Beberapa Renungan Dan Nasehat Salaf (12)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Riwayat Keutamaan Berjalan Ke Masjid

2.Seorang Wanita Yang Terlambat .Menikah Merasa Takut & Sedih, Setiap Kali Ada Salah Seorang Temannya Telah Menikah

3.Poster Hukum Mengucapkan Selamat Natal

4.Hukum Timer Waktu Adzan dan Iqomah

5.Hukum Menggunakan Lem Tikus

6.Tekunilah Rencanamu dan Jangan Plin-plan 

7.Nasihat Poligami Untuk Suami dan Istri

8.Hukum Kerja di Kantor Pajak Menurut Islam

9.Kenapa Sering Bernyanyi atau Berkhayal KetikaBerkendaraan

10.Nasihat : Perbaiki Ukhuwah Antar SesamaAhlussunnah

11.Hukum Membaca Al Fatihah Sebelum MembacaAl Quran

12.Jamak Shalat Boleh Jika Ada Keperluan danKesulitan

••

Antara Adat dan Syari`at, Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc),

(Tumbal, Gendam dan Pesugihan, Ustadz ZainalAbidin bin Syamsuddin),

(Hisab Mizan, Syaikh Prof. Dr. Soleh bin AbdulAziz Sindi, Peterjemah Ustadz Firanda Andirja),

Syarah Hadits Perpecahan Ummat – Ust. Dr. Firanda Andirja 9Mb

Ust. Zainal Abidin – Keutamaan Nabi Ibrahim 5Mb

Ust. Firanda Andirja MA – Tatkala Kiamat Terjadi 3Mb

Ust. Firanda Andirja – Kedudukan Sahabat Nabi Dalam Memahami Islam 5Mb

Ust Firanda Andirja_ MA – Berbakti Kepada Kedua Orang Tua 5Mb

Ceramah Agama_ Menyikapi Kesalahan Seorang Ahlussunnah-Ust Mizan Qudsiyah 11Mb

Bukti Adanya Allah-Ust Abdul Hakim 5Mb

Mutiara Faedah Surah Al Kafirun_ Jangan Campur Adukan Agama-Ust Darul Falihin 10Mv
https://mir.cr/0TRTNOGF
Tabligh Akbar _ Cahaya Kenabian – Syaikh Prof. Dr.Sholeh Sindi 20Mb
https://mir.cr/1UZRG4YR
TABLIGH AKBAR Stabilitas Negeri Nikmat Aman Yang Harus Disyukuri-Ustadz Anas Burhanuddin 20Mb
https://app.box.com/s/4kprz0fyapmbqrgscndcirmqyc5hkmbc
Ujian Setelah Hijrah – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
https://app.box.com/s/ncoeg72kq8a4d1xh35t904ks0iaztnyd
Mengajak Teman Untuk Hijrah – Ustadz Abuz Zubair
https://app.box.com/s/qh3aymy7up8p8kvy7zpbcyci5yhxw546
Agama Bukan Dengan Logika – Ustadz Mizan Qudsiyah
https://app.box.com/s/eeefklwa4jjpc8qrdfqxicukx9swvpte  

==

➡ Beberapa Renungan Dan Nasehat Salaf (12)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hinggahari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentangNasehat, semoga Allahmenjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

SEBAB-SEBAB TERHALANGNYA ORANG-ORANG KAFIR DARI HIDAYAH ISLAM

  • ➡ A. SEBAB DARI UMAT ISLAM SENDIRI

✅ [1]- Sedikitnya orang berilmu yang bisa menjelaskan Islam secara hakiki; yaitu: Islam yang berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf (para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)

✅ – Al-A’masy berkata, dari Abu Wa-il (dia berkata): ‘Ali (bin Abi Thalib) menjadikan ‘Abdullah bin ‘Abbas sebagai amir (pemimpin) Haji, maka beliau (Ibnu ‘Abbas) berkhuthbah di hadapan manusia, dan dalam khuthbahnya beliau membaca Surat Al-Baqarah -dalam suatu riwayat: Surat An-Nur-. Maka beliau mentafsirkannya dengan tafsiran yang kalau didengarkan oleh (orang-orang kafir dari bangsa) Rum, Turk, dan Dailam: tentulah mereka akan masuk Islam.

