Antara Dubes Saudi, PBNU, SAS, Hubungan Diplomatik, Organisasi Menyimpang & Banser

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Ini yang Akan Terjadi Jika IndonesiaUsir Dubes Arab Saudi

2.Wahai Pendukung Aksi 212, Inilah KeburukanDemonstrasi

3.Adab Kepada Allah #2 Mencintai Allah Melebihi Apapun

4.Adab Kepada Allah #1 Mentauhidkan Allah

5.Dr Said Aqil Siroj Dulu Dan Kini

6.Terima Kasih Pak Said Aqil Siradj

7.Hasad , Bahaya dan Terapinya

l8.Uang Tips adalah Haram

l9. Artikel Islam

l10.Suami Mentalak Isterinya Empat Kali Saat Dia Hamil

11.MENGAPA MESTI PERSONA NON-GRATA?

12.Sebagian Banser Menolak Dikirim ke Papua Gebuk OPM, Ini Alasannya!

••

Tabligh Akbar- Hikmah Besar di Balik Gempa – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat 5Mb28Mnit

Ceramah Agama- Rapatkan Barisan – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A 8Mb 50Mnit

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin ~ Sejarah Kerajaan Islam di Tanah Jawa 20Mb 2Jam

https://mir.cr/RYJIDANQ
https://mir.cr/PXZF7VGY
•••

Apakah Anda Seorang Mukmin-Ustadz Zainal Abidin Syamsudin

Yang Haram Saja Susah Apalagi yang Halal – Ustadz Zainal Abidin

Tips Hidup Bahagia Zainal Abidin, Lc 3Mb16Mnit

Bahaya Cinta Dunia – Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin, Lc

Jangan Ditunda – Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc

Renungan Menjemput Kematian – Ustadz Zaenal Abidin, LC 5Mb28Mnit

Yang Paling Ditakuti Iblis – Zainal Abidin Syamsudin, Lc 2Mb

Nasib Ahlussunnah di Akhir Zaman – Ustadz Zainal Abidin, Lc

Mengapa Anak Nakal _ _ Ustadz Zainal Abidin 5Mb25Mnit

Tradisi Aswaja Dalam Pandangan Walisongo – Ustadz Zainal Abidin 3Mb14Mnit

Adakah Sunnah Susulan_ – Ustadz Zainal Abidin, Lc 5Mb27Mnit

Menyikapi Teguran Allah Oleh Ustadz Zainal Abidin 5Mb30Mnit

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat – YAHUDI GAYA BARU 3Mb18Mnit

Inilah Jalan Yang Lurus-Ust Abdul Hakim Amir Abdat 3Mb18Mnit

Hati-hati Terhadap Dosa Syirik-Ust Abdul Hakim Amir Abdat 4Mb23Mnit

Kembali Kepada Tauhid – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat 3Mb18Mnit

Pujian Allah kepada Rasul dalam Al Quran – Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat 3Mb18Mnit

Ustadz Zainal Abidin – Beberapa Sifat OrangBertaqwa 5Mb30Mnit

Dahsyatnya Fitnah Dunia – Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra 4Mb20Mnit 

••

Ebook

Pandangan Tajam Terhadap Politik

Syaikh Abdul Malik Al-Jazairi

PDF 30Mb 368Hlm


DJVU 5MB 368Hlm


==

  • Antara Dubes Saudi, PBNU, SAS, Hubungan Diplomatik, Organisasi Menyimpang & Banser

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Ibrah dan Telaah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

=

  • AGAR BELA NEGARA BERNILAI JIHAD FII SABIILILLAAH

➡ [1]- Dari Abu Musa -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata: seorang laki-laki mendatangi Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan berkata: Seorang yang berperang dikarenakan ghaniimah (rampasan perang), seorang yang berperang untuk disebut (dikenal), seorang yang berperang karena ingin terlihat kedudukannya (dalam suatu riwayat: berperang karena keberanian, berperang karena membela kelompok (keluarga atau teman-pent), berperang karena riyaa’ (pamer), dalam riwayat lain: berperang karena marah); maka siapakah yang berperang fii sabiilillaah (di jalan Allah)?

Beliau bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah yang paling tinggi; itulah yang fii sabiilillaah (di jalan Allah).”

[Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (123, 2810, 3126, & 7458) dan Muslim (no. 1904)]

➡ [2]- Makna “Kalimat Allah” adalah: Dakwah Allah mengajak kepada Islam

[Lihat: “Fat-hul Baari” (VI/36- cet. Daarus Salaam)]

➡ [3]- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utaimin -rahimahullaah- berkata:

Berjihad melawan musuh-musuh Allah adalah: agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, dan bukan hanya murni untuk membela Negara. Karena perbuatan murni bela Negara: bisa dilakukan oleh orang mukmin maupun kafir. Orang-orang kafir, mereka tentunya akan membela negara-negara mereka. Akan tetapi muslim adalah membela agama Allah, sehingga ketika dia membela Negara; bukanlah karena itu adalah negaranya. Akan tetapi dia membelanya dikarenakan itu adalah Negara Islam; sehingga dia membela Negara untuk menjaga Islam yang ada di Negara ini.

Oleh karena itulah, dalam kondisi semacam ini -yang kita hidup di dalamnya-: wajib atas kita untuk mengingatkan seluruh orang-orang awam bahwa “Dakwah mengajak kepada kemerdekaan Negara” dan yang semisalnya: adalah Dakwah yang tidak sesuai, dan yang wajib adalah mewarnai manusia dengan warna agama. Sehingga yang dikatakan adalah: Kita membela agama kita sebelum yang lainnya, kemudian dikarenakan Negara kita adalah Negara agama (Islam) -dan sebuah Negara Islam tentunya membutuhkan kepada penjagaan dan pembelaan-; maka kita harus bela Negara dengan niat ini.

Adapun membela dengan niatan kenegaraan atau kesukuan; maka ini bisa dilakukan oleh orang mukmin maupun orang kafir, dan hal ini tidak akan bermanfaat bagi pelakunya pada Hari Kiamat. Kalau pun dia terbunuh karena melakukan pembelaan dengan niat ini; maka dia bukanlah syahid. Karena sungguh, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika ditanya tentang seseorang yang berperang dikarenakan membela kelompok (keluarga atau teman-pent), berperang karena keberanian, dan berperang karena ingin terlihat kedudukannya: mana yang fii sabiilillaah (di jalan Allah)? Beliau menjawab:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah yang paling tinggi; itulah yang fii sabiilillaah (di jalan Allah).”

Perhatikanlah kepada ikatan ini: “Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah yang paling tinggi”; bukan karena Negaranya. Kalau engkau berperang dikarenakan Negaramu; maka (niat)mu dan orang kafir adalah sama. Akan tetapi berperanglah agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, yang mana kalimat tersebut terwujud di Negaramu, karena Negaramu adalah Negara Islam. Maka dalam keadaan ini: barulah perangnya fii sabiilillaah (di jalan Allah).”

[“Syarh Riyaadhish Shaalihiin” (I/33-34)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

=

  • ➡Said Agil dan Syiah

Said Agil (Ketua PBNU) mengatakan:

“Dikalangan NU sendiri masih banyak yg BELUM NGERTI… Maafkan mereka ya pak ya, karena mereka belum ngerti… Kata Imam Ali Zainal Abidin: … Alhamdulillah, musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua”

======

Waspadalah Warga NU, Warga Nahdhiyyin, Ketua Umum PBNU kalian sudah berpihak pada SYIAH ROFIDHOH yang sangat dibenci oleh IMAM SYAFI’I -rohimahulloh-, bukan berpihak pada warganya.

@Ad Dariny

  • SAS dan Kebaikan Arab Saudi


Sering disebutkan dalam pribahasa jangankan seorang manusia, seekor anj*ng saja mengerti cara berterimakasih kepada org yg berbuat baik kepadanya

Seseorang telah diberi beasiswa utk belajar di Arab Saudi dr S1sampai S3, bukan hanya belajar gratis, tapi biaya kitab, biaya baju, lipingkos setiap bulan tambah tiket gratis liburan setiaptahun, coba hitung sendiri berapa uang Arab Saudi dan fasilitas yg telah dinikmati oleh dia, tapi jangankan utk membalas budi, berterimakasih saja tdk dilakukan bahkan sebaliknya, inilah kata pepatah air susu dibalas air tuba…

@Ali Musri Semjan Putra

Daripada sibuk mikirin Saudi,mending mikirin ngirim “pembelaNKRI” ke KKB Papua yang jelas2 melakukan aksi kejahatan terorisme.

