Sesat Karena Cinta Jabatan dan Politik Kekuasaan

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bahaya Ambisi Terhadap Harta Dan Jabatan

2.Larangan Meminta Jabatan

3.Hukum Meminta Jabatan

4.Celaan terhadap Ambisi MemperolehKepemimpinan/Jabatan

Manusia Sangat Tamak dan Rakus Terhadap Harta dan Jabatan

••

Fitnah jabatan-Ust Zainal abidin Syamsudin

Serakus Serigala-Ust Abdullah Zaen

Negeri Yang Baik dan Tuhan YangMaha Pengampun Oleh Syaikh Prof. Dr.Ibrahim bin Amir bin Ali Ar-Ruhaily , UstadzAbdullah Zaen, M.A

Bahaya Pandangan Mata JahatBagi Anak” Bersama Ustadz Abul Aswad al-Bayati

Penyebab Kesesatan-Ust Ahmad Zainuddin

Tersesat Dalam Kebaikan-Ust Abu Zubair

===

  • Sesat Karena Cinta Jabatan dan Politik Kekuasaan

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • SESAT KARENA CINTA JABATAN

Tersesat dari jalan karena tidak mengetahui arah adalah sebuah hal yang wajar. Tapi kalau ada orang yang tersesat dan nyasar padahal dia tahu jalan ke tempat tujuan, tapi tetap nyasar, Itu baru luar biasa.

Tidak jauh beda dalam beragama, ada manusia yang tersesat karena kebodohannya dalam beragama, dan ada manusia yang tersesat dari shirothol mustaqim dengan ilmu yang ia miliki atau hidayah yang sudah di dapatkan.

✅ Imam Ibnu Rojab berkata: “dan sungguh, Allah telah mengabarkan tentang kaum yang mereka diberi ilmu (akan tetapi) ilmunya tidak memberikan manfaat kepada mereka. Maka ini adalah ilmu yang bermanfaat pada dzatnya akan tetapi pemiliknya tidak mengambil manfaat dari ilmunya.

✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( مَثَلُ الَّذينَ حُمِّلوا التَوراةَ ثُمَّ لَم يَحمِلوها كَمَثَلِ الحِمارِ يَحمِلُ أَسفارا))

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” Al-Jumu’ah: 5

✅ Dan Allah berfirman:

((وَاِتلُ عَلَيهِم نَبَأَ الَّذي آتَيناهُ آياتِنا فَاِنسَلَخَ مِنها فَأَتبَعَهُ الشَيطانُ فَكانَ مِنَ الغاوينَ وَلَو شِئنا لَرَفَعناهُ بِها وَلَكِنَّهُ أَخلَدَ إِلى الأَرضِ وَاتَّبَعَ هَواه))

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah…” al-A’rof: 175-176

✅ Dan Allah berfirman:

((فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ))

[Surat Al-A’raf 169]

Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun”. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa, maka kenapa kalian tidak berfikir.” al-A’raf: 169.

✅ Dan Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُون

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” al-Jatsiyah: 23

✅ Menurut penafsiran yang menafsirkan; -على علم/berdasarkan ilmu- bagi orang yang disesatkan Allah.

[ fadl ilmis salaf ‘alal kholaf hlm. 20-21, tahqiq Muhammad Nashir al-‘ajmi]

Bila kita memperhatikan Ayat-ayat yang dibawakan Imam Ibnu Rojab maka kita akan mengambil kesimpulan bahwa; Ahlul kitab mereka di berikan ilmu berupa kitab taurat dan Injil, akan tetapi hawa nafsu dan cinta kepada dunia menyebabkan mereka sesat dan merubah kitab mereka. Bahkan setelah merubah kitab dan syariat mereka mengatakan: “semoga kita nantinya akan di ampuni Allah”. Akhirnya hati mereka akan tertutup dan benar-benar berada dalam kesesatan serta di jauhkan dari petunjuk.

Dan diantara bentuk hawa nafsu dan cinta kepada dunia yang sangat mampu untuk menjerumuskan kepada kesesatan setelah petunjuk adalah cinta kepemimpinan, cinta ketenaran, cinta sanjungan dan ingin diterima oleh semua orang

✅ Alasannya; Kalau mereka berpegang dengan kebenaran yang mereka miliki, mereka tidak akan memiliki banyak pengikut dan akan ditolak dakwahnya.

