Kenapa Jabatan dan Kekuasaan Diperebutkan? 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Bolehkah Meminta Kekuasaan ?

2.Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur’an

3.Manusia Sangat Tamak Dan Rakus Terhadap Harta Dan Jabatan

4.Saling Menjatuhkan Karena Kekuasaan

5.Mereka Berebut Sayap Seekor Nyamuk! |

6.Kisah Nabi Yusuf dan Meminta Jabatan

7.Perbedaan antara Nama Allah “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahiim”

8.Niat Yang Dibalas

••

Ust. Nizar Sa_ad Jabal_ L_c Mpd _ Ramadhan Dengan Sunnah 18Mb

AWAL TERBUKANYA PINTU FITNAH -Ust Nizar Saad Jabal 20Mb

Berislam Yang Kaffah – Ustadz Nizar Saad Jabal. 4Mb

Latah Akan Kemilau Dunia Barat -Ust Nizar.Saad Jabal

Kajian Islam _ Akhlak Itu Iman – Ustadz Nizar Saad Jabal. 11Mb

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Ust Nizar Saad Jabal.20Mb

Pakaian Wanita yg Dibolehkan (Ust Nizar Sa_ad Jabal 19.5Mb

Perjalanan Menuju Hari Akhir (Lanjutan) – Ustadz Nizar Saad Jabal 21Mb

SUDAH BENARKAH ISLAM KITA _ USTADZ NIZAR SAAD JABAL 23Mb

••

  • Kenapa Jabatan dan Kekuasaan Diperebutkan?

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

Jawabannya bisa anda temukan pada kita Muqaddimah Ibnu Khaldun Setelah mencermati sejarah ummat manusia sedari awal hingga zamannya, beliau menyimpulkan bahwa :

Kekuasaan adalah sarana paling ampuh untuk mendapatkan kekayaan. Karena itu biasanya, orang yang memiliki kekuasaan dan kedudukan di semua bidang lebih banyak kekayaannya dibanding orang yang tidak memiliki kekuasaan.

Para pemilik kekuasaan akan dilayani, dan pekerjaannya akan diselesaikan oleh orang orang yang berkepentingan untuk mencari muka dan orang orang yang butuh kepada peran kekuasaan atau kedudukannya.

Masyarakat luas akan berlomba lomba melayani para penguasa dengan menyelesaikan semua kebutuhan, baik kebutuhan primernya, maupun sekunder ataupun tersier, tanpa perlu mengeluarkan imbalan sedikitpun.

Demikian menurut analisa Ibnu Khaldun, dalam kitab Muqaddimah 2/76.

Apa yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun di atas berlaku pada orang orang yang haus kekuasaan demi kepentingan pribadinya.

Namun di sisi lain, ada orang orang yang berkuasa agar dapat menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Semisal Nabi Yusuf , Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, para khulafaurrasyidun dan lainnya.

Mereka tidak berkuasa demi memperkaya diri atau mencari kemuliaan sehingga dilayani oleh masyarakat banyak.Sebaliknya yang terjadi mereka melayani masyarakat banyak dan berkuasa demi menegakkan keadilan.

Apa bedanya antara dua kelompok di atas?

Bedanya pada tauhid mereka.

Kok bisa?

Ya, kelompok pertama mengira bahwa hartanya bisa menjadi banyak, dirinya bisa mulia dan hidupnya bahagia karena dilayani dan dipuja puja oleh sesama manusia.

Sedangkan kelompok kedua: mereka yakin sepenuhnya bahwa kekuasaan tidaklah menambah kemuliaan atau melapangkan rejeki mereka. Karena kemuliaan hanya milik Allah dan orang yang mulia adalah orang yang Allah muliakan walau dipandang sebelah mata oleh semua manusia.

Karena itu kelompok kedua, walau sebagai raja, mereka tidak mengharap layanan dan juga tidak sudi menerima perlakuan lebih dibanding rakyat jelata.

