Ambisi Jadi Pejabat? Jangan! Kamu Tak Akan Kuat, Pejabat Orang Yang Paling Butuh Nasehat

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Dijualnya Pejabat dan Keagungan Ulama

2.Agar Doa Lebih Cepat Dikabulkan

3.Akhlak Baik Orang-Orang Kafir

4.Kefakiran Dan Kekayaan

5. Islam Nusantara vs Wahabi

••

Aku Ingin Jadi – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah 5Mb

Ceraikan Daku – Syafiq Riza Basalamah 15Mb

Hikmah Dibalik Musibah-Ust Syafiq Basalamah 3Mb

Kitab Shahih Bukhari_ Kehendak Allah yang Terbaik-Ust Mizan Qudsiyah 7Mb

Melindungi Buah Hati Dari LGBT – Ustadz Zainal Abidin Syamsudin 20Mb

Shalat Sunnah Qobliah Jum_at Tidak Ada Dasarnya Dari Nabi Ini Penjelasannya-Ust Mizan Qudsiyah 10Mb

Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin – Menangkal Ideologi Radikal 17Mb

,•••

Tidak Ada Hak Sama Sekali Bagi Keringat Yang Dzalim-Ustadz Musyaffa Ad-Dariny

Menyebutkan Sebagian Seperti Menyebutkan Semuanya-Ustadz Musyaffa Ad-Dariny

Kejujuran dalam Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-Ust Abu Yala Kurnaedi

Kaifa Nafhamul Quran (Makna Permulaan Surat Al-Quran)-Ust Abdurrahman Thayyib

••

Ebook

Perhiasan Wanita (Tadabbur Surat An-Nuur ayat 30 dan 31) 58Hlm

Hukum Meninggalkan Syariat Islam

••

➡ Ambisi Jadi Pejabat? Jangan! Kamu Tak Akan Kuat

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah.menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu termasuk as-saabiquunal awwalun, sahabat yang awal-awal masuk Islam. Jasa dan kiprah dakwahnya tak diragukan lagi, terutama dalam mengislamkan penduduk Ghifar dan Aslam. Kedekatannya dengan Nabi ﷺ juga tak ada yang sangsi. Suatu ketika, muncul niatan beliau untuk menjadi pejabat atau mempin kaum dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda menjadikanku sebagai pejabat/pemimpin?” Mendengar pengajuan itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau seorang yang lemah sedangkan jabatan itu adalah amanah (yang berat), dan sesungguhnya ia menjadi sebab kehinaan dan penyesalan pada hari Kiamat kecuali yang menjalankannya dengan baik dan melaksanakan tanggungjawabnya.” (HR. Muslim)

Dalam bahasa kekinian nasihat Nabi tersebut seperti orang yang mengatakan, “Jangan! Kamu tidak akan kuat.” Biarlah orang lain yang memikul amanah yang berat itu. Ini bisa jadi karena Nabi ﷺ tahu, bahwa potensi Abu Dzar bukan di bidang itu, atau di balik sisi unggul Abu Dzar, beliau khawatir justru pintu kekuasaan itu justru menjadi ‘kuburan’ bagi Abu Dzar radhiyallahu anhu. Ketika seseorang mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, maka ini menunjukkan sisi kelemahan dirinya.

Ketika seseorang mengajukan dirinya sebagai seora mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, maka ini menunjukkan sisi kelemahan dirinya.

Karena biasanya orang yang mengajukan diri sebagai pemimpin, perhatiannya lebih dominan pada sisi keuntungan duniawi, atau melihat besarnya kewenangan yang dimiliki. Padahal di balik itu, ada amanah dan tanggung jawab besar yang jika tidak ditunaikan dengan baik niscaya bencana akan meluas dan ia juga terancam dengan balasan yang berat di akhirat.

  • Tabiat Dasar Manusia

Potensi menyukai kedudukan, jabatan dan kekuasaan memang menjadi tabiat yang dimiliki umumnya manusia. Karena padanya berbagai kenikmatan dunia secara komplit bisa diraihnya. Imam ath-Thabari menjelaskan tentang firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

✅ Beliau menafsirkan, “Telah dibuat indah untuk manusia sifat tertariknya mereka terhadap wanita dan anak keturunan serta segala hal yang disebutkan. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal ini hanyalah untuk menjelaskan sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka lebih mengutamakan dunia dan ambisi terhadap kekuasaan dibandingkan harus mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, padahal mereka telah mengetahui kebenarannya.”

Yakni bahwa manusia itu punya tabiat suka kekuasaan yang terkumpul padanya beragam kenikmatan, maka ketika mereka berambisi terhadap kesenangan tersebut dan berpaling dari kebenaran, maka mereka menyerupai karakter Yahudi yang berpaling dari kebenaran karena kekuasaan.

