Perayaan Tahun Baru Itu Syiar Kaum Kafir

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mengambil Ayat Al Qur’an Untuk Motto Hidup

2.Bolehkah Shalat Qabliyah Subuh Saat Bangun Kesiangan

3.Jeritan Hati Seorang Janda

4.Hukum Pinjam Uang Masjid

5.Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #05

6.Kafirkan Orang yang Mengkafirkan?

7.Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu 4 : Jangan MubadzirkanSemangat Belajarmu

8.Mengqadha’ Shalat Setelah Taubat

9.Wahai Saudariku, Lengan Adalah Aurat!

••

Ceramah Singkat_ Tahun Baru_ Perayaan Tiga Agama-Ust Afifi Abdul Wadud 2Mb

Bincang Santai_ Fakta dan Hukum Merayakan Tahun Baru-Ust Firdaus 2Mb

Menyambut Tahun Baru-Ust Dadai Hidayat

Panduan Islam Tentang Tahun Baru” Oleh Ustadz Khidir M.Sanusi

Perayaan Tahun Baru Masehi-Ust FadlanFahamsyah

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi-Ust Aris Munandar

Jangan Ikuti Orang Kafir(Tahun Baru Masehi)-Ust Ahmad Zainuddin

Natal dan Tahun Baru-Ustadz Achmad Rofi’i

Hukum Perayaan Tahun baru-Ust Badrusalam

(Antara Adat dan Syari`at, Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc),

(Tumbal, Gendam dan Pesugihan, Ustadz ZainalAbidin bin Syamsuddin),

(Hisab Mizan, Syaikh Prof. Dr. Soleh bin AbdulAziz Sindi, Peterjemah Ustadz Firanda Andirja),

(Ketika Rumah Tangga Tak SeindahSyurga, Ustadz Sanusi Daris Hafizhahullah),

ADAKAH MUSIK ISLAMI?” Bersama Ust Ristiyan Ragil

Kekeliruan Akidah Kaum Muslimin-Ustadz Abu Darda Al Kandary hafizhahullah

••

Ebook

Tasyabbuh, Menyerupai Kebiasaan Orang Kafir

Tasyabbuh (Barangsiapa Menyerupai Suatu Kaum Maka Dia Termasuk Golongan Mereka)-Dr Nashir Bin Abdul Qarim

Seorang Mukmin Tidak Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir

Haram Merayakan Natal dan Tahun Baru

Natalan Bukan Milik Yesus, Tapi Hari UlangTahun Kelahiran Dewa Kafir

Perayaan Natal dan Tahun BaruSimbol Kaum Kuffar

Toleransi Semu Natal dan Tahun Baru

Perayaan Tahun Baru itu Syiar KaumKuffar.pdf

Tahun Baru Masehi 52Hlm

••

Perayaan Tahun Baru Itu Syiar Kaum Kafir

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hinggahari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

••

  • PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR


Kata Pembuka

Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil meniup terompet. Bising sekali. Di pinggiran jalan, berjejerpanjang para penjual terompet dengan berbagai aksesorisnya mengais rezeki. Saya teringat, oh ya… beberapa hari lagi akan masuk pergantian tahun.

Subhanallah, di mana-mana masyarakat tampaknya sedang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Mulai dari spanduk, baleho, umbul-umbul, aksesoris dan lainnya. Di perempatan lampu merah, mata saya tertarik dengan sebuah spanduk bertuliskan, ” Muhasabah Akhir Tahun & Istighotsah” bersama ”Gus…”

Mungkin, penyelenggara acara tersebut berfikir, daripada kaum muslimin berhura-hura pada saat pergantian akhir tahun, lebih baik membuat acara yang Islami sebagai alternatif daripada acara hura-hura.Tapi apa benar bahwa perayaan Tahun baru itu merupakan syiarnya kaum kuffar?! Masak hanya merayakan perayaan dan peringatan seperti ini saja dikatakan syiarnya kaum kuffar?!

Mungkin, demikian pertanyaan yang muncul dari benaknpara pembaca.nIya, peringatan tahun baru ( New Year Anniversary ) itu merupakan syiar kaum kuffar.

Karena, tidaklah peringatan ini dirayakan, melainkan ia satu paket dengan peringatan natal (christmas). Kita sering lihat dan mendengar, bahwa tahniah (ucapan selamat) kaum Nasrani adalah : “Marry Christmas and Happy New Year”, “Selamat Natal dan Tahun Baru”.

