Faidah Pembukaan Daurah Syar`iyyah ke 5, Ma`had Imam Bukhari (Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

••

Ustadz Zainal Abidin Lc-10 Ajaran Ahli Kitab Yang Ditiru Umat Islam 9Mb

Ustadz Mizan Qudsiyah_Lc. – Fitnah Gulluw dan Kuburan 18Mb

Ajaibnya Kehidupan Seorang Muslim-Ust Mizan Qudsiyah 3Mb

SyukurAdalah Kunci Kebahagian-Ust Ali Musri Semjan Putra

Do’a Setelah Shalat Fardhu-Ustadz Zainal Abidin Lc

Do’a Terbaik Ketika Shalat-Ustadz Zainal Abidin Lc-

Perjalanan Menuju Allah dan Kampung Akhirat Oleh Ustadz Andy Octavian Latief, S.Si.,M.Sc., Ph.D.  

•••
➡ Faidah Pembukaan Daurah Syar`iyyah ke 5, Ma`had Imam Bukhari (Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

==

  • PEMBUKAAN DAUROH SOLO (Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-)

* Berikut ini adalah beberapa point penting yang bisa diambil dari pembukaan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-:

[1]- Keutamaan Berdakwah Mengajak Kepada Allah

[2]- Dibutuhkan Da’i Yang Terencana Dalam Dakwahnya Sehingga Bisa Mempersiapkan Penuntut Ilmu Agar Meningkat Menjadi Ulama

[3]- Amanah Dalam Melanjutkan Silsilah Dakwah

[4]- Da’i Butuh Kepada Ilmu Yang Kuat

[5]- Da’i Butuh Kepada Penguasaan Terhadap Realita

* Penjelasan singkat dari point-point di atas adalah:

  • ➡ [1]- Keutamaan Berdakwah Mengajak Kepada Allah

Dakwah merupakan tugas penting yang Allah memilih para rasul untuk mengemban tugas ini, 

✅ Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}

Katakanlah (wahai Rasul):“Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

✅ Allah juga berfirman:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…}

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah Thagut”…” (QS. An-Nahl: 36)

Semua nabi dan rasul adalah da’i. Dan Allah telah memilih kita untuk mengemban tugas ini; padahal kita dipenuhi kelemahan dan kekurangan. Sehingga bagi yang Allah karuniakan kepadanya untuk menjadi da’i yang mengajak kepada Allah; maka ia berada pada kebaikan yang agung; jika padanya terdapat: (1)ikhlas dan (2)mutaba’ah (mengikuti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-).

  • ➡ [2]- Dibutuhkan Da’i Yang Terencana Dalam Dakwahnya Sehingga Bisa Mempersiapkan Penuntut Ilmu Agar Meningkat Menjadi Ulama

Sangat disayangkan bahwa dalam perjalanan kita mengemban Dakwah Salafiyyah dan dalam usaha kita untuk meningkatkan dakwah: kita kurang dalam perencanaan dan pengaturan, kita hanya mengulang-ulang kitab dan pelajaran, kita kurang dalam usaha untuk memberikan keahlian bagi penuntut ilmu agar meningkat menjadi ulama, mencetak para da’i yang memiliki kemampuan untuk mengemban Dakwah Salafiyyah. Seperti pada zaman para Salaf dari kalangan para Shahabat, Tabi’in: dakwah mereka tersebar di berbagai penjuru dunia tatkala dakwah tersebut diemban oleh para ulama yang mereka berada di atas ilmu.

Sehingga zaman sekarang, tatkala dakwah diemban oleh orang-orang yang bukan ahlinya; maka Dakwah Salafiyyah memiliki banyak kekurangan dan terjadi banyak perselisihan. Kita harus tekankan pentingnya Dakwah ini, dan bahwa Dakwah ini tidak boleh diemban oleh orang-orang yang bermain-main dengan Dakwah, karena ini adalah amanah.

  • ➡ [3]- Amanah Dalam Melanjutkan Silsilah Dakwah

Aqidah yang kita dapatkan dari orang-orang sebelum kita: telah mereka korbankan untuknya berbagai pengorbanan. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menghadapi berbagai bahaya, beliau diusir dari negerinya, bahkan beliau diancam akan dibunuh: dengan sebab mempertahankan ‘Aqidah ini. Kemudian dilanjutkan oleh para Shahabat beliau yang mereka berjihad di jalan Allah dan banyak yang terbunuh: untuk mendakwahkan ‘Aqidah ini.

