..


Penjelasan Kitab Tauhid BAB 9 – Tabarruk Kepada Pohon, Bebatuan dll

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mengambil Berkah Habib

2.Ensiklopedia Islam – Tabarruk (Mencari Berkah) 

3.Ngalap Berkah Yang Dibolehkan Dan Terlarang

4.Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah

5.Ngalap Berkah

6.Mengenal Dua Jenis Tabarruk –

7.Tabarruk (Mencari Berkah)

8.Pelajaran dari Ngalap Berkah Orang Musyrik |

9.Pohon Dikeramatkan, Ditebang Oleh Umar bin Khattab

••

Ngalap Berkah-Ust M.Abduh Tuasikal

Termasuk Syirik Mencari Berkah Pada pohon,Batu,dan smisalnya-Ust Mizan Qudsiyah

Seluk Beluk Tabarruk-Ust Ahmad zainuddin

Yang Harus Anda Ketahui Tentang Tabarruk-Ust Ahmad zainuddin

Hukum Tabarruk-Ust Ahmad zainuddin

Tabarruk – Ustadz Khairullah, Lc

••

Keberkahan

Memahami Ngalap Berkah

Tawassul Masyru’ dan Mamnu’

Buku ini membahas tentang masalah tawassul dalam Islam baik yang diperbolehkan maupun yang dilarang

Ebook Kitab Tauhid(Pemurnian Ibadah Kepada Allah) Syaikh Muhammad At Taimimi6Mb 286Hlmn

Syaikh Muhammad At-Tamimi – Dasar-DasarMemahami Tauhid

Penjelasan 4 Kaidah Dalam Memahami Tauhid

Ebook Meniti Jalan Menuju Tauhid-Syekh Muhammad bin Jamil Zainul

Kitab Tauhid Matan dan terJemahan

Terjemahan Kitab Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab 7Mb 340Hlm

===

  • Penjelasan Kitab Tauhid BAB 9 – Tabarruk Kepada Pohon, Bebatuan dll

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Kitab Tauhid, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

➡ BAB 9

بَابُ مَنْ تَبَرَّكَ بِشَجَرَةٍ أَوْ حَجَرٍ وَنَحْوِهِمَا

BARANGSIAPA YANG MENGHARAPKAN BERKAH([1]) DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA

✅ Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ﴿١٩﴾ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ ﴿٢٠﴾ أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ ﴿٢١﴾ تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ ﴿٢٢﴾ إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّـهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ

Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga, ([2]). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki- laki dan untuk Allah (anak) perempuan?([3]) yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaa-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal sesungguhnya tidak datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm: 19-23).

✅ Abi Waqid Al Laitsi menuturkan: “Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sepokok pohon bidara yang dikenal dengan Dzatu Anwath, mereka selalu mendatanginya/berdiam dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, di saat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata: “ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

اللهُ أَكْبَرُ إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى- اجْعَل لَّنَا إِلَـٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ  لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa: “buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab: sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham)” kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.”(HR. Turmudzi, dan dia menshahihkannya). ([4])

➡ Kandungan dalam bab ini:

1 Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Najm.

2.Mengetahui bentuk permintaan mereka ([5]).

3.Mereka belum melakukan apa yang mereka minta.

4.Mereka melakukan itu semua untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyukai perbuatan itu.

5.Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.

6.Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah (untuk diampuni) yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.

7.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima alasan mereka, bahkan menyanggahnya dengan sabdanya: “Allahu Akbar, sungguh itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian dan kalian akan mengikuti mereka”. Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.

8.Satu hal yang sangat penting adalah pemberitahuan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa permintaan mereka itu persis seperti permintaan Bani Israel kepada nabi Musa: “buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan …”

9.Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk di antara pengertian لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ yang sebenarnya, yang belum difahami oleh mereka yang baru masuk Islam.

10.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk kemaslahatan.

Syirik itu ada yang besar dan ada yang kecil, buktinya mereka tidak dianggap murtad dengan permintaannya itu. ([6])

11.Perkataan mereka:“…sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk islam) …” menunjukan bahwa para sahabat yang lain mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.