Namun, tunggu dulu. Tidak itu saja, ternyata kaum pagan Persia yang beragama Majusi (penyembah api), menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.

Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka, ‘ Tumarat ’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘ Jamsyad ’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi ‘Nairuz ’

pada awal tahun. Nairuz ’ sendiri berarti tahun baru. Kaum Majusi juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.

  • Perayaan Bid’ah yang tidak pernah Allah dan Rasul-Nya tuntunkan.

Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imam an-Nawawi dalam buku Nihayatul ‘Arob dan al-Muqrizi dalam al-Khuthoth wats Tsar Di dalam perayaan itu, kaum Majusi menyalakan api dan mengagungkannya karena mereka adalah penyembah api.

Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras).

Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

Kemudian, sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan ilmunya tidak mau kalah. Mereka bagaikan kaum Nabi Musa dari Bani Isra`il yang setelah Allah selamatkan dari pasukan Fir’aun dan berhasil melewati samudera yang terbelah, mereka berkata kepada Musa ‘ alaihis salam untuk membuatkan alihah (sesembahan-sesembahan) selain Allah, sehingga Musa menjadi murka kepada mereka.

Sebagian kaum muslimin di zaman ini turut merayakan perayaan tahun baru Masehi ini. Bahkan sebagian lagi, supaya tampak Islami merubah perayaan ini pada tahun baru Hijriah.

✅ Al-Muqrizi di dalam Khuthath– nya (I/490) menceritakan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan tahun baru Hijriah ini adalah para pendukung bid’ah dari penguasa zindiq, Daulah ‘Ubaidiyah Fathimiyah di Mesir, daulah Syi`ah yang mencabik-cabik kekuasaan daulahn ‘Abbasiyah dengan pengkhianatan dan kelicikan.

Dan sampai sekarang pun, anak cucu mereka masih gemar merayakan perayaan-perayaan bid’ah yang tidak pernah Allah dan Rasul-Nya tuntunkan.

  • Penyelewengan Fakta

Pesta tahun baru sendiri, merupakan syiarnya kaum Yahūdî yang dijelaskan di dalam taurat mereka, yang mereka sebut dengan awal Hisya atau pesta awal bulan, yaitu hari pertama tasyrin, yang mereka anggap sama dengan hari raya ‘Idul Adhhâ-nya kaum muslimin.

Mereka mengklaim bahwa pada hari itu, Allôh memerintahkan Ibrâhîm untuk menyembelih Ishaq ‘alaihissalam yang lalu ditebus dengan seekor kambing yang gemuk.

Sungguh ini adalah sebuah kedustaan yang besar yang diada-adakan oleh Yahūdî. Karena sebenarnya yang diperintahkan oleh Allah untuk disembelih adalah Ismâ’îl bukan Ishâq alaihissalam .

Karena sejarah mencatat bahwa Ismâ’îl adalah lebih tua daripada Ishâq dan usia Ibrâhîm pada saat itu adalah 99 tahun.

Mereka melakukan tahrîf ( penyelewengan fakta ) semisal ini disebabkan oleh kedengkian mereka. Karena mereka tahu bahwa Ismâ’îl adalah nenek moyang orang ‘Arab sedangkan Ishâq adalah nenek moyang mereka.

Kemudian datanglah kaum Nasrani mengikuti jejak orang-orang Yahūdî. Mereka berkumpul pada malam awal tahun Mîlâdîyah. Dalam perayaan ini mereka melakukan do`a dan upacara khusus dan begadang hingga tengah malam.

Mereka habiskan malam mereka dengan menyanyi-nyanyi , menari-nari, makan-makan dan minum-minum sampai menjelang detik-detik akhir pukul 12 malam.

Lampu-lampu dimatikan dan setiap orang memeluk orang yang ada di sampingnya, sekitar 5 menit. Semuanya sudah diatur, bahwa disamping pria haruslah wanita. Kadang- kadang mereka saling tidak mengenal dan setiap orang sudah tahu bahwa orang lain akan memeluknya ketika lampu dipadamkan. Mereka memadamkan lampu itu bukannya untuk menutupi aib, namun untuk menggambarkan akhir tahun mulainya tahun baru.

  • Perayaan Yang Sarat dengan Kesyirikan, Kemaksiatan, Kefasikan dan Kebid’ahan

Kini, perayaan ini telah menjadi suatu trend mark tersendiri. Muda , tua, pria, wanita, anak-anak, dewasa, muslim, kafir, semuanya berkumpul untuk merayakan tahun baru.