 

Kemudian para ulama setelah mereka: mereka berjuang untuk menuntut ilmu untuk kemudian mereka sebarkan dengan perjuangan yang dipenuhi kesulitan, bahkan untuk menulis saja mereka butuh waktu lama karena alat tulis yang sederhana. Kemudian Allah berkehendak untuk memilih kita untuk berada di atas warisan mereka, untuk berada di atas jalan (Dakwah) ini; maka jangan sampai kemudian Dakwah ini dijadikan lahan untuk kepentingan sendiri dan mencari keuntungan pribadi. Sehingga kita harus memiliki keahlian untuk membimbing umat, masing-masing dari kita harus melatih diri kita agar bisa mengemban Dakwah Salafiyyah dengan di atas ilmu.

  • ➡ [4]- Da’i Butuh Kepada Ilmu Yang Kuat

Maka kita butuh untuk menambah bacaan dan tambahan dalam menelaah, serta saling belajar di antara kita. Sehingga harus ada perwujudan terhadap Fiqih (pemahaman), yakni Fiqih yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sabdakan:

((مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ))

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya; maka Allah akan berikan Fiqih (pemahaman) dalam agama.”

Dan Fiqih (pemahaman) dalam agama adalah pemahaman terhadap hukum-hukum syar’i; dan ini terbagi menjadi 2 (dua):

(1)- Fiqih terhadap apa yang Allah syari’atkan dan perintahkan untuk diamalkan.

(2)- Fiqih terhadap apa yang Allah larang agar bisa dihindari.

Fiqih terhadap Tauhid dan Sunnah untuk bisa mengamalkan keduanya, dan Fiqih terhadap Syirik dan Bid’ah untuk bisa waspada pada keduanya. Maka lawan dari Tauhid adalah Syirik dan lawan dari Sunnah adalah Bid’ah. Maka kita harus memiliki perhatian pada dua perkara ini: mempelajari Tauhid dengan rinci dan mempelajari Sunnah dengan rinci. Dan ini butuh kepada perhatian penuh dalam mempelajari dalil (Al-Qur-an dan As-Sunnah) dan mentadabburinya, serta penunjukkannya terhadap masalah ‘Aqidah atau Ibadah, dan untuk membantu memahaminya; maka dengan menggunakan pemahaman Salaf.

  • ➡ [5]- Da’i Butuh Kepada Penguasaan Terhadap Realita

Kemudian, setelah seorang da’i memiliki ilmu yang mumpuni terhadap dalil; maka selanjutnya dibutuhkan kemampuan untuk menempatkan dalil tersebut kepada perkara tertentu atau individu tertentu. Dan hal ini butuh kepada 3 (tiga) perkara:

(1)- Mengetahui hukum syar’i.

(2)- Mengetahui keadaan keadaan (individu atau perkara) tertentu.

(3)- Mengetahui cara menempatkan hukum -yang masih umum- terhadap keadaan/kasus tertentu.

Seperti yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- lakukan terhadap Hathib yang berusaha membocorkan rahasia penyerangan Makkah dengan mengirim surat kepada kaum musyrikin, padahal jelas beliau mendapat wahyu tentang perbuatan Hathib ini dan suratnya pun sudah ditemukan; akan tapi beliau masih bertanya kepadanya: “Apa ini wahai Hathib?” Kemudian Hathib pun menjelaskan alasannya. Jadi, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah beliau ragu terhadap kabar yang beliau dapat dari Allah tentang perbuatan Hathib; akan tetapi di sini beliau bertanya tentang keadaan Hathib sebagai individu yang melakukan perbuatan tersebut, ternyata Hathib memiliki alasan tersendiri dan beliau tidak bermaksud mengkhianati Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Zaman sekarang tidak bisa kita ingkari: mudahnya informasi sampai kepada kaum muslimin, dan sering terjadi: informasi yang mereka terima ternyata adalah berbagai syubhat (kerancuan dalam agama), sehingga mereka seperti orang-orang sakit karena dipenuhi syubhat. Maka dibutuhkan keahlian agar nantinya tepat dalam mengobati mereka, bukan langsung menghukumi kaum muslimin dengan: Mubtadi’, Munafiq, atau Kafir.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

==

  • Di antara Faidah Pembukaan Daurah Syar`iyyah ke 5, Ma`had Imam Bukhari oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily adalah:

1. Dakwah adalah Tugas Agung, di mana Allah memilih para nabi untuk mengembannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengetahui jalan ini, hendaknya tidak menganggap remeh, tapi ia harus aktif di jalan ini.

