Perayaan Tahun Baru Itu Syiar Kaum Kafir(Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Ceramah Singkat_ Tahun Baru_ Perayaan Tiga Agama-Ust Afifi Abdul Wadud 2Mb

2.Bincang Santai_ Fakta dan Hukum Merayakan Tahun Baru-Ust Firdaus 2Mb

3.Menyambut Tahun Baru-Ust Dadai Hidayat

4.”Panduan Islam Tentang Tahun Baru” Oleh Ustadz Khidir M.Sanusi

5 Perayaan Tahun Baru Masehi-Ust FadlanFahamsyah

6.Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi-Ust Aris Munandar

7.Jangan Ikuti Orang Kafir(Tahun Baru Masehi)-Ust Ahmad Zainuddin

8.Natal dan Tahun Baru-Ustadz Achmad Rofi’i

9.Hukum Perayaan Tahun baru-Ust Badrusalam

10 Terompet Tahun Baru – Ustadz ArisMunandar

11.Kemaksiatan di Malam.Tahun Baru Oleh_Ustadz Kurnaedi,Lc

12.Tahun Baru, Akhlaknya_ – Ustadz Khairullah, Lc

••

Ebook

Tasyabbuh, Menyerupai Kebiasaan Orang Kafir

lTasyabbuh (Barangsiapa Menyerupai Suatu Kaum Maka Dia Termasuk Golongan Mereka)-Dr Nashir Bin Abdul Qarim

Seorang Mukmin Tidak Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir

Haram Merayakan Natal dan Tahun Baru

Natalan Bukan Milik Yesus, Tapi Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir

Perayaan Natal dan Tahun BaruSimbol Kaum Kuffar

Toleransi Semu Natal dan Tahun Baru

Perayaan Tahun Baru itu Syiar KaumKuffar.pdf

Tahun Baru Masehi 52Hlm

l••

  • ➡ PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hinggahari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • Wajibnya Menyelisihi Kaum Kuffâr

Adapun hadits-hadits yang melarang menyepakati perayaan kaum kuffâr banyak sekali.

✅ Diantaranya adalah,

« ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: ﻗﺪﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻭﻟﻬﻢ ﻳﻮﻣﺎﻥ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻣﺎ ﻫﺬﺍﻥﺍﻟﻴﻮﻣﺎﻥ، ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻛﻨﺎ ﻧﻠﻌﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ . »

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’anhu beliau berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” [HR Abu Dawud no. 1134, an-Nasa’î no. 1556 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah ash-Sahîhahno. 2021]

« ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :–‏( ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺃﺑﺪﻟﻜﻢ ﺑﻬﻤﺎ ﺧﻴﺮﺍً ﻣﻨﻬﻤﺎ، ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺿﺤﻰ، ﻭﻳﻮﻡ ﺍﻟﻔﻄﺮ ) »

Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari Idul Adha dan Idul Fithri.” [ Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î danal-Hâkim.]

✅ Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata,

« ﻓﻮﺟﻪ ﺍﻟﺪﻻﻟﺔ ﺃﻥ ﺍﻟﻴﻮﻣﻴﻦ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﻴﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﻫﻤﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭﻻ ﺗﺮﻛﻬﻢ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ، ﺑﻞ ﻗﺎﻝ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪﻗﺪ ﺃﺑﺪﻟﻜﻢ ﺑﻬﻤﺎ ﻳﻮﻣﻴﻦ ﺁﺧﺮﻳﻦ، ﻭﺍﻹﺑﺪﺍﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺗﺮﻙﺍﻟﻤﺒﺪﻝ ﻣﻨﻪ، ﺇﺫ ﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺒﺪﻝ ﻭﺍﻟﻤﺒﺪﻝ ﻣﻨﻪ . »