12.Diperbolehkan bertakbir ketika merasa terperanjat, atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menganggapnya makruh.

13.Diperintahkan menutup pintu yang menuju kemusyrikan.

14.Dilarang meniru dan melakukan suatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang Jahiliyah. ([7])

15.Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.

16.Kaidah umum, bahwa di antara umat ini ada yang mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya, berdasarkan Sabda Nabi “itulah tradisi orang orang sebelum kamu … dst”

Ini adalah salah satu dari tanda kenabian Nabi 17.Muhammad, karena terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.

18.Celaan Allah yang ditujukan kepada orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam Al qur’an berlaku juga untuk kita.

19.Sudah menjadi ketentuan umum di kalangan para sahabat, bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah Allah [bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri]. 20.Dengan demikian, hadits di atas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kubur. Adapun “Siapakah Tuhanmu? sudah jelas; sedangkan “Siapakah Nabimu? berdasarkan keterangan masalah-masalah ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan “Apakah agamamu? berdasarkan pada ucapan mereka: “buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan … dst”

21.Tradisi orang-orang ahli kitab itu tercela seperti tradisinya orang-orang musyrik.

22.Orang yang baru saja pindah dari tradisi-tradisi batil yang sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut, sebagai buktinya mereka mengatakan: “kami baru saja masuk islam” dan merekapun belum terlepas dari tradis- tradisi kafir, karena kenyataannya mereka meminta dibuatkan Dzatu Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin.

  • KETERANGAN (FOOTNOTE) :

➡ ([1]) Tidak diragukan lagi bahwasanya keberkahan adalah perkara yang dicintai dan dicari-cari. Akan tetapi sebagian orang berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mencarinya, sehingga mencari pada yang bukan sumber keberkahan. Bahkan terjerumus dalam praktik-praktik kesyirikan, dikarenakan kebodohan dan kejahilan.

Hal ini menunjukkan pentingnya mengetahui apa saja bentuk-bentuk mencari keberkahan yang disyari’atkan, apa saja yang tidak disyari’atkan dan dilarang, apa saja bentuk mencari keberkahan yang bid’ah, dan apa saja yang merupakan kesyirikan.

Sungguh sangat menyedihkan ketika kita mendapati banyak di negeri-negeri kaum muslimin yang tersebar praktik-praktik mencari keberkahan yang tidak disyari’atkan. Apalagi begitu tersebarnya hingga menjadi suatu kebiasaan dan tradisi bahkan dianggap sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Begitu banyak kuburan-kuburan yang dijadikan tempat untuk mencari keberkahan, sampai-sampai masyarakat rela bersafar jauh demi menuju kuburan-kuburan tersebut, mereka berdiam di kuburan, mengusap-ngusap kuburan untuk mencari keberkahan, bahkan mengambil sebagian tanah dari kuburan tersebut sebagai obat. Demikian juga meyakini bahwa berdoa dan sholat serta membaca al-Qur’an di kuburan lebih berkah. Karenanya mereka membangun kubah atau bangunan yang tinggi di atas kuburan-kuburan tersebut untuk lebih menyiapkan sarana dan prasarana dalam mencari keberkahan dari kuburan-kuburan tersebut. Hal ini tentu berbahaya dan bisa jadi menjerumuskan sebagian mereka dalam kesyirikan, hingga akhirnya meminta-minta kepada mayat-mayat penghuni kuburan.

Sebagian kaum muslimin yang lain mencari keberkahan pada hari-hari yang tidak ada dalilnya yang menunjukkan akan keberkahannya secara khusus. mereka mengadakan perayaan-perayaan khusus pada hari-hari tersebut. Akhirnya merekapun terjerumus dalam berbagai macam praktik bid’ah.

Agar mudah memahami permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mencari barokah, ada beberapa perkara yang harus diketahui :

Pertama : Istilah Berkah dalam bahasa Arab kembali kepada dua makna, yaitu bertambah dan menetap.

