Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

•••

1.Tempat Terlarang Menyembelih Binatang

2.Tempat Terlarang Untuk Menyembelih

3.Menyembelih untuk Selain Allah dengan TujuanBerobat

4.Hukum Menyembelih Hewan dengan Mesin

5.Hukum Orang Shalat Di Bajunya Ada Najis Karena Lupa

6.Suami Memukul Istrinya Sampai Meninggalkan Rumah dan Mengadukannya ke Pengadilan Umum Agar Memutuskan Perceraiannya

7.Mulia Saat Miskin Maupun Kaya

8.Bulughul Maram – Shalat: Waktu Shalat Isya, Zhuhur, dan Maghrib yang Belum Kita Tahu

9.Mengapa Disebut Sebagai “Budak Harta”

10.Makhluk Terbaik Dan Makhluk Terburuk

11.Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Khadijah dan Mulainya Rasulullah Berpoligami

••

Larangan Menyembelih karena Allah di TempatPenyembelihan yang Bukan karena Allah –Kitab Tauhid (Syaikh Prof.Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Hukum Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah-Ust Mizan Qudsiyah

Menyembelih Ditempat Orang Berbuat Syirik-Ust M.Abduh Tuasikal

Menyembelih Ditempat Yang Biasa Disembelih Untuk Selain Allah-Ust M.Abduh Tuasikal

••

Kajian _ Syarah Kitab Tauhid _11 – Ustadz Dr. Firanda Andirja 13Mb
Rekaman Kajian Remaja – Siapa Idolamu?

Ilmu #1 Kewajiban Pokok Manusia –Ustadz Abu Haidar as-Sundawy

Ilmu #2 Ilmu Sumber Kebaikan –Ustadz Abu Haidar as-Sundawy

••

SYARAH AQIDAH SALAF 13 | UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT

 AQIDAH ke 39 || KITA BERIMAN DAN MEYAKINI BAHWA BERSIKAPGHULUW KEPADA ORANG-ORANG SHALIH ADALAH SYIRIK. halaman : 328

|| AQIDAH ke 40 || KITA BERIMAN DAN MEYAKINI BAHWA RIYAA’ADALAH SYIRIK. halaman : 341

|| AQIDAH ke 41 || KITA BERIMAN DAN MEYAKINI BAHWAMAHABBAH (KECINTAAN) KITA HANYA UNTUK ALLAH DANKARENA ALLAH DAN DI JALAN ALLAH. KALAU MAHABBAH KITA KEPADA MAHLUK SAMA DENGAN MAHABBAH KITA KEPADA ALLAHATAU BAHKAN LEBIH SANGAT MENCINTAI MAKHLUK DARI MENCINTAI ALLAH, MAKA KITA TELAH MENGERJAKAN SYIRIKBESAR KEPADA ALLAH. halaman : 343

Bahaya Pelit – Ust. Dr. Firanda Andirja_ MA 10Mb

Ceramah Agama_ Wajibnya Takut Berbuat Bid_ah 9Mb

Kesalahan Seputar Jual Beli_ Wajib Tahu Sebelum Berniaga-Ust Mizan Qudsiyah 4Mb

Ketahui Ini Sebelum BERHUTANG dan Menghutangkan-Ust Darul Palihin 9.5Mb

https://app.box.com/s/uy2l7anxuws3e6j54b8cugpz2jyolgzl

Khutbah Jumat _ Ihsan Derajat Tertinggi -Firanda Andirja.m4a

Ustadz Firanda Andirja-Tingkatan Manusia

Menggenggam Dunia – Ust. Anas Burhanudin_ MA 17Mb

RINGKASAN BIOGRAFI AL IMAM AL BUKHARI _ USTADZ ABDUL HAKIM AMIR ABDAT 21.5Mb

••

Ebook

Muttafaqun Alaih Shahih Bukhari Muslim

Ilmu Hadits Praktis

Sholat Subuh Jum’at Bersama Rasululloh

21 Adab Mengucapkan.Salam

AGAR HARTA KITA PENUH BERKAH-Penyusun: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA

KEAJAIBAN INFAQ DAN SHODAQOH-Penyusun: Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron hafizhahullahu

Asmaa’ & Sifat Allah-Penyusun: Syaikh Soleh as-Sindi-Penerjemah: Ustadz Bisri Tujang

Pedoman Percakapan Indonesia-Arab-Penyusun: Ahnav & Najwa Tamimi

Hadis Ushul Tsalatsah(Tiga Dasar Penting)-Penyusun: Abu Musa al-Atsari

••…

Ebook

Hukum Menyembelih Untuk Selain Allah

Ebook Kitab Tauhid(Pemurnian Ibadah Kepada Allah) Syaikh Muhammad At Taimimi6Mb 286Hlmn