2. Jika 2-3 orang da`i berkumpul untuk belajar dan mengingat kembali materi dakwah, maka itu sebuah keberuntungan, lalu bagaimana jika yang berkumpul itu adalah para da`i dengan jumlah yang sangat banyak.

3. Sangat disayangkan, bahwa dakwah salafiyah ini kekurangan perencanaan dan pengaturan. Hendaknya ada para leader dakwah yang menguasai realita dan mampu berinteraksi dengan perbedaan yang terjadi dengan pihak, baik internal maupun eksternal.

4. Kita menginginkan hilangnya perselisihan di antara para salafy dan da`i da`inya.

5. Tidak boleh menjilat dalam medan dakwah.

6. Para da`i jangan sampai membaca Al-Qur’an seperti orang awam yang tidak paham apa-apa. Hendaknya membacanya dengan tadabbur dan pemahaman.

7. Dakwah Salafiyah bukan sekedar slogan-slogan di majelis-majelis, tapi harus membumi dalam kehidupan nyata.

8. Seorang salafy hendaknya mengetahui, bahwa pembagian tauhid adalah pembagian Istiqra’i. Dan ia harus mampu menjelaskan apa itu istiqra’i.

9. Seorang da`i hendaknya mengetahui kaidah-kaidah mantiq dan kalam, agar bisa membantah mereka dengan amunisi mereka.

10. Banyak orang yang dikuasai oleh media massa, dan ini cukup berbahaya.

12. Faham dalam agama artinya: Faham tentang hal yang disyariatkan dan faham apa yang dilarang.

13. Di antara perkara yang paling sulit, adalah menerapkan hukum yang mutlak kepada mu`ayyan. Untuk itu maka harus menguasai: a. Hukum Mutlak. b. Kondisi mu`ayyan. c. Mengetahui bagaimana cara menerapkan hukum mutlak kepada mu`ayyan.

14. Wajib tatsabbut sebelum menerapkan hukum, dan ini menjadi kekurangan sebagian kita.

15. Sebagian orang menganggap, bahwa semua orang adalah musuh “salafy”.

16. Dakwah dengan amunisi ilmu, jujur dalam dakwah dan mempunyai kelembutan.

17. Kita berada di masa lemahnya sunnah, menyebarnya kebodohan walaupun ijazah di mana-mana, dan tersebarnya syubhat walaupun perpustakaan di mana-mana.

18. Kita harus melihat kepada maslahat umat dan menerapkan maqashid syari`ah tanpa membuat orang lari.

19. Jihad tidak dilakukan karena banyaknya umat Islam, tapi karena adanya orang-orang yang layak untuk berjihad, di antaranya adalah As-Sam`u wa Ath-Thâ`ah

Wallâhu A`lam

Solo 14/4/1440

25/12/2018

Danni Nursalim Harun Al Bandunjy Al Azhary

==

بسم الله الرحمن الرحيم

  • ➡ *FAWAID PEMBUKAAN DAURAH SYAR’IYYAH ke 5 di SOLO*

17 Rabiul Tsani 1440-25 Desember 2018

Syaikh Prof Dr Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah membuka dengan pujian kepada Allah dan sholawat, kemudian memberikan nasehat bahwa:

Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang besar ini dengan berkumpulnya kita disini, seandainya bukan karena taufiq dari Allah maka tidaklah bisa kita bertemu di sini untuk melakukan daurah ini. Semoga daurah ini dapat mengandung barokah dan kemanfaatan. Ini adalah Daurah yang ke-5 yang diadakan oleh Mahad al-Bukhori yang dipimpin oleh al-Ustadz Ahmas Faiz hafizhullah dimana ini adalah perjuangan yang besar dan semoga diberikan barokah. Ma’had ini telah memberikan andil kontribusi yang besar dalam tersebarnya ilmu syar’i dan semoga akan senantiasa diberikan barokah. Dan semoga para pengurus Mahad dan panitia daurah senantiasa diberikan kebarokahan. Begitupula kalian wahai para peserta daurah – para asatidz yang telah mengorbankan waktu dan harta untuk dapat mengikuti daurah ini.

