Hijrah dan Taufiq Yang Paling Agung
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Sedikitnya Teman Perjalanan, Harga SebuahKemuliaan

2.Surga, Negeri Yang Dirindukan

3.Waspadai Ucapan Dan Amalan YangMenghantarkan Kepada Kesyirikan

4.Hama Ilmu Dan Ibadah

5.Alasan Khulu’ (Meminta Cerai) SeorangIstri Yang Dibolehkan

6.Perbedaan Akidah dan Manhaj

7.Air Itu Sebab dari Air

8.Silaturrohim Itu Suatu Kewajiban Sesuai Dengan Kemampuan

9.Hukumnya Orang Pingsan, Orang Yang Dibius & Orang Yang Mengkonsumsi Obat Tidur Mengqadha’ Shalat Yang Tertinggal

10.Makna Dan Hakikat Hidayah Allah

11.Hidayah Hanya Milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala

••

Antara Aku dan Al-Qur’an-Ust Bambang Abu Ubaidillah

Mutiara Faedah Surah Al Kafirun_ Jangan Campur Adukan Agama-Ust Darul Falihin 10Mb

https://mir.cr/0TRTNOGF

Tabligh Akbar _ Cahaya Kenabian – Syaikh Prof. Dr.Sholeh Sindi 20Mb

https://mir.cr/1UZRG4YR

TABLIGH AKBAR Stabilitas Negeri Nikmat Aman Yang Harus Disyukuri-Ustadz Anas Burhanuddin 20Mb

Ujian Setelah Hijrah – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah

Mengajak Teman Untuk Hijrah – Ustadz Abuz Zubair

Agama Bukan Dengan Logika – Ustadz Mizan Qudsiyah

Sebab-Sebab Yang MenyempurnakanHijrah-Ust Abdullah Taslim

Hijrah Hati adalah Hijrah Yang Paling Penting-Ust Abdullah Taslim

Pengertian Hijrah Yang Sejati-Ust Abdullah Taslim

••

Ebook

Negeri yang Wajib Ditinggalkan (Hijrah)

Nikmat Hidayah

Hidayah

Hijrah Untuk Pemula 49Halaman

==

  • Hijrah dan Taufiq Yang Paling Agung

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Aqidah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • HIJRAH

Mendengar kata ini, maka ada dua makna di dalam syariat Islam. Yaitu hijrah secara dzhoir, dan hijrah secara bathin.

✅ Syaikh Salim bin Ied al-Hilali ketika menjelaskan hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash:

المُسْلِمُ مَنْ سَلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مِنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan apa yang Allah larang” HR. Bukhori dan Muslim

“Hijrah ada dua macam: dzhohiroh dan bathinah. Adapun hijrah dzhohiroh adalah lari dengan membawa agama dari fitnah, dan berpindah dari negeri kufur kepada negeri Islam dan dari negeri yang penuh dengan ketakutan kepada negeri yang aman. Adapun hijrah bathinah, adalah meninggalkan hawa nafsu dan syahwat, menundukkan keinginannya, dan mendidiknya untuk mentaati sang Penciptanya.” [Bahjatun nadzirin (I/277)]

Yang ramai di bahas pada masa ini adalah hijrah bathinah, yang maknanya adalah meninggalkan segala yang dilarang Allah berupa bentuk kemaksiatan.

Lantas apa saja bentuk kemaksiatan kepada Allah, apakah hanya berputar pada judi, zina, riba, minum khomr, musik??

✅ Ketahuilah yang dilarang Allah ada tiga pokok, yaitu

1. Syirik

2. Bid’ah

3. Maksiat (dosa besar dan kecil)

Dan lawannya tentu:

1. Tauhid

2. Sunnah

3. Taat

Dan setiap manusia apabila berada dalam satu sisi, pastilah tidak berada dalam sisi lainnya dari ketiga pokok di atas.

✅ Berkata Yahya bin Mu’adz Ar-Rozi: “perselisihan manusia seluruhnya kembali kepada tiga pokok, dan setiap pokok memiliki lawannya. Barangsiapa yang terjatuh darinya maka akan terjatuh pada lawannya. Tauhid lawannya adalah syirik, Sunnah lawannya adalah bid’ah, dan taat lawannya adalah maksiat” [I’tishom (I/91)]

Jadi orang yang berhijrah dengan benar, adalah mereka yang meninggalkan kesyirikan kepada tauhid, meninggalkan bid’ah kepada sunnah, meninggalkan kemaksiatan kepada ketaatan. Karena semuanya dilarang Allah. Lantas apa maknanya apabila dia mengaku berhijrah tapi, masih melakukan kesyirikan, masih melakukan bid’ah atau toleransi dengan bid’ah, masih melakukan kemaksiatan, masih akting, main musik, dan semua kemaksiatan lainnya???? Ini semua hanya sebatas pengakuan dan hijrahnya semu. Bahkan bisa jadi dia berpindah kepada sesuatu yang lebih buruk.

