Faedah Kitab “Miftaah Daaris Sa’aadah” (Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Hukum Penghasilan Taksi Online DariMobil Kredit Riba

2.BOLEHKAH ISTRI BERWASIAT KEPADA SUAMIAGAR MENIKAH DENGAN AKHWAT BERMANHAJSALAF ?

3.WAJIBKAH LAKI-LAKI SHALAT DI MASJID ?

4.KAPAN WAKTU MEMBACA DO’A ISTIKHARAH?

5.BOLEHKAH ORANG TUA MENGINGINKANANAKNYA BERCERAI ?

6.Rububiyyah dan ‘Ubudiyyah yang Bersifat Umum danKhusus (Bag. 2)

7.Manfaat Shalat Sunnah di Rumah

8.Golongan Awam Tergesa-Gesa Dalam Mengeluarkan Fatwa

9. Download Buku dan Buletin Rumaysho

==

Adzab Kubur Pasti Ada-Ust Mizan Qudsiyah 18Mnit3Mb

Hukum Demo mengatasnamakan Bela Al-Qur’an – Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin 2Mb

Ustadz Zainal Abidin, Lc-Daftar Penyimpangan Kelompok Yang Mengaku AhlusSunnah 3Mb

Teman Sejati Yang Sesungguhnya! – Ustadz Dahrul Falihin, Lc 5Mb26Mnit

Perusak Nama dan Sifat Allah _ Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc 4Mb28Mnit

Hakikat Tauhid – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A 6Mb43Mnit

REUNI 212 MENURUT ISLAM, APAKAH NABI MEGADAKAN REUNI PERANG BADR-AL USTADZ Farhan Abu Furaihan 2Mb10Mnit

Islam Agama Tauhid-Ust Yazid Jawas

Tujuan Hidup Seorang Muslim Adalah Surga-Ust Yazid Jawas

Cara Beragama Islam Yang Benar-Ust Yazid Jawas

Mengingat Kematian-Ust Ahmad Zainuddin

==

  • Faedah Kitab “Miftaah Daaris Sa’aadah” (Bag.2)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Faedah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

••

FAEDAH KITAB “MIFTAAH DAARIS SA’AADAH” karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- (Bagian Keempat)

[penomoran halaman masih menggunakan kitab “Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu”]

  • ➡ [24]- ANTARA ‘ALIM (ORANG BERILMU) & ‘ABID (AHLI IBADAH)

✅ “Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Dan keutamaan ‘alim (orang berilmu) atas ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya]

Ini adalah penyerupaan yang sesuai (antara ‘alim & ‘abid) dengan bulan dan bintang. Karena bulan menerangi berbagai penjuru dan sinarnya memanjang ke seluruh alam, maka ini adalah keadaan ‘alim (orang berilmu). Adapun bintang; maka sinarnya tidak melampaui dirinya sendiri atau hanya mengenai (benda) yang dekat dengannya, maka inilah keadaan ‘abid (ahli ibadah) yang sinar ibadahnya hanya untuk dirinya, tidak untuk selainnya. Kalaupun sinar ibadahnya melampaui orang lain; maka hanya mengenai orang yang tidak jauh darinya, sebagaimana sinar bintang hanya sedikit melewati dirinya….

Dan dalam penyerupaan tersebut terdapat faedah lainnya; yaitu: bahwa kebodohan adalah ibarat malam dalam kegelapannya.” [hlm. 61]

  • ➡ [25]- PARA ULAMA JUGA IBARAT BINTANG

Terdapat hadits yang menunjukkan bahwa ‘alim (orang berilmu) juga diserupakan dengan bintang, yaitu hadits yang mengisyaratkan bahwa para shahabat sebagai penjaga umat seperti bintang yang menjaga langit, yakni sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِيْ مَا يُوعَدُوْنَ، وَأَصْحَابِيْ أَمَنَةٌ لِأُمَّتِيْ، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِيْ أَتَى أُمَّتِيْ مَا يُوعَدُوْنَ

Bintang-bintang itu sebagai penjaga langit, apabila bintang-bintang itu hilang; maka datanglah apa yang dijanjikan atas langit itu (terbelah dan lenyap-pent). Dan aku adalah penjaga bagi para Shahabat-ku, apabila aku telah pergi (wafat); maka akan datang kepada Shahabat-ku apa yang dijanjikan kepada mereka (fitnah dan peperangan-pent). Dan para Shahabat-ku adalah penjaga bagi umatku, apabila para Shahabat-ku pergi (wafat); maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku (munculnya Bid’ah, dan lainnya-pent).” [HR. Muslim (no. 2531)]

✅ Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- berkata:

Oleh karena itulah, bintang dalam ta’bir mimpi merupakan ungkapan dari ulama. (Maka pertanyaannya): Kenapa sebelumnya ulama diserupakan dengan bulan?

Dikatakan bahwa penyerupaan ulama dengan bintang dikarenakan:

Bintang meupakan penunjuk arah pada kegelapan di darat dan di lautan, demikian juga para ulama (penunjuk bagi umat di kegelapan kebodohan -pent).

– Bintang merupakan hiasan bagi langit, demikian juga para ulama yang merupakan hiasan bagi bumi.

