Memperingatkan Umat Bahaya Bid’ah Berarti Memvonis Orang Pasti Masuk Neraka 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Stabilitas Keamanan Negara

Kumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan

3.Kumpulan Amalan Ringan #03: Shalat Sunnah Fajar

4.Ada Apa di Balik Valentine’s Day ?

5.Faedah Surat Yasin: Manusia dari Air Mani

6.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Memohon Keamanan

7.Dilarang Main Sepakbola Karena Kelihatan Lutut?

8.Kumpulan Amalan Ringan #02: Membaca Doa Setelah Berwudhu

9.Manfaat Kesehatan Jimak yang Halal

10.Doa Sapu Jagat Paling Sering Dibaca Nabi

••…

NGAJI BARENG MALAIKAT JIBRIL-Ustadz Fadlan Fahamsyah,Lc.M.HI

Ikhlas & Nikmat Ibadah – Ustadz Abu Haidar as-Sundawy

Syarat & Rukun Ikhlas – Ustadz Abu Haidar as-Sundawy

 Maafkanlah Kesalahannya-Ustadz Nizar Saad Jabal 20Mb

https://mir.cr/0RXOAWWR

Hari Akhir-Ustadz Nizar Saad Jabal 24Mb

https://www.mirrored.to/files/OXUMSON5/

Apa Sebetulnya Itu Akhlaq-Ust. Nizar Sa’ad bin Jabal 10Mb

Bagaimana Menyikapi Tahun Politik _ – Ustadz DR Syafiq Basalamah

Dahsyatnya Sayyidul.Istighfar Rajanya Seluruh Istighfar-Ust Darul Palihin 10Mb

Golongan Yang Selamat-Ust. Nizar Saad Bin Jabal 18Mb 

Kajian Terbaru_ Hasad Dengki dan Iri Hati_ Membuat Amalanmu Terhapus-Ust Darul Palihin9Mb

Keutamaan Mengajarkan Kebaikan Kepada Manusia-Ustadz Nizar Saad Bin Jabal.19Mb

Keutamaan Pergi Ke Masjid-Ust Nizar Saad Bin Jabal 17mb

Kewajiban Istri Terhadap Suami Sikap Suami Terhadap Istri-Ust Nizar Saad Bin Jabal 15Mb

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU SYAR_I _ USTADZ YAZID BIN bdul Qadir Jawas

Menutupi Aib-Aib Kaum Muslimin-Ust. Nizar Saad Bin Jabal 17Mb

NIKMAT ISLAM_ SUNNAH_ ILMU DAN SALAF _ USTADZ Yazid Jawas 4Mb

Romantika Pergaulan Suami Istri(Bag1)-Ust Nizar Saad Jabal 8Mb

Sholatnya orang lebay.com – Ust Nizar Saad Jabal 3Mb  

••

  • ➡ Memperingatkan Umat Bahaya Bid’ah Berarti Memvonis Orang Pasti Masuk Neraka

 

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

 

  • Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka

Ketika pada da’i menasehati dan melarang amalan-amalan bid’ah maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka. Ini adalah kesalah-pahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalah-pahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena ini mari kita luruskan duduk perkaranya.

  • Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Teladan Dalam Mengingkari Bid’ah

Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak ” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juganbersabda,

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَﺭَﺩٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Bahkan tidak hanya sekali-dua kali beliau.bicara masalah bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baikperkataan adalah kitabullah dan sebaik-baikpetunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada- adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup beliau, beliau masih mewanti-wanti masalah bid’ah. Al Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu mengatakan:

ﺻﻠَّﻰ ﺑﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠَّﻢَ ﺫﺍﺕَ ﻳَﻮﻡٍ، ﺛُﻢَّ ﺃﻗﺒَﻞَ ﻋﻠﻴﻨﺎ،ﻓﻮَﻋَﻈَﻨﺎ ﻣَﻮﻋِﻈﺔً ﺑَﻠﻴﻐﺔً ﺫَﺭَﻓَﺖْ ﻣﻨﻬﺎﺍﻟﻌُﻴﻮﻥُ، ﻭﻭَﺟِﻠَﺖْ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﻘُﻠﻮﺏُ، ﻓﻘﺎﻝﻗﺎﺋﻞٌ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠَّﻢَ، ﻛﺄﻥَّ ﻫﺬﻩ ﻣَﻮﻋِﻈﺔُ ﻣُﻮﺩِّﻉٍ،ﻓﻤﺎﺫﺍ ﺗَﻌﻬَﺪُ ﺇﻟﻴﻨﺎ؟

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat beliau menghadap kami kemudian memberikan nasehat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada berkata: wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”.

