Penjelasan Kitab Tauhid BAB 10 – Termasuk Syirik Menyembelih untuk Selain Allah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Berkurban Untuk Selain Allah

2.Hukum Menyembelih Untuk Selain Allah Dengan Maksud Kesembuhan

3.Sembelihanku Hanya untuk Allah

4.Menyembelih untuk Selain Allah dengan Tujuan Untuk Berobat

5.Menyembelih Tumbal Adalah Syirik Akbar

6.Tempat Terlarang Untuk Menyembelih

6.Cara Menghilangkan Was-was KetikaShalat Atau Wudhu

8.Bolehkah Kitab Barzanji Diamalkan?

9. Wahai Ayah Bunda, Pilihkan Guru YangShalih Untuk Buah Hatimu

10.Janganlah Penuntut Ilmu Seperti Abu Syibrin

11.Solusi Bingung Pilih Jurusan Kuliah

••

Bolehkah Kita Menyembelih untuk Selain Allah-Ust Mizan Qudsiyah

Menyembelih untuk Selain Allah-Ust Mizan Qudsiyah

Hukum Menyembelih di Tempat Sembelihan yang Bukan Karena Allah-Ust Mizan Qudsiyah

Menyembelih di Tempat Sembelihan yang Bukan Karena Allah-Ust Mizan Qudsiyah-Ust M.Abduh Tuasikal

PERUMPAMAAN TEMAN BAIK DAN BURUK-Ust Ahmad Sabiq

==

Ebook

Hukum Menyembelih Untuk Selain Allah

Perusak Keislaman

*Judul e-Book:*Aqidah al-Wala wa al-Bara (Aqidah Asing yang Dianggap Usang)*Penyusun:*M. Saifudin Hakim Ukuran:*.2,7MB.*Halaman:139 halaman

••

  • Penjelasan Kitab Tauhid BAB 10 – Menyembelih untuk Selain Allah

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

BAB 10

بَابُ مَا جَاءَ فِي الذَّبْحِ لِغَيْرِ اللهِ

MENYEMBELIH BINATANG UNTUK SELAIN ALLAH([1])

✅ Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

Katakanlah, bahwa sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am: 162-163). ([2])

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat untuk Rabbmu, dan sembelihlah kurban (untuk-Nya).” (QS. Al Kautsar: 2). ([3])

✅ Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku tentang empat perkara:

( لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ )

Allah melaknat orang-orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah, Allah melaknat orang-orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang-orang yang melindungi orang yang berbuat kejahatan, dan Allah melaknat orang-orang yang merubah tanda batas tanah.” (HR. Muslim). ([4])

✅ Thariq bin Syihab radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلَ الْجَنَّةَ رَجُلٌ فِيْ ذُبَابٍ, وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِيْ ذُبَابٍ، قَالُوْا: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَرَّ رَجُلاَنِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لاَ يَجُوْزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا، فَقَالُوْا لأَحَدِهِمَا: قَرِّبْ، قَالَ: لَيْسَ عِنْدِيْ شَيْءٌ أُقَرِّبُ، قَالُوْا لَهُ: قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُ فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوْا لِلآخَرِ: قَرِّبْ، فَقَالَ: مَا كُنْتُ لأُقَرِّبَ ِلأحَدٍ شَيْئًا دُوْنَ اللهِ U، فَضَرَبُوْا عُنُقَهُ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ

“Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula, para sahabat bertanya: “bagaimana itu bisa terjadi ya Rasulullah? Rasul menjawab: “ada dua orang berjalan melewati sekelompok orang yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sembelihan binatang untuknya terlebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi: “persembahkanlah sesuatu untuknya! ia menjawab: “saya tidak mempunyai apapun yang akan saya persembahkan untuknya”,  mereka berkata lagi: persembahkan untuknya walaupun seekor lalat! maka iapun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka lepaskan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk ke dalam neraka karenanya, kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain: persembahkalah untuknya sesuatu! ia menjawab: “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk siapapun selain Allah”, maka merekapun memenggal lehernya, dan iapun masuk ke dalam surga.” (HR. Ahmad). ([5])

➡ Kandungan bab ini:

Penjelasan tentang makna ayat:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي

✅ Penjelasan tentang makna ayat:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Orang yang pertama kali dilaknat oleh Allah berdasarkan hadits diatas adalah orang yang menyembelih karena selain Allah.

Dilaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, hal itu bisa terjadi bila ia melaknat kedua orang tua seseorang, lalu orang tersebut melaknat kedua orang tuanya.

