Hadits Arbain #13: Kesempurnaan Keimanan dan Tanda Cinta Orang Beriman 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mencintai Saudara Seiman Termasuk Kesempurnaan

2.Tanda Mencintai Sesama Mukmin | 

3.Kecintaan Dan Kedekatan Sesama Mukmin

4.Larangan Ghuluw Dan Berlebih-Lebihan Dalam Memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

5.Fikih Pengurusan Jenazah (1) : Memandikan dan Mengkafani

6.Nifas Wanita Yang Menjalani Operasi Caesar

7.Pohon Tauhid dan Pohon Syirik

8.Anjuran Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

9.Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 3)

10.Wajibnya Mentaati Dan Meneladani Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

11.Khutbah Jumat: Ini Tanda Tidak Cinta pada Nabi 

Hadits Arbain #13: Mencintainya SepertiMencintai Diri Sendiri-Ust Mizan Qudsiyah

Hadits Arbain #13: Tanda Cinta Orang Beriman-Ust M. Abduh Tuasikal

Kesempurnaan Keimanan(Hadist 13)-Ust Abu Ubaidah As Sidawy

Hadits Ke 13 Arbain An Nawawi-Ust Firanda Andirja

Mencintai Saudara seperti Mencintai Diri Sendiri dan Seterusnya – Kitabul Iman – Hadits 13-15 – Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Tidak Beriman Seseorang Sampai Mencintai Saudaranya-Ust Abdullah Zaen

Mencintai Karena Allah-Ust Firanda Andirja

Kumpulan Ebook

Hadist Arbain Nawawiyah(121hlm)

Hadits Arba’in Nawawiyah [Imam.An Nawawi]96hlm

Terjemah Syarah Shahih Muslim-Imam An Nawawi

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah

Terjemah Hadits Arba’in An Nawawiyah

Arba’in An Nawawiyah

Anjuran Mencintai dan Membenci karena Allah

Saling mencintai dan Persaudaraan sesama muslim

Valentine Hari Kasih Yang Semu

Buah Keimanan

==

  • Hadits Arbain #13: Kesempurnaan Keimanan dan Tanda Cinta Orang Beriman

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Hadits Arbain, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin .

  • Hadits Arbain #13: Kesempurnaan Keimanan dan Tanda Cinta Orang Beriman

Bagaimana cara kita mencintai saudara kita? Di sini dapat kita pelajari dari Hadits Arbain karya Imam Nawawi, no. 13.

✅ Di antara cabang keimanan yang menyempurnakan Iman

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﻤْﺰَﺓَ ﺃَﻧَﺲٍ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ – ﺧَﺎﺩِﻡِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: ” ﻻَﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤِﺐَّ ﻟِﺄَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ” ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟﺒُﺨَﺎﺭِﻱُّﻭَﻣُﺴْﻠِﻢٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri .” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]

  • Kandungan hadits:

1. Bahwa termasuk perkara (cabang) iman adalah seorang mencintai kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan diperoleh dirinya.

2. Larangan melakukan ghisy (penipuan) terhadap saudaranya.

  • Penjelasan Hadits

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳُﺰَﺣْﺰَﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻓَﻠْﺘَﺄْﺗِﻪِ ﻣَﻨِﻴَّﺘُﻪُ ﻭَﻫُﻮَﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻭَﻟْﻴَﺄْﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﺗَﻰﺇِﻟَﻴْﻪِ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim, no. 1844)

Mencintai bisa jadi berkaitan dengan urusan diin (agama), bisa jadi berkaitan dengan urusan dunia. Rinciannya sebagai berikut.

➡ 1- Sangat suka jika dirinya mendapatkan kenikmatan dalam hal agama, maka wajib baginya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapatkan hal itu. Jika kecintaan seperti itu tidak ada, maka imannya berarti dinafikan sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Jika seseorang suka melakukan perkara wajib ataukah sunnah, maka ia suka saudaranya pun bisa melakukan semisal itu. Begitu pula dalam hal meninggalkan yang haram. Jika ia suka dirinya meninggalkan yang haram, maka ia suka pada saudaranya demikian. Jika ia tidak menyukai saudaranya seperti itu, maka ternafikan kesempurnaan iman yang wajib.

