Indahnya Senggama (Hubungan Intim) Bag.1

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Hubungan Intim Ketika Haid Karena Tidak Tahu

2.Memaksa Istri untuk Melakukan Hubungan Intim

3.Hukum Phoneseks Dalam Islam

4.Berkah di Balik Doa Sebelum Hubungan Intim

 5.Berapa Kali Hubungan Seks dalam Sepekan? |

6.Berdzikirlah Sebelum Hubungan Intim

7.Oral Seks Haramkah?

8.Adab ‘Jima(Hubungan Seks)

9.Apakah Istri juga Membaca Doa sebelum Jima’? 

10.Waktu Terbaik Berhubungan Badan Sesuai Sunnah |

••

Hubungan Seksual Suami Istri-Ust Ahmad Zainudin

Adab Berhubungan Intim Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli,)

Bag1Bag2Bag3Bag4Bag5

Adab – adab Berhubungan Suami Istri-Ustadz Khaliful Hadi

Ust. Abdurrahman –Adab Berhubungan Suami – Istri( Jima’ )

Ust. Abdurrahman – Hukum Seputar Jima

••

Tuntunan Nabi ﺻﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ Dalam Jima’Penulis: Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Hukum Sodomi Terhadap Istri

Hukum Melepas Pakaian Antara Suami Istri

Hukum Onani

Manfaat Jima

==

➡ INDAHNYA BERSENGGAMA (Bag-1)

(Khusus Dewasa)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

  • ➡ (1)-MANFAAT BERSENGGAMA :

✅ Imam Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata :

وَأَمَّا الْجِمَاعُ وَالْبَاهُ، فَكَانَ هَدْيُهُ فِيهِ أَكْمَلَ هَدْيٍ، يَحْفَظُ بِهِ الصِّحَّةَ، وَتَتِمُّ بِهِ اللَّذَّةُ وَسُرُورُ النَّفْسِ، وَيَحْصُلُ بِهِ مَقَاصِدُهُ الَّتِي وُضِعَ لِأَجْلِهَا، فَإِنَّ الْجِمَاعَ وُضِعَ فِي الْأَصْلِ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ هِيَ مَقَاصِدُهُ الْأَصْلِيَّةُ:

Adapun bersenggama atau hubungan seksual, sungguh petunjuk beliau -shalallahu alaihi wasallam- dalam masalah ini merupakan petunjuk yang paling sempurna. Dengan bersenggama, kesehatan akan terjaga, kelezatan dan keceriaan jiwa akan sempurna, dan akan tercapai semua maksud yang telah diletakkan karenanya. Bersenggama atau hubungan seksual pada dasarnya diletakkan untuk tiga perkara yang merupakan tujuan asalnya:

أَحَدُهَا: حِفْظُ النَّسْلِ، وَدَوَامُ النَّوْعِ إِلَى أَنْ تَتَكَامَلَ الْعُدَّةُ الَّتِي قَدَّرَ اللَّهُ بُرُوزَهَا إِلَى هَذَا الْعَالَمِ.

Pertama: menjaga keturunan, melestarikan makhluk jenis manusia sampai sempurnanya jumlah yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala kemunculannya di alam semesta ini.

الثَّانِي: إِخْرَاجُ الْمَاءِ الَّذِي يَضُرُّ احْتِبَاسُهُ وَاحْتِقَانُهُ بِجُمْلَةِ الْبَدَنِ.

Kedua: mengeluarkan sperma, yang jika ditahan dan tidak dikeluarkan akan membawa kemudharatan bagi badan.

الثَّالِثُ: قَضَاءُ الْوَطَرِ، وَنَيْلُ اللَّذَّةِ، وَالتَّمَتُّعُ بِالنِّعْمَةِ، وَهَذِهِ وَحْدَهَا هِيَ الْفَائِدَةُ الَّتِي فِي الْجَنَّةِ، إِذْ لَا تَنَاسُلَ هُنَاكَ، وَلَا احْتِقَانَ يَسْتَفْرِغُهُ الْإِنْزَالُ.

Ketiga: menyalurkan nafsu syahwat, dan mendapatkan kelezatan serta bersenang-senang dengan kenikmatan. Dan ini adalah satu-satunya faedah jima’ yang akan dijumpai di dalam surga, yang di sana tidak terdapat perolehan keturunan, dan tidak akan dijumpai tertahannya huhungan seksual karena selesainya hubungan tersebut dengan keluarnya sperma.