Dikatakan :

بَرَكَ الْبَعِيرُ يَبْرُكُ بُرُوكًا

Onta “baroka” yaitu Onta menderem/duduk/menetap” (Mu’jam Moqooyiis al-Lughoh 1/227)

Dikatakan juga :

الْبِرْكَةُ شِبْهُ حَوْضٍ يُحْفَرُ فِي الْأَرْضِ

Al-Birkah adalah semacam danau yang digali di bumi (Mu’jam Moqooyiis al-Lughoh 1/230) karena airnya yang menetap di danau.

Jadi berkah artinya kebaikan yang bertambah/banyak dan menetap.

Kedua : Kebaikan (keberkahan) seluruhnya di tangan Allah.

Allah berfirman :

بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali ‘Imron : 26)

✅ At-Thobari berkata :

{بِيَدِكَ الْخَيْرُ}:  أَيْ كُلُّ ذَلِكَ بِيَدِكَ وَإِلَيْكَ، لَا يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ أَحَدٌ؛ لِأَنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، دُونَ سَائِرِ خَلْقِكَ، وَدُونَ مَنِ اتَّخَذَهُ الْمُشْرِكُونَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْأُمِّيِّينَ مِنَ الْعَرَبِ إِلَهًا وَرَبًّا يَعْبُدُونَهُ مِنْ دُونِكَ، كَالْمَسِيحِ وَالْأَنْدَادِ الَّتِي اتَّخَذَهَا الْأُمِّيُّونَ رَبًّا

DitanganMu lah segala kebajikan” yaitu semua kebaikan di tanganMu dan kembali kepadaMu, tidak seorangpun yang menguasainya, karena Engkau maha kuasa atas segala sesuatu, bukan seluruh makhlukMu, bukan juga yang dijadikan sesembahan dan tuhan oleh kaum musyrikin dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin Arab seperti Nabi Isa dan sesembahan-sesembahan selainMu” (Tafsir At-Thobari 5/304)

Diantara kebaikan adalah kenikmatan, dan terlalu banyak dalil yang menunjukan bahwa kebaikan seluruhnya dari Allah.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya) (QS An-Nahl : 53)

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS Ali ‘Imron : 73)

Jika seluruh kebaikan, kenikmatan, karunia, dan anugerah di dunia dan di akhirat kepada para hambaNya adalah semuanya dari Allah, maka keberkahan (yaitu tetapnya kebaikan dan banyaknya serta bertambahnya kebaikan tersebut) semuanya juga dari Allah. Karenanya Allah mensifati dirinya dengan تَبَارَكَ yang sifat ini tidak boleh kecuali hanya untuk Allah. Dan diantara makna تَبَارَكَ adalah “datangnya seluruh kebaikan hanya dari Allah”

✅ Al-Azhari berkata :

وَقَالَ الزَّجاجُ: تَبَارَكَ: تفَاعل منَ البَرَكةِ، كَذَلِك يقولُ أهل اللغةِ. وَنَحْو ذَلِك رُوِيَ عَن ابْن عباسٍ، وَمعنى البَرَكةِ: الكثرةُ فِي كلِّ خيرٍ

Az-Zajjaaj berkata : تَبَارَكَadalah atas timbangan تفَاعل dari البَرَكةِ al-Barokah, demikianlah yang dikatakan oleh pakar bahasa. Dan yang semakna dengan ini juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Makna al-Barokah adalah “Banyak dalam segala kebaikan” (Tahdziib Al-Lugoh 10/130)

✅ Allah berfirman :

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ

Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu” (QS Huud : 48)

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah” (QS Huud : 73)

Ketiga : Allah memberikan keberkahan pada sebagian makhlukNya yang Ia pilih.

