Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.1)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Koreksi Kesalahan Dalam Bersuci

2.Tata Cara Shalat Jenazah 

3.Untuk Khawarij, Status dan Nasehat Untuknya

4.Jenis Lomba Yang Dibolehkan Berhadiah

5.Cara Menyikapi Ahli Ibadah Yang Buruk Akhlaknya

6.Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat Resah

7.Kewajiban Bertaubat Dan Tunduk MerendahkanDiri Kepada Allah Pada Waktu Terkena Musibah

8.Agar Semakin Serius Berdoa

9.Apakah Diperbolehkan Menyimpan Uangnya Dengan Bunga Agar Dapat Melunasi Hutangannya Karena Kedholiman

10.Kedua Orang Tua Sudah Membagi Hartanya Kepada Anak-anak Mereka, Kemudian Ibu Mereka Meninggal Dunia, dan Terjadi Sengketa di Antara Mereka

•••

(Beberapa Kemungkaran di Akhir Tahun : Sebabdan Solusinya, Ustadz DzulqarnainMuhammad Sunusi),

Aqidah Imam Abu Hatim & Imam Abu Zur’ah Oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sanusi

Bag1:Bag2‘ Bag3

Nasehat Untukmu Wahai Ikhwah -Syafiq Riza Basalamah

Ke Surga Bersama Keluarga -Syafiq Riza Basalamah

Aqidah Pemersatu Kaum Muslimin-Ust M.Nur Ihsan

Parasit Akidah-Ust Ahmad Zainuddin

Pokok-pokokAkidah Ahlussunnah wal Jamaah-Ust Abdullah Taslim

••

PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH –

Aqidah Ahlussunnah Wal-jama’ah

Siapakah Ahlussunnah Wal-jama’ah

===

➡ Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.1)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga

hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah

menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

PERTEMUAN PERTAMA & KEDUA

Syarah/Penjelasan Terhadap Kitab:

مُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ كَمَا لِلْإِمَامِ حَرْبُ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ الْكِرْمَانِيُّ

AQIDAH AHLUS SUNAH WAL JAMA’AH KARYA IMAM HARB BIN ISMA’IL AL-KARMANI (pada kitab tertulis: AL-KIRMANI)

Beliau adalah Imam Abu Muhammad Harb bin Isma’il Al-Karmani, lahir th 190 H, dan wafat th. 280 H -rahimahullaah-, beliau salah seorang murid Imam Ahlus Sunnah: Ahmad bin Hanbal -rahimahullaah-, dan beliau termasuk salah seorang imam yang dikenal memiliki ‘Aqidah yang benar, dan cukuplah menjadi keutamaan bagi beliau bahwa beliau merupakan murid dari Imam Ahmad. Dan beliau telah tinggalkan ilmu beliau pada kitab ini dan kitab beliau yang lainnya.

Adapun penjelasan terhadap kitab ini maka akan difokuskan pada penjelasan terhadap perkara-perkara yang janggal selain penjelasan ‘Aqidah Ahlus Sunnah secara global.

➡ PENULIS BERKATA:

بَابُ: الْقَوْلِ بِالْمَذْهَبِ

  • Bab: Perkataan (Dalam ‘Aqidah) Menurut Madzhab

➡ PENJELASAN:

Yang dimaksud dengan madzhab di sini adalah madzhab Ahlus Sunnah dalam ‘Aqidah, bukan madzhab dalam fiqih; walaupun penyebutan madzhab lebih masyhur untuk fiqih.

➡ PENULIS BERKATA:

[1]- قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ: حَدَّثَنَا أَبُوْ مُحَمَّدٍ حَرْبُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ، قَالَ: هٰذَا مَذْهَبُ أَئِمَّةِ الْعِلْمِ وَأَصْحَابِ الأَثَرِ، وَأَهْلِ السُّنَّةِ، الْمَعْرُوْفِيْنَ بِهَا، الْمُقْتَدَى بِهِمْ فِيْهَا، مِنْ لَدُنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ إِلَى يَوْمِنَا هٰذَا، وَأَدْرَكْتُ منْ أَدْرَكْتُ مِنْ عُلَمَاءِ أَهْلِ الْعِرَاقِ وَالْحِجَازِ وَالشَّامِ وَغَيْرِهِمْ عَلَيْهَا، فَمَنْ خَالَفَ شَيْئًا مِنْ هٰذِهِ الْمَذَاهِبِ، أَوْ طَعَنَ فِيْهَا، أَوْ عَابَ قَائِلَهَا: فَهُوَ مُبْتَدِعٌ خَارِجٌ مِنَ الْجَمَاعَةِ، زَائِلٌ عَنْ مَنْهَجِ السُّنَّةِ وَسَبِيْلِ الْحَقِّ.

[1]- Abul Qasim berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Harb bin Isma’il, beliau berkata: Ini adalah madzhab imam-imam ilmu, Ash-habul Atsar (para ulama yang berpegang dengan atsar/hadits), Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal dengannya (Sunnah), mereka diteladani di dalamnya (Sunnah), sejak zaman para Shahabat Nabi sampai hari ini. Dan saya dapati para ulama ‘Iraq, Hijaz, Syam, dan lainnya berada di atasnya. Maka barangsiapa menyelisihi madzhab-madzhab (yang akan aku sebutkan) ini, atau mencelanya atau mencela orang yang berpendapat dengannya: maka dia adalah mubtadi’ (Ahlul Bid’ah) keluar dari jama’ah dan melenceng dari Manhaj Sunnah dan jalan kebenaran.