Orang-orang yang memperturutkan ambisi jabatan, mereka mengejar kekuasaan untuk melampiaskan seluruh keinginan. Yaitu berkuasa di muka bumi, agar seluruh hati mengarah dan memperhatikan mereka, dan dengannya berbagai keinginan bisa terwujudkan. Sehingga ambisi untuk meraih kekuasaan akan melahirkan kerusakan-kerusakan yang tak mampu dihitung secara valid kecuali oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan muncul dosa, hasad, perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, dengki, kezaliman, fitnah, fanatik pribadi, tanpa memedulikan lagi hak Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang yang terhina di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala akan dimuliakan sementara orang yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala pasti dihina. Kekuasaan duniawi tidak mungkin sempurna kecuali dengan cara-cara kotor seperti itu. Kekuasaan duniawi tidak akan tercapai kecuali dengan menempuh tipu daya dan siasat yang kotor. Demikian di antara yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab ar-Ruh

Sering luput dari bayangan orang yang berambisi terhadap jabatan, bagaimana kelak di akhirat seluruh rakyat yang hingga mencapai jutaan akan menuntutnya pada Hari Kiamat jika hak di dunia ada yang tak mereka dapatkan. Setiap tuntutan mengurangi pahalanya, dan jika pahalanya telah habis maka dosa rakyat yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, wal iyadzu billah.

Alangkah mengerikan ancaman dari Nabi ﷺ bersabda, “Tiada seorang hamba yang diberi amanah untuk memimpin rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan hamba itu tidak akan mencium baunya jannah.” (HR Bukari dan Muslim)

Lantas apakah berarti seorang muslim yang memiliki potensi memimpin tidak boleh memimpin? Tentu saja boleh. Intinya adalah jangan berambisi menjadi pemimpin, dan agar kita tidak menjadikan pemimpin orang yang haus akan kekuasaan. Karena ambisinya lebih besar dari rasa takutnya kepada Allah. Bahwa jika kemudian umat memerikan kepercayaan dan dia memiliki kemampuan, tidak mengapa ia memgambilnya dengan memohon pertolongan kepada Allah. Ini sebagaimana nasihat Nabi ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu anhu,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Wahai Abdurrahman, janganlah kamu mengemis jabatan. Karena jika engkau diserahi jabatan karena ambisi meminta, engkau akan dibiarkan mengurusi sendiri. Tetapi jika engkau diberinya tanpa mencarinya, maka engkau akan ditolong Allah dalam mengurusinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh: Abu Umar Abdillah

=

  • Apa Enaknya Jadi Pejabat

Hiruk-pikuk pilkada serentak telah usai. Tinggal beberapa daerah yang masih menunggu putaran kedua untuk melihat hasilnya, siapa yang terpilih dia akan menduduki kursi jabatan pemerintahan. Terlepas dari bagaimana pemilihan itu berlangsung (entah curang atau memang benar-benar jujur), maraknya pendakwah agama yang menjual agamanya demi terwujud cita-cita si empunya, belum lagi menyoal kampanye dengan berbagai janji dan sumpah serapah, penodaan terhadap agama, uang pelicin dan berbagai dunia hitam dibalik perayaan pilkada versi demokrasi.

Memang, ketika ambisi telah di ubun-ubun, segala cara bisa ditempuh untuk mendapatkannya, meskipun agama menjadi taruhannya. Sampai seorang ulama’ berkata bahwa syahwat terhadap jabatan lebih menggoda daripada syahwat terhadap harta. Maha benar sabda Nabi, “Bahaya dua ekor serigala lapar yang dilepas kepada seekor kambing itu tidak lebih besar dari bahaya ambisi harta dan kehormatan terhadap agama seseorang.” (HR. Tirmidzi)

Betapa mengerikan nasib agama seseorang yang digambarkan Nabi tersebut. Bagaimana nasib domba yang dikeroyok oleh dua serigala lapar, masih mungkinkah ia akan selamat? Begitulah permisalannya, ambisi jabatan dan gila kehormatan, keduanya mampu merontokkan iman dari akarnya melebihi terkaman dua serigala pada seekor domba

Orang yang dulu memilihnya (mencoblosnya) pun tidak akan bisa berharap lebih dari pemimpin yang mengawali karirnya dengan kecurangan dan ambisi untuk meraih kehormatan. Karena mereka tidak memahami kepemimpinan sebagai amanah. Tetapi sebagai ajang untuk menunjukkan kehebatan dan kehormatannya.

Berbeda dengan konsep jabatan yang diapahami oleh para salafush Shalih. Dahulu, ketika Umar bin Khattab dicalonkan menjadi khalifah pasca wafatnya Nabi Muhammad, beliau berkata, “Demi Allah, leherku ditebas dengan pedang tanpa alasan, itu lebih aku sukai daripada menjadi khalifah yang di dalamnya ada Abu Bakar.” Keturunan beliau yang dijuluki Khalifah kelima yaitu Umar bin Abdul ‘Azis, ketika diamanati menjadi khalifah, dia mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.” Karena mereka sadar betapa besar tanggung jawabnya di sisi Allah, karena seorang pemimpin bukan sekedar memamerkan kekuasaannya, tapi kelak akan ditanya tentang apa yang telah ia pimpin dan bagaimana ia memimpin dan memperlakukan rakyatnya. Kemudian sejarah mencatat keadilan mereka, mereka sangat hati-hati dan lebih mementingkan rakyatnya daripada diri mereka sendiri, menegakkan hukum Allah. Lalu berkah dari Allah turun dari langit dan bumi.