Ada yang hijrah dari maksiat tapi malah menggandrungi perbuatan bid’ah, yang seperti ini bukan menambah dekat kepada Allah malah menambah jauh.

✅ Syaikhul Islam pernah menjelaskan syubhat dari ahli bid’ah yang membenarkan perbuatan mereka dengan berhujjah “kami membuat manusia bertaubat dari perbuatan dosa mereka”
Maka Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “dan sungguh pernah berkata sebagian mereka: “kami membuat manusia bertaubat!”

Aku berkata: “dari apa kalian membuat mereka bertaubat?”

Mereka berkata: ” dari merampok, mencuri dan semisalnya.”

Aku berkata: “keadaan mereka sebelum kalian membuat mereka bertaubat lebih baik dibandingkan setelahnya. Karena mereka sebelumnya adalah orang yang fasiq dan meyakini keharaman perbuatan mereka, dan mereka masih mengharapkan Rahmat Allah dan bertaubat kepada-Nya atau berniat akan bertaubat. Maka kalian menjadikan mereka sesat dan musyrik, keluar dari syariat Islam dengan usaha kalian membuat mereka bertaubat. Mereka akhirnya mencintai apa yang dibenci Allah Dan membenci apa yang dicintai Allah…dan aku jelaskan bahwa perbuatan bid’ah ini yang mereka berada di atasnya dan selain mereka lebih buruk dibandingkan kemaksiatan” [majmu’ fatawa (XI/472)]

Artinya orang yang bermaksiat sadar bahwa dia melakukan dosa, tapi orang yang berbuat bid’ah justru menyangka bahwa dia sedang berbuat kebaikan yang mendekatkan kepada Allah.

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu?

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Surat Fathir, Ayat 8

Atau bahkan ada yang mengaku telah hijrah, tapi sekarang tidak lagi bisa mengenal mana yang benar, dan mana yang salah. Semua kelompok dianggap sama. Semua sekte sesat dianggap sama, tidak ada standar kebenaran dalam hatinya. Orang seperti ini justru celaka.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata:

هلك من لم يعرف قلبه معروفا ولم ينكر قلبه منكرا

Celaka! Bagi orang yang hatinya tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran”

✅ Dan atsar ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam

تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.

Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.”

HR. Muslim

Padahal kebenaran jelas cuma Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabatnya. Dan kebenaran hanya ada satu. Kalau dia sendiri bingung kebenaran ada dimana? Dan apa kebenaran tersebut? Apakah layak disebut telah berhijrah??

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?

-Surat Yunus, Ayat 32

Akhukum Dika Wahyudi.

=

  • TAUFIQ YANG PALING AGUNG

Kita sering mendengar kata Taufiq. Apa itu Taufiq…?? Taufiq ada banyak macamnya. Tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia. Di saat tidur, kita butuh Taufiq, agar hati dan lisan ini mau berdoa, memohon penjagaan kepada Allah.

Di saat bangun, kita butuh Taufiq agar hati dan lisan ini tidak mengingat yang lain terlebih dahulu sebelum mengingat nikmat Allah dan menyebut nama-Nya. Kita butuh Taufiq dari Allah agar kaki ini bisa ringan melangkah memenuhi panggilan adzan. Di saat makan, kita butuh Taufiq dari Allah. Ketika melangkah ke tempat kerja kita butuh Taufiq, agar pekerjaan hari itu menghasilkan rizki yang halal, berkah, dan mencukupi, sekalipun sedikit.

Anak-anak dan remaja, butuh Taufiq Allah agar tidak salah memilih teman, tidak salah memilih sekolah, tidak keliru memilih jurusan. Pria dan wanita dewasa butuh Taufiq agar tepat memilih pasangan hidup. Seorang petani butuh Taufiq, kapan waktu yang tepat untuk menyemai benih. Bahkan seorang nelayan, butuh Taufiq kapan dan di mana harus melepas jaring atau umpannya. Kita semua butuh Taufiq dari Allah. Di setiap waktu dan tempat, di setiap keadaan.

  • Apa itu Taufiq ?

✅ Ibnul Qayyim berkata:

أجمع العارفون بالله أنَّ التوفيق هو أن لا يَكِلَكَ الله إلى نفسك، وأن الخذلان هو أن يُخْلِيَ بينك وبين نفسك

Orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah bersepakat bahwasanya Taufiq adalah; manakala Allah tidak menyerahkan dirimu kepada dirimu sendiri. Sementara lawan dari Taufiq, yaitu al-Khudzlaan, adalah manakala Allah meninggalkanmu bergantung pada dirimu sendiri.” [Madaarij as-Saalikiin: 1/445]

  • Taufiq yang paling agung

✅ Anas bin Malik radhiallaahu’anhu mengisahkan:

