Siapa Bilang Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah? 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ ah?

2.Maulid Nabi Menurut 4 Madzhab

3.Halalkah Makanan Maulid Nabi |

4.Apakah Ibnu Hajar Al-Asqolani Membolehkan Merayakan Maulid Nabi?

5.BIDAH MENGUMPULKAN SATU MILYAR SHALAWAT

6.HUKUM MEMBELI KUE MAULID

7.Mengenal Bid’ ah (8), Kan Banyak Kyai Yang Turut Rayakan Maulid

8.Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

9.Mengapa Harus Barzanji?

Fakta Tentang Maulid Nabi Sangat Mengejutkan-Ust Palihin 10Mb 1Jam

Peringatan Maulid Nabi-Ust Zainal Abidin Syamsudin 21Mb 2Jam

Maulid Menyerupai Natal-Ust Zainal Abidin Syamsudin 2Mb 10Mnit  

Bermesraan Dengan Ahlul Bid’ah-Ust Abdurrahman Thayyib

Persatuan Lintas Manhaj dan Aqidah-Ust Abdurrahman Thayyib

Hormati Ulama Ahlus Sunnah-Ust Abdurrahman Thayyib

Kapankah Seorang Keluar dari Ahlussunnah?-Ust Abdurrahman Thayyib

Siapakah Ahlussunnah itu?-Ust Abdurrahman Thayyib

Kiat Menggapai Persatuan Umat-Ust Abdurrahman Thayyib

Hati Hati Orang Munafik-Ust Abdurrahman Thayyib

Islam Mana Yang Benar-Ust Abdurrahman Thayyib

Menyembah Kuburan Orang Shalih-Ust Firanda Andirja 11Mb 1Jam

Nasehat Untuk Para Da’i dan Muslimah-Ust Yazid Jawas 7Mb 34Mnit

Kezhaliman & Kebakhilan-Ust Yazid Jawas 6Mb 3Mnit

UjubPenggugur Amal Shalih-Ust Firanda Andirja 15Mb 1jm 24Mnit

Dari Mati Hingga Ke Surga atau Neraka OlehUstadz DR Firanda Andirja MA

Kisah Manusia Terkhir Yang Masuk Surga Ustadz DR Sofyan Bawedan

Perjalanan Ruh di Alam Barzah Oleh Ustadz Dr.Firdaus Sanusi MA

(Untukmu Yang Berhijrah, Ustadz Abdullah Amir Maretan)

Fiqih 3 Sujud-Ustadz Farhan Abu Furaihan

Qana’ah Menyelamatkan Keluargamu-Ustadz Farhan Abu Furaihan

Jangan Salah Memahami Takdir-Ustadz Farhan Abu Furaihan

Menisbatkan Diri kepada Salaf dan Memakai Sebutan Salafiyah-Ust Abdullah Taslim

Nasihat Dalam Menghadapi Cobaan Hidup Yang Berat-Ust Yazid Jawas

Ebook

Perayaan Maulid Dalam Sorotan

Kemungkaran Dalam Perayaan Maulid

Maulid Dalam Tinjauan Sejarah dan Analisa.Dampak

Tradisi Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Memperingati Maulid Nabi

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Hukum Memperingati Maulid Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

•••

  • Siapa Bilang Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah?

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Bulan Rabiul Awwal, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

  • SIAPA BILANG MAULID ITU BID’AH?

بسم الله الرحمن الرحيم

Maulid Nabi, Maulidan, Peringatan Maulid, dan selainnya dari nama-namanya adalah diantara masalah yang menjadi polemik di tengah kaum muslimin. Sebagian mereka menganggapnya bid’ah, dan sebagian mereka menganggapnya hal yang boleh bahkan disunnahkan dan merupakan syiar Islam.

Sebagai seorang muslim yang baik maka yang menjadi pegangan dan pijakan ketika berselisih adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

✅ Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.

(QS.An-Nisa:59)

Jika kita kembalikan kepada Al-Quran dan Sunnah maka kita tidak akan dapatkan dalil tentang anjuran perayaan Maulid. Bahkan tidak pernah dilakukan oleh para Salaf dari kalangan Sahabat Nabi, Tabi’in, dan yang mengikuti mereka di atas kebaikan.

