Meluruskan Aqidah dan Manhaj (Bag.3)

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Kaedah Penting dalam Memahami Al Qur’an dan Hadits

2. Dasar Islam Adalah Al-Qur’an Dan As-Sunnah Yang Shahih Menurut Salafush Shalih

3. Saatnya Memahami Islam Dengan Benar –

4.Wisata Spiritual Ke Kuburan Wali | 

5.Safar dalam Rangka Ziarah Kubur , Apakah Disyariatkan

6.Kaidah Mengkafirkan Orang Tertentu

7.Patokan Pengkafiran

8. Hukum Wasilah Tawassul

9.Adakah Ayat Alquran yang Bertentangan dengan Hadist Shahih

10. Kedudukan Mempelajari Ilmu Duniawi ( Sains ) dalam Syariat

Istighosah Dalam Islam-Ust Mizan Qudsiyah 8mb 49mnit
https://mir.cr/0ENM643V
https://drive.google.com/file/d/1eGkZE4Rat2fpwU0UuSVyjgRBeTU9jran/view?usp=drivesdk 

 SEBESAR APAPUN DOSA ANDA..!! Allah Akan Ampuni Jika Melakukan Ini-Ust Dr.Firanda Andirja MA 10Mb 1jm
https://mir.cr/09741QNF
https://drive.google.com/file/d/1IEk6K-DcRJdQ2kZ3kbWNTYCXyda51Isv/view?usp=drivesdk 

Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih-Ustadz Yazid Jawas 16Mb 1jm 29mnit
https://mir.cr/3XAUA1GJ
https://drive.google.com/file/d/157NBOfqwmbAAERJmocGjL6FKavpDehaX/view?usp=drivesdk 

Agar_Musibah_Tidak_Datang_Lagi-Ust_Syafiq_Basalamah-4Mb 2Mnit
h
ttps://mir.cr/0KTIVNVC
https://drive.google.com/file/d/1kdSbbTiT6ihY04E-PhI4E6Zs0Tzg9gx6/view?usp=drivesdk 

Menggugah Nurani Pemirsa TV(Dampak Negatif Televisi)-Ust Zainal Abidin Syamsudin
https://mir.cr/ZNGSJNRH
https://drive.google.com/file/d/1ZptB-5Nt4WMK-nEfTNnhwUd81S_jWRlz/view?usp=drivesdk 
Dauroh 2Hari Ust Abdullah Taslim

Mengapa Memilih Manhaj SalafSesi 1 Sesi2

Menolong Agama Allah

Kesyirikan sebab datangnya MusibahSes1 Sesi2

Aqidah Salaf wa Ashabul Hadits

Bersabar Membina Rumah Tangga

Jalan Menuju Surga

Tanya – Jawab Solusi ProblematikA Masa Muda 

Safari Dakwah Sehari Ustadz Ahmad Zainuddin

Sajen Dalam Pandangan IslamSesi1Sesi2

Kupas Tuntas Kewajiban dan Hak Istri

Fikih Bersedekah –

Cahaya di Balik Gelapnya Subuh

Misteri di Balik Kesyirikan –

Hanya Kepadamu (Iyyaka Na’budu wa Iyaaka Nasta’in) Oleh Ustadz Fadlan Fahamsyah Lc,M.H.I

Kumpulan Ebook

( Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah ) Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf l Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi 1mb 44hlm

(Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah) Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf II- Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi 3mb 99hlm

50 Soal Jawab Seputar Aqidah – Muhammad bin SulaimanAt-Tamimi 5mb 30hlm

Aqidah Islamiyah dan Keistimewaanya-Syaikh Muhammad Ibrahim Al Hamd

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah(Konsep,Ciri Khas dan Kekhususan Penganutnya)-Muhammad bin Ibrahim al Hamd 1mb 266Hlm

Aqidah Seorang Muslim-DarulFatwa 22hlm

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Tentang Sahabat-Syaikh Abdul Muhsin Bin Hammad Al Abbad 27hlm

Loyalitas dan Kebencian Yang DisyariatkanIslam-Dr Sholih Fauzan Al FauzanBag1Bag2

Merenungi Firman Allah Dalam Surat Yasin

Menyikapi Akidah Wahhabiyah-Dr Sholih Fauzan Al Fauzan

Dialog Santai Tentang Aqidah-Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magety

Quran and Modern Science Compatible or
Incompatible ?-Dr Zakir Naik 

=

Meluruskan Aqidah dan Manhaj (Bag.3)