[“Tafsir Ibni Katsir” (I/8)]

✅ – Syaikh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

Saya yakin bahwa banyak dari orang-orang kafir kalau diberikan kesempatan kepada mereka untuk menelaah berbagai prinsip, ‘aqidah, dan ibadah yang dibawa oleh Islam: tentulah mereka bersegera masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong; sebagaimana hal itu terjadi pada awal Islam.

Saya berharap sebagian negeri Islam mengutus ke negeri-negeri barat: orang yang bisa berdakwah mengajak kepada Islam, yang orang tersebut berilmu terhadap hakikat Islam, dan ia juga mengetahui hal-hal yang dilekatkan kepada Islam; berupa: khurofat, bid’ah-bid’ah, dan berbagai kedustaan; agar nantinya ia cakap dalam menawarkan Islam kepada orang-orang yang akan didakwahi. Hal tersebut menuntutnya untuk berilmu terhadap Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih, dan juga mengenal beberapa bahasa asing yang beredar (di dunia internasional). Dan ini merupakan suatu hal yang susah (untuk diwujudkan), bahkan bisa dikatakan: hampir tidak bisa. Sehingga perkara ini menuntut persiapan-persiapan yang matang. Mudah-mudahan mereka (negeri-negeri Islam) kelak bisa mewujudkannya.”

[“Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (I/292)]

✅ [2]- Umumnya kaum muslimin tidak bisa menjadi wakil-wakil dari Islam, yakni: banyak syari’at Islam yang tidak mereka terapkan dalam kehidupan mereka

Syaikh Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

Tidak sepantasnya kita membandingkan Islam dengan keadaan kaum muslimin pada zaman sekarang; karena sungguh, kaum muslimin telah meninggalkan banyak (kewajiban), dan mereka menerjang larangan-larangan yang besar, sampai orang yang hidup di sebagian negeri Islam; seolah-olah dia hidup di negeri yang bukan Islami.”

[“Syarh Tsalaatsatil Ushuul” (hlm. 44-45)]

  • ➡ B. SEBAB DARI DIRI ORANG-ORANG KAFIR

Ada penghalang-penghalang yang menjadi sebab tercegahnya orang-orang kafir dari memeluk agama Islam, di antaranya:

✅ [1]- Adanya penghalang berupa: hasad atau sombong. Itulah yang menghalangi Iblis untuk tunduk kepada kebenaran, menghalangi orang-orang Yahudi untuk beriman kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, juga menghalangi ‘Abdullah bin Ubayy bin Salul -tokoh munafik- dan Abu Jahl -tokoh musyrik-

✅ [2]- Penghalang berupa kepemimpinan dan kekuasaan, seperti keadaan Hiraql (Heraklius) dan raja-raja kafir semisalnya; yang ingin masuk Islam akan tetapi takut kehilangan kekuasaannya.

✅ [3]- Penghalang syahwat dan harta, seperti banyak dari Ahlul Kitab (Yahudi & Nashrani) yang terhalang dari keimanan karena takut kehilangan harta dan sumber penghasilan yang mereka dapatkan dari kaum mereka. Demikian juga dahulu orang-orang musyrik Quraisy menghalangi manusia dari Islam dengan disesuaikan syahwat orang yang dihalangi tersebut, sehingga bagi yang menyukai zina dan khamr; maka akan dikatakan kepadanya: Sungguh, Muhammad mengharamkan zina dan mengharamkan khamr.

