Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.3) 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Apakah Boleh Meninggalkan Sholat Berjamaah?

https://bimbinganislam.com/apakah-boleh-meninggalkan-sholat-berjamaah/

2.Apakah Anak Laki – laki Termasuk Mahrom?

https://bimbinganislam.com/apakah-anak-laki-laki-termasuk-mahrom/

3.Apakah Istighosah Diperbolehkan Dalam Islam?

https://bimbinganislam.com/apakah-istighosah-diperbolehkan-dalam-islam/

4.Doa Setelah Sholat Hajat Apakah Shahih ?

https://bimbinganislam.com/doa-setelah-sholat-hajat-apakah-shahih/

5.Hukum Membangun WC Di Kiblat Masjid, Dan Hukum Shalat Di Masjid Ini

https://islamqa.info/id/answers/163134/hukum-membangun-wc-di-kiblat-masjid-dan-hukum-shalat-di-masjid-ini

6.Ucapan Orang Atheis “Jika Allah itu sesuatu, maka Dia adalah Makhluk atau Dia Mempunyai Dua Istri”

https://islamqa.info/id/answers/292268/ucapan-orang-atheis-jika-allah-itu-sesuatu-maka-dia-adalah-makhluk-atau-dia-mempunyai-dua-istri

7.Menikah Dengan Kerabat Dan Hadits: (Menikahlah Dengan Orang Asing)

https://islamqa.info/id/answers/140840/menikah-dengan-kerabat-dan-hadits-menikahlah-dengan-orang-asing

8.Wanita yang Umrah, Lebih Utama Shalat di Hotel Atau di Masjid?

https://muslimah.or.id/10887-wanita-yang-umrah-lebih-utama-shalat-di-hotel-atau-di-masjid.html

9.Kumpulan Amalan Ringan #01: Shalat Sunnah Wudhu

https://rumaysho.com/19520-kumpulan-amalan-ringan-01-shalat-sunnah-wudhu.html

10.Meninggalkan yang Haram, Apakah Berpahala?

https://muslim.or.id/45080-meninggalkan-yang-haram-apakah-berpahala.html

••

Rekaman Tabligh Akbar Maskam UGM– Ku Putuskan tuk Berhijrah-Ust Maududi Abdullah

Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas – Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad-Ust Abdurrahman Thayyib

Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad-Ust Abdurrahman Thayyib

Kajian _ Syarah Kitab Tauhid _11 – Ustadz Dr. Firanda Andirja 13Mb

Birrul Walidain – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah 15Mb

Ceramah Agama_ Berlindung kepada Selain Allah – Ustadz Lalu Ahmad Yani 10Mb

Ceramah Agama_ Hal Yang Lebih Ditakutkan dari Dajjal-Ust Mizan Qudsiyah. 5Mb

Dambaan Hidup Bahagia – Ustadz Nizar Sa_ad Bin Jabal 4Mb

Dunia Kesenangan Yang Menipu – Ust. Nizar Saad Jabaal 14Mb

Jadi Follower Siapa – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah 16Mb

Jalan Yang Lurus – Ustadz Nizar Saad Jabal_ Lc 13Mb

Jenis Jenis Surga – Ustadz Nizar Saad Jabal_Lc_Mpd 18.5Mb

Kajian Ilmiah _ Kubur Rumah Pertama_ Antara Azab dan Nikmat-Ust Nizar Saad Jabal 18Mb

Kajian Tematik _ Rame – Rame Pada Hijrah – Ust. Nizar Saad Jabal 13Mb

Perjalanan Menuju Hari Akhir (Lanjutan) – Ustadz Nizar Saad Jabal 21Mb

Surga _ Neraka – Ust. Dr. Firanda Andirja_ MA.20Mb

Surga _ Kenikmatannya – Ustadz Nizar Saad Jabal_Lc 17Mb

••

ebook

Aqidah Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany 3Mb 83Hlman 

==

➡ Faidah Dauroh Kitab Mu`taqod Ahlis Sunnah Karya Imam Harb ibnu Isma`il Al-Kirmany (Bag.3)

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

PERTEMUAN KELIMA (Bagian Pertama)

PENULIS BERKATA:

[49]- وَيَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ، وَكَمَا شَاءَ؛ {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ} [الشورى: 11]

✅ [49]-Allah turun setiap malam ke langit dunia dengan kaifiyat yang Dia kehendaki dan sesuai dengan yang Dia kehendaki.

➡ PENJELASAN

Ini adalah penetapan sifat “Nuzuul” (turun) bagi Allah dengan tidak menyerupakan dengan sifat turun bagi makhluk. Karena:

(1)- Kenikmatan yang ada di Surga nama-namanya sama dengan apa yang ada di dunia; akan tetapi beda hakikatnya.