Dilaknat orang yang melindungi pelaku kajahatan, yaitu orang yang memberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan kejahatan yang wajib diterapkan kepadanya hukum Allah.

Dilaknat pula orang yang merubah tanda batas tanah, yaitu merubah tanda yang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganya, dengan digeser maju atau mundur.

Ada perbedaan antara melaknat orang tertentu dengan melaknat orang-orang ahli maksiat secara umum.

Adanya kisah agung dalam hadits ini, yaitu kisah seekor lalat. ([6])

Masuknya orang tersebut ke dalam neraka dikarenakan mempersembahkan seekor lalat yang ia sendiri tidak bermaksud berbuat demikian, tapi ia melakukan hal tersebut untuk menyelamatkan diri dari kejahatan para penyembah berhala tersebut. ([7])

Mengetahui besarnya bahaya kemusyrikan dalam pandangan orang-orang mukmin, bagaimana ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lakhiriyah saja.

Orang yang masuk neraka dalam hadits ini adalah orang Islam, karena jika ia orang kafir, maka Rasulullah  tidak akan bersabda: “ … masuk neraka karena sebab lalat …”

Hadits ini merupakan suatu bukti bagi hadits shahih yang mengatakan:

الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

 “Surga itu lebih dekat kepada seseorang dari pada tali sandalnya sendiri, dan neraka juga demikian.”

Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang sangat penting, bahkan hal ini juga dijadikan tolak ukur oleh para penyembah.

  • KETERANGAN (FOOTNOTE):

➡ ([1]) Sesungguhnya menyembelih karena Allah adalah ibadah maliah (harta) yang sangat mulia dan sangat dicintai oleh Allah. Karenanya sering Allah mensyari’atkan ibadah tersebut, seperti :

  • Ibadah menyembelih hewan qurban.
  • Ibadah menyembelih hewan aqiqah.
  • Ibadah menyembelih hewan hadyu (tatkala haji tamattu’ dan qiron).
  • Menyembelih hadyu karena terhalangi (muhsor) dari melaksanakan haji/umroh.
  • Menyembelih hewan fidyah karena melakukan pelanggaran tatkala haji atau umroh.

Di dalam al-Qur’an ibadah ini digandengkan dengan ibadah sholat yang merupakan ibadah badaniah yang terbaik. Ini menunjukkan akan tingginya kemuliaan ibadah ini. Dalam sholat terkandung ibadah-ibadah yang mulia, seperti dzikir, tilawah al-Qur’an, doa, tunduk, khusyuk, dll. Demikian juga ibadah menyembelih terkumpul padanya ibadah pengorbanan harta dan percaya (tsiqoh) kepada Allah. Terlebih lagi bagi seseorang yang telah memelihara hewan (kambing atau unta) lalu iapun menyembelih hewannya karena Allah.

Penulis (As-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab) mengkhususkan pembahasan tentang kesyirikan menyembelih kepada selain Allah karena begitu tersebarnya kesyirikan ini di negeri-negeri kaum muslimin. Begitu banyak orang yang menyembelih untuk jin dengan berbagai bentuknya, seperti dalam rangka membangun rumah (agar tidak diganggu oleh jin penunggu tanahnya) atau untuk membangun jembatan, untuk membelah atau mengebor gunung (bukit), untuk dilepaskan ke laut agar penjaga laut tidak marah, untuk dewi padi, untuk syarat pengobatan, untuk memenuhi persyaratan dukun, dll.

Demikian juga banyak fenomena penyembelihan hewan-hewan yang ditujukan untuk kuburan-kuburan.

Penulis menyebutkan 4 dalil yang menunjukkan bahwa menyembelih kepada selain Allah adalah kesyirikan.

➡ ([2]) Dalil pertama : Firman Allah QS Al-An’aam : 162-163.

Sisi pendalilannya adalah dari firman Allah (وَنُسُكِي) yaitu وَذَبْحِي  “Sembelihanku”.

✅ Mujahid berkata;

النُّسُكُ : الذَّبَائِحُ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ

An-Nusuk adalah hewan-hewan sembelihan tatkala haji dan umroh” (Tafsir At-Thobari 10/46)

✅ Sa’id bin Jubair berkata;

وَنُسُكِي : ذَبْحِي

“Nusuk-ku yaitu sembelihanku” (Tafsir At-Thobari 10/47). Dan ini juga adalah pendapat Qotadah, As-Suddy dan Ad-Dhohhak (Lihat Tafsir At-Thobari 10/47-48).