✅ [4]- Kecintaan kepada keluarga dan kerabat; dimana orang kafir melihat bahwa jika dia mengikuti kebenaran; maka keluarga dan kerabatnya akan mengusirnya dan mengeluarkannya dari lingkungan mereka. Inilah sebab yang menjadikan banyak orang tetap berada di atas kekafiran di tengah-tengah kaum, keluarga, dan kerabat mereka.

✅ [5]- Bayang-bayang bahwa dengan masuk Islam dan mengikuti Rasul; maka berarti mencela orang tua dan nenek moyang yang telah mati di atas kekafiran. Inilah yang menghalangi Abu Thalib dan semisalnya dari masuk Islam, mereka merasa berat untuk mempersaksikan bahwa orang tua dan nenek moyang mereka adalah orang-orang kafir dan sesat.

✅ [6]- Seorang yang membenci dan memusuhi orang lain dan ternyata orang lain tersebut mengikuti Rasul dan mendahuluinya masuk Islam, seperti yang terjadi pada orang-orang Yahudi bersama kaum Anshor yang dari dulu memang bermusuhan, sehingga tatkala orang-orang Anshor lebih dahulu masuk Islam; maka permusuhan tersebut menjadikan orang-orang Yahudi tetap berada dalam kekafiran mereka..

✅ [7]- Adat dan kebiasaan yang sudah melekat, yang jika hal ini menguat; maka akan menjadi seperti tabi’at. Sehingga seorang yang dari kecilnya sudah dicekoki dengan kekafiran dan kesesatan; maka ketika beranjak dewasa: tidaklah dia ketahui kecuali apa yang dia berada di atasnya, sehingga ketika datang kebenaran; maka kebiasaan lamanya akan sulit untuk hilang.

[Diambil dari “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/330-334), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

.

Dan penghalang-penghalang di atas selain merupakan penghalang orang-orang kafir dari keislaman; juga merupakan penghalang bagi kaum muslimin yang berada dalam kesesatan: untuk mengikuti kebenaran yang berdasarkan Al-Qur-an & As-Sunnah dengan pemahaman Salaf.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

=

  • MENGENAL TAUHID: PADA ZAMAN AWAL = MUDAH & PADA ZAMAN SEKARANG = SUSAH

✅ Shyaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim An-Najdi (beliau yang mengumpulkan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, wafat th. 1392 H) -rahimahullaah- berkata:

Mengenal Tauhid dan syirik -secara global- termasuk perkara yang paling ringan dan paling mudah, sebagaimana pada zaman para Shahabat; maka sungguh, mereka mengenal Tauhid dan syirik. Sehingga setiap orang yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallaah” (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah): maka ia akan meninggalkan syirik dan ia tahu bahwa itu bathil; menafikan kalimat ikhlas tersebut.

Oleh karena itulah, ketika Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- berdakwah (mengajak) mereka (orang-orang musyrik) kepada Tauhid dan beliau berkata:

((قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ تُفْلِحُوا))

Katakanlah: “Laa Ilaaha Illallaah”; niscaya kalian akan beruntung.”

✅ Maka mereka menjawab:

{أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ}

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu “ilaah” (sesembahan) yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Adapun ketika telah banyak syubhat (kerancuan dalam agama); maka sulit untuk mengenal Tauhid dan untuk membebaskan diri dari lawannya (yaitu: syirik). Dan telah banyak kemunafikan dan banyak orang yang mengucapkannya (“Laa Ilaaha Illallaah”); akan tetapi beribada kepada selain Allah, disamping (beribadah) kepada-Nya.

Allaahul Musta’aan (hanya Allah lah yang dimintai pertolongan).

[“Haasyiyah Tsalaatsatil Ushuul” (hlm. 97)]

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix-

=

➡ JANGANLAH TERBURU-BURU UNTUK MEMPERBANYAK GURU!