@Abu Ubaidah As Sidawy

Saya setuju Bantal Serep itu diberangkatkan untuk melawan OPM. Pihak manapun yang tertumpas, saya akan bersyukur.

@Dany Nursalim Harun

Sekte banserep gak bisa ke Papua kakak membela NKRI, ini.kan bulan Desember. Natalan nanti banyak job jadi sekuriti gereja, jadi harus persiapan fisik dan mental dari awal bulan.

Hasilnya lumayan buat tahun baruan. Peduli amat dengan gerakan separatis yang.mengancam NKRI di Papua, yang penting fulus kakak.

@Abu Hanifah Jandriadi Yasin

.

Jikapun ormas-nya mbah said dikatakan sebagai organisasimenyimpang, lalu apa masalahnya? Dimana pula salahnya? Coba lihat! Bukankah geng ijo juga yg bikin shalawat ditayo-tayokan khurafat dilestarikan, syariat semisal jenggot dilecehkan, bahkan dewa-dewi kaum kuffar juga ditinggikan. Mosok yg begitu ndak terima disebut al-munharifah? … cocok betul itu julukan munharifah; kependekan dari “muncul sehari-hari dgn fitnah”, ya geng ijo itu, gess! Hai tayo hai tayo … geng ijo memang loyo, hai tayo hai tayo.

@Katon Kurniawan

Kalau Kedubes bilang jama’ah yang bakar bendera jama’ah munharifah (menyimpang)

Kalau Ane dak setuju.. Lebih pas dibilang jama’ah Dhol(sesat menyesatkan)

@Agus Susanto

==

DUBES SAUDI MELANGGAR HUKUM DIPLOMATIK?

Oleh. Hazairin Pohan
SEBENARNYA saya sudah hampir final menulis artikel tentang usul PBNU agar Pemerinta R.I. mempersona-non-grata Dubes Kingdom of Saudi Arabia (KSA) untuk Indonesia, Mr. Osamah Muhammad Al-Suaib. Namun anak saya yang membantu upload sedang keluar rumah. Oleh karena itu saya tuliskan poin-poin penting pendapat saya atas permintaan teman-teman di Twitter dan Facebook, maupun di berbagai group WA.

Tadi malam (3/12) saya dikagetkan dengan pernyataan Ketua Umum PBNU menyampaikan protes keras atas ‘campur tangan’ Dubes KSA untuk Indonesia Osamah Muhammad Al-Suaib, yang ditulisnya dalam bahasa Arab.

Dalam pandangan kami Osamah telah melakukan pelanggaran keras diplomatik yakni mencampuri urusan politik suatu negara di luar kewenangan ini jelas mengganggu hubungan diplomatik RI – Saudi Arabia. Atas dasar ini, kami menyampaikan protes keras,” ujar Ketum KH Said Aqil Siraj dalam konpres kemarin, Senin (3/12) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

PBNU juga mendesak kepada pemerintah RI untuk menyampaikan nota kepada pemerintah Saudi agar memulangkan Dubes Osamah karena mencampuri urusan politik negara Indonesia. PBNU juga telah mengirim surat kepada Menlu Retno LP Marsudi menyampaikan sikapnya.

✅ Mari kita mulai pembahasannya. Pertama, penyelenggaraan politik dan hubungan luar negeri sebesar Indonesia ini bukan perkara gampang. Negeri kita besar bukan saja kepentingan internasionalnya besar, tetapi tanggungjawabnya juga bukan ringan. Karena itu, UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri memberi tanggungjawab diplomasi itu di tangan Presiden, dan sehari-hari untuk manajemen diplomasi ditugaskan Menlu membantu.

Diplomasi itu memang ‘discreet’ tetapi pertimbangan untuk pembuatan kebijakan itu menimbang secara holistik dan masak agar tidak merugikan bahkan agar menguntungkan kepentingan nasional. Tetapi, diplomasi dan hubungan antar negara itu berdasarkan kaidah hukum internasional, kebiasaan dan praktik antar-negara.

Kedua, mari kita ukur seberapa besar risiko jika Presiden Jokowi salah mengambil keputusan.

Hubungan antar-negara itu —sesuai bobot dan kepentingan masing-masing—berbeda satu dengan lainnya. Ada faktor leverage bermain: siapa memiliki kepentingan apa terhadap siapa.

