Faedah Pilihan Dari Kitab “Ash-Shawaa-Iq Al Mursalah ( Kitab ‘Aqidah Asma’ Wa Shifat) Bag 2

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••..

1.Mana Yang Utama Saat Waktu Safar Kita Lama

2.Ketika Shalat Cukup Membaca SuratPendek Yang Dihapal

3.Adab dan Akhlak dalam Berhijrah

4.Haruskah Thawaf dalam Keadaan Suci?

5.Seni Menjawab Keingintahuan Anak.

6.Hukumnya Bekerja di Perusahaan Yang Bergerak di Bidang Yang Mubah, Akan Tetapi Masih Mempunyai Transaksi Yang Haram?

7.Cara Yang Benar Untuk Meruqyah Anak Kecil

8.Terkadang Malas Shalat, Lalu BagaimanakahSolusinya ?

9.BENARKAH BAJU BARU YANG BELUM TERPAKAI SELAMA 40 HARI AKAN DIHISAB DIHARI KIAMAT ?

Sabar Tanda Orang Beriman-Ust Mizan Qudsiyah 2Mb 8mnit

https://mir.cr/D5HH0SWK

Cara Tolak Bala Longsor Gempa Banjir Tsunami-Ust Mizan Qudsiyah 11mb 1jm7mnit

https://mir.cr/0OCREOEO

Standar Penetapan Ahli Bid’ah-Ust Mizan Qudsiyah 10mb 1jm

https://mir.cr/1F0BAX1G

Shalat Jangan Ngebut Perpanjang I’tidal Seperti Yang Nabi Ajarkan-Mizan Qudsiyah 4.4M24mnt

Malas Shalat Berjamaah.Dimasjid.Berikut Motivasinya Agar Semangat Mengerjakannya Mizan Qudsiyah2mb 10mnit

Banyaknya Kelompok Dalam Islam Berikut ini Yang.Menyimpang Kebenaran.!. Mizan Qudsiyah4mb 22mnt

Hukum Mandi Untuk Sholat Jum’at-Ust Mizan Qudsiyah 10mb 1jm

https://mir.cr/03WJZWSB

Apa Itu Manhaj Salaf-Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Al Firqotun Najiyah ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺍﻟﻨﺎﺟﻴﺔ.(Golongan Yang Selamat)-Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Pengertian Hijrah Yang Sejati-Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Judul Kroni Setan – KH.ABDULLAH ZAEN, LC.,M.A

Kitab Al Kaba’ir – Bab Bodoh Terhadapperkara Agama –Ustadz Dr. Farid Fadhillah Hafizhahullah

Sesungguhnya bersama Kesulitan ada Kemudahan Oleh Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA

Senang mleihat Orang Lain Susah Oleh Ustadz Ahmad MZ

Mawas diri di Zaman Fitnah Oleh Ustadz Muhammad Romelan Lc

(Meniti JalanSalaf Meraih Ridha Allah, Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., MHi),

(Meniti Shiroth, Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A),

==

Faedah Pilihan Dari Kitab “Ash-Shawaa-Iq Al Mursalah ( Kitab ‘Aqidah Asma’ Wa Shifat) Bag 2

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Kitab, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

FAEDAH PILIHAN DARI KITAB “ASH-SHAWAA-‘IQ AL-MURSALAH” (Bagian Keempat)

  • ➡ [32]- MEMBERIKAN UNGKAPAN JELEK KEPADA KEBENARAN

Usaha maksimal yang dilakukan oleh musuh-musuh Rasul untuk membuat (manusia) lari dari beliau adalah: dengan menggunakan ungkapan jelek terhadap (kebenaran) yang beliau bawa dan membuat permisalan yang jelek untuk hal tersebut.” [hlm. 944]

  • ➡ [33]- SEBAB MUNCULNYA PERKATAAN: JALAN SALAF LEBIH SELAMAT SEDANGKAN JALAN KHALAF LEBIH BERILMU DAN LEBIH HIKMAH

Banyak orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah yang meyakini bahwa: jalan Salaf hanyalah beriman dengan lafazh-lafazh dalil dan berpaling dari mentadabburi dan memahami makna-maknanya. Tatkala mereka memberikan pemahaman kepada orang-orang yang menafikan dan meniadakan (sifat-sifat Allah) bahwa: inilah jalan Salaf; maka berkatalah orang yang berkata di antara mereka: Jalan Salaf adalah lebih selamat, dan jalan Khalaf lebih berilmu dan lebih hikmah…(Padahal) jalan Salaf adalah menetapkan apa yang dikandung oleh dalil-dalil berupa sifat-sifat (Allah), berusaha memahami dan mentadabburi makna-maknanya, dan mensucikan Rabb dari penyerupaan terhadap makhluk serta mensucikan-Nya dari aib dan kekurangan.” [hlm. 1133-1134]