Oleh karena itu, kita dapatkan sebagian Ulama yang membolehkan perayaan Maulid mereka mengakui bahwa Maulid itu adalah Bid’ah dan bukan termasuk petunjuk para Salaf.

Berikut ini adalah pengakuan beberapa Ulama yang mana mereka termasuk yang membolehkan Maulid bahwa Maulid adalah bid’ah dan bukan perbuatan para Salaf.

✅ Berkata Al-Allamah Abu Syamah rahimahullah (w.665 H),

ﻭﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎ اﺑﺘﺪﻉ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻣﻦ ﻫﺬا اﻟﻘﺒﻴﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻔﻌﻞ ﺑﻤﺪﻳﻨﺔ اﺭﺑﻞ ﺟﺒﺮﻫﺎ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﻞ ﻋﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﻤﻮاﻓﻖ ﻟﻴﻮﻡ ﻣﻮﻟﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻭاﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭاﻇﻬﺎﺭ اﻟﺰﻳﻨﺔ ﻭاﻟﺴﺮﻭﺭ ….

ﻭﻛﺎﻥ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ باﻟﻤﻮﺻﻞ اﻟﺸﻴﺦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ اﻟﻤﻼ ﺃﺣﺪ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭﻳﻦ ﻭﺑﻪ اﻗﺘﺪﻯ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺭﺑﻞ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺭﺣﻤﻬﻢ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Dan termasuk hal yang baik yang DIADA-ADAKAN (bid’ah) di zaman kita ini dari bentuk ini adalah apa yang dilakukan di kota Irbil pada setiap tahun yang bertepatan dengan hari lahir Nabi shallallahu alaihi wasallam berupa sedekah, kebaikan, menampakkan perhiasan dan kegembiraan…

DAN YANG PERTAMA KALI MENGADAKANNYA DI KOTA MAUSHIL ADALAH SYAIKH UMAR IBN MUHAMMAD AL-MULA SALAH SEORANG SHALEH YANG TERKENAL, LALU DIIKUTI OLEH PENGUASA ARBIL DAN SELAINNYA rahimahumullah.

(Inkarul-Bida’ wal-Hawãdits:23-24)

✅ Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah (w.852 H):

ﺃﺻﻞ ﻋﻤﻞ اﻟﻤﻮﻟﺪ ﺑﺪﻋﺔ ﻟﻢ ﺗﻨﻘﻞ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﻭﻥ اﻟﺜﻼﺛﺔ، ﻭﻟﻜﻨﻬﺎ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻗﺪ اﺷﺘﻤﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺎﺳﻦ ﻭﺿﺪﻫﺎ، ﻓﻤﻦ ﺗﺤﺮﻯ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻬﺎ اﻟﻤﺤﺎﺳﻦ ﻭﺗﺠﻨﺐ ﺿﺪﻫﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ

Asal peringatan MAULID ADALAH BID’AH, TIDAK DINUKIL DARI SEORANG PUN DARI SALAF SHALEH PADA TIGA GENERASI UTAMA. Sekalipun demikian, terdapat padanya kebaikan dan kejelekan, siapa yang memaksudkan kebaikan dalam melakukannya dan menghindari kejelekannya maka ini adalah bid’ah hasanah, jika tidak seperti itu maka (bid’ah yang sesat).

(Dinukil oleh As-Suyuti dalam Al-Hawi:1/229

✅ Berkata Al-Hafidz As-Sakhawi rahimahullah (w.902 H):

ﺃﺻﻞ ﻋﻤﻞ اﻟﻤﻮﻟﺪ اﻟﺸﺮﻳﻒ ﻟﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻲ اﻟﻘﺮﻭﻥ اﻟﺜﻼﺛﺔ اﻟﻔﺎﺿﻠﺔ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺣﺪﺙ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺑﺎﻟﻤﻘﺎﺻﺪ اﻟﺤﺴﻨﺔ

Asal perayaan Maulid TIDAKLAH DINUKIL DARI SEORANG PUN DARI SALAF SHALEH pada tiga kurun yang utama, melainkan muncul setelah zaman mereka dengan alasan tujuan yang baik.