➡ PENJELASAN:

* Perkataan penulis: “Ini adalah madzhab imam-imam ilmu”, ketika disebut ulama dan ahli ilmu secara mutlak (tanpa ikatan); maka yang dimaksud adalah ulama Ahlus Sunnah. Terkadang ditujukan kepada selain mereka, akan tetapi dengan ikatan; seperti: ulama Asy’ariyyah

* As-Sunnah yang dimaksud di sini adalah lawan dari bid’ah, sehingga Ahlus Sunnah yang dimaksud adalah: lawan dari Ahlul Bid’ah, seperti dalam sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ))

maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada SUNNAH-ku dan SUNNAH Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap BID’AH adalah sesat.”

Jadi yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah para imam Salaf, yang dipimpin oleh para Shahabat, sebagaimana dalam hadits “iftiraaqul ummah” (perpecahan umat); maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa yang selamat adalah:

((مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ))

“(Yang mengikuti) apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.”

Ijma’ (kesepakatan) para Shahabat adalah ma’shum (terjaga dari kesalahan) adapun individu mereka; maka tidak ma’shum. Sehingga bukanlah keistimewaan seorang Ahlus Sunnah bahwa ia tidak pernah salah, akan tetapi yang menjadi keistimewaannya adalah: berdalil dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf, disertai keahlian dalam berdalil.

➡ PENULIS BERKATA:

وَهُوَ مَذْهَبُ أَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مَخْلَدٍ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ الْحُمَيْدِيُّ، وَسَعِيْدِ بْنِ مَنْصُوْرٍ، وَغَيْرِهِمْ، مِمَّنْ جَالَسْنَا وَأَخَذْنَا عَنْهُمُ الْعِلْمَ. فَكَانَ مِنْ قَوْلِهِمْ:

Dan ini merupakan madzhab Ahmad (bin Hanbal), Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad (Ibnu Rahawaih), ‘Abdullah bin Zubair Al-Humaidi, Sa’id bin Manshur, dan selain mereka dari para ulama yang kami duduk dengan mereka dan kami mengambil ilmu dari mereka. Maka di antara perkataan mereka:

[2]- الإِيْمَانُ: قَوْلٌ وَعَمَلٌ، وَنِيَّةٌ وَتَمَسُّكٌ بِالسُّنَّةِ.

  • [2]- Iman adalah: perkataan dan perbuatan, niat dan berpegang kepada Sunnah.

➡ PENJELASAN:

– “niat” maksudnya: amalan hati.

– Sebagian ulama tidak menyebutkan “berpegang kepada Sunnah”, karena menganggap bahwa perkataan dan perbuatan haruslah di atas Sunnah.

– Sebagian ulama yang lain mengatakan: “Iman adalah: perkataan dengan lisan, amalan dengan anggota badan, dan keyakinan dengan hati.”

– Dalam masalah iman; maka ada dua kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah:

(1)- Murji-ah yang mengatakan bahwa iman cukup dengan hati, atau dengan hati dan lisan; intinya: mereka tidak memasukkan amalan ke dalam iman.

(2)- Khawarij yang sebenarnya sesuai dengan Ahlus Sunnah dalam perkataan: Iman adalah perkataan dan perbuatan, akan tetapi mereka menyelisihi Ahlus Sunnah dalam perkara yang mengeluarkan dari iman, karena mereka berpendapat bahwa iman itu satu dan tidak bercabang-cabang, sehingga kalau hilang sebagian; maka hilang semuanya(alias kafir).

Sebenarnya Murji-ah juga berpendapat bahwa iman itu satu; akan tetapi merek mengatakan: kalau tetap (ada) sebagian; maka tetaplah semuanya (alias masih sempurna imannya).

Terdapat dua masalah kontemporer dalam masalah iman ini; yaitu:

  • (1)- Hukum orang yang meninggalkan Jinsul ‘Amal: apakah kafir atau tidak?
  • (2)- Apakah amal adalah syarat sah iman ataukah hanya syarat kesempurnaan iman saja?

Sebenarnya untuk menghadapi dua permasalahan di atas; maka harus dirinci:

(1)- Apa amal yang dimaksud? Karena para ulama telah berselisih bagi orang yang meninggalkan 4 rukun Islam setelah Syahadat (rukun pertama). Adapun orang yang meninggalkan Syahadat, dimana dia tidak mau mengatakannya padahal dia mampu; maka para ulama sepakat bahwa orang tersebut kafir. Adapun rukun-rukun Islam setelahnya: barangsiapa yang meninggalkannya; maka para ulama masih berselisih: apakah dia kafir atau tidak.