Dalam kaitan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Kingdom of Saudi Arabia (KSA), kepentingan itu menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya termasuk pendidikan. Jujur, kepentingan kita jauh lebih besar terhadap KSA daripada kepentingan KSA terhadap Indonesia. Ini titik awal pembahasan kita..

Ketiga, apa yang akan terjadi sekiranya usul Said Aqil disetujui Presiden? Ibu Menlu Retno akan memerintahkan pengusiran (persona non-grata) Dubes Osamah. Maka, sebagai balasan Pemerintah KSA akan mengusir Dubes Indonesia dari Riyadh. Tidak berhenti di situ. Kedua negara akan menutup Embassy-nya di masing-masing ibukota.

Maka, hubungan yang menguntungkan Indonesia hancur seketika. Siapa yang rugi? Ya keduanya rugi. Gara-gara nilai setitik rusak susu sebelanga. Yang menjadi ‘nila’ itu Dubes Saudi atau Said Aqil? Siapa yang menderita paling banyak? Ya, Indonesia.

Karena itu resep terbaik adalah ibarat menarik rambut dalam tepung. Rambut tidak putus dan tepung tidak berserak. Kepentingan hubungan antar negara itu jauh di atas kepentingan sebuah parpol, apalagi hanya ormas dan lebih kecil lagi karena ego pemimpinnya terganggu atau ulah satu-dua anggota Banser yang telah dijatuhi hukuman pidana.

Sebaiknya PBNU klarifikasi (tabayyun) dulu kepada Dubes Osamah, benarkan dia bermaksud menghina PBNU?

Keempat, kita perlu meneliti apakah ada elemen “mencampuri urusan dalam-negeri Indonesia” dalam pesan Twitter yang berpotensi diplomatic fiasco ini?

Terjemahan yang beredar di media sosial berbunyi:

Aksi jutaan orang untuk persatuan umat Islam sebagai reaksi atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh oknum dari organisasi yang menyimpang sebulan yang lalu. Acara tersebut dihadiri Gubernur DKI, Anis baswedan, juga dihadiri calon Presiden RI Jendral Prabowo serta Wakil Ketua DPR Fadli Zon.”

Tweet itu dianggap menyinggung PBNU yang menafsirkan secara eksplisit bahwa kegiatan pertemuan umat Islam di Monas pada Minggu 2 Desember 2018 merupakan balasan atas pembakaran bendera di Garut bulan lalu.

Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya menangani diplomasi belum ada kejadian gara-gara ormas tersinggung terjadi pengusiran dubes, penghentian hubungan dan kerjasama diplomatik. Perang pengusiran diplomat dulu sering di zaman Perang Dingin antara Amerika dan Soviet. Maklum perang tidak sebatas ideologis, tetapi merambah ke persaingan kekuatan (militer), ekonomi, sistem sosial dan sebagainya.

‘Kasus PBNU – Dubes KSA’ ini bukan yurisdikasi ‘hukum diplomatik’ menyangkut institusi, kebijakan dan pejabat negara yang merupakan ‘first track’ diplomacy. Kasus ini melibatkan ormas, yang dalam diplomasi dikualifikasikan sebagai‘second track’.

Pengusiran Dubes dan diplomat itu terjadi karena beberapa alasan yang dilarang oleh Vienna Convention on Diplomatic Relations 1961, antara lain, menyangkut masalah dengan negara akreditasi, seperti keamanan negara, kegiatan ekonomi (dagang), campur tangan urusan dalam negeri, melanggar UU negara akreditasi, menghina ideologi dan kebijakan negara, bahkan merendahkan harkat dan martabat negara dan pejabatnya, menghasut rakyat, membiayai kegiatan politik, mencampuri proses pengadilan dan sebagainya.

Apakah unsur ‘mencampuri urusan dalam negeri’ terdapat dalam pesan Twitter Dubes Osamah? Saya tidak melihat itu. Mari baca teks-nya. Yang krusial adalah kata-kata: “dilakukan oleh oknum dari organisasi yang menyimpang”. Ini opini Dubes. Teks lain adalah faktual.

Saya menyarankan agar teks Twitter berbahasa Arab itu diterjemahkan secara benar. Apakah yang dituduh ‘menyimpang’ itu adalah organisasinya atau individunya? Saya juga tidak membaca penyebutan nama organisasi yang dimaksud. Apakah Anshor atau Banser? Itu hanya opini, bukan fakta.