Sisi pendalilan hadits di atas adalah, bahwa dua hari raya jahiliyah tersebut tidak disetujui oleh Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak meninggalkan (memperbolehkan) mereka bermain-main di dalamnya sebagaimana biasanya. Namun beliau menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari.raya lainnya. Penggantian suatu hal mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang diganti, karena suatu yang mengganti dan yang diganti tidak akan bisa bersatu. Banyak sekali hadits yang memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum kuffâr , misalnya kita disuruh untuk menyemir rambut dalam rangka menyelisihi Yahudi dan Nashrani, Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda,

« ﺇﻥ ﺍﻟﯿﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻻ ﯾﺼﺒﻐﻮﻥ ﻓﺨﺎﻟﻔﻮﻫﻢ »

Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir rambut mereka, makaselisihilah mereka.”[ HR Bukhari no. 3462, Muslim no. 2103 ]

Kita juga diperintahkan untuk memelihara jenggot dan memotong kumis, diantara hikmahnya adalah untuk menyelisihi kaum musyrikin. Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda,

« ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﯿﻦ ﺃﺣﻔﻮﺍ ﺍﻟﺸﻮﺍﺭﺏ ﻭﺃﻭﻓﻮﺍ ﺍﻟﻠﺤﻰ »

Selisihilah orang musyrikin, potonglah kumis dan biarkan jenggot kalian.”( HR Muslim no. 602)

« ﺟﺰﻭﺍ ﺍﻟﺸﻮﺍﺭﺏ، ﻭﺃﺭﺧﻮﺍ ﺍﻟﻠﺤﻰ، ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻟﻤﺠﻮﺱ »

Guntinglah kumis, panjangkan jenggot dan selisihilah orang Majusi.”.( HR Muslim no. 383)

Kita pun disyariatkan shalat dengan sandal dan khuff ( alas kaki/sepatu) untuk menyelisihi orang Yahudi. Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda,

« ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻟﯿﻬﻮﺩ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻻ ﯾﺼﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻧﻌﺎﻟﻬﻢ ﻭﻻ ﺧﻔﺎﻓﻬﻢ »

Selisihilah Yahudi karena mereka tidak shalat dengan sandal dan sepatu mereka.”( HR Abū Dâwud no. 652)

Dianjurkannya bersahur, diantara hikmahnya adalah juga untuk menyelisihi Ahli Kitab.

✅ Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda,

« ﻓﺼﻞ ﻣﺎ ﺑﯿﻦ ﺻﯿﺎﻣﻨﺎ ﻭﺻﯿﺎﻡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺃﻛﻠﺔ ﺍﻟﺴﺤﺮ »

Yang membedakan puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah, makan sahur .” ( HR Muslim no. 1096).

Demikian pula dengan menyegerakan berbuka, juga dianjurkan untuk menyelisihi Ahli Kitab,

« ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻇﺎﻫﺮﺍً ﻣﺎ ﻋﺠﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻷﻥ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯﻳﺆﺧﺮﻭﻥ»

Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.”

( HR Abū Dâwud no. 2353).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya.

Sisi pendalilan hadits-hadits di atas adalah, apabila dalam masalah penampilan saja, seperti menyemir rambut dan memelihara jenggot kita diperintahkan untuk menyelisihi kaum kuffâr , maka tentu saja dalam hal perayaan yang bersifat bagian dari ritual dan syi’ar keagamaa

  • Akan Dibangkitkan Bersama Kaum Kuffâr

Adapun âtsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini, sangatlah banyak.

✅ Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu , beliau berkata,

« ﺍﺟﺘﻨﺒﻮﺍ ﺃﻋﺪﺍﺀ ﺍﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﯿﺪﻫﻢ »

Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allah.”[ Sunan al-Baihaqî IX/234].

✅ ’Abdullâh bin ’Amr radhiyallâhu ’anhumâ berkata,

« ﻣﻦ ﺑﻨﻰ ﺑﺒﻼﺩ ﺍﻷﻋﺎﺟﻢ ﻭﺻﻨﻊ ﻧﻴﺮﻭﺯﻫﻢ ﻭﻣﻬﺮﺟﺎﻧﻬﻢ ، ﻭﺗﺸﺒﻪ ﺑﻬﻢ ﺣﺘﻰﻳﻤﻮﺕ ﻭﻫﻮ ﻛﺬﻟﻚ ﺣُﺸِﺮ ﻣﻌﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ »

Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akanndibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”[ Sunan al-Baihaqî IX/234].