Nabi Dawud alaihissalam, walau sebagai raja, beliau hidup dari hasil cucuran keringat sendiri yaitu dengan menjadi pandai besi.

Para khulafa’ ar rasyidun juga demikian, walau sebagai khalifah yang berhasil memimpin rakyatnya menundukan Persia dan Romawi, namun Khalifah Umar bin Al Khatthab hidup sederhana dan serba pas pasan.

Di sinilah letak kesempurnaan akidah dan tauhid mereka, walau Nabi Yusuf ‘alaihissalam meminta jabatan dan sahabat Abu Bakar dan Umar menentang keinginan kaum Anshar yang ingin memilih pemimpin sendiri.

Dan walau sahabat Utsman, Ali Bin Abi Thalib tetap mengikuti tahapan pemilihan khalifah, namun jelas saja tujuan mereka bukan memperkaya diri, atau mencari kemuliaan untuk dirinya atau keluarganya, namun karena panggilan tugas sebagai hamba Allah yang harus berjuang menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan.

Fakta kehidupan mereka semua menjadi bukti akan keutuhan tauhid mereka dalam memikul kekuasaan dan mengemban amanah jabatan.

Mereka terobsesi untuk menjadi satu 7 golongan yang dinaungi di bawah Arsy Allah pada hari qiyamat, dan di tempatkan di atas mimbar cahaya di dalam surga di sisi Allah Taala.

Karenanya bila di mata anda jabatan hanya urusan harta dan kemuliaan dunia maka itu cermin kadar tauhid Anda yang hanya segitu.

Namun bila anda bisa membaca bahwa pada kekuasaan ada perjuangan dan pengorbanan, bahkan itu lebih dominan dibanding aspek kekayaan, maka itu juga mencerminkan akan kadar iman dan tauhid anda.

Lalu bagaimana dengan selain mereka, apa semuanya berkuasa hanya karena mencari kekayaan, pelayanan dari rakyatnya dan mendongkrak derajatnya?

Tentu saja tidak semuanya, ada yang demikian dan ada yang tidak.

Bagaimana tahunya? Serahkan kepada Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui isi hati masing masing.

Namun demikian, dikatakan dalam israiliyat dikatakan satu pernyataan :

من ثمارهم تعرفونهم

Dari hasil keja mereka maka engkau dapat mengenal siapa sebenarnya mereka.

Bila mereka berkuasa kemaksiatan semakin meraja lela, keimanan semakin diinjak dan dimarjinalkan, penjaja dosa dan kekufuran dilindungi sedangkan penyeru kebenaran ditakut takuti dan dimusuhi, maka itu cukup sebagai bukti dan indikasinya.

Demikian juga sebaliknya, bila mereka berkuasa kebenaran dikibarkan, dan kebatilan dibuat ompong dan dikandangkan maka cukuplah itu sebagai bukti.

Walaupun tentu tidak bijak bila anda saat ini mengharap figur semisal Abu Bakar apalagi semisal Nabi Dawud ‘alaihissalam.

Semoga bermanfaat, dan membuka wawasan agar tidak mudah gebyah uyah podo asine (kata orang jawa) alias generalisasi semua orang. Wallahu a’alam bisshawab

@Dr Muhammad Arifin Badri

=

  • Merubah Diri Sendiri Sebelum Merubah Pemimpin

Lazim kita dengar celoteh bani parpol yg mengutip ayat QS 13:11 sebagai pembenaran upaya memilih atau mengganti pemimpin sebagai cara merubah kondisi mereka agar lebih baik.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”

Maka mereka pun berupaya bongkar sana dongkel sini sehingga para pemimpin pun hadir silih berganti. Akan tetapi mengapa kesulitan yg dihadapi tetap sama, bahkan bisa jadi terasa makin berat?, sehingga akhirnya mereka pun hanya bisa kembali melafalkan mantra yg sama, yaitu “ganti presiden demi masa depan yg lebih baik”

No doubt, semua itu karena kita lebih banyak berusaha mengkoreksi penguasa dan fokus mengkritisi kelemahannya, padahal yg diperintahkan dalam ayat di atas adalah merubah apa yg ada pada diri setiap individu, bukannya merubah apa yg ada pada pemimpin, juga bukan fokus cari cara menggantinya. Meski gonta ganti presiden sebulan sekali, kalau kualitas mayoritas rakyatnya tetap tidak berubah atau malah cenderung makin rusak, lalu bagaimana mungkin kehidupan akan membaik?

