Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.2)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

••

Ustadz Zainal Abidin Lc-10 Ajaran Ahli Kitab Yang Ditiru Umat Islam 9Mb

Ustadz Mizan Qudsiyah_Lc. – Fitnah Gulluw dan Kuburan 18Mb

Ajaibnya Kehidupan Seorang Muslim-Ust Mizan Qudsiyah 3Mb

SyukurAdalah Kunci Kebahagian-Ust Ali Musri Semjan Putra

Do’a Setelah Shalat Fardhu-Ustadz Zainal Abidin Lc-

Do’a Terbaik Ketika Shalat-Ustadz Zainal Abidin Lc-

Perjalanan Menuju Allah dan Kampung Akhirat Oleh Ustadz Andy Octavian Latief, S.Si.,M.Sc., Ph.D. 

Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.2)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

➡ PERTEMUAN KETIGA & KEEMPAT

PENULIS BERKATA:

[24]- وَالإِمْسَاكُ فِي الْفِتْنَةِ سُنَّةٌ مَاضِيَةٌ وَاجِبٌ لُزُوْمُهَا، فَإِنِ ابْتُلِيْتَ فَقَدِّمْ نَفْسَكَ وَمَالَكَ دُوْنَ دِيْنِكَ، وَلاَ تُعِنْ عَلَى الْفِتْنَةِ بِيَدٍ وَلاَ لِسَانٍ، وَلٰكَنِ اكْفُفْ يَدَكَ وَلِسَانَكَ وَهَوَاكَ، وَاللهُ الْمُعِيْنُ.

[24]- Menahan diri dari fitnah (kekacauan) merupakan Sunnah yang telah berlaku dan wajib untuk dipegang. Kalau engkau mengalaminya; maka korbankanlah jiwa dan hartamu, jangan agamamu. Janganlah engkau memberikan bantuan atas fitnah dengan tangan maupun lisan, akan tetapi tahanlah tangan, lisan, dan hawa nafsumu, dan Allah lah Yang akan menolong.

  • PENJELASAN:

Fitnah yang dimaksud adalah fitnah umum dan merata yang menimpa umat; berupa: peperangan (yang tidak jelas), perselisihan, pemberontakan melawan pengusasa, dan semisalnya. Maka engkau tidak boleh masuk ke dalam fitnah semacam ini. Dan jika fitnah tersebut sudah terlanjur mengenaimu; maka berusahalah untuk menolaknya walaupun sampai mengorbankan harta, bahkan jiwamu.

  • PENULIS BERKATA:

[25]- وَالْكَفُّ عَنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ؛ لاَ تُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْهُمْ بِذَنْبٍ، وَلاَ تُخْرِجْهُ مِنَ الإِسْلاَمِ بِعَمَلٍ، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ ذٰلِكَ حَدِيْثٌ فَتَرْوِي الْحَدِيْثَ كَمَا جَاءَ وَكَمَا رُوِيَ، تُصَدِّقُ بِهِ وَتَقْبَلُ، وَتَعْلَمُ أَنَّهُ كَمَا رُوِيَ؛ نَحْوُ: تَرْكِ الصَّلاَةِ، وَشُرْبِ الْخَمْرِ، وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ؛ أَوْ يَبْتَدِعَ بِدْعَةً يُنْسَبُ صَاحِبُهَا إِلَى الْكُفْرِ وَالْخُرُوْجِ مِنَ الإِسْلاَمِ، وَاتَّبِعِ الأَثَرَ فِيْ ذٰلِكَ وَلاَ تُجَاوِزْهُ.

[25]- Menahan diri dari (mengganggu) Ahli Kiblat (kaum muslimin): jangan engkau mengkafirkan seorang pun dari mereka dengan sebab dosa (yang dilakukannya), jangan engkau keluarkan dia dari Islam dengan sebab amalan (yang dia perbuat), kecuali ada hadits tentang hal itu, sehingga engkau meriwayatkan hadits tersebut sebagaimana diriwayatkannya, dan engkau membenarkan, menerimanya, serta mengetahui bahwa (hadits) tersebut sebagaiamana datangnya, seperti: meninggalkan shalat, minum khamr, dan semisalnya, atau seorang berbuat bid’ah yang pelakunya dinisbatkan kepada kekafiran dan keluar dari Islam; maka engkau mengikuti atsar dalam hal itu dan engkau tidak melampauinya.