(2)- Ruh disifati dengan naik, dengan bahagia atau sengsara; tapi berbeda dengan yang dirasakan oleh badan.

(3)- Wajah manusia disifati dengan memiliki dua mata, jidat, hidung & mulut; akan tetapi berbeda-beda -dengan jutaan perbedaan- antara satu manusia dengan manusia lainnya, belum lagi antara manusia dengan binatang.

Maka, sungguh rusak akal orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk, menyerupakan sifat turun Allah dengan sifat turun makhluk, dst. Padahal sifat turun antar makhluk saja berbeda; seperti turunnya manusia dengan turunnya hujan, bahkan antara turunnya manusia dari bangunan lantai 10 ke lantai 1 dengan turunnya dia dari kendaraannya, dan lain-lainnya: terdapat perbedaan.

➡ PENULIS BERKATA:

[50]- وَقُلُوْبُ الْعِبَادِ بَيْنَ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ، وَيُوْعِيْهَا مَا أَرَادَ.

✅ [50]- Hati para hamba berada di antara jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-baliknya sesuai kehendak-Nya, Dia memenuhinya dengan apa yang Dia kehendaki.

➡ PENJELASAN:

Sebagaimana do’a yang sering diucapkan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.”

Allah membolak-balikan hati dari hidayah menuju kesesatan, dan sebaliknya, atau dari bahagia menjadi sengsara dan sebaliknya.

Hati dinamakan “Qalb”; dikarenakan “Taqallub” (berbolak-balik), maka dengan hadits ini kita menjadi tahu bahwa yang membolak-baliknya adalah Allah.

Dan ini menjadikan kita takut kepada Allah sehingga kita senantiasa meminta ketetapan hati kepada-Nya.

Dan juga membuahkan kecintaan kepada Allah karena telah memberikan ketetapan kepada kita di atas Islam sampai sekarang.

Dalam kelanjutan hadits di atas Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan seperti apa yang disebutkan oleh penulis, sehingga di dalamnya terdapat penetapan sifat jari bagi Allah dan ini sebagai penguat untuk penetapan sifat tangan bagi-Nya; sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah-.

Adapun perkataan penulis: “Dia memenuhinya dengan apa yang Dia kehendaki.”; yakni: Allah memberikan ilham dan pemahaman kepada hati sesuai dengan kehendak-Nya.

➡ PENULIS BERKATA:

[51]- وَخَلَقَ آدَمَ بِيِدِهِ عَلَى صُوْرَتِهِ.

[51]- Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya atas bentuk-Nya.

➡ PENJELASAN:

Ini merupakan kekhususan Adam bahwa Allah menciptakannya menurut “Shuurah” (bentuk)-Nya. Dan sifat “Shuurah” bagi Allah ini diimani oleh Ahlus Sunnah. Dan kita tidak ingin menjelaskan lebih dari ini.

➡ PENULIS BERKATA:

[52]- وَالسَّمَاوَاتُ وَالأَرَضُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْ كَفِّهِ وَقَبْضَتِهِ.

✅ [ 52]- Semua langit dan bumi dalam telapak-Nya dan genggaman-Nya pada Hai Kiamat.

➡ PENJELASAN:

Dalil-dalil tentang ini juga sebagai penguat untuk penetapan sifat tangan bagi-Nya.

➡ PENULIS BERKATA:.

[53]- وَيَضَعُ قَدَمَهُ فِيْ جَهَنَّمَ فَتَنْزَوِيْ.

✅ [53]- Allah letakkan kaki-Nya di atas Neraka Jahannam sehingga dia mengerut/mengumpul.

➡ PENJELASAN:

Kalau untuk Surga; maka Allah ciptakan suatu kaum untuk memenuhinya, adapun Neraka; maka Allah letakkan kaki-Nya untuk memenuhinya ketika Neraka berkata: “Apakah ada tambahan?”.

➡ PENULIS BERKATA:

[54]- وَيُخْرِجُ قَوْمًا مِنَ النَّارِ بِيَدِهِ.

✅ [54]- Dia keluarkan suatu kaum dari Neraka dengan tangan-Nya.

➡ PENJELASAN:

Yakni: kaum dari para pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

…فَيَقُوْلُ اللهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوْا خَيْرًا قَطّ…

“…Maka Allah ‘Azza Wa Jallaberfirman: “Para malaikat telah memberi Syafa’at, para Nabi telah memberi Syafa’at, kaum mukmimin (juga) telah memberi Syafa’at, dan yang belum (memberi Syafa’at) hanyalah (Allah) Arhamur Raahimiin (Maha Penyayang di antara para penyayang(.” Maka Dia menggenggam satu genggaman dari Neraka, kemudian Dia mengeluarkan darinya (Neraka) suatu kaum yang tidak pernah beramal kebaikan sama sekali…”

Ini menunjukkan banyaknya Ahlu Tauhid yang dikeluarkan dari Neraka karena Allah mengeluarkan mereka sebanyak satu genggaman-Nya.