(2)- Apa yang dimaksud dengan iman; apakah asal keimanan ataukah iman yang sempurna? Kalau yang dimaksud adalah asal keimanan; maka amal yang merupakan syarat sah dari asal iman adalah: mengikuti perselisihan para ulama dalam pengkafiran orang yang meniggalkan rukun iman yang empat, dan amal-amal lainnya sebagai syarat kesempurnaan bagi asal iman. Adapun kalau yang dimaksud adalah iman yang sempurna; maka amalan-amalan yang wajib selain rukun iman adalah syarat untuk sahnya iman yang sempurna.

– Jadi, istilah yang benar adalah bahwa: amal merupakan bagian dari iman

➡ PENULIS BERKATA:

[3]- وَالإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ.

  • [3]- Iman bisa bertambah dan berkurang.

➡ PENJELASAN:

Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Muncul pertanyaan: sampai batasan mana iman itu berkurang?

Maka “berkurangnya iman” di sini tidak bisa dipukul rata

Ada perkara-perkara yang bisa menjadikan pelakunya menjadi kafir setelah tegak hujjah, sehingga imannya hilang sama sekali.

– Ada dosa besar yang menjadikan pelakunya menjadi fasik dan berkurang imannya akan tetapi tidak sampai hilang sama sekali.

➡ PENULIS BERKATA:

[4]- وَالاِسْتِثْنَاءُ فِي الاِيْمَانِ سُنَّةٌ مَاضِيَةٌ عَنِ الْعُلَمَاءِ.

  • [4]- Istitsnaa’ (pengecualian) dalam iman (perkataan: Saya mukmin insya Allah) adalah Sunnah yang sudah sejak dahulu dari para ulama.

[5]- وَإِذَا سُئِلَ الرَّجُلُ: أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ؟ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ: أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ، أَوْ: مُؤْمِنٌ أَرْجُوْ، أَوْ يَقُوْلُ: آمَنْتُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ.

  • [5]- Jika seorang ditanya: Apakah engkau mukmin? Maka ia jawab: Saya mukmin insya Allah, atau: Saya berharap saya mukmin, atau ia jawab: Saya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.

➡ PENJELASAN:

Permasalahan ini asalnya adalah dilontarkan oleh Murji-ah untuk mengacaukan Ahlus Sunnah. Maka para ulama memberikan jawaban untuk pertanyaan: “Apakah engkau mukmin?” Dengan merinci: Apa yang dimaksud dengan mukmin di sini: (1)Apakah mukmin dengan iman yang sempurna? (2)Ataukah mukmin dengan asal keimanannya?

(1)- Kalau yang dimaksud adalah iman yang sempurna; maka kita tidak bisa memastikan kesempurnaan iman kita sehingga kita hanya bsia mengatakan: “Saya mukmin insya Allah.” Atau: “Saya berharap saya mukmin.”

(2)- Adapun kalau yang dimaksud adalah asal keimanan; maka dijawab: “Saya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”

➡ PENULIS BERKATA:

[6]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمَانَ قَوْلٌ بَلاَ عَمَلٍ؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ.

  • [6]- Barangsiapa menyangka bahwa iman adalah perkataan tanpa amalan; maka ia Murji-ah.

[7]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمَانَ هُوَ الْقَوْلُ وَالأَعْمَالُ شَرَائِعُ؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ.

  • [7]- Dan barangsiapa menyangka bahwa iman hanyalah perkataan, sedangkan amalan merupakan syari’at; maka ia Murji-ah.

[8]- وَإِنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمَانَ لاَ يَزِيْدُ وَلاَ يَنْقُصُ؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ.

  • [8]- Dan kalau dia menyangka bahwa iman tidak bertambah dan tidak juga berkurang; maka ia Murji-ah.

[9]- وَإِنْ قَالَ أَنَّ الإِيْمَانَ يَزِيْدُ وَلاَ يَنْقُصُ؛ فَقَدْ قَالَ بِقَوْلِ الْمُرْجِئَةِ.

  • [9]- Dan kalau dia mengatakan bahwa iman bertambah akan tetapi tidak berkurang; maka ia telah berkata dengan perkataan Murji-ah

[10]- وَمَنْ لَمْ يَرَ الإِسْتِثْنَاءَ فِي الإِيْمَانِ؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ.

  • [10]- Barangsiapa yang tidak berpendapat (tidak memperbolehkan) Istitsnaa’ (pngecualian) dalam iman(perkataan: Saya mukmin insya Allah); maka ia Murji-ah.

[11]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ إِيْمَانَهُ كَإِيْمَانِ جِبْرِيْلَ أَوِ الْمَلاَئِكَةِ؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ وَأَخْبَثُ مِنَ الْمُرْجِئِ؛ فَهُوَ كَاذِبٌ.

  • [11]- Barangsiapa yang menyangka bahwa imannya seperti iman Jibril atau para malaikat; maka ia Murji-ah dan lebih jelek dari Murji-ah; maka dia pendusta.

[12]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ النَّاسَ لاَ يَتَفَاضَلُوْنَ فِي الإِيْمَانِ؛ فَقَدْ كَذَبَ.

  • [12]- Barangsiapa yang menyangka bahwa manusia tidak berbeda-beda dalam iman; maka ia telah berdusta.

[13]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الْمَعْرِفَةَ تَنْفَعُ فِي الْقَلْبِ وَإِنْ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِهَا؛ فَهُوَ مُرْجِئٌ.