✅ Imam Muhammad bin Sîrîn berkata,

« ﺃُﺗﻲ ﻋﻠﻰ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﺑﻬﺪﻳﺔ ﺍﻟﻨﻴﺮﻭﺯ. ﻓﻘﺎﻝ : ﻣﺎ ﻫﺬﺍ ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ :ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻫﺬﺍ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻨﻴﺮﻭﺯ . ﻗﺎﻝ : ﻓﺎﺻﻨﻌﻮﺍ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻓﻴﺮﻭﺯﺍً .ﻗﺎﻝ ﺃﺳﺎﻣﺔ : ﻛﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﻧﻴﺮﻭﺯ »

’’Ali radhiyallâhu ’anhu diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata, ”Apa ini?” Mereka menjawab, ”wahai Amîrul Mu’minîn , sekarang adalah hari raya Nairuz .” ’Ali menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kaliannFairuz.” Usâmah berkata, “Beliau (’Alî mengatakan Fairuz karena) membenci mengatakan ”Nairuz .” [ Sunan al-Baihaqî IX/234].

✅ Imam Baihaqî memberikan komentar,

« ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻟﺘﺨﺼﻴﺺ ﻳﻮﻡ ﺑﺬﻟﻚ ﻟﻢ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻣﺨﺼﻮﺻﺎًﺑﻪ »

Ucapan (’Ali) ini menunjukkan bahwa beliau membenci mengkhususkan hari itu sebagai hari raya karena tidak ada syariat yang mengkhususkannya.” Apabila demikian ini sikap manusia– manusia terbaik , lantas mengapa kita lebih menerima pendapat dan ucapan orang-orang yang jahil dan mengikuti budaya kaum kuffâr daripada ucapan para sahabat yang mulia ini?

  • Setiap Kaum Itu Memiliki Hari Raya Sendiri-sendiri

Hari Raya Kita Adalah Idul Fithri dan Idul Adhhâ serta Jum’at .

Di dalam hadîts yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minîn, ‘Â`isyah ash-Shiddîqah binti ash-Shiddîq radhiyallâhu ’anhumâ, beliau menceritakan bahwa ayahanda beliau, Abū Bakr radhiyallâhu ‘anhu mengunjungi Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam. Kemudian Abū Bakr mendengar dua gadis jâriyah menyanyi dan mengingkarinya. Mendengar hal ini, Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam bersabda :

ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ! ﺇﻥ ﻟﻜﻞ ﻗﻮﻡ ﻋﻴﺪﺍً ﻭﺇﻥ ﻋﻴﺪﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ

Wahai Abū Bakr, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan hari raya kita adalah pada hari ini.” ( HR Bukhârî no. 952 )

Dari hadîts di atas, ada dua hal yang bisa kita petik :

Pertama,

Sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam :

Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya” menunjukkan bahwa setiap kaum itu memiliki hari raya sendiri-sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’âlâ :

ﻟِﻜُﻞٍّ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺷِﺮْﻋَﺔً ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎﺟﺎً

Untuk tiap-tiap (ummat) diantara kalian ada aturan dan jalannya yang terang (tersendiri).”( QS al-Mâ`idah : 48 ).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan aturanndan jalan sendiri-sendiri secara khusus. “`Kata Lâm (ﻝِ ) pada kata Likullin (ﻟِﻜُﻞٍّ ) menunjukkan makna ikhtishâsh (pengkhususan).“`

Apabila orang Yahūdi memiliki hari raya dan orang Nashrâni juga memiliki hari raya, maka hari-hari raya itu adalah khusus bagi mereka dan tidak boleh bagi kita, kaum.muslimin, ikut turut serta dalam perayaan mereka, sebagaimana kita tidak boleh ikut dalam aturan dan jalan.mereka.