“كان غلام يهودي يخدم النبي صلى الله عليه وسلم فمرض، فأتاه النبي صلى الله عليه وسلم يعوده، فقعد عند رأسه”، فقال له: ((أَسْلِمْ))، فنظر إلى أبيه وهو عنده، فقال له: “أَطِعْ أبا القاسم صلى الله عليه وسلم”، فأسلمَ. وخرج النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقول: ((الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنَ النَّارِ)) وفي رواية: “فلما مات”، قال: ((صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ))

Suatu hari, seorang anak Yahudi yang pernah membantu Nabi, ditimpa sakit. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam datang membesuk. Duduk di samping kepala si anak, Nabi lantas bersabda: ‘masuklah ke dalam Islam’, anak tersebut kemudian memandang wajah ayahnya yang juga ada di situ. Lantas ayahnya berkata; ‘taatilah Abul Qosim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam’. Anak tersebut kemudian mengikrarkan keislamannya, (lalu wafat). Kemudian Nabi keluar, seraya bersabda: ‘segala puji bagi Allah’ (yang telah memberi Taufik kepada anak ini) sehingga dia selamat dari api neraka, masuk Islam melalui diriku’. Dalam riwayat yang lain disebutkan ketika anak ini wafat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabat: ‘sholatillah sahabat kalian ini’. [al-Bukhari: 1356]

Inilah bentuk Taufiq terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Yaitu keselamatan di akhirat. Inilah jenis Taufiq yang paling kita butuhkan; iman, tauhid, dan amal shalih. Semua Taufiq yang kita butuhkan di dunia, bermuara pada keridhoan Allah dan keselamatan di akhirat kelak. Tidur, makan dan minum, bekerja mencari nafkah, dan memilih pasangan hidup, semua hal tersebut pada akhirnya harus bermuara pada keridhoan Allah dan keselamatan di akhirat kelak. Dan itu hanya bisa terwujud dengan iman atau Aqidah yang benar, dengan tauhid atau peribadatan yang murni untuk Allah semata, dan amal shalih sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ.

Ada dua orang, yang satu begitu berat bangun subuh. Mengangkat kelopak matanya saja begitu berat. Padahal tubuhnya kekar dan sehat. Namun yang satu lagi, hati begitu lapang dan bahagia ketika bangun subuh, tangannya begitu ringan mengambil air wudhu, kakinya begitu ringan melangkah ke masjid. Padahal ia tengah sakit. Yang membedakan keduanya adalah Taufiq, kecintaan pada iman, melihat iman sebagai sesuatu yang sangat indah untuk diluputkan gara-gara melanjutkan tidur.

Mendapatkan Taufiq berupa keimanan dan amal shalih, adalah jenis Taufiq yang agung.

[…وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ. [الحجرات: 7

“…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”. [QS. al-Hujuraat: 7]

✅ Ibnul Qayyim rahimahullaah menafsirkan ayat di atas:

“يخاطب اللهُ جل وعلا عباده المُؤْمِنِين، فيقول: لولا توفيقي لَكُمْ لما أَذْعَنَتْ نُفُوسُكمْ لِلإيمان، فلم يكن الإيمان بمشورتكم وتوفيق أنفسكم، ولكني حببته إليكم وزينته في قلوبكم، وكرَّهت إليكم ضده الكفر والفسوق

Allah mengungkapkan kepada para hamba-Nya yang mukmin; kalau bukan karena Taufiq-Ku untuk kalian, niscaya jiwa kalian tidak akan tunduk untuk beriman. Sehingga, iman belum menjadi penasehat (hidup) kalian. Hanya saja Akulah yang telah menjadikan iman itu sesuatu yang indah, sesuatu yang kalian cintai di hati kalian. Dan Aku yang menjadikan hati kalian benci pada kekufuran dan kefasikan.” [Madaarij as-Saalikiin: 1/447]

  • Taufiq hanya ada di tangan Allah

✅ Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. al-Qashas: 56]

✅ Syu’aib ‘alaihisaalam berkata sebagaimana diabadikan dalam al-Quran:

…وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“…Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.” [QS. Hud: 88]

Karena Taufiq berada di tangan Allah, maka wajib memintanya kepada Allah semata. Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ mengajarkan kita do’a untuk meminta Taufiq. Beliau bersabda:

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Allaahumma rohmataka arjuu, falaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain, wa ashlih lii sya’nii kullah, laa ilaaha illaa anta.

“Doa ketika genting; yaa Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan, maka janganlah Engkau menyandarkan diriku pada diriku sendiri, jangan, walau sekejap mata. Perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Ilaah yang berhak diibadahi dengan Haq kecuali hanya Engkau.” [Shahiih al-Jaami’ ash-Shagiir: 3388]

Wallahu’alam.

***

Abu Ziyân Johan Saputra Halim

(Pimpinan redaksi Buletin Al Hujjah)

= ~~~ LANJUT KE HALAMAN 2 ~~~