  • PENJELASAN:

– Tidak mengganggu kaum muslimin dengan melabeli mereka dengan: kafir, ahli bid’ah, maupun fasik; tanpa sebab yang jelas.

– “dengan sebab amalan”; yakni: tidak mengkafirkan mereka hanya karena mereka meninggalkan suatu amalan yang disyari’atkan, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan bahwa suatu amalan yang kalau ditinggalkan maka orang yang meninggalkannya adalah kafir; seperti: haadits tentang orang yang meninggalkan shalat. Akan tetapi dalil-dalil semacam itu tidak diterapkan pada individu tertentu kecuali dengan syarat-syaratnya.

  • PENULIS BERKATA:

[26]- وَلاَ أُحِبُّ الصَّلاَةَ خَلْفَ أَهْلِ الْبِدَعِ، وَلاَ الصَّلاَةَ عَلَى مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ.

[26]- Aku tidak menyukai shalat di belakang ahli bid’ah, dan tidak juga menyholati orang yang mati di antara mereka.

➡ PENJELASAN:

Beliau tidak mengatakan: janganlah shalat di belakang ahli bid’ah (menjadi makmumnya). Beliau hanya mengatakan: aku tidak menyukai. Ini adalah kebiasaan para ulama terhadap perkara yang tidak ada dalil yang jelas mengenainya.

Yang benar dalam masalah ini adalah dirinci:

Kalau bid’ahnya membuatnya kafir atau dia terjatuh dalam syirik akbar; maka tidak boleh shalat di belakangnya.

– Adapun kalau bid’ahnya tidak menjadikan kafir atau dia melakukan dosa besar; maka shalat di belakngnya adalah sah, karena seorang kalau dia shalat sendirian adalah sah; maka ketika dia menjadi imam: shalat di belakangnya juga sah. Tapi terkadang shalat di belakangnya adalah ditinggalkan dalam rangka hajr (memboikotnya).

Shalat terhadap jenazah ahli bid’ah juga mengikuti rincian di atas.

  • PENULIS BERKATA:

[27]- وَالأَعْوَرُ خَارِجٌ لاَ شَكَّ فِيْ ذٰلِكَ وَلاَ ارْتِيَابَ، وَهُوَ أَكْذَبُ الْكَاذِبِيْنَ.

[27]- Si picak (Dajjal) pasti keluar dan tidak diragukan lagi, dan dia merupakan pendusta yang paling pendusta.

➡ PENJELASAN:

Si picak adalah Dajjal, karena ada hadits yang menyebutkan demikian. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa matanya seperti anggur yang timbul. Dan keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah salah satu tanda yang besar bagi Kiamat. Dan dia merupakan pendusta yang paling dusata, karena dia mengaku memiliki sifat Rububiyyah.

  • PENULIS BERKATA:

[28]- وَعَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ، يُسْأَلُ الْعَبْدُ عَنْ رَبِّهِ، وَعَنْ نَبِيِّهِ، وَعَنْ دِيْنِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ.

[28]- Adzab kubur adalah benar, hamba akan ditanya tentang Rabb-nya, Nabinya, dan agamanya, dan akan diperlihatkan kepadanya tempatnya nanti di Surga atau di Neraka.

[29]- وَمُنْكَرٌ وَنَكِيْرٌ حَقٌُّ، وَهُمَا فَتَّانَا الْقُبُوْرِ، نَسْأَلُ اللهَ الثَّبَاتَ.

[29]- Munkar dan Nakir adalah benar, keduanya yang akan memberikan fitnah (pertanyaan) dalam kubur. Kita minta kepada Allah ketetapan (dalam menjawab).

  • PENJELASAN:

Adzab kubur adalah benar, karena banyak dalil yang menunjukkan atasnya, dan juga nikmat kubur. Akan tetapi beliau hanya menyebutkan adzab kubur; karena banyak yang mengingkarinya.

Hamba akan ditanya tentang tiga perkara yang merupakan Ushulud Din, dan Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang akan menanyai mayit.