(Dinukil dari Al-Maurid Ar-Rawi:12)

✅ Berkata Al-Hafidz As-Suyuti rahimahullah (w.911 H):

ﻫﻮ ﻣﻦ اﻟﺒﺪﻉ اﻟﺤﺴﻨﺔ اﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻗﺪﺭ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ اﻟﻔﺮﺡ ﻭاﻻﺳﺘﺒﺸﺎﺭ ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ اﻟﺸﺮﻳﻒ، ﻭﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺣﺐ ﺇﺭﺑﻞ اﻟﻤﻠﻚ اﻟﻤﻈﻔﺮ…

(Maulid Nabi) itu termasuk BID’AH hasanah (baik) yang mana pelakunya diberi pahala, karena padanya terdapat pengagungan kedudukan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menampakkan kegembiraan dan bersuka ria atas hari lahirnya yang mulia. DAN YANG PERTAMA KALI MENGADA-ADAKAN PERAYAAN TERSEBUT ADALAH PENGUASA ARBIL RAJA AL-MUZHAFFAR

(Al-Hawi:1/222)

Mereka yang disebutkan di atas adalah ulama mutaakhkhirin (belakangan), bukan Ulama Salaf dalam istilah yang kita kenal yaitu tiga generasi terbaik.

✅ Bahkan salah seorang tokoh pembela Maulid Muhammad Ibn Alawi Al-Maliki rahimahullah berkata:

ﻓﺎﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -، ﻓﻬﻮ ﺑﺪﻋﺔ، ﻭﻟﻜﻨﻬﺎ ﺣﺴﻨﺔ ﻻﻧﺪﺭاﺟﻬﺎ ﺗﺤﺖ اﻷﺩﻟﺔ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ، ﻭاﻟﻘﻮاﻋﺪ اﻟﻜﻠﻴﺔ.

Perayaan maulid sekalipun TIDAK ADA DI MASA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM SEHINGGA TERANGGAP BID’AH, namun termasuk bid’ah hasanah karena masuk dalam dalil-dalil syariat dan kaedah-kaedah umum.

(Haulal-Ihtifãl Bil-Maulid:19)

Semua nukilan di atas menunjukkan kepada kita bahwa:

1.Maulid adalah bid’ah,

2 Maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para Salaf

Jika kita telah ketahui bahwa Maulid adalah bid’ah, maka tidak ada artinya lagi ada embel-embel dibelakangnya “hasanah” sehingga menjadi bid’ah hasanah, karena semua bid’ah dalam agama dan ibadah adalah kesesatan. Cukuplah bagi kita petunjuk Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya.

✅ Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

(HR.Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dan selain mereka, Shahih).

✅ Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﺑﻞ ﻫﺬﻩ اﻟﻜﻠمة اﻟﺠﺎﻣﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ اﻟﻜﻠﻴﺔ، ﻭﻫﻲ ﻗﻮﻟﻪ: «ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ» ﺑﺴﻠﺐ ﻋﻤﻮﻣﻬﺎ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻴﺴﺖ ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ، ﻓﺈﻥ ﻫﺬا ﺇﻟﻰ ﻣﺸﺎﻗﺔ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺃﻗﺮﺏ ﻣﻨﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﺄﻭﻳﻞ

Tidak halal bagi seorang pun menyelisihi kalimat yang umum dan mencakup dari Rasululullah shallallahu alaihi wasallam yaitu: “semua bid’ah adalah sesat” dengan menyangkal keumumannya, yaitu dengan ucapan: “Tidak semua bid’ah itu sesat”. Sungguh perbuatan ini lebih dekat kepada penentangan terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam dari pada sekedar ta’wil (penafsiran).

(Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim:2/93)

✅ Dan berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

ﻓﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ» ﻣﻦ ﺟﻮاﻣﻊ اﻟﻜﻠﻢ ﻻ ﻳﺨﺮﺝ ﻋﻨﻪ ﺷﻲء

Sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “semua bid’ah adalah sesat” termasuk jawamiul-kalim (kalimat ringkas dan mencakup) yang tidak keluar darinya sesuatu pun (dari bid’ah).