بسم الله الرحمن الرحيم

Meluruskan Aqidah dan Manhaj (7)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan pembahasan tentang kekeliruan dalam Aqidah dan manhaj, semoga Allah menjadikan risalah ini ditulis ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

  • 16. Memahami Islam tidak seperti  As Salafush shaalih  memahami

Ajaran Islam yang murni menjadi samar saat begitu banyak golongan-golongan yang muncul sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di zaman seperti ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita menjadikan Sunnah Beliau dan sunnah para sahabat Beliau sebagai tolok ukur untuk menilai benar tidaknya suatu pemahaman. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ *

Kamu akan melihat setelahku perselisihan yang dahsyat. Maka kalian harus berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan geraham serta jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih, HR. Ibnu Majah)

✅ Sabda Beliau, “Kamu akan melihat setelahku perselisihan yang dahsyat. Maka kalian harus berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk,” yakni siapa saja yang diberi umur panjang, maka ia akan melihat banyak perselisihan dan perbedaan –baik dalam masalah aqidah, manhaj (cara beragama), maupun ibadah-.

Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan ternyata benar-benar terjadi. Telah terjadi perselisihan yang banyak sepeninggal Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini tampak sekali setelah terbunuhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, pintu fitnah terbuka, umat Islam pun berselisih dan terus berselisih. Namun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan begitu saja umatnya kebingungan, bahkan Beliau memberikan jalan keluar saat kita menghadapi kondisi tersebut, yaitu dengan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni saat menyaksikan keadaan yang beraneka ragam tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk mengikuti sunnah Beliau meskipun menyelisihi kebanyakan orang. Tidak sebatas itu, Beliau juga menyuruh kita mengikuti para khalifah (pengganti) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak lain adalah para sahabat Beliau, di mana terdepannya adalah khalifah yang empat; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum.

Hal itu, karena bisa saja di antara golongan-golongan itu berdalih dengan ayat Al Qur’an, namun dalam memahaminya tidak seperti yang dipahami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Inilah solusi agar kita tetap di atas hidayah/petunjuk saat terjadi banyak perselisihan seperti di zaman sekarang. Dengan demikian, tolok ukur benar tidaknya Akidah, manhaj, jalan hidup, dan ibadah kita di zaman banyaknya perselisihan seperti sekarang ini adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jika sudah sama seperti pemahaman mereka berarti pemahaman kita sudah benar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman seperti yang kamu[i] telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (Terj. QS. Al Baqarah: 137)

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى

Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin[ii], Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu.”. (Terj. QS. An Nisaa’: 115)

Kedua ayat ini cukup jelas, bahwa jika kita memiliki pemahaman terhadap Islam seperti yang mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat) pahami, tentu kita berada di atas petunjuk.

✅ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيأ فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا اَبَرَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ قُلُوْبًا وَاَعْمَقُهَا عِلْمًا وَاَقَلُّهَا تَكَلُّفًا وَأَقْوَمُهَا هَدْياً وَأَحْسَنُهَا حَالاً قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ تَعَالَى لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِقَامَةِ دِيْنِهِ فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ

“Barang siapa yang hendak mencari panutan, maka carilah panutan dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah orang yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya dan paling baik keadaannya. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah Ta’ala untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menegakkan agamanya, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka, karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Jaami’ Bayaanil ‘ilm).

✅ Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Semua ibadah yang tidak pernah dilakukan para sahabat, maka janganlah kamu lakukan.”

Di samping itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan cermin ajaran Islam, yakni apabila kita ingin melihat Islam maka lihatlah Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, jangan melihat kaum muslimin zaman sekarang. Karena kaum muslimin di zaman sekarang banyak meninggalkan ajaran agamanya, mereka mengerjakan larangan-larangan dan meninggalkan perintah, sehingga tidak bisa melihat Islam dengan melihat mereka.

Sebagai bukti bahwa para sahabat adalah cermin ajaran Islam perhatikanlah bagaimana sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Islam ketika ditanya oleh raja Najasyi dengan pertanyaan berikut, “Apa sebenarnya agama yang menyebabkan kalian meninggalkan (agama) kaum kalian, tidak mau masuk ke dalam agamaku dan tidak juga ke dalam agama yang lain di antara beberapa agama?”