  • ➡ (2)-TIGA PERKARA YANG BERMANFAAT

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: يَنْبَغِي لِلرَّجُلِ أَنْ يَتَعَاهَدَ مِنْ نَفْسِهِ ثَلَاثًا: أَنْ لَا يَدَعَ الْمَشْيَ، فَإِنِ احْتَاجَ إِلَيْهِ يَوْمًا قَدَرَ عَلَيْهِ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَدَعَ الْأَكْلَ، فَإِنَّ أَمْعَاءَهُ تَضِيقُ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَدَعَ الْجِمَاعَ، فَإِنَّ الْبِئْرَ إِذَا لَمْ تُنْزَحْ ذَهَبَ مَاؤُهَا

✅ Sebagian Salaf berkata: “Setiap orang wajib melaksanakan tiga perkara untuk dirinya:

1. Tidak meninggalkan berjalan kaki dalam sehari sesuai kebutuhan yang ia tentukan untuk dirinya.

2. Seyogyanya tidak meninggalkan makan. Jika ia meninggalkan makan, lambungnya akan menyempit.

3. Hendaknya tidak meninggalkan hubungan seksual. Sebagaimana sumur, apabila airnya tidak diambil, rnaka airnya akan sirna dengan sendirinya.” (Thibbun Nabawi Ibnu Qoyyim 1/187)

  • ➡ (3)-AKIBAT TERLALU LAMA MENINGGALKAN JIMA’ :

Muahammad bin Zakariya -rahimahullah- mengatakan :

مَنْ تَرَكَ الْجِمَاعَ مُدَّةً طَوِيلَةً ضَعُفَتْ قُوَى أَعْصَابِهِ، وَانْسَدَّتْ مَجَارِيهَا، وَتَقَلَّصَ ذَكَرُهُ

Barangsiapa meninggalkan hubungan seksual dalam jangka waktu yang sangat lama, kekuatan otot-ototnya akan melemah, salurannya akan tersumbat, dan kemaluannya akan mengkerut.”

وَرَأَيْتُ جَمَاعَةً تَرَكُوهُ لِنَوْعٍ مِنَ التَّقَشُّفِ، فَبَرُدَتْ أَبْدَانُهُمْ، وَعَسُرَتْ حَرَكَاتُهُمْ، وَوَقَعَتْ عَلَيْهِمْ كَآبَةٌ بِلَا سَبَبٍ، وَقَلَّتْ شَهَوَاتُهُمْ وَهَضْمُهُمْ،

Aku menjumpai sekelompok orang meninggalkan perkara ini dalam rangka menjalankan taqasysyuf (kehidupan yang meninggalkan kesenangan duniawi seperti hubungan intim). Maka dinginlah badan-badan mereka, gerakan mereka menjadi lamban, dan pada mereka akan muncul rasa sedih tanpa sebab, dan pada akhirnya melemahlah syahwat mereka.” (Perkataan beliau ini dinukil oleh Imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad , 4/228-229)

  • ➡ (4)-TIGA HIKMAH BERSENGGAMA :

✅ Imam Ibnu Qoyyim -rahimahullah- menambahkan penuturannya :

وَمِنْ مَنَافِعِهِ: غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ النَّفْسِ، وَالْقُدْرَةُ عَلَى الْعِفَّةِ عَنِ الْحَرَامِ

Dan di antara manfaat hubungan seksual adalah:

1. Tertunduknya pandangan.

2. Menahan diri.

3. Kemampuan untuk menjaga kehormatan dari perkara yang diharamkan. (Zaadul Ma’ad , Ibnu Qoyyim 4/228-229)

  • ➡ (5)-KAPAN JIMA’ DIKATAKAN IBADAH ? :

Oleh karena itupula jima’ atau bersenggama bisa bernilaikan ibadah jika diniatkan demi hal hal diatas

✅ Dari Abu Dzar -radhiyallahu anhu- dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

Dan hubungan intim di antara kalian adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) bisa bernilai pahala?” Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina) bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan pahala.” (HR. Muslim : 1006).