(Jãmi’ul-Ulûm wal-Hikam:2/128)

✅ Berkata Al-Allamah Ibnul-Amir Ash-Shan’ani rahimahullah:

ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: “ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ” ﺑﻠﻔﻆ ﻋﺎﻡ ﻻ ﻳﺨﺼﺺ ﻣﻨﻪ ﺷﻲء ﻣﻦ اﻟﺒﺪﻉ ﺇﻻ ﺑﻨﺺ ﻧﺒﻮﻱ ﻻ ﺑﺎﺟﺘﻬﺎﺩ

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “semua bid’ah adalah sesat” dengan lafaz umum yang tidak dikhususkan darinya suatu bid’ah pun kecuali dengan nash nabawi (sunnah), bukan sekedar ijtihad.

(At-Tahbir:1/263)

Semakna dengan hadits di atas adalah ucapan dua Sahabat yang mulia:

✅ Berkata Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhuma:

ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ، ﻭﺇﻥ ﺭﺁﻫﺎ اﻟﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺔ

Semua bid’ah adalah sesat sekalipun orang-orang memandangnya baik.”

[Shahih. Dikeluarkan oleh Ibnu Nashr Al-Marwazi (83), Al-Lalakai:1/104, dan Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal (191)]

Atsar yang mulia ini adalah bantahan telak bagi mereka yang menganggap baik suatu bid’ah.

✅ Dan berkata Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu:

اﺗﺒﻌﻮا ﻭﻻ ﺗﺒﺘﺪﻋﻮا؛ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﻴﺘﻢ، ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ

Ikutilah (sunnah) dan janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah tercukupi (dengan sunnah). Dan semua bid’ah adalah sesat.”

[Hasan lighairih, Dikeluarkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhud (315), Ahmad dalam Az-Zuhud (894), Ad-Darimi dalam Musnadnya (211), Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu (79) dan selainnya]

Maka tidak ada pilihan bagi seorang muslim kecuali mengikuti petunjuk Rasululullah shallallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya radhiyallahu anhum. Kalau sekiranya Maulid itu baik, sungguh mereka telah mendahului kita dalam merayakan dan memperingatinya.

✅ Sungguh indah apa yang dituturkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

(فإن هذا ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ اﻟﺴلف، ﻣﻊ ﻗﻴﺎﻡ اﻟﻤﻘﺘﻀﻰ ﻟﻪ ﻭﻋﺪﻡ اﻟﻤﺎﻧﻊ ﻣﻨﻪ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻫﺬا ﺧﻴﺮا ﻣﺤﻀﺎ ﺃﻭ ﺭاﺟﺤﺎ ﻟﻜﺎﻥ اﻟﺴﻠﻒ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﺣﻖ ﺑﻪ ﻣﻨﺎ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮا ﺃﺷﺪ ﻣﺤﺒﺔ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻪ ﻣﻨﺎ، ﻭﻫﻢ ﻋﻠﻰ اﻟﺨﻴﺮ ﺃﺣﺮﺹ)

Sesungguhnya (maulid) ini tidak pernah dilakukan para Salaf bersamaan dengan adanya hal yang mendorong (untuk melakukannya) dan tidak adanya penghalang (dari melakukannya), kalau sekiranya ini perkara yang murni baik atau kebaikannya banyak maka para Salaf radhiyallahu anhum lebih berhak (melakukannya) dari kami. Karena mereka adalah orang-orang yang sangat besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasululullah shallallahu alaihi wasallam dari kami, dan mereka juga lebih semangat kepada kebaikan.

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﻤﺎﻝ ﻣﺤﺒﺘﻪ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻓﻲ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ ﻭﻃﺎﻋﺘﻪ ﻭاﺗﺒﺎﻉ ﺃﻣﺮﻩ، ﻭﺇﺣﻴﺎء ﺳﻨﺘﻪ ﺑﺎﻃﻨﺎ ﻭﻇﺎﻫﺮا ، ﻭﻧﺸﺮ ﻣﺎ ﺑﻌﺚ ﺑﻪ، ﻭاﻟﺠﻬﺎﺩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻘﻠﺐ ﻭاﻟﻴﺪ ﻭاﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻓﺈﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺮﻳﻘﺔ اﻟﺴﺎﺑﻘﻴﻦ اﻷﻭﻟﻴﻦ، ﻣﻦ اﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﻭاﻷﻧﺼﺎﺭ،ﻭاﻟﺬﻳﻦ اﺗﺒﻌﻮﻫﻢ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ

Kesempurnaan kecintaan dan pemuliaan kepadanya hanyalah diraih dengan mengikutinya, taat kepadanya, mengerjakan perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara zhahir dan batin, menyebarkan apa yang di bawanya, dan bersungguh-sungguh di atasnya dengan hati, tangan dan lisan. Sesungguhnya ini adalah jalan orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshãr dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.

(Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim:2/123-124)

✅ Dan berkata Al-Allamah Umar ibn Salim Al-Fakihani rahimahullah (w.734 H):

ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻬﺬا اﻟﻤﻮﻟﺪ ﺃﺻﻼ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﻭﻻ ﺳﻨﺔ، ﻭﻻ ﻳﻨﻘﻞ ﻋﻤﻠﻪ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء اﻷﻣﺔ، اﻟﺬﻳﻦ ﻫﻢ اﻟﻘﺪﻭﺓ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ، اﻟﻤﺘﻤﺴﻜﻮﻥ ﺑﺂﺛﺎﺭ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﺑﺪﻋﺔ ﺃﺣﺪﺛﻬﺎ اﻟﺒﻄﺎﻟﻮﻥ…

Saya tidak ketahui maulid ini memiliki dalil dari Kitab ataupun Sunnah, dan tidak dinukil perayaannya dari seorang ulama pun yang mana mereka adalah teladan dalam agama, yang berpegang teguh pada atsar salaf, bahkan ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang jelek…

(Al-Maurid Fi Amalil-Maulid:8-9)

Wahai muslim, kembalilah mengikuti petunjuk Nabimu shallallahu alaihi wasallam dan janganlah engkau mengada-adakan ibadah yang tidak disyariatkan. Sungguh apa yang telah ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah sempurna dan mencukupi dunia dan akhiratmu.

وبالله التوفيق.

5 Rabi’ul-Awwal 1440

Muhammad Abu Muhammad Pattawe,

Darul-Hadits Ma’bar-Yaman

==

Cinta Nabi -shollallohu alaihi wasallam- itu WAJIB, dan lebih mencintai beliau bukan berarti tidak mencintai para ulama, ataupun orang tua…

======

✅ Hal ini bisa kita simpulkan dari sabda beliau:

Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, hingga aku lebih dia cintai melebihi orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya”. [HR. Bukhori dan Muslim].

Hadits ini juga menunjukkan bahwa harus ada derajat CINTA yg berbeda-beda di hati manusia. Dan beliau mengurutkannya sesuai dengan urutan yang semestinya: Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, lalu orang tua, lalu anak, baru orang lain.

Bila mereka sepakat dalam memerintahkan sesuatu, maka itulah yg harusnya dilakukan, contohnya: perintah berbakti kepada orang tua.

Namun bila perintahnya bertentangan, maka di sinilah manfaat mengetahui derajat cinta yang berbeda tersebut, misalnya:

Apabila Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melarang kita untuk membuat perkara yg baru dalam agama, apapun bentuknya… Lalu ada sebagian ulama atau orang tua menganjurkan untuk melakukan ‘maulid’ yg jelas termasuk perkara yang baru dalam agama… Maka, manakah yang harusnya kita dahulukan?!

Jika CINTA kita kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- lebih tinggi, tentu kita akan lebih mendahulukan larangan beliau dan tidak melakukan ‘perayaan maulid’… dan inilah bentuk cinta yg sesungguhnya.

Sungguh tidak pantas, orang yang melanggar larangannya mengaku mencintai beliau… Apalagi sampai menuduh orang yg ingin menerapkan larangan beliau dg tuduhan ‘tidak cinta’ kepada beliau.

Salah seorang penyair mengatakan:

Jika cintamu itu tulus, tentunya kau telah mentaatinya… Karena pecinta sejati itu akan mentaati orang yang dicintainya”.

==([Lanjut Ke Halaman 2])