✅ Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai baginda, dahulu kami orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, mengerjakan perbuatan keji, memutuskan tali silaturrahim, berbuat jahat kepada tetangga dan orang yang kuat di antara kami menindas yang lemah, dahulu kami seperti ini. Lalu Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami, kami mengenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya dan dirinya yang jauh dari perbuatan haram. Beliau menyeru kami untuk beribadah kepada Allah; agar kami mengesakan-Nya dan menyembah (hanya) kepada-Nya. Beliau menyuruh kami meninggalkan sesembahan yang selama ini kami dan nenek moyang kami menyembahnya berupa batu dan berhala. Beliau menyuruh kami berkata-kata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan menghindarkan diri dari perbuatan haram serta menumpahkan darah.

Beliau juga melarang kami mengerjakan perbuatan keji, berkata dusta, memakan harta anak yatim, menuduh berzina wanita yang baik-baik. Beliau menyuruh kami beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan menyuruh kami mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa…dst. (Ja’far menyebutkan sebagian ajaran Islam yang lain). Maka kami membenarkannya, mengimaninya dan mengikuti apa yang dibawanya berupa agama Allah. Kami pun beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kami mengharamkan yang diharamkan kepada kami dan menghalalkan yang dihalalkan kepada kami. Namun kaum kami malah memusuhi kami, mereka menghukum kami, menyiksa kami agar kami keluar dari agama kami kembali menyembah berhala selain Allah Ta’ala, juga agar kami menghalalkan kembali perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kami halalkan. Ketika mereka menindas kami, menzalimi kami dan mempersempit ruang gerak kami serta menghalangi kami menjalankan agama kami. Kami pun berhijrah ke negeri Anda, memilih Anda daripada yang lain, kami senang dengan perlindungan Anda serta kami berharap agar kami tidak dizalimi di hadapan anda wahai baginda.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam takhrijnya terhadap Fiqhus Siirah).

[i] Yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[ii] Yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meluruskan Aqidah dan Manhaj (8)

➡ 17. Adanya anggapan bahwa di antara ayat-ayat Al Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang bertentang dengan pengetahuan modern.

Ketahuilah, bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidak akan bertentangan selamanya dengan ilmu pengetahuan modern[i]. Kalau pun dikira bertentangan, maka yang perlu diteliti kebenarannya adalah ilmu pengetahuan/penemuan tersebut apakah sudah benar (shahih) atau belum, karena ilmu pengetahuan yang benar tidak akan bertentangan selamanya dengan dilalah yang qath’i (sharih/jelas) dari Al Qur’an dan As Sunnah. Di samping itu, Al Qur’an dan As Sunnah-lah yang membuka pintu bagi akal manusia agar mengasah otaknya dan menggunakan akalnya serta mencela sikap taqlid (membeo tanpa melihat benar-tidaknya orang yang diikuti, ilmiah atau tidaknya orang yang diikuti); dimana taqlid adalah salah satu sumber kebodohan, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat di Al Qur’an. Misalnya firman Allah Azza wa Jalla,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak, bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. (Apakah mereka masih tetap mengikuti) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al Baqarah: 170)

Oleh karena itu sangatlah mustahil jika ada ayat atau hadits yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern, karena Al Qur’an dan As Sunnah mendorong manusia agar menggunakan akalnya dalam banyak ayat Al Qur’an.

Ada juga masalah yang perlu kami sampaikan di sini, yaitu “Adanya anggapan bahwa jika suatu hadits bertentangan dengan akal yang sehat, maka hadits itu ditolak meskipun shahih.”

Perlu diketahui, bahwa akal yang sehat tidak akan mungkin bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau boleh terjadi pertentangan, maka bisa jadi hadits tersebut dha’if (tidak shahih) atau akalnya yang kurang cerdas atau kedalaman berfikirnya masih kurang.

Ada pula yang memiliki anggapan bahwa bahwa dalil-dalil yang menjadi dasar syari’at kadang terjadi kontradiksi (pertentangan).

Terhadap anggapan ini, kami jawab dengan

Imam Syathibiy rahimahullah berikut,

Dalil-dalil yang menjadi dasar syari’at tidak mungkin satu dengan yang lainnya saling bertentangan, maka siapa pun yang meneliti kaedah hukum dengan seksama, pasti tidak mendapati kesamaran sama sekali di dalamnya, sebab tidak mungkin terjadi pertentangan antara ajaran agama, sehingga kita tidak menemukan adanya dua dalil yang disepakati umat Islam saling kontradiktif yang menghendaki seseorang tawwaquf (diam tidak beramal), namun karena seorang mujtahid tidak ma’shum boleh jadi yang terjadi pertentangan bukan dalam nashnya tetapi dalam pemahamannya.”

Kalau pun kita melihat sepertinya ada pertentangan, namun di sana pasti ada titik temu dan bisa dijama’ (digabungkan).