  • [13]- Barangsiapa yang menyangka bahwa ma’rifah (mengenal Allah) dengan hati bisa bermanfaat walaupun tidak diucapkan; maka ia Murji-ah.

[14]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ عِنْدَ اللهِ مُسْتَكْمِلُ الإِيْمَانِ؛ فَهٰذَا مِنْ أَشْنَعِ قَوْلِ الْمُرْجِئَةِ وَأَقْبَحِهِ.

  • [14]- Barangsiapa yang menyangka bahwa (cukup dengan) “ma’rifah” (mengenal Allah) bisa bermanfaat bagi hati walaupun tidak diucapkan; maka ia Murji-ah.

➡ PENJELASAN:

– Murji-ah berasal dari kata Irjaa’ yang artinya mengakhirkan. Mereka disebut Murji-ah karena mengakhirkan amal dari iman. Maka setiap orang yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman; maka dia adalah Murji’ (seorang Murji-ah).

– Ada sebagian ulama yang pernah berpendapat bahwa iman itu bisa bertambah akan tetapi tidak berkurang, karena tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa iman bisa berkurang. Maka para ulama lainnya menjawab bahwa: ketika iman bisa bertambah; maka berarti bisa berkurang.

– Kemudian ketika disebut iman; maka yang dimaksud ada dua:

(1)- iman masyru’ (yang disyari’atkan), yaitu: awal Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mendakwahkan iman; maka iman ketika itu adalah kurang, kemudian terus bertambah sampai menjadi sempurna dengan turunnya QS. Al-Maa-idah: 3:

{… الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا…}

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…”

(2)- iman yang ada pada diri hamba; maka inilah yang bisa bertambah dan bisa berkurang.

➡ PENULIS BERKATA:

[15]- وَالْقَدَرُ خَيْرُهُ وَشَرُّهُ، وَقَلِيْلُهُ وَكَثِيْرُهُ، وَظَاهِرُهُ وَبَاطِنُهُ، وَحُلْوُهُ وَمُرُّهُ، وَمَحْبُوْبُهُ وَمَكْرُوْهُهُ، وَحُسْنُهُ وَسَيِّئُهُ، وَأَوَّلُهُ وَآخِرُهُ: مِنَ اللهِ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، قَضَاءٌ قَضَاهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَقَدَرٌ قَدَّرَهُ عَلَيْهِمْ، لاَ يَعْدُوْ أَحَدٌ مِنْهُمْ مَشِيْئَةَ اللهِ، لاَ يُجَاوِزُ قَضَاءَهُ، بَلْ هُمْ كُلُّهُمْ صَائِرُوْنَ إِلَى مَا خَلَقَهُمْ لَهُ، وَوَاقِعُوْنَ فِيْ مَا قَدَّرَ عَلَيْهِمْ لاَ مَحَالَةَ، وَهُوَ عَدْلٌ مِنْهُ عَزَّ رَبُُّنَا وَجَلَّ.

  • [15]- Dan takdir; yang baik maupun yang buruk, sedikit maupun banyak, lahir maupun batin, manis maupun pahit, disukai maupun dibenci, baik maupun jelek, yang pertama maupun terakhir: semuanya dari Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-, merupakan Qadha (ketetapan) yang Allah tetapkan atas hamba-hamba-Nya dan takdir yang Allah takdirkan atas mereka, tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa melebihi masyii-ah (keinginan) Allah dan tidak juga melampaui qadha’ (ketetapan)-Nya. Bahkan mereka semua menuju (takdir) yang Allah ciptakan mereka untuknya dan melakukan apa yang Allah takdirkan atas mereka, dan itu pasti, dan itu merupakan keadilan dari-Nya -‘Azza Wa Jalla-.

➡ PENJELASAN:

Beriman dengan takdir merupakan salah satu rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril:

((وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ))

dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”

Ada pertanyaan: Bagaimana dengan sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((وَالشَّرُّ لّيْسَ إِلَيْكَ))

Dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.”

Jawabannya: Hadits ini mengandung dua makna:

(1)- Kejelekan murni tidaklah disandarkan kepada Allah. Adapun sesuatu yang jelek dari satu segi akan tetapi baik jika dilihat dari segi yang lain: maka ini termasuk yang Allah takdirkan.

(2)- Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah secara langsung. Kejelekan disandarkan kepada Allah jika:

– Masuk dalam keumuman ciptaan Allah, karena Allah lah yang menciptakan segala sesuatu.

– Disandarkan kepada sumber kejelekan; yaitu makhluk.

– Tidak disebutkan pelakunya.

Jadi, semuanya adalah “dari Allah”; yakni: Allah lah yang mentakdirkannya, akan tetapi hamba benar-benar sebagai pelakunya.

– Adapun perbedaan antara Qadha dengan Qadar; bahwa Qadar adalah ketetapan Allah sejak zaman dahulu, dan Qadha adalah ketika Allah mewujudkan Qadar tersebut. Akan tetapi jika disebut secara terpisah; maka salah satu dari keduanya biasa digunakan untuk lainnya.

– Dan semua yang Allah takdirkan merupakan keadilan, Allah tidak menzhalimi hamba-hamba-Nya -sebagaimana anggapan Jabariyyah-, karena Allah memiliki hikmah yang sempurna dan bagi-Nya lah hujjah yang kuat. Seperti do’a Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ وَعّدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ))

Ketetapan-Mu berlaku padaku, dan Qadha-Mu adil padaku.”