Allah berfirman :

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. (QS Al-Qoshos : 68)

Karena Allah esa dalam penciptaan maka Allah juga esa dalam memilih, sehingga Allah menafikan pilihan dari makhlukNya. Hanya Allah yang lebih tahu tentang makhlukNya dan siapa saja diantara makhlukNya yang pantas dipilih oleh Allah (lihat penjelasan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’aad 1/39)

Maka makhluk-makhluk yang telah dipilih oleh Allah untuk diberkahi, baik dzat, tempat, ataupun waktu tentu karena makhluk-makhluk tersebut memiliki sifat-sifat khusus yang Allah berikan kepadanya dan tidak terdapat pada makhluk-makhluk yang lainnya. Karena itulah Allah memilih makhluk-makhluk tersebut. (lihat penjelasan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’aad 1/53)

Allah memberikan keberkahan kepada para nabi

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (QS As-Shooffaat : 112-113)

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

✅ Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada (QS Maryam : 30-31)

Demikian juga atas kehendakNya dan hikmahNya, Allah menjadikan sebagian tempat berkah, seperti Mekah, Madinah, dan Masjidil Aqsho.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS Ali Imron : 96)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Isroo’ : 1)

Begitupun dengan Allah memuliakan sebagian waktu dengan memberkahinya seperti bulan Ramadhan, lailatul Qodar, sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah, hari jum’at, dan sepertiga malam yang terakhir.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam lailatul qodar) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (QS Ad-Dukhoon : 3)

Demikian juga Allah menjadikan sebagian benda berkah, seperti hujan, makanan sahur, zamzam, kurma ajwa, dan pohon zaitun

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (QS Qoof : 9)

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. (QS An-Nuur : 35)

✅ Allah berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS Ibrahim : 24-25)

Pohon yang baik yang dijadikan perumpamaan oleh Allah pada ayat ini adalah pohon kurma. (Ini adalah pendapat Anas bin Malik, Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhum, Masruq, ‘Ikrimah, Ad-Dhohhak, Qotadah, Lihat Tafsir At-Thobari 13/636-641)

✅ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ المُسْلِمِ … هِيَ النَّخْلَةُ

Sesungguhnya ada sebuah pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim….yaitu pohon kurma” (HR Al-Bukhari No. 5444)

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

Barangsiapa yang dipagi hari (sebelum makan yang lain) memakan 7 butir kurma ‘ajwah maka pada hari itu tidak ada racun dan sihir yang memudorotkannya” (HR Al-Bukhari no 5445 dan Muslim no 2047

✅ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Bersahurlah karena ada berkah pada makanan sahur” (HR Al-Bukhari No. 1923 dan Muslim no 1095)

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Sesungguhnya air zamzazm berkah dan sesungguhnya air zamzam mengeyangkan” (HR Muslim no 2473)

Keempat : Keberkahan bisa terbagi menjadi dua, (1) Keberkahan agama dan (2) Keberkahan duniawi. Masing-masing nya juga bisa terbagi menjadi (1) Keberkahan maknawi (abstrak) dan (2) Keberkahan Hissi (konkrit). Bahkan ada keberkahan yang mencakup duniawi dan agama (ukhrowi) sekaligus. Seperti al-Qur’an membawa kebaikan dunia dan akhirat, demikian juga taat kepada Nabi membawa keberkahan dunia dan akhirat.

Keberkahan agama murni seperti keberkahan tiga mesjid (Mesjidil Haram, Mesjid Nabawi dan Mesjid al-Aqsho). Keberkahan duniawi murni seperti buah zaitun, susu, hujan, tumbuh-tumbuhan, kambing, dll.

Keberkahan duniawi jika tidak digunakan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, bahkan untuk bermaksiat kepada Allah maka pada hakikatnya bukanlah keberkahan dan anugrah tetapi bencana.

Kelima : Keberkahan juga bisa dibagi menjadi dua, (1) Keberkahan secara dzat, dan (2) Keberkahan secara maknawi.

Keberkahan secara dzat seperti keberkahan kurma, zaitun, air zamzam dan juga keberkahan jasad para nabi.