Termasuk dalam hal pertama ini adalah suka saudaranya mendapatkan hidayah, memahami akidah, dijauhkan dari kebid’ahan, seperti itu dihukumi wajib karena ia suka jika ia sendiri mendapatkannya.

➡ 2- Sangat suka jika dirinya memperoleh dunia, maka ia suka saudaranya mendapatkan hal itu pula. Namun untuk kecintaan kedua ini dihukumi sunnah. Misalnya, suka jika saudaranya diberi keluasan rezeki sebagaimana ia pun suka dirinya demikian, maka dihukumi sunnah. Begitu juga suka saudaranya mendapatkan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia lainnya, hal seperti ini dihukumi sunnah.

  • Cinta pada Muslim Sesuai Kadar Iman

Kita diperintahkan untuk mencintai sesama muslim. Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﻳُﻄِﻴﻌُﻮﻥَﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺳَﻴَﺮْﺣَﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .” (QS. At-Taubah: 71).

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadits di atas, “Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.” ( Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:305).

Sikap yang dilakukan oleh seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasihatinya.

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Jika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, maka ia berusaha untuk menasihatinya (membuat saudaranya jadi baik).” ( Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:308).

Adapun jika muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba (rentenir) dan suka mengghibah (menggunjing), maka orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena maksiat yang ia terus lakukan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah dan bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu.

Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.” ( Majmu’ah Al- Fatawa, 28:209).

Ibnu Taimiyah melanjutkan, “Demikianlah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Prinsip diselisihi oleh Khawarij dan Mu’tazilah serta yang sepaham dengan mereka. Mereka menjadi hanya berhak dapat pahala saja. Atau jika tidak yah mendapatkan siksa saja. Sedangkan Ahlus Sunnah berprinsip bahwa Allah menyiksa orang yang berbuat dosa besar yang pantas untuk disiksa. Mereka pun dapat keluar dari neraka dengan syafa’at sebagai karunia dari Allah. Sebagaimana hal ini didukung oleh hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (Idem ).

  • Faedah Hadits

Pertama : Yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurnanya iman.

Kedua: Wajib mencintai saudara kita sebagaimana mencintai saudara sendiri. Di sini dikatakan wajib karena ada kalimat penafian umum.

Ketiga: Wajib meninggalkan hasad karena orang yang hasad pada saudaranya berarti tidak mencintai saudaranya seperti yang ia cintai pada dirinya sendiri. Bahkan orang yang hasad itu berangan-angan nikmat orang lain itu hilang.

Sedangkan pengertian hasad menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu,

ﺍﻟْﺤَﺴَﺪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒُﻐْﺾُ ﻭَﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻫَﺔُ ﻟِﻤَﺎ ﻳَﺮَﺍﻩُ ﻣِﻦْ ﺣُﺴْﻦِ ﺣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤَﺤْﺴُﻮﺩِ

Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa , 10:111).

  • Tingkatan Hasad

✅ 1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

✅ 2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya namun lebih ringan dari yang pertama.

✅ 3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

✅ 4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.

✅ 5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻَ ﺣَﺴَﺪَ ﺇِﻻَّ ﻓِﻰ ﺍﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﺭَﺟُﻞٌ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎﻻً ﻓَﺴُﻠِّﻂَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﻠَﻜَﺘِﻪِ ﻓِﻰﺍﻟْﺤَﻖِّ ، ﻭَﺭَﺟُﻞٌ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ، ﻓَﻬْﻮَ ﻳَﻘْﻀِﻰ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬَﺎ

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)

Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan seperti dalam ayat,

ﻭَﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻨَﺎﻓَﺲِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﺎﻓِﺴُﻮﻥَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Referensi:

1. Fiqh Al-Hasad . Cetakan pertama, tahun 1415 H. Syaikh Musthafa Al-Adawi. Penerbit Darus Sunnah.

2. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam . Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

3. Majmu’ah Al-Fatawa . Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan IbnuHazm.

4. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah . Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. PenerbitDar Tsuraya.

5. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah . Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul ‘Ashimah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

={{{lanjut ke halaman 2}}}