Maka bagian pertama dari do’a tersebut merupakan bantahan atas Qadariyyah, dan bagian kedua merupakan bantahan atas Jabariyyah.

– Dan iman kepada takdir memiliki berbagai pengaruh yang baik terhadap hamba: Seorang yang beriman kepada takdir; maka ia: tidak bersombong dengan amalannya, tidak merasa aman dari makar Allah, tidak berdalil dengan takdir atas maksiatnya, dan lain-lain.

➡ PENULIS BERKATA:

وَالزِّنَا، وَالسَّرِقَةُ، وَشُرْبُ الْخَمْرِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَأَكْلُ مَالِ الْحَرَامِ، وَالشِّرْكُ بِاللهِ، وَالذُّنُوْبُ وَالْمَعَاصِيْ: كُلُّهَا بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ مِنَ اللهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لأَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ عَلىَ اللهِ حُجَّةٌ، بَلْ للهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةِ عَلَى خَلْقِهِ، {لاَ يُسْأََلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ} [الأَنْبِيَاء: 23].

  • Zina, mencuri, minum khamr, membunuh orang, memakan harta haram, mempersekutukan Allah (berbuat syirik), berbagai dosa dan maksiat: semuanya dengan qadha dan qadar dari Allah, akan tetapi tidak ada seorang pun dari makhluk yang bisa membantah Allah, bahkan alasan yang kuat hanya milik Allah, “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23)

➡ PENJELASAN:

Ini merupakan bantahan atas Qadariyyah, karena mereka beriman kepada syari’at akan tetapi mereka mengingkari takdir, mereka mengingkari hidayah taufik dari Allah. Sebab kenapa mereka menjadi sesat adalah: karena mereka tidak bisa membedakan antara (1)iraadah kauniyyah: kehendak Allah yang berkaitan dengan takdir, dan dinamakan dengan masyii-ah, dengan (2)iraadah syar’iyyah, yaitu: kehendak Allah yang berkaitan dengan syari’at-Nya. Maka akhirnya di antara perkataan mereka bahwa: rizki yang Allah berikan hanyalah yang halal saja, adapun kalau seorang berbuat haram untuk mencari makan; maka itu bukan dari Allah.

➡ PENULIS BERKATA:

وَعِلْمُ اللهِ مَاضٍ فَيْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَةٍ مِنْهُ، قَدْ عَلِمَ مِنْ إِبْلِيْسَ وَمِنْ غَيْرِهِ مَمَّنْ عَصَاهُ -مِنْ لَدُنْ أَنْ عُصِيَ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ تَقُوْمَ السَّاعَةُ-: الْمَعْصِيَةَ وَخَلَقَهُمْ لَهَا. وَعَلِمَ الطَّاعَةَ مِنْ أَهْلِ طَاعَتِهِ وَخَلَقَهُمْ لَهَا. فَكُلٌّ يَعْمَلُ لِمَا خُلِقَ لَهُ، وَصَائِرٌ إِلَى مَا قُضِيَ عَلَيْهِ وَعُلِمَ مَنْهُ، وَلاَ يَعْدُوْ أَحَدٌ مِنْهُمْ قَدَرَ اللهِ وَمَشِيْئَتِهِ، وَاللهُ الْفَعَّالُ لِمَا يُرِيْدُ.

  • Dan ilmu Allah berlaku pada makhluk-Nya dengan masyii-ah (keinginan) dari-Nya, dan Allah telah mengetahui dari Iblis dan selainnya yang bermaksiat kepada-Nya -sejak Rabb kita -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- dimaksiati sampai tegak Hari Kiamat-: (Allah telah mengetahui) maksiat (yang muncul dari mereka) dan Allah ciptakan mereka untuk (maksiat) tersebut. Dan Allah mengetahui ketaatan dari orang-orang yang taat dan Allah ciptakan mereka untuk (ketaatan) tersebut. Masing-masing beramal sesuai dengan (amalan) yang dia diciptakan untuknya, dan menuju kepada apa yang telah ditetapkan atasnya dan telah diketahui (oleh Allah) darinya, tidak ada seorangpun dari mereka yang melewati takdir Allah dan keinginannya, dan Allah Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.

➡ PENJELASAN:

Ini juga bantahan atas Qadariyyah, karena mereka mengatakan: Allah menghendaki dari semua hamba untuk taat kepada-Nya; maka kehendak hamba yang bermaksiat telah mengalahkan kehendak-Nya. Ini tidak benar jika kehendak Allah ini berkaitan dengan iraadah kauniyyah atau masyii-ah. Adapun jika kehendak yang dimaksud adalah iraadah syar’iyyah; maka Allah memang menghendaki ketaatan seluruh hamba-Nya, akan tetapi dia menghendaki dengan iraadah kauniyyah agar sebagian mereka taat dan sebagian lainnya tidak taat.