  • ➡ PENULIS BERKATA:

[30]- وَحَوْضُ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَقٌُّ، تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتُهُ، وَلَهُ آنِيَةٌ يَشْرَبُوْنَ بِهَا مِنْهُ.

[30]- Haudh (telaga) milik Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah benar, akan didatangi oleh umat beliau (pada Hari Kiamat), dan (telaga) tersebut memiliki bejana-bejana yang mereka minum darinya (telaga) menggunakan (bejana-bejana) tersebut.

  • PENJELASAN:

Haudh adalah telaga yang akan diberikan oleh Allah kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- di padang mahsyar, yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang sifatnya. Adapaun Al-Kautsar; maka sungai yang diberikan kepada beliau di Surga. Sebagian hadits menyebut Haudh dengan Al-Kautsar; dikatakan: karena airnya berasal dari Al-Kautsar.

  • PENULIS BERKATA:

[31]- وَالصِّرَاطُ حَقٌّ، يُوْضَعُ فِيْ سَوَاءِ جَهَنَّمَ، فَيَمُرُّ النَّاسُ عَلَيْهِ، وَالْجَنَّةُ مِنْ وَرَاءِ ذٰلِكَ، نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَةَ وَالْجَوَازَ.

[31]- Shirath (jembatan) adalah benar, akan diletakkan di atas Neraka Jahannam, maka manusia melewatinya, dan Surga berada setelahnya. Kita meminta kepada Allah agar selamat dan bisa melewatinya.

  • PENJELASAN:

Shirath adalah jembatan di atas neraka Jahannam yang merupakan jalan menuju Surga. Setelah Shirath ada Qantharah tempat kaum msulimin diqishah satu dengan lainnya sebelum masuk Surga.

  • PENULIS BERKATA:

[32]- وَالْمِيْزَانُ حَقٌّ تُوْزَنُ بِهِ الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ؛ كَمَا شَاءَ اللهُ أَنْ تُوْزَنَ بِهِ.

[32]- Timbangan (pada Hari Kiamat) adalah benar, padanya ditimbang kebaikan dan kejelekan, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki bagaiaman (amalan-amalan) tersebut ditimbang dengannya.

  • PENJELASAN:

Yang akan ditimbang adalah: amalan, orang yang beramal, dan catatan amal, sebagaimana disebutkan dalam dalil-dalil.

Para ulama berselisih: Apakah timbangan itu banyak -sebagaiamana disebutkan dalam sebagian dalil-? Ataukah hanya satu timbangan? Lahiriyah dalil-dalil menunjukkan bahwa timbangan itu satu, adapun ketika disebutkan banyak timbangan; maka maksudnya: banyaknya yang ditimbang.

  • PENULIS BERKATA:

[33]- وَالصُّوْرُ حَقٌّ يَنْفُخُ فِيْهِ إِسْرَافِيْلُ فَيَمُوْتُ الْخَلْقُ، ثُمَّ يَنْفُخُ فِيْهِ فَيَقُوْمُوْنَ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ لَلْحِسَابِ وَالْقَضَاءِ، وَالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ، وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ.

[33]- Shuur (terompet sangkakala) adalah benar, malaikat Israfil yang akan meniupnya; sehingga makhluk akan mati, kemudian ia mniup sekali lagi; maka mereka bangkit untuk menghadap Rabbul ‘Alamin, untuk hisab, qadha’ (keputusan), pahala, siksa, Surga, dan Neraka.

  • PENJELASAN:

Ash-Shuur adalah terompet yang Allah wakilkan malaikat Israfil untuk meniupnya sehingga semua makhluk akan mati, kemudian Allah perintahkan dia untuk meniupnya lagi; maka ketika itu manusia bangkit untuk menghadap Rabbul ‘Alamin.

{وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ}

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS. Az-Zumar: 68)

  • PENULIS BERKATA:

[34]- وَاللَّوْحُ الْمَحْفُوْظُ حَقٌّ، تُسْتَنْسَخُ مِنْهُ أَعْمَالُ الْعِبَادِ لِمَا سَبَقَتْ فِيْهِ مِنَ الْمَقَادِيْرِ وَالْقَضَاءِ.