Atau memang ada yang sengaja melawan kebenaran, padahal ia tau kebenaran tersebut hanya demi ketenaran dengan menggunakan kaidah “selisihilah, kamu akan terkenal”

✅ Akhirnya manhaj dan aqidah yang mereka korbankan. Semua menjadi rancu dan semua menjadi kabur. Bagi mereka tidak ada yang hitam murni dan tidak ada yang putih murni. Yang ada hanya hitam keputih-putihan atau putih kehitam-hitaman.

Kau akan lihat mereka berani berbuat bid’ah atas nama persatuan, berani melanggar aqidah atas dasar toleransi, berani mendiamkan maksiat dengan alasan nanti Allah akan mengampuni kita dengan kemaksiatan ini, berani menyelisihi dalil yang shorih dengan dalih adanya khilaf. Dengan sebab inilah mereka justru akan disesatkan dengan ilmu yang mereka miliki.

✅ Ketahuilah!! Tujuan mereka hanyalah ingin menjadi imam yang diikuti, pemimpin yang di sanjung, inilah tujuan mereka membuat kelompok, golongan dan partai. Hakikatnya mereka bukanlah orang-orang yang ingin menyampaikan kebenaran.

عن يَزِيدَ بْنَ عُمَيْرَةَ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أنّه قَالَ: كَانَ معاذ لاَ يَجْلِسُ مَجْلِسًا لِلذِّكْرِ حِينَ يَجْلِسُ إِلاَّ قَالَ اللَّهُ حَكَمٌ قِسْطٌ هَلَكَ الْمُرْتَابُونَ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَوْمًا إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا يَكْثُرُ فِيهَا الْمَالُ وَيُفْتَحُ فِيهَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ فَيُوشِكُ قَائِلٌ أَنْ يَقُولَ مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُونِى وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِىَّ حَتَّى أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ وَأُحَذِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيمِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيمِ وَقَدْ يَقُولُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ. قَالَ قُلْتُ لِمُعَاذٍ مَا يُدْرِينِى رَحِمَكَ اللَّهُ أَنَّ الْحَكِيمَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ وَأَنَّ الْمُنَافِقَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الْحَقِّ قَالَ بَلَى اجْتَنِبْ مِنْ كَلاَمِ الْحَكِيمِ الْمُشْتَهِرَاتِ الَّتِى يُقَالُ لَهَا مَا هَذِهِ وَلاَ يُثْنِيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ فَإِنَّهُ لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ وَتَلَقَّ الْحَقَّ إِذَا سَمِعْتَهُ فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُورًا.

Dari yazid bin ‘Umairoh –dan dia adalah salah satu Sahabat Mu’adz bin Jabal- ia berkata: “tidaklah Mu’adz ketika duduk untuk berdzikir di majelis ilmu kecuali berkata: “Allah adalah Hakim yang adil, celakalah orang-orang yang ragu!. Maka berkata Mu’adz pada satu hari: sesungguhnya dibelakang kalian akan ada banyak fitnah yang didalamnya bergelimang harta, dibukakan al-Qur’an sampai-sampai al-Qur’an diambil (dihafal) oleh orang beriman, orang munafik, laki-laki, wanita, anak-anak, dewasa, budak dan orang merdeka.

Dan hampir saja ada yang mengatakan: “kenapa manusia tidak mengikutiku padahal aku telah membaca al-Qur’an, mereka tidak mengikutiku sampai aku berbuat bid’ah untuk mereka selain al-Qur’an.”

Hati-hatilah kalian dari perbuatan bid’ahnya! karena perbuatan bid’ahnya adalah kesesatan! dan aku peringatkan kalian dari ketergelinciran orang yang memiliki hikmah (ahli ilmu)! Karena setan terkadang mengucapkan kalimat kesesatan dengan lisan ahli ilmu. Dan terkadang orang munafik mengucapkan kata-kata kebenaran”

Aku berkata kepada Muadz: bagaimana aku mengetahui –semoga Allah merahmati engkau- bahwa ahli hikmah terkadang mengucapkan kesesatan dan orang munafik terkadang mengucapkan kebenaran?”