➡ PENULIS BERKATA:

[16]- فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى شَاءَ لِعِبَادِهِ الَّذِيْنَ عَصَوْهُ الْخَيْرَ وَالطَّاعَةَ، وَأَنَّ الْعِبَادَ شَاءُوْا لأَنْفُسِهِمْ الشَّرَّ وَالْمَعْصِيَةَ، فَعَمِلُوْا عَلَى مَشِيْئَتِهِمْ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مَشِيْئَةَ الْعِبَادِ أَغْلَبُ مِنْ مَشِيْئَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرُهُ، فَأَيُّ افْتِرَاءٍ عَلَى اللهِ أَكْثَرُ مِنْ هٰذا؟!

  • [16]- Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- menginginkan dari hamba-hamba yang bermaksiat kepada-Nya: (agar mereka melakukan) kebaikan dan ketaatan, akan tetapi hamba-hamba tersebut menginginkan untuk diri mereka sendiri: kejelekan dan kemaksiatan, maka mereka pun melakukan apa yang sesuai dengan keinginan mereka; maka orang ini telah menyengka bahwa masyii-ah (keinginan) hamba lebih kuat dari masyii-ah Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-. Maka kedustaan atas Allah mana yang lebih banyak dari ini?!

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْخَلْقِ صَائِرٌ إِلَى غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ؛ فَقَدْ نَفَى قُدْرَةَ اللهِ عَلَى مَنْ خَلَقَهُ، وَهٰذَا إِفْكٌ عَلَى اللهِ، وَكَذِبٌ عَلَيْهِ.

  • Dan barangsiapa yang menyangka bahwa ada makhluk yang menuju kepada selain dari apa yang dia diciptakan untuknya; maka orang itu telah meniadakan kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Dan ini merupakan mengada-ada dan kedustaan atas Allah.

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الزِّنَا لَيْسَ بِقَدَرٍ؛ قِيْلَ لَهُ: أَرَأَيْتَ هٰذِهِ الْمَرْأَةَ الَّتِيْ حَمَلَتْ مِنَ الزِّنَا وَجَاءَتْ بِوَلَدٍ، هَلْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُخْلَقَ هٰذَا الْوَلَدُ؟ وَهَلْ مَضَى هٰذَا فِيْ سَابِقِ عِلْمِهِ؟ فَإِنْ قَالَ: لاَ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مَعَ اللهِ خَالِقًا، وَهٰذَا قَوْلٌ يُضَارِعُ الشِّرْكَ، بَلْ هُوَ الشِّرْكُ.

  • Dan barangsiapa menyangka bahwa zina adalah tidak dengan takdir (Allah); maka dikatakan kepada orang tersebut: “Bagaimana pendapatmu tentang wanita yang hamil dari zina dan dia melahirkan anaknya; apakah Allah menginginkan untuk menciptakan anak ini? Dan apakah hal ini telah berlalu dalam ilmu-Nya yang terdahulu?” Kalau orang itu mengatakan: “Tidak.”; maka berarti dia telah menyangka bahwa ada pencipta lain bersama Allah, dan ini merupakan perkataan yang menyerupai kesyirikan, bahkan inilah kesyirikan.

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ السَّرِقَةَ، وَشُرْبَ الْخَمْرِ، وَأَكْلَ الْمَالِ الْحَرَامِ لَيْسَ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ مِنَ اللهِ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ هٰذَا الإِنْسَانَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَأْكُلَ بِرِزْقِ غَيْرِهِ، وَهٰذَا الْقَوْلُ يُضَارِعُ قَوْلَ الْمَجُوْسِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ، بَلْ أَكَلَ رِزْقَهُ، وَقَضَى اللهُ لَهُ أَنْ يَأْكُلَهُ مِنَ الْوَجْهِ الَّذِيْ أَكَلَهُ.

  • Dan barangsiapa menyangka bahwa: mencuri, minum khamr, dan makan harta haram adalah tidak dengan qadha’ (ketetapan) dan qadar (takdir) dari Allah; maka berarti dia telah menyangka bahwa orang (yang melakukannya) mampu untuk makan dari rizki milik selain Allah, Dan perkataan ini menyerupai perkataan Majusi dan Nashrani. Yang benar adalah bahwa orang itu memakan rizki Allah, dan Allah telah menetapkan dia untuk makan dari arah (haram) tersebut.

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ قَتْلَ النَّفْسِ لَيْسَ بِقَدَرٍ مِنَ اللهِ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ الْمَقْتُوْلَ مَاتَ بِغَيْرِ أَجَلِهِ، فَأَيُّ كُفْرٍ بِاللهِ أَوْضَحُ مِنْ هٰذَا؟!

  • Dan barangsiapa menyangka membunuh orang tidaklah dengan takdir Allah; maka dia telah menyangka bahwa orang yang terbunuh telah mati sebelum ajalnya. Maka kekafiran terhadap Allah mana yang lebih jelas dari ini?!

بَلْ ذٰلِكَ كُلُّهُ بِقَضَاءٍ مِنَ اللهِ وَقَدَرٍ، وَكُلُّ ذٰلِكَ بِمَشِيْئَتِهِ فِيْ خَلْقِهِ وَتَدْبِيْرِهِ فِيْهِ، وَمَا جَرَى فِيْ سَابِقِ عِلْمِهِ لَهُمْ.