  • ➡ [34]- TUJUAN PENCIPTAAN AKAL

Allah Subhaanahu menyusun akal-akal pada hamba-hamba-Nya adalah agar dengannya mereka mengenal kebenaran Allah dan kebenaran rasul-rasul-Nya, agar dengannya mereka mengenal-Nya, mengenal kesempurnaan-Nya, sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, kemulian-Nya, rububiyyah-Nya, dan mentauhidkan-Nya, dan bahwa Allah adalah sesembahan yang benar sedangkan selain-Nya adalah bathil. Maka karena inilahAllah berikan akal kepada mereka sebagai tujuan utama. Dan dengannya Allah berikan petunjuk kepada kemaslahatan-kemaslahatan dunia mereka untuk membantu mereka dalam perkara yang mereka diciptakan untuknya dan diberikan akal karenanya.” [hlm. 1236]

  • ➡ [35]- ORANG YANG BERPALING DARI AL-QUR’AN MENUJU KEPADA AKAL

Mereka yang tidak merasa cukup dengan kitab-Nya sampai menempuh jalan akal, dan menentangnya dengan akal, serta lebih mendahulukan akal atasnya: sejenis dengan orang-orang yang tidak merasa cukup dengan Allah -Subhaanahu- sebagai “ilaah” (sesembahan), sehingga menjadikan tandingan-tandingan bagi-Nya, dan beribadah kepada (tandingan-tandingan) tersebut sebagaimana beribadah kepada Allah.” [hlm. 1353]

  • ➡ [36]- JAHMIYYAH & RAFIDHAH

“Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Keduanya merupakan agama tersendiri, Jahmiyyah dan Rafidhah.” Syaikhul Islam berkata: “Apa yang dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Mahdi juga dikatakan oleh ulama lainnya, dan itu adalah perkataan yang agung. Karena sungguh, dua firqoh ini merupakan firqoh yang paling besar kerusakannya dalam agama, dan asal keduanya adalah dari para zindiq munafik.

Dan keduanya bukanlah muncul karena bid’ah yang dibuat oleh orang-orang yang mentakwil seperti perkataan Khawarij, Murji-ah, dan Qadariyyah; maka pendapat mereka (ketiga firqoh) ini dibuat-buat oleh sekelompok kaum muslimin dikarenakan kebodohan mereka, dan niat mereka adalah dalam rangka keta’atan kepada Allah; akan tetapi mereka terjatuh dalam kemaksiatan, dan mereka tidak bermaksud secara sengaja untuk menyelisihi Rasul dan menentangnya dengan pendapat-pendapat mereka.

Berbeda dengan pendapat Rafidhah dan Jahmiyyah; maka sumber keduanya adalah dari kaum munafik yang mendustakan (agama) yang dibawa oleh Rasul dan mereka membencinya. Akan tetapi tersamar atas banyak orang dari mereka dan banyak juga dari kaum muslimin yang bukan munafik dan bukan zindiq; sehingga mereka masuk ke dalam berbagai perkataan dan perbuatan yang dibuat-buat oleh para zindiq dan munafik…

Adapun Rafidhah; maka yang membuat bid’ah ini adalah seorang zindiq munafik; yaitu ‘Abdullah bin Saba’ yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, dan niatnya adalah agar Islam itu rusak. Dan Jahmiyyah asalnya diambil dari kaum Shabi-ah dan kaum musyrikin…

Maka inilah dua agama (tersendiri) yang membatalkan dua pondasi Islam; yaitu: Syahadat “Laa Ilaaha Illallaah” (tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah) dan syahadat bahwa Muhammad Rasulullah.

Adapun Jahmiyyah; maka membatalkan Tauhid, walaupun mereka sendiri menamakan diri mereka Muwahhidin (orang-orang yang bertauhid). Oleh karena itulah para Salaf memberikan judul atas Kitab mereka yang merupakan bantahan terhadap Jahmiyyah dengan nama: “Kitab Tauhid dan Bantahan atas Orang-orang Zindiq & Jahmiyyah”, seperti Imam Bukhari yang memberikan judul di akhir Kitab Shahih-nya dengan nama: “Kitab Tauhid dan Bantahan Terhadap Jahmiyyah dan Zindiq”, demikian juga Ibnu Khuzaimah menamakan kitabnya dengan “Kitab Tauhid” yang isinya bantahan terhadap Jahmiyyah.

