nasrani, Majusi maupun orang musyrikin) sejumlah 1 dinar (10 dirham atau kira-kira 4 ½ gram emas), dan boleh lebih misalnya 4 dinar (40 dirham) sesuai dengan pendapat pemerintah Islam dan kemaslahatan.

Jizyah ini diambil pada setiap akhir tahun, adapun bagi orang kafir yang fakir atau yang tidak punya atau tidak bisa bekerja seperti karena sakit dan sudah tua maka tidak dikenakan jizyah kepadanya. Jizyah ini diberikan untuk maslahat umum. Dengan jizyah maka harta, darah, dan kehormatan orang kafir dilindungi Islam.

[ii] Singkatnya seorang mujahid sebelum berjihad harus memiliki niat yang benar yaitu untuk meninggikan kalimat Allah, di bawah pemerintahan Islam dan izin dari imam, menyiapkan perlengkapan, meminta keridhaan kedua orang tua atau izinnya (kecuali jika musuh menyerang negerinya, atau imam/pemerintah Islam menunjuknya, maka dalam hal ini izin kedua orang tua gugur). Demikian juga ia harus taat kepada pemimpin. Jihad ini diwajibkan bagi orang muslim, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, mampu berperang, dan memiliki harta untuk menanggung keluarga yang ditanggungya ketika ia pergi.

Hukum jihad adalah fardhu kifayah (jika ada yang telah melakukannya, maka bagi yang lain tidak wajib) kecuali dalam keadaan berikut maka menjadi fardhu ‘ain:

a.        JIka seseorang hadir dalam peperangan

b.        Jika musuh menyerang negerinya.

c.        Jika ditunjuk oleh imam.

=(lanjut Ke Halaman 2)

Iklan