Jaga Kejernihan, Kebersihan dan Ketulusan Hati

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Agar Hati Tidak Membatu

2.Meraih Ketenangan Hati yang Hakiki

3.Jika Hati Baik..?

4.Cinta Sejati Dalam Islam –

5.Kasih Sayang Umar Terhadap Rakyatnya

6.Sebab Matinya Hati Seorang Hamba

7.Jenis-jenis Syahid

8.Empat Niat Agar Makan Kita Bernilai Ibadah

9.Perbaiki Akidah Sebelum Ibadah

10.Hikmah dari Urutan Rukun Iman

https://www.atsar.id/2018/12/hikmah-dari-urutan-rukun-iman.html

11.Keutamaan Saling Memberi Hadiah

12. Benarkah Rintihan Orang Sakit Berpahala?

l••

Ke Syurga Bersama Nabi Tercinta-Ustadz Ahmad Sabiq,Lc

Dampak Negatif Maksiat dan Dosa: Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron,Lc

Islam Agama Yang Mudah-Ustadz Ahmad Sabiq,Lc

Bersegera Menuju Ampunan Allah dan Syurga-Nya-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron,Lc

Melawan Hawa Nafsu dan Meninggalkan Sebab-Sebabnya-Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Kebersihan Hati – Ustadz Nuruddin Abu Faynan al Makky

Sudah Tuluskah Niat Hati Kita-Ust Ahmad Zainuddin

=

Mengilmui Amar Ma’ruf Nahi Mungkar – Ustadz Zainal Abidin, Lc6Mb

Suami Bekerja di Negeri Kafir – Ust. Dr. Firanda Andirja, MA

Kiat Hidup Sukses dengan Berprasangka Baik kepada Allah – Ust. Firanda Andirja 4Mb

BAHAYA PERKARA BID’ah-Ust Dahrul Falihin 10Mb

Kitab Shahih Bukhari- Saat Wahyu Turun Ke Rasul – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc 7Mb

Ustadz Zainal Abidin, Lc, MM, tema BEGINI SEHARUSNYA MENGAGUNGKAN RASULULLAH

https://mir.cr/0OSSDMQS

••

Ebook

Hinanya Hati Yang Keras

Kebersihan Hati

lBersihkan Hati Untuk Membangun Ummat

lBulir-Bulir Kebaikan

Melembutkan Hati

Al-Qur’an Di Hati Seorang Muslim

••

  • Jaga Kebersihan, Kejernihan dan Ketulusan Hati

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Tazkiyatun Nafs, semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

Di zaman cinta dunia dengan berbagai rupa dan bentuknya menggejala seperti sekarang, agaknya perlu mengingatkan seorang muslim akan pentingnya mencintai sesama dan berbagi kebaikan serta mencegah gangguan dan keburukan sebagai langkah terpuji yang membuat hati bersih dan bahagia.

Kebersihan hati merupakan predikat mulia dan terhormat yang membuat seorang muslim mudah meraih pahala besar dan berakhir dengan kesudahan yang baik. Firman Allah :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. [الشعرائ/88-89]

Pada suatu hari harta dan anak-anak tidak berguna kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. Qs.As-Syuara :88-89

Tanda hati bersih setelah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keyakinan ialah manakala hati itu jernih dari pencemaran rasa dengki, iri hati dan dendam terhadap kaum muslimin; Artinya seorang muslim hidup bersama sesama mulim dengan hati jernih, bersih dan tulus, tidak menyimpan kebencian, rasa dendam, penipuan dan siasat buruk terhadap mereka, namun justru hidup berdampingan dengan mereka dengan perasaan lega dan hati bersih yang membuat dirinya sendiri nyaman dan orang lain merasa aman. Dalam arti masyarakat tidak merasa terganggu dan terusik olehnya. Sabda Nabi ﷺ :

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» متفق عليه

Tidak sempurna iman seseorang hingga mencintai saudaranya seperti halnya mencintai dirinya sendiri”. Muttafaq alaih.

✅ Saudaraku sesama muslim !

