Ar-Ruduud (Berbantahan)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Renungkanlah Hal Ini Ketika AkanMembuat Bantahan!

2.Membaca Kitab Bantahan Mengeraskan Hati

– 3.Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

4.Membongkar Kebid’ahan Dan Penyimpangan Satu Tugas Pengemban Ilmu

5.Hanya Pengekor Hawa Nafsu Yang Membenci Bantahan Ilmiah

6.Peringatan Terhadap Fitnah Tajrih Dan Tabdi’

7.PENYAKIT MENULAR: ANTARA ILMU HADITSDAN ILMU MEDIS

8.POLEMIK PRESIDEN WANITA

••

Di Antara Dampak Buruk Debat – 5 Menit yang Menginspirasi 3Mb

Nasihat Untuk Suami Agar Tidak Bosan Dengan Istrinya-Ust Syafiq Basalamah 5Mb

Tenar Bukan Berarti Benar _ Dr. Musyaffa Ad Dariny

Tanya Jawab_ Apa Hukum Berdebat di Media Sosial -Yufid.tv

Silakan Berdebat, Dengan Syarat – Ustadz Muflih Safitra, MSc

Berkaca Dari Sang Pemimpin – Ustadz Mizan Qudsiyah 17Mb

Segeralah Bangkit – Ustadz Anas Burhanuddin_ Lc.

Allah Maha Ganjil – Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc,2Mb

Kupas Tuntas Istighosah – Ustadz Dr. Abdullah Roy

Berdebat Ala Imam Syafi’i-Ust.M.Nurul Dzikri

Menjauhi Perdebatan-Ust Dzulqarnain

Berdebat Tanpa Ilmu-Ust Abdul Hakim Amir Abdat

Bantahan-Ust Zainal Abidin Syamsudin

••

Ebook

Radd (Berbantahan)-Muhammad ibrahim Al tuwaijry

Dialog Antara Islam dan Kristen

Bantahan terhadap propaganda ikhtilath di lembaga pendidikan –

Bantahan terhadap paham pluralisme agama==

•••••

  • Ruudud (Bantah-Membantah)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang debat, semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • AR-RUDUUD (BERBANTAHAN)

IKUTNYA MENSYARATKAN SESUATU YANG TIDAK DISYARATKAN OLEH SALAF? (OOO…TERNYATA USTADZNYA MEMANG NGGAK NGAKU SALAFI! PANTESAN!!)

  • ➡ [132]- Kerasnya Imam Muslim dalam membantah orang yang menyelisihinya

..

✅ Dan Imam Muslim rahimahullaah dengan sangat kerasnya membantah orang yang menyelisihinya dengan menyebutnya sebagai:

(1)mengaku Ahli Hadits,

(2)layak untuk tidak disebut,

(3)pendapatnya terbuang,

(4)buruk pemikirannya,

Dan sifat-sifat lainnya yang disematkan oleh Imam Muslim kepadanya dan kepada pendapatnya.

  • ➡ [133]- Berbantahan dengan keras -dalam masalah ilmu dan dengan ilmu- adalah biasa terjadi pada para Salaf

Maka ini menunjukkan bahwa: terjadi saling berbantahan -dengan keras- di kalangan para ulama, dan bantahannya juga mereka sebarkan -terkadang dengan menyebutkan nama, dan terkadang hanya dengan sindiran saja-.

Bahkan di kalangan para Shahabat juga terjadi yang demikian; dalam masalah Fiqih, seperti:

➡ (1)Abu Musa Al-Asy’ari mempunyai sebuah pendapat dalam sebuah permasalahan Faraa-idh (ilmu waris), dan dia menyangkan bahwa Ibnu Mas’ud akan mengikuti pendapatnya. Akan tetapi ternyata Ibnu Mas’ud berkata:

لَقَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

Sungguh aku berarti telah sesat (kalau mengikuti pendapat Abu Musa-pent) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Karena ternyata Ibnu Ms’ud memiliki sebuah Hadits yang berbeda dengan pendapat Abu Musa.

[Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 6736)]

➡ (2)Perkataan ‘Aisyah ketika membantah Zaid bin ‘Arqam dalam suatu masalah Buyuu’ (jual beli):

أَبْلِغِيْ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ: أَنَّهُ قَدْ أَبْطَلَ جِهَادَهُ مَعَ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِلَّا أَنْ يَتُوبَ

Sampaikan kepada Zaid bin ‘Arqam bahwa dia telah membatalkan jihadnya bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; kecuali kalau dia bertaubat.”

[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dal Al-Mushannaf (no. 14812 & 14813), Ad-Daruquthni (no. 2969 & 2970), dan Al-Baihaqi (V/330-331 & 331)]

➡ (3)Perkataan Ibnu ‘Abbas:

وَدِدْتُ أَنَّ هؤلاء الذين يُـخَالِفُوْنِيْ فِي الْفَرِيْضَةِ: نَـجْتَمِعُ، فَـنَضَعُ أَيْدِيَنَا عَلَى الرُّكْنِ، ثُمَّ نَبْتَهِلُ؛ فَنَجْعَلُ لَعْنَةَ اللهِ عَلَى الْكَاذِبِيْنَ

“Saya ingin mereka yang menyelisihiku dalam Faraaidh (ilmu Waris): agar kita berkumpul, kemudian kita letakkan tangan kita di rukun (Hajar Aswad), kemudian mari kita Mubaahalah (saling mendo’akan) agar laknat Allah ditimpakan kepada orang yang dusta.”

[Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Kitaab al-Faqiih wal Mutafaqqih (no. 749 & 750)]

Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu para Salaf sering berbantah-bantahan -walaupun dalam masalah ijtihadiyah-, dan dilakukan di hadapan orang lain (tidak mesti sembunyi-sembunyi), serta sudah biasa menggunakan kata-kata keras semacam ini.

  • ➡ [134]- Realita zaman sekarang dalam masalah berbantahan

Akan tetapi -sekali lagi- terjadi keanehan pada zaman sekarang, dimana muncul orang-orang yang senantiasa ingin dikritik dengan sembunyi-sembunyi -padahal dia menyebarkan pendapat/kesalahannya di tempat umum-, serta tidak ingin dikritik dengan keras; mereka hanya ingin langsung dihubungi, dengan sembunyi-sembunyi dan dengan bahasa yang lembut. Padahal mereka adalah para penuntut ilmu.

[Lihat: Al-Maqaalaat (I/115-117): Makalah Ke-25: Perbedaan Antar Teguran]

-CATATAN ATAS KITAB AL-MUUQIZHAH (hlm.109-111)), karya Ahmad Hendrix-

https://drive.google.com/file/d/0Bx7DPlyk_AgSVUt3ZnM1aTk0ZTA/view?usp=docslist_api

  • TAMBAHAN PENTING!

قال عبد الله بن أحمد بن حنبل: جاء أبو تراب النخشبي إلى أبي، فجعل أبي يقول :فلان ضعيف وفلان ثقة، فقال أبو تراب:يا شيخ لا تغتب العلماء. قال: فالتفت أبي إليه؛ قال:ويحك! هذا نصيحة، ليس هذا غيبة.

Berkata Abdullah bin Ahmad (anak Imam Ahmad): Abu Thurab An-Nakhsyabi pernah datang menemui bapakku, maka mulailah bapakku berkata (menjelaskam keadaan rawi):

“Si Fulan Dha’if (lemah), si fulan Tsiqah”.

Maka Abu Thurab menegurnya:

Hai Syaikh, JANGANLAH KAU MEN-GHIBAHI ULAMA!”

Lalu bapakku menoleh kepadanya, beliau menjawab:

Celaka engkau! INI NASEHAT bukan GHIBAH!!”

[Syarah ‘Ilal At-Tirmidzi (I/146) oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullaah-]

* Lihat kitab “PENGANTAR ILMU MUSTHALAHUL HADITS” (hal.7-8) karya Syaikhuna Ustadz Abdul Hakim Abdat – hafizhahullah-

-disalin oleh Abu Huzaifah Azriyat-

==

  • AR-RUDUUD (BERBANTAHAN) 2

INILAH YANG INGIN KITA HIDUPKAN KEMBALI: BAHASA ‘ILMIYYAH!