– Bintang merupakan pelempar setan…, demikian juga para ulama; mereka merupakan pelempar bagi setan dari golongan manusia dan jin…Kalau bukan karena para ulama; maka akan terhapus petunjuk-petunjuk agama dengan kerancuan yang diberikan oleh para penyesat. Akan tetapi Allah -Subhaanahu- membangkitkan mereka sebagai pengaman dan penjaga bagi agama-Nya serta pelempar bagi musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya.

Maka inilah penyerupaan ulama dengan bintang. Adapun penyerupaan mereka dengan bulan; maka dalam rangka mengutamakan mereka atas ahli ibadah…yang bukan ulama; sebagaimana bulan lebih utama dibandingkan bintang-bintang. Maka masing-masing penyerupaan adalah sesuai dengan tempatnya. Alhamdulillaah.” [hlm. 62-63]

  • ➡ [26]- FAEDAH DARI HADITS: “ULAMA MEWARISI PARA NABI”

✅ “Sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

Sungguh, para ulama adalah pewaris para nabi.”…

(1)- Di dalam hal ini terdapat pemberitahuan bahwa mereka (para ulama) adalah manusia yang paling dekat dengan para nabi; karena warisan hanya diberikan kepada manusia yang paling dekat (hubungannya) dengan orang yang mewariskan…

(2)- Di dalamnya juga terhadap arahan dan perintah kepada umat untuk menta’ati para ulama, menghormati mereka, menolong, dan memuliakan mereka. Karena mereka mewarisi (para nabi) yang inilah sebagian dari hak mereka yang harus dipenuhi oleh umat…

(3)- Di dalamnya juga terdapat pemberitahuan bahwa mencintai para ulama merupakan bagian dari agama dan membenci mereka menafikan (bertentangan dengan) agama. Sebagaimana hal itu berlaku bagi (para nabi) yang mereka warisi.

(4)- Demikian juga memusuhi dan memerangi mereka merupakan bentuk pemusuhan dan peperangan terhadap Allah, sebagaimana hal itu berlaku bagi (para nabi) yang mereka warisi…

(5)- Di dalamnya juga terdapat pemberitahuan kepada para ulama agar mereka menempuh petunjuk para nabi dan jalan mereka dalam menyampaikan (agama), berupa: kesabaran, menahan (penderitaan), membalas kejelekan manusia dengan perbuatan baik, lemah lembut kepada mereka, dan mengajak mereka kepada Allah dengan cara yang terbaik, serta mengerahkan segala nasehat yang bisa disampaikan. Maka dengan demikian, mereka (para ulama) akan mendapatkan bagian dari warisan (para nabi) ini (yaitu: ilmu)…

(6)- Di dalamnya juga terdapat pemberitahuan kepada ahli ilmu untuk mentarbiyah (mendidik) umat sebagaimana orang tua mendidik anaknya, dengan cara mendidik umat dengan bertahap, dimulai dari ilmu yang kecil (ringan) sampai ilmu yang besar (sulit), dengan membebani ilmu kepada mereka apa yang mereka mampui, sebagaimana yang dilakukan seorang bapak terhadap anaknya dalam memberi makan kepadanya. Karena sungguh, ruh manusia diabndingkan dengan para nabi dan rasul adalah layaknya anak dinisbatkan kepada bapaknya, bahkan penisbatannya lebih jauh dari itu…” [hlm. 63-64]

  • ➡ [27]- ORANG YANG TERBAIK DI ANTARA KALIAN

✅ “Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Orang yang terbaik di antara kalian adalah: yang mempelajari Al-Qur-an dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari]

Mempelajari Al-Qur-an dan mengajarkannya mencakup:

(1)- mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkannya, dan

(2)- mempelajari makna-maknanya dan mengajarkannya, dan ini lebih utama dari yang pertama, karena (memahami) makna: itulah yang dimaksudkan, sedangkan lafazh: merupakan wasilah untuk (memahami)nya.” [hlm. 76]

  • ➡ [28]- DENGAN ILMU SEORANG BISA MENIMBANG: MANA AMALAN YANG LEBIH UTAMA DAN MANA YANG DI BAWAHNYA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: ((إِيمَانٌ بِاللهِ)) قَالَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ((الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ))

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ditanya: Amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab: “Iman kepada Allah.” Orang itu bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

✅ Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- berkata:

Orang yang memiliki ilmu lebih sedikit lelahnya dan amalannya, akan tetapi lebih banyak pahalanya…

Jihad di dalamnya terdapat pengorbanan jiwa dan kesusahan yang luar biasa, sedangkan iman adalah: ilmu hati, amalannya, dan pembenarannya, dan itu merupakan amalan yang paling utama, padahal kesusahan jihad adalah berlipat ganda di atas kesusahan iman.

Maka sungguh, ilmu bisa mengenalkan kadar amalan-amalan dan tingkatan-tingkatannya, mana yang lebih utama dan mana yang di bawahnya, mana yang lebih kuat dan mana yang lebih lemah.

Maka pemilik ilmu tidak akan memilih untuk dirinya kecuali amalan yang paling utama, sedangkan orang yang beramal tanpa ilmu menyangka bahwa keutamaan terdapat pada banyaknya kesulitan, sehingga dia menanggung kesusahan padahal amalan yang dia lakukan adalah kurang keutamaannya. Dan betapa banyak ada amalan yang utama sedangkan amalan yang keutamaannya berada di bawahnya ternyata lebih banyak kesusahannya.” [hlm. 91]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

=(Lanjut Ke Halaman 2)