​Nasehat dan Renungan Salaf (Bag.13)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••• 

Ustadz Zainal Abidin Lc-10 Ajaran Ahli Kitab Yang Ditiru Umat Islam 9Mb

Ustadz Mizan Qudsiyah_Lc. – Fitnah Gulluw dan Kuburan 18Mb

Ajaibnya Kehidupan Seorang Muslim-Ust Mizan Qudsiyah 3Mb

SyukurAdalah Kunci Kebahagian-Ust Ali Musri Semjan Putra

Do’a Setelah Shalat Fardhu-Ustadz Zainal Abidin Lc-

Do’a Terbaik Ketika Shalat-Ustadz Zainal Abidin Lc-

Perjalanan Menuju Allah dan Kampung Akhirat Oleh Ustadz Andy Octavian Latief, S.Si.,M.Sc., Ph.D.

Nasehat dan Renungan Salaf (Bag.12)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hinggahari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • BOLEHKAH MENGAMBIL ILMU DARI ORANG YANG DI TAHDZIR LAJNAH DAIMAH?

✅ Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili ditanya: Syekh yang mulia -ahsanallah ilaikum- apakah diambil ilmu dari seseorang yang ditahdzir lajnah daimah dalam masalah iman, perlu diketahui bahwa persoalan ini menimbulkan permasalahan dakwah di negeri kita?

✅ JAWABAN: Lajnah Daimah dan selainnya dari para ulama, terkadang diambil perkataan mereka terkadang tidak. Apabila perkataan dan fatwa ini dilihat oleh seorang ahli ilmu bahwa mereka benar, maka diamalkan fatwanya. Dan apabila tidak, maka tidak diamalkan walaupun menyelisihi para ulama kibar.

Lajnah daimah adalah manusia. Terkadang disampaikan kepada mereka sebuah kertas dan diadukan kepada mereka sebuah perkara dalam kertas tersebut, kemudian fatwanya dibangun sesuai dengan apa yang sampai kepada mereka.

oleh karena itu, senantiasa para ahli ilmu dalam fatwanya, terkadang sekarang berfatwa dengan ini, dan setelah jelas perkaranya, ia berfatwa dengan yang lainnya.

Misalnya Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dahulu melihat jamaah tabligh adalah jamaah yang baik. setelah ia mengetahui keburukannya ia memperingati manusia dari kesalahan mereka.

Terkadang sampai kepada seorang ahli ilmu kesalahan seorang manusia setelah itu nampak baginya bahwa keadaannya menyelisihi yang demikian.

yang dilihat di sini adalah keadaan orang tersebut. Apabila seseorang termasuk ahlussunnah dan dia di Istiqomah di atas aqidah ahlussunnah maka diambil ilmu darinya. Apabila ia punya kesalahan dan kerancuan maka dijauhi kesalahannya walaupun tidak di tahdzir oleh para ulama. kita harus kembali kepada al-Haq yang ditunjukkan oleh dalil.

Adapun apabila dikatakan bahwa: fatwa lajnah daimah dibelakangkan dan tidak dihormati, maka tidaklah demikian. mereka memiliki keutamaan dan kedudukan dan fatwa mereka dikedepankan dibandingkan selainnya dengan ilmu yang mereka miliki dan keutamaan yang mereka miliki, terlebih apabila permasalahan ini dibangun kepada pendapat.

Adapun apabila permasalahan ini dibangun di atas dalil maka yang diambil adalah dalil walaupun harus menyelisihi ulama kibar.

Imam Ibnu Rajab memiliki risalah yang menjelaskan tidak boleh menyelisihi imam yang empat. mana dalilnya? apabila seorang ulama menyelisihi imam yang empat dengan dalil, maka wajib mengikuti dalil walaupun menyelisihi imam yang empat.

Solo, Desember 2018

Dika Wahyudi Lc.

=

  • Sebagian nasehat Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily dalam sesi tanya.jawab.