SEKALI LAGI: KRITIKAN BUKANLAH UNTUK MENJELEK-JELEKKAN ….

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

Seseorang menyalahkan orang lain (yang salah): ini adalah suatu perkara yang wajib dalam Islam. Dan menyalahkan bukan berarti menjatuhkan, bukan pula celaan -apalagi cacian dan makian-, akan tetapi untuk menjelaskan kebenaran.

Oleh karena itulah (Nabi) -‘alaihish shalaatu was salaam- bersabda dalam hadits yang shahih -dalam Shahih Al-Bukhari (dan Muslim)-: “Jika seorang hakim akan menghukumi, kemudian dia berijtihad, lalu dia benar: maka dia mendapat dua pahala, kalau salah; maka dia mendapat satu pahala.”

Tidak terlintas dalam benak (kita) bahwa Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika mengatakan tentang seoang qadhi atau hakim: bahwa dia salah; berarti beliau mencela dan mencacinya -sedangkan beliau menjadikan satu pahala baginya-?!

Demikian pula dalam kisah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (dan Muslim) juga: tentang mimpi yang ditafsirkan oleh Abu Bakar di hadapan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau -‘alaihish shalaatu was salaam- bersabda: “Engkau benar pada sebagiannya, dan engkau salah pada sebagiannya.” Tidaklah terlintas di benak seseorang bahwa Rasul mencela sahabatnya di gua: Abu Bakar; ketika mengatakan kepadanya: “Engkau salah pada sebagiannya.” ?!

Akan tetapi, (semua kekacauan) ini disebabkan keterbelakangan kaum muslimin dalam wawasan Islamiyyah dan JAUHNYA MEREKA DARI BAHASA SYAR’I.”

[Manhaj Salafish Shaalih (hlm. 44-46- cet. II), karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari -hafizhahullaah-]

-AL-MAQAALAAT (III/61-62), karya Ahmad Hendrix-

https://drive.google.com/file/d/0Bx7DPlyk_AgSbWkxUkNNNlFMZnM/view?usp=docslist_ap

=

  • PERBEDAAN ANTAR TEGURAN

➡ [1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada seorang arab badui yang kencing di masjid:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ، وَلَا الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Masjid-masjid ini tidak pantas untuk kencing semacam ini, dan tidak juga kotoran. (Masjid-masjid) itu hanya untuk berdzikir (mengingat) Allah -‘Azza Wa Jalla-, untuk Shalat, dan membaca Al-Qur’an.”

HR. Muslim (no. 285) -dan asalnya terdapat dalam Al-Bukhari (no. 6025)-, dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-.

Imam An-Nawawi -rahimahullaah- berkata:

“Di dalam (hadits) ini terdapat (faedah): bersikap lemah lembut terhadap orang bodoh dan mengajarinya hal-hal yang menjadi keharusannya; tanpa celaan keras dan tanpa menyakiti, itupun kalau dia lakukan penyelisihan (terhadap syari’at) TANPA MEREMEHKAN DAN TANPA PENENTANGAN.”[Syarh Muslim (II/213- cet. Daarul Faihaa’)]

➡ [2]- Adapun sikap Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- terhadap para Shahabat yang meng-imam-i Shalat -dan terlalu panjang dalam bacaannya-; maka seperti yang dijelaskan oleh Abu Mas’ud Al-Anshari -radhiyallaahu ‘anhu-:

Datang seorang laki-laki menemui Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kemudian berkata: “Sungguh, aku (sengaja) terlambat mendatangi Shalat Shubuh disebabkan si fulan yang terlalu panjang (dalam meng-imam-i) kami.” Maka, tidaklah aku melihat Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- semarah hari itu dalam memberikan nasehat, beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ، فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ، فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ، وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lari (dari agama)! Siapa pun di antara kalian yang meng-imam-i manusia; maka ringkaskanlah, karena dibelakangnya ada orang tua, lemah dan punya hajah (kebutuhan).”

HR. Al-Bukhari (no. 702) dan Muslim (466) Abu Mas’ud Al-Anshari -radhiyallaahu ‘anhu-.