Termasuk kenikmatan yang disegerakan di dunia ini atau bahkan merupakan puncak kenikmatan surga dunia ialah apabila seseorang telah mencapai kebersihan hati dalam bergaul dan hidup bermasyarakat bersama siapapun. Firman Allah ketika menggambarkan penghuni surga :

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ . [الأعراف/43]

Kami cabut rasa dengki yang ada di dalam dada mereka”. Qs. Al-Araf:43

Ibnu Athiyah rahimahullah dalam memahami ayat ini mengatakan :

Hal itu dikarenakan orang yang menyimpan rasa dendam dan kedengkian merasa tersiksa dengan perasaannya itu, sedangkan surga bukanlah tempat siksaan”.

Allah memberikan gambaran tentang doa hamba-hambaNya yang beriman dalam firmanNya :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ .[الحشر/10]

Dan orang-orang yang datang setelah mereka berdoa, Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan kawan-kawan kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, janganlah Engkau menuruh rasa dendam di dalam hati kami. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Pemurah”. Qs. Alhasyr :10

✅ Saudaraku sesama muslim !

Menjaga hati agar tetap bersih dari berbagai perasaan dendam dan benci merupakan salah satu amal kebajikan termulia.

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ» ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ» راه ابن ماجه

Nabi ﷺ pernah ditanya :

Siapakah di antara manusia yang paling mulia ? beliau menjawab : Setiap orang yang berhati “makhmum” dan lisannya “Shoduuq”. Mereka berkata : Kalau orang yang lisannya shoduuq (jujur) kami telah mengenalnya, tetapi siapakah orang yang berhati “makhmum” itu ?. Jawab beliau : Itulah orang yang hatinya bersih dan bertakwa; tidak tercemari dosa, kezaliman, rasa dendam dan dengki”. HR Ibnu Majah. Isnadnya dinyakan shahih oleh Almundziri dan Albushiri dalam Azzawaid dan oleh Albani.

Generasi terdahulu umat ini memahami hakikat tersebut. Lihatlah Zaid bin Aslam ketika menjenguk Abu Dujanah yang sedang sakit, namun demikian wajahnya tetap berseri, ia bertanya : “Apa yang membuat wajahmu nampak berseri ? Jawabnya : Tidak ada sesuatu yang lebih menenteramkan hatiku selain dua amalan; pertama aku tidak membicarakan sesuatu yang tidak penting bagiku, dan kedua  hatiku selalu bersih dan tulus terhadap kaum muslimin”.

✅ Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata : “Tidaklah orang-orang yang bersama kami mencapai suatu pencapaian derajat tertentu lantaran banyaknya melakukan shalat sunah dan puasa, akan tetapi karena kemurahan dan kejernihan hati serta ketulusan nasihat mereka kepada umat”.

✅ Saudaraku sesama muslim !

Penyebab kebersihan hati seseorang antara lain keikhlasan beribadah kepada Allah, ridha terhadap takdir dan ketentuan hukumNya yang berlaku dalam hidup ini serta senantiasa melakukan ketaatan kepadaNya, memperbanyak baca kitabNya, selalu berupaya memerangi hawa nafsu dari penyakit-penyakit hati; seperti menipu, mendengki dan mendendam dengan tetap sadar akan dampak buruk dunia dan akhirat yang ditimbulkannya.

Maka seyogianya seorang hamba memohon kepada Allah agar dikaruniai hati yang bersih dan tutur kata yang benar serta mencurahkan segala upaya yang dapat membangkitkan cinta kasih sayang, menangkal kebencian dan rasa dendam.

Hal itu dengan menebar salam sejahtera, tidak memperbincangkan tentang apapun urusan orang yang tidak penting baginya, berupaya memberikan suatu pemberian kepada sesama demi terjalinnya kasih sayang dan terhindarnya kebencian.

Selain itu, selalu mendoakan kebaikan bagi seluruh kaum muslimin, memberikan pemaafan atas kesalahan mereka, mencurahkan amal kebajikan dalam berbagai ragamnya, berusaha menyenangkan hati mereka dan turut merasakan kegembiraan dan kesedihan mereka.

Hendaklah seorang hamba berusaha secara sungguh-sungguh memerangi setan yang tidak henti-hentinya menghasut dan merusak hati. Firman Allah :

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا . [الإسراء / 53]

Katakanlah kepada hamba-hambaKu agar mereka berkata yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu selalu menghasut di antara mereka. Sesungguhnya setan bagi manusia adalah musuh yang nyata”. Qs. Al-Isra: 53

✅ Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda :

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ» رواه مسلم

Setan berputus asa dalam mempengaruhi orang-orang yang shalat di Jazirah Arab agar menyembah dirinya, maka lalu ia melakukan penghasutan di antara mereka”. HR.Muslim

Di antara yang dapat menyelamatkan seseorang dari penyakit hati ialah menghindari perdebatan dan perbantahan dalam berbagai persoalan dan peristiwa, karena hal itu dapat menimbulkan kebencian dan rasa dendam serta mempertajam permusuhan dan melahirkan sikap antipati.