  • Dua Hari Raya yang Allah Tentukan untuk Kita

➡ Kedua , sabda Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam,

ﻭﺇﻥ ﻋﻴﺪﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ

Dan hari raya kita adalah pada hari ini ”, dalam bentuk ma’rifah (definitif) dengan lâm dan idhâfah menunjukkan hasyr (pembatasan), yaitu bahwa jenis hari raya kita dibatasi hanya pada hari itu. Dan hari tersebut di sini masuk pada cakupan hari raya ’Idul Fithri dan ’Idul Adhâ,

seperti dalam perkataan para ulama fikih,

« ﻻ ﯾﺠﻮﺯ ﺻﻮﻡ ﯾﻮﻡ ﺍﻟﻌﯿﺪ »

Tidak boleh berpuasa pada hari raya”

Maka maksudnya tentu saja, tidak boleh berpuasa pada dua hari raya ’Idul Fithri dan ‘Idul Adhâ.

✅ Dalil lainnya adalah hadits Anas bin Mâlik,

« ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: ﻗﺪﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻭﻟﻬﻢ ﻳﻮﻣﺎﻥ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: ﻣﺎ ﻫﺬﺍﻥﺍﻟﻴﻮﻣﺎﻥ، ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻛﻨﺎ ﻧﻠﻌﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ . »

Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ’ anhu beliau berkata, Rasulullah Shallâllâhu ’alahi wa Sallam tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main didalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini ?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam mengatakan, “ Sesungguhnya Allah telah menggantikankedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari ‘Idul Adhâ dan ‘Idul Fithri.” [Shahîh riwayat Imâm Ahmad, Abū Dâwud, an-Nasâ`î dan al-Hâkim.]

  • Kita Adalah Umat yang Terakhir

Adapun Jum’at, maka termasuk hari raya kaum muslimin yang berulang-ulang dalam tiap pekannya. Sehingga dengannya telah cukup bagi kita dan tidak mencari hari-hari perayaan lainnya. Dalil hal ini adalah, sabda Nabi yang mulia Shallâllâhu ’alahi wa Sallam,

« ﺃﺿﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺠﻤﻌـﺔ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻨﺎ ، ﻓﻜﺎﻥ ﻟﻠﯿﻬﻮﺩ ﯾﻮﻡ ﺍﻟﺴـﺒﺖ،ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻠﻨﺼﺎﺭﻯ ﯾﻮﻡ ﺍﻷﺣـﺪ ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻨﺎ، ﻓﻬﺪﺍﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﯿﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ،ﻓﺠﻌﻞ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﺴـﺒﺖ ﻭﺍﻷﺣﺪ ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻫﻢ ﺗﺒﻊ ﻟﻨﺎ ﯾﻮﻡ ﺍﻟﻘﯿﺎﻣﺔ، ﻧﺤﻦﺍﻵﺧﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻧﯿﺎ ، ﻭﺍﻷﻭﻟﻮﻥ ﯾﻮﻡ ﺍﻟﻘﯿﺎﻣﺔ، ﺍﻟﻤﻘﺘﻀـﻲﻟﻬﻢ »

Allah simpangkan dari hari Jum’at umat.sebelum kita, dahulu Yahudi memiliki (hari agung) pada hari Sabtu dan Nashrani pada hari Ahad. Kemudian Allah datangkan kita dan Allah anugerahi kita dengan hari Jum’at, lantas Allah jadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad.

Demikianlah, mereka adalah kaum yang akan mengekor kepada kita pada hari kiamat sedangkan kita adalah umat yang terakhir dari para penduduk dunia namun umat yang awal pada hari kiamat, yang diadili (pertama kali) sebelummakhluk-makhluk lainnya. [HR Muslim]

Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,

« ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﯾﻮﻡ ﻋﯿﺪ ﺟﻌﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﯿﻦ ﻓﻤﻦ ﺟﺎﺀ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻠﯿﻐﺘﺴﻞ …»

Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Allah jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari.Jum’at hendaknya ia mandi…” [HR Ibnu Majah dalam Shahihat-Targhib I/298].