  • Bahkan semuanya itu dengan qadha’ dan qadar dari Allah, dan semuanya itu dengan masyii-ah Allah pada makhluk-Nya dan merupakan pengaturan-Nya pada mereka serta apa yang telah lalu dari ilmu-Nya yang terdahulu terhadap mereka.

وَهُوَ الْحَقُّ وَالْعَدْلُ الَّذِيْ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ.

  • Dia adalah Maha Benar dan Maha Adil yang berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

وَمَنْ أَقَرَّ بِالْعِلْمِ؛ لَزِمَهُ الإِقْرَارُ بِالْقَدَرِ وَالْمَشِيْئَةِ عَلَى الصِّغَرِ وَالْقَمَاءَةِ، وَاللهُ الضَّارُّ النَّافِعُ، الْمُضِلُّ الْهَادِيْ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ.

  • Dan barangsiapa mengakui ilmu (Allah); maka konsekuensinya harus mengakui takdir dan masyii-ah/keinginan (Allah) atas segala yang kecil dan sepele. Dan Allah lah Yang memberi mudharat dan manfaat, Yang menyesatkan dan memberi petunjuk. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik

➡ PENJELASAN:

Qadariyyah berpendapat bahwa hamba bisa menuju kepada sesuatu yang tidak Allah takdirkan atasnya. Dan konsekuensi dari ‘Aqidah Qadariyyah adalah: bahwa orang yang berbuat zina; maka ia keluar dari takdirnya yang harusnya berbuat taat tapi ia menuju maksiat, sehingga anak hasil zina merupakan ciptaan orang tua mereka, dan keyakinan ini merupakan kesyirikan. Sehingga mereka seperti Majusi yang berpendapat adanya dua pencipta: pencipta kebaikan dan pencipta kejelekan. Dan mereka seperti orang-orang Nahsrani yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari oknum trinitas.

Qadariyyah juga mengatakan bahwa: orang yang dibunuh tidaklah mati sesuai ajalnya (karena Allah tidak mentakdirkan pembunuhan).

PENULIS BERKATA

[17]- وَلاَ تَشْهَدْ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ أَنَّهُ فِي النَّارِ لِذَنْبٍ عَمِلَهُ، وَلِكَبِيْرَةٍ أَتَى بِهَا، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ ذٰلِكَ حَدِيْثٌ، فَتَرْوِي الْحَدِيْثَ كَمَا جَاءَ عَلَى مَا رُوِيَ، وَتُصَدِّقُ بِهِ وَتَقْبَلُ، وَتَعْلَمُ أَنَّهُ كَمَا جَاءَ، وَلاَ تَنْصِبِ الشَّهَادَةَ.

  • [18]- Janganlah engkau mempersaksikan atas seorang pun dari Ahli kiblat (kaum muslimin) bahwa dia masuk Neraka karena maksiat yang dilakukannya atau dosa besar yang diperbuatnya, kecuali ada hadits tentang hal itu, sehingga engkau meriwayatkan hadits tersebut sebagaimana diriwayatkannya, dan engkau membenarkan, menerimanya, serta mengetahui bahwa (hadits) tersebut sebagaiamana datangnya. Dan janganlah engkau memastikan persaksian.

وَلاَ تَشْهَدْ عَلَى أَحَدٍ أَنَّهُ فِي الْجَنَّةِ لِصَلاَحٍ عَمِلَهُ، أَوْ لِخَيْرٍ أَتَى بِهِ، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ ذٰلِكَ حَدِيْثٌ، فَتَرْوِي الْحَدِيْثَ كَمَا جَاءَ عَلَى مَا رُوِيَ، تُصَدِّقُ بِهِ وَتَقْبَلُ، وَتَعْلَمُ أَنَّهُ كَمَا جَاءَ، وَلاَ تَنْصِبِ الشَّهَادَةَ.

  • Dan janganlah engkau mempersaksikan atas seorang pun bahwa dia masuk Surga karena amalan shalihnya atau kebaikan yang diperbuatnya, kecuali ada hadits tentang hal itu, sehingga engkau meriwayatkan hadits tersebut sebagaimana diriwayatkannya, dan engkau membenarkan, menerimanya, serta mengetahui bahwa (hadits) tersebut sebagaiamana datangnya. Dan janganlah engkau memastikan persaksian.

➡ PENJELASAN:

Jika ada hadits menunjukkan bahwa pencuri atau pemakan riba adalah di Neraka; maka janganlah engkau mempersaksikan orang tertentu yang melakukannya bahwa ia merupakan penghuni Neraka. Demikian juga jika terdapat hadits yang menunjukkan bahwa orang yang membangun masjid mendapat balasan Surga; maka jangan memastiakn individu tertentu yang membangun masjid bahwa ia ahli Surga.

Intinya bahwa: dalil-dalil ancaman dihadapkan dengan dalil-dalil janji kebaikan. Yakni: kejelekan dan kebaikan nantinya akan ditimbang, sehingga bagi siapa yang lebih berat kebaikannya; itulah yang masuk Surga, dan yang lebih berat kejelekannya; maka ia lah yang terancam Neraka.