Ia berkata: “benar, jauhilah perkataan ahli hikmah yang mencolok yang dikatakan kepadanya: pendapat apa ini?” janganlah memalingkanmu hal demikian itu apabila kamu mendengarnya. Mungkin saja ia rujuk dan menerima kebenaran. Karena sesungguhnya diatas kebenaran ada cahaya” [H.R. Abu Daud (4611) berkata syaikh Al-Albani: “shohih sanadnya mauquf. lihat shohih Abu Daud (3855)]

Semoga bermanfaat

Dika wahyudi Lc.

==

  • JABATAN & KEPEMIMPINAN

✅ [1]- Dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata: Jibril duduk (menghadap) kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, kemudian melihat ke arah langit, ternyata ada seorang malaikat yang turun. Maka Jibril berkata: “Malaikat ini tidak pernah turun -sebelum saat ini- sejak diciptakan.” Tatkala malaikat tersebut turun; dia berkata: “Wahai Muhammad! Rabb-mu telah mengutusku kepadamu (untuk memberimu pilihan-pent): Apakah (engkau ingin) Dia menjadikanmu sebagai seorang raja sekaligus nabi, atau seorang hamba sekaligus rasul?” Jibril berkata: “Merendahlah kepada Rabb-mu wahai Muhammad!” Maka beliau menjawab:

بَلْ عَبْدًا رَسُوْلاً

Bahkan (aku ingin menjadi) seorang hamba sekaligus rasul.”

[HR. Ahmad (II/231) dan Ibnu Hibban (no. 6374- cet. Daar Fikr), dengan sanad yang shahih sesuai syarat Muslim. Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 1002)]

Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak bertujuan untuk menjadi raja dan tidak membuat partai-partai dan kelompok-kelompok untuk tujuan ini. Beliau diutus untuk memberikan hidayah kepada manusia dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kesyirikan, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

Telah ditawarkan kepada beliau untuk menjadi raja sekaligus nabi, atau hamba sekaligus rasul; maka beliau lebih memilih untuk menjadi hamba sekaligus rasul.

[Lihat: Manhajul Anbiyaa Fid Da’wah Ilallaah Fiihi Al- Hikmah Wal ‘Aql (hlm. 115)]

✅ [2]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada penduduk Yatsrib pada Bai’at ‘Aqabah kedua:

Kalian membai’atku untuk mendengar dan ta’at dalam keadaan semangat maupun malas, berinfak dalam keadaan sempit maupun lapang, amar ma’ruf nahi munkar, berkata (yang benar) dalam (agama) Allah dengan tidak takut -di jalan Allah- terhadap celaan orang yang mencela, dan kalian menolongku; -jika aku datang kepada kalian- maka kalian bela aku sebagaimana kalian membela diri-diri kalian, istri-istri kalian, dan anak-anak kalian, DAN BALASAN KALIAN ADALAH SURGA.”

[HR. Ahmad (no. 14393 & 14588- cet. Daarul Hadiits), Ibnu Hibban (no. 6241- At-Tarriqul Hisaan), dan Al-Baihaqi (XII/265 & XIII/203-204- cet. Daarul Fikr), dengan sanad yang shahih sesuai syarat Muslim. Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (no. 63)]

Dalam situasi yang sangat genting semacam ini, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menjanjikan jabatan dan kepemimpinan kepada kaum Anshar, akan tetapi beliau menjanjikan Surga.

[Lihat: Manhajul Anbiyaa Fid Da’wah Ilallaah Fiihi Al- Hikmah Wal ‘Aql (hlm. 116)]

✅ [3]- Bahkan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memperingatkan tentang bahaya rakus kepada kepemimpinan. Beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ

Kalian nanti akan berambisi terhadap kepemimpinan, dan hal itu nantinya akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat, maka kenikmatan (bayi) yang menyusu dan kejelekan (bayi) yang disapih”

[HR. Al-Bukhari (no. 7148)]

“kenikmatan (bayi) yang menyusu”: dikarenakan (nikmat) mendapat kedudukan, harta, perintahnya didengar (oleh bawahan), serta mendapatkan kelezatan yang nyata maupun yang tidak nyata; ketika dia mendapatkan (kepemimpinan) tersebut.