Sebagai contoh … Bagaimana mungkin negara seperti indonesia bebas hutang, jika rakyatnya sendiri tidak berhenti mengkonsumsi riba? Bukankah hutang pemerintah untuk membangun infrastruktur baru adalah juga untuk memfasilitasi nafsu rakyat terhadap riba kendaraan bermotor? Bagaimana indonesia bisa swasembada beras, jika lahan2 pertanian terus dikonversi menjadi perumahan atau mall? Lihat! luas lahan padi di Thailand 0.108 ha/orang, sedang indonesia hanya 0.052 ha/orang.

Apakah lenyapnya lahan2 ini karena pemerintah menjualinya? Saya kira tidak, tapi karena proyeksi hitungan2 ekonomi sebagai konsekuensi menjamurnya bisnis ribawi KPR atau gaya hidup hedonis di tengah masyarakat yg haus mall dan hiburan. Bagaimana bisa berharap harga bbm tetap terjangkau, sementara pola hidup rakyat yg boros mendorong tingginya konsumsi bbm? Tahukah anda konsumsi bensin per kapita per hari di indonesia lebih tinggi dibanding negara2 seperti thailand, vietnam, filipina, india, pakistan, mesir, turki bahkan china?

Above all … Bagaimana pula Allah akan karuniai negeri ini dengan pemimpin yg baik sesuai harapan rakyatnya, jika makin banyak penduduk negeri yg bermaksiat kepada Nya? Lihat saja laju pertumbuhan eljibiti, prostitusi, mirasantika dan kemaksiatan2 lainnya terutama kesyirikan, semuanya meroket mendahului pertumbuhan ekonomi … kalau sudah begini, bagaimana pertolongan Allah akan datang? Ingat! Dulu, kaum muslimin mengalami kekalahan di perang uhud karena satu saja kesalahan/ketidakpatuhan, lha sekarang dosa dan maksiat kita begitu banyak, bagaimana bisa kita berharap kejayaan?

Woooy …. di barat maksiat juga banyak, demokrasi terbukti efektif mengontrol pemerintahan dan kehidupan mereka tampak bahagia!!! Bagaimana ini? …. Disinilah letak permasalahannya: yakni banyak di antara kaum muslimim yg iri melihat kebahagiaan kaum kuffar dan kemudian menjadikannya tolok ukur, padahal jelas2 Allah memperingatkan bahwa barangsiapa menghendaki kehidupan duniawi (seperti yg bisa dilihat dlm gaya hidup liberal di negara2 barat), maka akan disegerakan bagiannya itu di dunia dan ditetapkan neraka jahannam baginya di akhirat kelak (QS17:18).

Lagipula, kalau cuma tolok ukurnya kebahagiaan yg kasat mata, maka orang2 gila pun lebih bahagia lagi. Bukankah mereka bisa bebas tertawa setiap saat? Orang gila mah bebas … orang liberal mah gila. Dimana bedanya?

Perbaiki aqidah, kawan! Iri thd kesuksesan kaum kuffar dan menjadikannya standard dlm kehidupan adalah tanda2 aqidah yg oleng. Dont be fooled!

@Katon Kurniawan

=

  • Syariat Islam

Kita sering mendengar tuntutan kepada pemerintah untuk menegakkan syariat.