Ayat ini menunjukkan bahwa menyembelih kepada selain Allah adalah kesyirikan. Karena Allah menggandengkan dalam ayat ini antara menyembelih dan sholat, sebagaimana sholat tidak boleh ditujukan kepada selain Allah maka demikian juga dengan menyembelih. Selain itu ayat ini ditutup dengan tiga penekanan :

✅ Pertama : Firman Allah,

لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“(Sembelihanku…) hanya untuk Allah Rabb semesta alam”

✅ Kedua : Firman Allah,

لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Tidak ada syarikat bagiNya”

✅ Ketiga : Firman Allah,

وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Dan aku adalah orang yang pertama Islam”. Karena setiap nabi adalah orang yang pertama Islam sebelum kaumnya, dan setiap nabi menyeru kepada Islam yaitu peribadatan hanya semata kepada Allah tiada syarikat bagiNya.

Pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi untuk mengabarkan kepada kaum musyrikin -yang mereka beribadah kepada selain Allah dan juga menyembelih kepada selain Allah- bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengikhlashkan ibadahnya dan hanya menyembelih untuk Allah semata. Maka Allah memerintahkan Nabi untuk menyelisihi mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/381)

➡ ([3]) Dalil kedua : Firman Allah QS. Al-Kautsar : 2.

Sisi pendalilannya adalah Allah menggandengkan antara perintah sholat kepada-Nya dengan perintah menyembelih kepadaNya.

✅ Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Allah memerintah Nabi untuk menggabungkan antara dua ibadah yang agung ini yaitu sholat dan menyembelih, dimana keduanya merupakan tanda kedekatan, ketawadu’an, kebutuhan (kefaqiran kepada Allah), berprasangka baik kepada Allah, keyakinan yang kuat serta tenangnya hati kepada Allah dan tentramnya hati akan kebenaran janji Allah, perintahNya, karuniaNya, dan pemberian ganti dariNya (atas pengorbanan menyembelihnya-pen). Yang ini bertolak belakang dengan kondisi orang-orang yang sombong dan angkuh, orang-orang yang merasa tidak butuh kepada Allah, merasa tidak perlu untuk sholat kepada Rabbnya, demikian juga orang-orang yang tidak mau menyembelih untuk Allah karena takut miskin, tidak mau membantu kaum fuqoro’, dan karena buruk sangka kepada Rabb mereka. Oleh karena itu, Allah mengandengkan antara kedua ibadah ini -sholat dan menyembelih-.”

Beliau juga berkata, “Intinya sholat dan menyembelih merupakan ibadah yang teragung kepada Allah, karenanya Allah menyebutkan keduanya setelah huruf فَ (maka) yang menunjukkan akan sebab perintah. Karena menjalankan sholat dan menyembelih merupakan sebab untuk menunjukan sikap bersyukur kepada Allah atas telaga al-Kautsar dan kebaikan yang banyak yang telah Allah anugrahkan kepada Nabi. ibadah harta yang termulia adalah menyembelih dan ibadah badan yang termulia adalah sholat, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak sholat kepada Rabbnya dan banyak menyembelih. Bahkan tatkala haji Wada’ beliau menyembelih langsung dengan kedua tangan beliau 63 ekor onta…” (Majmu al-Fataawaa 16/531-533)

Jadi sholat adalah ibadah yang termulia karena dalam sholat mengandung banyak sekali ibadah, seperti mengagungkan Allah, bertasbih kepada Allah, ruku’, sujud, berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, mendengar tilawah al-Qur’an, hati yang terfokuskan kepada Allah, dll. Demikian juga menyembelih mengandung banyak ibadah, seperti pengorbanan harta untuk Allah, berprasangka baik kepada Allah, kuatnya keyakinan akan janji Allah, dll (sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah lalu).

([4]) Dalil ketiga : sisi pendalilannya adalah orang yang menyembelih kepada selain Allah adalah terlaknat.