Syaikh Muhammad At-Tamimi – Dasar-DasarMemahami Tauhid

Penjelasan 4 Kaidah Dalam Memahami Tauhid

Ebook Meniti Jalan Menuju Tauhid-Syekh Muhammad bin Jamil Zainul

Kitab Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (matan & terjemahan)

Terjemahan Kitab Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab 7Mb 340Hlm

==

Penjelasan Kitab Tauhid BAB 11 – Larangan Menyembelih Ditempat Penyembelihan Kepada Selain Allah

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

  • BAB 11

بَابُ لاَ يُذْبَحُ للهِ بِمَكَانٍ يُذْبَحُ فِيْهِ لِغَيْرِ اللهِ

DILARANG MENYEMBELIH BINATANG KARENA ALLAH DI TEMPAT YANG DILAKUKAN PENYEMBELIHAN KEPADA SELAIN ALLAH([1])

 

➡ Firman Allah  Subhanahu wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّـهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ﴿١٠٧﴾ لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ ﴿١٠٨﴾

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu). Mereka sesungguhnya bersumpah: “kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadikan saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu dirikan shalat di masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. At Taubah: 107 –108). ([2])

➡ Tsabit bin Dhahhak radhiallahu ‘anhu berkata:

( نَذَرَ رَجُلٌ أَنْ يَذْبَحَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ، فَسَأَلَ النَّبِيَّ r فَقَالَ: ( هَلْ كَانَ فِيْهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟ قَالُوْا: لاَ، قَالَ: ((فَهَلْ كَانَ فِيْهَا عِيْدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ؟ قَالُوْا: لاَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r : ( أَوْفِ بِنَذْرِكَ؛ فَإِنَّهُ لاَ وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ فِيْمَا لاَ يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ )

Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih unta di Buwanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi bertanya: “apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah oleh orang-orang Jahiliyah? Para sahabat menjawab: tidak, dan Nabipun bertanya lagi: “apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka? Para sahabatpun menjawab: “tidak, maka Nabipun menjawab: “laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang.” (HR. Abu Daud, dan Isnadnya menurut persyaratan Imam Bukhari dan Muslim). ([3])

➡ Kandungan bab ini:

1.Penjelasan tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disebutkan di atas.

2.Kemaksiatan itu bisa berdampak negatif, sebagaimana ketaatan berdampak positif.

3.Masalah yang masih meragukan hendaknya dikembalikan kepada masalah yang sudah jelas, agar keraguan itu menjadi hilang.

4.Diperbolehkan bagi seorang mufti untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum berfatwa untuk mendapatkan keterangan yang jelas.

5.Mengkhususkan tempat untuk bernadzar tidak dilarang selama tempat itu bebas dari hal-hal yang terlarang.

6.Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat, jika di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah pada masa jahiliyah, walaupun semuanya sudah dihilangkan.

7.Tidak diperbolehkan mengkhususkan tempat untuk bernadzar, jika tempat itu pernah digunakan untuk melakukan perayaan orang-orang jahiliyah, walaupun hal itu sudah tidak dilakukan lagi.

8.Tidak diperbolehkannya melakukan nadzar di tempat-tempat tersebut, karena nadzar tersebut termasuk katagori nadzar maksiat.

9.Harus dihindari perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang musyrik dalam acara-acara keagamaan dan perayaan-perayaan mereka, walaupun tidak bermaksud demikian.

10.Tidak boleh bernadzar untuk melaksanakan kemaksiatan.

11.Tidak boleh seseorang bernadzar dalam hal yang tidak menjadi hak miliknya.

  • KETERANGAN (FOOTNOTE):

➡ ([1]) Pembahasan pada bab ini sangat erat kaitannya dengan bab sebelumnya. Kalau bab sebelumnya (tentang larangan menyembelih kepada selain Allah) berkaitan dengan al-maqoshid (tujuan), adapun bab ini berkaitan dengan al-wasail yaitu sarana-sarana yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Karena tempat yang dijadikan tempat penyembelihan kepada selain Allah telah menjadi syi’ar pelaksanaan kesyirikan. Sehingga jika seorang muslim menyembelih sembelihan di tempat tersebut maka ia seakan-akan ikut meramaikan syi’ar tersebut dan ia telah meniru-niru kaum musyrikin secara dzhohir, dan penyerupaan secara dzahir bisa mengantarkan kepada kecondongan kepada mereka dan akhirnya menunjukkan kepada kesepakatan secara batin.