Namun harap dipahami bahwa syariat Islam itu bukan sekedar menerapkan hukuman rajam bagi pezina, potong tangan bagi pencuri, atau cambuk, bunuh, dll.

Itu adalah sebagian, mungkin sebagian kecil dari syariat Islam.

Syariat Islam itu meliputi semua ajaran Islam.

Dan semua ajaran Islam itu tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah. Banyak di antaranya yang menjadi kewajiban individu.

Kita menyikapi pemerintah pun juga harus berdasarkan syariat. Ketika kita menyikapi mereka tidak berdasarkan syariat, berarti kita meninggalkan syariat.

Jadi, menegakkan syariat itu kewajiban bersama, bukan hanya kewajiban pemerintah.

Dan syariat yang paling penting bukanlah hukuman2 pancung dsb itu. Bukan. Melainkan bagaimana Allah menjadi satu-satunya yang diibadahi, itu yang paling penting.

Dan itu yang harus menjadi titik tolak kita, yaitu bagaimana masyarakat kita menjadi masyarakat yang bertauhid. Itu inti dan bagian paling penting dalam syariat.

==

  • ➡ [Berhukum dengan Selain Hukum Allah]

Dalam As Siyasah Asy Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan beberapa pelanggaran yang berhak mendapatkan hukuman ta’zir, semisal makan makanan haram, menuduh orang lain, melakukan suap menyuap, dll.

Dan salah satu pelanggaran yang disebutkan beliau adalah: Berhukum dengan selain hukum Allah ( يحكم بغير ما أنزل الله).

✅ Terkait hal ini, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberi komentar

هذه المسألة يريد بها شيخ الإسلام ما لم يصل إلى حد الكفر

Berhukum dengan selain hukum Allah yang dimaksud Syaikhul Islam di sini adalah yang TIDAK sampai pada batas kekufuran”

Kemudian beliau merinci kapan seseorang kafir karena berhukum dengan selain hukum Allah, kapan tidak kafir dan dihukumi zhalim dan fasik. Maka yang dimaksud beliau yang dikenai hukuman ta’zir di sini adalah yang zhalim dan fasik, bukan yang kafir.

Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan poin berikutnya. Termasuk yang mendapatkan hukuman ta’zir adalah:

أو يتعدي على رعيته

Bersikap sewenang-wenang terhadap rakyatnya”

✅ Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan komentar:

الكلام الآن في التعزير. فمن يعزر الحاكم إذا اعتدى على رعيته؟ الحاكم الأكبر مثلا: الرئيس أو الملك أو ما أشبه ذلك؟ الظاهر – والله أعلم – أن الشيخ الإسلام أراد بالحاكم: ما هو أعم، فيشمل المدير مثلا، والأمير على قرية، والرجل أيضا على أهله، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: الرجل راع في أهله، ومسؤول عن رعيته

Kita sedang membicarakan ta’zir di sini. Kalau begitu, siapa yang menghukum penguasa jika dia berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya? Misalnya, presiden, raja, atau semisalnya?

Maka tampaknya di sini – Wallahu a’lam- Syaikhul Islam memaksudkan penguasa di sini secara umum, seperti mudir (direktur), atau walikota/kepala desa, atau seorang suami atas keluarganya, karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: Setiap laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia akan ditanya mengenai kepemimpinannya”

✅ Apa yang dapat disimpulkan dari sini?

1. Berhukum dengan selain hukum Allah hukum asalnya adalah kufur ashghar (kufur kecil) alias dosa besar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Orang yang melakukannya tidak otomatis kafir. Ada perinciannya.

2. Berhukum dengan selain hukum Allah bisa dilakukan oleh siapa saja baik penguasa seperti presiden, DPR, gubernur, walikota, polisi, PNS, dll atau rakyat biasa seperti ketua RT, ketua adat, bahkan siapapun yang punya kekuasaan atas orang lain semisal suami kepada istrinya atau bapak kepada anaknya.

= (((( Lanjut Ke Halaman 2 ))))