➡ PENULIS BERKATA:

[18]- وَالْخِلاَفَةُ فِيْ قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنَ النَّاسِ اثْنَانِ، لَيْسَ لأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَنْ يُنَازِعَهُمْ فِيْهَا، وَلاَ يُخْرَجُ عَلَيْهِمْ، وَلاَ يُقَرُّ لِغَيْرِهِمْ بِهَا إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ.

  • [18]- Khilafah adalah pada Quraisy selama masih tersisa dua orang dari manusia, tidak boleh seorang pun merebutnya dari mereka, tidak boleh memberontak melawan mereka, dan tidak boleh mengakuinya untuk selain mereka sampai tegaknya Kiamat

➡ PENJELASAN:

Ini dilihat dari segi syari’at. Akan tetapi kadang didapatkan imam yang bukan Quraisy; maka jangan sampai kemudian kemaslahatan kaum muslimin hilang dengan tidak taat kepadanya, karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ))

“(Kalian tetap mendengar dan taat) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah.”

➡ PENULIS BERKATA:

[19]- وَالْجِهَادُ مَاضٍ قَائِمٌ مَعَ الأَئِمَّةِ؛ بَرُّوا أَوْ فَجُرُوْا، وَلاَ يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ، وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ.

  • [19]- Jihad terus berlangsung dan tegak bersama para imam -yang baik maupaun yang jahat-, (jihad) tidak dibatalkan oleh kezhaliman (pemimpin) yang zhalim dan keadilan (pemimpin) yang adil.

[20]- وَالْجُمُعَةُ وَالْعِيْدَانِ وَالْحَجُّ مَعَ السُّلْطَانِ، وَإِنْ لَمْ يَكُوْنُوْا بَرَرَةً عُدُوْلاً أَتْقِيَاءَ.

  • [20]- Shalat Jum’at, dua hari raya, dan Haji adalah bersama penguasa, walaupun mereka tidak baik, tidak adil, dan tidak juga bertakwa.

[21]- وَدَفْعُ الْخَرَاجِ وَالصَّدَقَاتِ وَالأَعْشَارِ وَالْفَيْءِ وَالْغَنِيْمَةِ: إِلَى الأُمَرَاءِ؛ عَدَلُوْا فِيْهَا أَمْ جَارُوْا.

  • [21]- Menyerahkan pajak, sedekah, sepersepuluh, fa-i, dan ghanimah: diserahkan kepada para amir (pemimpin); baik mereka adil maupun zhalim.

➡ PENJELASAN:

Ibadah-ibadah tidak diberhentikan hanya karena penguasanya adalah orang yang tidak taat, seperti ibadah jihad -yang memang harus ada penguasa yang memimpinnya-, juga Shalat Jum’at dan Shalat ‘Id, zakat, dan lainnya.

Hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at; di antaranya: mengambil mudharat yang paling ringan.

➡ PENULIS BERKATA

[22]- وَالاِنْقِيَادُ لِمَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكَ، لاَ تَنْزَعْ يَدَكَ مِنْ طَاعَةٍ، وَلاَ تَخْرُجْ عَلَيْهِ بِسَيْفِكَ، حَتَّى يَجْعَلَ اللهُ لَكَ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، وَألاَّ تَخْرُجَ عَلَى السُّلْطَانِ، وَتَسْمَعُ وَتُطِيْعُ، وَلاَ تَنْكُثْ بَيْعَةً، فَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ؛ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ مُخَالِفٌ مُفَارِقٌ لِلْجَمَاعَةِ.

  • [22]- Tunduk kepada orang (pemimpin) yang Allah menjadikannya untuk mengurusi perkaranya, jangan keluar dari ketaatan kepadanya, jangan memberontaknya dengan pedangmu, sampai Allah jadikan bagimu jalan keluar dan kelonggaran, janganlah engkau memberontak melawan sulthan (penguasa), justru engkau harus mendengar dan taat, janganlah negkau membatalkan bai’at, barangsiapa yang melakukannya; maka ia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) menyelisihi dan berpisah dari jama’ah.

[23]- وَإِنْ أَمَرَكَ السُّلْطَانُ بِأَمْرٍ هُوَ للهِ مَعْصِيَةٌ فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تُطِيْعَهُ الْبَتَّةَ، وَلَيْسَ لَكَ أَنْ تَخْرُجَ عَلَيْهِ، وَلاَ تَمْنَعُهُ حَقَّهُ.

  • [23]- Kalau sulthan memerintahkanmu dengan suatu perintah yang meupakan kemaksiatan kepada Allah; maka engkau tidak mentaatinya sama sekali, dan engkau tidak boleh memberontak melawannya dan jangan mencegahnya dari haknya.

➡ PENJELASAN:

Tidak boleh memberontak melawan penguasa; baik dengan kata-kata, maupun dengan pedang, dan senjata lainnya. Jika penguasa memerintahkan dengan kemaksiatan yang telah jelas berdasarkan dalil-dalil bahwa itu merupakan kemaksiatan; maka tidak boleh taat kepada-Nya dalam kemaksiatan tersebut; akan tetapi dalam perkara-perkara lainnya yang bukan maksiat; maka harus ditaati, sehingga penulis berkata: “dan jangan mencegahnya dari haknya”.

-ditulis dengan sangat ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

==(Lanjut Ke Halaman 2)