✅ 1. Hendaknya para da`i tidak berselisih dengan pemerintah dalam penentuan waktu Shubuh. Jika memang bisa dibicarakan, maka bicarakan. Jika tidak, maka jangan menyelisihi jamaah, sehingga tidak ke Masjid karena merasa belum saatnya shalat Shubuh.

✅ 2. Aparat pemerintah (dalam hal ini yang ditanyakan adalah polisi) yang sudah mengenal sunnah, hendaknya tetap bertahan dalamm profesinya, jika menimbang maslahatnya lebih besar dibandingkan jika dia berhenti, dalam rangka ikut mendakwahkan sunnah kepada rekan-rekan sejawatnya. Adapun jika mendapatkan perintah yang menyelisihi sunnah, dan tidak ada cara untuk menghindarinya kecuali berhenti dari profesinya, maka tetaplahnlaksanakan perintah tersebut sambil tetap mengingkarinya dalam hati, karena dalam hal tersebut ia terpaksa dan mendapatkan udzur.

(Komentar saya: Dan ini berlaku untuk pegawai pemerintah lainnya, insyâAllâh).

(Demikian ditranskrip sesuai dengan maknanya, walau berbeda penyampaiannya)

Wallâhu A`lam

@Dany Nursalim Harun

=

  • Rabi’ah Al ‘Adawiyyah, Wanita Shalihah Yang Terdzalimi

Abu Ubaidah As Sidawi

Dia adalah Ummul khoir binti Ismail al-Bashriyyah. Dia adalah wanita shalihah, zuhud dan ahli ibadah.

Para ulama besar pernah belajar kepadanya seperti Sufyan Tsauri dan Syu’bah.

Hidup selama delapan puluh tahun dan wafat pada tahun 180 H.

Perlu diketahui bahwa banyak manusia yang mendzaliminya, sebagian kalangan menisbatkan dia termasuk ahli tasawwuf yang berpemikiran wahdatul wujud (bersatu dengan tuhan) dan ini adalah kedustaan kepadanya, sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar 8/243.

Bahkan ada yang menfilmkan tentang dirinya bahwa dia adalah seorang wanita penari di awal kehidupannya. Ini juga kedustaan.

Dan ada juga sebagian kalangan yang mengingkari tentang keberadaannya dan menganggapnya fiktif belaka, ini juga termasuk kesalahan, karena siroh tentangnya telah dicatat oleh para ulama seperti adz-Dzahabi dalam Siyar 8/242, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah 10/186, al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 2/40, bahkan Ibnul Jauzi membukukan biografinya secara khusus dan menamai putrinya dengan Rabiah.

(Dinukil dari Taliq Asyrof Abdul Maqshud pada Laftatul Kabid Ila Nashihatil Walad hlm. 42-44 oleh Ibnul Jauzi).

Termasuk kedustaan kepada beliau misalnya ucapan masyhur kaum shufi yg disandarkan kpd beliau: “Demi Allah, aku tidak beribadah kepadamu karena berharap pada surgaMu dan takut akan nerakaMu, terapi karena aku cinta padamu”. Ini tidak shohih dari beliau dan isinya juga tidak benar.

(Syarh Mandzumatil Haq hlm. 124 kry Dr. Ahmad Al Qodhi)

==

  • Perayaan Tahun Baru

Dalam setahun Nabi ﷺ merayakan 2 hari besar saja, yaitu hari raya idul fitri dan idul adha, dimana keduanya terkait ibadah yg memang disyariatkan dlm kitab suci al-Quran: ibadah puasa, qurban dan haji, yg masing2 merepresentasikan ketakwaan seorang muslim kepada Allah semata. Hari jum’at pun yg merupakan hari istimewa tidak lepas dari tuntunan ibadah.