➡ [1]- PENTINGNYA TA’SHIILAAT (PONDASI-PONDASI) ‘ILMIYYAH

قَالَ حُذَيْفَةُ: إنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَة:ِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ، وتُنْكِرَمَا كُنْتَ تَعْرِفُ، وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنِ في الدين؛ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِدٌ

Hudzaifah -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

Sungguh kesesatan yang sebenar-benarnya adalah: engkau menganggap ma’ruf kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap mungkar, atau engkau menganggap mungkar kepada sesuatu yang sebelumnya engkau anggap ma’ruf. Janganlah berubah-ubah dalam agama! Karena agama Allah itu satu.”

[Al-Ibaanah Al-Kubra: I/190, karya Ibnu Baththah (wafat th. 387 H)]

  • ➡ [2]- MANHAJ SALAF DALAM MENUNTUT ILMU

Dari ‘Alqomah bin Qais An-Nakha’i (seorang tabi’in, wafat th. 62 H), dia berkata: Aku mendatangi Syam, kemudian Shalat dua raka’at, lalu aku berdo’a: “Ya Allah, mudahkanlah untukku teman duduk yang shalih.”

Maka aku mendatangi suatu kaum, lalu aku duduk. Tiba-tiba ada seorang yang sudah tua datang dan duduk di sampingku. Aku bertanya: “Siapa orang ini?” Mereka menjawab: “Abu Darda’.” Maka aku katakan: “Aku telah berdo’a kepada Allah agar memudahkan untukku teman duduk yang shalih; ternyata Allah mudahkan anda untukku.”

✅ Dia (Abu Darda) bertanya: “Kamu dari mana?” Aku jawab: “Dari Kufah.” Dia (Abu Darda) berkata: “Bukankah di daerah kalian ada Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas’ud); yang biasa menyiapkan sandal, bantal dan alat bersuci (milik Nabi), di sana juga ada (‘Ammar) orang yang telah Allah lindungi dari Syaithan -yakni: melalui lisan Nabi-Nya -shallalaahu ‘alaihi wa sallam-, dan ada juga (Hudzaifah) pemilik rahasia Nabi -shallalaahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak diketahui oleh selainnya?”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3742)]

✅ Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullaah- berkata:

“Maksud Abu Darda -dengan perkataannya- adalah: bahwa yang dia fahami dari mereka (para pendatang) tersebut; bahwa mereka datang untuk menuntut ilmu. Maka dia jelaskan kepada mereka: bahwa di negeri mereka ada para ulama yang mereka (para penuntut ilmu tersebut) tidak lagi membutuhkan kepada selain (para ulama) tersebut.

Dan diambil faedah darinya: BAHWA HENDAKNYA AHLI HADITS (PENUNTUT ILMU) TIDAK MENINGGALKAN NEGERINYA; SEBELUM DIA MENGUASAI ILMU YANG ADA PADA GURU-GURUNYA.

[Fat-hul Baari (VII/116- cet. Daarus Salaam)]

Hal serupa juga terjadi pada Khaitsamah bin Abi Sabrah yang datang dari Kufah ke Madinah dan bertemu dengan Abu Hurairah, dan perkataan Abu Hurairah serupa dengan perkataan Abu Darda.

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3811) dan Al-Hakim (no. 5768- cet. Daarul Fikr), dengan sanad yang shahih]

  • ➡ [3]- JANGAN MEMPERBANYAK GURU SEBELUM TIBA WAKTU

✅ Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

“Dan engkau juga harus kokoh dalam masalah guru yang engkau ambil ilmunya. JANGAN ENGKAU MENCARI YANG SESUAI SELERA: SETIAP PEKAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA), (ATAU) SETIAP BULAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA). MANTAPKANLAH TERLEBIH DAHULU: SIAPA GURU YANG AKAN ENGKAU AMBIL ILMUNYA, JIKA SUDAH MANTAP; MAKA KOKOHLAH (DENGAN GURU TERSEBUT).

