Hadits Arbain #12: Kiat Manajemen Waktu & Tanda Baiknya Keislaman Seseorang

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

2.Kebaikan Islam Seseorang Dengan Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat 

3.Meninggalkan Perkara Yang Tidak Bermanfaat

 4.Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal- Hal yang Bermanfaat

5.Meninggalkan Sesuatu Karena Allah 

6.10 Hal yang Tidak Bermanfaat dan Sia-sia |

7.Sedekah laut dan Ritual Pemujaan Setan

Apakah Dosa Syirik Kecil bisa Diampuni Allah?

8.Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa` (Bag.2)

9.Penuntut Ilmu Dan Masyarakat

••

Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat-Ust AliMusri Semjan Putra

Hadits12 Tinggalkan Apa apa yang Tidak Berguna-Ust Abu Ubaidah As Sidawy

Hadits12 Tanda Baiknya Keislaman Seseorang-Ust Firanda Andirja

Penjelasan Hadits Arba’in 12_ Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat – Ustadz M. Abduh Tuasikal

Penjelasan Hadits Arba’in 12_ Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat – Ustadz Mizan Qudsiyah

Penjelasan Hadits Arba’in 12_ Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat – UstadzZakaria Ahmad

••

Ebook

Urgensi Waktu Dalam Kehidupan Seorang Muslim –

Hadist Arbain Nawawiyah(121hlm)

Hadits Arba’in Nawawiyah [Imam.An Nawawi]96hlm

Terjemah Syarah Shahih Muslim-Imam An Nawawi

Syarah Hadits Arbain Nawawiyah

Terjemah Hadits Arba’in An Nawawiyah

Arba’in An Nawawiyah

 

===

Hadits Arbain #12: Kiat Manajemen Waktu&Tanda Baiknya Keislaman Seseorang

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Hadits Arbain , semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

  • Tanda Baiknya Keislaman Seseorang

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ﻣِﻦْ ﺣُﺴْﻦِ ﺇِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺗَﺮْﻛُﻪُ ﻣَﺎﻻَ ﻳَﻌْﻨِﻴْﻪِ . ‏[ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻫﻜﺬﺍ ‏]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya .” (Hadits hasan, HR. Tirmidzi dan lainnya)

➡ Kandungan hadits:

1. Tanda baik dan sempurnanya keimanan seorang hamba adalah meninggalkan hal yang tidak berguna baginya di dunia dan akhirat baik berupa perkataan maupun perbuatan.

2. Termasuk buruknya keislaman seseorang adalah ketika ia memilih hal yang tidak berguna baginya, yaitu sikap fudhul (sia-sia) dengan beragam macamnya.

3. Dorongan menyibukkan diri dengan hal yangnberguna.

4. Perintah memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

==

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya semisal itu pula)

[HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih].

  • Penjelasan Hadits

Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan. (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:288)

Faedah Hadits

➡ Pertama:

Dalam ajaran Islam dikumpulkan berbagai macam kebaikan (mahasin). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa kebaikan Islam terkumpul dalam dua kalimat dalam firman Allah,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ﻭَﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥِ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Kedua:

Tanda baiknya seorang muslim adalah dengan ia melakukan setiap kewajiban. Juga di antara tandanya adalah meninggalkan yang haram sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ

Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain .” (HR. Bukhari, no. 10 dan Muslim,no. 40).

  • Ketiga:

Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia akan meninggalkan perkara yang haram, yang syubhat dan perkara yang makruh, begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim. Demikian perkataan Ibnu Rajab Al-Hambali yang kami olah secara bebas (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:289).

  • Keempat:

Kata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” ( Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:290).

Tentang keutamaan menjaga lisan ini diterangkan dalam ayat berikut yang menjelaskan adanya pengawasan malaikat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh lisan ini. Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻭَﻧَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗُﻮَﺳْﻮِﺱُ ﺑِﻪِ ﻧَﻔْﺴُﻪُ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻪِﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭِﻳﺪِ ‏(16 ‏) ﺇِﺫْ ﻳَﺘَﻠَﻘَّﻰ ﺍﻟْﻤُﺘَﻠَﻘِّﻴَﺎﻥِ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻴَﻤِﻴﻦِ ﻭَﻋَﻦِﺍﻟﺸِّﻤَﺎﻝِ ﻗَﻌِﻴﺪٌ ‏(17 ‏) ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ ‏(18‏)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18).

✅ Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan ‘aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” ( Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim , 13:187).

Dalam hadits Al-Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺣُﺴْﻦِ ﺇِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻗِﻠَّﺔَ ﺍﻟْﻜَﻼَﻡِ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻨِﻴﻪِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Ahmad, 1: 201.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).

✅ Abu Ishaq Al-Khowwash berkata,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺛﻠَﺎَﺛَﺔَ ﻭَﻳُﺒْﻐِﺾُ ﺛَﻼَﺛَﺔَ ، ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ : ﻓَﻘِﻠَّﺔُ ﺍﻷَﻛْﻞِ ،ﻭَﻗِﻠَّﺔُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ، ﻭَﻗِﻠَّﺔُ ﺍﻟﻜَﻼَﻡِ ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﺎ ﻳُﺒْﻐِﺾُ : ﻓَﻜَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟﻜَﻼَﻡِ ، ﻭَﻛَﺜْﺮَﺓُﺍﻷَﻛْﻞِ ، ﻭَﻛَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ

Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan, dan banyak tidur.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman , 5:48).

✅ ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

ﻣَﻦْ ﻋَﺪَّ ﻛَﻼَﻣَﻪُ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻪِ ، ﻗَﻞَّ ﻛَﻼَﻣُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻳَﻌْﻨِﻴْﻪِ

Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat.”

Setelah menyebut perkataan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz di atas, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:291). Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less(banyakbicara, sedikit amalan)”.

  • Kelima:

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna.” ( Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam , 1:295).

  • Keenam:

Mungkin ada sebagian yang menganggap bahwa meninggalkan hal yang tidak bermanfaat berarti meninggalkan pula amar makruf nahi mungkar.

Jawabnya, tidaklah demikian. Bahkan mengajak kepada kebaikan dan melarang dari suatu yang mungkar termasuk hal yang bermanfaat. Karena Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104) (Lihat Syarh Al-Arba’in An-nNawawiyyah, hlm. 182).

Sehingga dari sini menunjukkan bahwa nasihat kepada kaum muslimin di mimbar-mimbar dan menulis risalah untuk disebar ke tengah-tengah kaum musliminntermasuk dalam hal yang bermanfaat, bahkan berbuah pahalanjika didasari dengan niat yang ikhlas.

Referensi:

1. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam . Cetakan kesepuluh, Tahun1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah;

2. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah . Cetakan ketiga, Tahun1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. PenerbitDar Tsuraya.

3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim . Cetakan pertama, Tahun 1421H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Musthofa Sayyid Muhammad, dkk.Penerbit Muassasah Qurthubah.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

== ××× Lanjut Ke Halaman 2 ×××