Sekarang bandingkan dgn kepercayaan kaum sebelah! Contoh perayaan terkait hari kelahiran; banyak agama2 di dunia yg memperingati hari besarnya berdasarkan kelahiran orang2 suci ataupun orang yg dianggap shalih. Lalu pertanyaannya: apa hubungannya perayaan itu dgn perintah ibadah dlm kitab2 suci? Dimana logic-nya kelahiran seseorang dikaitkan dgn peribadatan? Apakah mahluk mengibadahi mahluk? Sounds awkward, isnt it? Perayaan tahun baru? Sami mawon, orang2 pagan zaman dulu merayakannya ketika terjadi equinox, yaitu garis tengah bumi (equator) segaris dgn pusat matahari. Trus, dimana pula makna ibadahnya? Adapun 1 Januari ditetapkan sebagai awal penanggalan masehi oleh Paus Gregorian XIII sebagai koreksi sistem kalender Julian yg perhitungannya menyimpang parah dari Equinox yg teramati, sehingga penetapan hari paskah mengalami kekacauan. Again, dimana makna ibadahnya?

Jadi dalam islam, perayaan hari khusus atau hari besar itu harus mengandung makna ibadah, yg mana hal ini berhubungan erat dgn tujuan diciptakannya manusia, yakni untuk beribadah kepadaNya. Dan itu jauh berbeda dgn perayaan2 kaum lain yg miskin ibadah dan justru seringkali lebih mengedepankan aspek huru-hara seperti nyanyi2, jogedan, bahkan minuman keras …intinya ‘party to the max’.

Jadi adalah suatu bid’ah dan penyimpangan yg nyata jika ada orang islam yg justru meniru membuat perayaan2: memasukkan unsur ibadah (doa bersama, dzikir, shalawat dll) ke dalam perayaan2 yg sesungguhnya diadopsi dari perayaan kaum kuffar, seperti perayaan maulid ataupun tahun baru.That’s why ‘IQ is given, but mumet is pilihan’@Katon Kurniawan

=

بسم الله الرحمن الرحيم

  • ➡ *PERTANYAAN TENTANG PEMILU*

*Faidah Daurah Syar’iyyah ke 5 di Solo*

Tanya Jawab bersama Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullah

✅ _TANYA:_

Apakah mengikuti pemilu pemimpin negara – presiden adalah termasuk perkara ijtihadiyah (perkara yang dibolehkan untuk memilih menurut anggapan keilmuan masing-masing) yang ada khilaf menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

✅ _JAWAB:_

Syaikh hafizhullah menjawab: “Ya itu adalah perkara ijtihadiyyah.” “Sebenarnya penggunaan sistem pemilu itu adalah bukan dari Islam.

Namun apabila diwajibkan disitu untuk melakukan pemilu agar orang-orang yang jahat tidak menguasai atau dalam rangka memilih kemudhorotan yang lebih ringan maka itu boleh dilakukan. Namun harus dengan pertimbangan dari para ahlinya untuk menetapkan calon yang berpihak kepada kaum muslimin.

Jika seorang muslim diwajibkan mengikuti pemilu maka hendaknya dilakukan dalam rangka memberikan nasehat dan berusaha memilih kemudhorotan yang lebih ringan serta kemashlahatan yang lebih luas bukan dalam rangka mengakui sistem pemilu sebagai sistem yang ideal.

Karena sekiranya ada kelonggaran untuk memilih maka hendaknya menerapkan sistem pemilihan pemimpin dalam Islam yaitu ada tiga metode:

  • ✅ 1.Pertama:

الاختيار والانتخاب من أهل الحل والعقد

Dipilih dan diseleksi oleh Ahlul halli wal Aqdi (Komite Dewan Ahli). ((Misalnya penetapan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shidiq.

(Kekhalifahannya ditetapkan berdasarkan pemilihan dari Ahlul halli wal aqdi, kemudian para shahabat akhirnya sepakat dan berbaiat kepadanya dan mereka ridha dengan kekhalifahannya.))

  • ✅ 2.Kedua:

الخلافة بولاية العهد من الخليفة السابق

Kekhalifahan dengan cara menetapkan putra mahkota/pengganti secara definitif dari khalifah sebelumnya. (Misalnya penetapan Umar bin Khattab sebagai khalifah. Beliau ditetapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu sebagai penggantinya.)