  • Mencukupkan Diri dengan Sunnah

Para pembaca budiman, sesungguhnya mencukupkan diri dengan yang telah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah jauh lebih baik dan utama bagi kita , sehingga tidak perlu bagi kita mencari selain dari apa yang dituntunkan dan diperintahkan oleh Rabb dan Nabi kita, lalu mengikuti jalannya orang-orang yang bodoh dan menyimpang. Allah Ta’âlâ berfirman,

( ﺛُﻢَّ ﺟَﻌَﻠْﻨٰﻚَ ﻋَﻠٰﻰ ﺷَﺮِﻳﻌَﺔٍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌْﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻊْ ﺃَﻫْﻮَﺍٓﺀَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ )

Kemudian, kami jadikan kamu di atas syariat dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidakmengetahui.” ( QS Al- Jatsiyah : 18)

✅ Ibnu Mas’ūd radhiyallâhu ’anhu berkata,

« ﺍﻻﻗﺘﺼﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ »

Bersederhana di dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh – sungguh (jawa : ngoyo) di dalam bid’ah. ” [ al-I’tishâm II/65-72].

✅ Beliau juga radhiyallahu ‘anhu berkata,

« ﺍﺗﺒﻌﻮﺍ ﻭﻻ ﺗﺒﺘﺪﻋﻮﺍ ﻓﻘﺪ ﻛُﻔﯿﺘﻢ »

Mencontohlah dan janganlah berbuat bid’ah karena kalian telah dicukupi.”[ Majma’uz Zawâ`id I/181].

Islam adalah agama yang sempurna, tidak butuh lagi kepada penambahan-penambahan, revisi ataupun penilaian dari luar.

.

✅ Fatwa al-Imâm Ibnu Baz

Ditanya al-Imâm Ibnu Baz rahimahullâh,

Apa arahan yang mulia tentang peringatan tahun baru dan apa pendapat anda tentangnya?”

✅ Al-Imâm menjawab, ”Perayaan tahun baru adalah bid’ah sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dan masuk ke dalam sabda Nabi Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam,

ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﯿﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu di dalam urusan (agama) ini yang tidak ada tuntunannya maka tertolak. ”Muttafaq ’alaihi (disepakati keshahihannya) dari hadits‘Aisyah radhiyallâhu ’anhâ.

✅ Nabi Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam juga bersabda

« ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩّ »

Barangsiapa yang mengamalkan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak .” Dikeluarkan oleh Imâm Muslim di dalam Shahîh-nya. Nabi ’ alaihi ash-Sholâtu was Salâm juga bersabda di tengah khutbah Jum’at,

« ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ ﻓﺈﻥ ﺧﯿﺮ ﺍﻟﺤﺪﯾﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﺍﻟﻠﻪ , ﻭﺧﯿﺮ ﺍﻟﻬﺪﻱ ﻫﺪﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰﺍﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﯿﻪ ﻭﺳﻠﻢ , ﻭﺷﺮ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻣﺤﺪﺛﺎﺗﻬﺎ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ »

Amma Ba’du, Sesungguhnya sebaik – baik perkataan adalah Kitâbullâh dan sebaik-baik petunjuk adalahpetunjuk Muhammad _Shallâllâhu ’alaihi wa Sallâm_ . Seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. ”

Dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya. An-Nasâ`î menambahkan di dalam riwayatnya dengan sanad yang shahih,

« ﻭﻛﻞّ ﺿﻼﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ »

Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.”