Sebagaimana pula memberi nafkah kepada keluarga yang diniatkan karena mengharap ganjaan dari Allah dicatat sebagai pahala sedekah

  • ➡ (6)-MEBERI NAFKAH KEPADA ISTRI ADALAH SEDEKAH :

✅ Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Tidaklah nafkah yang engkau cari untuk mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, sampai apa yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari : 56)

  • ➡ (7)- KEINDAHAN MENIKAH :

Alangkah nikmatnya bagi mereka yang memiliki istri dan keluarga, dimana mereka bisa menambah dan memperberat amal kebajikannya dengan hal hal yang ringan dan menyenangkan bahkan mencandai istri yang bertujuan membahagiakannya nilainya ibadah, yang tentunya semua ini tidak bisa diraih oleh kaum yang masih jomblo, sebagaimana Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengisyaratkan bahwa sehebat apapun ibadah orang yang belum menikah , tidak akan sempurna agamanya sehingga ia menikah.

✅ Dari Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 5486 . Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

  • ➡ (8)-ISTRI SHOLIHAH HARTA DAN PERHIASAN TERMAHAL :

Bahkan tidak ada perhiasan terindah dan nikmat dunia terbesar selain istri shalihah.

✅ Rasulullah -shalallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR. Muslim : 1467)

  • (9)-POLIGAMI HANYA BAGI YANG MAMPU :

Jika dengan seorang istri saja demikian besar pahala dan kebaikan yang bisa diraih , maka bagaimana pula jika dari beberapa muslimah ,,,(Bersambung)

==

INDAHNYA BERSENGGAMA (bag-2)

(Khusus Dewasa)

  • ➡ (1)-PARA NABI MENYUKAI JIMA’ DAN PERNIKAHAN

Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan tentang keutamaan bersenggama baik dari sisi agama ataupun dari sisi dunia, oleh karena itu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menyukainya dan menganjurkan umatnya untuk meraih kebaikan kebaikan tersebut dengan menikah

Beliau -shalallahu alaihi wasallam- bersabda :

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ…

Dijadikan kecintaan bagiku dari urusan dunia kalian: wanita dan wewangian...(HR Ahmad, An-Nasai)

✅ Dalam riwayat lain ada tambahan :

أَصْبِرَ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَلاَ أَصْبِرُ عَنْهُنَّ

Aku bisa sabar dari makan dan minum, akan tetapi aku tidak bisa sabar dari mereka (para wanita).” (HR Ahmad)

✅ Dari Ma’qil bin Yasar -radhiyallahu anhu- , Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda :

«أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ: النِّكَاحُ، وَالسِّوَاكُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالْحِنَّاءُ»

Empat perkara yang merupakan sunnah para rasul, yaitu: menikah, menggunakan siwak, memakai minyak wangi, dan memakai hinna’ (pewarna yang terbuat dari daun).” (HR Tirmidzi)

Banyak sekali dalil yang menunjukan perintah dan anjuran untuk menikah diantaranya :

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

Menikahlah kalian, sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat. “

  • ➡ (2)-SEBAIK BAIK DARI UMAT INI YANG PALING BANYAK ISTRINYA :

✅ Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- berkata:

«خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً»

Sebaik-baik orang di dalam umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” (HR Bukhari)

✅ Dan beliau -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

إِنِّي أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Sesungguhnya aku mengawini wanita-wanita, aku tidur dan aku juga bangun (sholat), aku berpuasa dan aku juga berbuka. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia tidak termasuk ke dalam golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)

✅ Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kalian telah memiliki kemampuan, maka hendaklah dia menikah. Karena pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mempunyai kemampuan, hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya puasa itu sebagai tameng baginya” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikianlah semoga hal ini sebagai motifator bagi para Jomblo agar semangat dan tidak putus asa dari rahmat Allah, minimal menancapkan niat didada, karena niat yang jujur itu tetap berpahala….(Bersambung)

==

INDAHNYA BERSENGGAMA (Bag-3)

(Khusus Dewasa)

  • ➡ (1)-ANJURAN PEMANASAN SEBELUM JIMA’ :

✅ Imam Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata tentang Petunjuk Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dalam bersenggama :

وَمِمَّا يَنْبَغِي تَقْدِيمُهُ عَلَى الْجِمَاعِ مُلَاعَبَةُ الْمَرْأَةِ، وَتَقْبِيلُهَا، وَمَصُّ لِسَانِهَا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُلَاعِبُ أَهْلَهُ وَيُقَبِّلُهَا.