[34]- Lauh Mahfuzh adalah benar, dinukil darinya amalan-amalan hamba yang telah tetap padanya takdir-takdir dan qadha’.

  • PENJELASAN:

Lauh ini adalah yang ditulis padanya takdir, seperti pada hadits:

((إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ))

Pertama yang Allah ciptakan adalah pena, maka Allah berfirman kepadanya: Tulislah. Pena bertanya: Apa yang aku tulis. Allah berfirman: Tulislah segala sesuatu sampai Hari Kiamat.”

Yakni: pena yang menulis, dan Lauh adalah yang ditulis padanya takdir.

– “dinukil darinya amalan-amalan hamba”; yakni: malaikat menukil darinya apa yang Allah takdirkan; maka ini butuh kepada dalil.

  • PENULIS BERKATA:

[35]- وَالْقَلَمُ حَقٌّ، كَتَبَ اللهُ بِهِ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ وَأَحْصَاهُ فِي الذِّكْرِ، فَتَبَارَكَ رَبُّنَا وَتَعَالَى.

[35]- Qalam (pena pencatat takdir) adalah benar, dengannya Allah mencatat takdir-takdir segala sesuatu dan menghitungnya dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh). Maha Suci Rabb kita dan Maha Tinggi.

  • PENJELASAN:

Pena adalah makhluk Allah yang agung yang Allah memerintahkannya untuk menulis takdir pada Adz-Dzikr, yaitu: Lauh Mahfuzh.

  • PENULIS BERKATA:

[36]- وَالشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَقٌّ، يَشْفَعُ قَوْمٌ فِيْ قَوْمٍ فَلاَ يَصِيْرُوْنَ إِلَى النَّارِ، وَيَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَمَا دَخَلُوْهَا بِشَفَاعَةِ الشَّافِعِيْنَ، وَيَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بِرَحْمَةِ اللهِ بَعْدَمَا يُلْبِثُهُمْ فِيْهَا مَا شَاءَ اللهُ.

[36]- Syafa’at pada Hari Kiamat adalah benar, suatu kaum akan memberi syafa’at pada kaum yang lain agar tidak masuk ke Neraka, dan suatu kaum akan keluar dari Neraka dengan syafa’at orang-orang yang memberi syafa’at setelah mereka memasukinya, dan suatu kaum akan keluar dari Neraka dengan rahmat Allah setelah Allah jadikan mereka tinggal di dalamnya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah.

  • PENJELASAN:

Syafa’at pada Hari Kiamat adalah benar berdasarkan dalil-dalil, dan hal ini diingkari oleh Wa’idiyyah dari kalangan Khawarij dan Mu’tazilah; berdasarkan prinsip mereka yang rusak bahwa pelaku dosa besar adalah kekal di Neraka.

  • PENULIS BERKATA:

[37]- وَقَوْمٌ يُخَلَّدُوْنَ فِي النَّارِ أَبَدًا، وَهُمْ أَهْلُ الشِّرْكِ وَالتَّكْذِيْبِ وَالْجُحُوْدِ وَالْكُفْرِ بِاللهِ.

[37]- Dan suatu kaum akan dikekalkan di dalam Neraka selama-lamanya, dan mereka adalah orang-orang musyrik, orang-orang yang mendustakan, mengingkari, dan kafir terhadap Allah.

  • PENJELASAN:

Mereka adalah orang-orang yang dicegah oleh Allah dari Syafa’at, Allah berfirman:

{فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ}

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 48)

  • ➡ PENULIS BERKATA:

[38]- وَيُذْبَحُ الْمَوْتُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ.

[38]- Kematian akan disembelih pada Hari Kiamat di antara Surga dan Neraka.

  • PENJELASAN:

Hal ini seperti disebutkan dalam hadits bahwa kematian akan didatangkan dengan bentuk kambing kemudian disembelih. Dan hal ini diingkari oleh ahli kalam yang mengatakan bahwa: kematian itu ‘ardh (sifat); bagaimana mungkin bisa disembelih? Akan tetapi ini justru menunjukkan kekuasaan Allah yang mengubah ‘ardh menjadi jism kemudian jism itu disembelih.