✅ Ibnu Daqiq Al-‘Id -rahimahullaah- berkata:

Hadits Abu Mas’ud menunjukkan: MARAH DALAM MENASEHATI; hal itu dikarenakan: (1)bisa jadi karena yang dinasehati telah menyelisihi ilmunya, atau (2)kurang (maksimalnya) dia dalam menuntut ilmu. Wallaahu A’lam.”

[Ihkaamul Ahkaam (hlm. 295)]

– Hal serupa juga terjadi pada Mu’adz bin Jabal -radhiyallaahu ‘anhu-; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 701) dan Muslim (465 (176)) dari Jabir bin ‘Abdillah -radhiyallaahu ‘anhumaa-.

[3]- Perhatikanlah: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- membedakan CARA MENEGUR yang diarahkan kepada orang bodoh dan orang yang memiliki ilmu.

[4]- Maka, sangat aneh: Orang-orang yang sudah lama “ngaji”, atau sudah “mondok”, atau kuliah di univeritas Islam, atau bahkan ke luar negeri -dan banyak juga yang bertitel tinggi-; tapi INGIN DITEGUR DENGAN CARA SEPERTI TEGURAN UNTUK ORANG-ORANG BODOH.

Allaahul Musta’aan.

@Ahmad Hendrix Eskanto

=

  • ➡ #BANTAHAN TERMASUK AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

➡ [1]- Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani Al-Jaza-iri -rahimahullaah- berkata:

Prinsip Yang Kelima (Dari Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah) Adalah: Bahwa Membantah Orang Yang Menyelisihi (Kebenaran) Adalah Bagian Dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar…

Ta’shil (Pondasi) dari masalah ini adalah dalil-dalil tentang amar ma’ruf nahi munkar; seperti firman Allah -Ta’aalaa-:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104).”

✅ Sebelumnya beliau berkata:

Saya merasa perlu untuk meletakkan ta’shil (pondasi) dalam pembahasan ini; karena ada sebagian orang yang LEMAH JIWANYA dan sedikit ilmunya: yang dadanya menjadi sempit ketika menela’ah bantahan; disangka (dengan tidak membantah) maka akan lebih dekat dengan sikap wara’ dan menjaga kehormatan kaum muslimin.

Padahal, hanya dengan menengok secara sekilas kepada sejarah perjalanan para Ulama; maka akan memberikan maklumat kepadamu bahwasanya tidak ada suatu masa yang kosong dari bantahan kepada orang yang menyelisihi kebenaran; MESKIPUN (YANG DIBANTAH) TERSEBUT ADALAH TERMASUK TOKOH TERBAIK KAUM MUSLIMIN.”

[Sittu Durar Min Ushuuli Ahlil Atsar (hlm. 109-111)]

➡ [2]- Syaikh Muhammad ‘Abdul Hayy Al-Laknawi (wafat th. 1304 H) -rahimahullaah- berkata dalam kitabnya yang masyhur -di kalangan muhadditsin- Ar-Raf’u Wat Takmiil Fil Jarh Wat Ta’diil (hlm. 9-10):

“Disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin, Al-Ghazali dalam Ihyaa-u ‘Uluumiddin, dan selain keduanya dalam kitab-kitab mereka: Bahwa meng-GHIBAH SESEORANG YANG MASIH HIDUP MAUPUN YANG SUDAH MATI; DIBOLEHKAN KALAU UNTUK TUJUAN SYAR’I YANG TIDAK MUNGKIN DICAPAI KECUALI DENGAN CARA ITU…

✅ (Di antaranya:)

Memperingatkan kaum mukminin dari kejelekkan dan dalam rangka menasehati mereka.

Seperti: …mencela saksi di hadapan qadhi, mencela para perawi, …dan juga: kalau dilihat ada seseorang yang mondar-mandir belajar kepada ahli bid’ah atau orang fasik dan dikhawatirkan akan berbahaya bagi pelajar tersebut; maka dibolehkan untuk menjelaskan keadaan (guru) tersebut; dengan syarat: niatnya adalah nasehat dan bukan hasad atau meremehkan.”

➡ [3]- Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pintu masuk untuk melapangkan dada kita dalam menghadapi kritikan dan bantahan.

@ Ahmad Hendrix Eskanto

=<<<< Lanjut Ke Halaman 2 >>>>