Kelima, mari kita hitung-hitung implikasi politis, ekonomis dan sosial budaya termasuk urusan haji, umroh dan pendidikan sekiranya aksi pengusiran dubes terjadi.

Secara politis, KSA adalah sahabat sejati Indonesia sejak perjuangan kemerdekaan. Di atasnya terbentuk hubungan politik yang sangat luas dan bernilai strategis. KSA adalah salah satu negara terpenting di Timur Tengah bagi Indonesia. Di dunia Islam, KSA adalah tulang-punggung Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai negara pembayar donasi terbesar. KSA juga pemimpin Gulf Cooperation Council (GCC), organisasi kerjasama negara-negara Teluk, yang beranggotakan negara petro dolar dan berekonomi kuat: Saudi Arabia, Kuwait, United Arab Emirates, Qatar, Bahrain, dan Oman.

KSA juga negara kunci –bersama Israel—bagi Amerika Serikat dan salah satu penentu terpenting dalam penyelesaian masalah Palestina. Raja KSA kapan saja bisa menelpon Presiden Amerika. Sekutu-sekutu terpenting Amerika di Eropa tidak mendapat hak istimewa dan kemewahan yang dinikmati KSA. Banyak yang iri.

Singkatnya, kepentingan Indonesia jauh lebih besar terhadap KSA daripada KSA terhadap Indonesia. Rusak hubungan dengan KSA akan sangat mengganggu diplomasi Indonesia di OKI dan di GCC dan di Afrika Utara di mana pengaruh KSA signifikan.

Apa komentar Dunia Islam bila terjadi diplomatic fiasco pengusiran Dubes Saudi dari Indonesia. Bagaimana Presiden Jokowi akan menjelaskannya ke dunia internasional bahwa gara-gara pesan Twitter hubungan diplomatik RI-KSA putus? Sebegitu pentingkah nama baik sebuah ormas (yang diopinikan dihina) dibandingkan dengan kepentingan nasional menyeluruh dalam konteks hubungan dan kerjasama kita dengan KSA dari dulu hingga kini dan di masa depan?

Dari segi ekonomi, KSA adalah salah-satu importir minyak kita. Bagaimana dengan pemasaran produk Indonesia yang kian bagus di Timur Tengah via KSA. Bagaimana dengan investasi dan sumber-dana finansial dari Timur Tengah?

Bagaimana dengan kepentingan kita di bidang ketenagakerjaan, termasuk pengiriman skilled-labor yang kian meningkat bekerja di Teluk. Berapa besar dampaknya terhadap penambahan tingkat pengangguran jika terjadi pemulanga tenaga kerja kita? Bagaimana pula dengan pengiriman devisa (remittance) para TKI ke tanah air? Apa dampak dan seberapa besar impaknya terhadap penurunan keseluruhan kinerja ekonomi kita di tengah kelesuan ekonomi global?

Dari segi sosial budaya termasuk pendidikan, bagaimana dengan kepentingan kita untuk menambah kuota haji karena kini antrian telah mencapai 10 tahun? Bagaimana dengan Umroh yang kian meningkat berkat kesadaran Islam yang kian meninggi di kalangan ummat? Bagaimana dengan kepentingan tenaga kerja dan para pelajar dan mahasiswa –termasuk penerima beasiswa KSA—yang berpotensi dipulangkan? Berapa banyak tenaga kerja di dalam negeri yang bergerak dalam urusan haji dan umroh serta pengiriman mahasiswa?

Di era persaingan global yang kian merunding, jika hubungan politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia – KSA memburuk maka akan ada negara-negara lain yang siap menggantikan Indonesia. Sekali foothold ekonomi kita lepas akan sulit kembali. Competitors kita menunggu tak sabar.

Keenam, mari kita hitung gejolak di dalam negeri. Meskipun Indonesia berpenduduk Muslim sekitar 90 persen namun ada elemen-elemen di masyarakat yang tidak suka dengan KSA dengan bermacam alasan: soal Wahabi, HAM, atau sekularisme bahkan komunisme. Kelompok-kelompok ini seakan memperoleh amunisi, melampiaskan marahnya kepada KSA. Maka akan terjadi berbagai aksi demo di Kedubes KSA di Jakarta, dengan implikasi keamanan dan chaos.