  • PENULIS BERKATA:

[39]- وَقَدْ خُلِقَتِ الْجَنَّةُ وَمَا فِيْهَا، وَخُلِقَتِ والنَّارُ وَمَا فِيْهَا، خَلَقَهُمَا اللهُ ثُمَّ خَلَقَ الْخَلْقَ لَهُمَا لاَ يَفْنِيَانِ، وَلاَ يَفْنَى مَا فِيْهِمَا أبدًا، فَإِنِ احْتَجَّ مُبْتَدِعٌ زِنْدِيْقٌ بِقَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ} [القصص: 88] وبنحو هذا؛ فَقُلْ لَهُ: كُلُّ شَيْءٍ مِمَّا كَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ الْفَنَاءُ وَالْهَلاَكُ هَالِكٌ، وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ خُلِقَتَا لِلْبَقَاءِ لاَ لِلْفَنَاءِ وَلاَ لِلْهَلاَكِ، وَهُمَا مِنَ الآخِرَةِ لاَ مِنَ الدُّنْيَا.

[39]- Surga dan apa-apa yang ada di dalamnya telah diciptakan, demikian juga Neraka dan apa-apa yang ada di dalamnya telah diciptakan. Allah menciptakan keduanya kemudian Allah ciptakan makhluk untuk menghuni keduanya, keduanya tidak sirna dan apa-apa yang ada di dalamnya juga tidak akan sirna selama-lamanya. Kalau ada seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) atau zindiq (orang munafik) berdalil dengan firman Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-: “…Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah…” (QS. Al-Qashash: 88) dan yang semisalnya (untuk menunjukkan bahwa Surga dan Neraka akan binasa -pent); maka katakan padanya: Segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk sirna dan binasa: maka akan binasa, sedangkan Surga dan Neraka keduanya diciptakan untuk abadi, tidak sirna dan tidak juga binasa, dan keduanya ada di akhirat, bukan di dunia (yang pasti binasa -pent).

  • PENJELASAN:

Ini bantahan atas Mu’tazilah yang mengingkari bahwa Surga dan Neraka sudah diciptakan, mereka menganggap bahwa hal itu sia-sia. Akan tetapi dalil-dalil menunjukkan bahwa bahwa Surga dan Neraka sudah disiapkan, dan ini menunjukkan bahwa keduanya sudah diciptakan.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa semuanya nanti akan binasa; maka maksudnya adalah semua yang ada di dunia, seperti pada firman-Nya:

{كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ}

Semua yang ada di bumi itu akan binasa,” (QS. Ar-Rahman: 26)

  • PENULIS BERKATA:

[40]- وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ لاَ يَمُتْنَ عِنْدَ قِيَامِ السَّاعَةِ، وَلاَ عِنْدَ النَّفْخَةِ، وَلاَ أَبَدًا، لأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلَقَهُنَّ لِلْبَقَاءَ لاَ لِلْفَنَاءِ، وَلَمْ يَكْتُبْ عَلَيْهِنَّ الْمَوْتَ، فَمَنْ قَالَ بِخِلاَفِ ذٰلِكَ؛ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ مُخَالِفٌ، وَقَدْ ضَلَّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ.

[40]- Bidadari tidak akan mati ketika tegak Hari Kiamat, tidak juga ketika ditiupnya (sangkakala), dan selama-lamanya tidak akan binasa, karena Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- menciptakan mereka untuk kekal; bukan untuk sirna , dan Allah tidak tetapkan kematian atas mereka. Sehingga, barangsiapa memiliki perkataan/pendapat yang berbeda dengan hal tersebut; maka dia adalah mubtadi’ yang menyelisihi (kebenaran), dan dia telah sesat dari jalan yang lurus.

  • PENJELASAN:

Al-Huur Al-’Iin (bidadari) telah diciptakan, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits; seperti hadits:

((لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ: لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ أَوْشَكَ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا))

Tidaklah seorang istri menggangu suaminya melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan mengatakan: Janganlah engkau mengganggunya -semoga Allah memerangimu-, dia hanya sementara di sisimu, sebentar lagi dia akan berpisah darimu menuju kami.”