“kejelekan (bayi) yang disapih”; yaitu: ketika terpisah dari kepemimpinan, apakah (terpisah) dengan sebab kematian ataupun yang lainnya, dan (juga keburukan) karena mendapatkan dampak-dampak negatif di akhirat atas (kepemimpinan) tersebut.

[Lihat: Fat-hul Baari (XIII/156- cet. Daarus Salaam)]

==

  • Politik Kekuasaan Merusak aqidah

Setelah melihat seorang kyai dan tokoh agama merusak aqidahnya demi politik kekuasaan, Saya pribadi semakin yakin bahwa cara paling utama menegakkan Syariat Islam di tengah kaum muslimin adalah *BUKAN DENGAN POLITIK*, tetapi dengan:

1. *Mengajarkan aqidah terutama tauhid dan memerangi syirik*

2. *Menyebarkan sunnah dan memberantas bid’ah sampai ke akar-akarnya.*

Dibawah ini doa agar tidak rusak setelah kebaikan:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻮْﺭِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻜَﻮْﺭِ

Allahumma Inni A’udzubika Minal Hauri Ba’dal Kauri

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari kerusakan setelah kebaikan”. HR. Tirmidzi.

Mekkah, Senin, 18 Rabiulakhir 1440H

@ahmadzainuddinalbanjary

==

  • Rangkuman 10 Kaidah Mengenal dai sunnah & dai bid’ah

Ustadz membuka tausiahnya dengan memuji ALLAHﷻ dengan pujian yang mulia dan bershalawat kepada Rosulullah ﷺ .

Kemudian ustadz membawakan ucapan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab didalam kitab Al qawaidul arba :

semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.”

➡ MUQADDIMAH

Terdapat 4 point muqaddimah yang disampaikan yaitu :

  • ➡ 1. Terangnya ajaran agama Islam (Tidak ada yang samar)

✅ Allah ﷻ berfirman

“Fashda’ bimaa tu`maru wa a’ridh ‘anil musyrikiin.”

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr [15]: 94).

✅ Begitu pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad)

➡ 2. Hidayah ada dua macam yaitu :

Hidayah menuju kepada jalan

● Hidayah diatas jalan

✅ Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى (١) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (٢) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (٣)

Berkata Abul ‘Aliyah Ar Riyahi : “Aku hitung ada 2 nikmat besar yang ada pada diri kami. Kami tidak tahu manakah di antara keduanya yang merupakan nikmat terbesar. Yaitu antara Allah selamatkan diriku dari kemusyrikan (Hidayah diatas Islam) atau Allah selamatkan diriku sehingga tidak termasuk bagian dari berbagai aliran sesat/bid’ah (Khawarj)”Tarikh Dimasyq

Perkara bid’ah adalah perkara yang besar yang telah diperingatkan oleh Rosulullah ﷺ .

Rosulullah ﷺ setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ .

Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”

  • ➡ 3. Adanya dai dai menyeru ke pintu neraka Jahannam

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”

Beliau berkata : “Ya”

Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”

Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.

Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?

Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”

Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”

Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”

Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”

Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”

Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”

Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”

Oleh sebab itu dari Hadits yang mulia ini bisa kita petik hikmah diantaranya : HARUS SELEKTIF MEMILIH GURU DALAM MENGAMBIL ILMU AGAMA.

✅ Muhammad bin Sirrin (seorang ulama tabi’in) rahimahullahu berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama itu sendiri maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil ilmu agama kalian.” (HR. Muslim)

✅ Imam Malik rahimahullah berkata :

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan

✅ Marwan bin Muhammad rahimahullah berkata:

Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.”

  • ➡ 4. Indahnya hidup diatas Sunnah Rosulullah ﷺ

✅ Imam Malik bin Anas berkata :

” As Sunnah itu bagaikan perahu Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, ia akan selamat. Barangsiapa menyelisihinya, ia akan tenggelam.”