Sekiranya ancaman keamanan meningkat maka Kedubes KSA akan menghentikan pelayanannya untuk Indonesia. Maka calon tenaga kerja, calon mahasiswa dan masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji dan umroh tidak memperoleh visa. Bakal tidak bisa berangkat. Ini menjadi ‘tekanan’ dan kemarahan rakyat kepada Pemerintah. Ini akan menjadi amunisi tambahan “bahwa Pemerintah memang tidak berpihak pada Islam”.

Ini harus diukur benar. Hubungan diplomatik itu sensitif, karena itu harus ditangani hati-hati. Tidak boleh dengan pertimbangan ‘amok’ atau ‘pitam’. Apalagi bukan menyangkut institusi dan pejabat negara. Hanya oknum organisasi (yang diklaim dihina). Diplomasi itu tidak boleh karena sikap emosional apalagi gara-gara ketersinggungan pribadi.

  • Terus apa jalan keluarnya, dan apa solusi yang terbaik?

Dari awal saya khawatir jika kita ribut tetapi ternyata penyebabnya adalah salah penerjemahan yang menyebabkan kesalahfahaman. Tidak ada keanehan jika PBNU meminta klarifikasi (tabayyun) dengan Dubes Osamah. Apalagi hubungan NU beserta ulama-ulamanya dengan Kerajaan Saudi itu sudah berlangsung ratusan tahun, jauh sebelum negeri ini merdeka. Beri kesempatan Dubes Osamah untuk menjelaskan apa maksudnya dalam pesan Twitter itu. Kesempatan bermaaf-maafan lebih baik dan Islami.

Sekiranya PBNU mendesak Presiden Jokowi untuk mengusir Dubes Osamah belum tentu diterima. Terlalu besar ongkosnya bagi Indonesia. Belum tentu pula Pemerintah R.I. berpandangan sama dengan PBNU bahwa Dubes KSA melakukan ‘campur-tangan pada urusan dalam negeri Indonesia’. Pengalaman saya dalam 33 tahun sebagai diplomat kasus seperti ini belum pernah terjadi.

PBNU itu hanya ormas dan bukan Parpol yang duduk di parlemen. PBNU atau lebih spesifik Ansor dan Banser bukanlah institusi negara. Pimpinannya juga bukan pejabat negara. Paling banter, jika benar dianggap menghina NU, yang bisa dilakukan PBNU atas nama Ansor/Banser adalah ‘memboikot komunikasi’ atau ‘menghentikan kerjasama antara PBNU dengan KSA’. Yang lain tidak usah diajak ikut.

Ini karakter hubungan ini berkarakter ‘second track’ pada unsur masyarakat di host-country, dan bukan ‘first track’, hubungan resmi antar-pemerintah atau antar-negara. Jadi tidak bisa dikualifikasi sebagai ‘campur-tangan’.

Pesan Twitter itu dari pribadi Dubes. Dia tidak mengklaim sebagai Twitter resmi Ambassador atau Embassy untuk memenuhi unsur ‘pendapat resmi’ pemerintah KSA. Pesan Twitter selalu ditulis singkat karena jumlah huruf yang terbatas. Bahasa yang digunakan juga tidak memiliki standar formal. Jadi, sulit mengualifikasi seberapa jauh telah memenuhi elemen ‘mencampuri urusan dalam negeri’ tadi.

Masalah simpel ini seyogianya bisa diselesaikan secara kekeluargaan di antara sesama Muslim yang selama ini hubungannya baik-baik saja. Kalau dengan alasan ‘ego’ pribadi atau tersinggung janganlah kepentingan PBNU yang lebih besar –apalagi kepentingan negara—dilibatkan. Saya kira ini sudah terlalu jauh menyimpang.

Taruhan pemutusan hubungan diplomatik dengan berbagai implikasi negatif dan kerugiannya bagi Indonesia harus dihitung tepat dan dengan kepala dingin, demi kepentingan nasional dalam berbagai dimensi dan jauh lebih penting.

Dan, jika terjadi pengusiran Dubes Osama diikuti dengan pemutusan hubungan diplomatik (minimal non-aktif), gara-gara pesan Twitter yang tidak jelas apa kata dunia?

Jakarta, 4 Desember 2018

#Hazairin Pohan, Mantan Dubes RI di Polandia, Bulgaria dan Kepala Pusdiklat Kemenlu RI

=(Lanjut Ke Halaman 2)