✅ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

ﺃُﻭﺻِﻴﻜُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻼَﻓًﺎﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻰ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺗَﻤَﺴَّﻜُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎﻭَﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan ” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

  • Masalah Bid’ah Adalah Masalah Penting

Tidak heran jika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sering mewanti-wanti masalah bid’ah. Karena masalah ini adalah masalah penting. Karena inti dari Islam adalah dua kalimat syahadat. Dan kandungan dari syahadat laa ilaaha illallah adalah tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah.

Sedangkan kandungan dari syahadat muhammadun rasululullah adalah kita tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan tuntunan beliau.

✅ Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

ﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﺻﻼﻥ : ﺃﻥ ﻻ ﻧﻌﺒﺪ ﺇﻻﺍﻟﻠﻪ , ﻭﻻ ﻧﻌﺒﺪﻩ ﺇﻻ ﺑﻤﺎ ﺷﺮﻉ , ﻻﻧﻌﺒﺪﻩ ﺑﺎﻟﺒﺪﻉ

Inti agama ini berporos pada 2 hal: (1) kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah semata, (2) kita tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang telah Allah syariatkan, kita tidak menyembah-Nya dengan kebid’ahan” ( Majmu’ Al Fatawa , 10/234, dinukil dari Dirasah wat Tahqiq Qaidah Al Ashl fil Ibadah Al Man’u, 52).

Inti dari Islam seluruhnya adalah menyembah kepada Allah semata dan beribadah sesuai.tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan tidak membuat bid’ah . Maka masalah bid’ah ini masalah penting, terkait dengan pokok agama. Wajarlah jika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seringnmewanti-wanti masalah bid’ah dengan keras.

  • Bedakan Vonis Umum Dengan Vonis Individu

Jika seorang da’i membicarakan sebuah larangan dalam agama dan akibat buruknya dalam syariat, apakah itu berupa mendapat.laknat Allah, mendapat dosa, mendapat ancaman neraka atau lainnya, bukan berarti sang da’i sedang memvonis pelaku larangan tersebut bahwa mereka pasti mendapat akibat-akibat buruk ini. Karena ia sedang berbicara dalam konteks umum ( multhlaq) tidak bicara mengenai person tertentu ( mu’ayyan ). Bedakan vonis muthlaq dengan mu’ayyan!

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻛﻞ ﺫﻧﺐ ﻟﻌﻦ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﻳﻠﻌﻦﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﻪ؛ ﻟﻠﻌﻦ ﺟﻤﻬﻮﺭﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻫﺬﺍ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﻮﻋﻴﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖﻻ ﻳﺴﺘﻠﺰﻡ ﺑﺜﺒﻮﺗﻪ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺷﺮﻭﻃﻪ ﻭﺍﻧﺘﻔﺖﻣﻮﺍﻧﻌﻪ ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻠﻌﻦ

Andai setiap dosa yang dilaknat pelakunya,.kemudian dilaknat semua pelakunya secara mu’ayyan (spesifik), maka mayoritas manusia akan terkena laknat. Maka ini sebagaimana dalil ancaman yang bersifat muthlaq (umum) tidak berarti jatuh ancaman tersebut pada setiap orang secara spesifik. Kecuali jika terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada mawani’ (penghalang)nya. Maka demikian juga laknat” ( Minhajus Sunnah, 4/573).

Maka ketika kita bicara hadits bahwa pelaku.bid’ah diancam neraka, maka bukan berarti semua orang yang melakukan bid’ah pasti masuk neraka. Bisa jadi ia tidak masuk neraka karena adanya mawani’ (penghalang) semisal karena ia jahil (tidak paham tentang bid’ah), karena sekedar ikut-ikutan, karena syubhat dan semisalnya. Atau karena belum terpenuhinya syarat-syarat jatuhnya vonis, seperti tegaknya hujjah, hilangnya syubhat, bukan penyeru bid’ah dan lainnya.