Karena sebab inilah maka syari’at melarang sikap tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir pada perkara-perkara yang merupakan syi’ar mereka, demikian juga pada perayaan-perayaan mereka, bahkan penampilan dan pakaian mereka, serta seluruh perkara yang merupakan ciri khas mereka. Semua perkara ini dilarang dengan tujuan untuk menjauhkan kaum muslimin agar tidak menyamai mereka.

Secara dzohir hal ini merupakan sarana yang bisa menimbulkan kecondongan kepada mereka. Bahkan syari’at melarang sholat sunnah di waktu-waktu terlarang yang dimana pada waktu-waktu tersebut kaum musyrikin sedang sujud kepada selain Allah, agar terhindar dari tasyabbuh yang terlarang tersebut (lihat Al-Qoul As-Sadid hal 56). Karenanya seluruh perkara -meskipun dikerjakan karena Allah- namun bisa mengantarkan kepada kesyirikan maka syari’at tetap melarangnya, seperti syari’at melarang sholat ke arah kuburan atau sholat di atas kuburan atau berdoa di kuburan karena hal ini merupakan wasilah menuju kesyirikan.

Diantara hikmah yang lain adalah bisa jadi meskipun tempat tersebut sudah tidak lagi diadakan pelaksanaan penyembelihan kepada selain Allah, akan tetapi tatkala ada yang menyembelih karena Allah di tempat tersebut maka ini bisa menghidupkan kembali kesyirikan, karena tempat tersebut dahulunya sudah menjadi syi’ar kesyirikan. Dan diantara tujuan syari’at adalah sadd adz-Dzari’ah (menutup segala celah yang mengantarkan kepada kesyirikan). (lihat Hasyiah Kitab At-Tauhid, Abdurrahman bin Qoosim hal 103)

Dalam bab ini penulis (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah) menyebutkan 2 dalil berikut :

➡ ([2]) Dalil pertama : Tentang ayat yang melarang untuk sholat di mesjid Ad-Diroor. Sisi pendalilannya : yaitu meskipun sholat tersebut tujuannya adalah untuk menyembah Allah semata tetapi jika dikerjakan di mesjid Ad-Diroor yang dibangun oleh orang-orang munafiq sebagai makar untuk menanamkan kekufuran kepada Allah, maka sholat di tempat tersebut dilarang. Demikian pula dilarang untuk menyembelih sesembelihan -meskipun karena Allah- untuk disembelih di tempat yang merupakan tempat syi’ar kesyirikan. Jadi sisi pendalilannya adalah qiyas dengan ‘illah jami’ah (sebab yang sama) yaitu dilarang mengerjakan amal sholih di tempat yang merupakan syi’ar kemaksiatan/kekufuran/kesyirikan.

✅ Adapun kisah pendirian mesjid Ad-Diroor sebagaimana yang disebutkan dalam sejarah :

Di Madinah ada seseorang yang bernama Abu ‘Aamir. Abu ‘Amir adalah ayahnya Handolah, yaitu shahabat yang meninggal dalam perang Uhud dan belum sempat mandi junub sehingga dimandikan oleh para malaikat. Abu ‘Aamir ini suka membaca buku-buku terdahulu dan ia suka beribadah sehingga dikenal dengan Abu ‘Aamir Ar-Raahib. Orang-orangpun menghormati dan mengagungkannya. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah maka iapun hasad kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga iapun kafir dan membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi menamakannya dengan Abu ‘Aamir al-Faasiq. Iapun pergi ke negeri Syaam untuk memprovokasi kaum Nashoro untuk menyerang Nabi, lalu ia menyurati kaum munafiqin agar membangun suatu tempat untuk mereka berkumpul dan bermusyawarah dalam rangka memberi kemudorotan kepada kaum muslimin. Akhirnya kaum munafiqin tidak berani membangun markaz, maka mereka hendak menipu kaum muslimin dalam bentuk membangun mesjid. Merekapun membangun mesjid dengan alasan bahwa mesjid tersebut fungsinya untuk orang-orang sakit, orang-orang lemah, malam-malam hujan, dan malam-malam di musim dingin, mengingat mesjid Nabawi terlalu jauh. Setelah itu mereka meminta agar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat di mesjid tersebut. Karena Nabi tidak tahu niat busuk mereka maka Nabi setuju untuk sholat di mesjid tersebut, hanya saja Nabi sudah hendak safar menuju perang Tabuuk, sehingga Nabi berjanji akan sholat di mesjid tersebut sepulang dari perang Tabuuk. (lihat I’aanatul Mustafiid hal 1/175)

®®® Lanjut Ke Halamaan 2 ©©©