Adapun Rafidhah; maka celaan mereka adalah terhadap pondasi kedua; yaitu: Syahadat bahwa Muhammad Rasulullah, meskipun mereka menampakkan bahwa mereka memberikan wala’ (loyalitas) dan kecintaan terhadap Ahlul Bait Rasul. Sekelompok ulama -di antaranya Malik bin Anas dan lainnya- berkata: “Mereka adalah suatu kaum yang ingin mencela Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan hal itu tidak memungkinkan bagi mereka; maka mereka pun mencela para Shahabat, agar nantinya orang beranggapan tentang beliau: (Muhammad) adalah seorang laki-laki yang jelek yang memiliki para Shahabat yang jelek, kalaulah ia laki-laki yang baik; tentulah ia akan memiliki para Shahabat yang baik pula.” [hlm. 1404-1405]

  • ➡ [37]- ORANG BODOH MEMBODOHKAN ORANG PINTAR ADALAH HAL BIASA

“Ini adalah “Sunnatullaah”pada makhluk-Nya: bahwa manusia yang paling kurang akalnya dan paling besar kebodohannya; akan menuduh manusia yang paling berakal dan paling utama dengan kurang akalnya.

Janganlah dilupakan perkataan musuh para rasul ketika mencela para rasul dengan anggapan bahwa mereka adalah orang-orang gila dan tidak berakal, demikian juga pewaris musuh rasul akan mencela pewaris rasul dengan penyakit yang sama sampai Hari Kiamat.” [hlm. 1518

  • ➡ [38]- KEWAJIBAN MAKHLUK TERHADAP RASUL SEMASA BELIAU HIDUP & SETELAH WAFATNYA

“Kewajiban makhluk setelah wafatnya beliau (Rasulullah) sama dengan kewajiban mereka ketika beliau masih hidup. Maka kewajiban orang yang mendengar sabda beliau (sampai kepadanya suatu hadits -pent); ia harus mengambilnya, dan bagi orang yang samar atasnya (sabda Rasul); maka bertanya kepada orang yang mengetahui. Maka jika (setelah bertanya kemudian dia) mendengar sabda beliau (dibawakan kepadanya hadits Nabi); kewajibannya adalah untuk mengambilnya, dan jika (setelah bertanya masih tetap) tersamar atasnya; maka boleh untuk mengambil perkataan selain beliau (ulama), sehingga hukum (perkataan selain Rasul) tersebut adalah boleh untuk diikuti setelah Sunnah tersamar, bukan wajib untuk diikuti, apalagi bersama tampaknya Sunnah (maka yang wajib diambil adalah Sunnah -pent).” [hlm. 1526]

  • [39]- RINCIAN HIKMAH ALLAH TIDAK BISA DICAPAI

Kekuatan manusia tidak siap untuk berilmu terhadap rincian-rincian hikmah Allah pada penciptaan-Nya dan pada perintah (syari’at)-Nya.” [hlm. 1560

  • ➡ [40]- PONDASI ‘UBUDIYYAH

“Sungguh, pondasi ‘ubudiyyah dan iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya adalah: dibangun di atas “Tasliim”(penerimaan/kepasrahan) dan tidak bertanya-tanya tentang rincian-rincian hikmah dalam perintah-perintah, larangan-larangan, dan syari’at-syari’at.” [hlm. 1560]

  • ➡ [41]- SYARI’AT & TAKDIR MERUPAAN BUKTI ATAS HIKMAH ALLAH

Sungguh, perintah (syari’at) dan takdir merupakan rincian dan penampakkan dari hikmah (Allah), karena (hikmah Allah) adalah tersamar (atas makhluk) sehingga harus tampak dalam syari’at yang Allah perintahkan dan dalam takdir yang Allah tetapkan, sehingga tampaklah hikmah Allah dalam keduanya.

Maka tidak mungkin rincian dan hal yang menampakkan sesuatu kemudian bertentangan dan menafikan sesuatu tersebut (yakni: tidak mungkin syari’at dan takdir bertentangan dengan hikmah Allah -pent), bahkan pasti akan membenarkan dan akan sesuai…” [hlm. 1565]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

=(lanjut Ke Hal…2)