✅ An-Nawawi rahimahullah mengomentari hadits ini :

وَأَمَّا الذبح لِغَيْرِ اللَّهِ فَالْمُرَادُ بِهِ أَنْ يَذْبَحَ بِاسْمِ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى كَمَنْ ذَبَحَ لِلصَّنَمِ أَوِ الصليب أو لموسى أولعيسى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمَا أَوْ لِلْكَعْبَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فكل هذا حرام ولاتحل هَذِهِ الذَّبِيحَةُ سَوَاءٌ كَانَ الذَّابِحُ مُسْلِمًا أَوْ نَصْرَانِيًّا أَوْ يَهُودِيًّا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُنَا فَإِنْ قَصَدَ مَعَ ذَلِكَ تَعْظِيمَ الْمَذْبُوحِ لَهُ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْعِبَادَةَ لَهُ كَانَ ذَلِكَ كُفْرًا فَإِنْ كَانَ الذَّابِحُ مُسْلِمًا قَبْلَ ذَلِكَ صَارَ بِالذَّبْحِ مُرْتَدًّا

Adapun menyembelih kepada selain Allah, maksudnya adalah ia menyembelih dengan nama selain Allah, seperti seseorang yang menyembelih dengan nama berhala atau salib atau Nabi Musa atau Nabi Isa atau Ka’bah atau yang semisalnya. Maka ini seluruhnya adalah haram. Dan sembelihan ini tidaklah halal, apakah yang menyembelih seorang muslim atau nasrani atau Yahudi -sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dan disepakati oleh para ulama syafi’iyyah-. Jika ternyata selain itu ia juga bermaksud mengagungkan selain Allah -yang ditujukan sembelihan untuknya- dan bermaksud beribadah kepadanya maka ini merupakan kekufuran. Jika penyembelihnya seorang muslim maka jadilah ia murtad dengan penyembelihan tersebut” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 13/141)

➡ Menyembelih hewan secara umum ada 2 bentuk, dan masing-masing terbagi juga dalam beberapa bentuk :

Pertama : Menyembelih bukan karena ibadah tapi karena ingin memakan dagingnya atau karena untuk memuliakan tamu. Maka ini juga terbagi tiga:

  1. Menyembelih dengan menyebut nama Allah, maka inilah yang halal.
  2. Meyembelih dengan tidak menyebut nama Allah, maka hukum sembelihannya adalah bangkai.
  3. Menyembelih dengan menyebut nama selain Allah, seperti nama nabi ‘Isa, nabi Musa, atau Ka’bah (sebagaimana yang dijelaskan oleh An-Nawawi di atas) maka sembelihan ini juga adalah haram. Dan bisa jadi juga bernilai kesyirikan dan berkaitan dengan syirik al-isti’aanah. Namun tidak sampai pada syirik akbar jika tidak ditujukan sebagai bentuk beribadah kepada selain Allah. Inilah dzahir dari penjelasan An-Nawawi di atas. Wallahu a’lam, sifatnya seperti seseorang yang bersumpah dengan selain Allah, yaitu hukum asalnya syirik kecil.

Kedua : Menyembelih dalam bentuk ibadah. Pada dasarnya, tujuan utamanya bukanlah untuk memakan daging sembelihan tapi untuk mengalirkan darah sembelihan tersebut dihadapan yang ditujukan sembelihan kepadanya, dalam rangka untuk mengagungkannya. Hal ini ada dua bentuk :

  • Menyembelih untuk Allah maka ini adalah ibadah yang mulia. Seperti menyembelih tatkala ‘iedul adha, aqiqah, tatakala haji, dan sembelihan karena nadzar.
  • Menyembelih kepada selain Allah maka ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama. Bahkan tetap merupakan syirik akbar meskipun menyembelih dengan menyebut nama Allah, karena tujuannya untuk selain Allah. Diantara contoh-contohnya adalah :

Seperti menyembelih untuk jin, yang pada dasarnya daging sembelihannya bukan untuk dimakan oleh jin, tapi untuk menunjukkan pengagungan terhadap jin tersebut tatkala menyembelihnya. Dan menyembelih untuk jin ini sangat banyak praktiknya di tanah air

Diantaranya juga seseorang yang menyembelih di atas kuburan dalam rangka mengagungkan penghuni kubur. Sebagaimana sebagian orang yang bernadzar untuk menyembelih di atas kuburan.

Termasuk juga menyembelih di hadapan syaikh atau guru tertentu dalam rangka untuk mengagungkannya (bukan untuk memakan daging sembelihan tersebut)

Termasuk juga seseorang yang menyembelih dihadapan tamu agung yang datang dalam rangka untuk mengagungkannya. Karena pada dasarnya sembelihan tersebut bukan untuk diambil dagingnya lalu diberikan kepada sang tamu agung untuk dimakan akan tetapi hanya sekedar simbolik pengagungan kepadanya. Lain halnya kalau seseorang menyembelih bukan dihadapan sang tamu, kemudian sembelihan tersebut dagingnya diambil untuk menjamu tamu tersebut. Maka perbuatan seperti ini adalah kebaikan.

 {{{{ Lanjut Ke Halman 2}}}}}

Iklan