✅ Contohnya adalah hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ: , صَلَاةُ اَلْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً   مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (Muttafaq ‘alaih)

وَلَهُمَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا

✅ Dan dalam riwayat keduanya (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairah disebutkan, “Dengan dua puluh lima kali.”

Bagaimanakah mencari titik temunya?

Jawab: Dalam Subulus Salam disebutkan, “Tidak ada pertentangan antara kedua hadits itu, karena mafhum ‘adad (jumlahnya) bukanlah yang diinginkan, riwayat dua puluh lima masih masuk ke dalam riwayat dua puluh tujuh derajat, bisa juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama memberitahukan jumlah paling sedikitnya, setelah itu memberitahukan jumlah paling banyak, dan bahwa hal itu adalah tambahan sebagai karunia dari Allah.

Sedangkan sebagian ulama ada juga yang berpendapat bahwa dua puluh tujuh itu bagi orang yang (shalat berjamaah) di masjid, sedangkan dua puluh lima bagi orang yang (shalat berjamaah) di tempat selain masjid. Ada juga yang berpendapat bahwa dua puluh tujuh itu bagi orang yang rumahnya jauh dari masjid, sedangkan dua puluh lima itu bagi orang yang rumahnya dekat dengan masjid.”

Lihatlah! Masih bisa bukan dicari titik temu!

Contoh lainnya adalah larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air menghadap ke kiblat dan membelakanginya, namun dalam hadits yang lain dari Ibnu Umar, bahwa dia pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air membelakangi kiblat, Ibnu Umar berkata, “Suatu hari aku pernah naik ke rumah Hafshah, aku pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air menghadap ke Syam dan membelakangi kiblat.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits)

Untuk menjamak hadits ini adalah menetapkan bahwa larangan buang air menghadap atau membelakangi kiblat adalah jika di tempat terbuka, namun jika dalam bangunan, maka tidak mengapa.

  • 18. Mendatangi dukun, paranormal dan peramal, atau melakukan sihir (termasuk tenung dan pelet).

Perdukunan, ramalan dan sihir adalah masalah besar, termasuk dosa yang sangat besar.

Kita dilarang mendatangi (bertanya kepada) dukun, peramal, dan paranormal, meskipun tidak membenarkan, bahkan shalat kita selama 40 hari tidak diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً » . 

Barang siapa mendatangi peramal, lalu bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim)

Zhahir hadits ini adalah bahwa sekedar bertanya menjadikan shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.

Perlu diketahui, bahwa bertanya kepada peramal atau paranormal terbagi menjadi beberapa bagian[ii]:

✅ Pertama, hanya sekedar bertanya, hal ini adalah haram berdasarkan hadits di atas.
✅ Kedua, bertanya dan membenarkan, maka hal ini adalah kekufuran, karena sama saja membenarkan pengakuannya mengetahui yang ghaib, padahal tidak ada yang mengetahui hal ghaib selain Allah
(lihat QS. An Naml: 65). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa mendatangi peramal atau dukun, lalu ia membenarkan kata-katanya, maka ia telah kufur kepada Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5939)

Ketiga, bertanya dengan maksud mengetesnya apakah ia benar (seorang dukun) atau dusta, bukan untuk mengambil perkataannya. Hal ini tidak mengapa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad, “Apa yang Aku sembunyikan?” ia menjawab, “Ad Dukh (dukhan/asap)”, maka Beliau bersabda, “Hinalah kamu, sesungguhnya kamu tidak akan dapat melewati batas(kemampuan)mu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya tentang sesuatu yang disembunyikannya untuk mengetesnya.

Keempat, bertanya untuk menampakkan kelemahannya dan kedustaannya, misalnya  mengetesnya dengan sesuatu yang dapat memperlihatkan kelemahan dan kedustaannya. Hal ini bagus sekali, bahkan harus, karena membatalkan perkataan para dukun adalah diperintahkan.

Adapun sihir terbagi dua:

Petama, dengan membuat buhul (ikatan) dan menjampi-jampi, yakni dengan membaca mantera-mantera, dimana dengan mantera itu seorang penyihir dapat meminta bantuan kepada setan untuk menimpakan bahaya kepada orang yang disihir. Contoh dalam hal ini adalah santet, teluh, tenung, dsb. Namun hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah: 102, tidaklah dapat membahayakan kecuali dengan izin Allah.

Kedua, dengan obat-obatan yang memiliki pengaruh terhadap badan, akal, sikap, dan keinginan orang yang disihir, inilah yang biasa disebut dengan pelet.