Begitulah seharusnya seorang mukmin memandang sebuah jabatan. Ia bagai serigala yang bisa menerkam iman kita kapan saja, ia adalah amanah yang begitu berat yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Bukan layaknya makanan yang pantas diperebutkan

==

  • Orang Yang Paling Butuh Nasehat Adalah Pejabat

Mengapa? Ada enam alasan yang beliau sebutkan.

Pertama, Pemimpin negara harus senantiasa menaikkan derajat diri dan tidak boleh menyamai perilaku orang-orang bodoh dan manusia yang rendah moralitasnya.

Pejabat haruslah menjaga martabat. Jauh dari perilaku rendah tapi juga tidak sombong. Jaga image dalam arti positif harus  diilakukan, tapi jaga image atau Jaim dalam arti angkuh dan sok, harus dihindari. Perbuatan-perbuatan yang bisa merendahkan martabat juga harus dihindari. Misalnya, ikut berjoget saat menghadiri acara yang menyuguhkan musik merupakan perbuatan yang tak patut dilakukan pemimpin. Nah, untuk ini, mereka membutuhkan banyak nasihat dan arahan dari para ulama.

Kedua, nasihat kebaikan adalah hal penting dalam menentukan sikap yang tepat. Seorang pemimpin harus membawa rakyatnya agar selamat dunia akhirat. Bukan sejahtera dunia saja, tapi akhiratnya sengsara. Dan untuk mewujudkannya, mereka benar-benar membutuhkan nasihat dari para shalihin dan orang-orang mukmin.

Ketigajabatan akan menyibukkan diri dan memberi banyak tekanan pada jiwa. Hal ini sering membuat seorang pejabat sulit menilai diri sendiri dengan jujur. Berat mengakui kesalahan dan meminta maaf saat salah. Jabatan dapat membuat seseorang merasa benar dan sulit diarahkan, kecuali oleh orang yang jabatannya lebih tinggi. Padahal, ada kalanya rakyat lebih memahami realita daripada pejabat. Oleh karenanya, para khalifah di Zaman dahulu sering mengunjungi ulama untuk meminta arahan dan nasehat.

Kejernihan hati para ulama dapat membuka tabir kesombongan yang menyelimuti hati hingga mampu melihat diri sendiri dengan jujur.

Keempat, mereka adalah orang yang paling jarang hadir di majelis pengajian, bermajelis bersama ulama dan forum tausiyah. Sebuah jabatan, jika dilaksanakan dengan benar, amanah dan jujur, pastilah akan menguras waktu dan tenaga. Oleh itulah mereka jadi sering absen dari majelis-majelis ilmu. Jika seorang pejabat menyadari hal ini dan merasa butuh terhadap ilmu dan nasehat, tentulah ia akan mengusahakan beragam cara agar bisa tetap mendapat nasehat meski sedang bekerja. Namun jika tidak sadar, maka kehidupan mereka akan kosong dari ilmu dan sepi dari nasehat.

Kelima, mereka adalah orang yang paling sulit mengamalkan nasehat saat nasehat tersebut bertentangan dengan nafsu. Status, harta, keamanan yang didapatkan, kewenangan, kebahagiaan dan kenikmatan hidup membuat hati mereka keras.

Semakin tinggi jabatan, semakin wah fasilitas yang didapatkan. Materi dunia akan memanjakan nafsu dalam diri dan membuatnya kuat dan mendominasi. Akibatnya, nasehat-nasehat yang berusaha mengekang nafsu akan diabaikan. Di sinilah titik paling kritisnya. Jika nafsu sudah berkuasa, nasehat kebaikan akan diabaikan begitu saja.

Keenam, mereka adalah orang yang paling kering dari nasihat. Bodiguard, menteri, dan bawahan mereka tidak ada yang berani berbicara kecuali yang sesuai hawa nafsu pemimpinnya, demi keselamatan jabatan dan pekerjaan masing-masing. Orang-orang yang mendatangi mereka pun kebanyakan adalah pemburu dunia dan penjual harga diri.

Beginilah yang sering terjadi. Para pejabat dikelilingi oleh para pejabat bawahan yang mencari makan di bawah jabatannya. Siap berebut jabatannya saat dia tinggakan. Maka wajar jika Imam al-Mawardi berkata bahwa bawahan hampir mustahil berani memberi nasihat yang jujur. Kebanyakan hanya akan diam melihat kemaksiatan atasannya dengan alasan tidak mampu melawan. Dan inilah yang membuat seorang pejabat menjadi kering dari nasehat. (diringkas dari Nasihatul Muluk, Imam al Mawardi, hal. 39-40

Arrisalah.net

=√√√ Lanjut Ke Halaman 2 √√√

Iklan