  • PENULIS BERKATA:

[41]- وَخَلَقَ اللهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ، وَسَبْعَ أَرَضِيْنَ بَعْضُهَا أَسْفَلُ مِنْ بَعْضٍ، وَبَيْنَ الأَرْضِ الْعُلْيَا وَالسَّمَاءِ الدُّنْيَا: مَسِيْرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءَيْنِ: مَسِيْرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ.

[41]- Allah menciptakan tujuh langits sebagiannya di atas sebagian yang lainnya, dan (Allah ciptakan) tujuh bumi sebagiannya di bawah yang lainnya, dan (jarak) antara bumi yang tertinggi dengan langit yang terendah adalah: sejauh perjalanan lima ratus tahun, dan (jarak) antara dua langit adalah: sejauh lima ratus tahun.

  • PENJELASAN:

Jarak yang disebutkan oelh penulis terdapat pada sebagian atsar.

  • PENULIS BERKATA:

[42]- وَالْمَاءُ فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، وَعَرْشُ الرَّحْمٰنِ فَوْقَ الْمَاءِ، وَاللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى الْعَرْشِ.

[42]- Air berada di atas langit ketujuh, dan ‘Arsy Ar-Rahman berada di atas air tersebut, dan Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- berada di atas ‘Arsy.

  • PENJELASAN:

Ini menunjukkan keagungan dan ketinggian Allah dan istiwa-Nya di atas ‘Arsy, dan juga menunjukkan keagungan ‘Arsy.

  • PENULIS BERKATA:

[43]- وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ.

[43]- Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya.

  • PENJELASAN:

Ini adalah sesuai penjelasan Salaf terhadap Kursi yang Allah sebutkan dalam firman-Nya dalam ayat Kursi:

{…وَسِعَ كُرْسِيّه السَّمَاوَات وَالْأَرْض…}

“…Kursi-Nya meliputi langit dan bumi…” (QS. Al-Baqarah: 255)

  • ➡ PENULIS BERKATA:

[44]- وَهُوَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَمَا فِي الأَرَضِيْنَ السَّبْعِ، وَمَا بَيْنَهُنَّ، وَمَا تَحْتَهُنَّ، وَمَا تَحْتَ الثَّرَى، وَمَا فِي قَعْرِ الْبِحَارِ، وَمَنْبِتَ كُلِّ شَعْرَةٍ، وَكُلِّ شَجَرَةٍ، وَكُلِّ زَرْعٍ، وَكُلِّ نَبَتٍ، وَمَسْقَطَ كُلِّ وَرَقَةٍ، وَعَدَدَ ذٰلِكَ كُلِّهِ، وَعَدَدَ الْحَصَا، وَالرَّمْلِ وَالتُّرَابِ، وَمَثَاقِيْلَ الْجِبَالِ، وَقَطْرَ الأَمْطَارِ، وَأَعْمَالَ الْعِبَادِ، وَأثَارَهُمْ، وَكَلاَمَهُمْ وَأَنْفَاسَهُمْ، وَتَمْتَمَتَهُمْ، وَمَا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُوْرُهُمْ؛ يَعْلَمُ كُلَّ شَيْءٍ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ.

[44]- Dia mengetahui: apa yang ada di tujuh langit dan apa yang ada di tujuh bumi, apa yang ada di antara itu serta apa yang di bawahnya, apa yang ada di bawah tanah, apa yang ada di kedalaman lautan, tempat tumbuh: tiap helai rambut, tiap pohon, tiap tanaman, dan tiap tumbuhan, tempat jatuh tiap daun, jumlah semuanya itu, jumlah: kerikil, pasir, dan debu, beratnya gunung, tetesan hujan, amalan para hamba, bekas peninggalan mereka, perkataan mereka, nafas mereka, gumaman mereka, dan apa yang dibicarakan hati mereka: Allah mengetahui semuanya, tidak ada yang samar sesuatu pun atas-Nya dari itu semua.

  • ➡ PENJELASAN:

Semua ini menunjukkan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{…لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا}

“…agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Allah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi kalau hal itu terjadi bagaimana terjadinya.

 [{ Lanjut Ke Halaman 2 ]}

    Iklan