Oleh karena itu para ulama membedakan mubtadi’ (ahlul bid’ah) dan orang yang jatuh pada bid’ah. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan:

ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻒ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻧﺼﺎً .ﺃﻭﻻً : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺗﺒﺎﻋﻪ، ﻭﺛﺎﻧﻴﺎً : ﻻ ﻧﺒﺪﻉﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﻨﺺ، ﻭﺇﻥ ﻛﻨﺎ ﻧﻘﻮﻝ :ﺇﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺪﻋﺔ . ﻭﺃﻧﺎ ﺃﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺃﻥﺗﻘﻮﻝ : ﻓﻼﻥ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻔﺮ، ﻭﻓﻼﻥﻛﻔﺮ . ﻭﻛﺬﻟﻚ: ﻓﻼﻥ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ،ﻭﻓﻼﻥ ﻣﺒﺘﺪﻉ .. ﻓﺄﻗﻮﻝ : ﻓﻼﻥﻣﺒﺘﺪﻉ؛ ﻣﺶ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻭﻗﻊ ﻓﻲﺑﺪﻋﺔ،ﻭﻫﻮ ﻣَﻦ ﺷﺄﻧﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺒﺘﺪﻉ؛ ﻷﻥ‏( ﻣﺒﺘﺪﻉ‏) ﺍﺳﻢ ﻓﺎﻋﻞ؛ ﻫﺬﺍ ﻛﻤﺎ ﺇﺫﺍﻗﻠﻨﺎ : ﻓﻼﻥ ﻋﺎﺩﻝ؛ ﻟﻴﺲ ﻷﻧﻪ ﻋﺪﻝﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻪ؛ ﻓﺄﺧﺬ ﻫﺬﺍ ﺍﺳﻢﺍﻟﻔﺎﻋﻞ . ﺍﻟﻘﺼﺪ : ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﻗﺪ ﻳﻘﻊﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ؛ ﻟﻜﻦ ﻻ ﺃﺅﺛﻤﻪ ﺑﻬﺎ، ﻭﻻﺃﻃﻠﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﺳﻢ ﻣﺒﺘﺪﻉ :

Jika seseorang menyelisihi nash (dalil),maka pertama tidak boleh mengikutinya. Kedua, Tidak boleh langsung kita vonis bid’ah orang yang perkataannya menyelisihi nash tersebut. Walaupun tetap kita katakan,apa yang ia ucapkan tersebut bid’ah. Saya membedakan antara ungkapan “Fulan jatuh dalam kekufuran” dengan “Fulan kafir”. Demikian juga berbeda antara “Fulan jatuh pada kebid’ahan” dengan “Fulan ahlul bid’ah”.

Jika saya katakan “Fulan ahlul bid’ah” maka.maknanya bukan sekedar ia jatuh pada.kebid’ahan. Namun kebid’ahan memang menjadi urusan utamanya. Karena istilah mubtadi’ ini merupakan isim fa’il.Sebagaimana kalau kita katakan “Fulan itu orang yang adil” maka bukan maknanya ia berbuat keadilan sekali saja dalam hidupnya. Maka inilah makna dari isim fa’il.

Intinya, terkadang seorang ulama mujtahid terjatuh pada kebid’ahan, namun tidak kita vonis dengan kebid’ahan tersebut dan tidakkita vonis dengan ahlul bid’ah” (kasetSilsilah Huda wan Nur, no. 849).

Oleh karena itu, para ulama sunnah mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa.dalam menjatuhkan label dan vonis untuk individu secara spesifik. Syaikh Musthafa Al Adawi menjelaskan:

ﺍﻟﺘﺄﻧﻲ ﻓﻲ ﺗﻨﺰﻳﻞ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻋﻠﻰﺍﻷﺷﺨﺎﺹ ﻭ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻌﻠﻢﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻭ ﻳﺮﺷﺪ ﺍﻟﻀﺎﻝ ﻭ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻋﺬﺍﺭﺍﻟﻤﺘﻌﺬﺭﻳﻦ ﻭ ﻭﺟﻬﺎﺕ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﻴﻦ . ﻓﻼﻳﻌﻤﺪ ﺷﺨﺺ ﺇﻟﻰ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﺘﻨﻤﺼﺔﺑﻌﻴﻨﻬﺎ ﻭﻳﺴﻤﻴﻬﺎ ﺑﺎﺳﻤﻬﺎ ﻭ ﻳﻨﺸﺮ ﻓﻲﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﻓﻼﻧﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻠﻌﻮﻧﺔ

Hendaknya berhati-hati dalam menerapkan hukum pada individu secara spesifik. Penerapan hukum ini baru bisa diterapkan setelah orang yang jahil diajari, orang yang sesat diberi arahan, orang yang memilikinudzur diketahui udzurnya dan orang yangnmenyelisihi dalil diketahui sisi pandangnya. Maka (contohnya) seseorang tidak boleh.bersengaja secara spesifik menunjuk seorang wanita yang mencukur alisnya kemudian.menyebut namanya dan menyebarkan di.tengah orang-orang bahwa ia adalah wanita.yang terlaknat” ( Mafatihul Fiqhi fid Diin, 93).

  • Sikap Terhadap Dalil-Dalil Wa’id (Ancaman)

✅ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼﻟَﺔٌ ، ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼﻟَﺔٍ ﻓِﻲﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka ” (HR. AnNasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani.dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i).

Ini adalah hadits wa’id (ancaman). Artinya.kita diancam oleh syariat, bahwa bisa jadi kita masuk neraka karena sebab bid’ah yang kita lakukan. Namun apakah pasti masuk neraka? Belum tentu..Sebagaimana juga kalau kita menasehati orang yang berdusta. Apakah dengan itu kita memvonis neraka? Padahal hadits.mengatakan:

ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻳَﻬْﺪِﻱﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻔُﺠُﻮﺭِ، ﻭَﺍﻟْﻔُﺠُﻮﺭَ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada perbuatan fajir (maksiat) dan perbuatan fajir membawa ke neraka ” (HR..Muslim no. 2607).

Tentu tidak bukan? Karena ini juga wa’id (ancaman). Artinya kita diancam bahwa bisa jadi kita masuk neraka karena sebab dusta yang kita lakukan. Namun apakah pasti masuk neraka? Belum tentu.

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

ﻟﻌﻦ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻻ ﻳﺴﺘﻠﺰﻡ ﻟﻌﻦ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦﺍﻟﺬﻱ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﻣﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﻟﺤﻮﻕ ﺍﻟﻠﻌﻨﺔﻟﻪ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ‏(ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﺮ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ‏) ﻭ‏( ﺍﻟﻮﻋﻴﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ‏) ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻮﻋﻴﺪﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺸﺮﻭﻃﺎًﺑﺜﺒﻮﺕ ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺍﻧﺘﻔﺎﺀ ﻣﻮﺍﻧﻊ

Laknat yang muthlaq (umum) tidakberkonsekuensi laknat bagi semua pelakunyasecara spesifik selama ada penghalang yang menghalanginya dari terkena laknat. Demikanjuga takfir muthlaq dan ancaman yang muthlaq. Oleh karena itu ancaman yang muthlaq yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah baru jatuh jika terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak adapenghalangnya ” (Majmu Al Fatawa, 10/329).

Maka orang yang melakukan bid’ah diancam neraka, namun apakah mereka pasti masuk neraka? Belum tentu. Bisa jadi masuk neraka – wal’iyyadzubillah – jika terpenuhi syarat-syarat dan tidak ada penghalangnya. Bisa jadi tidak masuk neraka karena tidak terpenuhi syarat-syarat dan adapenghalangnya. Mengenai syarat-syarat danmada penghalang yang dimaksud, ini jika ingin dirinci maka butuh kepada pembahasan tersendiri yang panjang dan lebar.

Maka mulai sekarang stop menuduh para da’i yang memperingatkan umat dari bid’ah bahwa mereka memvonis orang pasti masuk neraka. Terlebih lagi menggunakan stigma ini.untuk melegalkan bid’ah di masyarakat. Bid’ah itu berbahaya dan wajib diperingatkan dan dijauhi oleh setiap orang.

@Yulian Purnama

== === Lanjut Ke Halaman 2 ===