➡ PENULIS BERKATA:

[55]- وَيَنْظُرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى وَجْهِهِ.

✅ [55]- Penduduk Surga akan melihat kepada wajah-Nya.

➡ PENJELASAN:

Terjadi perselisihan para ulama apakah selain kaum mukminin juga akan melihat Allah; yakni: di padang mahsyar.

Kemudian melihat Allah ada tiga keterkaitan:

✅ (1)- Melihat dengan mata:

Maka untuk di dunia manusia tidak bisa melihat Allah dan ini disepakati kecuali untuk Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau Mi’araj: apakah beliau melihat Allah ataukah tidak. Dan pendapat yang benar -berdasarkan sabda beliau sendiri- adalah: tidak.

– Adapun di akhirat; maka kaum mukminin akan melihat Allah di Surga, adapun di padang mahsyar; maka telah terjadi khilaf untuk orang kafir sebagaimana disebutkan. Untuk di Neraka; maka orang kafir atau ahli maksiat dari Ahlu Tauhid; maka tidak melihat-Nya.

✅ (2)- Melihat dengan hati:

Maka ini berbeda dengan penglihatan dengan mata. Penglihatan dengan hati ini dilihat kepada kekuatan ilmu seorang hamba, sebagaimana sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tentang derajat Ihsan:

((أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّـكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَـمْ تَكُنْ تَرَاهُ؛ فَإِنَّهُ يَرَاكَ))

Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya; maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Semakin kuat ilmu seseorang; maka semakin kuat penglihatan ini.

✅ (3)- Melihat dalam mimpi.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((رَأَيْتُ رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ))

Saya melihat Rabb-ku dalam “Shuurah” (bentuk) yang paling baik.”

Melihat dalam mimpi ini adalah disesuaikan dengan semakin baiknya amalan hamba, dan ini terjadi pada sebagian kaum mukminin.

➡ PENULIS BERKATA:

[56]- يَزُوْرُوْنَهُ فَيُكْرِمُهُمْ، وَيَتَجَلَّى لَهُمْ فَيُعْطِيْهِمْ.

✅ [56]- Mereka akan mengunjungi-Nya dan Dia pun memuliakan mereka, dan menampakkan diri kepada mereka, serta melimpahkan pemberian kepada mereka.

➡ PENJELASAN:

Mengunjungi ini tidak terdapat dalil atasnya, yang ada adalah bahwa penghuni Surga akan melihat Allah setiap Jum’at.

➡ PENULIS BERKATA:

[57]- وَيُعْرَضُ عَلَيْهِ الْعِبَادُ يَوْمَ الْفَصْلِ وَالدِّيْنِ، فَيَتَوَلَّى حِسَابَهُمْ بِنَفْسِهِ، لاَ يُوَلِّيْ ذٰلِكَ غَيْرَهُ، عَزَّ رَبُّنَا وَجَلَّ، وَهُوَ عَلَى مَا يَشَاءُ قَدِيْرٌ.

✅ [57]- Ditampakkan kepada-Nya para hamba pada Hari Keputusan dan Pembalasan, maka Dia sendiri yang akan menghisab mereka dan tidak menyerahkan (hisab) tersebut kepada selain-Nya -Maha Perkasa Rabb kita dan Maha Mulia-, dan Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia inginkan.

➡ PENJELASAN:

Perkataan penulis: “Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia inginkan”; yang lebih tepat adalah: Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Adapun firman Allah:

{…وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ}

“…Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syuuraa: 29)

Yakni: Apabila Dia kehendaki untuk mengumpulkan mereka; maka Dia Maha Kuasa atasnya. Jadi, tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan di atas (yakni: kurang tepatnya perkataan penulis).

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

=

➡ PERTEMUAN KELIMA (Bagian Kedua) & PERTEMUAN KEENAM

➡ PENULIS BERKATA:

[58]- وَالْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ تَكَلَّمَ بِهِ؛ لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ.

✅ [58]- Al-Qur-an adalah Kalamullah (firman Allah), Allah lah yang memfirmankannya, (Al-Qur-an) bukan makhluk.

➡ PENJELASAN:

Ini adalah masalah agung yang berkaitan dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah dalam masalah Al-Qur-an adalah Kalamullah (firman Allah); surat-suratnya, ayat-ayatnya, huruf-hurufnya, dan makna-maknanya: semuanya Kalamullah, jika ditulis, dihafalkan, didengarkan, dan dibaca oleh lisan: maka tetap Kalamullah. Benar bahwa suara kita adalah makhluk, tinta-tinta untuk menulis Al-Qur-an adalah makhluk, dan kertas-kertas yang ditulis padanya Al-Qur-an: adalah makhluk; akan tetapi apa yang tertulis padanya adalah Kalamullah.