Semoga Allah senantiasa melanggengkan nikmat menuntut ilmu ini kepada kita dan kita diwafatkan diatas jalan dakwah menyeru manusia kepada Allah – mentauhidkan-Nya. sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS. An-Nahl: 36)

Dimana para rasul diutus untuk menyeru manusia agar bertauhid mengesakan-Nya dengan tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta menjauhkan mereka dari syirik. Dan semoga kita senantiasa berada diatas jalan tersebut. Sungguh kita telah diberikan kebaikan yang besar, maka bagi orang yang telah mengerti dan dianugerahi nikmat untuk tidak bermalas-malasan dalam berdakwah di jalan Allah. Dia harus bersungguh-sungguh dalam berdakwah hanya untuk mengharap ridho Allah semata sampai diwafatkan dalam keadaan tersebut. Pekerjaan dakwah ini bukanlah ditujukkan untuk mencari kekuasaan ataupun perdagangan namun Dakwah ini diperuntukkan untuk mencari ridho-Nya. Maka barangsiapa yang senantiasa berdakwah dengan dakwah tauhid maka dia berada dalam kebaikan yang sangat besar.

✅ Dalam dakwah tersebut dibutuhkan dua hal yaitu:

1. Ikhlas karena Allah dalam beramal sholih

2. Mutaba’ah mengikuti petunjuk dari Nabi ﷺ

Semoga Allah senantiasa memberikan kebarokahan kepada kalian, mengangkat derajat kalian,

Usaha besar dari Mahad Imam al-Bukhori dimana telah memberikan kemudahan untuk setiap tahunnya. Inilah yang memberikan motivasi kepada ku (Syaikh hafizhahullah) untuk datang ke daurah ini, karena yang aku ajari bukanlah asatidz yang baru menuntut ilmu maupun orang awam, namun orang yang telah diberikan pemahaman dan keutamaan ilmu sebagai dai-dai yang besaar. Sekiranya ada dua orang yang saling mengingatkan tentang pentingnya berdakwah menyeru orang untuk bertauhid adalah sesuatu yang sangat penting maka bagaimana sekiranya itu melibatkan banyak orang seperti yang ada di daurah ini.

Dalam waktu yang terbatas kita akan belajar dan setelah selesai kalian pun akan kembali untuk berdakwah di daerahnya masing-masing.

Dalam daurah ini, tidak ada yang baru dari apa yang aku sampaikan kecuali hanya tadzkir (pengingat) tentang permasalahan yang harus difahami oleh para dai dan penuntut ilmu, beberapa permasalahan itu adalah:

✅ 1. Harus mempertimbangan apa yang bermanfaat dengan berkumpulnya kita, bukan hanya dengan memahami tentang, pentingnya aqidah, adab-adab menuntut ilmu, dan ibadah-ibadah lainnya namun disini dibutuhkan pengingat bahwa berkumpulnya kita disini ada beberapa target yang harus dicapai.

Dalam dakwah kita diatas manhaj salaf, kita kurang dalam meluruskan jalan dakwah kita, kita kurang dalam mengatur keharmonisan dakwah, kurang dalam mengulang-ngulang pembelajaran kitab.

✅ 2. Kita butuh pembelajaran bagi dai yang bisa menjadi panutan dalam memperbaiki permasalahan yang ada di sekitarnya, mengetahui permasalahan kontemporer yang terjadi sehingga dapat memberikan penerangan kepada orang yang membutuhkan, dapat mengaplikasikan dakwah berdasarkan manhaj salaf sebagaimana yang telah ditempuh oleh para ulama sholih kita yang terdahulu. Setiap orang dari ulama salaf adalah panutan maka dakwah mereka berhasil dan berkembang pesat, maka kita pun harus menyiapkan dai-dai yang dapat bertindak sebagai panutan bagi orang-orang yang didakwahinya.

Ini adalah tadzkir, kita kurang dalam mempelajari aturan dalam menuntut ilmu dan memahami masalah

Kita butuh ulama yang faham dalam bertindak menyelesaikan permasalahan umat.

Sebagaimana ulama terdahulu faqih dalam berbagai masalah. Dimana mereka berada dalam ilmu rasyikh sedangkan zaman sekarang ada cacat pada ulama belakangan yaitu kekurangan dalam masalah faham agama.

Kita dapati orang-orang yang mempunyai ijazah yang tinggi namun tapi tidak mengetahui tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang kafir, bagaimana berinteraksi dengan orang yang berbeda pemahamannya dengan kita seperti berinteraksi dengan ahli bid’ah.

 ••• Lanjut Ke Halaman 2 •••

Iklan