Perdebatan hanya dipandang perlu dalam upaya membela kebenaran agama dan hanya dilakukan oleh seorang ulama yang berhati tulus dalam memberikan nasihat, amanat, dan memenuhi seluruh persyaratan berdebat dan adu argumentasi dengan tetap menjaga kode etik dan norma-norma tinggi.

Hati yang bersih merupakan pintu gerbang bagi masuknya keberkahan secara permanen. Seorang ulama salaf berkata : Pondasi agama adalah sifat wara’, sebaik-baik ibadah adalah ibadah melawan nafsu di malam hari dan jalan pintas masuk surga adalah hati yang bersih.

Oleh karena itu, marilah kita jaga kebersihan, kejernihan dan ketulusan hati. Nabi ﷺ sendiri senantiasa berupaya memperteguh pondasi ini dengan menangkal segala yang merintanginya dan mengotorinya. Sabda beliau :

«لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ» . رواه مسلم

Janganlah saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi. Jagalah persaudaraan di antara kalian. Tidak diperkenankan seorang muslim tidak bertegur sapa dengan sesama saudaranya melebihi tiga hari”. HR. Muslim.

Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah bersaudara dan saling mencintai, saling berkasih sayang atas dasar takwa dan saling berpesan untuk selalu taat kepada Allah.

 @ Firanda.com.

====(Lanjut Ke Halaman 2)

  • Ringkasan Fawaid Dauroh (Sesi-01)

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily

——–

Manusia butuh pada orang lain. Butuh hidup bersama orang lain. Tidak bisa hidup sendiri. Hidup bersama jamaah. Sejak era sebelum Islam, manusia telah membentuk jama’ah. Karena memang demikianlah fitrah manusia, hidup berjama’ah. Ada ikatan di antara mereka.

Model ikatan kehidupan berjamaah sebelum Islam adalah:

1. Ikatan al-Qaumiyyah; yang mengikat adalah kesukuan dan ikatan kelompok.

2. Ikatan Maslahah Musytarokah, yaitu kepentingan bersama. Sehingga muncullah perjanjian ini dan itu, kesepakatan ini dan itu.

Di antara fitrah manusia adalah hidup berjama’ah. Islam mengaturnya, menyucikannya, agar kehidupan berjamaah bersifat mengikat secara syar’i. Ikatan secara syar’i antara manusia adalah Islam.

√ Ada yang bilang; kita ingin menjadikan Islam sesuai dengan daerah masing-masing. Ada Islam Eropa, Islam Asia, ada Islam Nusantara, dll. Ini adalah ikatan jahiliah. Penyelisihan terhadap syari’at Allah. Ikatan yang paling agung, yang menjadi titik kembali segala sesuatu adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Jama’ah yang syar’i itu ada dua. Ini perlu dipahami karena banyak orang tidak mengetahuinya. Dengan memahami dua jenis jama’ah ini, banyak kerancuan berpikir akan terurai dan terjawab. Kedua jenis jama’ah yang syar’i tersebut adalah; al-Jama’ah ad-Diiniyyah dan Jama’ah al-Abdaan.

➡ 1. al-Jama’ah ad-Diiniyyah: yaitu manakala manusia beragama dengan agama yang satu, tidak ada perbedaan dalam akidah dan ushul. Adapun furu’ boleh jadi ada perbedaan. Jama’ah ini hanya satu, dan tidak dibatasi oleh batasan-batasan (waktu dan teritorial). Wajib bagi muslim Indonesia, muslim Arab, muslim Eropa, dan segenap muslimin lainnya untuk masuk ke dalam jama’ah yang satu ini. Bukan justru berkelompok-kelompok dengan pemikiran beragama jama’ahnya masing-masing.

Jama’ah jenis inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

_”Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (di masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”_ [QS. Ali ‘Imran: 103]

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

_”Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”_ [QS. Ali ‘Imraan: 104]