Dan yang harus didahulukan dalam besenggama adalah mencumbu sang istri, menciumnya, dan menghisap lidahnya. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- terhadap para istrinya.

  • ➡ (2)-CIUMAN DAN CUMBU RAYU :

وَرَوَى أبو داود فِي ” سُنَنِهِ ” أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «كَانَ يُقَبِّلُ عائشة، وَيَمُصُّ لِسَانَهَا» . وَيُذْكَرُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ الْمُوَاقَعَةِ قَبْلَ الْمُلَاعَبَةِ» .

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya bahwasanya beliau mencium Aisyah -radhiyallahu anha- dan menghisap lidahnya. Dan disebutkan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- melarang hubungan seksual sebelum dilakukannya mula’abah (pemanasan).”

  • ➡ (3)-ANJURAN MANDI SETIAP KALI BERJIMA’ :

وَكَانَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رُبَّمَا جَامَعَ نِسَاءَهُ كُلَّهُنَّ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ، وَرُبَّمَا اغْتَسَلَ عِنْدَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ، فَرَوَى مسلم فِي ” صَحِيحِهِ ” عَنْ أنس، أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ( «كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ» ) .

Terkadang beliau menyetubuhi semua istrinya dengan sekali mandi. Dan terkadang beliau mandi setiap selesai dari menyetubuhi salah seorang istrinya. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Anas, bahwa Nabi pernah berkeliling kepada para istrinya dengan sekali mandi.

وَرَوَى أبو داود فِي ” سُنَنِهِ ” عَنْ أبي رافع مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «طَافَ عَلَى نِسَائِهِ فِي لَيْلَةٍ، فَاغْتَسَلَ عِنْدَ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُسْلًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لَوِ اغْتَسَلْتَ غُسْلًا وَاحِدًا، فَقَالَ: (هَذَا أَزْكَى وَأَطْهَرُ وَأَطْيَبُ» ) .

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dari Abu Rafi’ maula Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- , bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- telah menggilir seluruh istrinya dalam satu malam dan mandi pada setiap istri. Lalu aku mengatakan: “Ya Rasulullah, andai engkau mandi sekali saja.” Beliau menjawab: “Ini lebih menyegarkan dan lebih bersih serta lebih baik.”

  • ➡ (4)-BERWUDHU DALAM MENGULANGI JIMA’ :

وَشُرِعَ لِلْمُجَامِعِ إِذَا أَرَادَ الْعَوْدَ قَبْلَ الْغُسْلِ الْوُضُوءُ بَيْنَ الْجِمَاعَيْنِ، كَمَا رَوَى مسلم فِي ” صَحِيحِهِ ” مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( «إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ» ) .

Orang yang melakukan hubungan seksual dan ingin mengulangi hubungannya sebelum mandi, disyariatkan untuk berwudhu. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu anhu- ia berkata, Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berhubungan seks dengan istrinya kemudian ingin mengulanginya, hendaklah dia berwudhu.”

  • ➡ (5)-AGAR GAIRAH DATANG KEMBALI :

وَفِي ا

لْغُسْلِ وَالْوُضُوءِ بَعْدَ الْوَطْءِ مِنَ النَّشَاطِ، وَطِيبِ النَّفْسِ، وَإِخْلَافِ بَعْضِ مَا تَحَلَّلَ بِالْجِمَاعِ، وَكَمَالِ الطُّهْرِ وَالنَّظَافَةِ، وَاجْتِمَاعِ الْحَارِّ الْغَرِيزِيِّ إِلَى دَاخِلِ الْبَدَنِ بَعْدَ انْتِشَارِهِ بِالْجِمَاعِ، وَحُصُولِ النَّظَافَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللَّهُ، وَيَبْغَضُ خِلَافَهَا مَا هُوَ مِنْ أَحْسَنِ التَّدْبِيرِ فِي الْجِمَاعِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ وَالْقُوَى فِيهِ.