Maka wajib bagi seluruh muslim baik pria maupun wanita untuk berhati-hati dari segala bentuk bid’ah. Islam dengan segala puji bagi Allah telah mencukupi segala hal dan telah sempurna. Allah Ta’âlâ berfirman,

( ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻰ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠٰﻢَﺩِﻳﻨًﺎ )

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan aku sempurnakan nikmat-Ku serta Aku ridhai Islâm sebagai agama kalian. ” ( QS al-Mâ`idah :3)

Allah telah menyempurnakan bagi kita agama ini segala yang disyariatkan baik berupa perintah maupun segala yang larangan dilarangnya. Manusia tidak butuh sedikitpun kepada bid’ah yang diada-adakan oleh seorangpun, baik itu bid’ah perayaan maupun selainnya. Segala bentuk perayaan, baik itu perayaan kelahiran Nabi _Shallâllâhu ’alahi wa Sallam, atau peringatan kelahiran (Abu Bakr) ash-Shiddiq, ’Umar, ’Utsmân, ’Alî, Hasan, Husain atau Fâthimah, ataupun Badawî, Syaikh ’Abdul Qadîr Jailânî, atau Fulan dan Fulanah, semuanya ini tidak ada asalnya, mungkar dan dilarang. Semua perayaan ini masuk kedalam sabda Nabi, ” setiap bid’ah itu sesat ”.

Untuk itu tidak boleh bagi kaum muslimin untuk merayakan bid’ah ini walaupun manusia mengamalkannya, karena perbuatan manusia itu bukanlah dasar syariat bagi kaum muslimin dan tidak pula qudwah (teladan) kecuali apabila selaras dengan syariat. Semua perbuatan dan keyakinan manusia harus ditimbang dengan timbang syar’î yaitu Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullah Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam. Apabila selaras dengan keduanya maka diterima dan apabila menyelisihi ditolak, sebagaimana firman Allah Ta’âlâ ,

( ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨٰﺰَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻰ ﺷَﻰْﺀٍ ﻓَﺮُﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺄَﺍﺧِﺮِ ۚ ﺫٰﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺗَﺄْﻭِﻳﻠًﺎ )

Apabila kalian berbeda pendapat tentang sesuatu hal maka kembalikanlah kepada Allah ( Kitâbullâh) dan Rasul (hadits) apabila kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian ini adalah lebih baik akibatnya.”

Semoga Allah memberikan taufiq dan petunjuk-Nya kepadasemuanya ke jalan-Nya yang lurus.

[ Fatâwâ Nūr ’alad Darb; kaset no.1]

➡ Penutup

Semoga Allah memberikan taufiq dan petunjuk-Nya kepada semuanya ke jalan-Nya yang lurus.

[ Fatâwâ Nūr ’alad Darb; kaset no.1]

Kesimpulan :

Tidak ragu lagi, dari ulasan singkat dan sederhana di atas, bahwa perayaan Tahun Baru, maupun perayaan-perayaan lainnya yang tidak ada tuntunannya, merupakan :

1. Bid’ah di dalam agama setelah Allah menyempurnakannya.

2. Menyerupai orang kuffâr di dalam perayaan mereka.

3. Turut menghidupkan syiar dan mengagungkan agama kaum kuffâr .

Wallahu Ta’ala A’lam Bish Shawab

-SELESAI-

Dialihbahasakan oleh :

@abinyasalma

Diedit oleh :

TIM Editing AWWI

@alwasathiyah

__________________

Sumber :

Al-Bida’ al-Haulîyah , ’Abdullâh bin ’Abdil ’Azîz at-Tuwaijirî. Riyâdh : 1421/2000, Dârul Fadhîlah. Cet. 1.

Al-Bida’ al-Haulîyah , ’Abdullâh bin ’Abdil ’Azîz at-Tuwaijirî. Soft Copy dari http://sahab.org .

Tahrîmul Musyârokah fî A’yâdil Mîlâd wa Ra`sis Sanah,http://magrawi.net

Waqofah Haula A’yâdi Ra`sis Sanah al-Ifranjîyah , KhâlidAbdurrahman asy-Syayi’, http://magrawi.net

The Two ‘Eids And Their Significance, ‘Abdul Majîd ‘Alî Hasan, Ebook download dari http://theclearpath.com

Hukmu A’yâdil Mîlâd , al-‘Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Baz,http://magrawi.net

== ~~~  lanjut ke halaman 2 ~~~~