Barangsiapa yang kokoh; maka dia akan terus berkembang, dan barangsiapa yang tidak kokoh; maka dia tidak akan berkembang, dan tidak akan mendapatkan apa pun.”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

  • ➡ [4]- MAKA, …..

Setelah memahami penjelasan di atas, semoga kita bisa menguasai TA’SHIILAAT yang diajarkan oleh ustadz-ustadz besar kita, sehingga kita bisa memahami ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH dan bisa men-SYARH-nya, kita bisa MEMAHAMI KALIMAT SYAHADAT, intinya kita bisa menguasai ilmu TAUHID -yang merupakan JALAN MENUJU KEADILAN & KEMAKMURAN-, dan menguasai PRINSIP-prinsip DASAR ISLAM secara keseluruhan, kita jauhi firqah-firqah sesat dan kita bisa berjalan di atas MANHAJ SALAF serta MULIA DENGAN-nya, kita tidak sembarangan mengikuti firqah yang hanya semangat jihad saja. Kita tidak mengingkari jihad, tapi yang kita inginkan adalah: JIHAD yang diajarkan DALAM SYARI’AT ISLAM; sehingga kita tidak gampang menumpahkan darah -apalagi DARAH SEORANG MUSLIM- yang kita ketahui HARAMNYA.

Dan selain itu; kita juga tidak melupakan ibadah-ibadah kita; terutama: Shalat; karena SEBAIK-BAIK AMALAN ADALAH SHALAT, dan kita berusaha agar tata cara Shalat kita sesuai dengan SHIFAT SHALAT NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, kita juga tidak lupa ber-DO’A, dzikir & WIRID yang dengannya hati menjadi tenteram.

Dalam bermu’amalah dengan orang lain; kita juga tidak lupa untuk melaksanakan BIRRUL WALIDAIN (BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA), kita tidak MEMINTA-MINTA DAN MENGEMIS kepada orang lain; karena kita mengetahui HUKUM-nya DALAM SYARI’AT ISLAM, apalagi kita sebagai penuntut ilmu; tentunya kita mempunyai ADAB DAN AKHLAK sebagai PENUNTUT ILMU -selain kita juga memiliki PANDUAN dalam MENUNTUT ILMU, yang mana MENUNTUT ILMU ini merupakan JALAN MENUJU SURGA-.

Bagi kita yang sudah berkeluarga; maka kita juga harus memiliki PANDUAN dalam hidup berumah tangga, agar keluarga kita menjadi KELUARGA yang SAKINAH. Bagi yang belum menikah; maka ingatlah: JANGAN DEKATI ZINA, SESUNGGUHNYA ZINA ADALAH PERBUATAN KEJI DAN SEBURUK-BURUK JALAN, segeralah menikah dan jangan takut kemiskinan, bertawakallah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwasanya ISLAM mempunyai KIAT-KIAT dalam MENGATASI KEMISKINAN.

Dan kita juga jangan lupa untuk membersihkan jiwa kita, akan tetapi bukan dengan cara-cara yang bid’ah; bukan dengan cara-cara Sufi dan Tasawwuf. Sebagai seorang Salafi; maka kita lakukan hal tersebut dengan mengikuti MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DALAM TAZKIYATUN NUFUS.

Akhirul kalam, kita memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa dan segala kekurangan kita dan kita bertaubat kepada-Nya; karena TAUBAT adalah KEWAJIBAN SEUMUR HIDUP. Jangan habiskan hari-hari kita dengan berbuat dosa atau perbuatan yang sia-sia, ingatlah tentang WAKTUMU, DIHABISKAN UNTUK APA???

Semoga kita bisa tetap ISTIQAMAH di atas keta’atan kepada Allah, dan di jauhkan dari rasa cinta yang berlebih terhadap dunia, karena DUNIA LEBIH JELEK DARI BANGKAI KAMBING.

Aamiin.

= ©©© Lanjut Ke Halaman 2 ©©©©