Di dalam mandi dan berwudhu terdapat kegairahan (membangkitkan gairah sex), menyegarkan jiwa, memulihkan sebagian rasa letih setelah melakukan hubungan seksual, menyempurnakan kesucian dan kebersihan, mengumpulkan kehangatan alami ke dalam badan setelah tersebar dengan berjima’, diperolehnya kebersihan yang dicintai oleh Allah dan Allah benci lawannya. Dan ini merupakan pengaturan yang paling baik dalam jima’, menjaga kesehatan dan kekuatan di dalam jima’. (Zaadul Ma’ad, Ibnu Qoyyim) (Bersambung)

==

INDAHNYA BERSENGGAMA (Bag-4)

(Khusus Dewasa)

  • ➡ (1)-BERSENGGAMA SAAT BADAN SEDANG FIT :

✅ Imam Ibnu Qoyyim -rahimahullah- menuturkan tentang keadaan yang paling afdhal dalam bersenggama :

وَأَنْفَعُ الْجِمَاعِ: مَا حَصَلَ بَعْدَ الْهَضْمِ، وَعِنْدَ اعْتِدَالِ الْبَدَنِ فِي حَرِّهِ وَبَرْدِهِ، وَيُبُوسَتِهِ وَرُطُوبَتِهِ، وَخَلَائِهِ وَامْتِلَائِهِ.

Jima’ yang paling bermanfaat adalah yang dilakukan setelah tercernanya makanan, dan ketika badan dalam kondisi yang pertengahan baik panas dan dinginnya, kering dan lembabnya, maupun kosong dan penuhnya (perut).

وَضَرَرُهُ عِنْدَ امْتِلَاءِ الْبَدَنِ أَسْهَلُ وَأَقَلُّ مِنْ ضَرَرِهِ عِنْدَ خُلُوِّهِ، وَكَذَلِكَ ضَرَرُهُ عِنْدَ كَثْرَةِ الرُّطُوبَةِ أَقَلُّ مِنْهُ عِنْدَ الْيُبُوسَةِ، وَعِنْدَ حَرَارَتِهِ أَقَلُّ مِنْهُ عِنْدَ بُرُودَتِهِ،

Kemudharatannya ketika badan dalam keadaan penuh lebih ringan dan lebih sedikit daripada ketika kosongnya.

Demikian pula kemudharatannya lebih ringan ketika kelembabannya tinggi daripada ketika kering. Dan kemudharatan jima’ keitika badan dalam keadaan panas lebih sedikit daripada ketika badan dalam keadaan dingin.

  • ➡ (2)-SAAT YANG TEPAT BERHUBUNGAN BADAN :

وَإِنَّمَا يَنْبَغِي أَنْ يُجَامِعَ إِذَا اشْتَدَّتِ الشَّهْوَةُ، وَحَصَلَ الِانْتِشَارُ التَّامُّ الَّذِي لَيْسَ عَنْ تَكَلُّفٍ وَلَا فِكْرٍ فِي صُورَةٍ، وَلَا نَظَرٍ مُتَتَابِعٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَدْعِيَ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ وَيَتَكَلَّفَهَا، وَيَحْمِلَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا، وَلْيُبَادِرْ إِلَيْهِ إِذَا هَاجَتْ بِهِ كَثْرَةُ الْمَنِيِّ، وَاشْتَدَّ شَبَقُهُ.

Selayaknya hubungan badan dilakukan apabila syahwat dan gairah seks mulai bangkit dan memuncak. Bukan karena memaksakan diri memikirkan gambar (seperti gambar porno) , dan bukan pula karena pandangan yang terus menerus. Dan tidak sepantasnya untuk mencari-cari sebab bangkitnya syahwat seksualnya dan membebani serta memaksakan diri untuk melakukannya. Dan hendaknya segera melakukan hubungan seksual apabila telah tergerak untuk melakukannya karena banyaknya sperma, dan mulai menguat serta membesar nafsu syahwatnya.

  • ➡ (3)-PERKARA YANG DAPAT MENGURANGI SYAHWAT :

وَلْيَحْذَرْ جِمَاعَ الْعَجُوزِ وَالصَّغِيرَةِ الَّتِي لَا يُوطَأُ مِثْلُهَا، وَالَّتِي لَا شَهْوَةَ لَهَا، وَالْمَرِيضَةِ، وَالْقَبِيحَةِ الْمَنْظَرِ، وَالْبَغِيضَةِ، فَوَطْءُ هَؤُلَاءِ يُوهِنُ الْقُوَى، وَيُضْعِفُ الْجِمَاعَ بِالْخَاصِّيَّةِ.