Untuk sihir jenis pertama adalah sebuah bentuk kemusyrikan, karena pelakunya menggunakan perantaraan setan, dimana pelakunya harus menyembah setan-setan itu dan mendekatkan diri kepada mereka. Sihir jenis pertama ini, pelakunya dikafirkan, berdasarkan surat Al Baqarah: 102.

Sedangkan sihir jenis kedua yang menggunakan obat-obatan merupakan tindak kezaliman dan kefasikan. Pelakunya tidak dikafirkan, namun dianggap sebagai pelaku maksiat dan zalim.

Had bagi pelaku sihir adalah dengan dihukum bunuh sebagaimana dilakukan oleh tiga orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Umar, Jundab dan Hafshah radhiyallahu ‘anhum, karena mereka telah meresahkan keamanan dan ketenteraman, dimana masyarakat ditimpa rasa ketakutan dan kekhawatiran karena sihirnya itu.

Jika sihirnya jenis pertama, maka pelakunya dihukum bunuh sebagai murtad, kecuali jika si penyihir tersebut mau bertaubat –menurut pendapat yang mengatakan bahwa taubatnya diterima, dan pendapat inilah yang shahih (benar)-. Adapun jika sihirnya adalah sihir jenis kedua (yang menggunakan obat-obatan), maka ia dibunuh karena dihukumi sebagai penyerang, dimana pembunuhan dilakukan untuk menghindarkan bahaya dan kerusakannya di muka bumi. Namun untuk memberi sanksi bunuh terhadap sihir jenis kedua ini kembali kepada ijtihad imam (pemerintah).

➡ Catatan:

Kami juga juga ingin menjelaskan masalah yang kadang terjadi yaitu tentang “menyembuhkan sihir”.

Dalam menyembuhkan sihir ada beberapa cara:

Pertama, menghilangkannya dengan sihir juga, misalnya dengan membacakan mantera, jampi-jampi, membuat buhul dan meniup-niupnya. hal ini hukumnya haram dan termasuk amalan setan.

Kedua, meminta bantuan setan, jika untuk meminta bantuan harus melakukan kesyirikkan, maka menjadi syirik, namun jika untuk meminta bantuan harus melakukan kemaksiatan, maka menjadi sebuah kemaksiatan.

✅ Kedua hal di atas disebut nusyrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang nusyrah, Beliau menjawab,

هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

Hal itu termasuk perbuatan setan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh Adz Dzahabiy, Al Hafizh berkata, “Isnadnya hasan.”)

Imam Ahmad pernah ditanya tentang masalah ini, ia menjawab, “Ibnu Mas’ud membenci[iii] semua itu.”

Ketiga, menghilangkan sihir dengan ruqyah syar’i[iv] dan ta’awwudzat (perlindungan) yang diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah, doa-doa atau dengan obat-obatan yang yang mubah, maka hal ini hukumnya boleh.

Kita juga harus yakin bahwa Allah-lah yang menyembuhkan bukan yang orang yang membaca ruqyah.

[i] Demikian juga tidak akan bertentangan selamanya dengan akal yang sehat.

[ii] Lihat kitab Al Qaulul Mufid karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin bab maa jaa’a fil kuhhan wa nahwihim.

[iii] Membenci atau yang biasa disebut “karahah” dalam bahasa Arab menurut generasi terdahulu biasanya adalah haram, dan tidak keluar dari hukum haram kecuali ada qarinah (tanda yang memalingkannya). Namun berbeda dengan generasi belakang, di mana karahah berarti kurang utama. Oleh karena itu, lafaz makruh menurut generasi terdahulu dengan generasi sekarang berbeda. Perhatikanlah surat Al Israa’: 38, setelah Allah menyebutkan syirk dan perbuatan-perbuatan haram lainnya di ayat sebelumnya, Allah mengakhiri dengan firman-Nya, “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.” (Lihat Al Qaulul Mufiid bab Maa jaa’a fin nusyrah).

[iv] As Suyuuthiy berkata, ”Para ulama sepakat bolehnya ruqyah apabila terpenuhi tiga syarat,

1.      Menggunakan firman Allah atau dengan nama-nama atau sifat-Nya.

2.      Dengan bahasa ‘Arab atau dengan kata-kata yang dimengerti maknanya.

3.      Meyakini bahwa ruqyah tersebut bukanlah yang menyembuhkannya, namun  dengan taqdir Allah Ta’ala.”

=(lanjut Ke Halaman 2)

Iklan