Segala bentuk acara untuk menyambut perayaan ini bermacam-macam.

  1. Ada yang sarat dengan kesyirikan,
  2. •Ada yang sarat dengan kemaksiatan dan kefasikan
  3. •Ada yang sarat dengan kebid’ahan, dan
  4. •Ada pula yang sarat dengan kesemua itu.

Yang sarat dengan kesyirikan seperti, upacara penyambutan tahun baru yang kental diwarnai dengan klenik, perdukunan dan ilmu sihir. Segala paranormal berkumpul dan memberikan ramalan tentang awal tahun, baik dan buruknya. Sebagian lagi ada yang nyepi ke gunung- gunung atau tempat keramat untuk mencari wangsit alias ilham dari setan.

Ada lagi yang sarat dengan kemaksiatan dan kefasikan. Dan ini sangat banyak sekali dan mendominasi. Mulai dari pentas musik akhir tahun yang menghadirkan wanita-wanita telanjang tidak punya malu yang bergoyang-goyang dan menari-nari merusak moral, sampai acara minum- minuman keras, narkoba dan seks bebas.

Ada lagi yang mengisi kegiatan ini dengan bid’ah-bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah dan tidak pula dikerjakan oleh generasi terbaik, para sahabat dan as-Salaf ash-Shâlih. Mereka melakukan sholat malam ( Qiyamul Layl ) berjama’ah khusus pada malam tahun baru saja dan disertai niat pengkhususannya.

Ada lagi yang melakukan Muhasabah atau renungan suci akhir tahun, dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an sambil menangis-nangis. Ada lagi yang berdzikir berjama’ah bahkan sampai istighôtsah kubrô. Dan segala bentuk bid’ah-bid’ah lainnya.

  • Haramnya Menyepakati Kaum Kuffâr Dalam Berbagai Perayaan Mereka


➡ DALIL-DALIL PENGHARAMANNYA

Banyak dalil-dalil yang menjelaskan keharaman perayaan- perayaan yang merupakan syiar kaum kuffâr ini. Semuanya kembali kepada haramnya tasyabbuh ’alal Kuffâr (meniru kaum kuffâr) dan mengerjakan amalan yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ( bid’ah ).

✅ Syaikhul Islâm Ibnu Taimîyah rahimahullâh menulis sebuah kitab khusus dan lengkap tentang larangan menyerupai kaum kuffâr , terutama yang berkaitan dengan hari-hari raya dan ritual ibadah mereka yang berjudul Iqtidhâ ash-Shirâthal Mustaqîm li Mukhâlafati Ashhâbil Jahîm.

Beliau menyebutkan dan memaparkan dalil-dalilnya dari al- Qur`an lebih dari 30 ayat dan lebih dari 100 hadits berserta wahyu dilâlah (sisi pendalilannya), termasuk juga ijma ’ulama, âtsâr dan i’tibâr-nya. Sampai-sampai al-Mufti,

al-’Allâmah Muhammad bin Ibrâhîm Âlu Syaikh memujinya dan mengatakan, ”Betapa berharganya kitab ini dan betapa besar faidahnya.( Fatâwa wa Rosâ`il III/109 )

✅ Syaikhul Islâm rahimahullâh berkata,

ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻻ ﺗﺠﻮﺯ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻘﻴﻦ :

ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﺎﻡ، ﻭﺍﻷﺩﻟﺔ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ :ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﺎﻡ: ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻤﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺩﻳﻨﻨﺎ، ﻭﻻ

ﻋﺎﺩﺓ ﺳﻠﻔﻨﺎ، ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻔﺴﺪﺓ ﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻬﻢ، ﻭﻓﻲ ﺗﺮﻛﻪ ﻣﺼﻠﺤﺔﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﻢ، ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻨﺎ، ﻟﻘﻮﻟﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ :- ‏( ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻘﻮﻡ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ‏) ﻓﺈﻥ ﻣﻮﺟﺐ ﻫﺬﺍ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪﺑﻬﻢ ﻣﻄﻠﻘﺎً، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ‏) ﻭﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﺟﻨﺲﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﺷﻌﺎﺭ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ ،ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ﻓﻲ ﻧﻔﺲ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ، ﻓﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔﻭﺍﻹﺟﻤﺎﻉﻭﺍﻻﻋﺘﺒﺎﺭ ﺩﺍﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ .

Menyepakati kaum kuffâr di dalam perayaan-perayaan mereka tidak boleh hukumnya dengan dua argumentasi dalil, yaitu : Dalil umum, dan Dalil khusus.

Dalil umumnya adalah, bahwa menyepakati ahli kitab di dalam perkara yang tidak berasal dari agama kita dan tidak pula berasal dari kebiasaan salaf kita, maka di dalamnya terdapat kerusakan menyepakati mereka dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka.

Menyelisihi mereka ada maslahatnya bagi kita, sebagaimana sabda Nabi Shallâllâhu ’alaihi wa sallam , ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” Hadits ini berkonsekuensi akan haramnya menyerupai kaum kuffâr secara mutlak.

Demikian pula sabda Nabi, ” Selisihilah kaum musyrikin ”, sedangkan hari raya mereka termasuk jenis amal perbuatan berupa agama atau syi’ar agama mereka yang bathil.

Adapun dalil-dalil khusus tentang (haramnya menyepakati) perayaan kaum kuffâr ada di dalam al-Kitab, as Sunnah , al-Ijmâ’ dan al– I’tibâr yang menunjukkan atas haramnya menyepakati kaum kuffâr di dalam berbagai perayaan mereka.”[ Iqtidhâ` ash-Shirâthal Mustaqîm

  • Tidak Menghadiri dan Ikut Meramaikan Perayaan Kaum Musyrikin

Dikarenakan banyaknya dalil yang diuraikan oleh Syaikhul Islâm , maka saya akan meringkaskannya dan mencuplik sebagian saja. Berikut ini diantara dalil-dalil khusus akan haramnya menyepakati kaum kuffâr di dalam perayaan mereka :

✅ Allah Azza wa Jalla berfirman,

( ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﻥَ ﺍﻟﺰُّﻭﺭَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﻛِﺮَﺍﻣًﺎ )

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” ( QS al-Furqân : 72)

{ ﻻ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﻥَ ﺍﻟﺰُّﻭﺭَ { ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ، ﻭﻃﺎﻭﺱ، ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ،ﻭﺍﻟﻀﺤّﺎﻙ، ﻭﺍﻟﺮﺑﻴﻊ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ : ﻫﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ

Abūl ’Âliyah, Thôwus, Muhammad bin Sîrîn, adh-Dhohhâk, Rabî’ bin Anas dan selain mereka, mengatakan bahwa maksud “ Lâ yasyhadūna biz Zūr ” adalah (tidak menghadiri) perayaan kaum musyrikin .” [ Lihat : Tafsîr Ibnu Katsîr VI/130; lihat pula Iqtidhâ ` I/80 ]

ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – : ﺃﻧﻪ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ. ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻜﺮﻣﺔ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ – : ‏( ﻟﻌﺐ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ )

Menurut riwayat Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhumâ bahwa yang dimaksud ( az-Zūr ) adalah perayaan kaum musyrikin.

✅ ’Ikrimah rahimahullâhu berkata, ”Permainan di masa jahiliyah disebut dengan az-Zūr .” [ Lihat : al-Jâmi` li Ahkâmil Qur`ân karya Imâm al-Qurthubî XIII/79/80 ].

Di dalam ayat di atas, Allah menyatakan “ Lâ Yasyhadūna az– Zūr ” (tidak menyaksikan kepalsuan) bukan “ Lâ Yasyhadūna biz Zūr ” (tidak memberikan kesaksian palsu), hal ini menguatkan tafsir para imam dan ulama di atas

✅ Oleh karena itulah Syaikhul Islâm menguatkan makna tafsir di atas, beliau rahimahullâh berkata,

ﻭﺍﻟﻌﺮﺏ ﺗﻘﻮﻝ : ‏( ﺷﻬﺪﺕ ﻛﺬﺍ : ﺇﺫﺍ ﺣﻀﺮﺗﻪ‏) . ﻛﻘﻮﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ – ﺭﺿﻲﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – : )) ﺷﻬﺪﺕ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ))

Orang ’Arab mengatakan : “ Syahidtu kadzâ (aku menyaksikan begini) maksudnya bila aku menghadirinya. Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbâs radhiyallâhu ’anhu , ”Saya menghadiri ’îd bersama Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam.” [ Lihat Iqtidhâ` I/429 ].

Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur`an lainnya.

– Bersambung in syâ Allâh …

Dialihbahasakan oleh :@abinyasalma

Diedit oleh :TIM Editing AWWI

== {{{ Lanjut Ke Halaman 2 }}}}