  • ✅ 3.Ketiga:

القوة والغلبة

Dengan kekuatan dan kemenangan. (Jika seorang khalifah menundukkan sebuah bangsa dengan power dan kekuasaannya, lalu situasi aman terkendali, maka diwajibkan mendengar dan taat kepadanya”)

Semoga bermanfaat

@Zaki Abu Kayyisa

=

  • Menjaga Acara Maksiat Karena bertugas Sebagai Aparatur Negara?

✅ Jawaban Syekh :

ﺇﺫﺍ ﺃﻛﺮﻩ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻭﻫﻮ ﻛﺎﺭﻩ ﻟﻪ ﻓﻬﻮ ﻣﻌﺬﻭﺭ

Jika seorang dipaksa melakukan maksiat, sementara dia tidak rela / tidak ridho dengan kemaksiatan tersebut, maka dia mendapat uzur.

✅ Saat ditanya apakah harus resign?

Syekh menjawab : Bila keberadaannya di instansi tersebut memberi maslahat besar untuk kaum muslimin, maka pertahankan. Namun bila sebaliknya, mafsadah yang didapat lebih besar daripada maslahat dari keberadaannya, maka melepas adalah pilihan terbaik. Adapun jika dia dipaksa, sementara hatinya tidak menyetujui maksiat itu, maka dia dimaklumi..

  • Penuntut Ilmu Hobi Main Game?

✅ Syekh menjawab :

Tidak sepatutnya seperti itu. Obsesi penuntut ilmu sejati bukan pada hal-hal seperti itu. Dahulu sampai ada seorang salaf Allah karuniai anak yang rajin belajar. Sampai rekannya merasa iba kepada sang anak, lalu dia memberi saran, “Kenapa kamu tidak suruh anakmu bermain-main dulu..kan masanya bermain-main?”

✅ Ulama salaf ini menjawab, “Aku tak ingin tercatat dalam catatan amalku bahwa aku menyuruh anakku bermain. Dan aku tidak ingin melihat di catatan amalku bahwa aku pernah berfatwa membolehkan main-main.”

Sampai para salaf dahulu saat ditanya, “Berapa jarak waktu antara azan dan iqomah?”

Mereka menjawab,

Selama membaca 50 ayat…”

Yang lain menjawab, “Secukupnya waktu untuk melakukan sholat dua raka’at.”

Lihatlah bgmn besarnya semangat dan hasrat para salafussholih pada ibadah. Sampai saat ditanya tentang jarak waktu mereka menjadikan masa ibadah sebagai tolak ukur. Sangat berbeda dg keadaan zaman ini, saat disampaikan 50 ayat, 2 raka’at mungkin masih ada yg bertanya , “50 ayat itu berapa menit ya…. 2 raka’at itu berapa menit ya…??” Menunjukkan melemahnya semangat ibadah dan lemahnya agama.

  • Agama Harus Dijunjung Tinggi

Andaikan seluruh penduduk Eropa masuk Islam namun dengan syarat sy harus memotong Jenggot, maka sungguh itu tak akan kulakukan. Karena aku bertanggung jawab di hadapan Allahterhadap diriku sendiri, tidak bertanggung jawab atas hidayah orang lain melainkan Hidayah Irsyad saja berupa menyampaikan kebenaran tanpa melanggar aturan Syariat.

-Syekh Prof Dr Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili pada Dauroh Syariahke 5-

======

Agama harus dijunjung tinggi. Tak boleh dikorbankan utk kepentingan dan dg dalih apapun : toleransi, persatuan, persahabatan dll. Jangan sampai karena ingin merangkul banyak orang, kita biarkan kesalahan, mengorbankan agama, akidah, iman, meski hanya secuil pun..

____

-Catatan dauroh Syekh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili -hafidzohullah-pada Dauroh Syariah ke 5 di Solo –

Ahmad Anshori

== •••  Lanjut Ke HalAman 2 •••

Iklan