Adapun keberkahan maknawi seperti keberkahan tanah suci Mekah dan Madinah serta masjidil Aqso. Maka keberkahannya diraih bukan dengan mengambil pasir atau tanah dari tempat-tempat tersebut, akan tetapi dengan banyak beribadah di tempat-tempat tersebut.  Betapa banyak orang Yahudi dan kaum munafiqin yang tinggal di kota Madinah, akan tetapi mereka tidak meraih keberkahan kota Madinah karena mereka tidak beribadah dengan ibadah yang benar di kota suci Madinah. Sebagaimana dikatakan :

الأَرْضُ الْمُقَدَّسَةُ لاَ تُقَدِّسُ سُكَّانَهَا

Tanah suci tidak mensucikan penghuninya”

Demikian pula halnya dengan ka’bah, maka keberkahannya bukan pada batunya. Bahkan Umar berkata kepada hajar aswad -yang merupakan batu termulia di dunia- setelah menciumnya:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Sesungguhya aku tahu engkau adalah batu, tidak bisa memberi kemudorotan dan tidak juga kemanfaatan. Kalau bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu maka aku tidak akan menciummu” (HR Al-Bukhari No. 1597 dan Muslim No. 1270)

Bahkan orang-orang musyrikin dahulu mengganti batu-batu ka’bah yang sudah lama dan usang dengan batu-batu yang baru.

Jadi keberkahan pada hajar aswad adalah tatkala menciumnya bukan pada dzatnya (sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang, seakan-akan siapa yang mencium hajar aswad akan mengalir keberkahan kepadanya), akan tetapi keberkahan maknawi yaitu keberkahan berittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian juga keberkahan yang berkaitan dengan waktu, seperti bulan Ramadhan, malam lailatul Qodar, sepuluh hari awal dzulhijjah, sepertiga malam yang terakhir, maka keberkahannya diraih dengan banyak beribadah pada waktu-waktu tersebut. Sehingga keberkahannya adalah maknawi dan bukan secara dzat. Betapa banyak orang kafir, munafiq, ateis, dan juga para pelaku maksiat dari kalangan kaum muslimin yang tidak bisa meraih keberhakan bulan Ramadhan, karena mereka tidak beribadah di bulan suci tersebut. Betapa banyak orang-orang yang menghidupkan malam lailatul qodar, akan tetapi bukan menghidupkannya dengan beribadah, akan tetapi melainkan menghidupkannya dengan maksiat bahkan kufur kepada Allah.

Keenam : Diantara keberkahan secara dzat adalah keberkahan jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat banyak dalil yang menunjukan bahwa tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam penuh dengan keberkahan, rambut beliau, liur beliau, tubuh beliau, bahkan yang pernah dipakai oleh beliau seperti baju, rida’ (selendang) dan tongkat beliau. Namun hal ini tidak boleh diqiaskan kepada orang-orang shalih, karena :

  1. Para sahabat tidak pernah saling meminta keberkahan diantara mereka.
  2. Tidak seorang sahabatpun yang dicari keberkahannya oleh para tabi’in. Padahal di kalangan para sahabat ada 4 khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), para peserta perang Badar, mereka yang membai’at Nabi di bahah sebuah pohon, dll.
  3. Padahal para tabi’in sangat mengagungkan para sahabat, akan tetapi merekapun tidak mencari berkah sama sekali dari seorang pun sahabat.
  4. Jika para sahabat yang dijamin masuk surga tidak bisa diqiaskan dengan Nabi, lantas bagaimana lagi dengan orang-orang shalih di zaman sekarang ini yang tidak diketahui bagaimana kondisi akhir kehidupannya.
  5. Jika para sahabat bisa diqiaskan kepada Nabi maka liur mereka, rambut mereka, tongkat mereka, baju mereka, dll juga semestinya bisa disimpan untuk dicari keberkahannya.
  6. Jika orang-orang shalih di zaman sekarang juga bisa diqiaskan dengan Nabi maka tentu rambut mereka, liur mereka, baju mereka, tongkat mereka, dll yang pernah mengenai tubuh mereka juga harusnya disimpan untuk dicari keberkahan !!
  7. Sisi pendalilan pengqiasan antara orang shalih dengan Nabi adalah karena ada ‘illah jami’ah (poin kesamaan yang dijadikan sumber pengqiasan) yaitu keshahilan. Jika keshalihan yang dimaksud adalah sama dalam tingkat/level keshalihan maka siapakah yang keshalihannya bisa disamakan dengan keshalihan Nabi? Jika yang dimaksud adalah ashal/akar keshalihan, maka tentu setiap mukmin punya akar keshalihan, dan ini melazimkan setiap muslim boleh diambil keberkahannya !!.
  8. Membolehkan mengambil berkah dari orang shalih membuka pintu-pintu yang bisa mengantarkan kepada pengkultusan yang berlebihan kepadanya. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang awam yang tidak bisa diarahkan kepada batasan tertentu.
  9. Membolehkan mengambil berkah dari orang shalih juga menimbulkan fitnah kepada orang shalih tersebut sehingga bisa tertimpa penyakit ujub dan sombong.
  10. Cara yang benar untuk mencari keberkahan dari orang shalih adalah dengan duduk di majelisnya untuk mengambil keberkahan ilmunya, demikian juga meminta nasihatnya, serta meminta keberkahan doanya. Bahkan bermajelis dengan orang-orang shalih yang sedang mengingat Allah merupakan sebab meraih ampunan Allah. Nabi bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ” قَالَ: «فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا» قَالَ: ” فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ، مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ ” قَالَ: ” فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ ” قَالَ: ” فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ؟ ” قَالَ: ” فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا ” قَالَ: ” يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ ” قَالَ: «يَسْأَلُونَكَ الجَنَّةَ» قَالَ: ” يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ” قَالَ: ” يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً، قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ ” قَالَ: ” يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا ” قَالَ: ” يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ ” قَالَ: ” يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً ” قَالَ: ” فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ” قَالَ: ” يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ: فِيهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “

Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir (mengingat Allah). Jika mereka mendapati suatu kaum mengingat Allah maka mereka saling memanggil, “Kemarilah menuju yang kalian cari”. Lalu mereka meliputi kaum tersebut dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia”. Lalu Robb mereka bertanya kepada para malaikat -padahal Ia lebih tahu dari mereka-, “Apakah yang dikatakan oleh hamba-hambaKu?”. Malaikat berkata, “Mereka bertasbih kepadaMu, bertakbir, dan mengagungkanMu”. Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?”, Malaikat menjawab, “Demi Allah, mereka tidak melihatMu”. Allah berkata, “Bagaimana jika mereka melihatKu?”. Malaikat berkata, “Jika mereka melihatMu tentu mereka akan lebih semangat lagi beribadah, lebih lagi mengagungkanMu, lebih memuji dan bertasbih kepadaMu”. Allah berkata, “Apakah yang mereka minta?”. Malaikat berkata, “Mereka meminta kepadaMu surga”. Allah berkata, “Apakah mereka melihat surga?”. Malaikat berkata, “Demi Allah tidak, mereka tidak melihat surga”. Allah berkata, “Bagaimana kalau mereka melihat surga?”. Kalau mereka melihat surga maka mereka akan lebih semangat mencari surga dan lebih mengharapkannya”. Allah berkata, “Mereka meminta perlindungan dari apa?”. Malaikat berkata, “Dari Neraka”. Allah berkata, “Apakah mereka melihat neraka?”. Malaikat berkata, “Demi Allah tidak, mereka tidak melihatnya”. Allah berkata, “Bagaiamana kalau mereka melihatnya?”. Malaikat berkata, “Kalau mereka melihatnya tentu mereka semakin berlari jauh dan semakin takut darinya”. Allah berkata, “Aku mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka”. Salah satu malaikat berkata, “Diantara mereka ada si fulan yang bukan dari mereka (tidak ikut berdzikir mengingat Allah-pen), ia datang karena ada keperluan”. Allah berkata, “Mereka adalah kaum yang sedang duduk dimana orang yang duduk bersama mereka tidaklah merugi/celaka bersama mereka” (HR Al-Bukhari No. 6408 dan Muslim No. 2689)

✅ Ibnu Hajar berkata, “Orang yang duduk bersama ahli dzikir termasuk mendapatkan seluruh kemuliaan yang Allah berikan kepada para ahli dzikir tersebut sebagai bentuk pemuliaan kepada mereka, meskipun ia tidak ikut serta berdzikir” (Fathul Baari 11/213).

<<< lanjut ke halaman 2 >>>