Hendaklah menjauhi hubungan seksual dengan wanita yang sudah tua renta (tidak ada lagi syahwatnya) serta anak kecil yang tidak bisa digauli (masih kanak-kanak,), wanita yang tidak mempunya syahwat, wanita yang sakit, wanita yang jelek dipandang, dan wanita yang dibenci. Menggauli mereka ini akan melemahkan kekuatan, khususnya kemampuan hubungan seks.

  • ➡ (4)-ANTARA GADIS ATAU JANDA :

وَغَلِطَ مَنْ قَالَ مِنَ الْأَطِبَّاءِ: إِنَّ جِمَاعَ الثَّيِّبِ أَنْفَعُ مِنْ جِمَاعِ الْبِكْرِ وَأَحْفَظُ لِلصِّحَّةِ، وَهَذَا مِنَ الْقِيَاسِ الْفَاسِدِ، حَتَّى رُبَّمَا حَذَّرَ مِنْهُ بَعْضُهُمْ، وَهُوَ مُخَالِفٌ لِمَا عَلَيْهِ عُقَلَاءُ النَّاسِ، وَلِمَا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ الطَّبِيعَةُ وَالشَّرِيعَةُ.

Telah keliru kalangan para Thabib yang mengatakan : “Hubungan seks dengan seorang janda lebih bermanfaat daripada hubungan seks dengan perawan, bahkan hal itu lebih menjaga kesehatan.” Ini merupakan kias yang rusak, sehingga barangkali sebagian mereka telah memperingatkan dari hal ini. Namun hal ini menyelisihi pendapat orang-orang yang berakal, dan menyelisihi apa yang telah disepakati oleh fitrah manusia dan syariat.

  • ➡ (5)-KEUTAMAAN BERSENGGAMA DENGAN GADIS :

وَفِي جِمَاعِ الْبِكْرِ مِنَ الْخَاصِّيَّةِ وَكَمَالِ التَّعَلُّقِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ مُجَامِعِهَا، وَامْتِلَاءِ قَلْبِهَا مِنْ مَحَبَّتِهِ، وَعَدَمِ تَقْسِيمِ هَوَاهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ، مَا لَيْسَ لِلثَّيِّبِ.

Di dalam berhubungan seks dengan perawan terdapat kekhususan dan kesempurnaan hubungan, keterpautan hati antara si gadis dengan orang yang menggaulinya, hatinya dipenuhi oleh perasaan cinta kepada orang tersebut, jiwa dan perasaannya tidak terbagi antara lelaki yang menggaulinya dengan selainnya. Tidak seperti keadaan seorang janda.

وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لجابر: ( «هَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا» ) ، وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ كَمَالِ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، أَنَّهُنَّ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ أَحَدٌ قَبْلَ مَنْ جُعِلْنَ لَهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah bersabda kepada Jabir: “Mengapa engkau tidak menikahi perawan saja?” Dan sungguh Allah telah merjadikan kesempurnaan wanita-wanita surga dari kalangan bidadari, bahwa mereka itu belum pernah disentuh oleh siapapun juga (perawan).

وَقَالَتْ عائشة لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «أَرَأَيْتَ لَوْ مَرَرْتَ بِشَجَرَةٍ قَدْ أُرْتِعَ فِيهَا، وَشَجَرَةٍ لَمْ يُرْتَعْ فِيهَا، فَفِي أَيِّهِمَا كُنْتَ تُرْتِعُ بَعِيرَكَ؟ قَالَ: (فِي الَّتِي لَمْ يُرْتَعْ فِيهَا» ) .تُرِيدُ أَنَّهُ لَمْ يَأْخُذْ بِكْرًا غَيْرَهَا.

Aisyah -radhiyallahu anha- berkata kepada Nabi: “Bagaimana pendapatmu andai engkau melewati sebuah pohon (rumput) yang pernah digembalakan oleh orang lain, dan sebuah pohon (rumput) yang belum pernah digembalakan oleh siapapun. Di pohon manakah engkau menggembalakan untamu?” Beliau bersabda: “Tentu di pohon yang belum pernah disinggahi.”

Dan Aisyah -radhiyallahu anha- menginginkan dengan pertanyaan itu bahwa beliau tidak menikahi perawan selainnya.

 ((( Lanjut Ke Halaman 2)))

    Iklan