➡ PENULIS BERKATA:

[59]- فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ؛ فَهُوَ جَهْمِيٌّ كَافِرٌ.

✅ [59]- Brangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur-an adalah makhluk; maka dia adalah seorang Jahmiyyah yang kafir.

➡ PENJELASAN:

Dan para ulama sepakat mengkafirkan orang yang mengatakan bahwa Al-Qur-an adalah makhluk.

➡ PENULIS BERKATA:

[60]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ كَلاَمُ اللهِ، وَوَقَفَ وَلَمْ يَقُلْ: لَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ؛ فَهُوَ أَكْفَرُ مِنَ الأَوَّلِ، وَأَخْبَثُ قَوْلاً.

✅ [60]- Dan barangsiapa menyangka bahwa Al-Qur-an adalah Kalamullah, akan tetapi kemudian dia tawaqquf (tidak memiliki pendapat) da tidak mengatakan: bukan makhluk; maka dia lebih kafir dari orang sebelumnya dan lebih jelek perkataannya.

➡ PENJELASAN:

Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullaah- sangat keras mengingkari orang yang tidak mau mengatakan Al-Qur-an bukan makhluk, dan ini termasuk pendapat Jahmiyyah:

Sebagian mereka mengatakan dengan tegas bahwa Al-Qur-an adalah makhluk.

– Sebagian lagi menipu Ahlus Sunnah dengan tawaqquf. Jadi mereka seperti orang-orang munafik (yang menyembunyikan kekafirannya); sedangkan munafik adalah lebih jelek dari orang kafir (yang terang-terangan), karena munafik menipu kaum muslimin

Akan tetapi di sini perlu ada rincian:

Kalau yang tawaqquf adalah ahli kalam; maka dia adalah Jahmiyyah.

– Sedangkan kalau ahli ilmu; maka di-hajr.

– Adapun kalau yang mengatakan adalah orang awam; maka diajari.

➡ PENULIS BERKATA:

[61]- وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ أَلْفَاظَنَا بِالْقُرْآنِ وَتِلاَوَتَنَا لَهُ مَخْلُوْقَةٌ وَالْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ؛ فَهُوَ جَهْمِيٌّ خَبِيْثٌ مُبْتَدِعٌ.

✅ [61]- Barangsiapa menyangka bahwa lafazh kita dengan Al-Qur-an adalah makhluk dan bacaan kita terhadapnya adalah makhluk, sedangkan Al-Qur-an tetap Kalamullah; maka dia adalah seorang Jahmiyyah yang buruk mubtadi’.

➡ PENJELASAN:

Masalah “lafazh kita dengan Al-Qur-an adalah makhluk”: termasuk permasalahan Jahmiyyah, dan yang mereka maksudkan dengan lafazh kita adalah: Al-Qur-an itu sendiri; karena memang kata lafazh itu masih global; oleh karena itulah sebagian ulama merincinya -seperti Imam Al-Bukhari-, sedangkan Imam Ahmad memutlakkan. Dan yang paling jelas dari semua itu adalah: Bahwa Al-Qur-an bagaimanapun (dibaca, ditulis, dan lainnya) adalah Kalamullah, sedangkan suara pembaca adalah makhluk.

➡ PENULIS BERKATA:

[62]- وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْ هٰوُلاَءِ الْقَوْمَ وَالْجَهْمِيَّةَ كُلَّهُمْ؛ فَهُوَ مِثْلُهُمْ.

✅ [62]- Barangsiapa yang tidak mengkafirkan kaum tersebut dan Jahmiyyah seluruhnya; maka dia semisal mereka.

➡ PENJELASAN:

Perkataan penulis “kaum tersebut” yang dimaksud adalah: Waqifah (yang tawaqquf) dan Lafzhiyyah (yang mengatakan: lafazh kita dengan Al-Qur-an adalah makhluk).

Kita tidak ragu terhadap apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil atas kekafirannya. Akan tetapi perkataan penulis adalah seperti perkataan mutlak para ulama lainnya (yakni: berlaku umum), karena ada orang-orang awam yang tidak mengkafirkan Jahmiyyah karena memang tidak mengenal Jahmiyyah sama sekali. Akan tetapi (yang dimaksud) adalah seperti orang berilmu yang mengenal pendapat Jahmiyyah akan tetapi mengatakan (kepada Ahlus Sunnah): Kalian telah menzhalimi Jahmiyyah.

Dan ketika ada ulama Ahlus Sunnah sebagian pendapatnya sama dengan Jahimyyah; maka pendapatnya tidak dianggap sebagai salah satu pendapat dari Ahlus Sunnah, akan tetapi dianggap sebagai salah satu kesalahan ulama Ahlus Sunnah.

÷÷÷ Lanjut Ke Halaman 2 ÷÷÷